Kaskus

News

plonardAvatar border
TS
plonard
Khalid ibn Al-Walid, the Sword of God
Semua yang saya tulis pada posting #1 sampai posting #10 adalah terjemahan bebas dari artikel Khalid ibn Al-Walid di en.wikipedia.org Oktober 2012. Saya tambahkan juga sedikit daftar istilah untuk membantu Agan-agan yang belum terlalu memahami istilah militer dan geografis di zaman bersangkutan hidup. Jika ada ketikan saya dengan format "[angka]", kode ini adalah nomor footnote atau catatan kaki. Contoh: [1] dan [25].
Semoga bermanfaat.

Khalid ibn Al-Walid


Indeks
Posting #1 sampai Posting #10 akan berisi garis besar kehidupan Khalid. Berikut ini adalah indeks yang bisa langsung diklik untuk memudahkan Agan-agan mengakses posting-posting tentang kehidupan Khalid yang lebih detail.

Posting #32 Pertempuran Walaja tahun 633 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #45 Pengepungan Damaskus tahun 635 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #69 Pertempuran Yarmuk tahun 636 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #95 Ucapan-ucapan tentang Khalid ibn Al-Walid
Posting #97 Bibliografi Buku The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleedkarya A.I. Akram
Posting #97 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 1: Sang Anak Lelaki
Posting #100 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 2: Agama Baru (Bagian I)
Posting #103 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 2: Agama Baru (Bagian II)
Posting #105 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian I)
Posting #107 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian II)
Posting #109 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian III)
Posting #120 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian IV)
Posting #123 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian V)
Posting #146 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VI)
Posting #147 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VII)
Posting #161 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian I)
Posting #162 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian II)
Posting #165 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian III)
Posting #174 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian IV)
Posting #175 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 5: Masuk Islamnya Khalid
Posting #187 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 6: Mu’tah dan Pedang Allah
Posting #191 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian I)
Posting #193 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian II)
Posting #194 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian I)
Posting #195 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian II)
Posting #198 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 9: Pengepungan Tha'if
Posting #201 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 10: Petualangan di Dawmatul Jandal
Posting #204 Bagian II: Perang Riddah - Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian I)
Posting #208 Bagian II: Perang Riddah - Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian II)
Posting #213 Bagian II: Perang Riddah - Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian I)
Posting #214 Bagian II: Perang Riddah - Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian II)
Posting #215 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian I)
Posting #218 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian II)
Posting #220 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian III)
Posting #222 Bagian II: Perang Riddah - Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian I)
Posting #224 Bagian II: Perang Riddah - Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian II)
Posting #226 Bagian II: Perang Riddah - Bab 15: Akhir Hayat Malik bin Nuwayrah
Posting #229 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian I)
Posting #235 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian II)
Posting #239 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian III)
Posting #242 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian IV)
Posting Nomor Depan > Bagian II: Perang Riddah - Bab 17: Tumbangnya Gerakan Murtad (Bagian I)


Daftar Istilah Penting

Al-Hirah
Kerajaan yang berlokasi di Iraq Modern (Mesopotamia), negara vasal Imperium Persia-Sassanid, dengan mayoritas warga adalah orang Arab dari suku Bani Lakhm.

Arabia
Wilayah yang terbentang dari Syam dan Mesopotamia sampai Jazirah Arab, dihuni oleh mayoritas orang Arab serta minoritas orang Israel, Eropa (Romawi), Persia, dan Ethiopia.

Bizantin
Imperium superpowerlanjutan dari Romawi, sering juga dikenal sebagai Imperium Romawi Timur. Bizantin beribukota di Konstantinopel (Istanbul Modern) dan menjadi satu-satunya penerus Romawi sejak dihancurkannya Imperium Romawi Barat (beribukota di Roma) pada Abad ke-4. Warga negaranya menganggap mereka adalah warga Romawi dan warga negara lain di masa itu pun memanggil mereka sebagai orang-orang Romawi. Di masa Khalid, wilayah kekuasaan mereka membentang dari daerah Balkan di Eropa, sebagian Libya dan Mesir di Eropa, serta Jazirah Turki, Armenia, dan Levant (Syam) di Asia.

