- Beranda
- Stories from the Heart
( TAMAT ) AKU, KAMU, DAN LEMON : BUKU HARIAN AIRIN
...
TS
beavermoon
( TAMAT ) AKU, KAMU, DAN LEMON : BUKU HARIAN AIRIN
Selamat datang di BeaverMoon Land
Sudah lama tak berjumpa dengan halaman ini dan biasanya cuma liat info-info HT doang.
Dan pada akhirnya ane kembali dengan membawa kisah yang ngga terlalu bagus

Spoiler for Tanya Jawab:
Q : Bang bakalan panen kentang lagi ngga?"
A : Kayaknya ngga, soalnya thread ini cuma 15 episode pendek
Q : Kok cuma 15 Bang?
A : Ya emang segitu adanya dan ngga ada yang ditambah-tambahin
Q : Update tiap hari kan?"
A : Sayangnya ngga tiap hari. Berhubung cuma 15 episode dan ane lagi lumayan sibuk jadi updatenya seminggu sekali (biasanya weekend)
Q : Ini cerita tentang apa Bang?
A : Ini adalah prekuel dari AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Bang, prekuel apa sih?
A : Ini cerita sebelum adanya AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Jadi saya harus baca AKU, KAMU, DAN LEMON dulu dong bang?
A : Sebaiknya seperti itu, tapi kalo mau ini duluan juga nggapapa
Q : Bang, Nanda apa kabar?
A : -_- pertanyaan yang pasti ane jarang jawab
A : Kayaknya ngga, soalnya thread ini cuma 15 episode pendek
Q : Kok cuma 15 Bang?
A : Ya emang segitu adanya dan ngga ada yang ditambah-tambahin
Q : Update tiap hari kan?"
A : Sayangnya ngga tiap hari. Berhubung cuma 15 episode dan ane lagi lumayan sibuk jadi updatenya seminggu sekali (biasanya weekend)

Q : Ini cerita tentang apa Bang?
A : Ini adalah prekuel dari AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Bang, prekuel apa sih?
A : Ini cerita sebelum adanya AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Jadi saya harus baca AKU, KAMU, DAN LEMON dulu dong bang?
A : Sebaiknya seperti itu, tapi kalo mau ini duluan juga nggapapa
Q : Bang, Nanda apa kabar?
A : -_- pertanyaan yang pasti ane jarang jawab
Jadi buat agan dan aganwati sekalian yang mau mengikuti thread ini seharusnya baca AKU, KAMU, DAN LEMONterlebih dahulu. Cuma kalo mau baca ini dulu ya nggapapa ngga ada larangannya

Selamat membaca

Spoiler for INDEX:
Episode 1
Episode 2
Episode 3
Episode 4
Episode 5
Episode 6
Episode 7a
Episode 7b
Episode 8a
Episode 8b
Episode 9a
Episode 9b
Episode 10
Episode 11a
Episode 11b
Episode 12
Episode 13a
Episode 13b
Episode 14a
Episode 14b
Episode 15
Episode 15 + 1 (Finale)
Bad News Lemon
Behind The Story (part 1)
Behind The Story (part 2)
Behind The Story (part 3 / finale)
Pemberitahuan
Episode 2
Episode 3
Episode 4
Episode 5
Episode 6
Episode 7a
Episode 7b
Episode 8a
Episode 8b
Episode 9a
Episode 9b
Episode 10
Episode 11a
Episode 11b
Episode 12
Episode 13a
Episode 13b
Episode 14a
Episode 14b
Episode 15
Episode 15 + 1 (Finale)
Bad News Lemon
Behind The Story (part 1)
Behind The Story (part 2)
Behind The Story (part 3 / finale)
Pemberitahuan
Diubah oleh beavermoon 28-01-2020 19:37
i4munited dan 13 lainnya memberi reputasi
14
77.8K
Kutip
417
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#115
Spoiler for Episode 10:
Sore ini aku sudah bersiap-siap untuk pergi ke sebuah tempat. Kutata rambutku yang sudah mulai panjang agar tidak terlalu berantakan, dan tentu saja hal ini membuat Nanda dan juga Widya memperhatikanku tidak henti-hentinya.
“Kalian kenapa sih ngeliatinnya kayak gitu banget?” Tanyaku melihat dari cermin
“Abang bisa dandan juga ternyata, ngga nyangka...” Kata Nanda
“Emang beda banget ya sama hari-hari biasa?” Tanyaku lagi
“Beda banget. Terakhir aku liat pas kita wisuda SMA dulu.” Jawab Widya
Aku membalikkan badanku untuk menunjukkan semua yang telah aku persiapkan pada hari ini. Jika aku pikir tentu saja aku hari ini sangat berbeda dengan hari-hari biasanya. Tidak ada lagi celana jeans yang sudah robek-robek, kaos sedikit ketat dan sendal hotel yang selalu aku kenakan. Kali ini satu set tuxedo dengan sepatu hitam mengkilap menjadi pakaianku, dan lebih spesialnya lagi ketika rambutku dapat terlihat lebih rapih dari biasanya.
