- Beranda
- Stories from the Heart
( TAMAT ) AKU, KAMU, DAN LEMON : BUKU HARIAN AIRIN
...
TS
beavermoon
( TAMAT ) AKU, KAMU, DAN LEMON : BUKU HARIAN AIRIN
Selamat datang di BeaverMoon Land
Sudah lama tak berjumpa dengan halaman ini dan biasanya cuma liat info-info HT doang.
Dan pada akhirnya ane kembali dengan membawa kisah yang ngga terlalu bagus

Spoiler for Tanya Jawab:
Q : Bang bakalan panen kentang lagi ngga?"
A : Kayaknya ngga, soalnya thread ini cuma 15 episode pendek
Q : Kok cuma 15 Bang?
A : Ya emang segitu adanya dan ngga ada yang ditambah-tambahin
Q : Update tiap hari kan?"
A : Sayangnya ngga tiap hari. Berhubung cuma 15 episode dan ane lagi lumayan sibuk jadi updatenya seminggu sekali (biasanya weekend)
Q : Ini cerita tentang apa Bang?
A : Ini adalah prekuel dari AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Bang, prekuel apa sih?
A : Ini cerita sebelum adanya AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Jadi saya harus baca AKU, KAMU, DAN LEMON dulu dong bang?
A : Sebaiknya seperti itu, tapi kalo mau ini duluan juga nggapapa
Q : Bang, Nanda apa kabar?
A : -_- pertanyaan yang pasti ane jarang jawab
A : Kayaknya ngga, soalnya thread ini cuma 15 episode pendek
Q : Kok cuma 15 Bang?
A : Ya emang segitu adanya dan ngga ada yang ditambah-tambahin
Q : Update tiap hari kan?"
A : Sayangnya ngga tiap hari. Berhubung cuma 15 episode dan ane lagi lumayan sibuk jadi updatenya seminggu sekali (biasanya weekend)

Q : Ini cerita tentang apa Bang?
A : Ini adalah prekuel dari AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Bang, prekuel apa sih?
A : Ini cerita sebelum adanya AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Jadi saya harus baca AKU, KAMU, DAN LEMON dulu dong bang?
A : Sebaiknya seperti itu, tapi kalo mau ini duluan juga nggapapa
Q : Bang, Nanda apa kabar?
A : -_- pertanyaan yang pasti ane jarang jawab
Jadi buat agan dan aganwati sekalian yang mau mengikuti thread ini seharusnya baca AKU, KAMU, DAN LEMONterlebih dahulu. Cuma kalo mau baca ini dulu ya nggapapa ngga ada larangannya

Selamat membaca

Spoiler for INDEX:
Episode 1
Episode 2
Episode 3
Episode 4
Episode 5
Episode 6
Episode 7a
Episode 7b
Episode 8a
Episode 8b
Episode 9a
Episode 9b
Episode 10
Episode 11a
Episode 11b
Episode 12
Episode 13a
Episode 13b
Episode 14a
Episode 14b
Episode 15
Episode 15 + 1 (Finale)
Bad News Lemon
Behind The Story (part 1)
Behind The Story (part 2)
Behind The Story (part 3 / finale)
Pemberitahuan
Episode 2
Episode 3
Episode 4
Episode 5
Episode 6
Episode 7a
Episode 7b
Episode 8a
Episode 8b
Episode 9a
Episode 9b
Episode 10
Episode 11a
Episode 11b
Episode 12
Episode 13a
Episode 13b
Episode 14a
Episode 14b
Episode 15
Episode 15 + 1 (Finale)
Bad News Lemon
Behind The Story (part 1)
Behind The Story (part 2)
Behind The Story (part 3 / finale)
Pemberitahuan
Diubah oleh beavermoon 28-01-2020 19:37
i4munited dan 13 lainnya memberi reputasi
14
77.6K
Kutip
417
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#120
Spoiler for Episode 11a:
Malam sudah datang, aku sedang berada di balkon kamarku beserta dengan kesunyian. Kembali sangat kontras dengan keadaan yang ada di dalam kamar dimana suara bising sudah beradu, Nanda dan juga Reza saling memacu kecepatan motor mereka untuk meraih piala pada seri terakhir balapan itu.
Aku kembali masuk ke dalam kamar dan membuka laci mejaku, kuambil kembali buku harian itu. Entah kenapa aku keluar dari kamarku menuju lantai bawah dan berhenti di pinggiran kolam berenang. Aku duduk dengan santainya dengan sebatang rokok yang sudah menyala di tangan kananku.