Double Envelopment
Sebuah manuver lapangan dalam pertempuran di mana sebuah pasukan berupaya untuk melingkupi musuh sehingga dapat menyerangnya dari segala arah. Biasanya, pertempuran akan dimulai dalam garis pembeda yang jelas antara dua pasukan yang bertempur. Dengan memanfaatkan kondisi maupun penggunaan taktik tertentu, pasukan musuh dapat diserang dari samping dan belakang. Contoh penggunaan taktik ini ada pada Pertempuran Cannae dan Pertempuran Walaja.

Garda Gerak Cepat (Mobile Guard)
Kavaleri ringan pasukan Muslim awal, dibangun oleh Khalid ibn Al-Walid dengan tujuan menjadi penyeimbang kelemahan infantri Muslim yang berbaju baja ringan. Gerakannya cepat, menerapkan taktik hit and run, efektif melawan kavaleri berat, dan sering menjadi garda depan pendahulu pasukan utama. Khalid dipecat saat menjabat sebagai komandan garda khusus ini. Penggantinya adalah Dhirar ibn Azwar.

Garnisun
Pasukan yang berkedudukan atau memiliki tempat pertahanan yang tetap, misalnya dalam benteng atau sebuah kota.

Ghassan
Kerajaan yang berlokasi di Syam Selatan, negara vasal Imperium Bizantin. Mayoritas warga negaranya adalah orang Arab beragama Kristen dari suku Bani Ghassan.

Imperium
Sebuah negara yang terdiri atas sekelompok bangsa, memiliki sebuah wilayah geografi yang luas, dipimpin oleh seorang kaisar atau sekelompok elit.

Kavaleri
Secara harfiah berarti pasukan berkuda, namun dalam prakteknya di masa kuno, unta dan gajah juga digunakan. Dalam peperangan modern, pasukan berkendara lapis baja maupun bukan juga termasuk dalam kavaleri. Di masa Khalid, kavaleri Bizantin dan Persia merupakan kavaleri berat, memakai baju besi tebal (termasuk kudanya) dan menutupi hampir seluruh tubuh. Kavaleri Muslim awal merupakan kavaleri ringan, berbaju baja dan bersenjata ringan.

Kekhalifahan
Sebuah sistem pemerintahan berbasis Islam yang menunjukkan kesatuan politik ummat Islam. Sistem ini dapat berupa sistem musyawarah perwakilan ataupun monarki konstitusional, dengan konstitusinya berupa Syariah. Karena dalam kekhalifahan ada kesatuan ummat, kekhalifahan selalu melingkupi banyak bangsa sehingga bisa dikategorikan sebagai bentuk Imperium.

Khalifah
Kepala negara dan pemerintahan sistem negara kekhalifahan, dapat dipilih oleh khalifah sebelumnya, ditunjuk oleh komite terpilih, dipilih langsung oleh rakyat, atau diturunkan pada keluarga khalifah sebelumnya.

Levant
Disebut juga Syam, daerah yang meliputi pantai timur Laut Mediterania, antara Anatolia (Jazirah Turki Modern) dan Mesir. Daerah ini meliputi wilayah-wilayah negara modern: Suriah, Lebanon, Yordania, Palestina (Otoritas maupun yang dijajah oleh Israel), Siprus, Provinsi Hatay (Turki Tenggara) dan sebagian wilayah Iraq-Jazirah Sinai.

Mesopotamia
Daerah yang meliputi daerah aliran Sungai Tigris dan Eufrat, yaitu wilayah-wilayah modern: Iraq, sedikit daerah timur laut Suriah, sebagian Turki Tenggara, dan sebagian kecil barat daya Iran.

Negara Vasal
Negara yang tunduk kepada entitas politik lain yang lebih besar dan biasanya lebih kuat, tetapi diberi otoritas untuk mengurus negaranya sendiri.

Persia-Sassanid
Imperium superpowerdi Asia Barat pada Abad ke-4 sampai Abad ke-7, juga disebut oleh warga negaranya sendiri sebagai Ērānshahr atau Ērān, berdiri tahun 224 dan diruntuhkan oleh Kekhalifahan Islam pada tahun 651. Saat Khalid hidup, imperium ini menguasai wilayah modern Iran, sebagian Asia Tengah dan barat laut India, serta sebagian pantai timur dan selatan Jazirah Arab.

