- Beranda
- Stories from the Heart
i hate this love song
...
TS
27serafina
i hate this love song
Boleh dibilang ini adalah tempat aku menceritakan sebuah kisah di masa lalu yang rasanya kaya sebatang coklat. Manis pahit namun cepat meleleh saat digenggam sehingga harus segera dihabiskan.
Kisah yang berawal dari patah hati, saat aku benar benar membenci lagu cinta karena dikhianati.
Bukan, ini bukan tentang si pengkhianat itu. Ini tentang sosok yang membangunkanku dari keterpurukan. Seperti coklat, ia yang dibutuhkan saat depresi. Manis, meskipun agak pahit, namun harus segera dihabiskan jika tidak ingin meleleh di tangan.
Kisah yang berawal dari patah hati, saat aku benar benar membenci lagu cinta karena dikhianati.
Bukan, ini bukan tentang si pengkhianat itu. Ini tentang sosok yang membangunkanku dari keterpurukan. Seperti coklat, ia yang dibutuhkan saat depresi. Manis, meskipun agak pahit, namun harus segera dihabiskan jika tidak ingin meleleh di tangan.
Spoiler for Index:
Spoiler for Jadwal Update:
Spoiler for I Hate This Love Song:
Diubah oleh 27serafina 11-09-2023 21:53
anasabila memberi reputasi
1
5.6K
31
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
27serafina
#21
Chapter 9
Dillema - nelly & kelly
Sudah beberapa hari Lucky tidak memberi kabar semenjak kejadian itu. Sebagaimana seorang cewek aku menceritakan semuanya pada teman-teman satu geng. Pada saat yang sama, Luna yang sudah beberapa bulan jadian dengan Okta curhat kalau mereka putus karena mama Okta tidak menyetujui mereka pacaran.
Suatu malam ada sebuah sms dari nomor tak dikenal.
"Sen, ini Lucky pake nomor baru. Hape gue disita ibu. Ibu mikirnya gue minta keluar aksel karena pacaran. Jadi hapenya disita."
"Ya ampun Luck, terus ini pake hape siapa?"
"Hape gue yang lama. Untuk saat ini maaf ya ga bisa contact2an dulu."
Deg!
Lemes... Pikiranku kacau. Berputar-putar. Tiba-tiba aku merasa dunia berhenti berputar. Aku merasa sendiri.
Aku buang hapeku ke kasur lalu duduk tersungkur di lantai. Sambil menahan tangis aku langsung telpon Okta.
"Yooo.. Sen, ada apa?"
"Ok..ta.."
"Eh. Kenape lu?"
"Sini, ke rumah gue."
"Oke.."
Tidak berapa lama kemudian Okta sampai ke rumahku. Ekspresinya terlihat khawatir.
Okta memang salah satu sahabatku sejak kelas 1 SMA. Beberapa bulan yang lalu aku mencomblangi dia dengan Luna, namun mereka putus karena mama Okta tidak 'merestui' hubungan mereka.
"Lo kenapa Sen?"
"Gue pengen jalan-jalan keliling kota temenin gue, Ta!" kataku seraya naik ke atas motornya tanpa menghiraukan pertanyaannya.
Di perjalanan aku diam. Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Aku hanya butuh ditemani. Aku merasa sendiri, sehingga aku butuh adanya Okta di dekatku.
Aku berusaha untuk tidak menangis. Tapi dadaku terasa begitu sesak.
"Gue cuma butuh refreshing aja." ujarku setelah kami diam begitu lama.
"Oookey."
"Lo ama Luna gak bisa diperjuangin?"
"Susah, Sen. Tau sendiri nyokab gue."
Beberapa hari setelahnya, aku jadi sering keliling kota dengan Okta. Pulang pun kami sering bersama, sama seperti sebelum aku jadian dengan Arsya dulu.
Suatu hari, 13 Maret 2008, aku pulang sekolah dibonceng Okta seperti biasanya beberapa hari ini. Yang tidak biasa, ada sms masuk dari nomor Lucky.
"Sen, lagi apa?"
"Hape lo udah balik, Luck? Ini lagi di jalan mau pulang bareng Okta."
"Iya udah dibalikin ama nyokab akhirnya. Nanti telponan ya."
"Oke!"
Aku semangat lagi mendapat kabar dari Lucky. Sesampainya di rumah, aku menyalakan laptop dan membuka facebook. Di timeline muncul komen2an bercanda antara Lucky dan Sarah. Aku lihat tanggal dan waktunya, 2hari yang lalu sampai 11 menit yang lalu.
Hmmmm, ngehubungin gue baru bisa sekarang tapi komen2n d fb dengan cewek lain aktif terus, pikirku sedikit cemburu. Moodku yang tadi langsung hilang.
Cemburu? Jelas! Berhari-hari tanpa kabar, sekalinya memberi kabar ketahuan ternyata dia berkomen ria di sosmed dengan cewek lain!
