- Beranda
- Stories from the Heart
DRACOMILLIR | manusia bukanlah penguasa dari tanah yang mereka injak
...
TS
fightforjustice
DRACOMILLIR | manusia bukanlah penguasa dari tanah yang mereka injak

Quote:
Hai agan yg ganteng & aganwati yang kece2 semuanyee, ane disini hanya semata-mata berniat berbagi sebuah fantasi yang ada di kepala ane. Jadi, Cerita di threat ini sudah barang tentu 100000% fiksi.

pengen baca Fiksi Fantasy buatan lokal?

Semoga threat ini menjawab kehausan agan

Komentar, Kritik dan Saran sangat berarti
Happy reading~!
Note: Update tiap chapter seminggu sekali.
INDEX:
Quote:
CHAPTER 0 PROLOG
CHAPTER 1 Matahari Terbit di Lukaru
CHAPTER 2 Legiun Pemburu Naga
CHAPTER 3 Janji & Harapan
CHAPTER 4 Bukit Nabia
CHAPTER 5 Manusia yang Mengerikan
CHAPTER 6 Sebuah Ingatan
CHAPTER 7 Sejarah yang Tertulis
CHAPTER 8 Cahaya di Lorong Gelap
CHAPTER 9 Pergerakan Besar
CHAPTER 10 Arghaleim Dalam Kabut Hitam
CHAPTER 11 Kaum Har
CHAPTER 12 Sang Bencana
CHAPTER 13 Perpecahan
CHAPTER 14 Yenya dan Adaril
-bersambung-
Spoiler for PROLOG:
Quote:
Semburan itu menciptakan sebuah kobaran api besar yang menyala membumbung tinggi memecah langit. Pohon-pohon tinggi disekitar kami satu per satu tumbang terhempas oleh amukan seekor naga yang sangat besar. Beberapa tubuh manusia yang hangus terbakar tergeletak di tanah terguyur oleh hujan abu yang diiringi dengan percikan api dari pohon-pohon yang perlahan habis terbakar.
Dorlan sang pemimpin kelompok kami, memimpin seluruh pasukan yang tersisa termasuk diriku untuk maju mendekat kearah naga itu. "Tembak..!" Dorlan menginstruksikan kami untuk menembakan harpoon (tombak panjang yang ditembakkan dengan senapan) disertai rantai pengikat kearah naga yang semakin mengamuk itu. Ibukota menugaskan kelompok kami untuk memburu seekor naga raksasa yang telah menghancurkan banyak desa di wilayah utara. Tak kusangka kami bisa menemukannya secepat ini.
Saat itu merupakan malam yang panjang bagi para pemburu naga. Kami berhasil membunuh naga itu setelah setengah mati berusaha memburunya, tetapi kami harus membayar mahal dengan kehilangan hampir setengah dari anggota kelompok. Malam hari setelah perburuan itu, kami beristirahat dengan membuat perkemahan di lereng gunung Aldeir setelah sebelumnya mengubur mayat-mayat anggota kelompok kami yang tewas.
Aku berbaring di samping perapian, dan melihat kearah langit sambil menikmati embus angin malam yang tersisa sebelum fajar muncul. Saat itu, aku teringat beberapa waktu lalu sebelum aku menjadi seorang pemburu naga. Dan alasan mengapa aku berada di tempat ini.
Dorlan sang pemimpin kelompok kami, memimpin seluruh pasukan yang tersisa termasuk diriku untuk maju mendekat kearah naga itu. "Tembak..!" Dorlan menginstruksikan kami untuk menembakan harpoon (tombak panjang yang ditembakkan dengan senapan) disertai rantai pengikat kearah naga yang semakin mengamuk itu. Ibukota menugaskan kelompok kami untuk memburu seekor naga raksasa yang telah menghancurkan banyak desa di wilayah utara. Tak kusangka kami bisa menemukannya secepat ini.
