- Beranda
- Stories from the Heart
( TAMAT ) AKU, KAMU, DAN LEMON : BUKU HARIAN AIRIN
...
TS
beavermoon
( TAMAT ) AKU, KAMU, DAN LEMON : BUKU HARIAN AIRIN
Selamat datang di BeaverMoon Land
Sudah lama tak berjumpa dengan halaman ini dan biasanya cuma liat info-info HT doang.
Dan pada akhirnya ane kembali dengan membawa kisah yang ngga terlalu bagus

Spoiler for Tanya Jawab:
Q : Bang bakalan panen kentang lagi ngga?"
A : Kayaknya ngga, soalnya thread ini cuma 15 episode pendek
Q : Kok cuma 15 Bang?
A : Ya emang segitu adanya dan ngga ada yang ditambah-tambahin
Q : Update tiap hari kan?"
A : Sayangnya ngga tiap hari. Berhubung cuma 15 episode dan ane lagi lumayan sibuk jadi updatenya seminggu sekali (biasanya weekend)
Q : Ini cerita tentang apa Bang?
A : Ini adalah prekuel dari AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Bang, prekuel apa sih?
A : Ini cerita sebelum adanya AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Jadi saya harus baca AKU, KAMU, DAN LEMON dulu dong bang?
A : Sebaiknya seperti itu, tapi kalo mau ini duluan juga nggapapa
Q : Bang, Nanda apa kabar?
A : -_- pertanyaan yang pasti ane jarang jawab
A : Kayaknya ngga, soalnya thread ini cuma 15 episode pendek
Q : Kok cuma 15 Bang?
A : Ya emang segitu adanya dan ngga ada yang ditambah-tambahin
Q : Update tiap hari kan?"
A : Sayangnya ngga tiap hari. Berhubung cuma 15 episode dan ane lagi lumayan sibuk jadi updatenya seminggu sekali (biasanya weekend)

Q : Ini cerita tentang apa Bang?
A : Ini adalah prekuel dari AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Bang, prekuel apa sih?
A : Ini cerita sebelum adanya AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Jadi saya harus baca AKU, KAMU, DAN LEMON dulu dong bang?
A : Sebaiknya seperti itu, tapi kalo mau ini duluan juga nggapapa
Q : Bang, Nanda apa kabar?
A : -_- pertanyaan yang pasti ane jarang jawab
Jadi buat agan dan aganwati sekalian yang mau mengikuti thread ini seharusnya baca AKU, KAMU, DAN LEMONterlebih dahulu. Cuma kalo mau baca ini dulu ya nggapapa ngga ada larangannya

Selamat membaca

Spoiler for INDEX:
Episode 1
Episode 2
Episode 3
Episode 4
Episode 5
Episode 6
Episode 7a
Episode 7b
Episode 8a
Episode 8b
Episode 9a
Episode 9b
Episode 10
Episode 11a
Episode 11b
Episode 12
Episode 13a
Episode 13b
Episode 14a
Episode 14b
Episode 15
Episode 15 + 1 (Finale)
Bad News Lemon
Behind The Story (part 1)
Behind The Story (part 2)
Behind The Story (part 3 / finale)
Pemberitahuan
Episode 2
Episode 3
Episode 4
Episode 5
Episode 6
Episode 7a
Episode 7b
Episode 8a
Episode 8b
Episode 9a
Episode 9b
Episode 10
Episode 11a
Episode 11b
Episode 12
Episode 13a
Episode 13b
Episode 14a
Episode 14b
Episode 15
Episode 15 + 1 (Finale)
Bad News Lemon
Behind The Story (part 1)
Behind The Story (part 2)
Behind The Story (part 3 / finale)
Pemberitahuan
Diubah oleh beavermoon 28-01-2020 19:37
i4munited dan 13 lainnya memberi reputasi
14
77.7K
Kutip
417
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#142
Spoiler for Episode 13a:
Semuanya sudah hampir jelas saat ini, dimana sebuah pilihan dan keikhlasan bisa diibaratkan sebagai satu paket yang tidak dapat dipisahkan. Ketika kita sudah memilih sesuatu dan itu tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan maka sebuah keikhlasan dapat menuntun kita untuk bertanggung jawab dengan apa yang telah kita pilih.
