- Beranda
- Stories from the Heart
Aku dan Gadis Lugu
...
TS
spv7hqfj
Aku dan Gadis Lugu
SELAMAT DATANG

Cover by Agan Yushito13
Sebelumnya ane minta maaf buat para reader kalo tulisan ane acak acakan. Ane cuma berharap para readers bisa mengambil hikmah dari cerita ane ini.
Jangan lupa baca Sticky Rules SFTH ya gan? ane males kalo harus nulis ulang,
Jangan lupa juga buat ninggalin jejak sekedar ngasih kritik dan saran,
atau nebak2 jalan cerita BANTU RATE YA GAN hehehehe.
KASIH CENDOL JUGA BOLEH

ASALKAN JANGAN ADA BATA DIANTARA KITA GAN

AND THEN, DILARANG OOT

Spoiler for Top Thread:
Spoiler for CHAPTER 1:
Spoiler for CHAPTER 2:
Quote:
Diubah oleh spv7hqfj 22-07-2016 13:16
anasabila memberi reputasi
1
251.5K
902
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
spv7hqfj
#313
Eps. 21 - Tika Vs Elissa
Malam harinya,
Elissa belum mau beranjak dari tempat tidurku. Dia sedang asik membaca Koran. Disaat perempuan seusianya senang membaca majalah wanita, dia lebih memilih membaca koran yang entah kapan dia mendapatkannya. Berkali-kali aku melihatnya sedang ‘membulak – balikan’ koran tersebut. Membaca dengan penuh keseriusan. Bola matanya bergerak dari kiri ke kanan begitu seterusnya.
“Baca apaan sih El?” tanyaku yang sekarang sedang duduk di sofa.
“…..”
“El..??” panggilku lagi.
“Hah? Eh iya bi.” Jawab Elissa.
…
“ini aku sedang membaca berita tentang konflik Timur Tengah bi.” Jawab Elissa lagi.
“Hmmm, bacanya dikamarmu aja sana El..aku mau istirahat nih.” Pintaku kesal.
“Ishhhh…inget apa janji kamu.” Jawab Elissa sambil mengedipkan sebelah matanya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa bodoh. Mengapa tadi tidak ku tunggu dia sampai lengah lalu ambil saja diam-diam? Tetapi aku malah memlih untuk mengambil keputusan yang konyol.
“Besok pagi-pagi aku harus langsung memberitahu Tika sebelum dia salah paham.” Batinku dalam hati.
Aku pejamkan mataku, tidak seperti biasanya aku sudah mulai mengantuk. Posisiku sekarang itu tiduran, kedua tangan diletakkan dibawah kepala dialih fungsikan sebagai bantal temporer.
“Tobiiiiii…” Teriak Elissa.
Ya ampunnn posisinya sekarang membuatku orang yang melihat salah sangka. Dia ada diatasku memandang wajahku dengan senyum yang menyeramkan.
“Astaga Elissaaaaaa, bisa tidak kamu sedikit lebih kewanitaan? Asal lompat aja kamu El” kataku kesal. Lagi dan lagi.
“keluar yuk cari makan?” ajak Elissa sambil menaik-naikkan kedua alisnya.
“Ahhhhh…males ah ngantuk. Kamu aja sana sendiri” kataku.
“Kalau begitu aku sebar ya?” kata Elissa mengancam.
“Hmmm iya deh iyaaaa.” Jawabku. Pasrah.
….Skip
Akhirnya kami berjalan berdua menuju sebuah tempat makan “SATE MARNO”. Yang dekat dengan SMA Teladan pasti tahu
. Rasanya tidak diragukan lagi.
Kami ssampai ditujan, makan, lalu kembali kerumah. Tidak ada yang perlu diceritakan karena selama menikmati makan aku lebih banyak diam tak berbicara mendengarkan ocehan tidak berisi dari nenek lampir sampai selesai makan. Bahkan saat Elissa sedang mengunyah makanan tersebut, dia masih sempat untuk berbicara dengan logat orang yang sedang makan besar.
…Skip
Pagi ini aku berangkat sekolah dengan Elissa lagi. Aku tidak berkutik.
Sepanjang perjalanan, murid-murid melihat kami berdua sambil berbisik-bisik ke temannya.
Sedikit ku dengar ada yang berkata,”Sssstt, sst cantiknyaaa”.