"Udah sampe rumah, Luck." tulisku di sms. Tak berapa lama ia menelpon.
"Halo, Luck? Hape udah balik"
"Udah, Sen. Lagi apa?"
"Lagi telponan ama lo lah. Haha. Ibu beneran sampe segitunya gak bolehin lo pacaran?"
"Yapp.. Sampe segitunya."
"Hmmm..."
"Iyaaa... Hmmmm"
Lalu kami terdiam.
"Kata si Ayla, Okta ama Luna putus?"
"Iya. Gak boleh pacaran ama mamanya Okta."
"Kok sama ya?"
"Kenapa tiba-tiba ngomongin Okta? Bentar, lo contactan ama Ayla padahal udah beberapa hari ini lo aja gak contact gue, Luck!"
"Seandainya gue satu sekolah ama lo, tiap hari pasti gue juga anter jemput lo, Sen. Beruntung banget Okta," ujar Lucky sedikit cemburu.
"Kok omongannya jadi ga nyambung gini?"
"Gue dikabarin aja sama Ayla kalo lo tiap hari dianter jemput Okta."
"Luck? Are you okay?"
"Gak apa-apa, Sen. Cuma iri aja ama Okta."
"Gue udah sahabatan lama Luck, ama Okta. Kaya lo ama Sarah. Jadi lo gak perlu mikir aneh-aneh ya?"
"Haha nggak kok, Sen. Gak apa-apa."
Setelah telponan cukup lama sampai ibunya pulang, kami mengakhiri percakapan. Aku merindukannya. Aku ingin sekali ketemu. Aku ingin memeluknya saat ini juga.
Luck, kangen, ucapku dalam hati.
Sehabis makan malam, Okta seperti biasa main ke rumah. Kami ngobrol dan bercerita tentang apa saja. Saat itu kami sedang bercerita tentang mantannya semasa SMP, mantannya waktu itu sudah SMA.
"Gila lo, Ta!"
"Bahenol! Jago lagi baiknya! Gue aja diajarin ama dia! Kalah lo mah jauh kemana-mana. Haha"
"Sialan lo, Ta. Belom tau aja lo ciuman gue bikin cowok ketagihan!" ujarku tak mau kalah.
"Halah, lo mah baru juga baik ama Arsya kan? Kaga ada apa-apanya!"
"Kaga tau aja lo, Ta. Sekali ngerasain ketagihan lo nanti!"
"Ngomong doang!" tantangnya.
Entah setan apa yang merasukiku saat itu, seketika aku mencium bibirnya. Ini untuk membuktikan omonganku, pikirku saat itu. Bukan ciuman sekejap, tapi french kiss. Aku emosi jiwa dengan tantangannya.
Lumayan lama kami berciuman, kami seolah menikmatinya. Saat itu waktu seakan berhenti berputar.
Diantara nikmatnya ciuman tersebut aku merasa bersalah. Rasanya aku ingin menangis. Apa yang sedang aku lakukan? Aku bertanya dalam hati. Ciuman itu terasa begitu dalam, seolah kami sama-sama merindukannya selama ini.
Ya tuhan, apa yang baru saja terjadi?
Dillema - nelly & kelly
Sudah beberapa hari Lucky tidak memberi kabar semenjak kejadian itu. Sebagaimana seorang cewek aku menceritakan semuanya pada teman-teman satu geng. Pada saat yang sama, Luna yang sudah beberapa bulan jadian dengan Okta curhat kalau mereka putus karena mama Okta tidak menyetujui mereka pacaran.
Suatu malam ada sebuah sms dari nomor tak dikenal.
"Sen, ini Lucky pake nomor baru. Hape gue disita ibu. Ibu mikirnya gue minta keluar aksel karena pacaran. Jadi hapenya disita."
"Ya ampun Luck, terus ini pake hape siapa?"
"Hape gue yang lama. Untuk saat ini maaf ya ga bisa contact2an dulu."
Deg!
Lemes... Pikiranku kacau. Berputar-putar. Tiba-tiba aku merasa dunia berhenti berputar. Aku merasa sendiri.
Aku buang hapeku ke kasur lalu duduk tersungkur di lantai. Sambil menahan tangis aku langsung telpon Okta.
"Yooo.. Sen, ada apa?"
"Ok..ta.."
"Eh. Kenape lu?"
"Sini, ke rumah gue."
"Oke.."
Tidak berapa lama kemudian Okta sampai ke rumahku. Ekspresinya terlihat khawatir.
Okta memang salah satu sahabatku sejak kelas 1 SMA. Beberapa bulan yang lalu aku mencomblangi dia dengan Luna, namun mereka putus karena mama Okta tidak 'merestui' hubungan mereka.
"Lo kenapa Sen?"
"Gue pengen jalan-jalan keliling kota temenin gue, Ta!" kataku seraya naik ke atas motornya tanpa menghiraukan pertanyaannya.
