- Beranda
- Stories from the Heart
( TAMAT ) AKU, KAMU, DAN LEMON : BUKU HARIAN AIRIN
...
TS
beavermoon
( TAMAT ) AKU, KAMU, DAN LEMON : BUKU HARIAN AIRIN
Selamat datang di BeaverMoon Land
Sudah lama tak berjumpa dengan halaman ini dan biasanya cuma liat info-info HT doang.
Dan pada akhirnya ane kembali dengan membawa kisah yang ngga terlalu bagus

Spoiler for Tanya Jawab:
Q : Bang bakalan panen kentang lagi ngga?"
A : Kayaknya ngga, soalnya thread ini cuma 15 episode pendek
Q : Kok cuma 15 Bang?
A : Ya emang segitu adanya dan ngga ada yang ditambah-tambahin
Q : Update tiap hari kan?"
A : Sayangnya ngga tiap hari. Berhubung cuma 15 episode dan ane lagi lumayan sibuk jadi updatenya seminggu sekali (biasanya weekend)
Q : Ini cerita tentang apa Bang?
A : Ini adalah prekuel dari AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Bang, prekuel apa sih?
A : Ini cerita sebelum adanya AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Jadi saya harus baca AKU, KAMU, DAN LEMON dulu dong bang?
A : Sebaiknya seperti itu, tapi kalo mau ini duluan juga nggapapa
Q : Bang, Nanda apa kabar?
A : -_- pertanyaan yang pasti ane jarang jawab
A : Kayaknya ngga, soalnya thread ini cuma 15 episode pendek
Q : Kok cuma 15 Bang?
A : Ya emang segitu adanya dan ngga ada yang ditambah-tambahin
Q : Update tiap hari kan?"
A : Sayangnya ngga tiap hari. Berhubung cuma 15 episode dan ane lagi lumayan sibuk jadi updatenya seminggu sekali (biasanya weekend)

Q : Ini cerita tentang apa Bang?
A : Ini adalah prekuel dari AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Bang, prekuel apa sih?
A : Ini cerita sebelum adanya AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Jadi saya harus baca AKU, KAMU, DAN LEMON dulu dong bang?
A : Sebaiknya seperti itu, tapi kalo mau ini duluan juga nggapapa
Q : Bang, Nanda apa kabar?
A : -_- pertanyaan yang pasti ane jarang jawab
Jadi buat agan dan aganwati sekalian yang mau mengikuti thread ini seharusnya baca AKU, KAMU, DAN LEMONterlebih dahulu. Cuma kalo mau baca ini dulu ya nggapapa ngga ada larangannya

Selamat membaca

Spoiler for INDEX:
Episode 1
Episode 2
Episode 3
Episode 4
Episode 5
Episode 6
Episode 7a
Episode 7b
Episode 8a
Episode 8b
Episode 9a
Episode 9b
Episode 10
Episode 11a
Episode 11b
Episode 12
Episode 13a
Episode 13b
Episode 14a
Episode 14b
Episode 15
Episode 15 + 1 (Finale)
Bad News Lemon
Behind The Story (part 1)
Behind The Story (part 2)
Behind The Story (part 3 / finale)
Pemberitahuan
Episode 2
Episode 3
Episode 4
Episode 5
Episode 6
Episode 7a
Episode 7b
Episode 8a
Episode 8b
Episode 9a
Episode 9b
Episode 10
Episode 11a
Episode 11b
Episode 12
Episode 13a
Episode 13b
Episode 14a
Episode 14b
Episode 15
Episode 15 + 1 (Finale)
Bad News Lemon
Behind The Story (part 1)
Behind The Story (part 2)
Behind The Story (part 3 / finale)
Pemberitahuan
Diubah oleh beavermoon 28-01-2020 19:37
i4munited dan 13 lainnya memberi reputasi
14
77.8K
Kutip
417
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#143
lagunya nyusul, update pake hp soalnya 

Spoiler for Episode 13b:
Hari baru dengan semangat yang baru lagi, meskipun kita sudah tau apa yang akan kita alami ke depannya. Aku bangun dari tidurku kemudian mencuci muka di kamar mandi. Kemudian aku menarik bangku dari dalam meja dan aku duduk di samping Widya yang masih tertidur dengan pulasnya di atas kasur bersama dengan Nanda. Kuusap pipinya secara pelan dan aku kembali memikirkan tentang tiket pesawat yang aku temui di dalam tas milik Widya semalam. Tiket itu seperti menjadi momok yang menakutkan untukku karena tidak lama lagi ia akan kembali pergi entah dengan tujuan apa, dan mungkin ia akan kembali merahasiakannya dariku. Kudekatkan wajahku dan kemudian kucium keningnya yang ternyata kembali membuatnya terbangun.
