- Beranda
- Stories from the Heart
Cerita Tentang El (Edelweiss)
...
TS
rafa.alfurqan
Cerita Tentang El (Edelweiss)
Quote:
Assalamualaikum (pengucapan dengan gaya sama ma Fico SUCI)

Salam sehat, salam riang, salam gembira agans, sists...
Kembali ane mw posting satu cerita baru, cukup pendek memang jika dibandingkan dengan cerita ane yang sudah tamat sebelumnya.
The Left Eyekemarin sayangnya ane post ketika thread sebelah sudah booming dengan cerita horornya. Karena itu lah thread-thread lain yang muncul setelahnya lebih dianggap sebagai thread ikut-ikutan, atau yang lebih mendingan dibilang sebagai thread yang dibuat karena terinspirasi dari thread booming itu. Dan menurut ane karena saking boomingnya secara tidak langsung berevolusi menjadi parenting thread buat cerita horor dewasa ini di SFTH, IMO

Sedih ane gan kalau dianggap jamaah
Padahal niat ane cuma mw posting biasa, karena cerita itu memang udah lama ane bikin.
But, it's okay. Ane sekarang mau posting ulang dengan genre berbeda.
Tiap chapter di cerita memang gak bakal sepadet cerita The Left Eye ane, tapi cerita ini nyata dan dibuat berdasarkan kisah nyata seseorang. Dan ane diberi kepercayaan untuk menulisnya (tentu dengan nama-nama tokoh yang telah disamarkan)
Kenapa ane tulis disini, karena ane pikir yang ngalamin hal ini pasti gak cuma dia (si narasumber), mungkin termasuk agan yang lagi baca cerita ini juga
Biarkan ini jadi bahan pembelajaran buat yang lain, biar nanti ketika mereka mendapat situasi yang sama, mereka sudah ada bahan pertimbangan, terang narasumber.
Ane sediakan lapak gueedeee buat yang mau gelar tiker, tenda atau bangun apartemen sekalian.
Ane jamin meskipun cerbung tapi apdetnya sedikit kok dan ceritanya juga udah kelar ane tulis

Quote:
Dan terakhir,,,
Gak lupa-lupa ane ngingetin,,,, Like once a wiseman said, pengunjung yang baik (mau yang silent reader juga) jangan lupa tinggalkan jejaknya ya
ane juga terima kok kalau dikasih
atau
yang penting semakin ramai ini thread maka semakin kepikiran ane buat terus ngelanjutin ini cerita, nyampe kelar biar gak ngentangin agans sekalian
Quote:
Diubah oleh rafa.alfurqan 27-06-2016 14:16
anasabila memberi reputasi
2
9.6K
48
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
rafa.alfurqan
#16
Chapter 6 - Move On!
Quote:
15
Tyas
Tyas
Quote:
Waktu terus berlalu dan sudah tidak terasa aku sudah mulai menginjak tahun ketigaku di sini. Tahun terakhir bagi kami, para mahasiswa-mahasiswi Diploma III. Masa-masa indah akan kenangan kami untuk berjumpa, bersedih, keluh kesal, cinta, akan memasuki akhir kisahnya.
Aku, boim, reno, jonan, lia, dara sampai si edelweiss (yang lain sedang menggembala kuda, jadi tidak perlu kuabsen), menjadi panitia PPLK saat itu, kupikir saat itu tahun 2009 kalau tidak salah. Saat itu kami memasuki semester V kami. Kami lebih bertugas sebagai pengawas lapangan karena pada saat itu yang akan lebih banyak berinteraksi dengan mahasiswa baru adalah angkatan satu tahun di bawah kami.
PPLK di tempat kami bisa disamakan dengan kegiatan OSPEK di lingkungan kampus lain yang rutin dilakukan tiap tahun ajaran baru, untuk mengenalkan mahasiswa-mahasiswi baru terhadap lingkungan kampus, walaupun itu hanya tujuan awalnya saja kupikir.
Panitia junior, itu menurut versiku. Ada arif, andre, linda sampai tyas (yang lain sedang mencuci pakaian milik tetangga, jadi malas kuabsen). Dan karena nama terakhirlah aku jadi sedikit bersemangat untuk ikut ambil bagian dari acara ini. Karena dengan bisa berada disini aku bisa curi-curi pandang dengannya, dengan tyas maksudku. Masa dengan arif? Ah aku tidak pernah tertarik dengan laki-laki.
Sedikit akan kuceritakan kepada kalian tentang tyas karena kupikir kalian perlu tahu tentang dirinya. Dia perempuan, ya jelas kalau dia perempuan, maksudku dia anak perempuan dari kedua orang tuanya. Tetapi anak pertama dari dua bersaudara, ah iya saudaranya juga perempuan. Mereka asli dari jawa tengah, tapi aku lupa tepatnya daerah mana. Dia lahir dan besar disana kalau dia tidak berbohong kepadaku dulu. Tyas satu angkatan satu tahun di bawahku, ah sudah kusebutkan sebelumnya ya (lupakan). Kupikir dia cantik sehingga sangat masuk akal jika dari tahun pertama sampai tahun keduanya dia menjadi idola di angkatannya.
