- Beranda
- Stories from the Heart
DRACOMILLIR | manusia bukanlah penguasa dari tanah yang mereka injak
...
TS
fightforjustice
DRACOMILLIR | manusia bukanlah penguasa dari tanah yang mereka injak

Quote:
Hai agan yg ganteng & aganwati yang kece2 semuanyee, ane disini hanya semata-mata berniat berbagi sebuah fantasi yang ada di kepala ane. Jadi, Cerita di threat ini sudah barang tentu 100000% fiksi.

pengen baca Fiksi Fantasy buatan lokal?

Semoga threat ini menjawab kehausan agan

Komentar, Kritik dan Saran sangat berarti
Happy reading~!
Note: Update tiap chapter seminggu sekali.
INDEX:
Quote:
CHAPTER 0 PROLOG
CHAPTER 1 Matahari Terbit di Lukaru
CHAPTER 2 Legiun Pemburu Naga
CHAPTER 3 Janji & Harapan
CHAPTER 4 Bukit Nabia
CHAPTER 5 Manusia yang Mengerikan
CHAPTER 6 Sebuah Ingatan
CHAPTER 7 Sejarah yang Tertulis
CHAPTER 8 Cahaya di Lorong Gelap
CHAPTER 9 Pergerakan Besar
CHAPTER 10 Arghaleim Dalam Kabut Hitam
CHAPTER 11 Kaum Har
CHAPTER 12 Sang Bencana
CHAPTER 13 Perpecahan
CHAPTER 14 Yenya dan Adaril
-bersambung-
Spoiler for PROLOG:
Quote:
Semburan itu menciptakan sebuah kobaran api besar yang menyala membumbung tinggi memecah langit. Pohon-pohon tinggi disekitar kami satu per satu tumbang terhempas oleh amukan seekor naga yang sangat besar. Beberapa tubuh manusia yang hangus terbakar tergeletak di tanah terguyur oleh hujan abu yang diiringi dengan percikan api dari pohon-pohon yang perlahan habis terbakar.
Dorlan sang pemimpin kelompok kami, memimpin seluruh pasukan yang tersisa termasuk diriku untuk maju mendekat kearah naga itu. "Tembak..!" Dorlan menginstruksikan kami untuk menembakan harpoon (tombak panjang yang ditembakkan dengan senapan) disertai rantai pengikat kearah naga yang semakin mengamuk itu. Ibukota menugaskan kelompok kami untuk memburu seekor naga raksasa yang telah menghancurkan banyak desa di wilayah utara. Tak kusangka kami bisa menemukannya secepat ini.
Saat itu merupakan malam yang panjang bagi para pemburu naga. Kami berhasil membunuh naga itu setelah setengah mati berusaha memburunya, tetapi kami harus membayar mahal dengan kehilangan hampir setengah dari anggota kelompok. Malam hari setelah perburuan itu, kami beristirahat dengan membuat perkemahan di lereng gunung Aldeir setelah sebelumnya mengubur mayat-mayat anggota kelompok kami yang tewas.
Aku berbaring di samping perapian, dan melihat kearah langit sambil menikmati embus angin malam yang tersisa sebelum fajar muncul. Saat itu, aku teringat beberapa waktu lalu sebelum aku menjadi seorang pemburu naga. Dan alasan mengapa aku berada di tempat ini.
Dorlan sang pemimpin kelompok kami, memimpin seluruh pasukan yang tersisa termasuk diriku untuk maju mendekat kearah naga itu. "Tembak..!" Dorlan menginstruksikan kami untuk menembakan harpoon (tombak panjang yang ditembakkan dengan senapan) disertai rantai pengikat kearah naga yang semakin mengamuk itu. Ibukota menugaskan kelompok kami untuk memburu seekor naga raksasa yang telah menghancurkan banyak desa di wilayah utara. Tak kusangka kami bisa menemukannya secepat ini.