“Pagi Bram...” Kata Widya
Aku tersenyum melihatnya dan kemudian ia duduk di atas kasur dan ikut tersenyum kepadaku. Momen ini akan segera berakhir beberapa hari lagi, dan sepertinya aku belum bisa untuk kehilangannya lagi.
“Aku mau ke kamar mandi...” Kata Widya
“Ya itu kan kamar mandinya...” Kataku
“Gendong...” Katanya manja
Aku hanya bisa menuruti kata-katanya, ia sudah naik ke atas punggungku dan hanya sekitar enam langkah kemudian ia sudah turun lagi. Ia mendekatkan wajahnya kepadaku dan aku menjauhkan wajahku darinya.
“Aku belum sikat gigi...” Kataku
Ia hanya tersenyum dan kemudian kami melakukannya lagi, sama seperti beberapa malam yang lalu dan sama seperti beberapa tahun yang lalu. Ia sudah berada di kamar mandi dan entah kenapa aku malah menunggunya di luar sini sambil bersandar pada tembok, ia keluar dari kamar mandi dan terkejut melihat aku masih berada di sini. Hingga akhirnya kami melakukannya lagi, dan mataku terbuka dengan sangat lebar mengetahui bahwa Reza melihat apa yang aku dan Widya lakukan. Ia mengacungkan jempolnya kepadaku dan setelah kami melakukan itu ia berpura-pura untuk tidur lagi.
“Mau sarapan di luar?” Tanya Widya
“Yaudah kamu bangunin Nanda, aku mau bangunin Babon siluman itu.” Kataku
Aku menghampiri Reza dan berpura-pura untuk membangunkannya seperti biasanya, aktingnya sangat luar biasa hingga sangat mirip seperti halnya ia baru bangun. Aku memandang malas kepadanya.
“Hebat juga lu pagi-pagi dapet gituan, ajarin gue dong kan gue juga mau.” Katanya
“Lu liat dari kapan?” Tanyaku kaget
“Dari lu gendong-gendongan juga gue udah liat kali.” Kata Reza memukul pelan tanganku
Dan kemudian kami semua sudah bersiap untuk mencari sarapan di luar seperti biasanya, hingga terpilihlah sebuah warung tenda yang menjual soto ayam untuk kami singgahi. Tidak banyak yang kami perbincangkan selama sarapan kami hingga saat ini kami sudah kembali berada di rumah dengan kesibukan kami masing-masing. Aku dan Widya sedang berkutat dengan laptop kami masing-masing sedangkan Nanda dan Widya sudah menarik handle gas motor mereka untuk menjuarai seri pertengahan MotoGp.
“Bram nanti mau nemenin aku ngga? Ada beberapa barang yang mau aku beli.” Kata Widya
“Mau kok.” Jawabku singkat
Beberapa barang yang akan ia beli, mungkin yang akan ia bawa menuju Paris beberapa hari lagi. Namun aku mencoba untuk tetap tenang dan berlaku seperti biasanya kepadanya. Reza dan Nanda berpamitan untuk pergi membeli barang-barang untuk keperluan sekolah dan meninggalkan aku dan Widya di rumah.
Kumatikan laptop milikku bersamaan dengan Widya yang juga mematikan laptopnya. Aku bangun dari dudukku dan menyalakan sebatang rokok menuju balkon kamarku. Widya menyusul di belakangku sambil membawa segelas air dan ikut duduk denganku.
