TS
User telah dihapus
NULL
NULL
more than just none
Cerita ini lebih saya kategorikan ke Action-Mistery,yah apapun itu.
sudut pandang orang ketiga(serba tau) dan bahasa indonesia semi baku.
Sinopsis
Bagas,seorang pemuda biasa dipercaya dan diikutsertakan oleh kepolisian untuk membantu menangani kasus-kasus pembunuhan di Ibu Kota.
Keahliannya berhasil menuntun dirinya bergabung ke dalam 'Divisi 1', sebuah grup berisi sekumpulan veteran anak muda dengan keahliannya di masing-masing cabang ilmu forensik.
Rules
- nggak ada peraturan tambahan,bebas aja.
- batasan-batasannya mengacu penuh ke rules H2H & SFTH.
- komentar & teguran langsung saja dilayangkan via Post atau PM.
Warning!
- Cerita ini benang merahnya adalah tentang jagoan lawan penjahat jadi temanya nggak jauh-jauh dari kekerasan.( dengan kata lain kalau kalian sangat tabu dengan kata 'pembunuhan' dan sebagainya, sebaiknya pindah ke bacaan lain ).
- sebagian dari inti cerita ini bukan untuk ditiru atau diidolakan,begitu. ( Hal baik selalu menang jadi jangan tiru yang buruknya )
- Tokoh,Tempat,Kejadian semuanya Fiksi. (Extremely fiksi mungkin)
- Banyak hal terjadi di cerita ini;beberapa masuk akal,beberapa belum bisa dilakukan di jaman ini dan beberapa mungkin mustahil dilakukan di dunia ini.
- Berdasarkan temanya ane pribadi bilang konten cerita ini untuk umur 17 tahun ke atas atau mereka yang sudah mampu menalar cerita fiksi.
- Kentang, pasti! ( TSnya masih belum lancar menulis jadi jeda per part-nya bakalan cukup lama )
- N/A.
Isi Cerita
Spoiler for Ilustrasi karakter:
Spoiler for CHAPTER 1:
Spoiler for CHAPTER 2:
Spoiler for CHAPTER 3:
Spoiler for CHAPTER 4:
Pengumuman tutup lapak (closed permanently)
Quote:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 0 suara
Masukkan dan Update Cerita
Cerita GaJe, 1 hari = 10 chapter ( Random )
0%
Cerita biasa, 1 hari = 1 chapter ( 00:00 - 12:00 )
0%
Cerita lumayan, 1 hari = 1 chapter ( 12:00 - 00:00 )
0%
Cerita bagus, 2 hari = 1 chapter ( 17:00 - 20:00 )
0%
Cerita menarik, 3 hari = 2 chapter ( 12:00 & 17:00 )
0%
NULL, 7 hari = 1 chapter ( 15:00 )
0%
Diubah oleh User telah dihapus 11-04-2017 20:43
anasabila memberi reputasi
1
21.5K
98
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
User telah dihapus
#12
Chapter 1 - Main Story
Index 5.5 Link each other II
Quote:
"hei,kukira kita perlu mencari nama lain buat ngganti yang barusan" kata Doni terang-terangan saja.
"ngganti apa?" tanya Bagas polos.
"sudahlah,sekarang kita fokus ke mayat di sana.. abaikan perkataanku tadi" jawab Dimas memilih memendam ketidaknyamanannya dengan panggilan yang dibuat oleh rekannya.
"nah,apa aja yang kalian temukan?" tanya Bagas lagi namun sudah berbeda topik.
"dua luka tembak masing-masing di dada dan leher" jawab Dimas singkat.
"itu saja? lalu bagaimana?" tanya Bagas lagi.
"Dimas punya hipotesis mengenai identitas pelakunya,aku sih setuju dengannya" jawab Doni.
"apaan?"
"kita cuma perlu memeriksa orang yang berkaca mata saja" jawab Dimas dengan pandangan mata yang mengarah ke arah lain.
.
.
.