“Bentar lagi udah mau abis nih cerita...” Kataku seorang diri
Aku melihat buku ini sekali lagi dan benar saja, antara jeda bacaan dengan akhir buku ini hanya tersisa beberapa lembar lagi dan sebentar lagi buku ini akan habis kubaca. Aku kembali mengingat bagaimana saat-saat pertama aku menemukan buku misterius ini, entah mengapa tiba-tiba saja bisa tiba di rumahku dengan misterinya yang mengatas namakan dirku dengan benar.
“Kebetulan atau emang ini udah direncanain?” Tanyaku seorang diri
Aku masih saja melihat buku ini lagi dan belum memulai untuk membacanya lagi. Kupandangi langit nampak cerah dengan cahaya-cahaya bintang nan mengindahkan, angin semilir datang dengan damainya. Dan mungkin ini akan menjadi cerita terakhir yang ku baca dari buku ini.
Suara pintu pagar yang terbuka membuyarkan fokusku pada buku ini dan aku lihat itu adalah Widya yang kembali datang. Kututup buku ini dan ia datang menuju tempatku berada dengan senyumannya yang masih mematikan.
“Kok tumben kamu di sini ngga di atas?” Tanyanya
“Ngga tau tiba-tiba kaki aku melangkah ke sini aja, mungkin jenuh di atas.” Kataku
Perbincangan kami cukup sederhana, tidak ada hal yang terlalu serius untuk dibagikan. Ketika kami sedang berbincang tiba-tiba saja hpku berdering, ada sebuah panggilan masuk dari Zahra.
“Halo...” Kataku
“Hai Bram, aku ganggu ya?”
“Ngga kok kenapa emang?”
“Cuma mau bilang makasih aja soal kemaren...”
“Makasih? Buat apa?”
“Itu siapa Bram?” Tanya Widya
“Kamu lagi sama siapa Bram?”Tanya Zahra
“Lagi sama temen SMA...”
“Oh yaudah nanti lagi aja, maaf ganggu.”
Dan kemudian panggilan itu terputus begitu saja. Aku sempat kebingungan dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan Zahra hingga ia menyudahi panggilan tersebut.
“Tadi siapa Bram yang nelpon?” Tanya Widya lagi
“Itu temen kampus aku si Zahra, aneh aja sih abis denger suara kamu malah dimatiin.” Jelasku
“Mungkin dia ngga suka kali ya kalo ada yang deketin kamu...” Kata Widya
Aku semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
“Maksudnya gimana sih? Aku makin ngga ngerti.” Tanyaku
“Dia cemburu ada cewe lain di samping kamu.” Jawab Widya
“Kamu bisa tau darimana Wid? Aku aja ngga ngerti sama sekali.” Kataku
“Aku tau karena aku cewe Bram. Dia ngga suka kalo ada yang deketin kamu selain dia.” Jelas Widya lagi
Charles Darwin mengemukakan teori evolusi manusia yang berasal dari makhluk purba menyerupai monyet, ternyata ada teori lain yang lebih tidak aku mengerti yaitu jalan pemikiran dari wanita dengan segala kode etik yang mereka buat begitu saja.
Widya bangun dari duduknya yang menyebabkan aku juga ikut berdiri di sampingnya. Ia maju beberapa langkah dan aku segera menahan langkahnya dengan memegang tangannya.
“Kamu mau kemana?” Tanyaku
“Aku mau pulang aja, kayaknya ada yang ngga suka kalo ada yang deket sama kamu.” Katanya
Ia melanjutkan beberapa langkahnya hingga akhirnya kutarik kembali tangannya hingga aku dapat mendekapnya dalam pelukanku. Entah apa yang sebenarnya terjadi hingga aku mampu untuk melakukan ini, aku tidak bisa merelakan ia untuk pergi lagi dari kehidupanku.
“Jangan pergi lagi...” Kataku pelan
Sebuah ungkapan dari lubuk hatiku yang paling dalam, dimana aku tidak mau kehilangan Widya untuk yang kedua kalinya. Dan kemudian ia membalas pelukanku dengan nyamannya. Bertahanlah hingga selamanya...
Aku kembali masuk ke dalam kamar dan membuka laci mejaku, kuambil kembali buku harian itu. Entah kenapa aku keluar dari kamarku menuju lantai bawah dan berhenti di pinggiran kolam berenang. Aku duduk dengan santainya dengan sebatang rokok yang sudah menyala di tangan kananku.