Di perjalanan aku diam. Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Aku hanya butuh ditemani. Aku merasa sendiri, sehingga aku butuh adanya Okta di dekatku.
Aku berusaha untuk tidak menangis. Tapi dadaku terasa begitu sesak.
"Gue cuma butuh refreshing aja." ujarku setelah kami diam begitu lama.
"Oookey."
"Lo ama Luna gak bisa diperjuangin?"
"Susah, Sen. Tau sendiri nyokab gue."
Beberapa hari setelahnya, aku jadi sering keliling kota dengan Okta. Pulang pun kami sering bersama, sama seperti sebelum aku jadian dengan Arsya dulu.
Suatu hari, 13 Maret 2008, aku pulang sekolah dibonceng Okta seperti biasanya beberapa hari ini. Yang tidak biasa, ada sms masuk dari nomor Lucky.
"Sen, lagi apa?"
"Hape lo udah balik, Luck? Ini lagi di jalan mau pulang bareng Okta."
"Iya udah dibalikin ama nyokab akhirnya. Nanti telponan ya."
"Oke!"
Aku semangat lagi mendapat kabar dari Lucky. Sesampainya di rumah, aku menyalakan laptop dan membuka facebook. Di timeline muncul komen2an bercanda antara Lucky dan Sarah. Aku lihat tanggal dan waktunya, 2hari yang lalu sampai 11 menit yang lalu.
Hmmmm, ngehubungin gue baru bisa sekarang tapi komen2n d fb dengan cewek lain aktif terus, pikirku sedikit cemburu. Moodku yang tadi langsung hilang.
Cemburu? Jelas! Berhari-hari tanpa kabar, sekalinya memberi kabar ketahuan ternyata dia berkomen ria di sosmed dengan cewek lain!
"Udah sampe rumah, Luck." tulisku di sms. Tak berapa lama ia menelpon.
"Halo, Luck? Hape udah balik"
"Udah, Sen. Lagi apa?"
"Lagi telponan ama lo lah. Haha. Ibu beneran sampe segitunya gak bolehin lo pacaran?"
"Yapp.. Sampe segitunya."
"Hmmm..."
"Iyaaa... Hmmmm"
Lalu kami terdiam.
"Kata si Ayla, Okta ama Luna putus?"
"Iya. Gak boleh pacaran ama mamanya Okta."
"Kok sama ya?"
"Kenapa tiba-tiba ngomongin Okta? Bentar, lo contactan ama Ayla padahal udah beberapa hari ini lo aja gak contact gue, Luck!"
"Seandainya gue satu sekolah ama lo, tiap hari pasti gue juga anter jemput lo, Sen. Beruntung banget Okta," ujar Lucky sedikit cemburu.
"Kok omongannya jadi ga nyambung gini?"
"Gue dikabarin aja sama Ayla kalo lo tiap hari dianter jemput Okta."
"Luck? Are you okay?"
"Gak apa-apa, Sen. Cuma iri aja ama Okta."
"Gue udah sahabatan lama Luck, ama Okta. Kaya lo ama Sarah. Jadi lo gak perlu mikir aneh-aneh ya?"
"Haha nggak kok, Sen. Gak apa-apa."
Setelah telponan cukup lama sampai ibunya pulang, kami mengakhiri percakapan. Aku merindukannya. Aku ingin sekali ketemu. Aku ingin memeluknya saat ini juga.
Luck, kangen, ucapku dalam hati.
Sehabis makan malam, Okta seperti biasa main ke rumah. Kami ngobrol dan bercerita tentang apa saja. Saat itu kami sedang bercerita tentang mantannya semasa SMP, mantannya waktu itu sudah SMA.
"Gila lo, Ta!"
"Bahenol! Jago lagi baiknya! Gue aja diajarin ama dia! Kalah lo mah jauh kemana-mana. Haha"
"Sialan lo, Ta. Belom tau aja lo ciuman gue bikin cowok ketagihan!" ujarku tak mau kalah.
"Halah, lo mah baru juga baik ama Arsya kan? Kaga ada apa-apanya!"
"Kaga tau aja lo, Ta. Sekali ngerasain ketagihan lo nanti!"
"Ngomong doang!" tantangnya.
Entah setan apa yang merasukiku saat itu, seketika aku mencium bibirnya. Ini untuk membuktikan omonganku, pikirku saat itu. Bukan ciuman sekejap, tapi french kiss. Aku emosi jiwa dengan tantangannya.
Lumayan lama kami berciuman, kami seolah menikmatinya. Saat itu waktu seakan berhenti berputar.
Diantara nikmatnya ciuman tersebut aku merasa bersalah. Rasanya aku ingin menangis. Apa yang sedang aku lakukan? Aku bertanya dalam hati. Ciuman itu terasa begitu dalam, seolah kami sama-sama merindukannya selama ini.
Ya tuhan, apa yang baru saja terjadi?
0