Saat itu merupakan malam yang panjang bagi para pemburu naga. Kami berhasil membunuh naga itu setelah setengah mati berusaha memburunya, tetapi kami harus membayar mahal dengan kehilangan hampir setengah dari anggota kelompok. Malam hari setelah perburuan itu, kami beristirahat dengan membuat perkemahan di lereng gunung Aldeir setelah sebelumnya mengubur mayat-mayat anggota kelompok kami yang tewas.
Aku berbaring di samping perapian, dan melihat kearah langit sambil menikmati embus angin malam yang tersisa sebelum fajar muncul. Saat itu, aku teringat beberapa waktu lalu sebelum aku menjadi seorang pemburu naga. Dan alasan mengapa aku berada di tempat ini.
Diubah oleh fightforjustice 10-06-2016 06:48
anasabila memberi reputasi
1
10.3K
Kutip
86
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
fightforjustice
#34
Spoiler for chapter 9:
CHAPTER 9 : PERGERAKAN BESAR
Quote:
Terbang tinggi beratapkan matahari
Dari langit memandang dunia ini
Bukan gunung emas yang dia cari
Bukan pula permata didalam peti
Sang penghancur bernafas api
Bergigi tajam melebihi belati
Kulit bagaikan ribuan zirah besi
Pedang dan tombak tiada berarti
Tak terhitung pertempuran dijalani
Tiada orang sanggup menandingi
Dia naga yang meninggalkan jejak api
Mencari kematian yang menanti...
...
"Ohohoho... selesai." Faradir melipat selembar kertas yang baru saja ditulisnya.
"Kakek tua, sepertinya aku pernah mendengarnya..."
"Syair ini telah ada sejak dahulu, syair tentang seekor naga yang sangat ditakuti oleh manusia pada zaman itu."
"Garakhi..." jawabku.
"Ya, Garakhi... Sudah sejak ratusan tahun lalu naga itu tak lagi menampakan wujudnya... Tidak hingga kemarin aku mendapatkan kabar ini."
"Benar apa yang kau katakan Kek, kemunculan Garakhi adalah berita besar."
Aku dan Faradir berbincang-bincang di halaman markas pasukan pengintai. Hari ini tepat dua bulan sudah lamanya sejak pertama kali aku menginjakan kaki di tempat ini. Dan sekarang, telah aku kenakan seragam legiun pemburu naga dengan simbol pasukan pengintai di lengan kananku.
Oh ya, sejak kemarin kabar tersebut telah tersiar di lingkungan para pemburu naga. Tentang sosok naga yang telah memporak-porandakan banyak desa di utara Tanah Kesslein. Naga yang selama ini tak pernah terlihat sejak ratusan tahun lalu, telah dipastikan bertanggung jawab atas kehancuran di utara.
"Sastra...."
"Hei, nak..."
"Ah, maaf Kek, ada apa?"
"Melamun lagi? Memikirkan tentang keluarga dan warga desamu?" Tanya Faradir yang melihatku termenung sambil duduk bersandar pada kursi reot disampingnya.
"Ya, begitulah... walaupun aku telah mengetahui bahwa mereka selamat, tapi aku tetap saja mengkhawatirkan kondisi mereka... Terutama ibu dan Vineli."
"Aku mengerti nak, tapi saat ini ada hal yang lebih penting untuk kita khawatirkan."
"Apakah mereka benar-benar akan melakukannya?" Tanyaku.
"Sudah dipastikan."
"Seperti yang kukatakan saat pertemuan semalam. Kau bersama dengan Earl, Qarqar, Calin dan Ythri akan ikut kedalam kelompok gabungan yang dibentuk oleh legiun pemburu naga untuk memburu Garakhi. Setelah fajar, kalian akan berangkat." Imbuh Faradir.
