- Beranda
- Stories from the Heart
( TAMAT ) AKU, KAMU, DAN LEMON : BUKU HARIAN AIRIN
...
TS
beavermoon
( TAMAT ) AKU, KAMU, DAN LEMON : BUKU HARIAN AIRIN
Selamat datang di BeaverMoon Land
Sudah lama tak berjumpa dengan halaman ini dan biasanya cuma liat info-info HT doang.
Dan pada akhirnya ane kembali dengan membawa kisah yang ngga terlalu bagus

Spoiler for Tanya Jawab:
Q : Bang bakalan panen kentang lagi ngga?"
A : Kayaknya ngga, soalnya thread ini cuma 15 episode pendek
Q : Kok cuma 15 Bang?
A : Ya emang segitu adanya dan ngga ada yang ditambah-tambahin
Q : Update tiap hari kan?"
A : Sayangnya ngga tiap hari. Berhubung cuma 15 episode dan ane lagi lumayan sibuk jadi updatenya seminggu sekali (biasanya weekend)
Q : Ini cerita tentang apa Bang?
A : Ini adalah prekuel dari AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Bang, prekuel apa sih?
A : Ini cerita sebelum adanya AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Jadi saya harus baca AKU, KAMU, DAN LEMON dulu dong bang?
A : Sebaiknya seperti itu, tapi kalo mau ini duluan juga nggapapa
Q : Bang, Nanda apa kabar?
A : -_- pertanyaan yang pasti ane jarang jawab
A : Kayaknya ngga, soalnya thread ini cuma 15 episode pendek
Q : Kok cuma 15 Bang?
A : Ya emang segitu adanya dan ngga ada yang ditambah-tambahin
Q : Update tiap hari kan?"
A : Sayangnya ngga tiap hari. Berhubung cuma 15 episode dan ane lagi lumayan sibuk jadi updatenya seminggu sekali (biasanya weekend)

Q : Ini cerita tentang apa Bang?
A : Ini adalah prekuel dari AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Bang, prekuel apa sih?
A : Ini cerita sebelum adanya AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Jadi saya harus baca AKU, KAMU, DAN LEMON dulu dong bang?
A : Sebaiknya seperti itu, tapi kalo mau ini duluan juga nggapapa
Q : Bang, Nanda apa kabar?
A : -_- pertanyaan yang pasti ane jarang jawab
Jadi buat agan dan aganwati sekalian yang mau mengikuti thread ini seharusnya baca AKU, KAMU, DAN LEMONterlebih dahulu. Cuma kalo mau baca ini dulu ya nggapapa ngga ada larangannya

Selamat membaca

Spoiler for INDEX:
Episode 1
Episode 2
Episode 3
Episode 4
Episode 5
Episode 6
Episode 7a
Episode 7b
Episode 8a
Episode 8b
Episode 9a
Episode 9b
Episode 10
Episode 11a
Episode 11b
Episode 12
Episode 13a
Episode 13b
Episode 14a
Episode 14b
Episode 15
Episode 15 + 1 (Finale)
Bad News Lemon
Behind The Story (part 1)
Behind The Story (part 2)
Behind The Story (part 3 / finale)
Pemberitahuan
Episode 2
Episode 3
Episode 4
Episode 5
Episode 6
Episode 7a
Episode 7b
Episode 8a
Episode 8b
Episode 9a
Episode 9b
Episode 10
Episode 11a
Episode 11b
Episode 12
Episode 13a
Episode 13b
Episode 14a
Episode 14b
Episode 15
Episode 15 + 1 (Finale)
Bad News Lemon
Behind The Story (part 1)
Behind The Story (part 2)
Behind The Story (part 3 / finale)
Pemberitahuan
Diubah oleh beavermoon 28-01-2020 19:37
i4munited dan 13 lainnya memberi reputasi
14
77.7K
Kutip
417
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#106
Spoiler for Episode 9b:
Hari baru dengan awal mula yang baru. Pagi ini aku bangun lebih dulu dari matahari, dan aku melihat Widya masih terlelap dalam tidurnya yang damai. Kucium keningnya dan ternyata hal ini membuatnya terbangun dari tidurnya. Ia tersenyum kepadaku dan kubalas senyumannya, kemudian aku bangun dari atas kasur ini untuk ke kamar mandi.
“Kamu ngga ngapa-ngapain kan semalem?” Tanya Widya
“Aku ngga sekotor itu kok.” Jawabku
Ia tersenyum kepadaku dan memang benar saja, untuk melakukan hal yang tergolong pribadi itu aku harus berfikir hingga berulang kali. Sah saja jika aku sudah memiliki hubungan yang sah secara agama dan secara hukum, dan aku tidak akan pernah melakukan hal itu kepada siapa pun hingga tiba waktunya.
Pagi ini aku dan Widya sedang berada di dapur karena kali ini aku akan menyiapkan sarapan untuknya. Sebuah hal yang sudah lama tidak aku lakukan dan mungkin butuh sedikit waktu untuk memikirkan apa yang akan aku sajikan untuknya. Dan terpilihlah sandwich dan juga omellete yang sedang aku persiapkan. Hampir sekitar setengah jam berkutat dengan beberapa bahan akhirnya selesai sudah dan kami sedang menyantapnya sambil menonton acara pagi di tv.