Lalu ada yang berkata lagi,”Huuhh, dasar playboy”
Ada lagi,”Gak usah kegatelan matanya” lalu PLAKKK!! Pipi pasangannya ditampar.
Aku tertawa melihat seorang siswa yang ditampar kekasihnya.
Dan sampailah aku disekolah. Ku antar Elissa sampai kelasnya. Lalu aku menuju kekelasku. Secepat mungkin aku harus beritahu Tika sebelum dia salah paham.
Sampailah ku didepan kelas.
Ku lihat Tika tiba-tiba muncul tepat didepanku, muncul dari dalam kelas.
“Hai Tika sayang, ada yang ma…..”
PLAKKKKK!!!!
Belum sempat aku selesai bicara. Pipiku sudah terkena tamparan keras dari Tika.
“Kamu jahat!” kata Tika. Ini kedua kalinya aku melihat wajah Tika yang menyeramkan.
Lalu dia pergi meninggalkanku, berjalan entah menuju kemana.
Mimpi apa aku semalam. Salah apa lagi diri ini?
Aku masuk kelas dan duduk di bangku kesayangan.
“Rasain!” Kata Fitri.
“Wkwkkwk sabar ya masbro
wanita memang selalu begitu.” Ledek Dodi.
“Tika kenapa sih Fit?” Tanyaku.
“Buaya!! Tanya sendiri sana sama Tika” Jawab Fitri.
“hmmmm”
Selang beberapa waktu, Tika pun datang dengan wajah seperti sehabis menangis. Ya memang menangis.
Dia duduk disampingku dengan wajah jutek. Aku belum berani bertanya kepada Tika, yang ku tahu itu, mengajak bicara pacar yang sedang kalut hatinya karena pasangannya, PERCUMA.
…Skip
Tanda Istirahat pertama berbunyi.
Saat semua murid sudah keluar kelas, aku masih duduk dengan Tika.
“Bi..” kata Tika.
“iya Tik, tadi mengapa kamu menampar pipiku? Aku salah apa?” tanyaku.
….diam
“Kamu sebenarnya cinta padaku atau hanya main-main?” tanya Tika dengan wajah serius.
…diam
“Aku cinta kamu Tik, aku tidak main-main” jawabku.
“Lalu, ada hubungan apa kamu dengan Elissa?” tanya Tika.
“Maksud kamu Tik?” tanyaku.
“Untuk apa kamu tadi pagi bergandengan tangan dengan Elissa saat berangkat sekolah?” tanya Tika.
ASTAGA!!
Ternyata Tika mempunyai mata-mata yang professional. Perkataan Tika memang benar, tetapi yang menggandeng bukan aku, tetapi Elissa yang melingkarkan tangannya ke tanganku.
Banyak murid yang melihat salah menafsirkan apa yang mereka lihat.
Cukup sulit aku menjelaskan kepada Tika. Tetapi akhirnya Tika percaya padaku setelah lama aku berbicara.
“Jadi, hanya karena sebuah foto? Baru kali ini kamu terlihat bodoh dimataku bi” kata Tika. Matanya masih terlihat sedih.
Belum ku membalas perkataan Tika, tiba-tiba Elissa datang sambil benyanyi kecil dan menghampiri kamu berdua.
Dia terlihat bingung melihat kami dan Tika yang terdiam saat dia datang.
“Halooooo.. kenapa pada diem sih?” kata Elissa dengan logat betawinya. (No offense,no SARA)
“…..”
Aku tidak menjawab sapaan Elissa, ku beranjak dari tempatku sambil memberi kode ke Elissa agar dia berbicara dengan Tika yang masih kalut.
Aku tinggalkan mereka berdua dikelas dan menuju ke kantin sekolah.
“Semoga cepat selesai” batinku.
Saat tiba di kantin, kulihat Dodi dan teman-teman yang lain.
“Piye?? Aman? (Bagaimana? Aman?)” tanya Dodi.
Aku tidak menjawab, hanya memberi sebuah kode bahasa tubuh yang berarti “Entahlah” lalu duduk disamping Dodi.
“Enak?” ejek Dodi.
“Enak buangeeeeetttt Di, puas?” jawabku.
“Hahahahha, maine ra rapi siiih (mainnya gak rapi sih.) “ kata Dodi.
“…….”
“sudah-sudah.. sabar aja ya masbro?” kata Dodi berusaha menghibur.
