- Beranda
- Stories from the Heart
DRACOMILLIR | manusia bukanlah penguasa dari tanah yang mereka injak
...
TS
fightforjustice
DRACOMILLIR | manusia bukanlah penguasa dari tanah yang mereka injak

Quote:
Hai agan yg ganteng & aganwati yang kece2 semuanyee, ane disini hanya semata-mata berniat berbagi sebuah fantasi yang ada di kepala ane. Jadi, Cerita di threat ini sudah barang tentu 100000% fiksi.

pengen baca Fiksi Fantasy buatan lokal?

Semoga threat ini menjawab kehausan agan

Komentar, Kritik dan Saran sangat berarti
Happy reading~!
Note: Update tiap chapter seminggu sekali.
INDEX:
Quote:
CHAPTER 0 PROLOG
CHAPTER 1 Matahari Terbit di Lukaru
CHAPTER 2 Legiun Pemburu Naga
CHAPTER 3 Janji & Harapan
CHAPTER 4 Bukit Nabia
CHAPTER 5 Manusia yang Mengerikan
CHAPTER 6 Sebuah Ingatan
CHAPTER 7 Sejarah yang Tertulis
CHAPTER 8 Cahaya di Lorong Gelap
CHAPTER 9 Pergerakan Besar
CHAPTER 10 Arghaleim Dalam Kabut Hitam
CHAPTER 11 Kaum Har
CHAPTER 12 Sang Bencana
CHAPTER 13 Perpecahan
CHAPTER 14 Yenya dan Adaril
-bersambung-
Spoiler for PROLOG:
Quote:
Semburan itu menciptakan sebuah kobaran api besar yang menyala membumbung tinggi memecah langit. Pohon-pohon tinggi disekitar kami satu per satu tumbang terhempas oleh amukan seekor naga yang sangat besar. Beberapa tubuh manusia yang hangus terbakar tergeletak di tanah terguyur oleh hujan abu yang diiringi dengan percikan api dari pohon-pohon yang perlahan habis terbakar.
Dorlan sang pemimpin kelompok kami, memimpin seluruh pasukan yang tersisa termasuk diriku untuk maju mendekat kearah naga itu. "Tembak..!" Dorlan menginstruksikan kami untuk menembakan harpoon (tombak panjang yang ditembakkan dengan senapan) disertai rantai pengikat kearah naga yang semakin mengamuk itu. Ibukota menugaskan kelompok kami untuk memburu seekor naga raksasa yang telah menghancurkan banyak desa di wilayah utara. Tak kusangka kami bisa menemukannya secepat ini.
Saat itu merupakan malam yang panjang bagi para pemburu naga. Kami berhasil membunuh naga itu setelah setengah mati berusaha memburunya, tetapi kami harus membayar mahal dengan kehilangan hampir setengah dari anggota kelompok. Malam hari setelah perburuan itu, kami beristirahat dengan membuat perkemahan di lereng gunung Aldeir setelah sebelumnya mengubur mayat-mayat anggota kelompok kami yang tewas.
Aku berbaring di samping perapian, dan melihat kearah langit sambil menikmati embus angin malam yang tersisa sebelum fajar muncul. Saat itu, aku teringat beberapa waktu lalu sebelum aku menjadi seorang pemburu naga. Dan alasan mengapa aku berada di tempat ini.
Dorlan sang pemimpin kelompok kami, memimpin seluruh pasukan yang tersisa termasuk diriku untuk maju mendekat kearah naga itu. "Tembak..!" Dorlan menginstruksikan kami untuk menembakan harpoon (tombak panjang yang ditembakkan dengan senapan) disertai rantai pengikat kearah naga yang semakin mengamuk itu. Ibukota menugaskan kelompok kami untuk memburu seekor naga raksasa yang telah menghancurkan banyak desa di wilayah utara. Tak kusangka kami bisa menemukannya secepat ini.
