Kaskus

News

plonardAvatar border
TS
plonard
Khalid ibn Al-Walid, the Sword of God
Semua yang saya tulis pada posting #1 sampai posting #10 adalah terjemahan bebas dari artikel Khalid ibn Al-Walid di en.wikipedia.org Oktober 2012. Saya tambahkan juga sedikit daftar istilah untuk membantu Agan-agan yang belum terlalu memahami istilah militer dan geografis di zaman bersangkutan hidup. Jika ada ketikan saya dengan format "[angka]", kode ini adalah nomor footnote atau catatan kaki. Contoh: [1] dan [25].
Semoga bermanfaat.

Khalid ibn Al-Walid


Indeks
Posting #1 sampai Posting #10 akan berisi garis besar kehidupan Khalid. Berikut ini adalah indeks yang bisa langsung diklik untuk memudahkan Agan-agan mengakses posting-posting tentang kehidupan Khalid yang lebih detail.

Posting #32 Pertempuran Walaja tahun 633 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #45 Pengepungan Damaskus tahun 635 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #69 Pertempuran Yarmuk tahun 636 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #95 Ucapan-ucapan tentang Khalid ibn Al-Walid
Posting #97 Bibliografi Buku The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleedkarya A.I. Akram
Posting #97 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 1: Sang Anak Lelaki
Posting #100 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 2: Agama Baru (Bagian I)
Posting #103 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 2: Agama Baru (Bagian II)
Posting #105 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian I)
Posting #107 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian II)
Posting #109 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian III)
Posting #120 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian IV)
Posting #123 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian V)
Posting #146 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VI)
Posting #147 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VII)
Posting #161 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian I)
Posting #162 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian II)
Posting #165 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian III)
Posting #174 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian IV)
Posting #175 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 5: Masuk Islamnya Khalid
Posting #187 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 6: Mu’tah dan Pedang Allah
Posting #191 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian I)
Posting #193 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian II)
Posting #194 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian I)
Posting #195 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian II)
Posting #198 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 9: Pengepungan Tha'if
Posting #201 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 10: Petualangan di Dawmatul Jandal
Posting #204 Bagian II: Perang Riddah - Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian I)
Posting #208 Bagian II: Perang Riddah - Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian II)
Posting #213 Bagian II: Perang Riddah - Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian I)
Posting #214 Bagian II: Perang Riddah - Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian II)
Posting #215 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian I)
Posting #218 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian II)
Posting #220 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian III)
Posting #222 Bagian II: Perang Riddah - Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian I)
Posting #224 Bagian II: Perang Riddah - Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian II)
Posting #226 Bagian II: Perang Riddah - Bab 15: Akhir Hayat Malik bin Nuwayrah
Posting #229 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian I)
Posting #235 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian II)
Posting #239 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian III)
Posting #242 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian IV)
Posting Nomor Depan > Bagian II: Perang Riddah - Bab 17: Tumbangnya Gerakan Murtad (Bagian I)


Daftar Istilah Penting

Al-Hirah
Kerajaan yang berlokasi di Iraq Modern (Mesopotamia), negara vasal Imperium Persia-Sassanid, dengan mayoritas warga adalah orang Arab dari suku Bani Lakhm.

Arabia
Wilayah yang terbentang dari Syam dan Mesopotamia sampai Jazirah Arab, dihuni oleh mayoritas orang Arab serta minoritas orang Israel, Eropa (Romawi), Persia, dan Ethiopia.

Bizantin
Imperium superpowerlanjutan dari Romawi, sering juga dikenal sebagai Imperium Romawi Timur. Bizantin beribukota di Konstantinopel (Istanbul Modern) dan menjadi satu-satunya penerus Romawi sejak dihancurkannya Imperium Romawi Barat (beribukota di Roma) pada Abad ke-4. Warga negaranya menganggap mereka adalah warga Romawi dan warga negara lain di masa itu pun memanggil mereka sebagai orang-orang Romawi. Di masa Khalid, wilayah kekuasaan mereka membentang dari daerah Balkan di Eropa, sebagian Libya dan Mesir di Eropa, serta Jazirah Turki, Armenia, dan Levant (Syam) di Asia.

