- Beranda
- Stories from the Heart
Aku dan Gadis Lugu
...
TS
spv7hqfj
Aku dan Gadis Lugu
SELAMAT DATANG

Cover by Agan Yushito13
Sebelumnya ane minta maaf buat para reader kalo tulisan ane acak acakan. Ane cuma berharap para readers bisa mengambil hikmah dari cerita ane ini.
Jangan lupa baca Sticky Rules SFTH ya gan? ane males kalo harus nulis ulang,
Jangan lupa juga buat ninggalin jejak sekedar ngasih kritik dan saran,
atau nebak2 jalan cerita BANTU RATE YA GAN hehehehe.
KASIH CENDOL JUGA BOLEH

ASALKAN JANGAN ADA BATA DIANTARA KITA GAN

AND THEN, DILARANG OOT

Spoiler for Top Thread:
Spoiler for CHAPTER 1:
Spoiler for CHAPTER 2:
Quote:
Diubah oleh spv7hqfj 22-07-2016 13:16
anasabila memberi reputasi
1
251.3K
902
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
spv7hqfj
#287
Eps. 20 Pilihan
Akhirnya aku sampai di halaman rumahku.
Aku masuk,
“Buuuu, aku pulaaaaaaang” Teriakku.
“iya Deeeeeennn..” Teriak Bibi.
Samar-samar terdengar suara tawa Elissa. Mungkin sedang asik berbincang-bincang dengan Tika.
Aku sampai didepan pintu kamarku, mereka masih bercanda tawa.
Ku buka pintu kamarku.. Cekreeeeeeeeekkkk….
Tawa mereka langsung berhenti ketika melihatku datang.
“Eh….mhhh,,, Tika Tika, lanjut kesoal berikutnya.”kata Elissa. Dia terlihat kaget saat melihatku.
“mmhhh… nomor 10” kata Tika. Ku lihat Tikajuga sepertinya kaget dengan kedatanganku.
Ku lihat raut wajah masing-masing.Hmmmm, ada yang aneh, tadi tertawa terbahak-bahak tetapi sekarang seperti sedang berpura-pura belajar.
Seharusnya sekarang adalah waktunya aku berduaan dengan Tika. Tetapi ada pengacau yang datang dan merusak waktu mewahku bersama Tika.
Ku letakkan tasku dan berganti pakaian. Ku lihat mereka berdua sekarang sedang sibuk membahas sebuah buku pelajaran. Membuatku enggan untuk mengganggu mereka. Perutku terasa lapar, munkin karena tadi sewaktu istirahat aku tidak makan.
Ku berjalan menuju dapur, tempat Bibi berada.
“Den, bagaimana sekolahnya tadi?”Tanya bibi.
“yaaaahh begitulah bu seperti biasa” Jawabku sambil memeluk punggung bibiku yang sedang sibuk mencuci piring.
“Waaahhh masak sayur lodeh bu hari ini. Hmmm harum” kataku. Ku lihat meja makan sudah penuh dengan isinya.
“Iya Den, makan yang banyak”
“ Siaaaaaplah bu kalau sayurnya ini, hehe” jawabku.
Tanpa memikirnya mereka yang sedang sibuk belajar, langsung saja aku nikmati sendiri makanan ini.
“Ahhhh, kenyang” kataku.
Tak lama mereka datang,
“woy..woyy, makan kok gak ngajak-ngajak” kata Elissa.
“Hehe” aku hanya tersenyum.
“Tika, kamu kok mau sih sama orang macam Tobi? Gak perhatian sama kamu Tik, makan kok makan sendiri.” Tanya Elissa sambil mengambil piring. Berusaha mengompori Tika.
“Hehehhe maaf Tik aku lapar “ kataku malu.
“Hahahaha, iya bi tidak apa-apa” Jawab Tika tersenyum.
“Tika, sehari saja aku tidak melihatmu tersenyum, aku termasuk kedalam orang-orang yang merugi.” Batinku dalam hati.