“Kan kalo ngeliat Abang rapih jadinya gimana gitu...” Kata Nanda menghampiriku
“Ya ini kan cuma kalo ada acara doang, tiap hari kayak gini ngga betah Abang.” Kataku
“Ya maksudnya tingkat kerapihanya Bang, bukan tiap hari harus make ginian.” Kata Nanda
Widya tersenyum kepadaku dan kemudian mereka berdua mengantarkanku hingga menuju halaman depan rumah. Mobil tua ini sudah kupanaskan mesinnya dan aku sudah siap untuk berangkat.
“Kamu mau jagain Nanda dulu kan? Mungkin besok pagi aku baru bisa pulang.” Kataku
“Iya bisa kok, besok aku ngga terlalu sibuk jadi bisa anter sama jemput Nanda.” Kata Widya
Ia memasukan setengah badannya ke dalam mobil lewat jendela mobilku dan kami kembali berciuman dengan singkat di dalam sini, entah Nanda melihat atau tidak. Kemudian aku melajukan mobil ini menuju sebuah tempat yang cukup jauh dari rumahku dan mungkin akan memakan waktu hingga beberapa jam perjalanan.
Dan tibalah aku di sebuah tempat yang sangat mewah. Di pintu depan aku sudah disambut oleh teman-temanku. Kami masuk secara bersama-sama ke dalam untuk mengikuti acara demi acara yang akan berlangsung.
Umur hanyalah kumpulan dari angka-angka, bukanlah sesuatu yang dapat menentukan tingkat kedewasaan dari seseorang. Yang tua selalu lebih dewasa dibandingkan dengan yang lebih muda begitu juga sebaliknya, tergantung bagaimana kita menyikapi hal-hal yang datang pada hidup kita.
Dan inilah hari yang sudah aku dan beberapa temanku tunggu, sebuah perhelatan yang cukup membuat kami cukup takjub. Bima beserta dengan keluarga besarnya sudah berhadapan dengan Silvia dan juga keluarga besarnya. Sebuah pertemuan untuk yang pertama kalinya antara kedua keluarga besar untuk membicarakan tentang hal yang bukan mainan lagi, melainkan sesuatu yang memiliki keseriusan tingkat tinggi.
Aku duduk sedikit lebih jauh dari kerumunan dua keluarga besar itu bersama dengan teman-temanku, kami mengikuti acara ini hingga cukup menikmati acara demi acaranya. Hingga di momen yang sudah kami tunggu-tunggu yaitu sebuah pertukaran cincin antara Bima dan juga Silvia, mereka saling memasangkan cincin mereka dan membuat riuh para tamu undangan yang datang. Memang hanya sebuah acara pertunangan pada hari ini, namun tidak memungkinkan untuk mereka mengadakan pernikahan secepatnya.
“Bram, lu liat ngga cewe yang pake batik merah muda di pojokan sana?” Tanya Romi
“Iya liat kok, kenapa emang Mi?” Tanyaku penasaran
“Tet*nya gede banget ya, sampe batiknya sesek itu.” Kata Romi
Aku hanya bisa menahan tawa sedangkan Zahra yang juga mendengar akan hal itu melakukan protes kepada Romi. Sedari tadi kami berada di ruangan ini memang mata Romi tidak bisa untuk terdiam beberapa saat, ia terus saja memandangi wanita-wanita yang ada di dalam ruangan ini dan selalu terfokus pada tet*
Acara bersama keluarga telah selesai dan tersisalah kami di ruangan yang cukup besar dan juga mewah ini. Seorang pelayan membawa troli berisikan beberapa minuman yang cukup membuat kami sedikit kaget.
“Di acara tunangan lu aja udah ada ginian ya Bim, gimana ntar di resepsi?” Tanya Romi
“Malahan nanti di resepsi ngga ada, kalo ada ntar yang mabok banyak kan ribet juga.” Jelasnya
Romi mulai menuangkan minuman itu ke dalam gelas kami dan cheers sudah kami lakukan. Bincang-bincang ringan di ruangan yang sudah sangat sepi ini cukup membuatku merasa sangat nyaman.