Romawi
Lihat Bizantin.

Syam
Lihat Levant.


Garis Besar Biografi

Khālid ibn al-Walīd (Bahasa Arab: خالد بن الوليد‎; 592–642) juga dikenal sebagai Sayfullāh Al-Maslūl(Pedang Allah yang Terhunus), adalah seorang sahabat Muhammad, Nabi Islam. Ia terkenal karena kecakapan dan taktik militernya, menjadi komandan pasukan Madinah di bawah kepemimpinan Muhammad dan pasukan-pasukan penerusnya, Kekhalifahan Ar-Rasyidun; Abu Bakr dan Umar ibn Khattab.[1] Di bawah kepemimpinan militernya, Arab bersatu di bawah sebuah entitas politik untuk pertama kali dalam sejarah, Kekhalifahan. Ia memenangkan lebih dari seratus pertempuran, melawan pasukan-pasukan Imperium (Kekaisaran) Romawi-Bizantin, Imperium (Kekisraan) Persia-Sassanid, dan sekutu-sekutu mereka, ditambah lagi beberapa suku Arab lainnya. Prestasi strategisnya antara lain penaklukan Arab, Mesopotamia milik Persia, dan Syam milik Romawi, dalam beberapa tahun sejak 632 sampai 636. Ia juga dikenang karena kemenangan pentingnya di Yamamah, Ullays, dan Firaz, serta kesuksesan taktisnya di Walaja dan Yarmuk.[2]

Khalid ibn Al-Walid (Khalid anak Al-Walid, secara harfiah berarti Khalid anak Si yang Baru Lahir) berasal dari Suku Quraysh dari Makkah, dari sebuah klan yang pada awalnya menentang Muhammad. Ia memainkan peran vital dalam kemenangan Makkah saat Pertempuran Uhud. Ia masuk Islam dan bergabung dengan Muhammad setelah Perjanjian Hudaybiyyah, serta berpartisipasi dalam sejumlah ekspedisi militer dengannya, seperti Pertempuran Mu’tah. Setelah wafatnya Muhammad, ia memainkan peran kunci dalam komando Pasukan Madinah pimpinan Abu Bakr pada Perang Ridda, menaklukkan Arab tengah dan menundukkan suku-suku Arab. Ia merebut Kerajaan Al-Hirah yang merupakan negara vasal Persia-Sassanid, dan mengalahkan pasukan-pasukan Persia-Sassanid selama proses penaklukan Iraq (Mesopotamia). Ia lalu ditransfer ke front pertempuran di barat untuk merebut Syam milik Romawi dan Kerajaan Ghassan, negara vasal Romawi. Meskipun Umar kemudian melepas jabatan Khalid dari komando tertinggi, ia tetaplah pimpinan sebenarnya dari kesatuan tempur melawan Bizantin selama fase-fase awal Perang Bizantin-Arab.[1] Di bawah komandonya, Damaskus direbut tahun 634 dan kemenangan kunci Arab atas Bizantin diraih dalam Pertempuran Yarmuk (636),[1] yang membuka jalan dalam proses penaklukan Syam (Levant). Tahun 638, pada puncak karirnya, ia diberhentikan dari ketentaraan.



(bersambung)...
Diubah oleh plonard 16-08-2016 13:52
0
76.5K
287
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Sejarah & Xenology
Sejarah & Xenology
KASKUS Official
6.5KThread11.6KAnggota
Tampilkan semua post
plonardAvatar border
TS
plonard
#195
Terjemahan dari bahasa asli, Bahasa Inggris. Ebook dapat diakses di:
The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleed



Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian II)
(Halaman 4)

Nabi menekankan kepada pasukannya untuk menghindari pertempuran sebisa mungkin, kecuali ada perlawanan dari Quraysy. Ia juga memerintahkan pasukan untuk tidak membunuh orang yang terluka, tidak mengejar mereka yang lari, dan tidak membunuh tawanan.