Kalian harus tahu jika jonan dan yang lain sempat sering membicarakannya saat dia menjadi peserta PPLK dulu. Waktu itu aku kurang update tentang siapa dia karena memang jonan yang waktu itu menjadi panitia PPLK sehingga selalu update. Sampai dengan saat ini kupikir dia masih menjadi incaran kaum laki-laki di kampus.
Begitulah sedikit gambaran tentang siapa dan bagaimana tyas. Bila aku menceritakannya terlalu panjang judul cerita ini akan berubah menjadi “Story About Alfurqan & Tyas”. Bagaimana denganku? Tentu saja aku akhirnya mulai tertarik mendekatinya tahun ini. Kenapa? Karena kupikir sudah saatnya aku beralih haluan, aku harus move on dari perasaan tak berbalas ku.
Ketika kalian bertanya bagaimana hubunganku dengan edelweiss waktu itu, maka akan kujawab dengan cepat, aku tidak perduli dengannya. Kenapa? Baiklah, akan kukisahkan agar kalian tidak cepat menilaiku sebagai laki-laki musiman.
16
Ferdy
Ferdy
Saat itu saat dimana para panitia berkumpul, mempersiapkan susunan kepanitiaan, jadwal kapan dan dimana kami para panitia akan berkumpul lagi, dan saat dimana aku baru mengetahui bahwa edelweiss telah punya pacar lagi. Mungkin awalnya mereka memang hanya saling bergurau, tapi karena itulah aku akhirnya jadi tahu semuanya.
Jonan : Ehemm, ada yang lagi senang nih
Reno : Siapa jon?
Jonan : Masa lu gak tau sih ren? Ih kurang update juga nih orang ya
Reno : Seriusan gak tau, apaan emang?
Jonan : Kasih tau gak el?
Mendengar nama edelweiss disitu aku yang sebelumnya sedang bercanda dengan boim di kursi paling belakang langsung terjaga. Ada apa dengan edelweiss? Ulang tahun? Jangan bercanda, ulang tahun dia sudah lewat.
El : Apaan sih jon!?
Jonan : Apaan-apaan, jadi gak mau ngaku nih!?
Reno : Oh jadi udah resmi jon?
Jonan : Ya iyalah ren, siapa coba yang bisa nolak wakil ketua BEM!?
Dan begitulah ceritanya, edelweiss akhirnya resmi berpacaran dengan wakil ketua BEM saat itu, ah iya di masa itu yang menjadi ketua BEM kami adalah kak zaki. Kembali ke masalah wakil ketua BEM, kalau gak salah sih namanya ferdy, kalau salah ya aku juga tidak perduli. Kalian pikir aku punya masalah padanya? Tidak. Terus kenapa aku tampak kesal padanya? Ah mungkin hanya perasaan kalian saja (lupakan).
Ferdy ini adalah senior diatasku 1 tahun, sama dengan kak zaki. Saat kami menginjak semester V dia sudah lulus. Sewaktu masa kuliahnya, yang aku tau, dia mahasiswa yang rajin, supel, pintar. Dia juga selalu aktif di organisasi kampus kami. Meski kalau kubandingkan dengan kak zaki, dia masih kalah, maaf ya ini bukan karena masalah pribadi, tapi murni berdasarkan penilaian objektif dari kacamataku.
Perlu waktu beberapa tahun buatku, sampai aku tahu dari mulut edelweiss sendiri bahwa ferdy ini juga telah berjuang lama untuk mendapatkannya, meski dia sudah ditolak beberapa kali. Ah tapi aku tidak mau pikir, kalian pikir aku juga cuma berjuang 1-2 hari untuk mendapatkan edelweiss? Tapi ya sudahlah, mungkin kami belum menemukan alasan untuk bersama.
17
Dinner
Dinner
Setelah masa PPLK berakhir kami kembali masuk ke kegiatan perkuliahan. Sama dengan semester sebelumnya, selain sibuk kuliah aku juga menyibukkan diri dengan kegiatan asisten praktikum.
Aku repot sekali dengan banyaknya praktikum yang aku asisteni semester ini dan semua mata praktikum yang aku ikuti adalah mata praktikum untuk angkatan 1 tahun dibawahku. Mungkin secara tidak sadar, aku sedang membuka jalanku untuk mendekati tyas.
Yang paling berkesan saat-saat aku jadi asisten praktikum angkatannya tyas adalah saat mata praktikum switching. Bukan hanya aku saat itu yang menjadi asisten, waktu itu ada amir dan juga edelweiss. Tapi yang berbeda adalah kali ini yang berkesan bukan karena ada el, bukan sama sekali.
Saat praktikum ataupun latihan praktikum pun, aku sudah bisa bersikap biasa terhadapnya. Tidak pula kesal karena dia sudah punya pacar lagi, tidak sama sekali. Aku hanya sudah lelah untuk bersikap tidak biasa padanya, mungkin itu. Malah karena sama-sama jadi asisten di mata praktikum yang sama, dia sudah mulai sering kembali menelponku. Bukan karena dia kangen, jelas saja, tapi karena pada saat praktikum pagi, aku dan amir sering suka telat masuk, maaf ya el.