“Bentar lagi udah mau abis nih cerita...” Kataku seorang diri
Aku melihat buku ini sekali lagi dan benar saja, antara jeda bacaan dengan akhir buku ini hanya tersisa beberapa lembar lagi dan sebentar lagi buku ini akan habis kubaca. Aku kembali mengingat bagaimana saat-saat pertama aku menemukan buku misterius ini, entah mengapa tiba-tiba saja bisa tiba di rumahku dengan misterinya yang mengatas namakan dirku dengan benar.
“Kebetulan atau emang ini udah direncanain?” Tanyaku seorang diri
Aku masih saja melihat buku ini lagi dan belum memulai untuk membacanya lagi. Kupandangi langit nampak cerah dengan cahaya-cahaya bintang nan mengindahkan, angin semilir datang dengan damainya. Dan mungkin ini akan menjadi cerita terakhir yang ku baca dari buku ini.
Spoiler for Buku Harian:
Semuanya berlalu begitu saja, dengan perjuangan dan pengorbanan hingga akhirnya aku dapat keluar dari kamar ini. Tempat yang menjadi persembunyianku dari kesedihan yang sangat mendalam. Kehilangan seorang Ayah menjadi sebuah momen yang sangat menyedihkan untukku. Namun aku tidak bisa selamanya mengurung diri, aku berusaha untuk tetap maju meskipun aku sudah kehilangan penunjuk arah.
Dan tibalah aku di sekolah pada pagi ini, mencoba untuk kembali pada rutinitasku yang sempat terhambat. Aku harus bisa kembali lagi untuk meneruskan apa yang sudah aku mulai dan aku akan menyelesaikannya dengan semangat lagi. Semua mata yang ada di kelas tertuju padaku, dan dengan cepat Mita menghampiriku kemudian memelukku dengan hangat.
“Hai Rin, udah siap buat Geografi hari ini?” Tanyanya
“Udah siap kok Mit dan emang udah waktunya harus siap.” Kataku kemudian tersenyum
Aku harus kembali menyesuaikan keadaan yang ada di kelas setelah beberapa hari ini kutinggalkan. Pelajara pun dimulai, dengan serius aku mencoba untuk mengejar ketinggalanku pada semua pelajaran hari ini dan seterusnya.
Aku sudah mulai sibuk mencatat materi demi materi yang tersaji pada papan tulis, kemudian mengerjakan soal demi soal yang diberikan. Butuh waktu memang untuk mengejar ketertinggalan pada materi sebelumnya, untungnya ada Mita yang selalu membantuku dalam materi-materi yang tertinggal.
Tiba waktu istirahat dimana kali ini aku tidak lagi berdiam diri di dalam kelas, melainkan aku dan Mita sedang duduk di bangku taman sekolah sambil menikmati makanan yang sebelumnya kami beli di kantin sekolah. Pemandangan yang tersaji kali ini adalah sebuah pertandingan basket seperti biasanya.
Basket... Entah sudah berapa lama aku tidak mengingat tentangnya, hingga kali ini aku sedikit teringat tentang Herman. Aku kembali mengingat bagaimana ia datang menuju rumahku pada malam hari dan menceritakan semuanya dengan jelas yang mampu membuatku tersenyum.
Di kemudian hari senyumku terhapus begitu saja ketika Inggar datang dan mencurahkan seluruh isi hatinya dengan jujur, bagaimana ia bisa menyukai Herman sementara ia tidak tau apa yang sebenarnya aku rasakan. Aku tidak pernah menyalahkan Inggar tentang kesukaannya pada Herman, melainkan aku selalu saja menyalahkan diriku sendiri. Kenapa aku tidak bisa jujur pada diriku sendiri bahwa sebenarnya aku juga suka kepada Herman sebelum Inggar datang. Rasa sesal datang menghantuiku pada malam itu, namun semuanya sudah terlanjur. Aku tidak bisa membatasi Inggar untuk menyukai Herman, beda cerita jika saat itu aku bisa jujur tentang perasaanku.
“Lo kenapa Rin?” Tanya Mita yang duduk di sampingku
“Nggapapa kok Mit, kenyang aja.” Sanggahku
Kami kembali menyaksikan pertandingan yang semakin bertambah seru saja, suara dukungan dari pinggir lapangan sudah bergemuruh semenjak awal pertandingan tadi dan pertandingan ini diakhiri dengan bel masuk setelah jam istirahat.