Kami melihat Reza dan juga Nanda masuk ke dalam halaman rumah dengan membawa barang yang cukup banyak. Aku cukup kebingungan dengan apa saja yang mereka beli hingga membutuhkan hingga empat plastik besar seperti itu. Nanda masuk ke dalam kamar diikuti dengan Reza.
“Bang Eja itu kok dibawa ke sini?” Tanya Nanda
“Oh iya ngapain juga di bawa ya.” Kata Reza
“Kamu beli apaan aja itu sampe banyak banget?” Tanyaku heran
“Itu barang-barangnya Bang Eja, aku ngga tau itu apaan.” Kata Nanda
“Bram gimana kalo sekarang aja? Biar ngga kemaleman.” Kata Widya
“Yaudah kita mandi aja dulu.” Kataku
Beberapa menit aku habiskan untuk mandi dan bersiap-siap, hingga akhirnya aku dan Widya sudah berada di dalam mobil untuk menuju sebuah pusat berbelanjaan yang sama seperti hari kemarin. Widya membeli beberapa keperluan yang entah untuk apa, dan pikiranku kembali pada kepergiannya yang tinggal beberapa hari lagi. Dalam hati aku selalu ingin bertanya kepadanya, namun ada rasa yang mengganjal untuk menanyakan tentang hal itu.
Beberapa barang belanjaan sudah aku pegang, dan kemudian kami melewati sebuah toko olahraga yang cukup besar. Widya berhenti di toko itu, matanya terpaku pada sebuah objek dan aku mencoba untuk mengetahui apa yang membuatnya terdiam hingga beberapa saat.
Aku menarik tangannya dan menuntunnya untuk masuk ke dalam hingga ia bisa dengan jelas melihat apa yang membuatnya terdiam. Sebuah seragam balet dengan warna krem sudah menarik hatinya, dan mungkin ia merindukan masa-masa itu.
“Kamu mau? Ambil aja.” Kataku
Kemudian aku meminta pegawai toko ini untuk mencarikan ukuran yang pas buat Widya. Dan setelah itu kami meninggalkan toko olahraga ini, tangan Widya tidak pernah lepas dari genggamanku karena mungkin ini akan menjadi momen terakhirku bersamanya.
“Kamu kenapa mau beliin ini buat aku?” Tanyanya kepadaku
“Itu jadi diri kamu dan ngga akan pernah berubah di mataku.” Jawabku
Ia tersenyum dan kemudian kami kembali pulang menuju rumah pada hari yang sudah menjelang malam ini. Setibanya di rumah aku menemukan Nanda dan juga Reza yang sedang berdiri di depan pintu yang mengenakan kemeja putih dengan apron hitam yang mengikat kemeja mereka.
Aku turun dengan bingungnya sama halnya seperti Widya yang juga kebingungan. Aku melihat mereka dengan heran dan mereka menahan tawa untuk tetap mencoba serius.
“Kalian ngapain kayak gini?” Tanyaku
“Apakah benar Bapak Bramantyo dan juga Ibu Widyanti?” Kata Reza dengan formalnya
Aku dan Widya saling tatap dan kemudian kami mengangguk secara bersamaan. Kami dipaksa untuk mengenakan penutup mata yang terbuat dari kain, setelah itu aku merasakan bahwa aku diarahkan menuju kamarku karena aku sedang dituntun Reza menaiki tangga. Mungkin saat ini aku sudah berada di dalam kamar, kemudian Reza memberikan sesuatu kepadaku, seperti sebuah celana panjang dengan kemejanya juga.
