Sebelum kita mulai Bagian 12 ini, ane pengen share sebuah lagu instrumental (yang juga merupakan Original Soundtrack dari sebuah film thriller Korea) yang udah nemenin ane selama nulis cerita Bagian 11 dan 12. Rekomen buat didengerin sembari menikmati cerita...
Quote:
Izza bukan anak kandung Pak Haji. Cewek yang ane kenal pendiem, judes dan rajin bersihin halaman belakang rumah itu ternyata dipungut Pak Haji ketika dia masih bayi. Fakta itu terasa mentah sekaligus menghantam hati ane seketika. Rasanya terlalu cepat buat denger itu. Ada sebuah simpati yang tumbuh seketika, walau ane juga menyadari bahwa Izza dan ane tidak cukup dekat untuk sebuah simpati.
Keluarga kandung Izza adalah tetangga adik Pak Haji yang tinggal di kota sebelah. Ayahnya seorang pengurus masjid di desanya, sedangkan ibunya bekerja sebagai TKW di Malaysia. Sang ibu memutuskan berangkat ke Negeri Jiran setelah empat bulan menikah. Tujuannya untuk menopang ekonomi keluarga baru ini karena pekerjaan sang suami tidak cukup untuk memenuhi segala macam kebutuhan. Sang suami yang awalnya berat hati melepas istrinya, akhirnya luluh dan mengijinkan karena memang pertimbangan ekonomi tak bisa dibantah lagi.
Pada awalnya, semua berjalan baik-baik saja. Hingga bencana besar datang mengetuk pintu rumah keluarga itu, bersama kepulangan sang istri untuk pertama kali di tahun kedua sejak keberangkatannya. Sang istri pulang dengan deraian air mata yang awalnya tidak dimengerti oleh sang suami. Dia bahkan hingga bersujud mencium kaki sang suami dan terus-terusan meminta ampun.
Apa ini?? Apa maksudnya?? Sang suami terus mendesak sang istri untuk menjelaskan semuanya. Hingga terucaplah pengakuan yang tak hanya mengagetkan, tapi juga akan merubah keluarga itu untuk selama-lamanya. Sang istri hamil tiga bulan. Dan janin yang dikandungnya itu adalah benih dari majikannya yang keturunan Tionghoa. Sang istri mengaku dipaksa dan diancam akan dipotong-potong dengan pisau dapur jika berani bilang ke siapapun.
Malu tak bisa ditanggung, murka tak bisa dibendung. Itu jelas aib yang maha memalukan baginya yang dikenal warga sebagai pengurus masjid, muadzin dan terkadang mengisi khotbah di atas mimbar. Dengan amarah yang membara, dia tampar wajah istrinya berkali-kali hingga mengundang perhatian para tetangga untuk datang mendekat. Sang suami, masih dengan penuh amarah, memberi istrinya dua pilihan tegas; gugurkan kandungan atau pergi dari rumah ini dan kembali lagi dengan perut tanpa isi dan tanpa membawa bayi. Sang suami tak sudi mengasuh anak hasil perzinahan.
Singkatnya, sang istri memilih pilihan kedua, yang artinya dia harus minggat dari rumahnya sendiri dan pulang suatu hari nanti setelah melahirkan dan membuang anaknya entah kemana. Dia berencana pulang ke desa tempat orang tuanya, tapi malang tak kunjung berhenti. Kabar mengenai aib itu telah sampai ke desa orang tua sang istri, dan warga di sana menolak untuk menerima wanita malang itu untuk pulang ke rumah.
Setelah sempat terlantar di sana-sini, sang istri akhirnya ditolong dan dibawa oleh seorang pedagang bernama Mbak Mur yang memiliki warung di jalur pantura. Selama kehamilannya, ibu kandung Izza dirawat oleh Mbak Mur itu. Hingga ketika umur kehamilan menginjak sembilan bulan, Mbak Mur mengajak ibu kandung Izza ke kamarnya yang ada di bagian belakang warung.
"Aku sudah rawat kamu selama ini, tapi aku enggak punya duit buat membiayai persalinanmu. Mending dari sekarang kamu nyari orang yang mau ngeluarin duit. Biasanya, mereka yang mau juga bakal meminta hak asuh untuk anakmu itu." Begitulah kira-kira yang dikatan Mbak Mur kala itu.
Dan orang itu adalah keluarga adik Pak Haji. Mereka berbaik hati membiayai persalinan ibu kandung Izza. Dan benar saja apa kata Mbak Mur, setelah anak itu lahir suami adik Pak Haji meminta sang anak agar diberikan kepada mereka. "Nanti anakmu akan dirawat sama Masku yang tinggal di Kudus.". Sang ibu hanya mengangguk sambil terus berterima kasih.
