- Beranda
- Stories from the Heart
[TAMAT] Satu Kata Tiga Makna
...
TS
gembelsakti
[TAMAT] Satu Kata Tiga Makna
![[TAMAT] Satu Kata Tiga Makna](https://s.kaskus.id/images/2016/06/11/1000486_201606111010060886.jpg)
PROLOG
Di dalam suatu lagu terdapat beberapa nada, didalam sebuah nada terdapat beberapa kata, didalam sebuah kata tersirat beberapa makna...
ya makna yang tersirat dalam satu kata dapat di artikan dalam ribuan bahkan jutaan tanya oleh setiap manusia yang mendengarnya...
Cerita ini ditulis atas dasar beberapa sudut pandang dari tiap tokoh yang akan muncul, setiap tokoh akan memiliki sudut pandang tersendiri, gaya bahasa tersendiri seperti layaknya manusia yang punya sifat dan perilaku yang berbeda beda yang mungkin akan menimbulkan sedikit polemik di dalam cerita ini...
thanks untuk Bro Robe16dan Sis Senjaungubiru yang mendorong saya untuk memecahkan telor yang selama ini saya jaga dari
tahun 2009...ya ini thread pertama saya sebagai salah satu dari jutaan member kaskus yang ada, jika ada salah kata atau ada yang merasa tersakiti mohon di maafkan ya....
Spoiler for Entah:
Spoiler for Index:
Nada Pertama
Terus bu...terus...atur nafasnya...tekan bu...terus...ibu pasti bisa...ucap seorang bidan kepada ibu muda yang sedang mengalami kejadian antara hidup dan mati, di sebelah nya terlihat seorang bapak muda yang sedari tadi memegang erat tangan istri tercintanya sambil sesekali menyeka keringat yang membasahi kening istrinya...
Oeee...Oeee...Oeee ya itu kata pertama yang terucap oleh seorang anak manusia yang baru saja di lahirkan ke dunia yang nyata lagi fana ini...seorang anak lelaki dengan berat badan 3,5kg dan tinggi 52cm terlihat menangis sebagai tanda bahagia dan tanda terima kasih karena diberi kesempatan menikmati kehidupan setelah kehidupan di alam ruh dan alam kandungan.
Alhamdulillah...selamat ya Pak..Bu...Bayinya laki laki, sehat dan sempurnaucap bidan itu kepada sepasang suami istri yang
masih terlihat lelah dan sedikit panik tetapi perlahan terlihat rona bahagia terpancar dari wajahnya... saya mandikan dulu ya pak nanti bapak yang adzan-in lanjut bidan sambil berlalu ke ruang sebelah.
Assalamu'alaikum dunia sapa bayi lelaki itu dalam tangisnya, Slamet Prayitno Atmojo bapakku memberiku nama, kata bapak biar nanti kalo sudah besar kelak jadi anak yang Selamat dan Bijaksana...Bapak dan Simbok biasa panggil aku Slamet atau cukup Met saja, aku terlahir dari sebuah kota yang terkenal dengan Candi Borobudur nya...Jogjakarta ya ? bukan...Candi Borobudur bukan berada di Jogjakarta tetapi di sebulah kota kecil di utara kota jogjakarta. Bapakku seorang guru SD Negeri di lereng gunung merapi, simbokku ibu rumah tangga meski dulu pernah kuliah setara sarjana, tetapi karena simbok hanya ingin fokus dan merawat anak maka simbok memutuskan untuk berhenti bekerja setelah usia kehamilan menginjak 7 bulan.
Aku hidup di lingkungan keluarga sederhana, hidup di kampung yang jauh dari pemerataan pembangunan yang di canangkan pemerintah saat itu, terlihat dari aku lahir sampai sekarang aku berumur 13 tahun belum ada sambungan listriknya. Bapakku selain guru SD juga guru mengaji di kampung ini...semua anak berkumpul di serambi masjid mulai menjelang maghrib dan melanjutkan mengaji sehabis sholat sampai adzan tanda sholat isya terdengar...selepas sholat isya aku berlari ke arah rumah yang jaraknya cukup dekat dari masjid, duh wetengku kok wis ngeleh yo gumamku lirih berharap simbok sudah menyiapkan makan malam...