Selesai dari ruang tv akhirnya kami memilih teras depan rumah untuk berbincang sesaat. Sebuah coklat panas dan juga kopi hitam sudah tersedia di atas meja, begitu juga dengan rokok yang ada di tanganku. Kami mendengar ada suara dari balik pintu gerbang yang membuat penasaran. Aku disusul oleh Widya membuka pintu gerbang itu dan pagi ini sebuah kejutan datang entah bagaimana caranya. Aku menemukan Nanda yang dirangkul oleh dua temannya dengan keadaan yang bisa dibilang hampir tidak sadar. Aku sangat terkejut dengan apa yang terjadi, dengan cepat kupegang Nanda.
“Kenapa sama Adek gue?” Tanyaku dengan keadaan sangat panik
Dua orang temannya hanya bisa terdiam saat aku melontarkan pertanyaan itu. Widya menyuruhku untuk membawa Nanda ke dalam beserta dengan teman-temannya. Tiba di kamarku kubaringkan Nanda di atas kasur, berjuta tanya sudah siap aku lontarkan lewat mulutku.
“Kenapa sama Adek gue?” Tanyaku lagi
“Maafin kita Bang Bram...” Kata salah satu temannya
“Gue ngga butuh maaf kalian, gue butuh jawaban kenapa sama adek gue?” Tanyaku untuk yang ketiga kalinya
“Bram tenang dulu. Kalian ceritain pelan-pelan, ngga bakalan kita apa-apain.” Kata Widya
“Jadi semalem kita bertiga emang punya rencana buat nginep di rumahnya temen kita, pas di sana ternyata udah ada Rio sama temen-temen cowoknya yang lain. Dan kita ngga nyangka aja kalo Rio bakalan bawa minuman alkohol gitu ngga tau namanya apaan. Kita dipaksa buat minum, apalagi Nanda. Kata Rio dia harus minum buat buktiin cintanya dan bener aja si Nanda malah minum sampe berapa kali. Tiba-tiba aja Rio pergi sama temen-temennya ninggalin Nanda yang udah ngga sadar itu Bang.” Jelas temannya yang satu lagi
“Kalian gila ya! Bayangin aja malem-malem ada cowo sama kalian udah gitu kalian biarin Nanda buat minum? Temen macem apa kalian!” Kataku dengan nada yang cukup tinggi
“Kita juga ngga tau Bang harus gimana lagi, kita udah bingung.” Jelas temannya lagi
“Bram cukup, yaudah mending kalian pulang aja. Makasih ya udah mau nganterin Nanda pulang.” Kata Widya
“Bang Bram kita minta maaf ya.” Kata mereka
Aku menghela nafas cukup panjang dan kemudian aku mengangguk.
“Maafin gue udah marahin kalian. Makasih udah nganterin Nanda pulang, Wid anterin mereka sampe depan.” Kataku
Di hadapanku terbaring Nanda dengan keadaan yang hampir tidak sadar, hanya warna putih yang dapat terlihat dari matanya. Kesal, marah, dan kecewa sudah bercampur aduk saat ini. Kuambil hpku dan mencoba untuk menghubungi Reza. Beberapa kali kutelpon tidak ada balasan hingga akhirnya ia menjawabnya.
“Apaan deh ganggu waktu tidur gue aja.” Protesnya
“Buat ngga mabok minum susu putih kan?” Tanyaku
“Iya, emang lu mabok? Tumben banget sampe mabok.” Tanyanya
“Bukan gue, Nanda!” Kataku
“Anjin*!! Gue ke sana sekarang!” Katanya
Aku menutup panggilan tersebut, Widya yang sudah naik kembali kusuruh untuk menjaga Nanda selagi aku menuju dapur. Di dalam kulkas aku menemukan sekaleng susu untuk diminum oleh Nanda. Setelah meminum susu tersebut aku menyuruh Widya untuk menemani Nanda ke kamar mandi.
Kedatangan Reza lebih cepat dari yang kuduga, ia naik menuju kamarku meninggalkan mobilnya yang ia parkir seadanya. Ia sudah berada di depanku, bahkan celana pink motif hello kitty yang ia kenakan tidak mampu membuatku untuk tertawa disaat kondisi seperti ini.
“Mana si Nanda?” Tanyanya
“Di kamar mandi, tadi udah gue suruh minum susu putih terus biarin Widya aja yang nemenin dia.” Kataku
“Jadi bakalan kita pukulin nih si Iyo bangsa* itu?” Tanya Reza dengan semangat
“Lu mau nginep di Polsek?” Tanyaku balik kepada Reza
“Ngga jadi kita pukulin...” Kata Reza memelan
Kubuka bungkusan rokok ini untuk mengambil dua batang, satu untukku dan satu lagi untuk Reza. Asap putih sudah berhembus satu sama lain hingga kemudian Widya sedang merangkul Nanda keluar dari kamar mandi dan ia merebahkan Nanda kembali di atas kasur. Widya menghampiri kami yang sedang berdiri di balkon.
“Udah keluar semua tadi, terus dia kayak ngomong-ngomong gitu.” Kata Widya
“Dia ngomong apaan aja?” Tanya Reza
“Ngga begitu jelas sih, yang kedengeran itu katanya dia ngga masalah kalo pulang keadaan gini ketemu Ayah sama Ibu, kecuali kalo ketemu Bang Bram. Dia bilang pasti Bang Bram bakalan marah banget sama dia.” Jelas Widya
Aku sedang memandanginya kali ini, dan rasanya antara marah dan sedih sudah berkumpul menjadi sebuah emosi yang baru entah apa namanya. Kami bertiga secara bersamaan untuk menghubungi seseorang berkaitan dengan hal ini.