Aku dan Mita kembali masuk ke dalam kelas, dan kali ini aku duduk bersama Mita di barisan tengah bukan lagi di barisan depan. Baru aku sadari bahwa bangku yang biasanya aku duduki kini kosong tak berpenghuni dan itu juga yang menyadarkanku akan ketidakhadiran Herman pada hari ini di sekolah.
Aku mulai bertanya-tanya kemana dia? Mengapa ia mulai menghilang lagi? Apa mungkin kali ini masih sama seperti dulu ketika ia sedang berurusan dengan keluarganya hingga tidak bisa datang ke sekolah? Itu semua terbayang di benakku saat aku melihat bangku kosong itu. Mita yang mungkin menyadari akan hal itu menjawab semua apa yang sedang aku pertanyakan.
“Herman sakit, jadi dia hari ini ngga masuk Rin.” Jelasnya
“Dari kapan dia sakit Mit?” Tanyaku
“Dua hari yang lalu sih, ngga tau sekarang keadaannya gimana. Orang tuanya udah dikabarin tapi ngga bisa-bisa jadi kita ngga tau dia dirawat dimana.” Jelas Mita lagi
Aku kembali melihat ke arah bangku kosong itu lagi. Aku tidak bisa berbuat apa-apa kecuali mendoakan agar Herman bisa kembali pulih dan masuk sekolah seperti biasanya. Dan jujur saja, pertandingan basket tadi seperti kehilangan gairahnya karena tidak adanya Herman.
Dan kali ini aku sudah kembali belajar di kelas, materi demi materi yang cukup membingungkan datang. Dari teori menuju pada soal-soal yang saling berkaitan, membuatku sedikit pusing. Bagaimanapun keadaannya aku harus bisa kembali menjalani hidupku sebagai pelajar dan bertanggung jawab untuk menyelesaikan semuanya.
Tidak terasa bel pulang sekolah sudah berbunyi, setelah selesai memasukan semua buku ke dalam tas akhirnya aku dapat meninggalkan kelas ini untuk pulang. Aku berjalan bersama dengan Mita menuju parkiran dimana supirnya sudah menunggu.
“Hari ini lo harus gue anterin pulang, sebagai tanda bahwa lo udah siap lagi menjalani hidup lo sebagaimana mestinya.” Kata Mita
“Jangan berlebihan Mit. Tapi lo mau anterin gue dulu?” Tanyaku pada Mita
“Mau kemana dulu Rin?” Tanyanya
“Ke tempat Papa...” Kataku
Ia tersenyum dan mengangguk dengan pasti. Perjalanan kami menuju pemakaman tidak terlalu jauh dari rumaku, setibanya di sana aku keluar dari mobil dan Mita ikut bersamaku. Aku melihatnya, kali ini bunga-bunga yang bertaburan sudah mulai menghilang entah kemana. Setelah kupanjatkan doa dan sedikit membersihkan makam Papa, aku memutuskan untuk kembali pulang menuju rumah.
“Pa, Airin pulang dulu ya. Besok aku pasti ke sini lagi kok.” Kataku
“Om, Mita pamit juga ya.” Kata Mita
Aku sangat berterima kasih kepada Mita karena ia dengan rela mengantarkanku ke pemakaman dan kembali lagi menuju rumahku. Dan setelah itu aku masuk ke dalam rumah dan menemukan Mama yang duduk di teras rumah sambil membaca sebuah majalah dengan santainya. Aku menghampiri Mama dengan senang dan Mama menyambutku dengan hangatnya.
“Gimana sekolahnya Rin? Ada masalah ngga?” Tanya Mama
“Sedikit ketinggalan materi minggu lalu aja Ma, untung ada Mita yang bantuin.” Jawabku
Aku sempat berbincang sebentar dengan Mama di teras ini. Aku merasakan bagaimana rasanya ketika kali ini Mama harus menghadapi sore harinya di teras sendirian. Tidak ada lagi godaan maut Papa seperti biasanya dan sepertinya sebuah keikhlasan mampu menghapus segala duka yang ada di wajah cantik Mama.
Kemudian aku masuk ke dalam rumah dan segera naik ke kamar. Selesai membersihkan diri, aku mulai mengerjakan segala tugas yang tadi di berikan. Entah sudah berapa lama hingga tiba-tiba Mama masuk ke dalam kamarku membawakan sepiring nasi beserta lauk pauknya.