“Lu berdua mau ngapain sih?” Tanyaku semakin heran
“Udah mending lu ikutin aja, buruan pake sana.” Kata Reza
Aku mengikuti apa yang Reza suruh dan setelah selesai aku kembali turun menuju lantai bawah, mungkin saat ini aku sudah berada di dapur atau ruang makan. Mataku masih ditutup dengan kain itu, suara benturan ringan antara sendok dan juga piring cukup terdengar dan membuatku semakin kebingungan. Tidak lama kemudian penutup mata yang aku kenakan dilepas, aku melihat di depanku ada beberapa piring dan juga sendok garpunya. Sebuah lilin sudah menyala ditengah-tengah meja makan, bersamaan dengan itu aku melihat Nanda yang membawa Widya turun dari tangga. Aku cukup terkesima dengan apa yang dikenakan oleh Widya kali ini, sebuah dress warna merah dengan make up yang sederhana tetap membuatnya mempesona. Ia duduk di depanku dengan keadaan yang sama herannya.
“Ini kamu yang nyiapin?” Tanya Widya
“Ngga mungkin, kan daritadi aku sama kamu mulu.” Jawabku
Kemudian Nanda dan Reza datang membawa beberapa piring yang berisi makanan-makanan yang entah sampai saat ini aku masih tidak mengerti. Kamipun menyantap hidangan yang sudah disediakan dengan masih kebingungan. Dari mulai makanan pembuka, makanan utama, hingga makanan penutup sudah disajikan. Setelah itu aku dan Widya dibawa menuju ruang tamu yang kali ini sedikit lebih lega karena sofa-sofa yang biasa tertata sudah disingkirkan menuju dinding. Nanda menyalakan DVD untuk memutar lagu yang tidak aku sangka dapat membuatku terdiam, begitu juga dengan Widya. Lampu sorot yang sudah mereka persiapkan semakin membuatku kagum dengan apa yang mereka persiapkan. Nada demi nada sudah melantun dengan indahnya hingga membuatku dan juga Widya secara spontan berdansa.
“Seperti saat itu...” Kataku menatap wajahnya
“Seperti saat itu...” Katanya mengulang perkataanku
“Maaf Bram keinjek lagi.” Kata Widya
Aku hanya membalasnya dengan sebuah senyuman. Kami sedang berdansa di ruang tamu yang sudah dimiripkan seperti lantai dansa pada umumnya, dan aku cukup salut dengan pekerjaan Nanda dan juga Reza yang entah ada angin apa mereka melakukan hal ini dengan sangat niatnya. Aku dapat melihat ke arah mereka yang sedang melihat juga ke arah kami dari dalam dapur. Memori yang kembali naik ke atas kepala menjadikan malam ini cukup indah. Sudah beberapa lagu kami dengarkan sambil berdansa hingga kami memutuskan untuk menyudahi semuanya.
Tidak terasa malam ini berjalan lebih cepat dari biasanya hingga aku tersadar saat ini sudah masuk pukul dua belas tepat. Aku dan juga Widya sedang berada di balkon kamar sambil memandangi Nanda dan juga Reza yang sudah tertidur di tempat mereka masing-masing.
“Aku ngga nyangka mereka yang bikinin ini buat kita semua.” Kata Widya
“Aku malah sampe sekarang ngga ngerti maksud mereka apa.” Kataku
Widya memelukku dan juga bersandar di dadaku, sebuah kenyamanan kali ini terasa berbeda. Setelah aku mengetahui tentang kepergian Widya yang tinggal menghitung hari lagi, semua kenyamanan benar-benar terasa berbeda. Saatnya aku harus mulai bisa mengikhlaskan apa yang sudah ada di depan mata. Widya melepaskan pelukannya dan kemudian menciumku cukup lama yang membuatku sedikit terkejut.
“Tadi kan dansanya udah cuma penutupnya belum...” Katanya kepadaku
Aku hanya bisa tersenyum membalasnya.
“Oh iya, mungkin besok aku ngga bisa kesini dulu ya Bram. Ada urusan sama kerjaan di rumah.” Katanya
Entah apa yang aku pikirkan, dengan cepat aku menyimpulkan bahwa Widya sengaja tidak bertemu denganku untuk mempersiapkan keberangkatannya. Dan aku hanya bisa mengangguk menjawabnya tanpa ada sepatah katapun keluar dari mulutku. Mungkin ini akan menjadi malam terakhir untukkku dan juga untuknya. Apakah aku akan menyia-nyiakan kesempatan untuk yang kedua kalianya? Apa aku harus mengungkapkan isi hatiku lagi padanya?