Saat itu merupakan malam yang panjang bagi para pemburu naga. Kami berhasil membunuh naga itu setelah setengah mati berusaha memburunya, tetapi kami harus membayar mahal dengan kehilangan hampir setengah dari anggota kelompok. Malam hari setelah perburuan itu, kami beristirahat dengan membuat perkemahan di lereng gunung Aldeir setelah sebelumnya mengubur mayat-mayat anggota kelompok kami yang tewas.
Aku berbaring di samping perapian, dan melihat kearah langit sambil menikmati embus angin malam yang tersisa sebelum fajar muncul. Saat itu, aku teringat beberapa waktu lalu sebelum aku menjadi seorang pemburu naga. Dan alasan mengapa aku berada di tempat ini.
Diubah oleh fightforjustice 10-06-2016 06:48
anasabila memberi reputasi
1
10.2K
Kutip
86
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
fightforjustice
#61
CHAPTER 12 : SANG BENCANA
Spoiler for "chap 12":
Quote:

Apa yang dimaksud dengan orang-orang yang terusir? Apa maksud perkataan dari kaum Har? Apakah aku melewatkan sesuatu saat mendengarkan sejarah-sejarah manusia yang diceritakan oleh tetua desa? Kurasa tidak. Sementara kami berjalan kembali menanjaki gunung Aldeir, pertanyaan-pertanyaan itu masih saja terngiang di kepala.
Bayi manusia yang kami temukan, merupakan bayi yang di bawa oleh kaum Har. Sejak dahulu tak pernah terpikirkan sedikitpun bahwa kaum Har adalah manusia seperti kami. Namun sepertinya bagi Dorlan, hal itu sangat masuk akal dengan adanya bayi itu. Lalu bagaimana denganku? Entahlah, bagiku orang-orang kaum Har itu sama sekali tidak tampak seperti manusia.
Goran bersedia untuk membawa bayi dalam kotak itu, sedangkan komandan Dorlan kemudian berjalan di barisan depan bersama orang-orang dari Divisi Jelajah. Ia terus memimpin pergerakan kelompok ini dan sesekali memastikan arah-arah yang akan ditempuh.
Hari telah menjelang petang, matahari mulai turun, tampak lelah bersandar dibalik celah diantara bukit-bukit. Kaki ini menginjak tanah dan bebatuan, menyusuri jalan-jalan setapak yang semakin menanjakan tanah-tanahnya ke langit. Semakin curam jalan-jalan dilalui, hingga terkadang tangan ini perlu memegang tebing maupun bebatuan agar tak terperosok kembali ke bawah.
Burung Haukkin, burung berbulu panjang dengan warna kebiruan milik orang-orang Divisi Jelajah juga membantu kami untuk mencari arah dimana Garakhi berada. Tampak beberapa dari orang-orang divisi jelajah membawa sangkar-sangkar kecil di punggungnya. Mereka disebut Dor Uluros, atau penjelajah langit. Menggunakan Burung Haukkin sebagai penunjuk arah, bagaikan mata mereka yang berjalan di langit.
Tiba di puncak tebing, kami melihat burung-burung Haukkin itu terbang diatas sebuah gua batu yang besar diantara semak dan akar-akar yang merambat disekelilingnya. Burung-burung Haukkin tampak terbang diatas mengitari gua itu.
Gua yang berada di atas tebing-tebing tinggi itu cukup besar. Mulut gua menganga lebar dengan stalaktit-stalaktit yang terlihat dari luar menggantung di langit-langit gua.
"Baiklah, akhirnya ... setelah semua yang kita lewati, tujuan kita ada di depan mata kita," ujar Dorlan.
Maka dengan arahan dari Dorlan kami mulai memasuki mulut gua secara beriringan. Dorlan mengganti barisan depan yang semula diisi oleh orang-orang Divisi Penjelajah, kemudian digantikan oleh Divisi Pengejar Utama yang telah siap dengan senjata-senjata mereka. Divisi Pasukan Pengintai bersama dengan Dorlan berada pada barisan kedua, diikuti oleh Divisi Penjelajah yang bertukar posisi di barisan ketiga, kemudian Divisi Kavaleri, Peralatan & Teknis serta Artileri berada di barisan belakang.