“Kamu makan dulu, jangan sampe kecapekan nanti.” Kata Mama
“Makasih ya Ma.” Kataku
Kuhentikan pekerjaanku untuk makan sejenak, aku kembali mengingat semuanya yang telah terjadi. Rasa kehilangan jujur saja masih terasa hingga saat ini, rasa sakit akan cinta juga masih terbayang. Apa saja yang sudah aku lewati tidak akan pernah kembali lagi. Lagi-lagi soal keikhlasan, bagaimana aku harus bisa melewati ini semua dengan rasa ikhlas. Butuh waktu untuk berbicara soal ikhlas, karena ini adalah sebuah pembelajaran yang sangat sulit. Hingga suatu saat nanti aku akan mengerti apa itu keikhlasan yang sesungguhnya.
---------------------
Beberapa hari sudah aku lewati, aku sudah bisa kembali mengikuti pelajaran sebagaimana mestinya. Kali ini aku sudah berada di bangku taman yang ada di sekolah, kembali untuk menyaksikan pertandingan basket yang selalu ada tiap harinya.
Mita sedang pergi menuju kantin karena ia sudah mengeluh kelaparan sejak tadi pagi dengan alasan ia tidak sarapan seperti biasanya. Cuaca yang cukup panas tidak menurunkan semangat para pemain basket itu untuk tetap melakukan pertandingannya, dan kali ini masih sama tanpa kehadiran dari Herman.
Aku semakin tidak mengerti bagaimana dengan keadaan Herman yang sesungguhnya, apakah dia sudah pulih atau masih sama saja. Mungkin aku akan segera mencari tau dimana keberadaanya. Mita sudah kembali dari kantin dan sudah duduk di sampingku.
“Eh Mit nanti lo mau ngga...”
Kata-kataku terhenti begitu saja melihat yang ada di sampingku bukanlah Mita. Jantungku berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya, aku mencoba untuk tenang menghadapinya.
“Hai Rin...”
“Hai Nggar...”
Kami hanya saling tatap satu sama lain, belum ada kata-kata yang dapat terucap dari mulut kami. Hingga akhirnya Inggar mengeluarkan secarik kertas dari saku bajunya dan memberikannya kepadaku. Sejuta tanya tentu sudah mengelilingi benakku karena penasaran.
“Ini apa Nggar?” Tanyaku
“Kamu boleh buka itu tiga hari lagi, janji harus tiga hari lagi.” Katanya
Aku sempat melihat ke arah kertas ini dan mencoba untuk menerawang apa isi dari kertas ini.
“Kamu bisa janji buat buka kertas ini tiga hari lagi?” Tanya Inggar
Aku mengangguk pelan dan kemudian Inggar memelukku, ini semua membuatku semakin heran dengan perilakunya. Kemudian ia meninggalkanku begitu saja entah kemana. Aku melihat ke arah kertas ini lagi dan kumasukan ke dalam saku bajuku. Tidak lama berselang datanglah Mita dengan membawa piring berisi gado-gado beserta lontongnya.
“Tadi si Inggar ngapain ke sini sampe meluk-meluk lo?” Tanyanya heran
“Gue juga ngga tau Mit, gue juga heran.” Kataku
Aku sengaja tidak menceritakan tentang secarik kertas yang Inggar berikan kepadaku. Tiga hari lagi aku baru bisa membaca surat itu, bukanlah waktu yang lama untuk menunggu. Tapi apa yang ada di dalam surat inilah yang membuatku selalu bertanya-tanya. Mungkinkah ada sebuah titik terang di balik gelapnya jalan?
----------------------
Menepati janji bukanlah hal yang sulit, tapi terkadang kita terlalu menggampangkan janji itu hingga akhirnya kita terbiasa untuk mengingkarinya.
Tiga hari sudah berlalu dan aku sudah menepati janjiku pada Inggar.
Dan tibalah aku di sekolah pada pagi ini, mencoba untuk kembali pada rutinitasku yang sempat terhambat. Aku harus bisa kembali lagi untuk meneruskan apa yang sudah aku mulai dan aku akan menyelesaikannya dengan semangat lagi. Semua mata yang ada di kelas tertuju padaku, dan dengan cepat Mita menghampiriku kemudian memelukku dengan hangat.
“Hai Rin, udah siap buat Geografi hari ini?” Tanyanya
“Udah siap kok Mit dan emang udah waktunya harus siap.” Kataku kemudian tersenyum
Aku harus kembali menyesuaikan keadaan yang ada di kelas setelah beberapa hari ini kutinggalkan. Pelajara pun dimulai, dengan serius aku mencoba untuk mengejar ketinggalanku pada semua pelajaran hari ini dan seterusnya.