Beberapa hari ini aku mendapatkan beberapa pelajaran mengenai sebuah arti dari keikhlasan dan jujur saja itu sangat berat untuk dilakukan. Menerima kembali orang yang telah menyakiti hati kita pada masa lalu adalah sebuah bentuk dari keikhlasan, kita mengikhlaskannya untuk kembali datang ke kehidupan kita dan mengikhlaskannya untuk memperbaiki kesalahan yang telah ia perbuat.
Di balkon ini aku kembali merenungi apa yang telah aku alami beberapa hari belakangan, terlalu egois ketika kita hanya mementingkan kepentingan kita masing-masing hingga menghiraukan perasaan orang lain. Ego dan obsesi yang masih menggebu-gebu dalam hatiku masih sulit untuk kubendung hingga saat ini, aku masih dalam tahap belajar untuk mengetahui apa arti dari sebuah keikhlasan yang sebenarnya.
Aku kembali mengingat ketika saat itu tiba, dimana aku dan Widya berpisah tanpa adanya sebuah kejelasan . Dan mungkin saja jika aku tidak menitik beratkan egoku maka aku tidak akan mencapai titik seperti saat ini.
Beberapa hari ini aku mendapatkan beberapa pelajaran mengenai sebuah arti dari keikhlasan dan jujur saja itu sangat berat untuk dilakukan. Menerima kembali orang yang telah menyakiti hati kita pada masa lalu adalah sebuah bentuk dari keikhlasan, kita mengikhlaskannya untuk kembali datang ke kehidupan kita dan mengikhlaskannya untuk memperbaiki kesalahan yang telah ia perbuat.
Di balkon ini aku kembali merenungi apa yang telah aku alami beberapa hari belakangan, terlalu egois ketika kita hanya mementingkan kepentingan kita masing-masing hingga menghiraukan perasaan orang lain. Ego dan obsesi yang masih menggebu-gebu dalam hatiku masih sulit untuk kubendung hingga saat ini, aku masih dalam tahap belajar untuk mengetahui apa arti dari sebuah keikhlasan yang sebenarnya.
Aku kembali mengingat ketika saat itu tiba, dimana aku dan Widya berpisah tanpa adanya sebuah kejelasan . Dan mungkin saja jika aku tidak menitik beratkan egoku maka aku tidak akan mencapai titik seperti saat ini.
Spoiler for Flashback:
Aku sedang berada di dalam mobil dan terburu-buru, entah apa yang ada di pikiranku saat ini hingga pikiranku sudah tidak mampu lagi untuk jernih dan sabar sudah tidak ada dalam pikiranku. Kulajukan mobil ini lebih cepat dari biasanya tanpa memperdulikan apa yang ada di sekitarku, termasuk Reza yang duduk di sampingku. Wajahnya sudah cukup ketakutan melihat gaya berkendaraku yang tidak seperti biasanya. Jarum speedometer sudah jelas menunjuk ke arah 180 lebih sedikit. Aku tidak perduli, secepat mungkin aku harus bisa melajukan mobil ini bahkan jika perlu lebih cepat dari saat ini.
Jalanan tidak terlalu ramai hingga aku dapat mengendalikan mobil ini dengan mudahnya, hari yang sudah menjelang siang ini malah terasa sangat dingin bagiku. Aku harus menemuinya sebelum ia benar-benar pergi meninggalkanku, jangan sampai ia pergi dengan meninggalkan sejuta tanya yang ada di benakku.