“Jadi kapan nih kalian nikah? Kan tunangannya udah.” Tanya Zahra
“Nanti kali ya kalo kita udah sama-sama selesai kuliah, lagian juga aku harus balik lagi ke Wina minggu depan.” Kata Silvia
“Wah bakalan jarak jauh lagi ternyata? Sayang banget.” Kata Romi
“Ya mau gimana lagi Mi, pas banget dia dapet beasiswa di sana.” Kata Bima
“Yaudah lah itu kan cuma jarak, selagi kalian percaya satu sama lain pasti dimudahin jalannya.” Kataku
“Ini nih yang gue demen dari Bram, bukan orang tua tapi omongannya dalem banget.” Kata Bima menyalami tanganku
“Kayaknya kamu pengalaman banget Bram soal jarak jauh gitu, pernah ngerasain?” Tanya Zahra
“Ngga pernah, lagian dari dulu mana pernah gue pacaran.” Sanggahku
“Tenang aja Bram, nanti bakalan gue bantuin cari cewe yang lu mau. Lu mau yang segini, segini, apa segini?” Tanya Romi dengan memperagakan tangannya seperti setengah bulat yang semakin lama semakin besar
“Astaga tet* lagi...” Kata Bima
Dan tentu saja hal itu membuat kami semua tertawa. Perbincangan semakin larut dan entah sudah berapa minuman yang kami minum hingga tidak menyisakan setetes pun. Arlojiku sudah menunjuk tepat di angka satu dan tentu saja keadaan kami sudah tidak sesempurna seperti saat kami pertama datang ke sini. Zahra sudah merangkulku, Silvia sudah merangkul Bima dan Romi sedang berjalan menempel pada dinding menuju kamar kami. Aku dan Bima masuk ke dalam kamar yang sudah kami pesan dan menaruh Silvia dan juga Zahra di atas kasur. Setelah itu giliran Romi yang kami arahkan menuju kamar yang lain.
Romi memilih untuk tidur di kasur tambahan sedangkan aku dan Bima tidur di atas. Hal-hal yang jarang kami lakukan seperti saat ini, hanya dapat kami lakukan ketika kami sedang mengadakan sebuah acara bahagia ataupun semacamnya. Hingga mataku sudah tidak sanggup lagi untuk terbuka dan akhirnya aku tertidur.
------------------
Pagi ini aku cukup terkejut karena aku bangun bukan di kamarku dan aku kembali mengingat semuanya. Aku melihat Romi dan juga Bima yang masih tertidur dengan puasnya, dan aku memutuskan untuk pulang terlebih dahulu tanpa membangunkan mereka. Aku sedang mencari kunci mobilku, malah yang kudapatkan adalah sebuah hp milik Zahra. Aku mengingat semalam ia menitipkan kepadaku ketika ia pergi menuju kamar mandi bersama dengan Silvia.
Kubuka pintu kamarnya dan menemukan Zahra dan juga Silvia yang masih tertidur juga. Aku berjalan pelan dan menaruh hp milik Zahra di atas meja. Tiba-tiba saja Zahra sedikit mengangkat kepalanya dan membuatku terkejut. Aku berpikir bahwa ia sedang berada di bawah alam sadarnya. Kudorong kepalanya secara pelan hingga ia kembali tertidur, namun tangannya menarik tanganku dengan sedikit kencang hingga membuat wajahku hampir saja bersentuhan dengan wajahnya.
“Aku suka sama kamu, Bram...” Katanya dengan pelan
Itu hanyalah salah satu kejutan yang aku dapatkan darinya, setelah itu dengan cepat ia mengangkat kepalanya lagi dan ia menciumku singkat. Ia sudah kembali terlelap dalam tidurnya dan aku masih saja berdiri di depannya. Aku masih beranggapan bahwa itu hanya kegiatan alam bawah sadarnya saja, namun sepengetahuanku bahwa alam bawah sadarlah yang paling jujur. Beberapa pertanyaan sudah hinggap di kepalaku, namun aku tidak mau memikirkannya lagi.
Perjalanan pulang yang tidak bisa aku ceritakan bagaimana keadaannya, karena aku tersadar bahwa aku sudah berada di depan perumahanku. Aku tidak bisa mengingat apa yang sedari tadi aku lewati dan itu sedikit membuatku kebingungan.
Ku parkirkan mobilku di halaman rumah dan aku tidak menemukan mobil milik Widya. Aku masuk ke dalam dan tidak menemukan siapa-siapa, dan aku baru tersadar bahwa Nanda hari ini bersekolah dan Widya mungkin mengantarkannya dan kembali pada pekerjaannya. Dan aku cukup dipanikkan dengan jadwal pada hari ini, dua mata kuliah sudah menungguku. Dengan cepat aku bergegas mandi dan memakai pakaian, kembali pada Bramantyo yang biasanya.