……Skip
Akhirnya mereka selesai makan.
Tika dan Elissa melanjutkan aktivitas mereka. Aku lebih memilih mengambil sebuah Harmonika lain milikku yang ada di dalam laci meja belajarku. Aku berjalan menuju balkon kamarku. Ku duduk, ku pandangi langit dan suasana sekitar.
Lalu kumainkan sebuah nada, ‘Mozzart Violin Concerto No.3’
Sudah lama aku tidak memainkan nada ini. Setiap kali aku memainkannya, hatiku menjadi damai.
…Skip
Tak terasa waktu berlalu, entah sudah berapa lama aku memainkan Harmonikaku.
Tika ijin pamit pulang, tetapi tidak aku ijinkan jika dia pulang sendiri. Dan pada akhirnya aku yang mengantarnya.
Elissa?? Haha, dia tidak menggangu. Elissa lebih memilih untuk mengucap kata ‘hati-hati dijalan ya’ pada kami.
….Skip
Aku sudah sampai dirumahku lagi. Sekali lagi ku mendengar seseorang tertawa terbahak-bahak. Siapa lagi kalau bukan Elissa.
“Berisik El!!” kataku. Ku rebahkan tubuhku di kursi panjang yang ada dikamarku.
“Hahahaha..bodo amat ah.. wkwkwk.”Tawa Elissa.
Sedikit deskripsi tentang Elissa jika ia tertawa terbahak-bahak, Tawanya itu tidak ada manis-manisnya sama sekali.Sungguh berkebalikan dengan wajahnya yang ke ‘barat-baratan’.
“Bi…ini siapa? Hahaha,,” Tanya Elissa sambil menunjukan sebuah foto yang ada disebuah Album. Sebuah foto anak perempuan kecil, memakai baju ala Cinderella sambil ‘memonyongkan’ bibir mungilnya, terlihat lucu dan menggemaskan.
“Eh..eh..dapat dari mana kamu hah?” kataku kaget saat melihat foto tersebut. Secepat kilat ku berusaha merebut foto itu dari tangan Elissa.
Tetapi ada daya tangan tak sampai, Elissa menghindar dariku dengan melompat ketempat tidurku dan menyembunyikan foto tersebut dibalik badannya dadanya dengan posisi ‘tengkurep’.
Aku masih berusaha merebut foto tersebut, ku berusaha membalikkan badannya dan mengambil foto itu. Tetapi usahaku sia-sia.
Sekarang posisiku ada diatas Elissa yang sedang membelakangiku. Jika Tika melihat keadaan ini, aku pasti sudah di Kebiri olehnya.
“Toloooong, bibiiiii,tolooooong, Tobi jahaaaaat bi” teriak Elissa yang masih teguh dengan posisi ini.
“heh..hehhhh.. apa-apaan manggil bibi.”kataku gusar. Teriakkan Elissa membuatku salah tingkah. (Bayangkanjika ente ada diposisi ane sekarang gan)
“Biiiiiii..toloooooong jangan apa-apain aku…Huaaaaa bibiiiiii Tolong Elissa.” Teriak Elissa lagi.
Aku menyerah, menyerah sebelum terjadi hal yang tidak diiniginkan.
…
Ku beranjak dari tempatku dan duduk diatas kasur sambil bersandar ditembok.
“El,plisssss..tolong jangan beritahu siapapun soal foto itu.” Pintaku memohon.
“Hahahaha, gak mau ah, besok aku sebarin ke temen2 kamu” jawab Elissa.
“El..Plisssss, aku akan menuruti semua permintaan kamu asal foto itu jangan disebar, ya ya? Ku mohon.” Pintaku sekali lagi.
“yakin?” Tanya Elissa.
“yakin El. Jawabku
“mmmhh…apa ya?” Elissa berpikir.