"Yoh,semua tersangka nggak ada yang pakai kaca mata.. Bingo!" kata Bagas dengan entengnya mematahkan hipotesa milik Dimas.
"pasti ada alat atau semacamnya.." kata Dimas setelah dirinya bersama Doni,Bagas dan Sarah ikut langsung bertemu semua tersangka.
"gimana introgasinya?" tanya Bagas lagi-lagi seperti orang yang kerjaannya hanya memantau kinerja rekan setimnya.
"berjalan lancar tapi tidak ada pergerakan yang mencurigakan dari semuanya" jawab Sarah.
"yang ini sedikit sulit yah" kata Bagas sontak membuat rekannya terdiam dan tak menyangka.
"kita pulang,ini sudah malam" lanjutnya.
"hei Bung,seseorang telah meninggal sore ini dan semua orang sedang mencari pelakunya.. kenapa kau mau pulang begitu saja padahal bukti pun belum banyak kita temukan" balas Dimas geram.
"kenapa? istirahatkan pikiranmu" jawab Bagas.
"kalau pelakunya kabur begitu saja gimana!?" balasnya.
"em,masalah itu tenang saja.. semua tersangka sudah terikat dengan kehidupan sosial di daerah ini,semuanya adalah pria dewasa yang mapan dan memiliki pekerjaan.. kita bisa pegang itu" kata Sarah.
"tapi mereka semua bebas,tidak ada satupun borgol di sana" balas Dimas pada Sarah.
"itu prosedur umum,terlepas dari apapun mereka masih tersangka dan tidak mungkin pihak polisi memborgol tangan dan kakinya sampai kasusnya terusut" kata Bagas.
keadaan nampak tidak berpihak pada pendapat Dimas,dirinya pun hanya bisa menyerah pada kemauannya untuk terus menyelidiki kasus tersebut.
"tenang saja.. kita tangkap pelakunya besok" kata Bagas lagi.
Dimas hanya bisa diam saat menatap ke arah Bagas.
"oke oke, semua orang butuh tidur.. kita lanjutkan saja di kantor" kata Doni mencoba mereda walau dia tidak tau apa maksud temannya berkata seperti itu.
keempatnya pun akhirnya pulang tanpa ada kepuasan di masing-masing wajahnya.
malam berlalu begitu saja kecuali pada Dimas yang tidak bisa tidur semalaman karena memikirkan kasus barunya.
jam dinding menjadi objek yang tak pernah luput dari pandangannya,berkali-kali dia memeriksanya.
detik jarum terdengar jelas di telinganya,jarum pendek nampak masih berdiam diri di angka 4.
suntuk di kepalanya membuat Dimas semakin tidak bisa berhenti mengubah-ngubah posisi badannya di tempat tidur.
"mau nangkap pelakunya pake apa?" gumamnya kesal.
namun seiring Dimas berfikir,dirinya teringat kembali saat-saat Bagas menangkap pelaku pembunuhan sang tuan rumah di kasus pertama mereka.
dalam kesalnya dia manaruh rasa penasaran dengan apa yang akan Bagas lakukan di kasus kali ini.
.
.
.
jam menunjukkan pukul 10:30 pagi,hal itu membuat Dimas terkejut dan segera bersiap berangkat ke kantor.
persiapan yang seadanya pun sudah pasti jadi satu-satunya pilihan bagi dirinya yang ternyata tertidur di jam saat semua orang harusnya sudah bangun.
"hai,kamu cukup rajin bisa datang sepagi ini" sapa Doni menyambut Dimas yang baru tiba di ruangan kantornya.
"maaf, apa kalian sudah menungguku lama? aku siap berangkat" balas Dimas langsung tergesa-gesa berangkat sementara kedua temannya sedang duduk santai di masing-masing mejanya.
"kamu boleh menyusul Sarah di tempat kemarin kita memeriksa semua tersangka" kata Bagas.
"...." Dimas yang tempo nafas nya cepat kini mulai tenang karena heran mendengar balasan rekannya.
