- Beranda
- Stories from the Heart
Aku dan Gadis Lugu
...
TS
spv7hqfj
Aku dan Gadis Lugu
SELAMAT DATANG

Cover by Agan Yushito13
Sebelumnya ane minta maaf buat para reader kalo tulisan ane acak acakan. Ane cuma berharap para readers bisa mengambil hikmah dari cerita ane ini.
Jangan lupa baca Sticky Rules SFTH ya gan? ane males kalo harus nulis ulang,
Jangan lupa juga buat ninggalin jejak sekedar ngasih kritik dan saran,
atau nebak2 jalan cerita BANTU RATE YA GAN hehehehe.
KASIH CENDOL JUGA BOLEH

ASALKAN JANGAN ADA BATA DIANTARA KITA GAN

AND THEN, DILARANG OOT

Spoiler for Top Thread:
Spoiler for CHAPTER 1:
Spoiler for CHAPTER 2:
Quote:
Diubah oleh spv7hqfj 22-07-2016 13:16
anasabila memberi reputasi
1
251.5K
902
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
spv7hqfj
#336
Eps 22 - Tika yang Berbeda
Elissaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa……..
Kurebahkan tubuhku dikamar.
“Kemana perginya mereka?” batinku.
Ku mainkan Harmonika, sepenggal nada lagu sederhana. Cukup lama aku memainkannya, dan terdengarlah suara 2 anak perempuan bercanda tawa berjalan menuju kamarku.
Suara pintu dibuka dan ditutup kembali.
Ternyata mereka masuk ke kamar Elissa.
“Lahh?? Kenapa mereka tidak masuk kekamarku seperti biasanya?”
Entah, aku merasa sedikit berharap, aneh saja mengapa mereka tidak masuk ke kamarku.
Ku dengar sedikit obrolan mereka dari sini.
“eh eh coba yang ini deh, bagus kan?
“iya bagus, cantik.”
“Tika ..Tika..kamu pakai yang ini, warnanya cocok denganmu”
“haha masak sih?”
“iya serius”
Bla…bla….bla….blaaaaa………
Sangat panjang obrolan mereka, sampai 1 lembar A4 saja tidak cukup untukku menuliskannya.
Cekreeekkk.. Pintu kamarku dibuka seseorang.
“Tobi tobi… sini deh” kata Elissa.
“Ada apa?”
Elissa masuk dan menarik tanganku supaya mengikutinya. Dan masuklah aku dikamarnya.
Haaaaaaaaaaaaaa…….
Aku hanya bisa ‘ndomblong’ melihat Tika yang sekarang berdiri di depanku. Sangat jauh berbeda penampilannya.
“i…ini Tika?” tanyaku kurang yakin jika dia adalah Tika.
Tika hanya tersenyum manis.
“Haduuuhhh Tobi,iya dia Tika, masak sih pacar sendiri sampai lupa” Elissa menjelaskan.
Sumpah, sangat amat cantik. Rambut di gerai lurus kebawah sedikit bergelombang. Kacamata sudah tidak adalagi berganti Softlens natural. Dua anting jenis ‘Huggie’ di masing-masing telinga. Baju yang terlihat seperti Daster tetapi ‘anak muda banget’ dan sedikit make up natural diwajahnya.
Tanpa terlihat ‘berlebihan’ . Sekali lagi, Tika sungguh sangat cantik.
“El, ini perbuatanmu?”
“Hihi, iya, Tika jadi tambah cantik kan?”
“Hehheehe” Baru kali ini aku setuju dengan Elissa.
“Bi, cocok gak?” tanya Tika.
“Co…co…cocok sekali Tik” Aku masih terpana olehnya.
“Kalau aku gimana bi?” tanya Elissa centil menegedipkan sebelah matanya.
Aku tidak sadar jika Elissa juga merubah tampilannya. Yah memang karena Elissa dandan atau tidak sama saja. Dia tetap terlihat cantik. Maka dari itu aku tidak sadar dengan penampilannya.
“Biasa aja” jawabku.
Ckiiiiittttttt….cubitan 360 derajat mendarat tepat dipinggangku.
“Awwwwww”
“Haha” tawa Tika melihat aku dicubit Elissa.
Sepertinya mereka baik-baik saja.
“Mbak Rani, Adikmu mendapatkan teman baru lagi, dia juga semakin hari semakin bertambah cantik ” batinku.
“Eh makan yuk? Laper nih” ajak Elissa.
“Yuk,”jawabku, lalu menarik tangan Tika.
Di perjalanan menuju ruang makan, aku menggandeng tangan Tika.
Dan, tangan Elissa melingkar di lenganku.
Aku lihat Tika tidak marah dengan kelakuan Elissa. Dia malah tersenyum kepadaku seperti memberi isyarat ‘tidak apa-apa’.