Masuk kelas dengan terlambat bukanlah hal yang biasa untukku dan tentu saja aku tidak dapat menemukan Zahra, Bima dan juga Romi karena mereka pasti masih tertidur dengan indahnya. Dua jam pertama, aku tidak bisa mengerti apa yang diajarkan dosen ini. Berlanjut pada mata kuliah berikutnya dan lagi-lagi aku tidak dapat mengerti apa yang dosen itu ajarkan. Mungkin pengaruh minuman semalam dan waktu tidur yang sangat kurang.
Dengan gontai aku berjalan menuju kantin. Setelah memesan sebuah minuman “rasa-rasa” aku duduk di tempat biasa sambil menyalakan sebatang rokok. Tidak lama kemudian hpku berdering dan itu adalah panggilan video dari Zahra.
“Halo Zah...” Kataku melihat ke arah layarku
“Bram, kamu di kampus? Kapan pulangnya?” Tanyanya
“Tadi pagi pulang pas kalian masih tidur.” Jawabku
“Ah jahat lu ngga bangunin gue.” Kata Bima
“Gimana mau bangunin lu pada, orang pada pules gitu.” Jawabku
“Tapi lu absenin kita kan?” Tanya Romi dari belakang
“Tenang aja, aman semuanya.” Kataku
“Emang lu bener-bener dah Bram, salut gue.” Kata Bima
Panggilan itu terputus dengan sendirinya, mungkin koneksi internet sedang tidak bersahabat siang ini. Beberapa jam sudah aku lewati hingga akhirnya aku memutuskan untuk pulang menuju rumah. Hingga aku tiba kembali di rumah dan aku sudah menemukan mobil Widya lagi di halaman depan. Aku membuka pintu rumah dan tidak menemukan mereka, dengan cepat aku naik menuju kamarku. Nanda dan Widya sedang berada di balkon kamarku, berbincang dengan santainya. Langkahku terhenti mendengar apa yang sedang mereka perbincangkan.
“Ka Wid aku boleh nanya ngga?” Tanya Nanda
“Boleh dong cantik, kamu mau nanya apa emangnya?” Tanya Widya balik
“Sebenernya hubungan Ka Wid sama Abang itu apa sih? Aku sampe sekarang masih ngga ngerti.” Tanya Nanda lagi
Aku terkejut mendengar pertanyaan dari Nanda, dan ini mungkin akan membantuku untuk mencari jawaban atas semuanya. Kudengarkan secara seksama apa yang akan Widya jawab pada hari ini.
“Hubungan Ka Wid sama Abang kamu... kita dari dulu ngga pernah lebih dari temen Nda. Jujur aja dulu waktu SMA tuh Abang kamu pernah nyatain perasaannya ke Ka Wid, sayangnya dia ngga mau denger apa jawaban Ka Wid.” Katanya
Aku masih mendengarkan apa yang Widya katakan.
“Dari itu Ka Wid coba buat belajar apa maksud dari semuanya dan udah dapet disimpulin... Biarin semuanya berjalan aja, ngga perlu adanya sebuah ikatan. Terkadang sebuah ikatan itu yang bikin kita ngga leluasa untuk bergerak. Dan satu lagi, ini semua tentang keikhasan Nda...” Jawabnya
“Maksudnya keikhlasan apa Ka?” Tanya Nanda
“Ketika kita suka sama seseorang, belajarlah buat ikhlas sama semua hal. Jangan karena kita suka sama seseorang kita malah ngebatesin atau dibatesin. Biarin aja semuanya berlalu begitu aja karena dengan itu kita bisa tau arti sebuah keikhlasan yang sesungguhnya. Soal perasaan Ka Wid ke Abang kamu itu...”
Dengan cepat aku melempar tasku ke kasur untuk membuat sedikit kegaduhan dan tentu saja menghentikan pembicaraan mereka. Kemudian aku keluar dengan rokok yang sudah menyala di tangan.
“Loh kamu udah pulang Bram? Kok kita ngga denger kamu dateng?” Tanya Widya dengan cukup kaget
“Aku malah yang kaget kalian berdua ada di sini, biasanya main game.” Kataku
Nanda dan Widya hanya saling tatap karena mungkin mereka takut jika aku tau apa yang mereka bicarakan, padahal sudah dengan jelas aku mengetahui apa yang dari tadi mereka bicarakan.
Aku mendengar pintu gerbangku terbuka dan aku dapat melihat seekor Babon Kelabu memasuki rumahku. Tidak lama kemudian ia sudah berada di kamarku dengan gelagatnya yang sangat lemas dan mengherankan kami semua
“Nanda sama Widya balapan gih, Kamen Rider Eja lagi mau curhat sama Bang Bram...” Katanya dengan nada datar
Nanda dan Widya hanya bisa mengikuti apa yang Reza katakan. Seketika itu aku duduk di bangku melihat ke arah Reza yang sedang murung entah kenapa. Aku mulai menebak-nebak apa yang terjadi pada dirinya.