“Halo...”
“Halo Zah, nanti bilangin ke dosen ya kalo gue absen dulu hari ini.” Kataku
“Kok tumben banget kamu absen? Ngga biasanya.” Tanyanya
“Nanda lagi sakit, makannya harus ditungguin.” Jelasku
“Oh gitu, yaudah semoga Nanda cepet sembuh ya Bram.” Katanya
“Iya makasih ya Zah..” Kataku
“Halo...”
“Selamat pagi Mas, bisa mundurin pertemuan hari ini ngga?” Tanya Widya
“Loh kenapa sama hari ini Mba?” Tanya seseorang di sana
“Adik aku lagi sakit jadi harus ditungguin dulu, maaf banget ya.” Jelas Widya
“Oh gitu ya, nanti coba saya atur lagi ya jadwalnya.”
“Makasih ya Mas.”
“Halo! Apaan sih ganggu tidur gue aja.”
“Bro, nanti malem kayaknya gue ngga bisa jaga bar nih...” Kata Reza
“Loh kenapa? Kan libur lu minggu depan.”
“Adek gue sakit Bro, harus ditungguin dia.” Jelas Reza juga
“Oh gitu, yaudah yaudah ntar gue yang jaga. Cepet sembuh buat adek lu.”
“Oke makasih banget Bro.”
Itu lah yang kami bertiga lakukan, padahal Nanda adalah adikku namun mereka merasa bahwa Nanda adalah adik mereka juga yang harus bisa mereka jaga. Dan di sinilah kami bertiga melihat ke arah dimana Nanda sedang tertidur di atas kasur.
“Dia masih lucu juga ya mau kayak gimana juga.” Kata Widya
“Mau bagaimanapun dia, Nanda udah gue anggep kayak adek gue sendiri.” Kata Reza
“Dia udah bukan adek gue lagi...” Kataku
Reza dan juga Dinda melihatku dengan cepat, mungkin mereka tidak percaya dengan apa yang barusan ku katakan.
“Bram, udah deh. Bukan salah dia juga...” Kata Reza
“Dia udah bukan adek gue lagi, tapi dia itu malaikat kecil yang bakalan gue jaga dari iblis-iblis yang mencoba buat nyabut bulu di sayapnya.” Kataku
Reza menghela nafasnya setelah mendengar apa yang barus aja aku katakan, sedangkan Widya memelukku dengan cukup erat. Dan mungkin mulai saat ini aku akan sedikit lebih hati-hati dengan siapa saja yang bersama dengan Nanda. Kejadian ini menjadi pukulan telak untukku karena terlalu membiarkannya menghadapi dunia yang terlalu gelap untuk dilewatinya sendiri.
Siang sudah menjelang, aku, Reza dan juga Widya sedang berada di balkon setelah makan siang. Aku melihat ke dalam dan sepertinya Nanda sudah mulai sadar, Widya dengan Reza masuk ke dalam untuk melihat keadaan Nanda.
“Hai cantik, gimana kamu? Udah mendingan?” Tanya Widya
“Abang mana Ka Wid? Abang kemana Bang Eja?” Tanya Nanda seperti orang ketakutan
“Udah nggapapa, emang kenapa kalo ada Bang Bram?” Tanya Reza
“Aku takut banget kalo Abang tau aku begini, sumpah aku takut banget Ka Wid, Bang Eja.” Kata Nanda sambil meneteskan air mata
“Kalo Abang tau gimana?” Tanyaku muncul dari balkon
“Abang...”
Nanda menangis, air matanya sudah tak terbendung lagi. Mungkin ia merasa lebih takut kepadaku karena aku yang lebih sering mengurusnya daripada Ayah dan juga Ibu. Aku duduk di sampingnya sambil menatapnya dengan tajam. Widya dan Reza hanya bisa saling pandang karena tidak tau apa yang akan aku lakukan kepada Nanda.
“Bang... Maafin aku, aku ngga bisa jaga kepercayaan Abang.” Ucapnya lirih
“Tau ngga apa yang Abang rasain pas ngeliat kamu dirangkul sama temen-temen kamu dengan keadaan kamu yang udah hampir ngga sadar tadi pagi? Abang tuh marah, abang tuh kecewa, abang juga sedih. Abang ngga tau harus marah sama siapa. Dan abang ngerasa kalo Abang udah gagal ngejaga kamu...” Kataku meneteskan air mata
Widya yang berada di sampingku mengelus pundakku secara pelan dan Nanda hanya terdiam dalam tangisnya.
“Kamu udah bukan adek Abang lagi...” Kataku
“Bram cukup!” Kata Widya dengan nada yang cukup tinggi
“Apa lagi Wid! Udah jelas kan semuanya!” Kataku dengan nada yang cukup tinggi juga
Kami semua terdiam siang ini untuk beberapa saat.