“Bram, lu ngga mau ngelepas pedal gasnya dikit?” Tanya Reza di sampingku
Aku hanya menggelengkan kepala dan terus memacu mobil ini hingga kekuatan maksimalnya. Entah sudah berapa lama aku di perjalanan hingga akhirnya aku tiba di sebuah bandara internasional yang ada di Cengkareng. Kuparkirkan mobil Reza dengan cepat dan setelah itu aku berlari menuju ke sebuah tempat yang seharusnya aku bisa menemuinya saat ini. Aku cari di antara kerumunan orang-orang, aku cari di antara restoran yang sedang melayani pelangganya, hingga aku telusuri dimana ada kerumunan orang-orang banyak. Seorang wanita aku temui di tempat duduk sambil memainkan hpnya, dengan cepat aku menghampiri wanita itu dan kemudian aku duduk di sampingnya.
“Widya mana?” Tanyaku
Ajeng hanya bisa menggelengkan kepalanya dan ternyata aku sudah terlambat. Mungkin hanya beberapa menit yang lalu ia masih ada di sini, namun tetap saja aku terlambat untuk menemuinya. Kututup mukaku dengan telapak tanganku dan kemudian aku menghela nafas cukup dalam. Aku melihat Reza berhasil menyusulku untuk duduk di sampingku dengan nafasnya yang sedikit terengah-engah.
“Gimana Bram? Kita ngga telat kan?” Tanya Reza
Aku hanya diam, dan mungkin Reza mengerti apa jawaban dariku. Kemudian Ajeng bangun dari duduknya dan berdiri di hadapanku. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jaketnya dan memberikan benda itu kepadaku. Aku menerimanya dan cukup bingung dengan benda ini.
“Kata Widya ini bisa ngejelasin semuanya...” Kata Ajeng
Aku memasukan benda itu ke dalam saku celanaku dan kemudian aku meninggalkan tempat ini dengan sejuta tanya yang masih melayang-layang di kepalaku.
“Lu ikut kita aja, ntar gue anterin.” Kata Reza kepada Ajeng
“Oh yaudah makasih ya. Gue Ajeng...” Kata Ajeng
Reza memperkenalkan dirinya juga dan sebuah perkenalan singkat terjadi di bandara ini. Aku menyuruh Reza untuk membawa mobilnya dan membiarkan Ajeng untuk duduk di depan. Selama di perjalanan aku hanya bisa terdiam, pikiranku sepertinya terbawa pergi oleh Widya yang entah kemana aku tidak tau. Cara konyol Reza tidak mampu membuatku tersenyum sedikitpun hingga kami tiba di rumahku, dengan cepat aku keluar dari mobil meninggalkan mereka di belakangku.
Aku masuk ke dalam kamar dan berbaring untuk sekedar menenangkan diriku. Aku mengambil benda misterius yang ada di saku celanaku dan melihatnya lagi. Aku bangun dari tidurku dan membuka sebuah amplop hitam, bukan sebuah amplop yang biasa karena warnanya yang sangat tidak wajar.
Secarik kertas dan juga sebuah kepingan CD yang ada di dalam amplop ini, kuletakkan CD itu di sampingku dan aku memilih untuk membaca surat itu terlebih dahulu. Kubuka surat itu secara perlahan dan kubaca secara teliti tiap kata yang ditulis menggunakan pulpen berwarna biru, ciri khas milik Widya yang sudah aku kenali dengan sangat baik.
“Beberapa tahun bukan waktu yang sebentar untuk saling mengenal
“Beberapa tahun bukan waktu yang singkat untuk memikirkan
“Namun beberapa tahun masih belum cukup untuk semuanya
“Hai Bram, semoga kamu bisa baca tulisan ini dengan baik dan kamu bisa mengerti semuanya
“Kamu pernah bilang kalo semuanya pasti berasalan, dari mulai kita makan karena lapar, tidur karena mengantuk, dan kentut agar kita sehat.
“Dan itu semua aku jadiin pedoman buat semuanya
“Aku pergi juga memiliki beberapa alasan yang mungkin ngga semua orang berhak untuk tau, termasuk juga kamu
“Aku tau pasti kamu bakalan nyusul aku ke bandara, sayangnya pertemuan kita beberapa minggu yang lalu udah aku jadiin pertemuan yang terakhir buat kita
“Kamu pasti bertanya-tanya kenapa harus minggu lalu kan?