…..
Tanda istirahat pertama selesai, berbunyi.
Ku lihat dikelasku sudah tidak ada Elissa. Sedangkan Tika, sepertinya masih terlihat marah padaku.
“Tik..” kataku.
“Hmmmmm..” jawab Tika.
“Tika sayaaaang” kataku.
“Hmmmmmmmmmm…” jawab Tika.
“Hadeehhhh, kok ‘hmmm’ terus sih?” tanyaku.
“iyaaa Tobi sayaaaaaang” kata Tika tersenyum.
YES!!
Akhirnya Tika tersenyum lagi.
“Sudah tidak marah kan?”tanyaku.
“iyaaaaa aku sudah tidak marah Bi” jawab Tika. Lagi-lagi tersenyum manis
Tak lama, guru datang.
…..Skip
Waktu pulang telah tiba.
Aku berjalan bersama Tika, menuju parkiran untuk mengambil sepeda orang
(Sepeda milik Tika). Lalu ku bonceng dia, ku kayuh sepeda menuju ke rumahku karena sebelumnya Tika berkata bahwa ia diajak Elissa untuk kerumahku lagi.
Tiba di gerbang sekolah, tiba-tiba…
“STOOOOOPPPPP!!!!!” Teriak seseorang, menghadang kami berdua. Muncul tiba-tiba didepanku yang sedang mengayuh sepeda.
Ckiiiitttttt.. suara rem berbunyi.
“Yasalaaaaaaammm, Elissa! Bisa tidak rubah sedikit kelakuanmu itu?” tanyaku.
Elissa tidak menjawab pertanyaanku,
Dia lebih memilih untuk berkata,”TURUN!! Aku mau naik sepeda dengan Tika! Kamu jalan saja ya.”
Lalu, lengserlah aku dari singasana.
KAMPRETT!!
Dasar nenek lampir.
Tika hanya tertawa kecil melihat wajahku yang terlihat kesal.
Dan akhirnya, untuk kedua kalinya, aku ditinggalkan oleh mereka berdua. Nasib.
Tidak seperti biasanya, aku berjalan menuju rumahku dengan penuh rasa tidak bersemangat!
Perjalanan terasa jauh walau sebenarnya sangat dekat.
….SKIP
sampailah ku dirumah.
“Lahhhh??? Dimana sepeda Tika?”
Ku berjalan menuju kamarku. Tidak ada tanda-tanda keberadaan meraka berdua.
Ku bertanya pada Bibi,
“Bu, Elissa sudah pulang?”
“Belum tuh Den, memang ada apa?” jawab Bibi.
Eeeeeeeelisssssaaaaaaaaaa…..
Mau dibawa kemana Gadis kecilku!!
-Bersambung-
Elissa belum mau beranjak dari tempat tidurku. Dia sedang asik membaca Koran. Disaat perempuan seusianya senang membaca majalah wanita, dia lebih memilih membaca koran yang entah kapan dia mendapatkannya. Berkali-kali aku melihatnya sedang ‘membulak – balikan’ koran tersebut. Membaca dengan penuh keseriusan. Bola matanya bergerak dari kiri ke kanan begitu seterusnya.
“Baca apaan sih El?” tanyaku yang sekarang sedang duduk di sofa.
“…..”
“El..??” panggilku lagi.
“Hah? Eh iya bi.” Jawab Elissa.
…
“ini aku sedang membaca berita tentang konflik Timur Tengah bi.” Jawab Elissa lagi.
“Hmmm, bacanya dikamarmu aja sana El..aku mau istirahat nih.” Pintaku kesal.
“Ishhhh…inget apa janji kamu.” Jawab Elissa sambil mengedipkan sebelah matanya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa bodoh. Mengapa tadi tidak ku tunggu dia sampai lengah lalu ambil saja diam-diam? Tetapi aku malah memlih untuk mengambil keputusan yang konyol.
“Besok pagi-pagi aku harus langsung memberitahu Tika sebelum dia salah paham.” Batinku dalam hati.
Aku pejamkan mataku, tidak seperti biasanya aku sudah mulai mengantuk. Posisiku sekarang itu tiduran, kedua tangan diletakkan dibawah kepala dialih fungsikan sebagai bantal temporer.
“Tobiiiiii…” Teriak Elissa.