Mereka bergerak ke kota Makkah pada tanggal 11 Januari 630 M (20 Ramadhan 8 H). Masuknya mereka ke Makkah benar-benar dengan damai dan tanpa pertumpahan darah, kecuali di sektor Khalid. Ikrimah dan Shafwan berhasil mengumpulkan anti-Muslim garis keras dari Quraysy dan beberapa suku lain. Mereka memutuskan untuk setidaknya menyulitkan Pasukan Muslim untuk masuk ke Makkah. Mereka bertemu dengan korps Khalid di Khandama dan hal ini adalah pengalaman yang baru dan tidak biasanya bagi Khalid. Dua komandan pasukan musuh adalah dua teman dekatnya, yaitu Ikrimah dan Shafwan; dan Shafwan juga adalah suami saudari Khalid yang bernama Faktah. Namun, Islam membatalkan semua hubungan dan persahabatan dalam kejahiliyahan; tidak diizinkan seorang yang bukan Muslim untuk mengklaim sesuatu dari Muslim karena hubungan di masa lalu.

Pasukan Quraysy membuka serangan mereka dengan tembakan panah, lalu mulai menghunuskan pedang mereka. Inilah yang Khalid tunggu-tunggu. Ia maju menyerbu pasukan kecil Quraysy dan setelah pertempuran singkat dan sengit terjadi, Pasukan kecil Quraysy itu dipukul mundur. Dua belas orang Quraysy terbunuh dan dua orang Muslim gugur. Ikrimah dan Shafwan melarikan diri dari lokasi.

Ketika nabi menerima kabar ini dan kabar jumlah orang yang terbunuh, ia merasa kesal dengan Khalid. Ia sangat berharap agar sama sekali tidak terjadi pertumpahan darah. Mengetahui watak Khalid yang keras, ia khawatir bahwa Khalid yang memulai penyerangan. Khalid segera dipanggil untuk menghadap dan ditanya tentang keputusan militernya. Namun, penjelasan Khalid dapat diterima oleh nabi yang menilai Khalid melakukan tindakan yang benar. Khalid benar-benar hanya membela diri. Sudah menjadi watak Khalid ketika ia diserang, ia akan membalas serangan dengan lebih kuat. Tidak ada yang setengah-setengah dari wataknya ini.

Tidak lama, Makkah berhasil direbut oleh Muslim, nabi pergi ke Ka’bah dan melakukan thawaf tujuh kali di Rumah Allah. Momen itu adalah momen yang luar biasa bagi nabi. Lebih dari tujuh tahun sejak ia meninggalkan Makkah sebagai orang yang dicari-cari untuk dibunuh. Muhammad bukan lagi buronan. Ia bukan lagi seperti suara tangisan dari tempat pengasingan. Muhammad telah kembali sebagai tuan dengan Makkah di kakinya. Orang-orang Quraysy gemetaran di sisi Ka’bah karena mereka sangat paham bagaimana watak orang Arab dalam balas dendam.

Nabi berputar dan melihat ke arah mereka. Mereka semua diam memandangnya, mengira-ngira tentang bagaimana nasib mereka. “Wahai Quraysy! Bagaimana sebaiknya aku memperlakukan kalian?” tanya nabi.

“Perlakukan kami dengan baik, wahai saudara kami yang mulia, wahai anak saudara kami yang mulia pula!” teriak orang-orang Quraysy.

“Bubarlah! Kalian semua telah dimaafkan.”[1]

Nabi kemudian masuk ke dalam Ka’bah dan melihat berhala-berhala dengan berbagai bentuk dan ukuran tersusun di sepanjang dinding. Di dalam dan di sekitar Ka’bah, ada 360 berhala yang berupa pahatan kayu maupun batu, termasuk patung Ibrahim memegang panah undian nasib. Dengan sebilah tongkat besar di tangannya, nabi menghancurkan semua berhala sampai berkeping-keping. Setelah selesai, ia merasa beban berat di pundaknya telah hilang. Ka’bah telah dibersihkan dari tuhan-tuhan palsu; sekarang, hanya Allah yang akan disembah di Rumah Allah. Nabi dengan bahagia mengumumkan (sebuah ayat Al-Qur’an) di atas Ka’bah, “Kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap!”[2]

Hari-hari berikutnya dihabiskan untuk konsolidasi dan reorganisasi. Kebanyakan penduduk Makkah masuk Islam dan menyatakan janji setianya kepada Rasulullah.