“Pagi Bram...” Kata Widya
Aku tersenyum melihatnya dan kemudian ia duduk di atas kasur dan ikut tersenyum kepadaku. Momen ini akan segera berakhir beberapa hari lagi, dan sepertinya aku belum bisa untuk kehilangannya lagi.
“Aku mau ke kamar mandi...” Kata Widya
“Ya itu kan kamar mandinya...” Kataku
“Gendong...” Katanya manja
Aku hanya bisa menuruti kata-katanya, ia sudah naik ke atas punggungku dan hanya sekitar enam langkah kemudian ia sudah turun lagi. Ia mendekatkan wajahnya kepadaku dan aku menjauhkan wajahku darinya.
“Aku belum sikat gigi...” Kataku
Ia hanya tersenyum dan kemudian kami melakukannya lagi, sama seperti beberapa malam yang lalu dan sama seperti beberapa tahun yang lalu. Ia sudah berada di kamar mandi dan entah kenapa aku malah menunggunya di luar sini sambil bersandar pada tembok, ia keluar dari kamar mandi dan terkejut melihat aku masih berada di sini. Hingga akhirnya kami melakukannya lagi, dan mataku terbuka dengan sangat lebar mengetahui bahwa Reza melihat apa yang aku dan Widya lakukan. Ia mengacungkan jempolnya kepadaku dan setelah kami melakukan itu ia berpura-pura untuk tidur lagi.
“Mau sarapan di luar?” Tanya Widya
“Yaudah kamu bangunin Nanda, aku mau bangunin Babon siluman itu.” Kataku
Aku menghampiri Reza dan berpura-pura untuk membangunkannya seperti biasanya, aktingnya sangat luar biasa hingga sangat mirip seperti halnya ia baru bangun. Aku memandang malas kepadanya.
“Hebat juga lu pagi-pagi dapet gituan, ajarin gue dong kan gue juga mau.” Katanya
“Lu liat dari kapan?” Tanyaku kaget
“Dari lu gendong-gendongan juga gue udah liat kali.” Kata Reza memukul pelan tanganku
Dan kemudian kami semua sudah bersiap untuk mencari sarapan di luar seperti biasanya, hingga terpilihlah sebuah warung tenda yang menjual soto ayam untuk kami singgahi. Tidak banyak yang kami perbincangkan selama sarapan kami hingga saat ini kami sudah kembali berada di rumah dengan kesibukan kami masing-masing. Aku dan Widya sedang berkutat dengan laptop kami masing-masing sedangkan Nanda dan Widya sudah menarik handle gas motor mereka untuk menjuarai seri pertengahan MotoGp.
“Bram nanti mau nemenin aku ngga? Ada beberapa barang yang mau aku beli.” Kata Widya
“Mau kok.” Jawabku singkat
Beberapa barang yang akan ia beli, mungkin yang akan ia bawa menuju Paris beberapa hari lagi. Namun aku mencoba untuk tetap tenang dan berlaku seperti biasanya kepadanya. Reza dan Nanda berpamitan untuk pergi membeli barang-barang untuk keperluan sekolah dan meninggalkan aku dan Widya di rumah.
Kumatikan laptop milikku bersamaan dengan Widya yang juga mematikan laptopnya. Aku bangun dari dudukku dan menyalakan sebatang rokok menuju balkon kamarku. Widya menyusul di belakangku sambil membawa segelas air dan ikut duduk denganku.
Kami melihat Reza dan juga Nanda masuk ke dalam halaman rumah dengan membawa barang yang cukup banyak. Aku cukup kebingungan dengan apa saja yang mereka beli hingga membutuhkan hingga empat plastik besar seperti itu. Nanda masuk ke dalam kamar diikuti dengan Reza.