Double Envelopment
Sebuah manuver lapangan dalam pertempuran di mana sebuah pasukan berupaya untuk melingkupi musuh sehingga dapat menyerangnya dari segala arah. Biasanya, pertempuran akan dimulai dalam garis pembeda yang jelas antara dua pasukan yang bertempur. Dengan memanfaatkan kondisi maupun penggunaan taktik tertentu, pasukan musuh dapat diserang dari samping dan belakang. Contoh penggunaan taktik ini ada pada Pertempuran Cannae dan Pertempuran Walaja.

Garda Gerak Cepat (Mobile Guard)
Kavaleri ringan pasukan Muslim awal, dibangun oleh Khalid ibn Al-Walid dengan tujuan menjadi penyeimbang kelemahan infantri Muslim yang berbaju baja ringan. Gerakannya cepat, menerapkan taktik hit and run, efektif melawan kavaleri berat, dan sering menjadi garda depan pendahulu pasukan utama. Khalid dipecat saat menjabat sebagai komandan garda khusus ini. Penggantinya adalah Dhirar ibn Azwar.

Garnisun
Pasukan yang berkedudukan atau memiliki tempat pertahanan yang tetap, misalnya dalam benteng atau sebuah kota.

Ghassan
Kerajaan yang berlokasi di Syam Selatan, negara vasal Imperium Bizantin. Mayoritas warga negaranya adalah orang Arab beragama Kristen dari suku Bani Ghassan.

Imperium
Sebuah negara yang terdiri atas sekelompok bangsa, memiliki sebuah wilayah geografi yang luas, dipimpin oleh seorang kaisar atau sekelompok elit.

Kavaleri
Secara harfiah berarti pasukan berkuda, namun dalam prakteknya di masa kuno, unta dan gajah juga digunakan. Dalam peperangan modern, pasukan berkendara lapis baja maupun bukan juga termasuk dalam kavaleri. Di masa Khalid, kavaleri Bizantin dan Persia merupakan kavaleri berat, memakai baju besi tebal (termasuk kudanya) dan menutupi hampir seluruh tubuh. Kavaleri Muslim awal merupakan kavaleri ringan, berbaju baja dan bersenjata ringan.

Kekhalifahan
Sebuah sistem pemerintahan berbasis Islam yang menunjukkan kesatuan politik ummat Islam. Sistem ini dapat berupa sistem musyawarah perwakilan ataupun monarki konstitusional, dengan konstitusinya berupa Syariah. Karena dalam kekhalifahan ada kesatuan ummat, kekhalifahan selalu melingkupi banyak bangsa sehingga bisa dikategorikan sebagai bentuk Imperium.

Khalifah
Kepala negara dan pemerintahan sistem negara kekhalifahan, dapat dipilih oleh khalifah sebelumnya, ditunjuk oleh komite terpilih, dipilih langsung oleh rakyat, atau diturunkan pada keluarga khalifah sebelumnya.

Levant
Disebut juga Syam, daerah yang meliputi pantai timur Laut Mediterania, antara Anatolia (Jazirah Turki Modern) dan Mesir. Daerah ini meliputi wilayah-wilayah negara modern: Suriah, Lebanon, Yordania, Palestina (Otoritas maupun yang dijajah oleh Israel), Siprus, Provinsi Hatay (Turki Tenggara) dan sebagian wilayah Iraq-Jazirah Sinai.

Mesopotamia
Daerah yang meliputi daerah aliran Sungai Tigris dan Eufrat, yaitu wilayah-wilayah modern: Iraq, sedikit daerah timur laut Suriah, sebagian Turki Tenggara, dan sebagian kecil barat daya Iran.

Negara Vasal
Negara yang tunduk kepada entitas politik lain yang lebih besar dan biasanya lebih kuat, tetapi diberi otoritas untuk mengurus negaranya sendiri.

Persia-Sassanid
Imperium superpowerdi Asia Barat pada Abad ke-4 sampai Abad ke-7, juga disebut oleh warga negaranya sendiri sebagai Ērānshahr atau Ērān, berdiri tahun 224 dan diruntuhkan oleh Kekhalifahan Islam pada tahun 651. Saat Khalid hidup, imperium ini menguasai wilayah modern Iran, sebagian Asia Tengah dan barat laut India, serta sebagian pantai timur dan selatan Jazirah Arab.

Romawi
Lihat Bizantin.

Syam
Lihat Levant.