Saat itu merupakan malam yang panjang bagi para pemburu naga. Kami berhasil membunuh naga itu setelah setengah mati berusaha memburunya, tetapi kami harus membayar mahal dengan kehilangan hampir setengah dari anggota kelompok. Malam hari setelah perburuan itu, kami beristirahat dengan membuat perkemahan di lereng gunung Aldeir setelah sebelumnya mengubur mayat-mayat anggota kelompok kami yang tewas.
Aku berbaring di samping perapian, dan melihat kearah langit sambil menikmati embus angin malam yang tersisa sebelum fajar muncul. Saat itu, aku teringat beberapa waktu lalu sebelum aku menjadi seorang pemburu naga. Dan alasan mengapa aku berada di tempat ini.
Diubah oleh fightforjustice 10-06-2016 06:48
anasabila memberi reputasi
1
10.2K
Kutip
86
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
fightforjustice
#33
Spoiler for chapter 8:
CHAPTER 8 : CAHAYA DI LORONG GELAP
Quote:
"Kita harus pergi ke markas legiun pemburu naga divisi pasukan pengintai."
"Tidak, tidak, aku harus bergegas pulang ke desaku."
"Ayolah, Naku Raghar telah memberikan koin ini pada kita. Ini benar-benar mukjizat kan!?"
"Masa bodoh dengan koin itu, aku sudah menuruti apa yang kau katakan Earl, aku sudah menemui Naku Raghar." kami berdebat sepanjang jalan setelah menemui Naku Raghar.
"Terima kasih Earl, tapi saat ini aku harus ke desa. Aku ingin memastikan keselamatan keluargaku."
"Hey, hey... Sastra, dengarkan aku dulu," Earl berbicara seraya tangannya menarik pundakku. "Lihat ini." sambil menunjukan koin yang diberikan oleh Naku Raghar.
"Ini adalah tanda bahwa kita terpilih untuk masuk ke salah satu divisi elit pasukan pemburu naga, divisi yang banyak orang inginkan, kita mendapatkannya dengan mudah."
"Dengar, aku tidak tahu kenapa Naku Raghar memberikan koin ini secara cuma-cuma setelah mendengar cerita tentang manusia berkulit naga yang menyerangmu. Tapi ini kesempatan untukmu dan diriku untuk masuk ke satuan elit. Setelah itu kita bisa leluasa pergi ke daerah berbahaya manapun termasuk desamu." Earl mencoba meyakinkanku untuk lebih bersabar.
Perlahan meyakinkanku sepanjang perdebatan yang cukup melelahkan itu, Earl tak pernah berhenti berbicara sama sekali. Cukup lama kami saling berdebat satu sama lain, namun pada akhirnya akupun setuju tentang semua rencananya.
Siang itu kami berjalan menyusuri pinggiran ibukota yang dihiasi oleh rumah-rumah lusuh seakan ingin menunjukan bahwa tempat ini adalah daerah pinggir ibukota. Cukup lama kami menapaki jalan yang tebuat dari batu-batu pualam yang tersusun dengan rapi, hingga pada akhirnya kami menjejakan kaki didepan sebuah bangunan besar yang tampak kosong tak berpenghuni.
"Ini tempatnya," Earl menunjuk kearah gerbang bangunan tersebut yang tampak sedikit terbuka."Earl, kau yakin? Tempat ini sepertinya sudah lama tidak dihuni, lihatlah... tanaman rambat itu hampir menutupi seluruh atapnya." ujarku kepada Earl. "Sudah biarkan saja, sebelah sini..", Earl mengajakku menuju kearah timur bangunan itu. Tampak dia telah paham betul dengan seluk beluk tempat ini. Kami masuk kedalam dan menyusuri koridor demi koridor yang seluruh jendelanya seperti ditutup rapat-rapat. "Tempat ini gelap sekali, aneh..." Pikirku.