Bercahayakan api dari suluh yang kami bawa, kami mulai menembus gua semakin dalam. Semakin dalam kami memasuki gua itu, semakin panas udara yang terasa. Bebatuan didalam gua yang semula berwarna cokelat kehitaman perlahan menjadi semakin memerah tatkala kami semakin masuk kedalamnya. Pikirku, mungkin saja gua ini menuju ke dalam perut gunung Aldeir. Mungkin pula api-api dari gunung Aldeir telah menunggu kami diujung gua ini. Atau api-api dari Garakhi lah yang menciptakan hawa panas ini.
"Cahaya!" Earl menunjuk pada seberkas cahaya diujung gua.
Tampak terang kemerahan cahaya itu. Maka kami datangilah secepatnya cahaya itu, semakin mendekat, semakin panas hingga rasanya seperti ingin melepas seluruh pakaian-pakaian yang melekat di badan. Dan benar saja, ternyata firasatku benar-benar terbukti. Sebuah kolam magma yang besar ada didepan kami. Tampaknya kami memang berada di dalam perut gunung Aldeir. Panasnya seperti hendak membakar wajahku, jangankan mendekat ke tepian kolam magma itu, berada jauh dari tempat itu saja sudah terasa sangat panas.
"Bagaimana kita melewati tempat ini? Hanya ada batu-batu yang mengambang di atas magma,"pikirku.
Kami memikirkan langkah selanjutnya yang akan ditempuh, hingga kemudian entah dari mana asalnya, seseorang dengan suara berat nan parau terdengar jelas layaknya berbicara lantang kepada kami.
"Ah, manusia ... kalian tidak memiliki sopan santun sama sekali,"
"Jika rumah kalian dimasuki oleh sekumpulan orang yang membawa senjata tanpa meminta izin, apa yang akan kalian lakukan?" demikian kata-kata itu muncul dari sumber yang tak kuketahui sama sekali.
Saat orang-orang sibuk mencari asal suara itu, seketika itu juga tampak sosok besar dari dalam kolam magma. Terlihat sisik-sisik yang merah menyala seperti bara api, kemudian mengeluarkan asap-asap putih dan tubuh yang demikian besarnya muncul hingga memenuhi hampir seluruh kolam magma itu.
"Jika itu adalah rumahku, maka aku tidak akan segan membakar mereka hingga tubuh-tubuh mereka yang mungil itu menjadi abu," ujar sesosok makhluk besar yang bersemayam didalam kolam magma itu.
Dari badannya masih tampak magma mengalir diantara sisik-sisiknya, bagaikan air yang mengalir di tubuh sesaat setelah keluar dari kolam pemandian. Suara parau itu muncul dari mulutnya yang tampak menyeringai dihiasi taring-taring tajam yang besar. Ia menatap kami sangat tajam dengan kedua matanya yang terlihat menyeramkan. Aku melihat seekor naga besar yang dapat berbicara ... dunia ini benar-benar lebih mengerikan dari yang kukira.
"Garakhi!" Qarqar berseru seraya membidikkan Drakelock yang telah terisi penuh peluru.
"Bersiap untuk bertempur!!!" sambung Dorlan.
Naga itu tampak amat santai menghadapi senjata-senjata yang telah diarahkan kepadanya. Kemudian diangkatlah seluruh tubuhnya keluar dari kolam magma itu, maka terlihatlah sepasang sayap yang besar muncul dari dalam kolam, ekor yang penuh duri, dan kuku-kuku tajam yang kemudian dijejakkan di tepi kolam.
"Garakhi? Kalian menyebutku dengan nama Garakhi? Hahahaha," naga itu berbicara diiringi dengan gema tawa yang amat menyeramkan.
"Apa artinya? penyembur api? naga menakutkan? pembawa kematian?" sambungnya.
"Bencana," jawab Dorlan.
Sesaat setelah mendengar jawaban dari Dorlan, naga itu hanya tertawa keras hingga bergema ke seluruh ruang-ruang gua.
"Hahahahaha ... kalian manusia-manusia tengik! Bahkan di zaman dahulu aku memiliki sebutan yang lebih mengerikan daripada itu," ujarnya.