Garis Besar Biografi

Khālid ibn al-Walīd (Bahasa Arab: خالد بن الوليد‎; 592–642) juga dikenal sebagai Sayfullāh Al-Maslūl(Pedang Allah yang Terhunus), adalah seorang sahabat Muhammad, Nabi Islam. Ia terkenal karena kecakapan dan taktik militernya, menjadi komandan pasukan Madinah di bawah kepemimpinan Muhammad dan pasukan-pasukan penerusnya, Kekhalifahan Ar-Rasyidun; Abu Bakr dan Umar ibn Khattab.[1] Di bawah kepemimpinan militernya, Arab bersatu di bawah sebuah entitas politik untuk pertama kali dalam sejarah, Kekhalifahan. Ia memenangkan lebih dari seratus pertempuran, melawan pasukan-pasukan Imperium (Kekaisaran) Romawi-Bizantin, Imperium (Kekisraan) Persia-Sassanid, dan sekutu-sekutu mereka, ditambah lagi beberapa suku Arab lainnya. Prestasi strategisnya antara lain penaklukan Arab, Mesopotamia milik Persia, dan Syam milik Romawi, dalam beberapa tahun sejak 632 sampai 636. Ia juga dikenang karena kemenangan pentingnya di Yamamah, Ullays, dan Firaz, serta kesuksesan taktisnya di Walaja dan Yarmuk.[2]

Khalid ibn Al-Walid (Khalid anak Al-Walid, secara harfiah berarti Khalid anak Si yang Baru Lahir) berasal dari Suku Quraysh dari Makkah, dari sebuah klan yang pada awalnya menentang Muhammad. Ia memainkan peran vital dalam kemenangan Makkah saat Pertempuran Uhud. Ia masuk Islam dan bergabung dengan Muhammad setelah Perjanjian Hudaybiyyah, serta berpartisipasi dalam sejumlah ekspedisi militer dengannya, seperti Pertempuran Mu’tah. Setelah wafatnya Muhammad, ia memainkan peran kunci dalam komando Pasukan Madinah pimpinan Abu Bakr pada Perang Ridda, menaklukkan Arab tengah dan menundukkan suku-suku Arab. Ia merebut Kerajaan Al-Hirah yang merupakan negara vasal Persia-Sassanid, dan mengalahkan pasukan-pasukan Persia-Sassanid selama proses penaklukan Iraq (Mesopotamia). Ia lalu ditransfer ke front pertempuran di barat untuk merebut Syam milik Romawi dan Kerajaan Ghassan, negara vasal Romawi. Meskipun Umar kemudian melepas jabatan Khalid dari komando tertinggi, ia tetaplah pimpinan sebenarnya dari kesatuan tempur melawan Bizantin selama fase-fase awal Perang Bizantin-Arab.[1] Di bawah komandonya, Damaskus direbut tahun 634 dan kemenangan kunci Arab atas Bizantin diraih dalam Pertempuran Yarmuk (636),[1] yang membuka jalan dalam proses penaklukan Syam (Levant). Tahun 638, pada puncak karirnya, ia diberhentikan dari ketentaraan.



(bersambung)...
Diubah oleh plonard 16-08-2016 13:52
0
76.4K
287
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Sejarah & Xenology
Sejarah & Xenology
KASKUS Official
6.5KThread11.6KAnggota
Tampilkan semua post
plonardAvatar border
TS
plonard
#196
Terjemahan dari bahasa asli, Bahasa Inggris. Ebook dapat diakses di:
The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleed



Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian I)
(Halaman 1)

“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu di banyak medan peperangan, dan pada Pertempuran Hunayn, yaitu ketika kalian menjadi congkak karena banyaknya jumlah kalian, tetapi jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat sedikitpun kepadamu. Dan bumi yang luas itu telah terasa sempit bagi kalian, kemudian kalian lari ke belakang dengan bercerai-berai.
Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang tidak bisa kalian lihat, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.
Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang Ia dikehendaki. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Al-Qur’an, 9:25-27]


Baru saja penduduk Makkah menyatakan kesetiaan mereka kepada nabi dan kehidupan kota kembali normal, angin permusuhan mulai bertiup dari arah timur. Suku-suku besar Hazawin dan Tsaqif bersiap-siap di jalan peperangan.