Samar-samar terdengar langkah kaki memecah keheningan didalam tempat itu. "Earl, kau membawa anak itu?" sesosok bayangan pria tiba-tiba muncul dan berbicara dari sudut koridor. "Kau kenal dia?" tanyaku pada Earl yang hanya memandangi sosok pria yang kemudian terlihat berjalan sedikit membungkuk. Sinar-sinar dari celah atap sedikit demi sedikit menyingkap rambut putih dan wajahnya yang terlihat tak muda lagi. "Earl..." aku memanggilnya lagi karena tidak menjawab pertanyaanku.
"Kau Sastra ya...?" Tanya si pria tua.
Enggan aku menjawab pertanyaan si pria tua karena tak mengerti bagaimana dia bisa mengetahui namaku.
"Tenanglah nak, kau tak perlu takut dengan pria tua sepertiku... Ohohoho.. Uhukk..Uhuuk.." dengan sedikit terbatuk-batuk pria tua itu berbicara sambil berjalan perlahan mendekati kami.
"Kenalkan, saya Faradir, komandan divisi pasukan pengintai. Dan Earl ini, dia adalah salah satu anggota divisi ini. Ohoho.." sang pria tua menepuk-nepuk bahu Earl disertai dengan tertawa kecil. Sementara Earl sibuk terlihat mencari sesuatu di sakunya.
"Ini.... komandan, Sastra juga diberikan koin ini oleh Naku Raghar." Earl memberikan koin itu kepada Faradir sang pria tua yang ternyata adalah komandan divisi pasukan pengintai.
"Tunggu.. tunggu.. aku tak mengerti" aku mencoba menyela percakapan yang semakin lama semakin membuatku bingung.
"Earl, aku ingat kau dari divisi peralatan dan teknis kan? Kau yang mengatakan itu."
"Dan siapa kakek tua ini? dia terlihat sangat akrab denganmu? dan dia adalah komandan divisi pengintai. Aku tidak mengerti..."
"Earl, coba jelaskan." aku mencoba mencari tahu apa yang terjadi.
"Baiklah kawan, tenanglah.." jawab Earl. Dia terlihat merobek lambang divisi di lengan kanannya.
"Kau lihat? Komandan Faradir tidak salah. Aku adalah anggota legiun pemburu naga divisi pasukan pengintai." Ujar Earl dengan menunjukan sebuah logo mata dengan pedang dibalik lambang yang telah ia robek.
"Selama ini kau berbohong? Lalu bagaimana dengan koin itu? Naku Raghar memberimu koin itu." tanyaku.
"Ohohoho, Naku Raghar sudah tahu itu." Faradir, sang pria tua itu menyela percakapan kami berdua.
"Apa maksudmu?"
"Biar aku yang menjelaskannya, pertama-tama serahkan koin itu nak." Faradir menunjuk koin yang aku bawa. Aku menyerahkan koin itu kepadanya. Dia menggenggam koin itu dengan erat, cukup lama pria tua itu menggengamnya sambil memandangku tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Divisi ini adalah pasukan pengintai. Dan Naku Raghar adalah komandan tertinggi divisi ini. Dia memimpin divisi ini langsung tanpa diketahui oleh divisi lainnya." tiba-tiba pria tua itu berbicara.
"Kami adalah mata dan pedang sang pemimpin negara ini.. kami adalah pemburu naga yang menjalankan perintah langsung sang pemimpin." ia menunjukan koin bergambar tombak yang diberikan oleh Naku Raghar.
"Tombak guntur adalah simbol perintah. Ini adalah tanda bahwa kau saat ini akan menjalankan sebuah perintah langsung dan bertugas sebagai pasukan pengintai."
"Apa? bagaimana mungkin? bahkan saat ini aku belum terdaftar sebagai pasukan legiun pemburu naga." jawabku.
"Dengan menerima koin ini, kau sudah resmi menjadi pasukan legiun pemburu naga nak. Nah sekarang dengan izinku kau masuk kedalam divisi pasukan pengintai, Ohohoho."