Sekilat tentang foto yang aku maksud. Foto anak kecil berambut panjang dengan pakaian ala Cinderella dan ‘memonyongkan’ bibir itu adalah……….Aku. Bukan karena aku melakukan transgender, tetapi karena…
Dulu, Ayah dan Ibuku sangat ingin memiliki anak perempuan. Sebelum aku lahir, mereka sudah membeli dan mempersiapkan pakaian dan pernak-pernik untuk anak perempuan. Sampai kamarkupun dahulu penuh dengan segala macam yang berwarna PINK. Padahal mereka belum tahu pasti anak yang akan lahir itu Laki-laki atau perempuan.
Akan tetapi Tuhan berkehendak lain, orang tuaku menginginkan anak perempuan, sedangkan yang lahir malah anak laki-laki. Yaitu aku.
Fix, sampai umurku5 tahun aku, Aku terpaksa dianggap anak perempuan oleh ibuku. Dan selama itu aku selalu memakai baju anak perempuan. Aku lupa kapan foto itu dimbil.
Aku yakin 2 tahun yang lalu foto tersebut sudah aku sobek-sobek dan aku bakar. Tetapi mengapa sekarang Elissa bias mendapatkannya?? Hmmm.. aku pasti melewatkan sesuatu.
“Selama 1 bulan ini. Kamu gak boleh jauh2 dariku, sekalipun sedang bersamaTika.” Kata Elissa.
WHAT THE HELL!!!
“Ishhh..permintaan macam apa itu El, tidak-tidak. Ganti!” kataku.
“Kalau bergitu, cium aku” kata Elissa sambil menyentuh bibirnya dengan jari telunjuk.
BUSETTTTT!!!!!
“El, serius el jangan bercanda” kataku sambil memasang muka serius.
“Serius bi, kamu bias memilih. Pilihan pertama atau kedua.” Kata Elissa tak mau kalah serius.
Ya Tuhan, cobaan apa lagi yang Engkau berikan pada Hambamu ini.
Ku tarik nafas dalam-dalam. Ku tatap mata Elissa. Wajah kami sudah sangat dekat sekarang.
Elissa terlihat kaget, lalu dia memejamkan mata.
“Aku ambil pilihan nomor 1” kataku.
Elissa langsung membuka mata dan merebahkan badannya dikasur.
Dia berkata,”jantungku hampir copot, oke setuju.Satu bulan ini aku akan selalu mengikutimu kemanapun kamu pergi. Termasuk saat istirahat sekolah”
…………
Kami berdua terdiam. Aku juga malas berbicara kepadanya, Aku dendam. Tunggu pembalasanku El.
-Bersambung-
Aku masuk,
“Buuuu, aku pulaaaaaaang” Teriakku.
“iya Deeeeeennn..” Teriak Bibi.
Samar-samar terdengar suara tawa Elissa. Mungkin sedang asik berbincang-bincang dengan Tika.
Aku sampai didepan pintu kamarku, mereka masih bercanda tawa.
Ku buka pintu kamarku.. Cekreeeeeeeeekkkk….
Tawa mereka langsung berhenti ketika melihatku datang.
“Eh….mhhh,,, Tika Tika, lanjut kesoal berikutnya.”kata Elissa. Dia terlihat kaget saat melihatku.
“mmhhh… nomor 10” kata Tika. Ku lihat Tikajuga sepertinya kaget dengan kedatanganku.
Ku lihat raut wajah masing-masing.Hmmmm, ada yang aneh, tadi tertawa terbahak-bahak tetapi sekarang seperti sedang berpura-pura belajar.
Seharusnya sekarang adalah waktunya aku berduaan dengan Tika. Tetapi ada pengacau yang datang dan merusak waktu mewahku bersama Tika.
Ku letakkan tasku dan berganti pakaian. Ku lihat mereka berdua sekarang sedang sibuk membahas sebuah buku pelajaran. Membuatku enggan untuk mengganggu mereka. Perutku terasa lapar, munkin karena tadi sewaktu istirahat aku tidak makan.