"Esok hari..." Ah, sejak tadi tangan ini hanya menopang dagu. Sesekali aku menghela nafas sambil memikirkan hari dimana kami akan berangkat. Kami akan memburunya. Garakhi, naga yang menghancurkan desaku. Mungkin juga ini kesempatanku untuk membalaskan penderitaan warga desa akibat naga itu.
Malam harinya mata ini enggan sekali untuk terpejam. Padahal sudah semakin larut dan semakin menyisakan sedikit waktu untukku yang masih saja tak kunjung terlelap. Apakah aku sedang gugup? khawatir? cemas? takut? Ah, kurasa bukan itu. Kupaksakan mata untuk terpejam. Kubiarkan diriku terbaring, berniat agar segera menghirup udara segar pagi hari.
"BRUKKK...."
"Uwaaaghhh...."
"Bangunlah, pakai seragam dan peralatanmu. Kita berangkat."
"Sial kau Earl..." Aku kaget setengah mati karena kukira diriku tertimpa reruntuhan atap ruangan kamar. Ternyata, Earl melemparkan sebuah tas perlatan dan seragam tepat di wajahku.
Tak kukira hari telah berganti, langit yang tadinya gelap mulai tampak kebiruan. Segera ku beranjak dari peraduan kemudian pula menyiapkan seluruh perlengkapanku. Pagi itu, bersama dengan anggota divisi pengintai lainnya Earl dan Qarqar, aku bergegas menuju tempat pertemuan seluruh pemburu yang akan menjalankan misi ini di gerbang barat ibukota.
"Whoa, kau bisa menggunakan benda itu?" Tanyaku pada Qarqar, si pria kekar dari suku Tarqaeyn yang tampak membawa sepucuk senapan Drakelock berukuran cukup besar.
"Haha, aku sudah menggunakan Drakelock sejak pertama kali belajar memburu seekor naga." Jawab Qarqar seraya menunjukkan Drakelock miliknya padaku.
"Jika bertemu seorang pemburu naga yang menembak jatuh naga dalam satu tembakan Drakelock, dapat dipastikan dia dari suku Taqaeyn. Begitu kata orang-orang zaman dahulu. Kau tidak pernah mendengar itu Satra? kudengar suku Tarqaeyn sangat hebat saat menggunakan Drakelock." Sambung Earl.
"Benarkah itu?" tanyaku.
"Yang kalian dengar hanya mitos. Tidak ada orang yang bisa membunuh naga dengan satu kali tembakan Drakelock." jawab Qarqar.
"Oh ya... tentu saja..." ujar Earl yang tampak sedikit kecewa dengan pernyataan Qarqar.
Matahari pun mulai sedikit menampakan wujudnya, langit perlahan semakin kebiruan. Cukup banyak kami berbincang hingga tak terasa kemudian telah sampai didepan gerbang barat. Sebuah gerbang besi yang sangat besar, bahkan ukurannya terlihat sama besar dengan bangunan-bangunan disekitarnya. Di kejauhan tampak laki-laki berpostur tinggi melambaikan tangan kearah kami.
"Itu Calin!" seru Earl menunjuk kearahnya.
Calin terlihat bersama seorang perempuan berambut ikal yang terlihat mengenakan sepatu boots dari kulit ular. Aku mengenalnya... dia adalah Ythri, salah satu perempuan dari divisi pengintai. Mereka tampaknya sudah menunggu kami sejak tadi.
"Ya, ampun kalian lama sekali. Lihatlah sudah banyak warga berkerumun ditempat ini." ujar Ythri dengan nada sedikit kesal.
"Maaf... Maaf... Tadi kami terlalu asyik berbincang-bincang di jalan, Hahaha" jawab Qarqar.
"Apakah seluruh warga ingin menonton kita?" ujar Earl yang tampak keheranan melihat banyak warga yang datang untuk melihat.
"Entahlah.. pagi-pagi begini sudah gaduh." sahut Calin.
...
"Lihat.. lihat, itu pasukan legiun pemburu naga..."