“Milka ngilang...” Katanya pelan
“Weh, dia diculik? Tau darimana lu?” Tanyaku dengan sangat kaget
“Bukan itu goblo*, maksud gue tuh dia udah berapa hari ini ngilang ngga ada kabar ke gue.” Kata Reza
Ekspresiku berubah dengan sangat cepat karena mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, yang awalnya sangat terkejut berubah menjadi pandangan malas ke arah Reza.
“Lu udah ngga ketemu di Club?” Tanyaku
“Udah berapa lama dia ngilang dari Club, ngga ada kabarnya pula, gue chat ngga pernah dibales, gue telpon ngga pernah diangkat.” Jelasnya
“Gue cukup prihatin sama lu Bon, ketika lu udah bener-bener suka sama orang pasti ada aja masalahnya...”Kataku
“Terus gue harus gimana?” Tanyanya kepadaku
“Ikhlas...” Jawabku singkat
Seketika aku mengingat apa yang baru saja aku dengar dari perbincangan Nanda dan juga Widya. Aku mencoba untuk merepresentasikan ini kepada Reza.
“Biarin semuanya berjalan apa adanya, jangan bikin diri lu tersiksa sama keadaan.” Kataku
Ia sempat terdiam beberapa saat dan kemudian tersenyum.
“Nah gitu dong senyum, santai aja.” Kataku
Ia masuk ke dalam kamarku dan kembali lagi dengan membawa gitar tua milikku. Ia menyerahkan gitar itu kepadaku dan aku menerimanya dengan cukup bingung.
“Nyanyiin lagu mellow dong...” Katanya
Aku hanya bisa menahan tawa melihat Reza kali ini. Tidak ada salahnya jika kita melakukan hal-hal seperti ini karena memang kita butuh waktu untuk bisa menghadapi ini semua. Sebuah keikhlasan adalah pembelajaran yang sangat sulit untuk dilakukan. Aku pernah mengalami hal seperti ini dan memang awalnya sangat sulit, waktu yang membantuku untuk belajar arti dari sebuah keikhlasan hingga akhirnya aku dapat mengerti semuanya.
“Kalian kenapa sih ngeliatinnya kayak gitu banget?” Tanyaku melihat dari cermin
“Abang bisa dandan juga ternyata, ngga nyangka...” Kata Nanda
“Emang beda banget ya sama hari-hari biasa?” Tanyaku lagi
“Beda banget. Terakhir aku liat pas kita wisuda SMA dulu.” Jawab Widya
Aku membalikkan badanku untuk menunjukkan semua yang telah aku persiapkan pada hari ini. Jika aku pikir tentu saja aku hari ini sangat berbeda dengan hari-hari biasanya. Tidak ada lagi celana jeans yang sudah robek-robek, kaos sedikit ketat dan sendal hotel yang selalu aku kenakan. Kali ini satu set tuxedo dengan sepatu hitam mengkilap menjadi pakaianku, dan lebih spesialnya lagi ketika rambutku dapat terlihat lebih rapih dari biasanya.
“Kan kalo ngeliat Abang rapih jadinya gimana gitu...” Kata Nanda menghampiriku
“Ya ini kan cuma kalo ada acara doang, tiap hari kayak gini ngga betah Abang.” Kataku
“Ya maksudnya tingkat kerapihanya Bang, bukan tiap hari harus make ginian.” Kata Nanda
Widya tersenyum kepadaku dan kemudian mereka berdua mengantarkanku hingga menuju halaman depan rumah. Mobil tua ini sudah kupanaskan mesinnya dan aku sudah siap untuk berangkat.
“Kamu mau jagain Nanda dulu kan? Mungkin besok pagi aku baru bisa pulang.” Kataku
“Iya bisa kok, besok aku ngga terlalu sibuk jadi bisa anter sama jemput Nanda.” Kata Widya
Ia memasukan setengah badannya ke dalam mobil lewat jendela mobilku dan kami kembali berciuman dengan singkat di dalam sini, entah Nanda melihat atau tidak. Kemudian aku melajukan mobil ini menuju sebuah tempat yang cukup jauh dari rumahku dan mungkin akan memakan waktu hingga beberapa jam perjalanan.
Dan tibalah aku di sebuah tempat yang sangat mewah. Di pintu depan aku sudah disambut oleh teman-temanku. Kami masuk secara bersama-sama ke dalam untuk mengikuti acara demi acara yang akan berlangsung.
Umur hanyalah kumpulan dari angka-angka, bukanlah sesuatu yang dapat menentukan tingkat kedewasaan dari seseorang. Yang tua selalu lebih dewasa dibandingkan dengan yang lebih muda begitu juga sebaliknya, tergantung bagaimana kita menyikapi hal-hal yang datang pada hidup kita.
