- Beranda
- Stories from the Heart
Aku dan Gadis Lugu
...
TS
spv7hqfj
Aku dan Gadis Lugu
SELAMAT DATANG

Cover by Agan Yushito13
Sebelumnya ane minta maaf buat para reader kalo tulisan ane acak acakan. Ane cuma berharap para readers bisa mengambil hikmah dari cerita ane ini.
Jangan lupa baca Sticky Rules SFTH ya gan? ane males kalo harus nulis ulang,
Jangan lupa juga buat ninggalin jejak sekedar ngasih kritik dan saran,
atau nebak2 jalan cerita BANTU RATE YA GAN hehehehe.
KASIH CENDOL JUGA BOLEH

ASALKAN JANGAN ADA BATA DIANTARA KITA GAN

AND THEN, DILARANG OOT

Spoiler for Top Thread:
Spoiler for CHAPTER 1:
Spoiler for CHAPTER 2:
Quote:
Diubah oleh spv7hqfj 22-07-2016 13:16
anasabila memberi reputasi
1
251.8K
902
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
spv7hqfj
#84
Eps. 7 - Rasa Aneh
Seminggu telah berlalu. Tidak ada yang menarik.
Pagi itu, ku berjalan menuju Sekolah. Seperti biasa, ku lihat sekitar menikmati udara sejuk kota Jogja. Dua sejoli berboncengan naik motor, Ibu penjual nasi kuning yang selalu ramai tiap harinya, seorang anak sekolah yang selalu membaca buku ditiap dia berjalan tanpa melihat kedepan. Dan selamat sampai tujuan.
"Hebat!" gumamku dalam hati. Mungkin itu bakat terpendam anak Indonesia.
Burung - burung berkicau kesana kemari. Bapak - bapak penjual pernak - pernik dan semua alat dan bahan semua ada sudah seperti toko serba ada. Ku lihat kiri dan kanan, mataku terhenti ketika melihat seorang siswi berlari melewatiku. Dengan gaya rambut ala kuncir kuda dan berhenti dikerumunan para pelajar lainnya.
Stop! tunggu. Kuncir? kuncir ya? hmmm.. apa ya?
ahhhhh... bodohnya aku sudah seminggu ini tetapi baru menyadarinya. Baru menyadari sebab pikiranku terganggu akhir akhir ini.
Sampailah ku di Sekolah.
"Hai." Sapaku kepada Tika yang sedari tadi sibuk membaca buku pelajaran.
"Hai juga bi." jawabnya. Lalu melanjutkan kesibukannya lagi.
Aku duduk di kursi sebelahnya, kulipat tanganku di atas meja dan menyenderkan kepala diatasnya. Sambil ku pandang wajah Tika.
"Tika, aku baru sadar selama seminggu ini kamu tidak memakai jepit rambut." kataku sambil senyum terkekeh.
"ah iya ini. Mengapa aku tidak memakai jepit rambut karena aku ingin terlihat berbeda saja. Aku sudah bosan dengan gaya rambutku yg dulu." jawabnya sambil mengelus elus rambutnya.
Indah pikirku.
"....."
"kenapa diam?" Tanya Tika. Yang membuatku tersadar dalam lamunan sesaat. Sungguh wajahnya manis sekali. Dikala dia berbicara dan terkadang terlihat gingsulnya yang menawan. Perasaan apa yang bergejolak di tubuhku saat ini? Aku tak tahu.
"hehhee tidak tidak." jawabku sambil berpura - pura mengambil buku di dalam tasku.
Semenjak Tika dekat denganku. Tidak ada siswa siswi yang berani mengganggunya. Entah kenapa aku juga tidak tahu. Mungkin wajahku menyeramkan? tidak juga. Badanku kekar? ah tidak juga. Wajahku tampan? Ahhh.. yang benar saja, tapi memang iya sih
.
Lonceng berbunyi tanda waktu istirahat tiba. Ku ajak Tika ke kantin sekolah.
"Tik, yuk ke kantin? Haus nih. Aku yang traktir." ajakku.
" emhh... gak deh bi terima kasih. Aku masih ingin membaca buku ini." jawabnya sambil menunjukan buku karya Chairil Anwar. Aku lupa judulnya.
"Yasudah ku ke kantin ya. Hati - hati. Jika ada yang ganggu, laporkan saja ke temanmu ini. Tobi." kataku sambil membusungkan dan menepuk dada.
"iya bi." jawabnya tanpa menoleh kearahku.
Huh, kurang menarikkah diriku dihadapannya?
................
Tak terasa esok sudah memasuki Ujian Semester 1. Aku dan Tika semakin akrab. Terkadang dia bermain ke rumahku, terkadang aku yang kerumah Tika. Aku dan Tika juga sudah mempunyai teman.
Dodi, dia selalu duduk di belakangku di kelas. Badannya besar untuk ukuran anak kelas 1. Dan dia sudah memiliki kumis yang aduhai haha. Akrab denganku karena sering bertanya jika ada pelajaran yang tidak ia mengerti.