"Wuah, itu Drakonshar! benda milik divisi kavaleri memang hebat!"
"Kudengar mereka akan memburu naga yang sangat besar..."
Terdengar jelas riuh para warga yang berkumpul di dekat gerbang barat. Calin tampak mencoba menjauh dari kerumunan warga. Kami berkumpul di depan sebuah Bar yang terletak sedikit jauh dari kerumunan, terpisah dari barisan para anggota legiun pemburu naga divisi lain.
Jumlah orang divisi kami tampak sangat sedikit sekali dibanding divisi lain yang rata-rata mengikutsertakan 50 sampai 100 orang anggotanya. Maklum saja, anggota divisi kami tak sampai 50 orang. Dan sebagian besar sedang menjalankan misi-misi lain. Sehingga komandan Faradir memutuskan untuk mengirimkan 5 orang anggota termasuk diriku.
"Semuanya!! Perhatiaaan!!" Seorang pria berseru diantara kerumunan para pemburu naga.
"Divisi pengejar utama, divisi jelajah, divisi peralatan & teknis, divisi pengintai, divisi kavaleri dan divisi artileri. Kuharap seluruhnya sudah siap! Saya yang bertanggung jawab terhadap pasukan pemburu gabungan ini. Saya Dorlan." Pria itu berbicara lantang dihadapan semua orang. Tak lain adalah Dorlan, salah satu komandan utama legiun pemburu naga yang cukup terkenal.
Pagi itu ratusan kuda-kuda dari Ibukota disiapkan, kami pergi dengan riuh serta lambaian tangan dari seluruh warga ibukota. Tidak ada yang dapat memastikan dari kami semua, siapa yang akan dapat kembali ke ibukota. Kami bergerak, lekas melaju dengan cepat. Derap kencang disertai kepulan debu mengiringi gerakan ratusan kuda yang ditunggangi oleh para pemburu naga.
"Banyak sekali, haruskan perlu sebanyak ini untuk memburu Garakhi?" Pikirku melihat ratusan anggota legiun pemburu naga dari berbagai divisi turut dalam kelompok ini.
Qarqar, Earl, Calin dan Ythri dengan masing-masing kuda mereka, berada tepat didepanku yang menunggangi seekor kuda hitam. Kami bergerak bersama barisan divisi pengejar utama. Kami terus menuju kearah barat. Dorlan telah menjelaskan arah tujuan kami dengan jelas, yaitu Gunung Aldeir.
Sementara itu, para pasukan pemburu divisi jelajah berada jauh didepan. Mereka adalah orang-orang yang memiliki kemampuan navigasi yang sangat mumpuni. Divisi itu memandu pergerakan kelompok kami dengan kemampuan jelajah mereka.
Berkuda tak kenal lelah hingga malam menjelang, kelompok gabungan ini tetap bergerak dengan kecepatan penuh tanpa berhenti sejak pagi. Gelapnya malam tidak menghentikan kami untuk terus bergerak. Tak berapa lama kemudian barisan paling depan mulai menyalakan suluh.
"Nyalakan api!!" Teriak orang-orang di yang berada barisan paling depan.
"Ini dia, hutan gelap.... kegelapannya bahkan dapat menelanmu..." ujar Qarqar.
Aku hanya menelan ludah sesaat setelah mendengar kata-katanya. Hutan itu sudah terlihat dari kejauhan, membentang luas sepanjang mata memandang. Kabut suram merayap di pohon-pohon raksasa yang menjulang tinggi. Tampak jelas dengan mata telanjang lebatnya hutan itu.
"Rapatkan barisan kalian!! Jangan sampai terpisah jauh dari kelompok!!" Terdengar seruan komandan Dorlan yang kemudian diikuti oleh suara trompet-trompet dari divisi penjelajah.
"Ini dia..." Gumamku saat kami mulai memasuki hutan gelap.