"Jadi, ada apa gerangan manusia mendatangi tempat ini ... Ingin merasakan api milik sang bencana?" sambungnya seraya menampakan nafas api nya yang muncul dari lubang hidungnya.
"Pembalasan."
"Pembalasan atas apa yang telah kau lakukan pada desa-desa di utara, dan juga menghindari hal itu agar tak terjadi di kemudian hari," jawab Dorlan yang kemudian menunjukan Navaknya kearah Garakhi.
"KAU MENGANCAMKU!!??" jawab Garakhi dengan nada tinggi, tampak seketika muncul amarahnya setelah mendengar ancaman dari Dorlan.
"Baiklah, manusia ... kalian telah memasuki tempat ini, maka akan kulumat habis hingga tulang-tulang terakhir yang tersisa dari kalian," sambungnya.
Kemudian tampak api menjilat-jilat dari celah-celah mulutnya. Tak lama hingga akhirnya tersemburlah gumpalan api dari mulut Garakhi. Sangat cepat hingga beberapa orang yang tak sempat untuk menghindarinya, saat itu juga terlumat habis hingga tersisa tulang-belulang yang tampak terbakar hingga menghitam.
"Awas!" ujar Qarqar memperingatkan beberapa pemburu yang saat itu terlanjur berada sangat dekat dengan Garakhi.
Kembali Garakhi menyemburkan api nya, tentu saja kami semua setengah mati berusaha menghindar dari jilatan api-api yang sangat panas itu. Kemudian para pemburu dari Divisi Pengejar Utama mulai melancarkan serangan-serangan pembuka dengan melontarkan Harpoon.
Dari 5 tembakan Harpoon yang dilepaskan, sebuah Harpoon berhasil menembus sisik-sisik keras dan menancap tepat di kakinya, melihat hal itu barisan terdepan mulai maju untuk menyerang. Namun hawa panas didalam gua ini sangatlah berpengaruh. Akibatnya pemburu yang melakukan serangan pembuka itu tampak kelelahan dengan sangat cepat.
"Goran, Habdal ... bawa bayi itu keluar dari gua, kemudian siapkan sebuah jebakan jaring untuk Garakhi," ujar Dorlan.
"Qarqar, kau dan Divisi Pasukan Pengintai lainnya, pancing Garakhi keluar dari gua ini ... Kita tidak bisa melawannya di tempat seperti ini."
Perintah Dorlan itu kemudian ditanggapi dengan secepat mungkin. Goran dan Habdal segera berlari keluar gua. Kemudian barisan di ubah, formasi-formasi dibentuk, sementara Divisi lain yang dipimpin oleh Dorlan juga bergerak keluar gua dan mempersiapkan serangan. Divisi Pasukan Pengintai dan sebagian pemburu dari Divisi Pengejar Utama kemudian mencari cara untuk memancing Garakhi keluar dari gua ini.
"Simpan Navak kalian, itu tidak berguna disini. Siapkan Drakelock ataupun Labowe kalian masing-masing. Bidik dan serang bergantian, sementara kalian bergerak keluar dari gua ini," ujar Qarqar kepada pemburu-pemburu Divisi Pengejar Utama.
"Earl, Sastra, begitu Garakhi sampai di mulut gua, tembakkan Harpoon di bagian belakang kakinya. Di bagian itu sisik-sisiknya tidak sekuat bagian lain, Harpoon bisa menembus bagian itu."
"Baiklah, tembak sekarang!" perintah Qarqar yang kemudian disambut dengan serangan-serangan Drakelock dan Labowe yang diarahkan ke naga itu.
Rentetan tembakan maupun anak panah Labowe kemudian dilepaskan, beriringan dengan seluruh pemburu yang bergerak mundur menuju luar gua. Sepertinya memang cukup berhasil tatkala Garakhi terpancing untuk mengejar mereka yang menembakinya.