"atau kamu bisa tunggu beberapa menit lagi di sini,lalu kita bertiga bisa pergi bersama" tambah Bagas.
"mau tunggu apa lagi,kita sudah terlambat sekali" balas Dimas belum pernah senada dengan pendapat Bagas semenjak pertama bertemu.
-- kringg... kring-
tak lama setelahnya dering telfon kantor di ruangan mereka berbunyi.
"haloo" sapa Bagas pertama kali mengangkat panggilan tersebut.
"Mas Bagas,paketan untuk anda sudah sampai di lobi,mau saya antarkan ke ruangan mas?" tanya resepsionis wanita yang bertugas menerima tamu di lobi kantor polisi.
"nggak, biar saya yang ambil ke sana"
"baik"
"terima kasih,yah"
telfon tadi pun ditutup dan menyisahkan pertanyaan di benak Dimas.
"paket apaan?" tanya Dimas hendak duduk dulu di kursinya namun tidak jadi karena kedua rekannya berniat berangkat menyusul Sarah.
"kacamata" jawab Bagas.
"ayo,Mas.. berangkat" ajak Doni merenges tidak jelas.
.
.
.
"hai,Saraah~" sapa Doni tidak sadar apa arti kata 'sudah bertunangan'.
"ketemu?" tanya Bagas langsung menuju point pentingnya.
sementara keberadaan Dimas masih sekedar ikut sana ikut sini , dengan posisi masih di belakang Doni.
"dari 8 orang yang kita periksa semalam dan pagi hari ini juga,5 diantaranya sudah aku pulangkan karena tidak ditemukan kecocokan pada status kematian korban" jelas Sarah.
"artinya hanya 3 orang yang paling mungkin melakukannya yah" komentar Doni.
"siapa saja sisanya?" tanya Bagas.
Sarah pun membuka tas slempangnya dan mengeluarkan beberapa lembar kertas yang masing-masing dikelompokkan dengan masing-masing foto tertera di halaman depannya.
"suruh dua orang ini pergi,dan tinggalkan orang ini sendiri" kata Bagas menunjuk masing-masing lembaran yang diperlihatkan padanya.
"kamu yakin?" tanya Sarah tidak semudahnya menuruti kata rekan yang ia kagumi tersebut.
"hoh,lagian aku cuma bawa 1 hadiah saat ini.." jawab Bagas yang kemudian menuju ruang tempat ketiga tersangka yang identitasnya ditunjukkan tadi berada.
di perjalanannya menuju ruangan,dari kejauhan pak Dasuki nampak memberi salam dengan tangannya,tak lupa 4 anak muda ini pun membalasnya.
suasana kantor TNI memang tidak begitu ramai,volume TV yang kecil menjadi satu-satunya suara yang terdengar di tengah-tengah belasan anggota TNI yang sedang mengerjakan laporannya.
setibanya di ruangan interogasi,Sarah mengikuti permintaan Bagas untuk menyuruh kedua di antara ketiganya pulang,kini ruangan pun hanya berisi Sarah dan tersangka pria yang disisakan.
"Stenly Bagus Pramono" panggil Bagas ke pria tersebut.
"...." pria yang dipanggil Bagus itu hanya diam menolehkan pandangannya ke arah Bagas yang berjalan menghampiri meja tempatnya diinterogasi.
"Oke,anda nggak begitu merespon panggilan saya barusan,mungkin saya langsung ke intinya saja yah" kata Bagas sambil duduk di salah satu kursi yang tersedia di dekat meja tersebut.
"yah,kalian membuang-buang waktuku" jawab pria bernama Bagus itu.
sejenak Bagas hanya terdiam memperhatikan gerak gerik anggota tubuh lawan bicaranya.
tak sampai 10 detik dirinya pun menyudahi diamnya dan kemudian memberikan sebuah kotak bingkisan berbahan kertas tebal warna coklat.
"buka!" suruh Bagas santai.
pria di depannya pun menuruti kemauan Bagas tanpa pikir panjang,hanya sekilas lirikan matanya menatap Bagas sebelum akhirnya ia membuka bingkisan kecil itu.