Fitri, dia duduk di kursi paling depan dekat dengan meja guru. Wajahnya tidak cantik, tetapi manis. Semanis Tika. Akrab denganku karena... entahlah. Dia yang mengajak berkenalan. Sebatas teman.
Dodi dan Fitri mengenalku, otomatis mereka juga berkenalan dengan Tika. Yang membuat kami semakin akrab karena setiap ada Tugas kelompok, kami selalu bersama. Kebetulan nomor basen kami berurutan.
.......
Ujian Semesterpun di mulai.
Pagi itu, ku berjalan menuju Sekolah. Seperti biasa, ku lihat sekitar menikmati udara sejuk kota Jogja. Dua sejoli berboncengan naik motor, Ibu penjual nasi kuning yang selalu ramai tiap harinya, seorang anak sekolah yang selalu membaca buku ditiap dia berjalan tanpa melihat kedepan. Dan selamat sampai tujuan.
"Hebat!" gumamku dalam hati. Mungkin itu bakat terpendam anak Indonesia.
Burung - burung berkicau kesana kemari. Bapak - bapak penjual pernak - pernik dan semua alat dan bahan semua ada sudah seperti toko serba ada. Ku lihat kiri dan kanan, mataku terhenti ketika melihat seorang siswi berlari melewatiku. Dengan gaya rambut ala kuncir kuda dan berhenti dikerumunan para pelajar lainnya.
Stop! tunggu. Kuncir? kuncir ya? hmmm.. apa ya?
ahhhhh... bodohnya aku sudah seminggu ini tetapi baru menyadarinya. Baru menyadari sebab pikiranku terganggu akhir akhir ini.
Sampailah ku di Sekolah.
"Hai." Sapaku kepada Tika yang sedari tadi sibuk membaca buku pelajaran.
"Hai juga bi." jawabnya. Lalu melanjutkan kesibukannya lagi.
Aku duduk di kursi sebelahnya, kulipat tanganku di atas meja dan menyenderkan kepala diatasnya. Sambil ku pandang wajah Tika.
"Tika, aku baru sadar selama seminggu ini kamu tidak memakai jepit rambut." kataku sambil senyum terkekeh.
"ah iya ini. Mengapa aku tidak memakai jepit rambut karena aku ingin terlihat berbeda saja. Aku sudah bosan dengan gaya rambutku yg dulu." jawabnya sambil mengelus elus rambutnya.
Indah pikirku.
"....."
"kenapa diam?" Tanya Tika. Yang membuatku tersadar dalam lamunan sesaat. Sungguh wajahnya manis sekali. Dikala dia berbicara dan terkadang terlihat gingsulnya yang menawan. Perasaan apa yang bergejolak di tubuhku saat ini? Aku tak tahu.
"hehhee tidak tidak." jawabku sambil berpura - pura mengambil buku di dalam tasku.
Semenjak Tika dekat denganku. Tidak ada siswa siswi yang berani mengganggunya. Entah kenapa aku juga tidak tahu. Mungkin wajahku menyeramkan? tidak juga. Badanku kekar? ah tidak juga. Wajahku tampan? Ahhh.. yang benar saja, tapi memang iya sih
.Lonceng berbunyi tanda waktu istirahat tiba. Ku ajak Tika ke kantin sekolah.
"Tik, yuk ke kantin? Haus nih. Aku yang traktir." ajakku.
" emhh... gak deh bi terima kasih. Aku masih ingin membaca buku ini." jawabnya sambil menunjukan buku karya Chairil Anwar. Aku lupa judulnya.
"Yasudah ku ke kantin ya. Hati - hati. Jika ada yang ganggu, laporkan saja ke temanmu ini. Tobi." kataku sambil membusungkan dan menepuk dada.
"iya bi." jawabnya tanpa menoleh kearahku.
Huh, kurang menarikkah diriku dihadapannya?
................
Tak terasa esok sudah memasuki Ujian Semester 1. Aku dan Tika semakin akrab. Terkadang dia bermain ke rumahku, terkadang aku yang kerumah Tika. Aku dan Tika juga sudah mempunyai teman.
Dodi, dia selalu duduk di belakangku di kelas. Badannya besar untuk ukuran anak kelas 1. Dan dia sudah memiliki kumis yang aduhai haha. Akrab denganku karena sering bertanya jika ada pelajaran yang tidak ia mengerti.
Fitri, dia duduk di kursi paling depan dekat dengan meja guru. Wajahnya tidak cantik, tetapi manis. Semanis Tika. Akrab denganku karena... entahlah. Dia yang mengajak berkenalan. Sebatas teman.
Dodi dan Fitri mengenalku, otomatis mereka juga berkenalan dengan Tika. Yang membuat kami semakin akrab karena setiap ada Tugas kelompok, kami selalu bersama. Kebetulan nomor basen kami berurutan.
.......
Ujian Semesterpun di mulai.
Diubah oleh spv7hqfj 22-05-2016 20:40
JabLai cOY dan fabillillah memberi reputasi
3