Ku berjalan menuju dapur, tempat Bibi berada.
“Den, bagaimana sekolahnya tadi?”Tanya bibi.
“yaaaahh begitulah bu seperti biasa” Jawabku sambil memeluk punggung bibiku yang sedang sibuk mencuci piring.
“Waaahhh masak sayur lodeh bu hari ini. Hmmm harum” kataku. Ku lihat meja makan sudah penuh dengan isinya.
“Iya Den, makan yang banyak”
“ Siaaaaaplah bu kalau sayurnya ini, hehe” jawabku.
Tanpa memikirnya mereka yang sedang sibuk belajar, langsung saja aku nikmati sendiri makanan ini.
“Ahhhh, kenyang” kataku.
Tak lama mereka datang,
“woy..woyy, makan kok gak ngajak-ngajak” kata Elissa.
“Hehe” aku hanya tersenyum.
“Tika, kamu kok mau sih sama orang macam Tobi? Gak perhatian sama kamu Tik, makan kok makan sendiri.” Tanya Elissa sambil mengambil piring. Berusaha mengompori Tika.
“Hehehhe maaf Tik aku lapar “ kataku malu.
“Hahahaha, iya bi tidak apa-apa” Jawab Tika tersenyum.
“Tika, sehari saja aku tidak melihatmu tersenyum, aku termasuk kedalam orang-orang yang merugi.” Batinku dalam hati.
……Skip
Akhirnya mereka selesai makan.
Tika dan Elissa melanjutkan aktivitas mereka. Aku lebih memilih mengambil sebuah Harmonika lain milikku yang ada di dalam laci meja belajarku. Aku berjalan menuju balkon kamarku. Ku duduk, ku pandangi langit dan suasana sekitar.
Lalu kumainkan sebuah nada, ‘Mozzart Violin Concerto No.3’
Sudah lama aku tidak memainkan nada ini. Setiap kali aku memainkannya, hatiku menjadi damai.
…Skip
Tak terasa waktu berlalu, entah sudah berapa lama aku memainkan Harmonikaku.
Tika ijin pamit pulang, tetapi tidak aku ijinkan jika dia pulang sendiri. Dan pada akhirnya aku yang mengantarnya.
Elissa?? Haha, dia tidak menggangu. Elissa lebih memilih untuk mengucap kata ‘hati-hati dijalan ya’ pada kami.
….Skip
Aku sudah sampai dirumahku lagi. Sekali lagi ku mendengar seseorang tertawa terbahak-bahak. Siapa lagi kalau bukan Elissa.
“Berisik El!!” kataku. Ku rebahkan tubuhku di kursi panjang yang ada dikamarku.
“Hahahaha..bodo amat ah.. wkwkwk.”Tawa Elissa.
Sedikit deskripsi tentang Elissa jika ia tertawa terbahak-bahak, Tawanya itu tidak ada manis-manisnya sama sekali.Sungguh berkebalikan dengan wajahnya yang ke ‘barat-baratan’.
“Bi…ini siapa? Hahaha,,” Tanya Elissa sambil menunjukan sebuah foto yang ada disebuah Album. Sebuah foto anak perempuan kecil, memakai baju ala Cinderella sambil ‘memonyongkan’ bibir mungilnya, terlihat lucu dan menggemaskan.
“Eh..eh..dapat dari mana kamu hah?” kataku kaget saat melihat foto tersebut. Secepat kilat ku berusaha merebut foto itu dari tangan Elissa.
Tetapi ada daya tangan tak sampai, Elissa menghindar dariku dengan melompat ketempat tidurku dan menyembunyikan foto tersebut dibalik badannya dadanya dengan posisi ‘tengkurep’.
Aku masih berusaha merebut foto tersebut, ku berusaha membalikkan badannya dan mengambil foto itu. Tetapi usahaku sia-sia.
Sekarang posisiku ada diatas Elissa yang sedang membelakangiku. Jika Tika melihat keadaan ini, aku pasti sudah di Kebiri olehnya.