Kelihatan nama itu memang sesuai dengan keadaan hutan ini. Bahkan sorot bulan tak sanggup menembus lebatnya hutan ini. Semakin dalam kami menembus hutan ini, hawa dingin semakin terasa menusuk. Aku benar-benar tak dapat melihat banyak. Terlalu gelap bagi manusia manapun untuk dapat melihat dengan jelas. Hutan ini seperti menelan seluruh cahaya disekitar kami.
Dari langit memandang dunia ini
Bukan gunung emas yang dia cari
Bukan pula permata didalam peti
Sang penghancur bernafas api
Bergigi tajam melebihi belati
Kulit bagaikan ribuan zirah besi
Pedang dan tombak tiada berarti
Tak terhitung pertempuran dijalani
Tiada orang sanggup menandingi
Dia naga yang meninggalkan jejak api
Mencari kematian yang menanti...
...
"Ohohoho... selesai." Faradir melipat selembar kertas yang baru saja ditulisnya.
"Kakek tua, sepertinya aku pernah mendengarnya..."
"Syair ini telah ada sejak dahulu, syair tentang seekor naga yang sangat ditakuti oleh manusia pada zaman itu."
"Garakhi..." jawabku.
"Ya, Garakhi... Sudah sejak ratusan tahun lalu naga itu tak lagi menampakan wujudnya... Tidak hingga kemarin aku mendapatkan kabar ini."
"Benar apa yang kau katakan Kek, kemunculan Garakhi adalah berita besar."
Aku dan Faradir berbincang-bincang di halaman markas pasukan pengintai. Hari ini tepat dua bulan sudah lamanya sejak pertama kali aku menginjakan kaki di tempat ini. Dan sekarang, telah aku kenakan seragam legiun pemburu naga dengan simbol pasukan pengintai di lengan kananku.
Oh ya, sejak kemarin kabar tersebut telah tersiar di lingkungan para pemburu naga. Tentang sosok naga yang telah memporak-porandakan banyak desa di utara Tanah Kesslein. Naga yang selama ini tak pernah terlihat sejak ratusan tahun lalu, telah dipastikan bertanggung jawab atas kehancuran di utara.
"Sastra...."
"Hei, nak..."
"Ah, maaf Kek, ada apa?"
"Melamun lagi? Memikirkan tentang keluarga dan warga desamu?" Tanya Faradir yang melihatku termenung sambil duduk bersandar pada kursi reot disampingnya.
"Ya, begitulah... walaupun aku telah mengetahui bahwa mereka selamat, tapi aku tetap saja mengkhawatirkan kondisi mereka... Terutama ibu dan Vineli."
"Aku mengerti nak, tapi saat ini ada hal yang lebih penting untuk kita khawatirkan."
"Apakah mereka benar-benar akan melakukannya?" Tanyaku.
"Sudah dipastikan."
"Seperti yang kukatakan saat pertemuan semalam. Kau bersama dengan Earl, Qarqar, Calin dan Ythri akan ikut kedalam kelompok gabungan yang dibentuk oleh legiun pemburu naga untuk memburu Garakhi. Setelah fajar, kalian akan berangkat." Imbuh Faradir.
"Esok hari..." Ah, sejak tadi tangan ini hanya menopang dagu. Sesekali aku menghela nafas sambil memikirkan hari dimana kami akan berangkat. Kami akan memburunya. Garakhi, naga yang menghancurkan desaku. Mungkin juga ini kesempatanku untuk membalaskan penderitaan warga desa akibat naga itu.
Malam harinya mata ini enggan sekali untuk terpejam. Padahal sudah semakin larut dan semakin menyisakan sedikit waktu untukku yang masih saja tak kunjung terlelap. Apakah aku sedang gugup? khawatir? cemas? takut? Ah, kurasa bukan itu. Kupaksakan mata untuk terpejam. Kubiarkan diriku terbaring, berniat agar segera menghirup udara segar pagi hari.