Sebelum ia masuk ke Makkah, nabi telah mengumumkan nama 10 orang (enam laki-laki dan empat perempuan) yang harus dibunuh di tempat meskipun mereka berlindung di dalam Ka’bah. Kesepuluh orang ini adalah orang yang bisa disebut kriminal perang dalam istilah modern. Mereka adalah orang-orang murtad dan/atau mengambil peran langsung maupun tidak langsung dalam penyiksaan maupun pengkhianatan terhadap kelompok Muslim. Nomor 1 di daftar tersebut adalah ‘Ikrimah; Hindun juga termasuk dalam golongan ini.

Catatan Kaki Halaman 4
[1] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 412.
[2] Ibid: Vol. 2, hlm. 417; Al-Qur’an, 17:81.



________________________________________________________________________________________________
(Halaman 5)

Ketika ia lari dari pertempuran dengan Khalid, ‘Ikrimah bersembunyi di dalam kota. Ketika Muslim mulai menurunkan kewaspadaan, ia mengendap-endap kabur menuju Yaman dengan tujuan menaiki kapal menuju Habasyah (Ethiopia-pent). Istri ‘Ikrimah yang masuk Islam memohon pada nabi untuk mengampuninya. Permintaan ini dikabulkan oleh nabi. Perempuan ini dengan segera berangkat ke Yaman dimana ia menemukannya dan membawanya kembali ke Makkah. Setibanya di Makkah, ‘Ikrimah langsung menghadap nabi dan berkata, “Akulah orang yang telah keliru dan sekarang bertobat. Ampunilah aku!” [1] Nabi menerima penyerahan diri dan maafnya. ‘Ikrimah sekarang bergabung dalam persaudaraan umat Islam.

Shafwan bin ‘Umayyah, meskipun tidak termasuk dalam daftar kriminal perang, khawatir dengan nyawanya dan melarikan diri ke Jeddah, juga untuk mencari kapal menyeberangi Laut Merah menuju Habasyah. Seorang temannya memintakan ampunan kepada nabi untuknya dan nabi menerimanya. Nabi tidak ada niat untuk membunuh Shafwan dan perlu diketahui bahwa nabi akan dengan sangat senang menerima kembalinya Shafwan. Teman Shafwan ini pergi ke Jeddah dan membawa Shafwan kembali ke Makkah. Shafwan menyerahkan dirinya pada nabi, tetapi hanya secara personal dan politis. Untuk masalah Islam, ia meminta nabi untuk memberinya waktu selama dua bulan untuk berpikir. Nabi memberinya empat bulan.

Di antara mereka yang terdaftar sebagai kriminal perang, hanya tiga laki-laki dan dua perempuan yang dihukum mati. Sisanya diampuni, termasuk Hindun yang masuk Islam.

Setelah menghancurkan berhala-berhala di Ka’bah, nabi mengirim ekspedisi kecil ke perkampungan-perkampungan sekitar Makkah di mana sejumlah berhala masih dipuja di kuil-kuil lokal. Khalid dikirim ke Nakhla untuk menghancurkan ‘Uzza, dewi paling penting dalam agama lama Quraysy. Khalid berangkat bersama 30 orang berkuda.[2]

Tampaknya ada dua Uzza, Uzza asli dan Uzza palsu. Khalid berhasil menemukan Uzza palsu dan menghancurkannya, lalu kembali ke nabi untuk memberi laporan bahwa tugasnya telah selesai. “Apakah engkau tidak melihat sesuatu yang aneh?” tanya nabi. “Tidak ada,” jawab Khalid. “Engkau belum menghancurkan ‘Uzza. Kembalilah ke sana,” perintah nabi.