Assalamu'alaikum...Simbok...Anakmu lapar iki...setengah teriakku sambil berlari menuju pawon (dapur). terlihat simbokku sedang menyiapkan masakan kesukaanku...nasi putih dengan sambel tempe bacem khas simbok, aku terbiasa makan tempe atau tahu dari kecil karena kata simbok banyak proteinnya biar tumbus besar dan pintar...jangan berharap aku bisa makan telor, ikan, atau daging sebagai sumber protein hewani karena gaji bapak sebagai guru tidak besar sedangkan kebutuhan keluarga semakin besar setelah aku mulai masuk SMP.
Aku sekolah di salah satu SMP Negeri favorit di Kota ini, jarak dari rumah ke sekolahan cukup jauh karena memang kampungku berada di lereng gunung sumbing. perjalanan ke sekolahan biasanya aku tempuh 1 jam lebih karena dari rumah aku harus berjalan kaki dahulu sejauh 2km untuk sampai ke jalan raya, dari jalan raya aku naik angkutan desa sekali dan dilanjut jalan kaki lagi sejauh 1km untuk mencapai sekolahan ini.
Teng..Teng..Teng...bunyi velg mobil bekas yang di pukul dengan lempengan besi bekas teralis pertanda kelas akan segera di mulai, dari hasil penerimaan siswa tercantum namaku berada di kelas 1D...kelas terakhir yang dihuni oleh anak anak yang secara prestasi berada di peringkat menengah ke bawah...bukan karena aku tidak berprestasi tetapi kebijakan pemerintah saat itu membedakan asal sekolah sebelumnya dalam sebuah Rayon...meski aku juara kelas dan nilai NEM ku tertinggi di SD kampung tetapi karena berbeda rayon maka di sini aku harus puas masuk di kelas paling buncit, ora popo nak..sing penting mlebu sekolah favorit iki kata bapakku saat melihat pengumuman hasil penerimaan siswa baru.
Hari pertama masuk SMP ini di awali dengan penataran P4 dan pengenalan sekolah, perlahan namun pasti muncul perasaan minder di dalam hati...melihat teman teman baru disini, rata rata mereka adalah anak kota ,anak gaul dan yang pasti mereka anak orang berkecukupan lebih terlihat dari motor atau mobil yang mengantar mereka menuju sekolah ini.
Permisi ya mau lewat neeh ucap seseorang yang sebaya denganku, Ooh monggo nderekaken balasku...sambil berjalan dan mengamati sekitar akhirnya terlihat papan kelas bertulisan KELAS 1 D di atas pintu ruang kelas yang cukup besar...hmmm..lha iki kelasku...ternyata anak yang tadi ketemu di depan gerbang ada di kelas ini dan entah kebetulan sisa bangku yang kosong hanya di sebelahnya...bangku nomer 2 dari belakang barisan sebelah kanan, bangku di sekolah ini berupa bangku panjang yang bisa dipakai untuk 3 murid...Permisi mas, nyuwun sewu..bangku ini kosong atau sudah ada yang pakai ? tanyaku kepadanya...anak itu hanya diam saja tanpa menjawab hanya mengangguk pelan dan menggeser tas sekolah hitam merk Adidas nya tanda bangku itu kosong...oalah cah iki suombong tenan diajak ngomong malah meneng wae batinku dalam hati sambil duduk di bangku paling ujung kanan, aku ulurkan tangan sambil memperkenalkan diri...saya Slamet, mas sama mbak siapa namanya ? tanyaku...anak itu menoleh dan menyambut uluran tangan sambil menjawab..gue Pratama...panggil aja Tama dan gadis di sebelahnya Tama juga menjawab..Saya Riri, salam kenal ya Slamet....