"BRUKKK...."
"Uwaaaghhh...."
"Bangunlah, pakai seragam dan peralatanmu. Kita berangkat."
"Sial kau Earl..." Aku kaget setengah mati karena kukira diriku tertimpa reruntuhan atap ruangan kamar. Ternyata, Earl melemparkan sebuah tas perlatan dan seragam tepat di wajahku.
Tak kukira hari telah berganti, langit yang tadinya gelap mulai tampak kebiruan. Segera ku beranjak dari peraduan kemudian pula menyiapkan seluruh perlengkapanku. Pagi itu, bersama dengan anggota divisi pengintai lainnya Earl dan Qarqar, aku bergegas menuju tempat pertemuan seluruh pemburu yang akan menjalankan misi ini di gerbang barat ibukota.
"Whoa, kau bisa menggunakan benda itu?" Tanyaku pada Qarqar, si pria kekar dari suku Tarqaeyn yang tampak membawa sepucuk senapan Drakelock berukuran cukup besar.
"Haha, aku sudah menggunakan Drakelock sejak pertama kali belajar memburu seekor naga." Jawab Qarqar seraya menunjukkan Drakelock miliknya padaku.
"Jika bertemu seorang pemburu naga yang menembak jatuh naga dalam satu tembakan Drakelock, dapat dipastikan dia dari suku Taqaeyn. Begitu kata orang-orang zaman dahulu. Kau tidak pernah mendengar itu Satra? kudengar suku Tarqaeyn sangat hebat saat menggunakan Drakelock." Sambung Earl.
"Benarkah itu?" tanyaku.
"Yang kalian dengar hanya mitos. Tidak ada orang yang bisa membunuh naga dengan satu kali tembakan Drakelock." jawab Qarqar.
"Oh ya... tentu saja..." ujar Earl yang tampak sedikit kecewa dengan pernyataan Qarqar.
Matahari pun mulai sedikit menampakan wujudnya, langit perlahan semakin kebiruan. Cukup banyak kami berbincang hingga tak terasa kemudian telah sampai didepan gerbang barat. Sebuah gerbang besi yang sangat besar, bahkan ukurannya terlihat sama besar dengan bangunan-bangunan disekitarnya. Di kejauhan tampak laki-laki berpostur tinggi melambaikan tangan kearah kami.
"Itu Calin!" seru Earl menunjuk kearahnya.
Calin terlihat bersama seorang perempuan berambut ikal yang terlihat mengenakan sepatu boots dari kulit ular. Aku mengenalnya... dia adalah Ythri, salah satu perempuan dari divisi pengintai. Mereka tampaknya sudah menunggu kami sejak tadi.
"Ya, ampun kalian lama sekali. Lihatlah sudah banyak warga berkerumun ditempat ini." ujar Ythri dengan nada sedikit kesal.
"Maaf... Maaf... Tadi kami terlalu asyik berbincang-bincang di jalan, Hahaha" jawab Qarqar.
"Apakah seluruh warga ingin menonton kita?" ujar Earl yang tampak keheranan melihat banyak warga yang datang untuk melihat.
"Entahlah.. pagi-pagi begini sudah gaduh." sahut Calin.
...
"Lihat.. lihat, itu pasukan legiun pemburu naga..."
"Wuah, itu Drakonshar! benda milik divisi kavaleri memang hebat!"
"Kudengar mereka akan memburu naga yang sangat besar..."
Terdengar jelas riuh para warga yang berkumpul di dekat gerbang barat. Calin tampak mencoba menjauh dari kerumunan warga. Kami berkumpul di depan sebuah Bar yang terletak sedikit jauh dari kerumunan, terpisah dari barisan para anggota legiun pemburu naga divisi lain.