Sementara aku dan Earl menuju mulut gua melewati lorong-lorong gua yang lebih kecil, kami berlari sekencang mungkin hingga keluar dari gua itu. Tepat diluar mulut gua kami bersiap dengan senapan Harpoon kami, sementara divisi lain yang dipimpin Dorlan telah berada di luar gua menyiapkan senjata-senjata mereka disertai sebuah jebakan jaring raksasa yang telah dibentangkan di luar gua.
Tampak dari luar, mulut gua yang gelap itu terkadang muncul cahaya kuning kemerahan. Lalu cahaya yang muncul semakin terang, maka saat itu diperkirakan Garakhi telah terpancing hingga mendekati mulut gua. Tak berapa lama, Qarqar dengan pemburu lain yang memancing Garakhi muncul berhamburan keluar gua.
Kemudian terdengarlah auman mengerikan, auman itu menggetarkan tanah dan amat Cumiakan telinga. Saat itu juga munculah Garakhi, sesaat keluar dari gua itu sayapnya kemudian dibentangkan amat lebar, seketika itu juga melesatlah Garakhi kearah kami. Jaring yang dipersiapkan ternyata tak dapat berbuat banyak. Dengan mudahnya Garakhi menembus dan menghancurkan jaring itu.
"Aku akan membakar kalian semua!" ujar Garakhi seraya terbang tinggi keatas langit.
Maka setelah itu tersemburlah api bagaikan hujan api yang turun dari langit, membakar apapun yang dilewatinya. Panas dari api itu melebihi api yang biasanya kami temui, sehingga apapun yang terbakar akan terlumat habis oleh api itu dengan sangat cepat. Sementara kami berusaha menghindari hujan api dan mencari tempat untuk berlindung.
Api yang bagaikan memiliki nyawa untuk bergerak dan membinasakan seluruh yang dilaluinya tanpa ampun.
Tidak ada yang bisa kami lakukan saat naga itu terbang selain mencoba menjatuhkannya dengan tembakan-tembakan Drakelock, maupun Harpoon. Sementara itu Garakhi tanpa ampun menghujani kami dengan api-api dari mulutnya.
Semburan itu menciptakan sebuah kobaran api besar yang menyala membumbung tinggi memecah langit. Pohon-pohon tinggi disekitar kami satu per satu tumbang terhempas oleh amukan Garakhi. Beberapa tubuh manusia yang hangus terbakar tergeletak di tanah terguyur oleh hujan abu yang diiringi dengan percikan api dari pohon-pohon yang perlahan habis terbakar.
Dorlan kemudian memimpin seluruh pasukan yang tersisa termasuk diriku untuk maju mendekat kearah naga itu.
"Tembak!" Dorlan menginstruksikan kami untuk menembakkan kembali Harpoon dengan rantai-rantai pengikat yang tersisa.
Salah satu diantara Harpoon lain melesat dan tepat menancap di bawah leher Garakhi. Saat itu juga rantai itu ditarik bersamaan oleh banyak orang sehingga Garakhi yang saat itu terbang mengitari kami, jatuh tersungkur ke tanah.
Keberanian kami memuncak tatkala melihat Garakhi, sang naga yang amat ditakuti sejak zaman dahulu itu tersungkur jatuh. Para pemburu kemudian maju dengan senjata-senjata terhunus berniat untuk mengakhiri perburuan ini.
Namun tidak mudah nyatanya untuk membunuh naga ini. Saat beberapa pemburu maju dipimpin oleh Dorlan melancarkan sebuah serangan untuk melumpuhkannya, Garakhi dengan cepatnya bangkit dan mengayunkan cakar-cakarnya, menampakkan taring-taringnya dan bergumul dengan para pemburu bagaikan serigala yang mencabik-cabik mangsanya.
Seketika itu juga, barisan para pemburu yang nekat menyerang Garakhi porak-poranda. Dorlan tampak sangat kewalahan menghadapi naga yang besarnya puluhan kali lipat dari tubuhnya. Maka tampak kemudian Dorlan terhempas jauh akibat terkena kibasan ekor Garakhi. Tubuhnya menghantam pohon dan tersungkur di tanah, namun saat itu Dorlan masih sanggup berdiri dan mengatur kembali serangan-serangan yang dilakukan oleh para pemburu.