“Dan kamu pasti bertanya-tanya tentang sebuah kejelasan kan?
“Kamu mau tau jawabannya apa?
“Mungkin ngga bisa lewat surat ini. Kamu ngungkapin secara langsung maka aku akan jawab secara langsung juga
“Kapan?
“Percaya aja sama hati kamu...
“Ada pertemuan pasti ada perpisahan, namun kenapa orang-orang tidak pernah berpikiran untuk kembali bertemu lagi? Apa yang salah dengan itu?
“Isi surat ini sengaja aku buat dengan ngga jelas, biarkan waktu yang akan menjelaskannya
“Ikhlaskan semuanya dan kamu akan tau jawabnya
“Pretty eye, Pirate smile...
“Your Ballerina”
Aku menutup surat itu dengan sebuah senyuman, alam sadarku sepertinya mengirimkan pesan bahwa surat yang aku baca ini bukanlah sebuah berita duka melainkan sebuah kabar gembira. Dan kemudian aku lipat kembali surat ini dan kumasukan kembali ke dalam amplopnya. Dan berikutnya aku melihat kepingan CD ini, polos tanpa ada embel-embel yang menjelaskan isi dari CD ini.
Aku menutup pintu balkon dan merapatkan gorden jendela, dan saat ini kamarku sudah menjadi gelap. Kunyalakan laptop yang kumiliki dan kupasangkan sebuah proyektor milikku. Setelah selesai, ku masukan CD itu ke dalam laptopku. Reza masuk ke dalam kamarku dan sangat kebingungan dengan apa yang akan aku lakukan saat ini.
“Nah gini dong kalo nonton boke* pake proyektor, biar puas.” Katanya
“Bukan itu! Udah nonton aja.” Kataku
Aku memutar sebuah film berdurasi pendek yang berasal dari CD itu. Film sudah dimulai dan dengan fokus aku melihatnya dengan seksama. Sebuah lagu sudah menjadi backsound, beberapa foto sudah terpampang dengan jelas secara bergiliran, tambahan kata-kata yang dibuat menambah kejelasan dari semuanya. Lima menit berlalu hingga akhirnya film ini habis, aku melihat ke arah Reza yang ternyata ia malah meneteskan air mata.
“Lu kenapa sampe nangis?” Tanyaku padanya
“Gue ngga nyangka ternyata kisah cinta lu begini banget, emang sahabat gue paling bisa dah...” Katanya menghapus air matanya
Kubuka kembali gorden dan juga pintu balkon agar cahaya dapat masuk kembali ke kamarku. Sebuah senyuman terpampang di wajahku, bersamaan dengan air mata yang menetes. Dua perasaan yang saling beradu, dan sudah tidak dapat disembunyikan lagi di hatiku. Aku belajar akan satu hal, bahwa semuanya akan menemukan kejelasannya pada waktunya. Indah pada waktunya... Jika tak kunjung indah berarti itu belum waktunya.
“Ahh... Ahh... Fuc* me harder baby... Ahh..”
Aku membalikan badanku dengan cepat ketika mendengar suara itu dari belakangku, Reza sudah mulai dengan kelakuannya yang tidak beres.
“Lain kali begini dong Bram, kan enak gue nonton sambil tiduran.” Katanya
Kuambil miniatur mobil yang ada di dekatku, kulempar dengan sekuat tenaga dan berhasil mengenai perut Reza. Kegaduhan sudah terjadi di kamarku, namun inilah sebuah wujud dari keberuntungan dimana aku memiliki sahabat seperti Reza yang kelakuannya di bawah normal.
Jalanan tidak terlalu ramai hingga aku dapat mengendalikan mobil ini dengan mudahnya, hari yang sudah menjelang siang ini malah terasa sangat dingin bagiku. Aku harus menemuinya sebelum ia benar-benar pergi meninggalkanku, jangan sampai ia pergi dengan meninggalkan sejuta tanya yang ada di benakku.