Aku sudah mulai sibuk mencatat materi demi materi yang tersaji pada papan tulis, kemudian mengerjakan soal demi soal yang diberikan. Butuh waktu memang untuk mengejar ketertinggalan pada materi sebelumnya, untungnya ada Mita yang selalu membantuku dalam materi-materi yang tertinggal.
Tiba waktu istirahat dimana kali ini aku tidak lagi berdiam diri di dalam kelas, melainkan aku dan Mita sedang duduk di bangku taman sekolah sambil menikmati makanan yang sebelumnya kami beli di kantin sekolah. Pemandangan yang tersaji kali ini adalah sebuah pertandingan basket seperti biasanya.
Basket... Entah sudah berapa lama aku tidak mengingat tentangnya, hingga kali ini aku sedikit teringat tentang Herman. Aku kembali mengingat bagaimana ia datang menuju rumahku pada malam hari dan menceritakan semuanya dengan jelas yang mampu membuatku tersenyum.
Di kemudian hari senyumku terhapus begitu saja ketika Inggar datang dan mencurahkan seluruh isi hatinya dengan jujur, bagaimana ia bisa menyukai Herman sementara ia tidak tau apa yang sebenarnya aku rasakan. Aku tidak pernah menyalahkan Inggar tentang kesukaannya pada Herman, melainkan aku selalu saja menyalahkan diriku sendiri. Kenapa aku tidak bisa jujur pada diriku sendiri bahwa sebenarnya aku juga suka kepada Herman sebelum Inggar datang. Rasa sesal datang menghantuiku pada malam itu, namun semuanya sudah terlanjur. Aku tidak bisa membatasi Inggar untuk menyukai Herman, beda cerita jika saat itu aku bisa jujur tentang perasaanku.
“Lo kenapa Rin?” Tanya Mita yang duduk di sampingku
“Nggapapa kok Mit, kenyang aja.” Sanggahku
Kami kembali menyaksikan pertandingan yang semakin bertambah seru saja, suara dukungan dari pinggir lapangan sudah bergemuruh semenjak awal pertandingan tadi dan pertandingan ini diakhiri dengan bel masuk setelah jam istirahat.
Aku dan Mita kembali masuk ke dalam kelas, dan kali ini aku duduk bersama Mita di barisan tengah bukan lagi di barisan depan. Baru aku sadari bahwa bangku yang biasanya aku duduki kini kosong tak berpenghuni dan itu juga yang menyadarkanku akan ketidakhadiran Herman pada hari ini di sekolah.
Aku mulai bertanya-tanya kemana dia? Mengapa ia mulai menghilang lagi? Apa mungkin kali ini masih sama seperti dulu ketika ia sedang berurusan dengan keluarganya hingga tidak bisa datang ke sekolah? Itu semua terbayang di benakku saat aku melihat bangku kosong itu. Mita yang mungkin menyadari akan hal itu menjawab semua apa yang sedang aku pertanyakan.
“Herman sakit, jadi dia hari ini ngga masuk Rin.” Jelasnya
“Dari kapan dia sakit Mit?” Tanyaku
“Dua hari yang lalu sih, ngga tau sekarang keadaannya gimana. Orang tuanya udah dikabarin tapi ngga bisa-bisa jadi kita ngga tau dia dirawat dimana.” Jelas Mita lagi
Aku kembali melihat ke arah bangku kosong itu lagi. Aku tidak bisa berbuat apa-apa kecuali mendoakan agar Herman bisa kembali pulih dan masuk sekolah seperti biasanya. Dan jujur saja, pertandingan basket tadi seperti kehilangan gairahnya karena tidak adanya Herman.
Dan kali ini aku sudah kembali belajar di kelas, materi demi materi yang cukup membingungkan datang. Dari teori menuju pada soal-soal yang saling berkaitan, membuatku sedikit pusing. Bagaimanapun keadaannya aku harus bisa kembali menjalani hidupku sebagai pelajar dan bertanggung jawab untuk menyelesaikan semuanya.
Tidak terasa bel pulang sekolah sudah berbunyi, setelah selesai memasukan semua buku ke dalam tas akhirnya aku dapat meninggalkan kelas ini untuk pulang. Aku berjalan bersama dengan Mita menuju parkiran dimana supirnya sudah menunggu.