Kembali ditembakkan beberapa Harpoon yang menghujam tepat di kaki-kaki Garakhi. Setelah terhenti gerakannya, kemudian kami berusaha melumpuhkannya dan berhasil. Rantai-rantai pada Harpoon kemudian ditarik, sehingga Garakhi tak mampu banyak bergerak. Saat itu moril kami meningkat dan api semangat di dalam diri kami berkobar-kobar. Seluruh pemburu kemudian maju kembali dari barisan-barisan mereka, menyerang Garakhi tanpa ampun.
Entah bagaimana, saat itu diriku sangat ingin membunuhnya. Naga ini, dia telah menyerang desaku dan menghancurkannya, itulah yang kemudian mendorongku untuk terus menghujamkan senjataku kearah Garakhi yang sudah tampak tak berdaya menerima serangan-serangan kami.
"Berhenti! Berhenti!" perintah Dorlan mencoba menghentikan serangan kami yang tampak membabi-buta.
Tampak Garakhi yang begitu menakutkan itu kini tersungkur lemas, banyak dari sisik-sisiknya tanggal, darah panas bagai air mendidih yang berwarna hitam, mengucur dari tubuhnya. Kami semua berdiri mengelilinginya menunggu perintah untuk melancarkan serangan terakhir.
"Kalian tidak akan mengerti, mengapa naga-naga akan terus menghabisi kalian semua," tiba-tiba Garakhi berbicara kepada kami dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Kalian pikir, Kesslein Grimar lah penguasa tanah suci ini? Hahahaha."
"Dia hanyalah salah satu dari naga-naga pertama yang telah diberi anugerah kekuatan dan kecerdasan oleh Yahku. Sama halnya denganku," sambungnya.
Tak satupun dari kami membalas perkataan Garakhi saat itu. Kami hanya mendengarkannya, setiap kata-kata yang diucapkannya. Saat itu kami mendengarkan hal-hal yang tak pernah kami dengar sebelumnya dari seekor naga.
"Kalian telah terusir dari tanah suci ini sejak ribuan tahun lalu, tapi kalian berani menginjakkan kaki-kaki kalian kembali ke tanah ini dan membangun istana-istana kalian."
"Namun Yahku saat itu masih memberikan kalian kesempatan, padahal saat itu pula kemurkaannya hampir tak terbendung setelah kalian membunuh salah satu ciptaan terbaiknya, Kesslein Grimar."
"Tapi apa yang kalian lakukan selama ini, memburu naga-naga, menebang pohon-pohon untuk membangun benteng-benteng kalian, membakar hutan-hutan dan dijadikannya istana-istana kalian, semua kehancuran yang kalian perbuat di tanah suci ini sudah tak bisa dimaafkan."
"Itulah mengapa saat ini, atas izin Yahku, kami para naga telah bersumpah akan kembali mengusir kalian dari tanah suci ini," demikianlah kata-kata yang diucapkan oleh Garakhi.
"Yahku ... tanah suci ... ribuan tahun lalu ..., sepertinya kau mengetahui banyak hal di masa lampau yang tak kami ketahui," jawab Dorlan.
"Siapa Yahku ini? jika dia memang penguasa Tanah Kesslein ini, mengapa dia mengizinkanmu untuk menyerang orang-orang tak berdosa di utara, membakar rumah-rumah mereka, menghancurkan tanah kelahiran mereka?" sambung Dorlan yang kemudian mencoba mencari tahu alasan di balik naga-naga yang mulai menyerang pemukiman manusia.
"Kalian orang-orang terusir ..., akan mengetahuinya segera setelah murka Yahku datang kepada kalian," jawab Garakhi.
Tampak mulutnya terbuka lebar, kemudian nyala api muncul dari mulutnya.
"Jika aku mati, begitu juga dengan kalian!" Serunya lantang.
Api-api pun mulai menggumpal, mulutnya semakin membuka lebar. Tampaknya dengan sisa-sisa kekuatannya Garakhi mencoba untuk menghabisi kami dengan semburan apinya. Seluruh pemburu yang telah terlanjur berada didekatnya, termasuk diriku, Earl beserta Qarqar kemudian bergegas menjauh berlari kearah pohon-pohon besar dan berlindung dibaliknya.