Ya ampunnn posisinya sekarang membuatku orang yang melihat salah sangka. Dia ada diatasku memandang wajahku dengan senyum yang menyeramkan.
“Astaga Elissaaaaaa, bisa tidak kamu sedikit lebih kewanitaan? Asal lompat aja kamu El” kataku kesal. Lagi dan lagi.
“keluar yuk cari makan?” ajak Elissa sambil menaik-naikkan kedua alisnya.
“Ahhhhh…males ah ngantuk. Kamu aja sana sendiri” kataku.
“Kalau begitu aku sebar ya?” kata Elissa mengancam.
“Hmmm iya deh iyaaaa.” Jawabku. Pasrah.
….Skip
Akhirnya kami berjalan berdua menuju sebuah tempat makan “SATE MARNO”. Yang dekat dengan SMA Teladan pasti tahu
. Rasanya tidak diragukan lagi.Kami ssampai ditujan, makan, lalu kembali kerumah. Tidak ada yang perlu diceritakan karena selama menikmati makan aku lebih banyak diam tak berbicara mendengarkan ocehan tidak berisi dari nenek lampir sampai selesai makan. Bahkan saat Elissa sedang mengunyah makanan tersebut, dia masih sempat untuk berbicara dengan logat orang yang sedang makan besar.
…Skip
Pagi ini aku berangkat sekolah dengan Elissa lagi. Aku tidak berkutik.
Sepanjang perjalanan, murid-murid melihat kami berdua sambil berbisik-bisik ke temannya.
Sedikit ku dengar ada yang berkata,”Sssstt, sst cantiknyaaa”.
Lalu ada yang berkata lagi,”Huuhh, dasar playboy”
Ada lagi,”Gak usah kegatelan matanya” lalu PLAKKK!! Pipi pasangannya ditampar.
Aku tertawa melihat seorang siswa yang ditampar kekasihnya.
Dan sampailah aku disekolah. Ku antar Elissa sampai kelasnya. Lalu aku menuju kekelasku. Secepat mungkin aku harus beritahu Tika sebelum dia salah paham.
Sampailah ku didepan kelas.
Ku lihat Tika tiba-tiba muncul tepat didepanku, muncul dari dalam kelas.
“Hai Tika sayang, ada yang ma…..”
PLAKKKKK!!!!
Belum sempat aku selesai bicara. Pipiku sudah terkena tamparan keras dari Tika.
“Kamu jahat!” kata Tika. Ini kedua kalinya aku melihat wajah Tika yang menyeramkan.
Lalu dia pergi meninggalkanku, berjalan entah menuju kemana.
Mimpi apa aku semalam. Salah apa lagi diri ini?
Aku masuk kelas dan duduk di bangku kesayangan.
“Rasain!” Kata Fitri.
“Wkwkkwk sabar ya masbro
wanita memang selalu begitu.” Ledek Dodi.“Tika kenapa sih Fit?” Tanyaku.
“Buaya!! Tanya sendiri sana sama Tika” Jawab Fitri.
“hmmmm”
Selang beberapa waktu, Tika pun datang dengan wajah seperti sehabis menangis. Ya memang menangis.
Dia duduk disampingku dengan wajah jutek. Aku belum berani bertanya kepada Tika, yang ku tahu itu, mengajak bicara pacar yang sedang kalut hatinya karena pasangannya, PERCUMA.
…Skip
Tanda Istirahat pertama berbunyi.
Saat semua murid sudah keluar kelas, aku masih duduk dengan Tika.
“Bi..” kata Tika.
“iya Tik, tadi mengapa kamu menampar pipiku? Aku salah apa?” tanyaku.
….diam
“Kamu sebenarnya cinta padaku atau hanya main-main?” tanya Tika dengan wajah serius.
…diam
“Aku cinta kamu Tik, aku tidak main-main” jawabku.
“Lalu, ada hubungan apa kamu dengan Elissa?” tanya Tika.
“Maksud kamu Tik?” tanyaku.
“Untuk apa kamu tadi pagi bergandengan tangan dengan Elissa saat berangkat sekolah?” tanya Tika.
ASTAGA!!
Ternyata Tika mempunyai mata-mata yang professional. Perkataan Tika memang benar, tetapi yang menggandeng bukan aku, tetapi Elissa yang melingkarkan tangannya ke tanganku.
Banyak murid yang melihat salah menafsirkan apa yang mereka lihat.
