- Beranda
- Stories from the Heart
My Life Would Suck Without You
...
TS
AtmaneGaarA
My Life Would Suck Without You
Nama gw Langit.
Gw hanyalah seorang manusia biasa yang ga punya kelebihan ato pun
kekurangan yang sangat mencolok.
Gw ga ganteng, juga ga jelek.
Gw ga pinter, bego juga enggak.
Intinya, ada ato ga ada gw, dunia ini tetep berputar 24 jam sehari.
Apa yang spesial dari gw? Orang-orang di sekitar gw.
Tanpa mereka, hidup gw bakalan sangat membosankan.

INTRO
Chapter 01 - The Worst Day Ever
Chapter 02 - A Girl Called Shafira
Chapter 03 - The Wheel of Life
Chapter 04 - Priceless
Chapter 05 - The Upper Part of The Wheel
Chapter 06 - Say You're Sorry
Chapter 07 - The Answer is No
Chapter 08 - Worried
Chapter 09 - The Conversation
Chapter 10 - The Surprise
Chapter 11 - And The Answer is..
Chapter 12 - The Girl Next Door
Chapter 13 - The Birthday Party
Chapter 14 - Se7en
Chapter 15 - Surprise!!
Chapter 16 - The Unspoken Truth
Chapter 17 - First Kiss?
Chapter 18 - The Myth [Part 1]
Chapter 18 - The Myth [Part 2]
Chapter 19 - What is This?
Chapter 20 - Selfish
Chapter 21 - Awkward
Chapter 22 - Houston, We've Got A Problem
Chapter 23 - Under The Rain
Chapter 24 - The Choice
Chapter 25 - Denial
Chapter 26 - The Friendzone King [Part 1]
Chapter 26 - The Friendzone King [Part 2]
Chapter 27 - The You-Know-Who [Part 1]
Chapter 27 - The You-Know-Who [Part 2]
Chapter 28 - Not His Name, Please? [Part 1]
Chapter 28 - Not His Name, Please? [Part 2]
Chapter 29 - So Much for Moving On
Nama gw Shafira
Temen-temen gw biasa panggil gw Shaf, Ra, bahkan ada beberapa
yang panggil gw Sapi.
Percaya ga ama istilah "Love at First Sight"?
Gw percaya.
Dan orang yang gw suka ini bener-bener nyebelin tingkat dewa.
He really has no idea that I have a crush on him.
Ini hanyalah sebuah cerita fiksi. Jika ada kesamaan nama, tempat, dan peristiwa.. just go with it.
Diubah oleh AtmaneGaarA 17-06-2016 20:40
bukhorigan dan 5 lainnya memberi reputasi
6
186K
935
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
AtmaneGaarA
#888
Filosofi Klepon - Bagian 15
Gw kembali mengejap-ngejapkan mata gw yang kembali berair. Buset daaaaah, padahal gw udah tidur cukup lama sampe kesiangan, masih juga jam segini ngantuk di kelas. Gw menguap dan terhenti di tengah begitu dosen kuliah gw ngeliat ke arah gw pas lagi ngejelasin. Refleks, gw pun membuka mengatupkan mulut gw kayak mas koki, ntah apa yang ada di pikiran gw sampe hal kayak gini bisa jadi hal pertama yang gw lakuin saat kegep dosen lagi nguap.
Gw pun berinisiatif ke toilet cuma sekedar buat cuci muka aja, biar ngantuknya ilang. Gw kembali menguap begitu gw menelusuri lorong ke arah toilet, sampe satu suara manggil nama gw.
"Shaf!"
Gw pun berhenti dan celingak-celinguk cari sumber suara yang manggil gw ini. Gilang, lagi asik dadah-dadah kasih tau posisi dia di kantin deket situ.
"Ngapain lo?" tanya dia ga beranjak dari kursi tempat dia duduk.
"Mau ke toilet," jawab gw singkat.
"Ngapain ke toilet?" tanya dia lagi ga penting.
"Mau ngejahit baju," jawab gw asal. Dia cuma ketawa.
"Lo sini dulu laaah!"
"Gak. Ngapain juga gw kesono?" bales gw.
"Ya kalo gak gitu gw capek kali teriak-teriak gini ngobrol sama lo!" balesnya ga mau kalah.
Gw cuma ketawa pelan sambil berjalan ke arah dia.
"Gw ngantuk banget nih!" kata gw begitu dapet tempat duduk di depan dia.
"Nah, pas itu. Lo mending disini aja temenin gw ngemil-ngemil ganteng," ujarnya pede.
"Emang lo ganteng?"
"Emang ga?"
"Ya gak lah!" protes gw cepet, dia kembali ketawa sambil nyodorin gw makanan. "Apaan nih?"
"Klepon," jawabnya pendek.
"Lo bikin sendiri?"
"Ya kagak lah, gw beli di sebelah kosan, kuenya enak-enak kok, ini salah satunya," jelasnya sambil ngasih gw tusuk gigi.
"Ni tusuk gigi bekas lo pake?" tanya gw iseng.
"Ga lah," jawabnya sambil ketawa, gw pun nyengir sambil comot satu klepon pake tusuk gigi yang barusan dia pake. "Itu tadi gw pake buat ngebersihin kotoran kuku jempol kaki gw aja, tau kan gimana susahnya tuh bagian kuku samping jempol kaki?" lanjutnya.
"Bleeeeeeh," refleks gw langsung mau ngeluarin klepon yang udah masuk ke mulut gw, dia cuma ketawa.
"Becanda kali, Shaf," katanya masih ketawa, gw cuma ngeliatin dia dengan sinis. "Lagian lo percayaan amat," sambungnya.
"Bodo," bales gw pendek. Dia kembali ketawa.