“Bram, lu ngga mau ngelepas pedal gasnya dikit?” Tanya Reza di sampingku
Aku hanya menggelengkan kepala dan terus memacu mobil ini hingga kekuatan maksimalnya. Entah sudah berapa lama aku di perjalanan hingga akhirnya aku tiba di sebuah bandara internasional yang ada di Cengkareng. Kuparkirkan mobil Reza dengan cepat dan setelah itu aku berlari menuju ke sebuah tempat yang seharusnya aku bisa menemuinya saat ini. Aku cari di antara kerumunan orang-orang, aku cari di antara restoran yang sedang melayani pelangganya, hingga aku telusuri dimana ada kerumunan orang-orang banyak. Seorang wanita aku temui di tempat duduk sambil memainkan hpnya, dengan cepat aku menghampiri wanita itu dan kemudian aku duduk di sampingnya.
“Widya mana?” Tanyaku
Ajeng hanya bisa menggelengkan kepalanya dan ternyata aku sudah terlambat. Mungkin hanya beberapa menit yang lalu ia masih ada di sini, namun tetap saja aku terlambat untuk menemuinya. Kututup mukaku dengan telapak tanganku dan kemudian aku menghela nafas cukup dalam. Aku melihat Reza berhasil menyusulku untuk duduk di sampingku dengan nafasnya yang sedikit terengah-engah.
“Gimana Bram? Kita ngga telat kan?” Tanya Reza
Aku hanya diam, dan mungkin Reza mengerti apa jawaban dariku. Kemudian Ajeng bangun dari duduknya dan berdiri di hadapanku. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jaketnya dan memberikan benda itu kepadaku. Aku menerimanya dan cukup bingung dengan benda ini.
“Kata Widya ini bisa ngejelasin semuanya...” Kata Ajeng
Aku memasukan benda itu ke dalam saku celanaku dan kemudian aku meninggalkan tempat ini dengan sejuta tanya yang masih melayang-layang di kepalaku.
“Lu ikut kita aja, ntar gue anterin.” Kata Reza kepada Ajeng
“Oh yaudah makasih ya. Gue Ajeng...” Kata Ajeng
Reza memperkenalkan dirinya juga dan sebuah perkenalan singkat terjadi di bandara ini. Aku menyuruh Reza untuk membawa mobilnya dan membiarkan Ajeng untuk duduk di depan. Selama di perjalanan aku hanya bisa terdiam, pikiranku sepertinya terbawa pergi oleh Widya yang entah kemana aku tidak tau. Cara konyol Reza tidak mampu membuatku tersenyum sedikitpun hingga kami tiba di rumahku, dengan cepat aku keluar dari mobil meninggalkan mereka di belakangku.
Aku masuk ke dalam kamar dan berbaring untuk sekedar menenangkan diriku. Aku mengambil benda misterius yang ada di saku celanaku dan melihatnya lagi. Aku bangun dari tidurku dan membuka sebuah amplop hitam, bukan sebuah amplop yang biasa karena warnanya yang sangat tidak wajar.
Secarik kertas dan juga sebuah kepingan CD yang ada di dalam amplop ini, kuletakkan CD itu di sampingku dan aku memilih untuk membaca surat itu terlebih dahulu. Kubuka surat itu secara perlahan dan kubaca secara teliti tiap kata yang ditulis menggunakan pulpen berwarna biru, ciri khas milik Widya yang sudah aku kenali dengan sangat baik.
“Beberapa tahun bukan waktu yang sebentar untuk saling mengenal
“Beberapa tahun bukan waktu yang singkat untuk memikirkan
“Namun beberapa tahun masih belum cukup untuk semuanya
“Hai Bram, semoga kamu bisa baca tulisan ini dengan baik dan kamu bisa mengerti semuanya
“Kamu pernah bilang kalo semuanya pasti berasalan, dari mulai kita makan karena lapar, tidur karena mengantuk, dan kentut agar kita sehat.