Sepertinya pandangan buaya darat dari orang-orang akan menjadi milikku. Masa bodohlah.
Aku hanya diam berpikir mengapa Tika tidak marah.
Selesai makan, Tika ijin pamit. Seperti biasanya ku antar dia sampai kerumah.
Di perjalanan,
“Tika, mengapa kamu tidak marah dengan Elissa yang seakan berusaha mendekatiku?” tanyaku.
“…”Tika menoleh kearahku dan tersenyum.
“Rahasia” jawab Tika singkat.
“Hadehhhhh “
“….”Lagi-lagi Tika hanya tersenyum.
Sampailah ku dirumah Tika.
Sebelum ku kayuh sepedaku untuk kembali kerumah, Tika berbisik kepadaku.,”Aku cinta kamu”
Ku tersenyum mendengarnya. Lalu ku kayuh sepedaku dan melambaikan tangan kearah Tika.
….
Sampailah ku dirumah.
Dan seperti biasanya, kamarku sudah dikudeta oleh Elissa. Terlihat dia sedang memainkan harmonika milikku lagi.
“Astagaaaaa, Elisaaaaaaaaa, itu punyaku” kataku, lalu merebut paksa Harmonika tersebut.
“Ihhh, pelit amat sih?” kata Elissa. Lalu duduk bersila dikasurku dengan memasang muka cemberut.
“Harmonika yang kemarin aku kasih ada dimana?” tanyaku.
“Di kamar” jawabnya singkat.
“mengapa tidak pakai yang itu saja?” tanyaku kesal.
“Gak mau, bagus yang ini” jawa Elissa.
“Hmmmm, yaudah nih!!” kataku, lalu memberikannya lagi harmonika yang baru saja aku rebut dari tangannya. Tidak apalah aku masih punya satu Harmonika lagi di laci.
“Yeeeeaaayyy asiiiikkk, makasih Bi” kata Elissa dan tiba-tiba dia memelukku.
Dan dimainkannya lagi harmonika tersebut, “My Heart will go on” dengan penuh perasaan.
Aku lebih memilih merebahkan di sofa kamarku dan mendengarkannya bermain. Sungguh indah. Entah mengapa perasaanku menjadi tenang jika mendengar suara nada dari harmonika yang dimainkan Elissa.
…..
Esoknya,
Aku berangkat sekolah bersama Elissa yang tangannya sedari tadi melingkar di lenganku. Kenapa Tika tidak marah dengan Elissa? Pertanyaan itu sejak kemarin tidak mau hilang dari ingatan.
Sudah mengantar Elissa ke kelasnya, lanjut ke kantin dulu.
Sudah ada pelanggan kantin paling setia disana, Dodi.
“Weittssss, masbro, hari ini cerah ya?” kata Dodi. Aku tahu ia berusaha menyindirku.
Ku duduk disampingnya sambil memberi kode kepada budhe kantin untuk membuatkanku The anget manis.
“Gundulmu aman!” jawabku.
“Menang mana?” tanya Dodi lagi.
“Imbang” jawabku singkat.
“Hihihihi, enak ya jadi dirimu bi, jadi rebutan 2 perempuan cantik”
“Ueeenak gundulmu njepat!! Aku bingung Di” kataku.
“Hadehhh, yasaudah Elissa buatku saja” kata Dodi tersenyum sok manis sambil menaik-naikan alisnya.
“Silahkan Di” kataku.
“Serius???? Mana minta nomor hp Elissa” pinta Dodi.
“Minta sendiri Di kalau bisa, hihihi” jawabku.
Selama ini aku memang tidak butuh nomor Hp Elissa, toh dia selalu datang sendiri menemuiku.
…Skip
Kami pun masuk kelas.
YASALAAAMMMM…Tika??? Kulihat dia terlihat semakin cantik. Tampilannya sudah tidak se’culun dulu. Mungkin berkat Elissa kemarin. Untuk kedua kalinya aku terpana melihat Tika dengan tampilan beda.
“Woyyy, melamun saja dirimu” teriak Dodi.
“I..i…itu Di” jawabku sambil menunjuk kearah Tika.
“Apaan sih?” tanya Dodi sambil menengok kearah yang kumaksud.
“,…” kami terdiam.
“Waaaaaaaaa….murid baru bi, cantik banget sumpah” Kata Dodi.
PLAKKKK!!! Aku pukul kepala Dodi.
“Itu pacarku Di, Tikaaaaaa” kataku.
“Haaaaaa???” Dodi tidak percaya dengan apa yang baru saja aku katakan.
Kulihat para siswa yang lain juga sedang melakukan hal yang sama denganku. Memandangi Tika.
“Tika” sapaku.
“Tobiiiiii..” jawab Tika dengan senyumannya yang khas.