Khalid marah pada kesalahannya sendiri, ia kembali ke Nakhla dan kali itu bertemu ‘Uzza yang asli. Penjaga kuil ‘Uzza telah melarikan diri, tetapi sebelum ia meninggalkan dewinya itu, penjaga kuil menggantungkan sebilah pedang di leher ‘Uzza dengan harapan dewi itu bisa melindungi dirinya sendiri. Ketika Khalid memasuki kuil, ia berhadapan dengan seorang perempuan hitam telanjang yang meraung-raung. Khalid tidak banyak pikir panjang entah perempuan ini hendak menggodanya atau melindungi berhala ‘Uzza, Khalid langsung menghunus pedangnya dan menebas perempuan itu menjadi dua. Khalid melanjutkan dengan menghancurkan patung berhala dan pulang ke Makkah, melaporkan apa yang telah ia kerjakan pada nabi. “Benar,” nabi berkata, “dia adalah ‘Uzza; dan tidak akan pernah lagi ia disembah di tanah ini.”[3]

Tepat atau di sekitar 20 Januari 630 H setelah penghancuran berhala, sebuah insiden yang patut disayangkan terjadi pada Bani Jadzima. Nabi mengirim sejumlah pasukan kecil ke suku-suku di sekitar Makkah dan menginstruksikan kepada komandan-komandannya untuk tidak memerangi mereka yang menerima ajakan. Nabi kembali menekankan untuk menghindari pertumpahan darah. Pasukan kecil yang dikirim ke area Tihamah, selatan Makkah, dipimpin oleh Khalid. Pasukannya terdiri dari 350 orang berkuda dari berbagai suku, sebagian besar dari Bani Sulaym dan sisanya dari Anshar serta Muhajirin. Tujuan pasukan ini adalah Yalamlam, sekitar 50 mil (80,5 km-pent) dari Makkah. (Lijat Peta 4)

Ketika Khalid sampai di Al-Ghumaysa, sekitar 15 mil (24 km-pent) sebelum Yalamlam, ia bertemu sekelompok orang Bani Jadzima. Mereka melihat Pasukan Muslim dan mempersiapkan senjata mereka, sambil berkata, “Kami telah ber-Islam. Kami sudah mendirikan shalat dan membangun masjid.”

“Lalu apa maksud kalian dengan senjata-senjata itu?” tanya Khalid.

“Kami pernah bersengketa dengan sejumlah suku-suku Arab dan kami hendak melindungi diri kami dari mereka.”

Catatan Kaki Halaman 5
[1] Waqidi: Maghazi, hlm.332.
[2] Pada masa itu, ada lembah bernama Lembah Nakhla yang sekarang dikenal dengan nama Wadi’ul Yamaniyah. Rute Makkah-Thaif melalui daerah ini. Namun Nakhla yang disebutkan di sini berada 4 atau 5 mil (6,4 atau 8 km-pent) di selatan Bir’ul Batsa.
[3] Ibnu Sa’ad: hlm. 657.



________________________________________________________________________________________________
(Halaman 6)

“Letakkan senjata kalian! Semua orang telah masuk Islam dan kalian tidak perlu membawa senjata,” perintah Khalid.

Seorang laki-laki dari Bani Jadzima berteriak pada teman-temannya, “Dia ini Khalid, anak Al-Walid. Hati-hati dengannya! Setelah meletakkan senjata, tangan akan diikat, dan setelah tangan diikat, leher akan dipotong!”[1]

Klan Khalid dan Bani Jadzima pernah bersengketa. Sebelum datangnya Islam, sekelompok kecil kafilah dagang Quraysy pulang dari Yaman. Mereka beristirahat di kampung Bani Jadzima, lalu Bani Jadzima menjarah barang mereka dan membunuh dua orang penting, yaitu ‘Awf, ayah dari ‘Abdurrahman bin ‘Awf, dan Fakiha bin Al-Mughirah, paman Khalid. ‘Abdurrahman kemudian membalas pembunuh ayahnya dan menyelesaikan perkara pribadinya itu. Namun, kematian Fakiha belum terbalaskan. Semua hal ini terjadi di masa jahiliyah.

Sekelompok orang Bani Jadzima tersebut saling berselisih di antara mereka sendiri, terutama kepada yang baru berteriak tadi, “Apa kamu membuat kita semua terbunuh? Semua suku telah meletakkan senjata mereka dan masuk Islam. Perang telah usai.”[2] Setelah argumen singkat, mereka memutuskan untuk meletakkan senjata mereka.