"!!!"
"anda ditahan karena melakukan percobaan pembunuhan serta kepemilikan senjata api ilegal" kata Bagas.
"tunggu! kalian tidak punya bukti apapun!" bantah pak Bagus.
"buktinya ada di tangan anda"
"apa!?"
"kacamata yang anda pegang sekarang adalah kacamata yang istri anda belikan untuk anda sebagai hadiah ulang tahun pernikahan tahun lalu"
"bicara apa kamu!?"
"anda memakainya setiap saat,karena apa? karena itu adalah kacamata untuk penderita gangguan penglihatan jarak jauh"
"kondisi mata anda sudah mencapai tingkat yang parah,tapi anda tidak memberi tahu istri anda. sehingga kacamata yang ia belikan untuk anda sebenarnya tidak cocok dan anda terpakasa menggunakan lensa mata untuk menutupi kekurangan kacamata tersebut"
"apa yang kamu bicarakan!?"
"anda seorang perokok dan harus rutin mengganti lensa mata anda,itu menjadi pengeluaran yang cukup banyak"
"....."
"dan itu harus anda lakukan demi menyembunyikan kondisi mata anda dari istri anda"
Bagas masih menjelaskan banyak hal sementara semua orang di ruangan hanya bisa terdiam menyimaknya.
"masalah tidak berhenti di situ,2 anak putrimu telah menginjak masa-masa tes kelulusan di sekolahnya.. dan kau tidak punya biaya lebih untuk itu"
"....."
"lalu anda mulai mengenal korban,dan berteman cukup dekat.. hingga anda menerima ajakannya untuk mengikuti perjudian kemarin"
"....."
"udah lah,aku capek.. suruh polisi masuk dan tahan dia" kata Bagas berniat beranjak dari kursinya namun suara tangis terdengar pelan dari arah pak Bagus.
"orang itu.. dia berjanji mau memenangkan pertandingannya untuk membantuku.. aku pun menurutinya dan memberikan semua uangku yang tersisa,lalu sama-sama pergi ke tempat perjudian kemarin" kata pak Bagus mulai berbicara penuh sesal.
dari reaksinya yang langsung membuka aib dirinya,semua orang tak terkecuali Bagas pun sadar bahwa pria di depannya masih punya hati.
"kalian berdua bekerja sama dalam permainan itu dan menang banyak.. kelihaiannya dalam bermain curang membuatmu semakin percaya diri dan mempertaruhkan semua uang yang sudah anda menangkan" lanjut Bagas.
"benar.. si brengsek itu!" tambah pak Bagus mengepalkan telapak tangannya kesal.
"namun di permainan terakhir dia tergiur untuk menghianati anda dan menyebabkan anda kalah secara mutlak"
"YA!! bukan cuma itu saja! di akhir permainan ternyata dia memilih bekerja sama dengan salah satu peserta lain dan sengaja kalah untuk membodohiku!" bentak pak Bagus semakin tak terkendali.
"tapi anda tahu rencana mereka.. dan berniat menghabisi keduanya,namun salah satu dari mereka berdua telah pergi ke luar kota siang kemarin sehingga hanya korban lah targget yang tersisa untuk pelampiasan kekesalan anda"
"aku berpura-pura mengundangnya untuk mencoba permainan yang lain,tapi dia menyadari kalau itu hanya kebohongan dan lalu menolak ajakannya"
"sesuatu.. anda pasti menjanjikan sesuatu hingga korban akhirnya percaya bahwa anda sudah mengantungi modal untuk permainan selanjutnya.. tapi apa,pak Bagus?"
"aku menipunya dengan mengatakan bahwa aku sudah menggadaikan rumahku seharga 200juta,lalu dia pun akhirnya mau percaya dan memenuhi ajakanku ke gang itu"
"baiklah,sampai pada bagian akhir... aku ingin bilang satu kesimpulan pada kasus anda,pak Bagus" kata Bagas.
"....."