Mulai sekarang saya duduk sebangku bertiga...Slamet, Tama dan Riri...
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Monggo Mas Tama Dilanjutken....
Diubah oleh gembelsakti 11-06-2016 22:10
ugalugalih dan 6 lainnya memberi reputasi
7
96.1K
630
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
gembelsakti
#96
Nada Ketiga
Masih bingung mau pilih makan apa di kantin ini, duwitku ora cukup nek ge jajan gumamku lirih sambil melihat lihat isi dalam etalase kaca...Met...udah pilih aja mau lo apaan...ntar gue yang bayar...buruan sini teriak Tama sambil asyik ngunyah tahu isi...Tenane Tam ? ojo ngapusi lho.. balasku mencoba mempertanyakan tawaran Tama, akhirnya aku memilih arem arem sama tempe goreng tepung dan duduk di sebelah Riri.
Met, kowe ki piye to ? gratisan kok malah mung njupuk arem arem karo tempe kata Riri sambil tersenyum ke arahku...ra popo kok Ri, ora penak nek nyusahke wong liyo...ndak di dukani bapak jawabku...Tama hanya bisa menggangkat bahu dan bertanya kepada Riri...Ri, Si Slamet ngomong apaan sih ? roaming gue...jeh berasa di planet namec gue
Eee...itu lho Tam...opo Met bahasa indonesia ne isin ? malu opo sungkan lah intinya si Slamet Tam, karena ga enak nanti uangmu abis jelas Riri kepada Tama...Yaelah Met, ambil aja apa yang lo mau..lo ga percaya gue bawa uang lebih ? aku hanya tertawa kecil karena di dalam mulut masih ada tempe yang belum tertelan, perlahan Tama mengeluarkan sebuah dompet hitam dan memperlihatkan selembar uang kertas berwarna coklat muda dengan gambar pahlawan nasional dari aceh...Teuku Umar kan ? bukan ini Tjut Nyak Dien...kalau Teuku Umar tulisannya 5000 Rupiah tapi sekarang uang yang bergambar Teuku Umar sudah berganti gambar alat musik sasando.
Wah kok akeh tenan to uang sakumu Tam ? tanyaku dengan wajah terheran heran.Iyo kok banyak uangmu Tam ? Riri menimpali pertanyaanku...Jeh, lo pada liat uang ceban aja udah kaya liat setan gini sih...ini mah separo doang dari jatah harian gue..biasanya sehari 20rb jawab Tama..lalu Tama mulai cerita tentang kehidupannya di Bogor dan menerangkan asal usul kenapa dia bisa terdampar di sini...di kota antah berantah yang sedikitpun tidak pernah terlintas dipikirannya akan tinggal dan sekolah di sini. Ternyata di balik wajahnya yang jutek dan badannya yang gempal ditambah dengan kulitnya yang agak hitam pekat terdapat jiwa yang sedikit rapuh...sesekali Tama menyeka air matanya saat bercerita betapa tersiksanya dia hidup jauh dari orang tuanya dan di sini hanya tinggal bersama mamang nya. terlebih di sini semua tetangga dan orang di sekitarnya selalu memakai bahasa jawa dalam kesehariannya.
Kalo lo gimana Ri ? tanya Tama kepada Riri...terlihat Riri yang biasa tersenyum dan ceria mulai menampakkan sisi sebaliknya...Aku disini tinggal bersama Mbah, Bapak Ibu ku di kampung sebelah...Orang tua ku pengen aku jadi orang pinter dan sukses...makanya suka nggak suka aku harus hidup jauh dari orang tua jawab lirih Riri sambil memainkan ujung sedotan air mineral sambil sesekali menatap langit seakan tidak ingin orang lain tahu bahwa Riri yang ceria dan usil ini menitikkan air mata kesedihan.
