- Beranda
- Stories from the Heart
Duchtanium [Sci-Fi]
...
TS
UncloudedEyes
Duchtanium [Sci-Fi]
Dan akhirnya ane balik ke kaskus lagi gan, ssetelah sekian lama vaccuum hohohoho
Okay kali ini karya ane Sci-Fiyang ceritanya adalah tentang *tiiiiiiiitttt* yah ga boleh spoiler ternyata.
yaudah langsung aja gannnss...
![Duchtanium [Sci-Fi]](https://dl.kaskus.id/s33.postimg.org/5ltec0svz/Pics_Art_06_05_06_24_01.jpg)
Okay kali ini karya ane Sci-Fiyang ceritanya adalah tentang *tiiiiiiiitttt* yah ga boleh spoiler ternyata.

yaudah langsung aja gannnss...
![Duchtanium [Sci-Fi]](https://dl.kaskus.id/s33.postimg.org/5ltec0svz/Pics_Art_06_05_06_24_01.jpg)
Quote:
Diubah oleh UncloudedEyes 09-06-2016 22:38
anasabila memberi reputasi
1
2.5K
22
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
UncloudedEyes
#13
Chapter 3
Run, run, run…
Run, run, run…
###
Okayama – Japan, 28 Maret 2011
###
Perjalanan pun dimulai, mereka yang mampu bertahan hidup di lorong tambang tembaga akhirnya memutuskan untuk keluar ke permukaan, dengan sisa keberanian yang ada dan tanpa mereka harus tahu apa yang akan mereka hadapi berikutnya. Hanya tekad dan rasa nekat yang mereka miliki.
Sekitar 20 orang menyusuri jalan setapak hingga hampir keluar goa persembunyian mereka. Naas, mendadakan guncangan kuat membuat kuda-kuda kaki mereka goyah, gempakah? Tak satupun dari mereka yang tahu apa yang sebenarnya terjadi dan reruntuhan batuan mulai berjatuhan membuat mereka semua kelabakan memaksa kaki untuk segera keluar dari lubang gelap itu,
“Kraaakk… BAMMM!” batu besar menutup jalan masuk kearah tambang, tersisa 4 orang yang berhasil keluar, sisa dari mereka terkurung di dalam sana, selamatkah? Semoga saja. Hideaki mencoba berteriak-teriak memanggil namun tak sedikitpun terdengan suara jawaban dari dalam goa tambang yang telah tertutup itu.
Tak jauh berbeda dengan Jakarta – Indonesia, daratan Okayama pun sudah rata dengan tanah, hanya tersisa puing-puing reruntuhan bangunan basah yang sepertinya belum lama terguyur hujan, tanah yang becek dan genangan-genangan air membuat kotor sepatu yang mereka kenakan.
Hideaki, Iwao, Hajime dan seorang wanita cantik bernama Chisako, mereka lah yang berhasil selamat dan harus melanjutkan misi mereka, dengan jumlah yang lebih sedikit daripada apa yang mereka rencanakan sebelumnya.
“Kau lihat, sekarang bahkan kita kalah lebih jauh lagi soal jumlah, mereka ratusan atau bahkan ribuan, dan kita hanya berempat, apa rencanamu sekarang?!” bentak Iwao kepada Hideaki sambil menarik kerah baju pemuda itu dengan kedua tangannya,
“Sudah kubilang, lebih baik kita didalam sana dan itu jauh lebih aman daripada kita berada di neraka ini!” lanjutnya makin meluapkan emosi, dan Hideaki hanya bisa terdiam mematung tak melawan ataupun menjawab Iwao,
“Tak ada yang perlu di permasalahkan lagi, kenyataannya kita semua sekarang sudah tak bisa kembali kedalam sana, lebih baik kita segera menyusun rencana berikutnya” lerai Chisako.
###
Arzam – Arzam Island, 28 Maret 2011
###
Disaat yang bersamaan dengan keluarnya Grup pemuda Jepang dari persembunyian, makin banyak pula orang – orang tak berdosa di Arzam yang terbunuh oleh mesin detektor ciptaan Duchtan. Keringat dingin, kaki tangan yang bergetar, ketegangan dan penampakan wajah yang stress tertekan akan rasa takut membayangi setiap jiwa yang berbaris rapi atas perintah pasukan Robot itu. Bahkan seorang Remaja pria berjaket merah harus meregang nyawa, kehabisan darah karena mencoba melawan dan kabur dari barisan.