"anda tidak langsung mengancam korban dengan pistol,melainkan korban terlebih dahulu yang menyerang anda demi merebut 200juta yang anda janjikan padanya"
"kamu benar.. aku terkejut saat dia menerkamku begitu saja dan merusak kacamataku"
"tapi saat korban akhirnya menyadari tas milik anda kosong dan 200juta itu adalah omong kosong belaka,anda dengan sigap menodongkan pistol ke arahnya dan membuat korban terkejut hingga mencoba lari keluar gang"
"dia pasti mengira penglihatanku memburuk tanpa memakai kacamata"
"sempurna! selebihnya hipotesa Dimas 100% benar" kata Bagas tersenyum gembira.
"....."
"akan ku panggil mereka" kata Doni bermaksud memanggil petugas polisi di luar untuk membawa pak Bagas menuju persidangan.
keadaan keduanya masih sama-sama diam tanpa kata sampai Bagas memulai lagi pembicaraannya.
"setelah berbincang dengan istri anda nanti,aku akan mendonasikan 50 juta pada keluarga anda, hanya untuk berjaga selama anda di penjara nanti" kata Bagas sontak membuat semuanya kaget dan bingung.
"heh?" komentar Sarah spontan.
"apa yang kamu lakukan?" tanya pak Bagus spontan.
"putri pertamamu kelak ingin menjadi dokter kan,sedangkan adiknya ingin menjadi koki tercantik di dunia... mereka harus tetap berkembang tanpa anda di sisinya karena anda harus bersama mereka saat mereka besar nanti" kata Bagas yang sendiri-sendiri terlihat happy.
"aku tidak mengerti.. ini.. bagaimana kamu tau?"
"ini bagian dari programku.. kedua putrimu akan berada di bawah pengawasanku"
"...."
"anda bukan orang yang benar-benar jahat... setidaknya itu yang aku tau,jadi jangan sia-siakan pemberian ini"
"aku belum pernah menemui polisi sepertimu.. tapi yang kamu lakukan ini.. benar-benar... aneh,haaha" kata pak Bagus terharu dan tak tau kata apa yang bisa mengungkapkan suka citanya.
di sisi lain Sarah hanya terdiam kagum saat melihat reaksi pak Bagus,tidak ada rasa kecemasan dan ketegangan di wajahnya,semuanya terlihat damai menurut pengamatannya.
{ orang ini.. dalam sekejap saja semua emosi negatifnya menghilang.. ini emosi yang alami,dia bahkan tidak menutupi apapun.. hebat.. } batin Sarah masih terpukau saat melihat perubahan emosi pak Bagus.
{ tidak diragukan lagi,orang tua di hadapanku ini sudah berubah bahkan sebelum dijatuhi hukuman } pikir Dimas pula yang sama merasakan perubahan suasana hati semua orang.
"aku bukan polisi,pak.. haaha"
"???"
"yang aku katakan tadi tidak bohong,dan yang akan aku lakukan ini legal jadi anda tidak perlu khawatir tentang keluarga kecil anda.." kata Bagas yakin.
"kamu benar-benar membuatku tidak bisa merasakan apa-apa lagi" kata pak Bagus saking susahnya mengungkapkan perasaan aneh yang muncul begitu saja.
"ikuti proses pengadilan dengan baik,tidak ada artinya anda dipenjara kalau tidak berubah menjadi orang baik" balas Bagas membuat pikiran pak Bagus bertambah tenang.
{ jelas-jelas dia akan dipenjara tapi dia bahkan tidak merasakan ketakutan.. mungkin ini yang disebut dengan 'benar-benar bertaubat' } batin Doni masih berdiri diam menyimak rekannya.
Akhirnya dua orang polisi pun masuk ke ruangan mereka lalu memborgol serta membawa keluar pak Bagus.
sebuah senyum membalas salam tangan Bagas padanya.
Spoiler for Gambar:
#sekali lagi kemampuannya tidak terlihat oleh mata rekannya.
khuman memberi reputasi
1





