“Kamu udah bukan adek abang lagi, tapi kamu itu malaikat kecil yang bakalan abang jaga dari iblis di luar sana yang nyoba buat cabutin bulu-bulu di sayap kamu.” Kataku
Aku memeluk Nanda dan Nanda membalasnya lebih erat. Sebuah peristiwa yang dapat menjadi sebuah pembelajaran untuk ke depannya. Jaga apa yang sudah kalian punya, jangan rusak sedikit pun karena itu tidak akan sama lagi.
Tiba-tiba saja Reza bangun dari duduknya dan bergaya seperti seorang Kamen Rider yang bersiap untuk menaklukan musuh-musuhnya.
“Baiklah, Bang Bram sama Kamen Rider Eja akan membasmi si Iyo bangsa* itu!” Katanya dengan semangat
“Heh Kamen Rider mana yang pake kostum celana pendek pink ada hello kittynya?” Tanyaku
“Yah tadi kan buru-buru, lu mah gitu.” Katanya
Kami tertawa melihat ekspresi dari Reza, seorang sahabat yang dapat dengan cepat mencairkan suasana. Aku berharap kita semua dapat saling menjaga satu sama lain hingga kapan pun itu.
Malam sudah datang dan setelah menyantap makan malam yang dibeli Reza tadi, Aku dan Widya sedang berada di dalam kamar melihat Nanda dan juga Reza yang sudah tertidur dengan pulasnya.
“Mereka kebiasaan ya kalo udah selesai makan pasti tidur.” Kata Widya
“Kamu kayak baru liat mereka aja deh...” Kataku
Widya bangun dari duduknya dan melangkah menuju ke tembok yang bersampingan dengan kasurku. Aku ikut bangun untuk menghampirinya dan sepertinya ia sedang fokus ke sebuah objek di dinding itu.
“Kamu masih nyimpen ini?” Tanyanya
“Masih kok...” Jawabku singkat
Ia menghadap ke arahku seraya tersenyum.
Sebuah plester yang sudah menghitam dan menempel di dinding ini, tulisannya masih dapat dibaca dengan jelas. Aku sengaja menempelnya di dinding agar aku bisa ingat setiap momen yang aku jalani bersama dengan Widya. Kami saling bertatapan satu sama lain dan ia menyentuh pelipis kiriku.
“Ini kan yang luka itu?” Tanyanya
“Iya kamu masih inget juga...” Jawabku
Ia berjinjit dan kemudian mencium bibirku lagi namun sedikit lebih cepat. Kemudian ia memelukku dan kubalas pelukannya. Bagaimana pun caranya, aku akan menjagamu sampai kapan pun...
“Kamu ngga ngapa-ngapain kan semalem?” Tanya Widya
“Aku ngga sekotor itu kok.” Jawabku
Ia tersenyum kepadaku dan memang benar saja, untuk melakukan hal yang tergolong pribadi itu aku harus berfikir hingga berulang kali. Sah saja jika aku sudah memiliki hubungan yang sah secara agama dan secara hukum, dan aku tidak akan pernah melakukan hal itu kepada siapa pun hingga tiba waktunya.
Pagi ini aku dan Widya sedang berada di dapur karena kali ini aku akan menyiapkan sarapan untuknya. Sebuah hal yang sudah lama tidak aku lakukan dan mungkin butuh sedikit waktu untuk memikirkan apa yang akan aku sajikan untuknya. Dan terpilihlah sandwich dan juga omellete yang sedang aku persiapkan. Hampir sekitar setengah jam berkutat dengan beberapa bahan akhirnya selesai sudah dan kami sedang menyantapnya sambil menonton acara pagi di tv.
Selesai dari ruang tv akhirnya kami memilih teras depan rumah untuk berbincang sesaat. Sebuah coklat panas dan juga kopi hitam sudah tersedia di atas meja, begitu juga dengan rokok yang ada di tanganku. Kami mendengar ada suara dari balik pintu gerbang yang membuat penasaran. Aku disusul oleh Widya membuka pintu gerbang itu dan pagi ini sebuah kejutan datang entah bagaimana caranya. Aku menemukan Nanda yang dirangkul oleh dua temannya dengan keadaan yang bisa dibilang hampir tidak sadar. Aku sangat terkejut dengan apa yang terjadi, dengan cepat kupegang Nanda.
“Kenapa sama Adek gue?” Tanyaku dengan keadaan sangat panik
Dua orang temannya hanya bisa terdiam saat aku melontarkan pertanyaan itu. Widya menyuruhku untuk membawa Nanda ke dalam beserta dengan teman-temannya. Tiba di kamarku kubaringkan Nanda di atas kasur, berjuta tanya sudah siap aku lontarkan lewat mulutku.