Dibalik pohon-pohon, para pemburu menyiapkan Drakelock dengan amunisi yang tersisa dari mereka. Tampak Dorlan memandang Qarqar, lalu menggerakan jarinya mengarah ke Garakhi yang telah mengumpulkan seluruh api di mulutnya. Maka Qarqar mengangguk, kemudian membidikkan Drakelock ke mulut Garakhi yang telah terbuka lebar.
Lalu tembakan dilepaskan, diikuti seluruh pemburu lain yang menembakan Drakelock mereka. Maka puluhan peluru menembus api-api yang ada di mulutnya, kemudian bersarang tenggorokannya. Padamlah api yang belum sempat disemburkan itu, ambruklah tubuh Garakhi setelah terkena tembakan-tembakan yang menyarangkan puluhan proyektil tepat di tenggorokannya.
Kami masih berada di balik pohon-pohon besar, sementara Dorlan kemudian berjalan kearah tubuh Garakhi yang telah tergeletak di tanah.
"Kau adalah naga yang ditakuti oleh orang-orang sejak dahulu. Kehebatanmu tertulis dalam syair-syair maupun hikayat-hikayat kuno. Suatu kebanggaan bagi manusia, bisa mengalahkan naga hebat sepertimu," ujar Dorlan yang berdiri tepat di depan kepala Garakhi yang sudah tergeletak lemah.
"Bunuh aku, manusia ..." jawab Garakhi dengan lirih.
Pada akhirnya dihujamkanlah Navak tepat di kepalanya, menembus kulitnya yang amat keras. maka saat itu telah dilakukan serangan terakhir untuk membunuh Garakhi. Hari itu selesailah sebuah perburuan panjang dan melelahkan yang telah mengorbankan banyak nyawa dari para pemburu.
Malam telah larut saat kami turun menuju kaki gunung Aldeir, malam yang panjang setelah perburuan kami berakhir. Setelah sampai kembali di lereng gunung Aldeir, kami kemudian beristirahat di perkemahan setelah sebelumnya mengubur mayat-mayat anggota kelompok kami yang tewas.
"Malam yang hening ..." sesosok pria tiba-tiba saja berbicara di sampingku yang sedang berbaring melepas lelah di dekat perapian.
"Ah, kau ..., Goran," ujarku yang mengenalinya.
"Sastra, kau tahu ..., membawa bayi seperti ini sangat sulit, saat perburuan tadi aku hanya berusaha mencari tempat aman yang jauh dari pertempuran. Sialnya aku tidak bisa bertempur bersama kalian," ujarnya sambil membawa dan menunjukan bayi itu.
"Kau telah berjuang dengan keras juga Goran ..., bukankah saat itu Dorlan tampak senang begitu melihat kau selamat?"
"Yah ... nampaknya sebagai anggota Divisi Jelajah sepertiku, tak perlu ikut andil besar dalam pertempuran haha."
"Lihatlah bayi ini. Tadi aku memberinya susu dari perbekalan," sambungnya.
Kami berbincang-bincang malam itu, sembari melepas lelah dan akan beristirahat hingga fajar tiba. Saat itu aku berbaring di samping perapian, dan melihat kearah langit sambil menikmati embus angin malam yang tersisa sebelum fajar muncul. Mengingat kembali saat-saat dimana diriku masih menjadi seorang anak yang memiliki kehidupan normal. Namun sekarang, aku adalah anggota legiun pemburu naga yang telah menyelesaikan sebuah misi perburuan besar.
Ditengah heningnya malam itu kemudian terdengar suatu keributan dari arah tenda milik komandan Dorlan.
"Sastra!" Tiba-tiba Earl datang berlari menghampiriku dengan nafas terengah-engah.
"Sastra, ini benar-benar gawat."
"Ada apa?" jawabku.
"Komandan ..."
"Dia meninggal, ada yang membunuhnya!"
Diubah oleh fightforjustice 10-06-2016 15:54
0
Kutip
Balas