Anak itu lalu oleh Pak Haji dinamai Izza, yang artinya kehormatan. Dia dirawat dengan baik oleh Pak Haji dan Bu Haji dengan baik dan penuh kasih hingga dia tumbuh menjadi anak gadis yang baik dan patuh kepada kedua orang tua angkatnya. Hingga menjadi gadis yang kini duduk satu meja dengan ane di sebuah kedai Es Krim di pinggiran kota Kudus.
"Apa kau pernah menengok ibumu?" Ane mencoba nanya, hanya untuk nunjukin tulusnya simpati ane ke dia. Dia ngejawab kalau dia sama Pak Haji dan Bu Haji masih suka nengokin ibu kandungnya, walau sangat jarang. Ane nyoba nanya lagi kenapa dia memilih tetap tinggal sama Pak Haji setelah tahu siapa ibu kandungnya.
"Kan yang ngerawat aku sampai aku segede ini mereka. Jadi kewajibanku dong buat berbakti, nurut dan membahagiakan mereka."
"Kalau ayahmu?"
"Dia pergi dari desa pas ibuku tinggal sama Mbak Mur. Katanya dia enggak kuat nanggung malu. Sampai sekarang dia enggak pernah balik dan enggak pernah ada yang tahu gimana nasibnya sekarang."
Quote:
Banyak hal gan...banyak hal yang dulu enggak pernah ane perhatiin, lalu menjadi sesuatu yang spesial buat ane tentang Izza. Kini ane tahu kenapa dia selalu tampak rajin banget setiap sore bersihin halaman belakang rumah pak Haji yang lumayan luas itu (sambil rambutnya digelung di belakang, hahaha...). Kini ane tahu kenapa dia mau-mau aja waktu Pak Haji nyuruh dia nemenin ane jalan-jalan. Kini ane tahu kenapa dia memilih jadi gadis rumahan, kaya tokoh Kak Ros di kartun Upin Ipin, padahal -seperti yang dia bilang- dia sebenernya punya jiwa petualang yang besar.
Semua karena dia ingin nunjukin rasa terima kasihnya kepada keluarga Pak Haji yang udah ngerawat dirinya dengan sangat amat baik. Ketika dia disuruh kakak-kakaknya untuk stay di Kudus buat jagain ayah ibunya, dia nurut. Ketika dia disuruh Pak Haji buat nemenin ane jalan, dia nurut. Walaupun itu semua sama sekali enggak nyaman buat dia. Izza enggak pernah protes, dia enggak mau protes. Karena dia sadar dimana dan bagaimana posisinya. Dia disekolahkan...SD, SMP, SMA bahkan hingga D3.
Di balik sosoknya yang judes, nyebelin dan galak itu, Izza adalah gadis muda yang dalemnya rapuh. Rapuh serapuh-rapuhnya. Dia menanggung beban sebesar itu selama hidupnya, tapi yang ane kagum dia selalu berusaha untuk selalu kuat dan lebih kuat dari sebelumnya. Dia berusaha kuat dengan nyeritain sendiri semua kisah yang udah agan baca di atas kepada ane tanpa menangis sedikitpun. Dia berusaha kuat untuk menekan dan mengubur dalam-dalam ego pribadinya demi keluarga super baik yang enggak sekadar ngerawat dia, tapi juga menyelamatkan hidupnya.
Berkaca dari Izza, kurang bersyukur apalagi ane ini seharusnya? Tiba-tiba ane jadi kangen sama ortu sendiri. Sejenak misi ane buat nyari Si Gadis Penyendiri harus ane delay untuk beberapa waktu. Ane sama Izza lalu keluar dari kedai Es Krim itu, dan pulang ke rumah Pak Haji. Kali ini ane yang pegang motor, dan dia nunjukin jalan pulang.
Sesampainya di rumah Pak Haji, Izza sempat jabat tangan ane sambil bilang terima kasih. Entah terima kasih untuk apa...mungkin untuk ane yang mau dengerin kisah hidupnya yang luar biasa itu. Dia tersenyum dan nyebut nama ane sebelum masuk ke dalam rumah dan punggungnya hilang di balik pintu.
Di detik itu, enggak ada hal lain yang ane mau selain pulang ke rumah dan kumpul bareng keluarga ane. Ngobrol-ngobrol sama bapak di depan TV. Nganterin ibu ke pasar. Bercanda dan jalan-jalan sama adik. Ngedeketin diri lagi kepada mereka. Ngehabisin waktu bersama.
Dan di dalam bus pulang, ane lagi-lagi keinget Izza. Kenapa selama ini ane bisa enggak sadar ya, kalau dia memiliki unsur Chinnese di parasnya? Ane lalu senyum-senyum sendiri...mungkin dia terlalu diem dan judes ampe ane enggak sadar kalau Izza itu sebenernya gadis yang bener-bener cantik.
Izza, Izza...semoga judesmu itu bisa ilang, biar cowok-cowok pada sadar kalau kamu itu sangat-sangat pantas buat dikejar. Hahahaha...