Hawazin tinggal di daerah timur laut Makkah dan Tsaqif tinggal di daerah Tha’if. Mereka adalah dua suku yang bertetangga dan mulai khawatir dengan perkembangan kekuatan Muslim setelah menaklukkan Makkah. Mereka khawatir Pasukan Muslim akan menyerang dan memaksa mereka bertempur secara terpisah di kampung-kampung mereka sendiri. Untuk menghindari serangan tiba-tiba, mereka memutuskan untuk melakukan serangan ofensif, berharap insiatif ini akan membantu mereka. Kedua suku berkumpul di Awtas, di dekat Hunayn, sejumlah suku-suku lainnya juga ikut bergabung. Pasukan ini berkoalisi sebagaimana Pasukan Sekutu di Pertempuran Parit. Kekuatan mereka sebesar 12.000 orang pasukan dan kepemimpinan militer terpusat pada pemuda 30 tahun yang penuh semangat bernama Malik bin ‘Awf. Jenderal muda ini memutuskan untuk membuat pasukannya berada dalam situasi yang membuat mereka bertarung hidup mati. Ia memerintahkan mereka untuk membawa serta keluarga dan hewan ternak dalam pertempuran.

Pimpinan lainnya dalam koalisi ini adalah orang tua bernama Durayd bin As-Simma. Dengan usianya yang sudah tua, ia telah kehilangan kekuatannya untuk memimpin pasukan dalam pertempuran, tetapi ia adalah seorang bijaksana yang memberi dukungan moral bagi para pasukan; dan karena ia adalah seorang veteran berpengalaman, saran-sarannya dalam hal militer sangat diharapkan. Pandangan militernya tidak terbantahkan.

Di Awtas, Si Tua Duraid mendengar suara-suara bising yang biasanya terdengar apabila ada keluarga dan hewan-hewan ternak berkumpul. Ia memanggil Malik dan bertanya, “Mengapa aku mendengar suara unta, ringkikan keledai, embikan kambing, teriakan perempuan, dan anak-anak mengangis?” Malik menjawab, “Aku memerintahkan kepada semua keluarga dan hewan ternak bergabung dengan pasukan. Setiap laki-laki akan bertarung untuk keluarga dan harta mereka di belakang mereka sehingga mereka akan bertarung dengan keberanian yang lebih.”

“Laki-laki bertarung dengan pedang dan tombak, bukan dengan perempuan dan anak-anak,” kata Durayd. “Tempatkan perempuan dan hewan ternak di jarak yang aman dari medan pertempuran. Jika kita menang, mereka bisa bergabung dengan kita. Jika kita kalah, setidaknya mereka akan selamat.”

Malik menganggap ini sebagai keraguan terhadap keputusannya dan kemampuannya dalam memimpin pasukan. “Aku tidak akan mengirim mereka ke mana-mana,” Malik marah, “Engkau sudah pikun dan otakmu sudah tidak beres.” Durayd mundur dari perdebatan dan membiarkan Malik menjalankan taktiknya. Malik kemudian menemui komandan-komandan bawahannya dan berkata, “Ketika kalian menyerang, menyeranglah secara serentak. Ketika serangan kira dimulai, patahkan sarung pedang kalian.”[1] Mematahkan sarung pedang adalah adat orang Arab yang menunjukkan sebuah semangat untuk menyerang sampai mati terbunuh.

Sampai masa itu, baru Hawazin yang membawa keluarga dan hewan ternak mereka ke kemah pasukan. Suku-suku lainnya tidak pernah melakukan hal yang demikian.

Nabi tidak menginginkan pertumpahan darah lebih jauh, tetapi karena tidak ada pilihan lain, ia berangkat menghadapi musuh baru. Ia tidak ingin menunggu dan memberi waktu koalisi baru terbentuk untuk menyerangnya seperti yang terjadi tiga tahun sebelum ini, yaitu pada Pertempuran Parit. Ditambah lagi, jika ia mengambil posisi bertahan di Makkah sedangkan musuh bertahan di Awtas, situasi saling menunggu akan berkepanjangan sampai berbulan-bulan; dan nabi tidak bisa membuang waktu selama itu. Ia harus mengurus masalah-masalah pemerintahan dan menyegerakan masuk Islamnya seluruh Arab selagi dampak psikologis jatuhnya Makkah masih segar dalam pikiran orang-orang Arab. Dengan berkumpulnya kekuatan musuh di Awtas, ia tidak bisa mencapai tujuan ini. Dalam kondisi apapun, keberadaan tantangan pasukan musuh dalam jumlah besar di saat itu akan mengurangi dampak psikologis Penaklukan Makkah. Tantangan musuh ini harus dijawab dan harus dihancurkan. Keputusan nabi untuk bergerak menyerang menciptakan situasi yang tidak umum, dua pihak yang akan bertempur maju untuk bersama-sama berinisiatif menyerang.