“Hari ini lo harus gue anterin pulang, sebagai tanda bahwa lo udah siap lagi menjalani hidup lo sebagaimana mestinya.” Kata Mita
“Jangan berlebihan Mit. Tapi lo mau anterin gue dulu?” Tanyaku pada Mita
“Mau kemana dulu Rin?” Tanyanya
“Ke tempat Papa...” Kataku
Ia tersenyum dan mengangguk dengan pasti. Perjalanan kami menuju pemakaman tidak terlalu jauh dari rumaku, setibanya di sana aku keluar dari mobil dan Mita ikut bersamaku. Aku melihatnya, kali ini bunga-bunga yang bertaburan sudah mulai menghilang entah kemana. Setelah kupanjatkan doa dan sedikit membersihkan makam Papa, aku memutuskan untuk kembali pulang menuju rumah.
“Pa, Airin pulang dulu ya. Besok aku pasti ke sini lagi kok.” Kataku
“Om, Mita pamit juga ya.” Kata Mita
Aku sangat berterima kasih kepada Mita karena ia dengan rela mengantarkanku ke pemakaman dan kembali lagi menuju rumahku. Dan setelah itu aku masuk ke dalam rumah dan menemukan Mama yang duduk di teras rumah sambil membaca sebuah majalah dengan santainya. Aku menghampiri Mama dengan senang dan Mama menyambutku dengan hangatnya.
“Gimana sekolahnya Rin? Ada masalah ngga?” Tanya Mama
“Sedikit ketinggalan materi minggu lalu aja Ma, untung ada Mita yang bantuin.” Jawabku
Aku sempat berbincang sebentar dengan Mama di teras ini. Aku merasakan bagaimana rasanya ketika kali ini Mama harus menghadapi sore harinya di teras sendirian. Tidak ada lagi godaan maut Papa seperti biasanya dan sepertinya sebuah keikhlasan mampu menghapus segala duka yang ada di wajah cantik Mama.
Kemudian aku masuk ke dalam rumah dan segera naik ke kamar. Selesai membersihkan diri, aku mulai mengerjakan segala tugas yang tadi di berikan. Entah sudah berapa lama hingga tiba-tiba Mama masuk ke dalam kamarku membawakan sepiring nasi beserta lauk pauknya.
“Kamu makan dulu, jangan sampe kecapekan nanti.” Kata Mama
“Makasih ya Ma.” Kataku
Kuhentikan pekerjaanku untuk makan sejenak, aku kembali mengingat semuanya yang telah terjadi. Rasa kehilangan jujur saja masih terasa hingga saat ini, rasa sakit akan cinta juga masih terbayang. Apa saja yang sudah aku lewati tidak akan pernah kembali lagi. Lagi-lagi soal keikhlasan, bagaimana aku harus bisa melewati ini semua dengan rasa ikhlas. Butuh waktu untuk berbicara soal ikhlas, karena ini adalah sebuah pembelajaran yang sangat sulit. Hingga suatu saat nanti aku akan mengerti apa itu keikhlasan yang sesungguhnya.
---------------------
Beberapa hari sudah aku lewati, aku sudah bisa kembali mengikuti pelajaran sebagaimana mestinya. Kali ini aku sudah berada di bangku taman yang ada di sekolah, kembali untuk menyaksikan pertandingan basket yang selalu ada tiap harinya.
Mita sedang pergi menuju kantin karena ia sudah mengeluh kelaparan sejak tadi pagi dengan alasan ia tidak sarapan seperti biasanya. Cuaca yang cukup panas tidak menurunkan semangat para pemain basket itu untuk tetap melakukan pertandingannya, dan kali ini masih sama tanpa kehadiran dari Herman.
Aku semakin tidak mengerti bagaimana dengan keadaan Herman yang sesungguhnya, apakah dia sudah pulih atau masih sama saja. Mungkin aku akan segera mencari tau dimana keberadaanya. Mita sudah kembali dari kantin dan sudah duduk di sampingku.
“Eh Mit nanti lo mau ngga...”
Kata-kataku terhenti begitu saja melihat yang ada di sampingku bukanlah Mita. Jantungku berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya, aku mencoba untuk tenang menghadapinya.
“Hai Rin...”
“Hai Nggar...”
Kami hanya saling tatap satu sama lain, belum ada kata-kata yang dapat terucap dari mulut kami. Hingga akhirnya Inggar mengeluarkan secarik kertas dari saku bajunya dan memberikannya kepadaku. Sejuta tanya tentu sudah mengelilingi benakku karena penasaran.
“Ini apa Nggar?” Tanyaku
“Kamu boleh buka itu tiga hari lagi, janji harus tiga hari lagi.” Katanya
Aku sempat melihat ke arah kertas ini dan mencoba untuk menerawang apa isi dari kertas ini.