“Kenapa sama Adek gue?” Tanyaku lagi
“Maafin kita Bang Bram...” Kata salah satu temannya
“Gue ngga butuh maaf kalian, gue butuh jawaban kenapa sama adek gue?” Tanyaku untuk yang ketiga kalinya
“Bram tenang dulu. Kalian ceritain pelan-pelan, ngga bakalan kita apa-apain.” Kata Widya
“Jadi semalem kita bertiga emang punya rencana buat nginep di rumahnya temen kita, pas di sana ternyata udah ada Rio sama temen-temen cowoknya yang lain. Dan kita ngga nyangka aja kalo Rio bakalan bawa minuman alkohol gitu ngga tau namanya apaan. Kita dipaksa buat minum, apalagi Nanda. Kata Rio dia harus minum buat buktiin cintanya dan bener aja si Nanda malah minum sampe berapa kali. Tiba-tiba aja Rio pergi sama temen-temennya ninggalin Nanda yang udah ngga sadar itu Bang.” Jelas temannya yang satu lagi
“Kalian gila ya! Bayangin aja malem-malem ada cowo sama kalian udah gitu kalian biarin Nanda buat minum? Temen macem apa kalian!” Kataku dengan nada yang cukup tinggi
“Kita juga ngga tau Bang harus gimana lagi, kita udah bingung.” Jelas temannya lagi
“Bram cukup, yaudah mending kalian pulang aja. Makasih ya udah mau nganterin Nanda pulang.” Kata Widya
“Bang Bram kita minta maaf ya.” Kata mereka
Aku menghela nafas cukup panjang dan kemudian aku mengangguk.
“Maafin gue udah marahin kalian. Makasih udah nganterin Nanda pulang, Wid anterin mereka sampe depan.” Kataku
Di hadapanku terbaring Nanda dengan keadaan yang hampir tidak sadar, hanya warna putih yang dapat terlihat dari matanya. Kesal, marah, dan kecewa sudah bercampur aduk saat ini. Kuambil hpku dan mencoba untuk menghubungi Reza. Beberapa kali kutelpon tidak ada balasan hingga akhirnya ia menjawabnya.
“Apaan deh ganggu waktu tidur gue aja.” Protesnya
“Buat ngga mabok minum susu putih kan?” Tanyaku
“Iya, emang lu mabok? Tumben banget sampe mabok.” Tanyanya
“Bukan gue, Nanda!” Kataku
“Anjin*!! Gue ke sana sekarang!” Katanya
Aku menutup panggilan tersebut, Widya yang sudah naik kembali kusuruh untuk menjaga Nanda selagi aku menuju dapur. Di dalam kulkas aku menemukan sekaleng susu untuk diminum oleh Nanda. Setelah meminum susu tersebut aku menyuruh Widya untuk menemani Nanda ke kamar mandi.
Kedatangan Reza lebih cepat dari yang kuduga, ia naik menuju kamarku meninggalkan mobilnya yang ia parkir seadanya. Ia sudah berada di depanku, bahkan celana pink motif hello kitty yang ia kenakan tidak mampu membuatku untuk tertawa disaat kondisi seperti ini.
“Mana si Nanda?” Tanyanya
“Di kamar mandi, tadi udah gue suruh minum susu putih terus biarin Widya aja yang nemenin dia.” Kataku
“Jadi bakalan kita pukulin nih si Iyo bangsa* itu?” Tanya Reza dengan semangat
“Lu mau nginep di Polsek?” Tanyaku balik kepada Reza
“Ngga jadi kita pukulin...” Kata Reza memelan
Kubuka bungkusan rokok ini untuk mengambil dua batang, satu untukku dan satu lagi untuk Reza. Asap putih sudah berhembus satu sama lain hingga kemudian Widya sedang merangkul Nanda keluar dari kamar mandi dan ia merebahkan Nanda kembali di atas kasur. Widya menghampiri kami yang sedang berdiri di balkon.
“Udah keluar semua tadi, terus dia kayak ngomong-ngomong gitu.” Kata Widya
“Dia ngomong apaan aja?” Tanya Reza
“Ngga begitu jelas sih, yang kedengeran itu katanya dia ngga masalah kalo pulang keadaan gini ketemu Ayah sama Ibu, kecuali kalo ketemu Bang Bram. Dia bilang pasti Bang Bram bakalan marah banget sama dia.” Jelas Widya
Aku sedang memandanginya kali ini, dan rasanya antara marah dan sedih sudah berkumpul menjadi sebuah emosi yang baru entah apa namanya. Kami bertiga secara bersamaan untuk menghubungi seseorang berkaitan dengan hal ini.
“Halo...”
“Halo Zah, nanti bilangin ke dosen ya kalo gue absen dulu hari ini.” Kataku
“Kok tumben banget kamu absen? Ngga biasanya.” Tanyanya
“Nanda lagi sakit, makannya harus ditungguin.” Jelasku
“Oh gitu, yaudah semoga Nanda cepet sembuh ya Bram.” Katanya
“Iya makasih ya Zah..” Kataku
“Halo...”
“Selamat pagi Mas, bisa mundurin pertemuan hari ini ngga?” Tanya Widya
“Loh kenapa sama hari ini Mba?” Tanya seseorang di sana
“Adik aku lagi sakit jadi harus ditungguin dulu, maaf banget ya.” Jelas Widya
“Oh gitu ya, nanti coba saya atur lagi ya jadwalnya.”
“Makasih ya Mas.”
“Halo! Apaan sih ganggu tidur gue aja.”
“Bro, nanti malem kayaknya gue ngga bisa jaga bar nih...” Kata Reza
“Loh kenapa? Kan libur lu minggu depan.”
“Adek gue sakit Bro, harus ditungguin dia.” Jelas Reza juga
“Oh gitu, yaudah yaudah ntar gue yang jaga. Cepet sembuh buat adek lu.”
“Oke makasih banget Bro.”
Itu lah yang kami bertiga lakukan, padahal Nanda adalah adikku namun mereka merasa bahwa Nanda adalah adik mereka juga yang harus bisa mereka jaga. Dan di sinilah kami bertiga melihat ke arah dimana Nanda sedang tertidur di atas kasur.