Kejadian berikutnya tidak terlalu jelas. Ada kemungkinan bahwa jiwa-jiwa kesukuan dan kejahiliyahan Khalid muncul kembali, ia baru beberapa bulan saja masuk Islam. Di sisi lain, ada juga kemungkinan bahwa baru masuknya Khalid ke dalam Islam menjadikan semangat keagamaannya terlalu berlebihan sehingga ia meragukan kejujuran ke-Islam-an Bani Jadzima. Setelah mereka meletakkan senjata mereka, Khalid memerintahkan pasukannya untuk mengikat tangan mereka. Kemudian ia memerintahkan agar mereka semua dibunuh. Hanya Bani Sulaym yang mematuhi Khalid dan membunuh tawanan mereka, jumlah mereka tidak diketahui. Pasukan Khalid dari sejumlah suku lainnya menolak untuk menjalankan perintah. Protes keras disuarakan oleh ‘Abdullah, anak ‘Umar, dan Abu Qatadah, namun Khalid menolak protes mereka. Abu Qatadah dengan segera pulang ke Makkah dan menginformasikan kepada nabi tentang apa yang telah Khalid lakukan.

Nabi sangat terkejut. Ia mengangkat tangannya ke langit dan berkata, “Ya Rab! Aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang Khalid lakukan.”[3] Ia kemudian mengirim ‘Ali dengan uang yang sangat besar untuk mengobati perasaan Bani Jadzima dan membayar denda pembunuhan. ‘Ali menjalankan misinya dengan baik dan tidak pulang sebelum Bani Jadzima benar-benar puas.

Khalid sekarang dipanggil oleh nabi untuk memberi penjelasan atas keputusannya. Khalid berkata bahwa ia tidak percaya bahwa para korban benar-benar masuk Islam, ia menganggap mereka terkesan bermaksud menipunya, dan Khalid beranggapan bahwa ia membunuh mereka di jalan Allah.

Abdurrahman bin ‘Awf hadir bersama nabi dalam sidang tersebut. Ketika ia mendengar penjelasan Khalid, ia berkata, “Engkau telah melakukan perbuatan jahiliyah di masa Islam.”

Mendengar ini, terlintas dalam pikiran Khalid keinginan membela diri dan ia menjawab, “Tetapi aku membalaskan dendam pembunuh ayahmu.” Abdurrahman menghardiknya, “Engkau bohong! Aku telah membunuh pembunuh ayahku di masa lalu dan mengembalikan kehormatan keluargaku. Engkau memerintahkan pembunuhan di Bani Jadzima sebagai pembalasan atas terbunuhnya pamanmu, Fakiha.”

Percakapan ini berlanjut menjadi debat panas antara keduanya. Debat ini menjadi bumerang bagi Khalid karena Abdurrahman adalah salah satu di antara Sepuluh Sahabat yang Diberkahi dan posisi ini termasuk posisi elit di jajaran sahabat. Sebelum debat ini semakin tidak terkontrol, nabi memotong dan berkata tegas, “Janganlah engkau cela para sahabatku, wahai Khalid! Seandainya engkau memiliki emas seukuran gunung dan menginfakkannya di jalan Allah, tetap tidak akan menyamai derajat sahabatku.”[4] Sebutan sahabat ini tentu saja mengacu pada sahabat-sahabat yang lebih awal masuk Islam, karena Khalid juga adalah seorang sahabat.

Dengan demikian, Khalid dinyatakan bersalah. Ia dimaafkan, tetapi ia mendapat pelajaran penting bahwa dirinya sebagai orang yang terlambat masuk Islam, statusnya tidaklah sama dengan sahabat-sahabat yang lebih awal masuk Islam, apalagi terhadap Sepuluh Sahabat yang Diberkahi. Pengalaman ini akan menjadi pelajaran berharga baginya untuk masa yang akan datang.

Catatan Kaki Halaman 6
[1] Ibnu Sa’ad: hlm. 659-660; Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 429.
[2] Ibid.
[3] Ibid.
[4] Ibnu Sa’ad: Vol. 2, hlm. 431.



--Akhir dari Bab 7--
Diubah oleh plonard 14-06-2016 09:13
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.