“Kamu bisa janji buat buka kertas ini tiga hari lagi?” Tanya Inggar
Aku mengangguk pelan dan kemudian Inggar memelukku, ini semua membuatku semakin heran dengan perilakunya. Kemudian ia meninggalkanku begitu saja entah kemana. Aku melihat ke arah kertas ini lagi dan kumasukan ke dalam saku bajuku. Tidak lama berselang datanglah Mita dengan membawa piring berisi gado-gado beserta lontongnya.
“Tadi si Inggar ngapain ke sini sampe meluk-meluk lo?” Tanyanya heran
“Gue juga ngga tau Mit, gue juga heran.” Kataku
Aku sengaja tidak menceritakan tentang secarik kertas yang Inggar berikan kepadaku. Tiga hari lagi aku baru bisa membaca surat itu, bukanlah waktu yang lama untuk menunggu. Tapi apa yang ada di dalam surat inilah yang membuatku selalu bertanya-tanya. Mungkinkah ada sebuah titik terang di balik gelapnya jalan?
----------------------
Menepati janji bukanlah hal yang sulit, tapi terkadang kita terlalu menggampangkan janji itu hingga akhirnya kita terbiasa untuk mengingkarinya.
Tiga hari sudah berlalu dan aku sudah menepati janjiku pada Inggar.
Suara pintu pagar yang terbuka membuyarkan fokusku pada buku ini dan aku lihat itu adalah Widya yang kembali datang. Kututup buku ini dan ia datang menuju tempatku berada dengan senyumannya yang masih mematikan.
“Kok tumben kamu di sini ngga di atas?” Tanyanya
“Ngga tau tiba-tiba kaki aku melangkah ke sini aja, mungkin jenuh di atas.” Kataku
Perbincangan kami cukup sederhana, tidak ada hal yang terlalu serius untuk dibagikan. Ketika kami sedang berbincang tiba-tiba saja hpku berdering, ada sebuah panggilan masuk dari Zahra.
“Halo...” Kataku
“Hai Bram, aku ganggu ya?”
“Ngga kok kenapa emang?”
“Cuma mau bilang makasih aja soal kemaren...”
“Makasih? Buat apa?”
“Itu siapa Bram?” Tanya Widya
“Kamu lagi sama siapa Bram?”Tanya Zahra
“Lagi sama temen SMA...”
“Oh yaudah nanti lagi aja, maaf ganggu.”
Dan kemudian panggilan itu terputus begitu saja. Aku sempat kebingungan dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan Zahra hingga ia menyudahi panggilan tersebut.
“Tadi siapa Bram yang nelpon?” Tanya Widya lagi
“Itu temen kampus aku si Zahra, aneh aja sih abis denger suara kamu malah dimatiin.” Jelasku
“Mungkin dia ngga suka kali ya kalo ada yang deketin kamu...” Kata Widya
Aku semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
“Maksudnya gimana sih? Aku makin ngga ngerti.” Tanyaku
“Dia cemburu ada cewe lain di samping kamu.” Jawab Widya
“Kamu bisa tau darimana Wid? Aku aja ngga ngerti sama sekali.” Kataku
“Aku tau karena aku cewe Bram. Dia ngga suka kalo ada yang deketin kamu selain dia.” Jelas Widya lagi
Charles Darwin mengemukakan teori evolusi manusia yang berasal dari makhluk purba menyerupai monyet, ternyata ada teori lain yang lebih tidak aku mengerti yaitu jalan pemikiran dari wanita dengan segala kode etik yang mereka buat begitu saja.
Widya bangun dari duduknya yang menyebabkan aku juga ikut berdiri di sampingnya. Ia maju beberapa langkah dan aku segera menahan langkahnya dengan memegang tangannya.
“Kamu mau kemana?” Tanyaku
“Aku mau pulang aja, kayaknya ada yang ngga suka kalo ada yang deket sama kamu.” Katanya
Ia melanjutkan beberapa langkahnya hingga akhirnya kutarik kembali tangannya hingga aku dapat mendekapnya dalam pelukanku. Entah apa yang sebenarnya terjadi hingga aku mampu untuk melakukan ini, aku tidak bisa merelakan ia untuk pergi lagi dari kehidupanku.
“Jangan pergi lagi...” Kataku pelan
Sebuah ungkapan dari lubuk hatiku yang paling dalam, dimana aku tidak mau kehilangan Widya untuk yang kedua kalinya. Dan kemudian ia membalas pelukanku dengan nyamannya. Bertahanlah hingga selamanya...
khuman dan Herisyahrian memberi reputasi
2
Kutip
Balas