Pada tanggal 27 Januari 630 M (6 Syawwal 8 H), Pasukan Muslim meninggalkan Makkah. Pasukan ini terdiri dari 10.000 pasukan yang menaklukkan Makkah ditambah 2.000 orang mu’allaf Makkah. Peran para mu’allaf ini masih diragukan karena Islam belum masuk sepenuhnya dalam hati mereka; mereka ikut berangkat karena mereka merasa bahwa hal itu harus mereka lakukan. Di antara mereka adalah Abu Sufyan dan Shafwan bin ‘Umayyah. Shafwan telah diberi waktu empat bulan untuk memutuskan masuk Islam atau tidak, tetapi pada saat itu, ia sudah menunjukkan dukungannya pada nabi, bahkan ikut menyumbangkan 100 baju baja bagi Pasukan Muslim untuk pertempuran ini.

Catatan Kaki Halaman 1
[1] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 438-439.


________________________________________________________________________________________________
(Halaman 2)

Pergerakan Pasukan Muslim dipimpin oleh 700 orang Bani Sulaym yang beroperasi di bawah komando Khalid. Pada malam tanggal 31 Januari, Pasukan Muslim tiba di Lembah Hunayn dan mendirikan kemah mereka.

Hunayn adalah sebuah lembah yang dimulai dari Syara’i`ul Mujahid (baru) yang berlokasi 11 mil (17,7 km-pent) timur laut Makkah, sampai di Syara’i Nakhla (lama) 7 mil (11,3 km-pent) ke arah timur. Lembah ini berlanjut ke timur sejauh 7 mil lagi dan kemudian berbelok ke utara menuju Zayma (lokasi-lokasi ini belum ada di masa itu). Di antara kedua Syara’i, lembah ini cukup luas, sekitar 2 mil (3,2 km-pent), tetapi setelah lewat dari Syara’i lama, lembah ini menyempit menjadi sekitar seperempat mil (0,4 km-pent) sampai setengah mil (8 km-pent). Pada bagian yang mendekati Zayma, lembah ini semakin sempit. Di bagian kedua inilah, Lembah Hunayn berbentuk celah sempit dan paling sempit berada di Zayma. Setelah Zayma, rute menuju Tha’if menerus sampai di Wadi Nakhlatul Yamaniyah. (Lihat Peta 6)

kaskus-image

Ketika Pasukan Muslim hendak memasuki Lembah Hunayn, masing-masing pihak telah mengirimkan mata-mata untuk memperoleh informasi kekuatan musuh masing-masing. Kedua pihak mengetahui dengan baik kekuatan, lokasi, dan pergerakan lawan masing-masing. Seorang mata-mata menyusup di antara Hawazin di Awtas, ia mendapat informasi rinci tentang kekuatan koalisi dan mengendap kabur untuk menyampaikan informasi ini kepada nabi. Ketika ia memberikan laporan ini, ‘Umar juga berada bersama nabi. Karena suatu alasan, ‘Umar tidak mempercayai laporan ini. ‘Umar memanggilnya pembohong, kemudian dijawab oleh mata-mata tersebut, “Jika engkau memanggilku seorang pembohong, engkau mendustakan kebenaran. Dan engkau dulu juga seorang pendusta yang lebih baik dariku.” Mata-mata itu menyinggung masa lalu ‘Umar yang sebelum ke-Islam-annya adalah seorang musuh nabi yang sangat kuat permusuhannya.

‘Umar menoleh ke arah nabi dan berkata, “Tidakkah engkau mendengarnya?” Nabi menjawab, “Tenanglah, wahai ‘Umar! Engkau dulu tersesat dan Allah menunjukkan jalan bagimu.”[1] ‘Umar pun terdiam.

Ketika Pasukan Muslim tiba di kemah mereka di Lembah Hunayn, laporan mata-mata tentang kedatangan mereka diterima oleh Malik bin ‘Awf. Ia memperkirakan bahwa Pasukan Muslim sudah mengetahui keberadaan mereka di Awtas dan hendak bertempur di dekat Awtas. Ia memutuskan untuk merencanakan taktik mengelabui Pasukan Muslim.