“Tik, kamu terlihat semakin cantik, hehehe” kataku.
“…” Tika hanya tersenyum malu dengan pujianku.
Lalu, aku tersadar oleh m ata-mata penggangu dikelasku. Mereka yang sedari tadi melihat Tika dengan tatapan menjijikkan penuh nafsu.
Ku tatap mereka satu per satu. Dan menunduklah mereka semua.
“Huhh!! Dasar” batinku.
Untuk pertama kalinya, aku merasa khawatir. Emhhh, antara khawatir dan cemburu sih.
-Bersambung-
Kurebahkan tubuhku dikamar.
“Kemana perginya mereka?” batinku.
Ku mainkan Harmonika, sepenggal nada lagu sederhana. Cukup lama aku memainkannya, dan terdengarlah suara 2 anak perempuan bercanda tawa berjalan menuju kamarku.
Suara pintu dibuka dan ditutup kembali.
Ternyata mereka masuk ke kamar Elissa.
“Lahh?? Kenapa mereka tidak masuk kekamarku seperti biasanya?”
Entah, aku merasa sedikit berharap, aneh saja mengapa mereka tidak masuk ke kamarku.
Ku dengar sedikit obrolan mereka dari sini.
“eh eh coba yang ini deh, bagus kan?
“iya bagus, cantik.”
“Tika ..Tika..kamu pakai yang ini, warnanya cocok denganmu”
“haha masak sih?”
“iya serius”
Bla…bla….bla….blaaaaa………
Sangat panjang obrolan mereka, sampai 1 lembar A4 saja tidak cukup untukku menuliskannya.
Cekreeekkk.. Pintu kamarku dibuka seseorang.
“Tobi tobi… sini deh” kata Elissa.
“Ada apa?”
Elissa masuk dan menarik tanganku supaya mengikutinya. Dan masuklah aku dikamarnya.
Haaaaaaaaaaaaaa…….
Aku hanya bisa ‘ndomblong’ melihat Tika yang sekarang berdiri di depanku. Sangat jauh berbeda penampilannya.
“i…ini Tika?” tanyaku kurang yakin jika dia adalah Tika.
Tika hanya tersenyum manis.
“Haduuuhhh Tobi,iya dia Tika, masak sih pacar sendiri sampai lupa” Elissa menjelaskan.
Sumpah, sangat amat cantik. Rambut di gerai lurus kebawah sedikit bergelombang. Kacamata sudah tidak adalagi berganti Softlens natural. Dua anting jenis ‘Huggie’ di masing-masing telinga. Baju yang terlihat seperti Daster tetapi ‘anak muda banget’ dan sedikit make up natural diwajahnya.
Tanpa terlihat ‘berlebihan’ . Sekali lagi, Tika sungguh sangat cantik.
“El, ini perbuatanmu?”
“Hihi, iya, Tika jadi tambah cantik kan?”
“Hehheehe” Baru kali ini aku setuju dengan Elissa.
“Bi, cocok gak?” tanya Tika.
“Co…co…cocok sekali Tik” Aku masih terpana olehnya.
“Kalau aku gimana bi?” tanya Elissa centil menegedipkan sebelah matanya.
Aku tidak sadar jika Elissa juga merubah tampilannya. Yah memang karena Elissa dandan atau tidak sama saja. Dia tetap terlihat cantik. Maka dari itu aku tidak sadar dengan penampilannya.
“Biasa aja” jawabku.
Ckiiiiittttttt….cubitan 360 derajat mendarat tepat dipinggangku.
“Awwwwww”
“Haha” tawa Tika melihat aku dicubit Elissa.
Sepertinya mereka baik-baik saja.
“Mbak Rani, Adikmu mendapatkan teman baru lagi, dia juga semakin hari semakin bertambah cantik ” batinku.
“Eh makan yuk? Laper nih” ajak Elissa.
“Yuk,”jawabku, lalu menarik tangan Tika.
Di perjalanan menuju ruang makan, aku menggandeng tangan Tika.
Dan, tangan Elissa melingkar di lenganku.
Aku lihat Tika tidak marah dengan kelakuan Elissa. Dia malah tersenyum kepadaku seperti memberi isyarat ‘tidak apa-apa’.
Sepertinya pandangan buaya darat dari orang-orang akan menjadi milikku. Masa bodohlah.
Aku hanya diam berpikir mengapa Tika tidak marah.
Selesai makan, Tika ijin pamit. Seperti biasanya ku antar dia sampai kerumah.
Di perjalanan,
“Tika, mengapa kamu tidak marah dengan Elissa yang seakan berusaha mendekatiku?” tanyaku.
“…”Tika menoleh kearahku dan tersenyum.
“Rahasia” jawab Tika singkat.
“Hadehhhhh “
“….”Lagi-lagi Tika hanya tersenyum.