“Bang Eja itu kok dibawa ke sini?” Tanya Nanda
“Oh iya ngapain juga di bawa ya.” Kata Reza
“Kamu beli apaan aja itu sampe banyak banget?” Tanyaku heran
“Itu barang-barangnya Bang Eja, aku ngga tau itu apaan.” Kata Nanda
“Bram gimana kalo sekarang aja? Biar ngga kemaleman.” Kata Widya
“Yaudah kita mandi aja dulu.” Kataku
Beberapa menit aku habiskan untuk mandi dan bersiap-siap, hingga akhirnya aku dan Widya sudah berada di dalam mobil untuk menuju sebuah pusat berbelanjaan yang sama seperti hari kemarin. Widya membeli beberapa keperluan yang entah untuk apa, dan pikiranku kembali pada kepergiannya yang tinggal beberapa hari lagi. Dalam hati aku selalu ingin bertanya kepadanya, namun ada rasa yang mengganjal untuk menanyakan tentang hal itu.
Beberapa barang belanjaan sudah aku pegang, dan kemudian kami melewati sebuah toko olahraga yang cukup besar. Widya berhenti di toko itu, matanya terpaku pada sebuah objek dan aku mencoba untuk mengetahui apa yang membuatnya terdiam hingga beberapa saat.
Aku menarik tangannya dan menuntunnya untuk masuk ke dalam hingga ia bisa dengan jelas melihat apa yang membuatnya terdiam. Sebuah seragam balet dengan warna krem sudah menarik hatinya, dan mungkin ia merindukan masa-masa itu.
“Kamu mau? Ambil aja.” Kataku
Kemudian aku meminta pegawai toko ini untuk mencarikan ukuran yang pas buat Widya. Dan setelah itu kami meninggalkan toko olahraga ini, tangan Widya tidak pernah lepas dari genggamanku karena mungkin ini akan menjadi momen terakhirku bersamanya.
“Kamu kenapa mau beliin ini buat aku?” Tanyanya kepadaku
“Itu jadi diri kamu dan ngga akan pernah berubah di mataku.” Jawabku
Ia tersenyum dan kemudian kami kembali pulang menuju rumah pada hari yang sudah menjelang malam ini. Setibanya di rumah aku menemukan Nanda dan juga Reza yang sedang berdiri di depan pintu yang mengenakan kemeja putih dengan apron hitam yang mengikat kemeja mereka.
Aku turun dengan bingungnya sama halnya seperti Widya yang juga kebingungan. Aku melihat mereka dengan heran dan mereka menahan tawa untuk tetap mencoba serius.
“Kalian ngapain kayak gini?” Tanyaku
“Apakah benar Bapak Bramantyo dan juga Ibu Widyanti?” Kata Reza dengan formalnya
Aku dan Widya saling tatap dan kemudian kami mengangguk secara bersamaan. Kami dipaksa untuk mengenakan penutup mata yang terbuat dari kain, setelah itu aku merasakan bahwa aku diarahkan menuju kamarku karena aku sedang dituntun Reza menaiki tangga. Mungkin saat ini aku sudah berada di dalam kamar, kemudian Reza memberikan sesuatu kepadaku, seperti sebuah celana panjang dengan kemejanya juga.
“Lu berdua mau ngapain sih?” Tanyaku semakin heran
“Udah mending lu ikutin aja, buruan pake sana.” Kata Reza
Aku mengikuti apa yang Reza suruh dan setelah selesai aku kembali turun menuju lantai bawah, mungkin saat ini aku sudah berada di dapur atau ruang makan. Mataku masih ditutup dengan kain itu, suara benturan ringan antara sendok dan juga piring cukup terdengar dan membuatku semakin kebingungan. Tidak lama kemudian penutup mata yang aku kenakan dilepas, aku melihat di depanku ada beberapa piring dan juga sendok garpunya. Sebuah lilin sudah menyala ditengah-tengah meja makan, bersamaan dengan itu aku melihat Nanda yang membawa Widya turun dari tangga. Aku cukup terkesima dengan apa yang dikenakan oleh Widya kali ini, sebuah dress warna merah dengan make up yang sederhana tetap membuatnya mempesona. Ia duduk di depanku dengan keadaan yang sama herannya.