30 menit berlalu tanpa kami sadari, kami terlalu larut dalam cerita masing-masing dan seakan kami bertiga merasakan nasib dan kehidupan yang sama..seolah olah kami memiliki keterikatan yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata...Kami pun kembali ke kelas untuk melanjutkan pelajaran hari ini.
Baiklah anak-anak...pelajaran hari ini cukup sampai di sini dahulu, besok kita lanjutkan bab berikutnya ya...jangan lupa besok PR di kumpulkan kata Bu Hani dan kami pun bersiap siap pulang ke rumah masing-masing...kami bertiga berjalan beriringan menyusuri koridor sekolah ini menuju gerbang sekolah dimana sudah tampak beberapa mobil dan motor orang tua murid yang datang menjemput murid-murid disini...lo balik naek apa Met..Ri ? tanya Tama kepadaku dan Riri, Jalan kaki jawabku hampir bersamaan dengan jawaban Riri...lah kata lo tadi jauh gila rumah lo dari sini ? nyampe rumah bisa bisa maghrib lo pada pffff....hahahaha canda Tama
Ya udah mampir ke rumah gue yuk, eh rumah mamang gue maksudnya hehehe ajak Tama sambil menarik tanganku dan tangan Riri untuk mengikutinya menuju rumah mamang-nya. 5 menit kami berjalan sambil bersendau gurau seakan akan kami sudah lama kenal dekat satu sama lain, tak terasa kami berhenti di sebuah rumah yang cukup besar dan megah...Yuk masuk sini, tunggu sini dulu...gue ke dalem bentar ucap Tama sambil berlalu masuk ke dalam rumah mewah itu.
Treng..treng...teng..teng suara khas sepeda motor yang biasa dipakai balapan liar remaja tanggung di jalan arteri, Wooy, sini naek...gue anter pulang aja lo pake motor ini teriak Tama karena suara motornya lebih nyaring daripada teriakannya...Emange kowe iso numpak motor Tam ? trus opo motor kuwi ora di pake mamangmu? jawabku sembari mendekati Tama di depan gerbang garasi. motor gini sih cemen Met, gue udah khatam masalah beginian...dah lo naek aja sih...mamang gue juga lagi pergi.. jawab santai Tama sambil memainkan gas dengan tangan kanannya...kamipun menaiki motor RX King itu bertiga..Riri ditengah dan aku hanya bisa diam pasrah di belakang.
Sebenernya aku trauma naik motor apalagi kalau ngebut, soalnya bapakku pernah jatuh dari motor saat pulang kerja. Kakinya bapak terkilir dan terluka di bagian lutut dan siku tanganya...
Sepanjang perjalanan Tama sering memainkan gas dan mulai ngebut...jalanan di sini sepi jadi mungkin Tama terlalu nyaman ngebut dan larut dalam kesenangannya, akupun hanya diam pasrah sambil berpegangan pada behel belakang...tapi tampaknya Riri tersenyum bahagia dan meminta Tama untuk menambah kecepatannya...Alon Alon wae Tam..Ri...mengko nek tibo piye..jerit dalam hatiku
Tam, didepan ada turunan agak tajam ati-ati kata Riri berusaha mengingatkan Tama bahwa di depan jalanan agak rusak dan berbatu..Tiba tiba motor oleng dan bergerak liar ke kanan dan ke kiri tanpa bisa di kendalikan oleh Tama dan Bbrrraakkk....motor terhenti setelah menabrak pagar rumah orang...kamipun jatuh terpental entah berapa meter ke sebelah kanan...Sorry Met..Ri...rem nya ga pakem...lo gapapa kan ? tanya Tama sambil menangkat motor dan membersihkan debu di badannya..Riri tampak lemas dan berusaha mengambil tas sekolahnya yg terlempar ke tengah jalan dan aku ? aku mengalami pendarahan di kepala belakang karena posisiku saat jatuh terpental sempat membentur aspal...darah segar mulai mengalir pelan membasahi seragam sekolahku...tetapi aku masih sadar dan berusaha untuk berdiri meski kemudian terjatuh lagi.