“Toloooong, bibiiiii,tolooooong, Tobi jahaaaaat bi” teriak Elissa yang masih teguh dengan posisi ini.
“heh..hehhhh.. apa-apaan manggil bibi.”kataku gusar. Teriakkan Elissa membuatku salah tingkah. (Bayangkanjika ente ada diposisi ane sekarang gan)
“Biiiiiii..toloooooong jangan apa-apain aku…Huaaaaa bibiiiiii Tolong Elissa.” Teriak Elissa lagi.
Aku menyerah, menyerah sebelum terjadi hal yang tidak diiniginkan.
…
Ku beranjak dari tempatku dan duduk diatas kasur sambil bersandar ditembok.
“El,plisssss..tolong jangan beritahu siapapun soal foto itu.” Pintaku memohon.
“Hahahaha, gak mau ah, besok aku sebarin ke temen2 kamu” jawab Elissa.
“El..Plisssss, aku akan menuruti semua permintaan kamu asal foto itu jangan disebar, ya ya? Ku mohon.” Pintaku sekali lagi.
“yakin?” Tanya Elissa.
“yakin El. Jawabku
“mmmhh…apa ya?” Elissa berpikir.
Sekilat tentang foto yang aku maksud. Foto anak kecil berambut panjang dengan pakaian ala Cinderella dan ‘memonyongkan’ bibir itu adalah……….Aku. Bukan karena aku melakukan transgender, tetapi karena…
Dulu, Ayah dan Ibuku sangat ingin memiliki anak perempuan. Sebelum aku lahir, mereka sudah membeli dan mempersiapkan pakaian dan pernak-pernik untuk anak perempuan. Sampai kamarkupun dahulu penuh dengan segala macam yang berwarna PINK. Padahal mereka belum tahu pasti anak yang akan lahir itu Laki-laki atau perempuan.
Akan tetapi Tuhan berkehendak lain, orang tuaku menginginkan anak perempuan, sedangkan yang lahir malah anak laki-laki. Yaitu aku.
Fix, sampai umurku5 tahun aku, Aku terpaksa dianggap anak perempuan oleh ibuku. Dan selama itu aku selalu memakai baju anak perempuan. Aku lupa kapan foto itu dimbil.
Aku yakin 2 tahun yang lalu foto tersebut sudah aku sobek-sobek dan aku bakar. Tetapi mengapa sekarang Elissa bias mendapatkannya?? Hmmm.. aku pasti melewatkan sesuatu.
“Selama 1 bulan ini. Kamu gak boleh jauh2 dariku, sekalipun sedang bersamaTika.” Kata Elissa.
WHAT THE HELL!!!
“Ishhh..permintaan macam apa itu El, tidak-tidak. Ganti!” kataku.
“Kalau bergitu, cium aku” kata Elissa sambil menyentuh bibirnya dengan jari telunjuk.
BUSETTTTT!!!!!
“El, serius el jangan bercanda” kataku sambil memasang muka serius.
“Serius bi, kamu bias memilih. Pilihan pertama atau kedua.” Kata Elissa tak mau kalah serius.
Ya Tuhan, cobaan apa lagi yang Engkau berikan pada Hambamu ini.
Ku tarik nafas dalam-dalam. Ku tatap mata Elissa. Wajah kami sudah sangat dekat sekarang.
Elissa terlihat kaget, lalu dia memejamkan mata.
“Aku ambil pilihan nomor 1” kataku.
Elissa langsung membuka mata dan merebahkan badannya dikasur.
Dia berkata,”jantungku hampir copot, oke setuju.Satu bulan ini aku akan selalu mengikutimu kemanapun kamu pergi. Termasuk saat istirahat sekolah”
…………
Kami berdua terdiam. Aku juga malas berbicara kepadanya, Aku dendam. Tunggu pembalasanku El.
-Bersambung-
moezoel dan 3 lainnya memberi reputasi
2