Sampailah ku dirumah Tika.
Sebelum ku kayuh sepedaku untuk kembali kerumah, Tika berbisik kepadaku.,”Aku cinta kamu”
Ku tersenyum mendengarnya. Lalu ku kayuh sepedaku dan melambaikan tangan kearah Tika.
….
Sampailah ku dirumah.
Dan seperti biasanya, kamarku sudah dikudeta oleh Elissa. Terlihat dia sedang memainkan harmonika milikku lagi.
“Astagaaaaa, Elisaaaaaaaaa, itu punyaku” kataku, lalu merebut paksa Harmonika tersebut.
“Ihhh, pelit amat sih?” kata Elissa. Lalu duduk bersila dikasurku dengan memasang muka cemberut.
“Harmonika yang kemarin aku kasih ada dimana?” tanyaku.
“Di kamar” jawabnya singkat.
“mengapa tidak pakai yang itu saja?” tanyaku kesal.
“Gak mau, bagus yang ini” jawa Elissa.
“Hmmmm, yaudah nih!!” kataku, lalu memberikannya lagi harmonika yang baru saja aku rebut dari tangannya. Tidak apalah aku masih punya satu Harmonika lagi di laci.
“Yeeeeaaayyy asiiiikkk, makasih Bi” kata Elissa dan tiba-tiba dia memelukku.
Dan dimainkannya lagi harmonika tersebut, “My Heart will go on” dengan penuh perasaan.
Aku lebih memilih merebahkan di sofa kamarku dan mendengarkannya bermain. Sungguh indah. Entah mengapa perasaanku menjadi tenang jika mendengar suara nada dari harmonika yang dimainkan Elissa.
…..
Esoknya,
Aku berangkat sekolah bersama Elissa yang tangannya sedari tadi melingkar di lenganku. Kenapa Tika tidak marah dengan Elissa? Pertanyaan itu sejak kemarin tidak mau hilang dari ingatan.
Sudah mengantar Elissa ke kelasnya, lanjut ke kantin dulu.
Sudah ada pelanggan kantin paling setia disana, Dodi.
“Weittssss, masbro, hari ini cerah ya?” kata Dodi. Aku tahu ia berusaha menyindirku.
Ku duduk disampingnya sambil memberi kode kepada budhe kantin untuk membuatkanku The anget manis.
“Gundulmu aman!” jawabku.
“Menang mana?” tanya Dodi lagi.
“Imbang” jawabku singkat.
“Hihihihi, enak ya jadi dirimu bi, jadi rebutan 2 perempuan cantik”
“Ueeenak gundulmu njepat!! Aku bingung Di” kataku.
“Hadehhh, yasaudah Elissa buatku saja” kata Dodi tersenyum sok manis sambil menaik-naikan alisnya.
“Silahkan Di” kataku.
“Serius???? Mana minta nomor hp Elissa” pinta Dodi.
“Minta sendiri Di kalau bisa, hihihi” jawabku.
Selama ini aku memang tidak butuh nomor Hp Elissa, toh dia selalu datang sendiri menemuiku.
…Skip
Kami pun masuk kelas.
YASALAAAMMMM…Tika??? Kulihat dia terlihat semakin cantik. Tampilannya sudah tidak se’culun dulu. Mungkin berkat Elissa kemarin. Untuk kedua kalinya aku terpana melihat Tika dengan tampilan beda.
“Woyyy, melamun saja dirimu” teriak Dodi.
“I..i…itu Di” jawabku sambil menunjuk kearah Tika.
“Apaan sih?” tanya Dodi sambil menengok kearah yang kumaksud.
“,…” kami terdiam.
“Waaaaaaaaa….murid baru bi, cantik banget sumpah” Kata Dodi.
PLAKKKK!!! Aku pukul kepala Dodi.
“Itu pacarku Di, Tikaaaaaa” kataku.
“Haaaaaa???” Dodi tidak percaya dengan apa yang baru saja aku katakan.
Kulihat para siswa yang lain juga sedang melakukan hal yang sama denganku. Memandangi Tika.
“Tika” sapaku.
“Tobiiiiii..” jawab Tika dengan senyumannya yang khas.
“Tik, kamu terlihat semakin cantik, hehehe” kataku.
“…” Tika hanya tersenyum malu dengan pujianku.
Lalu, aku tersadar oleh m ata-mata penggangu dikelasku. Mereka yang sedari tadi melihat Tika dengan tatapan menjijikkan penuh nafsu.
Ku tatap mereka satu per satu. Dan menunduklah mereka semua.
“Huhh!! Dasar” batinku.
Untuk pertama kalinya, aku merasa khawatir. Emhhh, antara khawatir dan cemburu sih.
-Bersambung-
JabLai cOY dan fabillillah memberi reputasi
2