Sebelum fajar tanggal 1 Februari 630 M (11 Syawwal 8 H), Pasukan Muslim berbaris maju ke Awtas, tempat musuh berada berdasarkan perkiraan mereka. Tujuan pergerakan fajar ini adalah melewati celah sempit Hunayn sebelum musuh mengetahui pergerakan mereka. Pasukan garis depan kembali ditempati oleh Bani Sulaym yang dipimpin oleh Khalid. Di belakangnya, Pasukan Muslim dari berbagai kesatuan, termasuk 2.000 orang Makkah. Kemah dibiarkan berdiri sebagai markas operasi.

Di saat sinar awal matahari tampak di langit timur, pasukan garis depan memasuki celah sempit (sekitar 2 mil/3,2 km sebelum Zayma). Mereka telah menyiapkan diri untuk bertempur dan mengejutkan musuh di Awtas, Khalid pun meningkatkan kecepatan pasukannya. Dan kemudian, badai menerjang!

Khalid adalah orang pertama yang menjadi korban sergapan musuh. Keheningan fajar dipecahkan oleh pekikan perang ribuan orang, panah ditembakkan bukan dalam puluhan, tetapi ratusan. Anak-anak panah ini berjatuhan seperti hujan, suaranya berdesir tajam menusuk kuda dan manusia. Bani Sulaym tidak melakukan apapun terhadap musuh. Mereka juga tidak berpikir maupun mencari tempat berlindung. Mereka memutar balik dan bergegas melarikan diri. Khalid berteriak kepada pasukannya untuk bertahan, tetapi suaranya tidak terdengar dalam kebisingan dan kebingungan pasukannya. Ia sendiri terluka parah dan terbawa arus manusia dan kuda yang berlari mundur; namun tidak jauh, ia jatuh dari kudanya dan tidak bisa bangun, ia tidak bisa bergerak karena lukanya.

Karena Bani Sulaym berlari kabur dalam kepanikan, mereka berlari ke arah satuan pasukan lainnya yang memenuhi celah sempit Hunayn. Satuan pasukan ini pun mengetahui bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi. Pasukan dari Makkah yang masih setengah hati ikut berputar balik dan bergabung melarikan diri, diikuti oleh sejumlah satuan Pasukan Muslim lainnya. Di antara mereka, ada yang berkumpul di kemah, tetapi kebanyakan lari menyebar tidak tentu arah, mencari tempat berlindung dari sergapan. Tidak ada satu pun yang mengetahui secara rinci apa yang telah terjadi. Kebingungan semakin bertambah ketika unta-unta dan kuda-kuda tunggangan berlarian saling menabrak untuk melarikan diri.

Catatan Kaki Halaman 2
[1] Ibnu Hisyam: Vol.2, hlm. 440.


________________________________________________________________________________________________
(Halaman 3)

Malik bin ‘Awf telah memberikan kejutan lebih dulu bagi musuh yang hendak memberinya kejutan. Pada malam hari sebelumnya, ia telah menempatkan pasukannya di celah Hunayn yang sempit di mana manuver apapun sulit dilakukan. Pasukannya ditempatkan di dua sisi celah ini dan bersembunyi di belakang batu-batu besar maupun di balik pecahan-pecahan bukit. Di depan, ada orang Hawazin dengan sejumlah kecil orang Tsaqif. Kemudian disusul barisan Tsaqif dan suku-suku lainnya. Malik telah menyusun persiapan taktiknya dengan baik. Ia melakukan hal ini setelah hari mulai gelap sehingga Pasukan Muslim akan mengira bahwa mereka masih di Awtas. Taktiknya adalah untuk memberikan sergapan di celah sempit Hunayn dengan tujuan menghancurkan Pasukan Muslim atau setidaknya memukul mundur mereka kembali ke Makkah. Di belakang lokasi penyergapan [1], ada sebuah celah sempit lainnya yang dijadikan jalur melarikan diri bagi pasukannya jika taktik penyergapannya tidak berjalan sesuai rencana. Selama celah itu diamankan, Pasukan Muslim tidak akan bisa bergerak ke Awtas, markas Malik.