Dan inilah hari yang sudah aku dan beberapa temanku tunggu, sebuah perhelatan yang cukup membuat kami cukup takjub. Bima beserta dengan keluarga besarnya sudah berhadapan dengan Silvia dan juga keluarga besarnya. Sebuah pertemuan untuk yang pertama kalinya antara kedua keluarga besar untuk membicarakan tentang hal yang bukan mainan lagi, melainkan sesuatu yang memiliki keseriusan tingkat tinggi.
Aku duduk sedikit lebih jauh dari kerumunan dua keluarga besar itu bersama dengan teman-temanku, kami mengikuti acara ini hingga cukup menikmati acara demi acaranya. Hingga di momen yang sudah kami tunggu-tunggu yaitu sebuah pertukaran cincin antara Bima dan juga Silvia, mereka saling memasangkan cincin mereka dan membuat riuh para tamu undangan yang datang. Memang hanya sebuah acara pertunangan pada hari ini, namun tidak memungkinkan untuk mereka mengadakan pernikahan secepatnya.
“Bram, lu liat ngga cewe yang pake batik merah muda di pojokan sana?” Tanya Romi
“Iya liat kok, kenapa emang Mi?” Tanyaku penasaran
“Tet*nya gede banget ya, sampe batiknya sesek itu.” Kata Romi
Aku hanya bisa menahan tawa sedangkan Zahra yang juga mendengar akan hal itu melakukan protes kepada Romi. Sedari tadi kami berada di ruangan ini memang mata Romi tidak bisa untuk terdiam beberapa saat, ia terus saja memandangi wanita-wanita yang ada di dalam ruangan ini dan selalu terfokus pada tet*
Acara bersama keluarga telah selesai dan tersisalah kami di ruangan yang cukup besar dan juga mewah ini. Seorang pelayan membawa troli berisikan beberapa minuman yang cukup membuat kami sedikit kaget.
“Di acara tunangan lu aja udah ada ginian ya Bim, gimana ntar di resepsi?” Tanya Romi
“Malahan nanti di resepsi ngga ada, kalo ada ntar yang mabok banyak kan ribet juga.” Jelasnya
Romi mulai menuangkan minuman itu ke dalam gelas kami dan cheers sudah kami lakukan. Bincang-bincang ringan di ruangan yang sudah sangat sepi ini cukup membuatku merasa sangat nyaman.
“Jadi kapan nih kalian nikah? Kan tunangannya udah.” Tanya Zahra
“Nanti kali ya kalo kita udah sama-sama selesai kuliah, lagian juga aku harus balik lagi ke Wina minggu depan.” Kata Silvia
“Wah bakalan jarak jauh lagi ternyata? Sayang banget.” Kata Romi
“Ya mau gimana lagi Mi, pas banget dia dapet beasiswa di sana.” Kata Bima
“Yaudah lah itu kan cuma jarak, selagi kalian percaya satu sama lain pasti dimudahin jalannya.” Kataku
“Ini nih yang gue demen dari Bram, bukan orang tua tapi omongannya dalem banget.” Kata Bima menyalami tanganku
“Kayaknya kamu pengalaman banget Bram soal jarak jauh gitu, pernah ngerasain?” Tanya Zahra
“Ngga pernah, lagian dari dulu mana pernah gue pacaran.” Sanggahku
“Tenang aja Bram, nanti bakalan gue bantuin cari cewe yang lu mau. Lu mau yang segini, segini, apa segini?” Tanya Romi dengan memperagakan tangannya seperti setengah bulat yang semakin lama semakin besar
“Astaga tet* lagi...” Kata Bima
Dan tentu saja hal itu membuat kami semua tertawa. Perbincangan semakin larut dan entah sudah berapa minuman yang kami minum hingga tidak menyisakan setetes pun. Arlojiku sudah menunjuk tepat di angka satu dan tentu saja keadaan kami sudah tidak sesempurna seperti saat kami pertama datang ke sini. Zahra sudah merangkulku, Silvia sudah merangkul Bima dan Romi sedang berjalan menempel pada dinding menuju kamar kami. Aku dan Bima masuk ke dalam kamar yang sudah kami pesan dan menaruh Silvia dan juga Zahra di atas kasur. Setelah itu giliran Romi yang kami arahkan menuju kamar yang lain.
Romi memilih untuk tidur di kasur tambahan sedangkan aku dan Bima tidur di atas. Hal-hal yang jarang kami lakukan seperti saat ini, hanya dapat kami lakukan ketika kami sedang mengadakan sebuah acara bahagia ataupun semacamnya. Hingga mataku sudah tidak sanggup lagi untuk terbuka dan akhirnya aku tertidur.