Cukup sulit aku menjelaskan kepada Tika. Tetapi akhirnya Tika percaya padaku setelah lama aku berbicara.
“Jadi, hanya karena sebuah foto? Baru kali ini kamu terlihat bodoh dimataku bi” kata Tika. Matanya masih terlihat sedih.
Belum ku membalas perkataan Tika, tiba-tiba Elissa datang sambil benyanyi kecil dan menghampiri kamu berdua.
Dia terlihat bingung melihat kami dan Tika yang terdiam saat dia datang.
“Halooooo.. kenapa pada diem sih?” kata Elissa dengan logat betawinya. (No offense,no SARA)
“…..”
Aku tidak menjawab sapaan Elissa, ku beranjak dari tempatku sambil memberi kode ke Elissa agar dia berbicara dengan Tika yang masih kalut.
Aku tinggalkan mereka berdua dikelas dan menuju ke kantin sekolah.
“Semoga cepat selesai” batinku.
Saat tiba di kantin, kulihat Dodi dan teman-teman yang lain.
“Piye?? Aman? (Bagaimana? Aman?)” tanya Dodi.
Aku tidak menjawab, hanya memberi sebuah kode bahasa tubuh yang berarti “Entahlah” lalu duduk disamping Dodi.
“Enak?” ejek Dodi.
“Enak buangeeeeetttt Di, puas?” jawabku.
“Hahahahha, maine ra rapi siiih (mainnya gak rapi sih.) “ kata Dodi.
“…….”
“sudah-sudah.. sabar aja ya masbro?” kata Dodi berusaha menghibur.
…..
Tanda istirahat pertama selesai, berbunyi.
Ku lihat dikelasku sudah tidak ada Elissa. Sedangkan Tika, sepertinya masih terlihat marah padaku.
“Tik..” kataku.
“Hmmmmm..” jawab Tika.
“Tika sayaaaang” kataku.
“Hmmmmmmmmmm…” jawab Tika.
“Hadeehhhh, kok ‘hmmm’ terus sih?” tanyaku.
“iyaaa Tobi sayaaaaaang” kata Tika tersenyum.
YES!!
Akhirnya Tika tersenyum lagi.
“Sudah tidak marah kan?”tanyaku.
“iyaaaaa aku sudah tidak marah Bi” jawab Tika. Lagi-lagi tersenyum manis

Tak lama, guru datang.
…..Skip
Waktu pulang telah tiba.
Aku berjalan bersama Tika, menuju parkiran untuk mengambil sepeda orang
(Sepeda milik Tika). Lalu ku bonceng dia, ku kayuh sepeda menuju ke rumahku karena sebelumnya Tika berkata bahwa ia diajak Elissa untuk kerumahku lagi.Tiba di gerbang sekolah, tiba-tiba…
“STOOOOOPPPPP!!!!!” Teriak seseorang, menghadang kami berdua. Muncul tiba-tiba didepanku yang sedang mengayuh sepeda.
Ckiiiitttttt.. suara rem berbunyi.
“Yasalaaaaaaammm, Elissa! Bisa tidak rubah sedikit kelakuanmu itu?” tanyaku.
Elissa tidak menjawab pertanyaanku,
Dia lebih memilih untuk berkata,”TURUN!! Aku mau naik sepeda dengan Tika! Kamu jalan saja ya.”
Lalu, lengserlah aku dari singasana.
KAMPRETT!!
Dasar nenek lampir.
Tika hanya tertawa kecil melihat wajahku yang terlihat kesal.
Dan akhirnya, untuk kedua kalinya, aku ditinggalkan oleh mereka berdua. Nasib.
Tidak seperti biasanya, aku berjalan menuju rumahku dengan penuh rasa tidak bersemangat!
Perjalanan terasa jauh walau sebenarnya sangat dekat.
….SKIP
sampailah ku dirumah.
“Lahhhh??? Dimana sepeda Tika?”
Ku berjalan menuju kamarku. Tidak ada tanda-tanda keberadaan meraka berdua.
Ku bertanya pada Bibi,
“Bu, Elissa sudah pulang?”
“Belum tuh Den, memang ada apa?” jawab Bibi.
Eeeeeeeelisssssaaaaaaaaaa…..
Mau dibawa kemana Gadis kecilku!!
-Bersambung-
JabLai cOY dan fabillillah memberi reputasi
2