Tam..Ri...sirahku bocor...tulungi aku....
---------------------------------------------
Mas Tama...Tulungi aku....
Masih bingung mau pilih makan apa di kantin ini, duwitku ora cukup nek ge jajan gumamku lirih sambil melihat lihat isi dalam etalase kaca...Met...udah pilih aja mau lo apaan...ntar gue yang bayar...buruan sini teriak Tama sambil asyik ngunyah tahu isi...Tenane Tam ? ojo ngapusi lho.. balasku mencoba mempertanyakan tawaran Tama, akhirnya aku memilih arem arem sama tempe goreng tepung dan duduk di sebelah Riri.
Met, kowe ki piye to ? gratisan kok malah mung njupuk arem arem karo tempe kata Riri sambil tersenyum ke arahku...ra popo kok Ri, ora penak nek nyusahke wong liyo...ndak di dukani bapak jawabku...Tama hanya bisa menggangkat bahu dan bertanya kepada Riri...Ri, Si Slamet ngomong apaan sih ? roaming gue...jeh berasa di planet namec gue
Eee...itu lho Tam...opo Met bahasa indonesia ne isin ? malu opo sungkan lah intinya si Slamet Tam, karena ga enak nanti uangmu abis jelas Riri kepada Tama...Yaelah Met, ambil aja apa yang lo mau..lo ga percaya gue bawa uang lebih ? aku hanya tertawa kecil karena di dalam mulut masih ada tempe yang belum tertelan, perlahan Tama mengeluarkan sebuah dompet hitam dan memperlihatkan selembar uang kertas berwarna coklat muda dengan gambar pahlawan nasional dari aceh...Teuku Umar kan ? bukan ini Tjut Nyak Dien...kalau Teuku Umar tulisannya 5000 Rupiah tapi sekarang uang yang bergambar Teuku Umar sudah berganti gambar alat musik sasando.
Wah kok akeh tenan to uang sakumu Tam ? tanyaku dengan wajah terheran heran.Iyo kok banyak uangmu Tam ? Riri menimpali pertanyaanku...Jeh, lo pada liat uang ceban aja udah kaya liat setan gini sih...ini mah separo doang dari jatah harian gue..biasanya sehari 20rb jawab Tama..lalu Tama mulai cerita tentang kehidupannya di Bogor dan menerangkan asal usul kenapa dia bisa terdampar di sini...di kota antah berantah yang sedikitpun tidak pernah terlintas dipikirannya akan tinggal dan sekolah di sini. Ternyata di balik wajahnya yang jutek dan badannya yang gempal ditambah dengan kulitnya yang agak hitam pekat terdapat jiwa yang sedikit rapuh...sesekali Tama menyeka air matanya saat bercerita betapa tersiksanya dia hidup jauh dari orang tuanya dan di sini hanya tinggal bersama mamang nya. terlebih di sini semua tetangga dan orang di sekitarnya selalu memakai bahasa jawa dalam kesehariannya.
Kalo lo gimana Ri ? tanya Tama kepada Riri...terlihat Riri yang biasa tersenyum dan ceria mulai menampakkan sisi sebaliknya...Aku disini tinggal bersama Mbah, Bapak Ibu ku di kampung sebelah...Orang tua ku pengen aku jadi orang pinter dan sukses...makanya suka nggak suka aku harus hidup jauh dari orang tua jawab lirih Riri sambil memainkan ujung sedotan air mineral sambil sesekali menatap langit seakan tidak ingin orang lain tahu bahwa Riri yang ceria dan usil ini menitikkan air mata kesedihan.
30 menit berlalu tanpa kami sadari, kami terlalu larut dalam cerita masing-masing dan seakan kami bertiga merasakan nasib dan kehidupan yang sama..seolah olah kami memiliki keterikatan yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata...Kami pun kembali ke kelas untuk melanjutkan pelajaran hari ini.