Jumlah orang divisi kami tampak sangat sedikit sekali dibanding divisi lain yang rata-rata mengikutsertakan 50 sampai 100 orang anggotanya. Maklum saja, anggota divisi kami tak sampai 50 orang. Dan sebagian besar sedang menjalankan misi-misi lain. Sehingga komandan Faradir memutuskan untuk mengirimkan 5 orang anggota termasuk diriku.
"Semuanya!! Perhatiaaan!!" Seorang pria berseru diantara kerumunan para pemburu naga.
"Divisi pengejar utama, divisi jelajah, divisi peralatan & teknis, divisi pengintai, divisi kavaleri dan divisi artileri. Kuharap seluruhnya sudah siap! Saya yang bertanggung jawab terhadap pasukan pemburu gabungan ini. Saya Dorlan." Pria itu berbicara lantang dihadapan semua orang. Tak lain adalah Dorlan, salah satu komandan utama legiun pemburu naga yang cukup terkenal.
Pagi itu ratusan kuda-kuda dari Ibukota disiapkan, kami pergi dengan riuh serta lambaian tangan dari seluruh warga ibukota. Tidak ada yang dapat memastikan dari kami semua, siapa yang akan dapat kembali ke ibukota. Kami bergerak, lekas melaju dengan cepat. Derap kencang disertai kepulan debu mengiringi gerakan ratusan kuda yang ditunggangi oleh para pemburu naga.
"Banyak sekali, haruskan perlu sebanyak ini untuk memburu Garakhi?" Pikirku melihat ratusan anggota legiun pemburu naga dari berbagai divisi turut dalam kelompok ini.
Qarqar, Earl, Calin dan Ythri dengan masing-masing kuda mereka, berada tepat didepanku yang menunggangi seekor kuda hitam. Kami bergerak bersama barisan divisi pengejar utama. Kami terus menuju kearah barat. Dorlan telah menjelaskan arah tujuan kami dengan jelas, yaitu Gunung Aldeir.
Sementara itu, para pasukan pemburu divisi jelajah berada jauh didepan. Mereka adalah orang-orang yang memiliki kemampuan navigasi yang sangat mumpuni. Divisi itu memandu pergerakan kelompok kami dengan kemampuan jelajah mereka.
Berkuda tak kenal lelah hingga malam menjelang, kelompok gabungan ini tetap bergerak dengan kecepatan penuh tanpa berhenti sejak pagi. Gelapnya malam tidak menghentikan kami untuk terus bergerak. Tak berapa lama kemudian barisan paling depan mulai menyalakan suluh.
"Nyalakan api!!" Teriak orang-orang di yang berada barisan paling depan.
"Ini dia, hutan gelap.... kegelapannya bahkan dapat menelanmu..." ujar Qarqar.
Aku hanya menelan ludah sesaat setelah mendengar kata-katanya. Hutan itu sudah terlihat dari kejauhan, membentang luas sepanjang mata memandang. Kabut suram merayap di pohon-pohon raksasa yang menjulang tinggi. Tampak jelas dengan mata telanjang lebatnya hutan itu.
"Rapatkan barisan kalian!! Jangan sampai terpisah jauh dari kelompok!!" Terdengar seruan komandan Dorlan yang kemudian diikuti oleh suara trompet-trompet dari divisi penjelajah.
"Ini dia..." Gumamku saat kami mulai memasuki hutan gelap.
Kelihatan nama itu memang sesuai dengan keadaan hutan ini. Bahkan sorot bulan tak sanggup menembus lebatnya hutan ini. Semakin dalam kami menembus hutan ini, hawa dingin semakin terasa menusuk. Aku benar-benar tak dapat melihat banyak. Terlalu gelap bagi manusia manapun untuk dapat melihat dengan jelas. Hutan ini seperti menelan seluruh cahaya disekitar kami.
Maap malo apdetnya terkesan maraton dikarenakan jadwal padet hehe..
kalo rame ntar anw apdet lg gan

Diubah oleh fightforjustice 10-06-2016 15:45
0
Kutip
Balas