“Dia masih lucu juga ya mau kayak gimana juga.” Kata Widya
“Mau bagaimanapun dia, Nanda udah gue anggep kayak adek gue sendiri.” Kata Reza
“Dia udah bukan adek gue lagi...” Kataku
Reza dan juga Dinda melihatku dengan cepat, mungkin mereka tidak percaya dengan apa yang barusan ku katakan.
“Bram, udah deh. Bukan salah dia juga...” Kata Reza
“Dia udah bukan adek gue lagi, tapi dia itu malaikat kecil yang bakalan gue jaga dari iblis-iblis yang mencoba buat nyabut bulu di sayapnya.” Kataku
Reza menghela nafasnya setelah mendengar apa yang barus aja aku katakan, sedangkan Widya memelukku dengan cukup erat. Dan mungkin mulai saat ini aku akan sedikit lebih hati-hati dengan siapa saja yang bersama dengan Nanda. Kejadian ini menjadi pukulan telak untukku karena terlalu membiarkannya menghadapi dunia yang terlalu gelap untuk dilewatinya sendiri.
Siang sudah menjelang, aku, Reza dan juga Widya sedang berada di balkon setelah makan siang. Aku melihat ke dalam dan sepertinya Nanda sudah mulai sadar, Widya dengan Reza masuk ke dalam untuk melihat keadaan Nanda.
“Hai cantik, gimana kamu? Udah mendingan?” Tanya Widya
“Abang mana Ka Wid? Abang kemana Bang Eja?” Tanya Nanda seperti orang ketakutan
“Udah nggapapa, emang kenapa kalo ada Bang Bram?” Tanya Reza
“Aku takut banget kalo Abang tau aku begini, sumpah aku takut banget Ka Wid, Bang Eja.” Kata Nanda sambil meneteskan air mata
“Kalo Abang tau gimana?” Tanyaku muncul dari balkon
“Abang...”
Nanda menangis, air matanya sudah tak terbendung lagi. Mungkin ia merasa lebih takut kepadaku karena aku yang lebih sering mengurusnya daripada Ayah dan juga Ibu. Aku duduk di sampingnya sambil menatapnya dengan tajam. Widya dan Reza hanya bisa saling pandang karena tidak tau apa yang akan aku lakukan kepada Nanda.
“Bang... Maafin aku, aku ngga bisa jaga kepercayaan Abang.” Ucapnya lirih
“Tau ngga apa yang Abang rasain pas ngeliat kamu dirangkul sama temen-temen kamu dengan keadaan kamu yang udah hampir ngga sadar tadi pagi? Abang tuh marah, abang tuh kecewa, abang juga sedih. Abang ngga tau harus marah sama siapa. Dan abang ngerasa kalo Abang udah gagal ngejaga kamu...” Kataku meneteskan air mata
Widya yang berada di sampingku mengelus pundakku secara pelan dan Nanda hanya terdiam dalam tangisnya.
“Kamu udah bukan adek Abang lagi...” Kataku
“Bram cukup!” Kata Widya dengan nada yang cukup tinggi
“Apa lagi Wid! Udah jelas kan semuanya!” Kataku dengan nada yang cukup tinggi juga
Kami semua terdiam siang ini untuk beberapa saat.
“Kamu udah bukan adek abang lagi, tapi kamu itu malaikat kecil yang bakalan abang jaga dari iblis di luar sana yang nyoba buat cabutin bulu-bulu di sayap kamu.” Kataku
Aku memeluk Nanda dan Nanda membalasnya lebih erat. Sebuah peristiwa yang dapat menjadi sebuah pembelajaran untuk ke depannya. Jaga apa yang sudah kalian punya, jangan rusak sedikit pun karena itu tidak akan sama lagi.
Tiba-tiba saja Reza bangun dari duduknya dan bergaya seperti seorang Kamen Rider yang bersiap untuk menaklukan musuh-musuhnya.
“Baiklah, Bang Bram sama Kamen Rider Eja akan membasmi si Iyo bangsa* itu!” Katanya dengan semangat
“Heh Kamen Rider mana yang pake kostum celana pendek pink ada hello kittynya?” Tanyaku
“Yah tadi kan buru-buru, lu mah gitu.” Katanya
Kami tertawa melihat ekspresi dari Reza, seorang sahabat yang dapat dengan cepat mencairkan suasana. Aku berharap kita semua dapat saling menjaga satu sama lain hingga kapan pun itu.
Malam sudah datang dan setelah menyantap makan malam yang dibeli Reza tadi, Aku dan Widya sedang berada di dalam kamar melihat Nanda dan juga Reza yang sudah tertidur dengan pulasnya.
“Mereka kebiasaan ya kalo udah selesai makan pasti tidur.” Kata Widya
“Kamu kayak baru liat mereka aja deh...” Kataku
Widya bangun dari duduknya dan melangkah menuju ke tembok yang bersampingan dengan kasurku. Aku ikut bangun untuk menghampirinya dan sepertinya ia sedang fokus ke sebuah objek di dinding itu.
“Kamu masih nyimpen ini?” Tanyanya
“Masih kok...” Jawabku singkat
Ia menghadap ke arahku seraya tersenyum.