“Ini kamu yang nyiapin?” Tanya Widya
“Ngga mungkin, kan daritadi aku sama kamu mulu.” Jawabku
Kemudian Nanda dan Reza datang membawa beberapa piring yang berisi makanan-makanan yang entah sampai saat ini aku masih tidak mengerti. Kamipun menyantap hidangan yang sudah disediakan dengan masih kebingungan. Dari mulai makanan pembuka, makanan utama, hingga makanan penutup sudah disajikan. Setelah itu aku dan Widya dibawa menuju ruang tamu yang kali ini sedikit lebih lega karena sofa-sofa yang biasa tertata sudah disingkirkan menuju dinding. Nanda menyalakan DVD untuk memutar lagu yang tidak aku sangka dapat membuatku terdiam, begitu juga dengan Widya. Lampu sorot yang sudah mereka persiapkan semakin membuatku kagum dengan apa yang mereka persiapkan. Nada demi nada sudah melantun dengan indahnya hingga membuatku dan juga Widya secara spontan berdansa.
“Seperti saat itu...” Kataku menatap wajahnya
“Seperti saat itu...” Katanya mengulang perkataanku
Spoiler for Flashback:
Aku dan teman seangkatanku sedang berada di sebuah ruangan yang sangat besar, setelah acara wisuda tadi pagi acara berlanjut pada malam ini. Yang membedakan hanya ada murid-murid di sini tanpa ada guru-guru dan juga orang tua murid.
Kuminum lagi soda yang sudah dituangkan dalam sebuah gelas untuk yang kesekian kalinya, hingga Widya kembali datang kepadaku setelah berbincang dengan teman-temannya. Gaun merah yang ia kenakan serta make up tipis yang ada di wajahnya menjadikannya beda pada malam ini.
Beberapa penampilan band-band temanku sudah tampil, dan saat ini sedang dipersiapkan untuk acara pesta dansa. Entah sebenarnya apa yang dipikirkan oleh teman-temanku hingga membuat acara seperti ini, aku hanya bisa mendukung acara yang mereka adakan. Ajeng yang sebagai MC pada acara ini sudah kembali naik ke atas panggung dengan mic yang ada pada tangan kanannya.
“Baiklah kita akan jeda sebentar untuk penampilan band, karena saat ini kita akan melakukan dansa. Buat para temen-temen yang punya pasangan mungkin bisa bergabung di tengah-tengah dan yang belum punya pasangan bisa aja dapet pasangannya sekarang.” Kata Ajeng
“Kamu mau ke tengah-tengah?” Tanyaku kepada Widya
Ia mengangguk dan kembali tersenyum seperti biasanya. Alunan lagu yang cukup romantis sudah terdengar, beberapa pasangan sudah berdansa dengan santainya disusul denganku dan juga Widya yang ikut bersama para pasangan-pasangan itu.
[Can You Feel The Love Tonight – Kenny G]
Widya mungkin adalah seorang balerina yang sangat profesional, namun tidak untuk dansa pada malam ini. Sudah beberapa kali kakiku terinjak olehnya hingga hampir membuatnya terjatuh. Namun kami tetap melakukan dansa ini hingga beberapa lagu telah berganti, dan semakin lama kami semakin menjauh dari kerumunan orang-orang dan tibalah kami di area makanan dan minuman. Posisi kami masih seperti orang yang sedang berdansa namun kami hanya saling tatap satu sama lain hingga akhirnya kami melakukannya lagi. Entah apakah teman-teman kami melihat atau tidak rasanya aku sudah tidak perduli lagi, yang dapat aku rasakan pada malam ini hanyalah aku cinta padanya
Kuminum lagi soda yang sudah dituangkan dalam sebuah gelas untuk yang kesekian kalinya, hingga Widya kembali datang kepadaku setelah berbincang dengan teman-temannya. Gaun merah yang ia kenakan serta make up tipis yang ada di wajahnya menjadikannya beda pada malam ini.
Beberapa penampilan band-band temanku sudah tampil, dan saat ini sedang dipersiapkan untuk acara pesta dansa. Entah sebenarnya apa yang dipikirkan oleh teman-temanku hingga membuat acara seperti ini, aku hanya bisa mendukung acara yang mereka adakan. Ajeng yang sebagai MC pada acara ini sudah kembali naik ke atas panggung dengan mic yang ada pada tangan kanannya.