"Tapi gimana, enak ga?" tanyanya.
"Enak sih," jawab gw masih ngunyah sana ngunyah sini, "tapi ini gulanya kemana ya?" tanya gw penasaran. Tawa Gilang pun meledak.
"Nah, satu yang gw lupa kasih tau lo soal klepon dari tetangga gw ini," jelasnya setelah tawanya mulai mereda dengan gw yang masih ngeliatin dia bengong tapi tetep ngunyah klepon ga kelar-kelar. "Kadang ada beberapa klepon yang ibunya suka lupa masukin gula, jadinya ya kayak yang lagi lo makan sekarang ini," lanjutnya.
"Klepon PHP," jawab gw masih ngunyah sisa klepon yang udah tinggal dikit.
"Gw lebih suka nyebut klepon ini klepon penasaran," balesnya. "Dan lo tau ga Shaf, karena pernah ketipu kayak lo gini ini gw jadi tau makna tersirat dari klepon penasaran ini," lanjutnya sok serius. "Yah bisa dibilang Filosofi Klepon lah," lanjutnya lagi makin ga jelas.
"Makan klepon aja pake filosofi segala, Lang. Ribet banget kayaknya idup lo," protes gw. Dia cuma ketawa.
"Beneran nih Shaf. Makan klepon itu udah kayak lagi jatuh cinta. Detik dimana saat gula itu meletus dan kerasa di lidah lo, kepuasannya itu sama kayak lo jatuh cinta dan cinta lo ga bertepuk sebelah tangan," jelasnya.
"Which means...klepon yang gw makan sekarang ini cuma cinta bertepuk sebelah tangan?" tanya gw.
"Kurang lebih gitu," jawabnya singkat. "tapi ada yang lebih menarik dari sekedar pemahaman cinta bertepuk sebelah tangan itu, Shaf," tambahnya lagi.
"Apa?" tanya gw penasaran.
"Ga peduli berapa kali otak lo udah kirim sinyal ke seluruh tubuh lo kalo di dalem klepon itu ga ada gulanya, lo tetep ngunyah. Lo tetep berharap suatu saat, ntah gimana caranya, gula itu bener-bener kerasa di lidah lo. Walaupun lo tau itu udah ga mungkin, tapi lo tetep ngerasa lo bakal dapet rasa manis dari gula itu, lo tetep berharap sampe kunyahan klepon terakhir, bener ga?" jelasnya panjang lebar.
Gw cuma ngeliatin dia dengan tatapan datar.
"Apa?" tanya dia heran.
"Lo kebanyakan waktu luang deh kayaknya," jawab gw.
Dia kembali ketawa.
"No, think about it," ujarnya coba ngeyakinin gw.
"I did, and it sounds stupid."
"Nih," katanya lagi sambil nyodorin piring kecil yang masih ada 3 biji klepon sisa. "Coba liat, ada tiga klepon disini. Kenapa kita masih usaha banget ngunyah klepon yang ga ada gulanya, tapi ga coba telen klepon yang lama, lupain, ambil klepon baru yang udah kebukti ada gulanya," katanya sambil nusuk salah satu dari tiga klepon yang ada di piring itu.
Cukup lama kita berdua perhatiin klepon yang dia tusuk, ga ada gula yang nembus keluar.
"Kampret, yang ini ga ada gulanya juga," gerutunya pelan, kita berdua ketawa. "Ulangi lagi," katanya sambil tusuk klepon sebelahnya, kali ini keluar gulanya.
"Nih," katanya sambil ngangkat tuh klepon deket ke muka gw. "Udah ada klepon yang terbukti bergula, kenapa ga lo ambil?"
Gw cuma diem. Dia juga ga bergerak dari posisinya masih pegang klepon di tangannya.
"Lo lagi prospekin gw yak?" tanya gw blak-blakan. Ketawanya kembali meledak, cuma kali ini ada semburat kemerahan di mukanya.
"Ya bisa dibilang gitu sih," jawabnya jujur.
"Dasar," bales gw pendek. "Ya udah ah, gw balik aja ke kelas," lanjut gw kemudian.
"Ga jadi ke toilet?"
"Kagak, gw udah cukup melek denger filosofi klepon ga jelas lo barusan," bales gw sambil beranjak dari tempat yang gw dudukin.
"Ini penting tau."
"Serah lo dah," bales gw cepet, dia cuma ketawa.
"Eh abis ini lo ada kuliah lagi ga?" tanya dia.
Gw berhenti sejenak buat nginget hari ini ada kuliah apa aja, kemudian menggeleng. "Ga ada, kenapa emang?"
"Yodah ikut gw aja gimana, ke lapangan futsal," ajaknya semangat.
"Ngapain?"
"Berburu ubur-ubur," jawabnya ngawur. "Ya futsal lah!" lanjutnya.
"Itu kan mainan cowok, ngapain juga gw ikutan futsal."
"Ya ikut aja, ngapain kek.. daripada lo di kosan ga ngapa-ngapain," balesnya.
Gw diem, mikir bentar.
"Yaudah, lo tunggu sini aja deh. Abis ini paling gw juga kelar," kata gw sambil mulai beranjak ninggalin dia.
"Berapa menit lagi?"
Gw ngeliat jam tangan di pergelangan gw. "Yaaaah," gantung gw, "70 menit lagi lah," sambung gw kemudian.
"Itu mah masih lama, pe'a!" protesnya diikutin cengiran gw.
Gw pun segera berbalik ke kelas dan ga begitu peduliin protes lanjutan dari dia.
Filosofi klepon, terdengar bodoh, tapi ga tau kenapa ada benernya apa yang udah dia bilang barusan.
bersambung..
0