Spoiler for Flashback:
Aku dan Widya sedang dalam perjalanan pulang menuju rumahku dan kali ini kami menaiki angkutan umum karena mobil yang biasa aku gunakan sedang dalam perbaikan. Tinggal beberapa meter lagi hingga kami tiba di perumahanku.
“Terus si Sexy kapan benernya?” Tanya Widya
“Belom tau sih, tadi pagi baru masuk bengekel. Tadinya aku mau bawa motor peninggalan kakek cuma takut kamu ngga biasa aja naik motor.” Kataku
“Nggapapa kali Bram malah seru kan naik motor.” Katanya
Aku tersenyum kepadanya. Di perjalanan kami bertemu dengan sekumpulan anak sekolah sedang berkumpul di pinggir jalan dan tentu saja pandangan mereka tertuju pada Widya. Kecantikan yang dimiliki Widya dapat menarik perhatian semua lelaki, jika ada lelaki yang tidak tertarik pada Widya berarti lelaki itu...
Salah satu mereka menghampiri kami dan sepertinya Widya sangat ketakutan terhadap lelaki itu.
“Hai neng cantik banget sih, mending sama kita aja daripada sama si culun itu. Kita seneng-seneng aja minum-minum, kita bayar deh biar puas.” Katanya
“Weh yang sopan kalo ngomong sama cewe.” Protesku
“Eh jangan sok jagoan lu culun, mending pulang sana kerjain PR. Biarin cewe cantik ini sama kita.” Katanya melawan
“Udah yuk Bram kita tinggal aja.” Kata Widya
Kami mempercepat jalan kami, namun jalan kami di hadang oleh beberapa temannya. Aku yang merasa suasana sudah tidak aman lagi mencoba untuk melindungi Widya bagaimanapun caranya. Kontak fisik sudah tidak dapat dihindari, beberapa pukulan dan tendangan sudah silih berganti hingga pada akhirnya sebuah kayu yang cukup tebal melayang menuju pelipis kiriku dan membuatku tersungkur dengan tetesan darah yang cukup banyak. Tindakan ini membuat orang-orang yang ada di sekitar mengerumuni kami, sayangnya kumpulan anak sekolah bangsa* itu sudah lari terlebih dahulu.
Widya sudah menangis melihat keadaanku yang sudah melemah, aku dan Widya diantarkan oleh dua ojek setempat menuju rumahku. Setibanya di rumah tentu saja hal ini membuat Ibu terkejut. Bagaimana tidak, anaknya yang berangkat sekolah dengan rapih begitu pulang sudah berlumuran darah di pelipisnya yang juga menodai seragam putihnya.
“Kamu kenapa Bram? Kok bisa kayak gini?” Tanya Ibu
“Tadi dipukulin sama anak sekolah lain Bu di depan.” Kata salah satu tukang ojek tersebut
Setelah Ibu memberikan uang kepada dua tukang ojek tersebut akhirnya aku dibawa ke dalam menuju ruang tamu. Dengan sigap Ibu membersihkan luka ini sedangkan Widya masih menangis melihat keadaanku.
“Tante, maafin Widya. Ini semua gara-gara Widya.” Kata Widya
“Apa sih Wid, bukan salah siapa-siapa.” Kataku
“Udah nggapapa Wid, seenggaknya dia masih bisa sampe rumah.” Kata Ibu
Tidak lama kemudian datanglah Ayah beserta dengan Nanda.
“Kamu abis ngapain sampe kayak gitu?” Tanya Ayah
“Tadi ada anak sekolah lain mukulin dia gara-gara godain Widya.” Jelas Ibu
“Tapi kamu menang kan?” Tanya Ayah lagi
“Ayah apa sih!” Protes Ibu sambil mencubit Ayah
Aku tertawa melihat tingkah laku mereka dan aku juga melihat Widya sudah bisa tertawa kembali karena kelakuan Ayah yang sedikit... Kemudian Nanda ikut duduk bersama kami di ruang tamu.
“Abang bakalan jagain Nanda juga ngga kayak Abang jagain Ka Wid?” Tanyanya
“Pasti dong. Abang bakalan jagain kamu, Ibu sama Ka Wid dari orang jahat.” Kataku
“Kalo Ibu ngga usah kamu jagain. Ayah masih sanggup buat ngalahin penjahat yang mau gangguin Ibu.” Kata Ayah sambil memamerkan ototnya
Dan lagi-lagi kami tertawa melihat kelakuan Ayah yang dapat menghibur kami. Setelah kejadian berdarah itu, saat ini aku sedang berada di kamarku bersama dengan Widya. Widya mengeluarkan pulpen yang ada di dalam tasnya.
“Bram sini deh...” Panggilnya
Aku mendekat ke arahnya, kemudian dia seperti menuliskan sesuatu di plester yang menutupi luka pelipisku. Setelah selesai ia menyuruhku untuk melihat ke arah cermin. Aku membaca tulisan itu dengan seksama karena tulisannya terbalik ketika dilihat dari cermin
“Thanks, My Music Man...” Kataku
Aku menatapnya dan kemudian ia tersenyum lalu memelukku.