------------------
Pagi ini aku cukup terkejut karena aku bangun bukan di kamarku dan aku kembali mengingat semuanya. Aku melihat Romi dan juga Bima yang masih tertidur dengan puasnya, dan aku memutuskan untuk pulang terlebih dahulu tanpa membangunkan mereka. Aku sedang mencari kunci mobilku, malah yang kudapatkan adalah sebuah hp milik Zahra. Aku mengingat semalam ia menitipkan kepadaku ketika ia pergi menuju kamar mandi bersama dengan Silvia.
Kubuka pintu kamarnya dan menemukan Zahra dan juga Silvia yang masih tertidur juga. Aku berjalan pelan dan menaruh hp milik Zahra di atas meja. Tiba-tiba saja Zahra sedikit mengangkat kepalanya dan membuatku terkejut. Aku berpikir bahwa ia sedang berada di bawah alam sadarnya. Kudorong kepalanya secara pelan hingga ia kembali tertidur, namun tangannya menarik tanganku dengan sedikit kencang hingga membuat wajahku hampir saja bersentuhan dengan wajahnya.
“Aku suka sama kamu, Bram...” Katanya dengan pelan
Itu hanyalah salah satu kejutan yang aku dapatkan darinya, setelah itu dengan cepat ia mengangkat kepalanya lagi dan ia menciumku singkat. Ia sudah kembali terlelap dalam tidurnya dan aku masih saja berdiri di depannya. Aku masih beranggapan bahwa itu hanya kegiatan alam bawah sadarnya saja, namun sepengetahuanku bahwa alam bawah sadarlah yang paling jujur. Beberapa pertanyaan sudah hinggap di kepalaku, namun aku tidak mau memikirkannya lagi.
Perjalanan pulang yang tidak bisa aku ceritakan bagaimana keadaannya, karena aku tersadar bahwa aku sudah berada di depan perumahanku. Aku tidak bisa mengingat apa yang sedari tadi aku lewati dan itu sedikit membuatku kebingungan.
Ku parkirkan mobilku di halaman rumah dan aku tidak menemukan mobil milik Widya. Aku masuk ke dalam dan tidak menemukan siapa-siapa, dan aku baru tersadar bahwa Nanda hari ini bersekolah dan Widya mungkin mengantarkannya dan kembali pada pekerjaannya. Dan aku cukup dipanikkan dengan jadwal pada hari ini, dua mata kuliah sudah menungguku. Dengan cepat aku bergegas mandi dan memakai pakaian, kembali pada Bramantyo yang biasanya.
Masuk kelas dengan terlambat bukanlah hal yang biasa untukku dan tentu saja aku tidak dapat menemukan Zahra, Bima dan juga Romi karena mereka pasti masih tertidur dengan indahnya. Dua jam pertama, aku tidak bisa mengerti apa yang diajarkan dosen ini. Berlanjut pada mata kuliah berikutnya dan lagi-lagi aku tidak dapat mengerti apa yang dosen itu ajarkan. Mungkin pengaruh minuman semalam dan waktu tidur yang sangat kurang.
Dengan gontai aku berjalan menuju kantin. Setelah memesan sebuah minuman “rasa-rasa” aku duduk di tempat biasa sambil menyalakan sebatang rokok. Tidak lama kemudian hpku berdering dan itu adalah panggilan video dari Zahra.
“Halo Zah...” Kataku melihat ke arah layarku
“Bram, kamu di kampus? Kapan pulangnya?” Tanyanya
“Tadi pagi pulang pas kalian masih tidur.” Jawabku
“Ah jahat lu ngga bangunin gue.” Kata Bima
“Gimana mau bangunin lu pada, orang pada pules gitu.” Jawabku
“Tapi lu absenin kita kan?” Tanya Romi dari belakang
“Tenang aja, aman semuanya.” Kataku
“Emang lu bener-bener dah Bram, salut gue.” Kata Bima
Panggilan itu terputus dengan sendirinya, mungkin koneksi internet sedang tidak bersahabat siang ini. Beberapa jam sudah aku lewati hingga akhirnya aku memutuskan untuk pulang menuju rumah. Hingga aku tiba kembali di rumah dan aku sudah menemukan mobil Widya lagi di halaman depan. Aku membuka pintu rumah dan tidak menemukan mereka, dengan cepat aku naik menuju kamarku. Nanda dan Widya sedang berada di balkon kamarku, berbincang dengan santainya. Langkahku terhenti mendengar apa yang sedang mereka perbincangkan.
“Ka Wid aku boleh nanya ngga?” Tanya Nanda
“Boleh dong cantik, kamu mau nanya apa emangnya?” Tanya Widya balik
“Sebenernya hubungan Ka Wid sama Abang itu apa sih? Aku sampe sekarang masih ngga ngerti.” Tanya Nanda lagi
Aku terkejut mendengar pertanyaan dari Nanda, dan ini mungkin akan membantuku untuk mencari jawaban atas semuanya. Kudengarkan secara seksama apa yang akan Widya jawab pada hari ini.