Baiklah anak-anak...pelajaran hari ini cukup sampai di sini dahulu, besok kita lanjutkan bab berikutnya ya...jangan lupa besok PR di kumpulkan kata Bu Hani dan kami pun bersiap siap pulang ke rumah masing-masing...kami bertiga berjalan beriringan menyusuri koridor sekolah ini menuju gerbang sekolah dimana sudah tampak beberapa mobil dan motor orang tua murid yang datang menjemput murid-murid disini...lo balik naek apa Met..Ri ? tanya Tama kepadaku dan Riri, Jalan kaki jawabku hampir bersamaan dengan jawaban Riri...lah kata lo tadi jauh gila rumah lo dari sini ? nyampe rumah bisa bisa maghrib lo pada pffff....hahahaha canda Tama
Ya udah mampir ke rumah gue yuk, eh rumah mamang gue maksudnya hehehe ajak Tama sambil menarik tanganku dan tangan Riri untuk mengikutinya menuju rumah mamang-nya. 5 menit kami berjalan sambil bersendau gurau seakan akan kami sudah lama kenal dekat satu sama lain, tak terasa kami berhenti di sebuah rumah yang cukup besar dan megah...Yuk masuk sini, tunggu sini dulu...gue ke dalem bentar ucap Tama sambil berlalu masuk ke dalam rumah mewah itu.
Treng..treng...teng..teng suara khas sepeda motor yang biasa dipakai balapan liar remaja tanggung di jalan arteri, Wooy, sini naek...gue anter pulang aja lo pake motor ini teriak Tama karena suara motornya lebih nyaring daripada teriakannya...Emange kowe iso numpak motor Tam ? trus opo motor kuwi ora di pake mamangmu? jawabku sembari mendekati Tama di depan gerbang garasi. motor gini sih cemen Met, gue udah khatam masalah beginian...dah lo naek aja sih...mamang gue juga lagi pergi.. jawab santai Tama sambil memainkan gas dengan tangan kanannya...kamipun menaiki motor RX King itu bertiga..Riri ditengah dan aku hanya bisa diam pasrah di belakang.
Sebenernya aku trauma naik motor apalagi kalau ngebut, soalnya bapakku pernah jatuh dari motor saat pulang kerja. Kakinya bapak terkilir dan terluka di bagian lutut dan siku tanganya...
Sepanjang perjalanan Tama sering memainkan gas dan mulai ngebut...jalanan di sini sepi jadi mungkin Tama terlalu nyaman ngebut dan larut dalam kesenangannya, akupun hanya diam pasrah sambil berpegangan pada behel belakang...tapi tampaknya Riri tersenyum bahagia dan meminta Tama untuk menambah kecepatannya...Alon Alon wae Tam..Ri...mengko nek tibo piye..jerit dalam hatiku
Tam, didepan ada turunan agak tajam ati-ati kata Riri berusaha mengingatkan Tama bahwa di depan jalanan agak rusak dan berbatu..Tiba tiba motor oleng dan bergerak liar ke kanan dan ke kiri tanpa bisa di kendalikan oleh Tama dan Bbrrraakkk....motor terhenti setelah menabrak pagar rumah orang...kamipun jatuh terpental entah berapa meter ke sebelah kanan...Sorry Met..Ri...rem nya ga pakem...lo gapapa kan ? tanya Tama sambil menangkat motor dan membersihkan debu di badannya..Riri tampak lemas dan berusaha mengambil tas sekolahnya yg terlempar ke tengah jalan dan aku ? aku mengalami pendarahan di kepala belakang karena posisiku saat jatuh terpental sempat membentur aspal...darah segar mulai mengalir pelan membasahi seragam sekolahku...tetapi aku masih sadar dan berusaha untuk berdiri meski kemudian terjatuh lagi.
Tam..Ri...sirahku bocor...tulungi aku....
---------------------------------------------
Mas Tama...Tulungi aku....
Diubah oleh gembelsakti 04-06-2016 11:29
JabLai cOY dan pulaukapok memberi reputasi
2