“Baiklah kita akan jeda sebentar untuk penampilan band, karena saat ini kita akan melakukan dansa. Buat para temen-temen yang punya pasangan mungkin bisa bergabung di tengah-tengah dan yang belum punya pasangan bisa aja dapet pasangannya sekarang.” Kata Ajeng
“Kamu mau ke tengah-tengah?” Tanyaku kepada Widya
Ia mengangguk dan kembali tersenyum seperti biasanya. Alunan lagu yang cukup romantis sudah terdengar, beberapa pasangan sudah berdansa dengan santainya disusul denganku dan juga Widya yang ikut bersama para pasangan-pasangan itu.
[Can You Feel The Love Tonight – Kenny G]
Widya mungkin adalah seorang balerina yang sangat profesional, namun tidak untuk dansa pada malam ini. Sudah beberapa kali kakiku terinjak olehnya hingga hampir membuatnya terjatuh. Namun kami tetap melakukan dansa ini hingga beberapa lagu telah berganti, dan semakin lama kami semakin menjauh dari kerumunan orang-orang dan tibalah kami di area makanan dan minuman. Posisi kami masih seperti orang yang sedang berdansa namun kami hanya saling tatap satu sama lain hingga akhirnya kami melakukannya lagi. Entah apakah teman-teman kami melihat atau tidak rasanya aku sudah tidak perduli lagi, yang dapat aku rasakan pada malam ini hanyalah aku cinta padanya
“Maaf Bram keinjek lagi.” Kata Widya
Aku hanya membalasnya dengan sebuah senyuman. Kami sedang berdansa di ruang tamu yang sudah dimiripkan seperti lantai dansa pada umumnya, dan aku cukup salut dengan pekerjaan Nanda dan juga Reza yang entah ada angin apa mereka melakukan hal ini dengan sangat niatnya. Aku dapat melihat ke arah mereka yang sedang melihat juga ke arah kami dari dalam dapur. Memori yang kembali naik ke atas kepala menjadikan malam ini cukup indah. Sudah beberapa lagu kami dengarkan sambil berdansa hingga kami memutuskan untuk menyudahi semuanya.
Tidak terasa malam ini berjalan lebih cepat dari biasanya hingga aku tersadar saat ini sudah masuk pukul dua belas tepat. Aku dan juga Widya sedang berada di balkon kamar sambil memandangi Nanda dan juga Reza yang sudah tertidur di tempat mereka masing-masing.
“Aku ngga nyangka mereka yang bikinin ini buat kita semua.” Kata Widya
“Aku malah sampe sekarang ngga ngerti maksud mereka apa.” Kataku
Widya memelukku dan juga bersandar di dadaku, sebuah kenyamanan kali ini terasa berbeda. Setelah aku mengetahui tentang kepergian Widya yang tinggal menghitung hari lagi, semua kenyamanan benar-benar terasa berbeda. Saatnya aku harus mulai bisa mengikhlaskan apa yang sudah ada di depan mata. Widya melepaskan pelukannya dan kemudian menciumku cukup lama yang membuatku sedikit terkejut.
“Tadi kan dansanya udah cuma penutupnya belum...” Katanya kepadaku
Aku hanya bisa tersenyum membalasnya.
“Oh iya, mungkin besok aku ngga bisa kesini dulu ya Bram. Ada urusan sama kerjaan di rumah.” Katanya
Entah apa yang aku pikirkan, dengan cepat aku menyimpulkan bahwa Widya sengaja tidak bertemu denganku untuk mempersiapkan keberangkatannya. Dan aku hanya bisa mengangguk menjawabnya tanpa ada sepatah katapun keluar dari mulutku. Mungkin ini akan menjadi malam terakhir untukkku dan juga untuknya. Apakah aku akan menyia-nyiakan kesempatan untuk yang kedua kalianya? Apa aku harus mengungkapkan isi hatiku lagi padanya?
khuman dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Kutip
Balas