“Hubungan Ka Wid sama Abang kamu... kita dari dulu ngga pernah lebih dari temen Nda. Jujur aja dulu waktu SMA tuh Abang kamu pernah nyatain perasaannya ke Ka Wid, sayangnya dia ngga mau denger apa jawaban Ka Wid.” Katanya
Aku masih mendengarkan apa yang Widya katakan.
“Dari itu Ka Wid coba buat belajar apa maksud dari semuanya dan udah dapet disimpulin... Biarin semuanya berjalan aja, ngga perlu adanya sebuah ikatan. Terkadang sebuah ikatan itu yang bikin kita ngga leluasa untuk bergerak. Dan satu lagi, ini semua tentang keikhasan Nda...” Jawabnya
“Maksudnya keikhlasan apa Ka?” Tanya Nanda
“Ketika kita suka sama seseorang, belajarlah buat ikhlas sama semua hal. Jangan karena kita suka sama seseorang kita malah ngebatesin atau dibatesin. Biarin aja semuanya berlalu begitu aja karena dengan itu kita bisa tau arti sebuah keikhlasan yang sesungguhnya. Soal perasaan Ka Wid ke Abang kamu itu...”
Dengan cepat aku melempar tasku ke kasur untuk membuat sedikit kegaduhan dan tentu saja menghentikan pembicaraan mereka. Kemudian aku keluar dengan rokok yang sudah menyala di tangan.
“Loh kamu udah pulang Bram? Kok kita ngga denger kamu dateng?” Tanya Widya dengan cukup kaget
“Aku malah yang kaget kalian berdua ada di sini, biasanya main game.” Kataku
Nanda dan Widya hanya saling tatap karena mungkin mereka takut jika aku tau apa yang mereka bicarakan, padahal sudah dengan jelas aku mengetahui apa yang dari tadi mereka bicarakan.
Aku mendengar pintu gerbangku terbuka dan aku dapat melihat seekor Babon Kelabu memasuki rumahku. Tidak lama kemudian ia sudah berada di kamarku dengan gelagatnya yang sangat lemas dan mengherankan kami semua
“Nanda sama Widya balapan gih, Kamen Rider Eja lagi mau curhat sama Bang Bram...” Katanya dengan nada datar
Nanda dan Widya hanya bisa mengikuti apa yang Reza katakan. Seketika itu aku duduk di bangku melihat ke arah Reza yang sedang murung entah kenapa. Aku mulai menebak-nebak apa yang terjadi pada dirinya.
“Milka ngilang...” Katanya pelan
“Weh, dia diculik? Tau darimana lu?” Tanyaku dengan sangat kaget
“Bukan itu goblo*, maksud gue tuh dia udah berapa hari ini ngilang ngga ada kabar ke gue.” Kata Reza
Ekspresiku berubah dengan sangat cepat karena mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, yang awalnya sangat terkejut berubah menjadi pandangan malas ke arah Reza.
“Lu udah ngga ketemu di Club?” Tanyaku
“Udah berapa lama dia ngilang dari Club, ngga ada kabarnya pula, gue chat ngga pernah dibales, gue telpon ngga pernah diangkat.” Jelasnya
“Gue cukup prihatin sama lu Bon, ketika lu udah bener-bener suka sama orang pasti ada aja masalahnya...”Kataku
“Terus gue harus gimana?” Tanyanya kepadaku
“Ikhlas...” Jawabku singkat
Seketika aku mengingat apa yang baru saja aku dengar dari perbincangan Nanda dan juga Widya. Aku mencoba untuk merepresentasikan ini kepada Reza.
“Biarin semuanya berjalan apa adanya, jangan bikin diri lu tersiksa sama keadaan.” Kataku
Ia sempat terdiam beberapa saat dan kemudian tersenyum.
“Nah gitu dong senyum, santai aja.” Kataku
Ia masuk ke dalam kamarku dan kembali lagi dengan membawa gitar tua milikku. Ia menyerahkan gitar itu kepadaku dan aku menerimanya dengan cukup bingung.
“Nyanyiin lagu mellow dong...” Katanya
Aku hanya bisa menahan tawa melihat Reza kali ini. Tidak ada salahnya jika kita melakukan hal-hal seperti ini karena memang kita butuh waktu untuk bisa menghadapi ini semua. Sebuah keikhlasan adalah pembelajaran yang sangat sulit untuk dilakukan. Aku pernah mengalami hal seperti ini dan memang awalnya sangat sulit, waktu yang membantuku untuk belajar arti dari sebuah keikhlasan hingga akhirnya aku dapat mengerti semuanya.
khuman dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Kutip
Balas