Kaskus

Story

jumpingwormAvatar border
TS
jumpingworm
• •• •• •
emoticon-Hot Newsemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbow 6th Story emoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbow
Spoiler for "The Menu":


emoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahari5th Story : Wrap Your Heartemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahari
Spoiler for "The Menu":


emoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucing4th Story : Irreplaceable emoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucing
Spoiler for The Menu:
Diubah oleh jumpingworm 16-07-2017 00:41
anasabilaAvatar border
samsung66Avatar border
samsung66 dan anasabila memberi reputasi
2
102.8K
1.3K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.7KAnggota
Tampilkan semua post
jumpingwormAvatar border
TS
jumpingworm
#1325
14. His Side - Vox
Aku memandang langit-langit kamar berwarna putih kekuningan tertembak lampu tidur.
Kucoba untuk memejamkan mata, tapi berbagai pikiran masih menghantui otakku.
Satu hal yang selalu membuatku gelisah bermalam-malam ini adalah tentang Karen.

Sekian tahun dia menghilang dari hidupku menyisakan kenangan pahit,
Dan kini dia muncul seolah terlahir kembali.
Begitu berbeda, dan seolah pertama kali bertemu kembali dengannya.
Menebarkan rasa hangat di sudut dadaku.

Jika sudah begini, pasti jantungku tidak karuan tergulung dalam gambar kenangan-kenangan kami masa awal SMA.
Tolol, memang.
Entah sekarang dia sedang berpacaran dengan siapa, atau mungkin sudah pernah menikah, aku tidak berani bertanya.
Takut dinding tinggi dan tebal yang sudah kubangun sekian tahun ini runtuh.

Menyerah dengan otakku yang masih sibuk bekerja, aku memutuskan untuk turun ke dapur dan mengambil segelas air.
Di rumah ini hanya aku dan Bi'Nur yang tinggal.
Ayah dan Ibuku nyaris tidak pernah mengunjungi anak semata wayangnya ini.
Tapi rasa rindu dan keinginan untuk menikmati 'family time' dengan mereka sudah hilang sejak usiaku 14 tahun.
Usia yang cukup untuk memahami bahwa sepertinya mereka tidak terlalu senang dengan kehadiranku.

Ayahku berpindah-pindah negara mengurusi cabang perusahaannya, sementara ibuku menetap di Singapura untuk mengurus butik fashion nya.
Satu hal yang masih mengikat mereka, sialnya, adalah aku.
Jadi satu-satunya cara untuk menyingkirkan aku dari hadapan mereka, adalah membiarkanku menetap di Indonesia hingga menikah dan lepas dari

tanggung jawab mereka.
Tapi berkat panutan 'keluarga' yang kumiliki selama ini, mungkin aku terlalu takut untuk menikah.
Perjanjian dua orang sehidup semati itu cuma omong kosong.
Kebohongan manis untuk menghiasi televisi dan buku novel.
Dalam realitanya, tidak akan terjadi...setidaknya tidak padaku.

Aku baru membuka pintu untuk turun, ketika handphoneku bergetar tanda telepon masuk.

"Siapa jam segini?" aku terheran sedikit menggerutu.

Ekspresiku agak terkejut ketika mendapati nama Karen di layarnya.
Kulirik jam dinding di kamarku, menunjukkan pukul setengah dua subuh.
Mau apa dia malam-malam begini?

"Hal...o?" aku mengangkat telepon dan mendapati suara dentuman keras dari seberang sana.

Lebih tepatnya, musik berdentum.
Aku tahu persis, dia pasti sedang di tempat dugem.

"Karen? Ngapain elo nelpon gue?"

"...Arzel? Hunny,...jemput aku ya. Aku dipaksa ikut dugem nih, temen kantor ada yang ultah... dipaksa minum,..tapi kamu tau kan aku nggak mungkin

minum..."

Karen terdengar teler.
Mungkin dia ngelindur karena mabuk.
Tapi, aku jelas mendengar di awal dia menyebut namaku.
Berarti dia tahu sedang menelponku sekarang.

"Sori, gue nggak..."

"Hun, nggak tahan banget nih kepala aku pusing... aku gak mau dianter mereka, nanti diapa-apain. Kamu kan' suami aku, jemput yaaa..." Karen

bergumam lagi.

Aku makin bingung.
Omongannya semakin kacau, dan sekarang aku harus pura-pura berperan jadi suaminya?
Sebaiknya aku tidak terlibat lebih jauh lagi.
Siapa tahu Karen cuma ingin memanfaatkan aku.

"Arzel..." suara Karen lemah dari seberang telepon.

Aku mencoba untuk merangkai kata menolak permintaan orang yang sedang mabuk berat.

"Hun...are you there?"

...Ah, sial.
Bodo amatlah.
Toh menjemputnya doang tidak akan membuatku mati.

"Elo mau dijemput di mana?" aku langsung mengambil jaket dan kunci mobil.

Menembus jalanan malam dan keheningan yang merasuk ke tulang, aku masuk ke dalam mobil dan pergi ke tempat yang disebutkan Karen.
Aku tidak berfikir dengan jernih lagi.
Mungkin karena suara-suara yang bergeming di kepalaku, atau jam yang sudah memasuki waktu subuh,
Yang kupikirkan hanya bagaimana secepat mungkin menuju ke tempat Karen berada.
Diubah oleh jumpingworm 16-07-2017 01:30
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.