“Dan itu semua aku jadiin pedoman buat semuanya
“Aku pergi juga memiliki beberapa alasan yang mungkin ngga semua orang berhak untuk tau, termasuk juga kamu
“Aku tau pasti kamu bakalan nyusul aku ke bandara, sayangnya pertemuan kita beberapa minggu yang lalu udah aku jadiin pertemuan yang terakhir buat kita
“Kamu pasti bertanya-tanya kenapa harus minggu lalu kan?
“Dan kamu pasti bertanya-tanya tentang sebuah kejelasan kan?
“Kamu mau tau jawabannya apa?
“Mungkin ngga bisa lewat surat ini. Kamu ngungkapin secara langsung maka aku akan jawab secara langsung juga
“Kapan?
“Percaya aja sama hati kamu...
“Ada pertemuan pasti ada perpisahan, namun kenapa orang-orang tidak pernah berpikiran untuk kembali bertemu lagi? Apa yang salah dengan itu?
“Isi surat ini sengaja aku buat dengan ngga jelas, biarkan waktu yang akan menjelaskannya
“Ikhlaskan semuanya dan kamu akan tau jawabnya
“Pretty eye, Pirate smile...
“Your Ballerina”
Aku menutup surat itu dengan sebuah senyuman, alam sadarku sepertinya mengirimkan pesan bahwa surat yang aku baca ini bukanlah sebuah berita duka melainkan sebuah kabar gembira. Dan kemudian aku lipat kembali surat ini dan kumasukan kembali ke dalam amplopnya. Dan berikutnya aku melihat kepingan CD ini, polos tanpa ada embel-embel yang menjelaskan isi dari CD ini.
Aku menutup pintu balkon dan merapatkan gorden jendela, dan saat ini kamarku sudah menjadi gelap. Kunyalakan laptop yang kumiliki dan kupasangkan sebuah proyektor milikku. Setelah selesai, ku masukan CD itu ke dalam laptopku. Reza masuk ke dalam kamarku dan sangat kebingungan dengan apa yang akan aku lakukan saat ini.
“Nah gini dong kalo nonton boke* pake proyektor, biar puas.” Katanya
“Bukan itu! Udah nonton aja.” Kataku
Aku memutar sebuah film berdurasi pendek yang berasal dari CD itu. Film sudah dimulai dan dengan fokus aku melihatnya dengan seksama. Sebuah lagu sudah menjadi backsound, beberapa foto sudah terpampang dengan jelas secara bergiliran, tambahan kata-kata yang dibuat menambah kejelasan dari semuanya. Lima menit berlalu hingga akhirnya film ini habis, aku melihat ke arah Reza yang ternyata ia malah meneteskan air mata.
“Lu kenapa sampe nangis?” Tanyaku padanya
“Gue ngga nyangka ternyata kisah cinta lu begini banget, emang sahabat gue paling bisa dah...” Katanya menghapus air matanya
Kubuka kembali gorden dan juga pintu balkon agar cahaya dapat masuk kembali ke kamarku. Sebuah senyuman terpampang di wajahku, bersamaan dengan air mata yang menetes. Dua perasaan yang saling beradu, dan sudah tidak dapat disembunyikan lagi di hatiku. Aku belajar akan satu hal, bahwa semuanya akan menemukan kejelasannya pada waktunya. Indah pada waktunya... Jika tak kunjung indah berarti itu belum waktunya.
“Ahh... Ahh... Fuc* me harder baby... Ahh..”
Aku membalikan badanku dengan cepat ketika mendengar suara itu dari belakangku, Reza sudah mulai dengan kelakuannya yang tidak beres.
“Lain kali begini dong Bram, kan enak gue nonton sambil tiduran.” Katanya
Kuambil miniatur mobil yang ada di dekatku, kulempar dengan sekuat tenaga dan berhasil mengenai perut Reza. Kegaduhan sudah terjadi di kamarku, namun inilah sebuah wujud dari keberuntungan dimana aku memiliki sahabat seperti Reza yang kelakuannya di bawah normal.
khuman dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Kutip
Balas