Tiba saatnya kelompok Tyas yang mengikuti praktikum, saat itu 21 Oktober 2009 dan kalian harus percaya kalau itu tanggalnya. Aku jelas lebih mendekatkan diri ke kelompoknya. Kalau kalian pikir ini modus, kubilang iya, tidak apa karena aku juga hanya manusia biasa. Ketika jam praktikum sudah selesai, aku langsung berlari menghampiri Tyas.
Alf : Tyas!!
Tyas : Kenapa kak?
Alf : Malam ini ada acara gak?
Tyas : Enggak kak, kenapa?
Alf : Kalau gitu kasih aku kesempatan ngajakin kamu keluar malam ini ya? Please
Tyas : Gimana ya kak?
Alf : Tolonglah, sekali ini aja.
Tyas : Ya udah
Dan yes! Aku berhasil mendapatkan waktunya dan izinnya untuk mengajaknya pergi keluar malam ini. Yang aku tahu sampai dengan saat ini pun masih banyak laki-laki yang mengantri ingin mengajaknya pergi keluar. Tapi aku lah yang menjadi laki-laki beruntung saat itu yang bisa mengajaknya keluar.
18
Maukah Kamu Jadi Pacarku?
Maukah Kamu Jadi Pacarku?
Beberapa hari sebelumnya, dengan bantuan cezy, aku sudah mempersiapkan perlengkapan perangku ketika pergi dengan tyas nanti. Dan tibalah harinya, saat itu tanggal 21 Oktober 2009. Sore sebelum aku pergi dengannya, aku berangkat terlebih dahulu dengan cezy untuk mempersiapkan apa yang sudah aku siapkan sebelumnya. Berangkat ke tempat yang akan aku ingat sebagai salah satu bukti bahwa aku pernah menjadi cowok keren disitu.
Kalian mau tau rencanaku apa? Kalau kalian pikir ini karena aku terinspirasi dari film atau apa, entahlah yang ku ingat aku tidak melihat film apa-apa di minggu-minggu itu, dan yang jelas aku hanya ingin membuatnya tampak sederhana tapi berkesan. Tapi kalau kalian tanya berhasil atau tidak maka aku sedikit agak bingung untuk menjawabnya.
Tyas sudah kujemput dan kubawa ke suatu tempat makan (tempat dimana tempat perang itu terjadi). Ya, rencanaku hanya mengajaknya untuk makan malam.
Alf : Kamu mau pesan apa?
Tyas : Yang ini kak…
Setelah aku memesan orderan kami, sesuai dengan rencana, sebelum orderan kami datang akan datang terlebih dahulu surprise dariku. Surprise yang berupa kue ulang tahun dan boneka dariku dan dibawakan oleh karyawan disana.
Tyas : Iihh, apaan ini kak!?
Alf : Selamat ulang tahun tyas
Sejenak terdiam sambil memandangku…
Tyas : He he he, makasih ya kak
Aku sadar waktu itu perhatian semua orang tertuju pada kami. Tapi aku masih bisa mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan oleh pasangan yang tidak jauh dari kami saat itu. “Ah aku mau juga dibuat seperti itu!” rengek wanita itu ke pacarnya.
Aku juga masih ingat, ada sekelompok laki-laki yang bilang sekonyong-konyongnya kepada kami. “Jangan percaya mbak!”. Aku beritahu kepada kalian, saat itu aku sedang tidak membuat dia percaya padaku, aku hanya sedang mencoba membuatnya masuk ke dunia yang kubuat.
Tidak lama kemudian gitar yang sudah aku bawa sebelumnya, dibawakan kembali oleh karyawan disana untuk diantarkan kepadaku. Dan lagi, kupikit perhatian semua orang disitu waktu itu masih tertuju kepada kami. Kupikir aku memilih tempat yang cocok karena saat itu di tempat itu belum dilengkapi dengan penyanyi. Karena jika ada aku tidak akan se-pede ini bernyanyi di depan umum.
Jujur saat itu aku gugup dan tak tahu mau nyanyi lagu apa. Dasar bego, lu ngapain bawa gitar sok-sokan mau nyanyi kalau pas waktunya malah bingung mau nyanyi lagu apa!? Lagu yang akhirnya yang terpikir olehku adalah lagu Tercipta Untukku nya Ungu dan lagu Mikha Tambayong dengan Cinta Pertamanya. Mellow semua ya? Ah sudahlah, aku sudah tidak bisa berpikir banyak saat itu. Harusnya minimal aku nyanyi lagu selamat ulang tahunnya Jamrud, ah sial.
Tapi bisakah kalian seperti aku saat itu? Yang berani bernyanyi untuk orang yang baru pertama kali aku ajak keluar, bahkan jarang sekali aku smsan dengannya. Dan itu kulakukan di depan semua orang. Ah, mungkin bagi kalian aku sok romantis, tapi aku pikir aku keren, setidaknya untuk saat itu.
Alf : Tyas maukah kamu jadi pacarku?
Bersambung...
0