Langit merah yang bercampur biru gelap menunjukkan senja dengan tanpa matahari lagi yang mengawasi bumi dari atas sana. Seperti harapan di setiap hati manusia yang perlahan meredup akan kenyataan bahwa peradaban manusia mulai punah.
Beberapa dari mereka mampu lolos dari mesin detektor namun tak jarang pula mereka yang harus kehilangan nyawa bahkan jasadnya tanpa sisa, menjadi debu dan tertiup angin, terbang tersebar ke udara melepaskan segala rasa takut yang telah membayanginya.

Bangunan berbentuk tabung besar nan tinggi dengan segala tampilan yang futuristik dihiasi corak biru serta dibangun diatas tanah tandus adalah menjadi tempat selanjutnya bagi mereka yang mampu melewati mesin detektor. Entah apa di dalam sana, tak satu pun yang tahu.
###
Jakarta Pusat – Indonesia, 20 Maret 2011
###
Pelarian mereka terhenti disebuah rumah rapuh yang terkubur pasir, dengan bangunan dalamnya yang masih utuh berbentuk ruang-ruang berhias furniture rusak tak berwujud. Melewati jendela tak berkerangka lagi menjadi satu-satunya pilihan mereka untuk masuk kedalam.
“Krakkk… Krieettt” terdengar suara aneh dari salah satu ruangan, sigap kaki mereka membentuk kuda-kuda lebih kuat dan waspada sambil melangkah perlahan ke ruangan itu.
Seorang ibu muda berhijab hitam dibalut baju kain putih lusuh dan berselimutkan peluh terlihat terduduk di pojok ruangan bersembunyi di samping lemari sambil mendekap erat anak perempuan yang masih balita.
“Tolong… tolong jangan sakiti kami, ambil saja aku tapi jangan putriku” ucapnya terbata sambil diiringi tangis pelan mencoba bersuara lebih tenang,
Lara mendekatinya, memasang wajah tenang dan senyum ramah lalu berucap,
“Tenang nyonya, kami bukan orang jahat kami pun disini bersembunyi dari kejaran Duchtan, lebih baik nyonya tenang” dirangkulnya Ibu muda itu dan diajak berdiri sambil diusapnya peluh yang bercampur air mata di wajahnya.
“Aku Lara” ucapnya dengan senyum manis yang menenangkan,
“Aku Wida dan ini Soleil, putriku” jawabnya dengan nada yang jauh lebih tenang, berlanjutlah perkenalan mereka dengan diiringi sedikit rangkaian cerita yang membuat hati teriris.
Beberapa jam terlewati dengan ketenangan, Wida dan soleil pun sudah mulai bisa berbaur dengan mereka semua.
“Lalu, bagaimana kita menemukan Dimas?” celetuk Sandro kepada yang lainnya,
“Entahlah, bahkan apa alasan mereka menculik Dimas” jawab Memet sambil terlihat berfikir keras,
“Harus ada yang berkorban, itulah cara untuk menemukannya” pernyataan Adrian membuat semua tercengang,
“Maksudnya?” bahkan Memet pun tak mengerti
“Begini, aku akan memancing Duchtan sejauh-jauhnya dan kalian cobalah lari sejauh kalian bisa, aku akan mengorbankan diriku untuk mereka bawa, pasti ada satu tempat persembunyian mereka untuk mengumpulkan hasil tawanan” jelas Adrian,
“Kau gila!?, itupun jika Duchtan membawamu, jika saja mereka membunuhmu?” jawab Nadine keras,
“Sudahlah, tidak ada yang akan tahu hasilnya, yang penting kalian juga cobalah berlari sejauh yang kalian mampu ke tempat yang lebih aman”
“Grand Indonesia, aku pernah kesana untuk mengambil pasokan makanan bersama suamiku, sepertinya akan jauh lebih aman, hanya saja gedung yang terlihat dipermukaan saat terakhir aku kesana hanya lantai 10 dan 11, sisanya sudah terkubur dari luar” sahut Wida ikut memberikan pendapat sambil kembali menitikkan air mata teringat akan suaminya yang juga dibawa oleh pasukan besi berjalan.
=== End Chapter 3 ===
Diubah oleh UncloudedEyes 07-06-2016 12:14
0