Kebanyakan dari Mu’allaf Makkah justru tampak senang melihat kejadian ini. Abu Sufyan berkata, “Kaburnya mereka tidak akan berhenti sampai mereka tiba di tepi laut!” Bersama Shafwan, hadir juga saudara tirinya yang berkata, “Sekarang, sihir Muhammad akan terungkap.” Shafwan membentaknya, “Diam kamu! Semoga Allah merobek mulutmu! Lebih baik seorang dari Quraysy yang memimpin kita daripada orang Hawazin!”[2]

Nabi tetap berdiri bersama sembilan orang sahabatnya, termasuk ‘Ali, Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Abbas. Ketika pasukannya lari melewati beliau, nabi memanggil mereka, “Wahai Muslimin! Aku di sini! Aku Rasulullah! Aku Muhammad bin ‘Abdullah!”[3] Namun suaranya tidak terdengar. Bagian depan Pasukan Hawazin tiba di dekat berdirinya nabi dan di sana, ‘Ali membunuh kafir pertama di Hunayn, yaitu seorang penunggang unta merah bersenjatakan lembing panjang yang diujungnya terpasang bendera hitam. Laki-laki ini sedang mengejar Pasukan Muslim yang melarikan diri. ‘Ali mengejarnya bersama seorang Muslim lainnya. ‘Ali memotong tendon kaki belakang unta tunggangannya dan ketika Si Hawazin itu jatuh, Muslim lainnya memenggalnya.

Nabi kemudian bergerak ke arah kanan pasukannya dan berlindung di bawah bebatuan. Beberapa orang Tsaqif datang ke arah kelompok Nabi, tetapi dipukul mundur oleh para Sahabatnya.

Malik bin ‘Awf telah melakukan sesuatu terhadap Pasukan Muslim yang tidak pernah mereka alami sebelumnya. Bagi Pasukan Muslim, kejadian ini adalah pengalaman pertama mereka mendapat sergapan. Kebanyakan dari mereka hilang akal dan melarikan diri dari medan pertempuran. Dalam situasi sedemikian, hanya mereka para pemberani yang tidak panik.

Malik telah mempersiapkan taktiknya dengan brilian, tetapi sial baginya, pasukannya tidak menjalankan taktik ini sesuai harapannya. Mereka tidak menunggu sampai badan utama Pasukan Muslim masuk ke celah perangkap, mereka sudah mengawali sergapan mereka pada pasukan garis depan. Dan Malik sekarang melakukan kesalahan, yaitu merasa puas dengan apa yang dicapainya saat itu; setelah maju beberapa ratus meter, ia tidak berupaya untuk mengejar Pasukan Muslim yang melarikan diri. Jika saja ia melakukannya, jalan cerita pertempuran ini akan berbeda. Tambahan lagi, pemanah-pemanah Hawazin melakukan kerja yang buruk. Meskipun sejumlah Muslim dan tunggangan mereka terluka, tidak ada satupun yang terbunuh dalam sergapan ini.

Sang Nabi yang mulia mensurvey pemandangan di sekitarnya dan ia menilai bahwa masih ada harapan yang sangat menjanjikan. Ia memutuskan untuk tidak membiarkan Malik memperoleh kemenangan mudah. Ia memerintahkan ‘Abbas untuk memanggil Pasukan Muslim untuk berkumpul di sekitar nabi. ‘Abbas adalah seorang laki-laki bertubuh besar dengan suara yang kuat, menurut beberapa laporan dapat didengar sampai bermil-mil jauhnya. Ia pun berteriak memanggil dengan sekuat-kuatnya, “Wahai Muslimin! Mendekatlah kepada Rasulullah! Wahai Anshar… Wahai Para Sahabat…” Ia memangil setiap suku secara berurutan untuk berkumpul di sekitar Nabi.

Panggilan itu didengar oleh kebanyakan Pasukan Muslim dan mereka segera bergerak ke arah di mana nabi berdiri. Segera setelah terkumpul 100 orang di dekat nabi, nabi memerintahkan mereka untuk melakukan serangan balasan. Mereka menyerang para Hawazin di dekat nabi dan memukul mundur mereka. Dengan segera, kelompok Muslim ini berkembang sampai akhirnya ribuan orang kembali bergabung dengan nabi. Ketika nabi menilai bahwa kekuatan mereka sudah mencukupi, ia memerintahkan serangan umum kepada Pasukan Hawazin.

Catatan Kaki Halaman 3
[1] Saya tidak berhasil menemukan lokasi celah ini. Kemungkinan ada pada atau di dekat Zayma.
[2] Ibnu Hisyam: Vol.2, hlm.443-445.
[3] Ibid.

Diubah oleh plonard 14-06-2016 07:36
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.