“Terus si Sexy kapan benernya?” Tanya Widya
“Belom tau sih, tadi pagi baru masuk bengekel. Tadinya aku mau bawa motor peninggalan kakek cuma takut kamu ngga biasa aja naik motor.” Kataku
“Nggapapa kali Bram malah seru kan naik motor.” Katanya
Aku tersenyum kepadanya. Di perjalanan kami bertemu dengan sekumpulan anak sekolah sedang berkumpul di pinggir jalan dan tentu saja pandangan mereka tertuju pada Widya. Kecantikan yang dimiliki Widya dapat menarik perhatian semua lelaki, jika ada lelaki yang tidak tertarik pada Widya berarti lelaki itu...
Salah satu mereka menghampiri kami dan sepertinya Widya sangat ketakutan terhadap lelaki itu.
“Hai neng cantik banget sih, mending sama kita aja daripada sama si culun itu. Kita seneng-seneng aja minum-minum, kita bayar deh biar puas.” Katanya
“Weh yang sopan kalo ngomong sama cewe.” Protesku
“Eh jangan sok jagoan lu culun, mending pulang sana kerjain PR. Biarin cewe cantik ini sama kita.” Katanya melawan
“Udah yuk Bram kita tinggal aja.” Kata Widya
Kami mempercepat jalan kami, namun jalan kami di hadang oleh beberapa temannya. Aku yang merasa suasana sudah tidak aman lagi mencoba untuk melindungi Widya bagaimanapun caranya. Kontak fisik sudah tidak dapat dihindari, beberapa pukulan dan tendangan sudah silih berganti hingga pada akhirnya sebuah kayu yang cukup tebal melayang menuju pelipis kiriku dan membuatku tersungkur dengan tetesan darah yang cukup banyak. Tindakan ini membuat orang-orang yang ada di sekitar mengerumuni kami, sayangnya kumpulan anak sekolah bangsa* itu sudah lari terlebih dahulu.
Widya sudah menangis melihat keadaanku yang sudah melemah, aku dan Widya diantarkan oleh dua ojek setempat menuju rumahku. Setibanya di rumah tentu saja hal ini membuat Ibu terkejut. Bagaimana tidak, anaknya yang berangkat sekolah dengan rapih begitu pulang sudah berlumuran darah di pelipisnya yang juga menodai seragam putihnya.
“Kamu kenapa Bram? Kok bisa kayak gini?” Tanya Ibu
“Tadi dipukulin sama anak sekolah lain Bu di depan.” Kata salah satu tukang ojek tersebut
Setelah Ibu memberikan uang kepada dua tukang ojek tersebut akhirnya aku dibawa ke dalam menuju ruang tamu. Dengan sigap Ibu membersihkan luka ini sedangkan Widya masih menangis melihat keadaanku.
“Tante, maafin Widya. Ini semua gara-gara Widya.” Kata Widya
“Apa sih Wid, bukan salah siapa-siapa.” Kataku
“Udah nggapapa Wid, seenggaknya dia masih bisa sampe rumah.” Kata Ibu
Tidak lama kemudian datanglah Ayah beserta dengan Nanda.
“Kamu abis ngapain sampe kayak gitu?” Tanya Ayah
“Tadi ada anak sekolah lain mukulin dia gara-gara godain Widya.” Jelas Ibu
“Tapi kamu menang kan?” Tanya Ayah lagi
“Ayah apa sih!” Protes Ibu sambil mencubit Ayah
Aku tertawa melihat tingkah laku mereka dan aku juga melihat Widya sudah bisa tertawa kembali karena kelakuan Ayah yang sedikit... Kemudian Nanda ikut duduk bersama kami di ruang tamu.
“Abang bakalan jagain Nanda juga ngga kayak Abang jagain Ka Wid?” Tanyanya
“Pasti dong. Abang bakalan jagain kamu, Ibu sama Ka Wid dari orang jahat.” Kataku
“Kalo Ibu ngga usah kamu jagain. Ayah masih sanggup buat ngalahin penjahat yang mau gangguin Ibu.” Kata Ayah sambil memamerkan ototnya
Dan lagi-lagi kami tertawa melihat kelakuan Ayah yang dapat menghibur kami. Setelah kejadian berdarah itu, saat ini aku sedang berada di kamarku bersama dengan Widya. Widya mengeluarkan pulpen yang ada di dalam tasnya.
“Bram sini deh...” Panggilnya
Aku mendekat ke arahnya, kemudian dia seperti menuliskan sesuatu di plester yang menutupi luka pelipisku. Setelah selesai ia menyuruhku untuk melihat ke arah cermin. Aku membaca tulisan itu dengan seksama karena tulisannya terbalik ketika dilihat dari cermin
“Thanks, My Music Man...” Kataku
Aku menatapnya dan kemudian ia tersenyum lalu memelukku.
Sebuah plester yang sudah menghitam dan menempel di dinding ini, tulisannya masih dapat dibaca dengan jelas. Aku sengaja menempelnya di dinding agar aku bisa ingat setiap momen yang aku jalani bersama dengan Widya. Kami saling bertatapan satu sama lain dan ia menyentuh pelipis kiriku.
“Ini kan yang luka itu?” Tanyanya
“Iya kamu masih inget juga...” Jawabku
Ia berjinjit dan kemudian mencium bibirku lagi namun sedikit lebih cepat. Kemudian ia memelukku dan kubalas pelukannya. Bagaimana pun caranya, aku akan menjagamu sampai kapan pun...
khuman dan Herisyahrian memberi reputasi
2
Kutip
Balas