"Tapi kenapa Naku Raghar memberikan koin itu padaku?"
"Bolmur... Naku Raghar telah memerintahkan Bolmur untuk menjemputmu."
"Kau kenal dia?"
"Ohohoho, tentu saja... kami cukup akrab." jawab si pria tua dengan santai.
"Bagaimana bisa?"
"Bolmur adalah anggota divisi pasukan pengintai." Earl menimpali pertanyaan yang sebenarnya kutujukan kepada si pria tua.
"Apa?" jawabku yang tidak begitu saja mempercayai ucapan Earl.
"Ohohoho, nak... kau pasti heran, ikutlah denganku." ujar Faradir sang pria tua. Dia berjalan kearah ujung koridor dimana terlihat cahaya terang kekuningan. Instingku kemudian mengajaku untuk mengikuti si pria tua. Kakiku melangkah melewati koridor gelap yang perlahan kemudian mulai tersinari oleh cahaya kuning sinar lilin dari ruangan tepat di sudut koridor.
"Masuklah nak." terdengar suara Faradir dari dalam ruangan yang terang itu.
Aku memasuki ruangan itu, sementara Earl hanya berdiri diluar ruangan. Kami tak saling berbicara sejak itu. Faradir terlihat berdiri di sebuah altar yang besar. Dia memutar tuas yang berada di meja altar itu. "GRRUUK.. GRUUK.." Setelah Faradir memutar tuasnya, dinding-dinding ruangan kemudian bergeser, memutar dan memunculkan sebuah lorong dengan tangga yang tampaknya menuju ke lantai bawah.
Dia mengambil sebuah lilin yang terletak di meja altar dan berjalan menuju lorong itu. Aku mengikuti langkahnya perlahan menyusuri satu demi satu anak tangga yang membawaku semakin ke bawah. "Aroma lembab sangat terasa didalam sini. sepertinya tempat ini sudah lama sekali?" tanyaku. "Tempat ini memang jarang dikunjungi, dan memang sudah aja sejak kota ini dibangun." jawab Faradir sambil terus menyusuri satu per satu anak tangga.
"Hei, kakek tua... kau tadi bilang Naku Raghar yang memerintahkan Bolmur untuk menjemputku. Aku tidak mengerti... "
"Baiklah, akan kujelaskan padamu..." jawab Faradir.
"Saat itu dimana kami mengetahui bahwa naga-naga itu mulai masuk mendekat ke wilayah manusia. Kami divisi pasukan pengintai mendapat tugas dari Naku Raghar untuk pergi menuju ke seluruh wilayah di Tanah Kesslein. Kami harus menjemput seluruh laki-laki dari suku pemburu naga yang telah cukup umur untuk dibawa ke ibukota dan dilatih sebagai pemburu naga. Kami menyebar dalam kelompok besar, kecil maupun perseorangan. Saat itu Bolmur mengajukan diri kepada Naku Raghar untuk membawa seorang anak dari Lukaru yang ternyata adalah dirimu."
"Bolmur dan Naku Raghar dulu adalah teman dekat, mereka adalah teman semasa kecil. Itulah kenapa Naku Raghar memberikan koin itu padamu. Dia melihat potensi dalam dirimu nak, Ohohoho." ujar Faradir mencoba untuk meredam seluruh pertanyaan yang muncul di benakku.
Cukup lama kami berjalan, hingga pada akhirnya kami berada di sebuah ruangan kecil yang tampak seluruhnya terbuat dari batu. "Kemarilah, kutunjukan sesuatu..." ucapan Faradir mengundang rasa penasaranku. Faradir menuju ke sebuah meja batu dimana terdapat tiga buah guci abu jenazah tertata rapi diatasnya. "Sastra, lihatlah.." dia memberikan sebuah guci abu kepadaku. Terlihat dengan jelas sebuah tulisan terukir di guci yang terbuat dari perak itu.
....
BERISTIRAHAT DENGAN TENANG
EIGHURI BOLMUR
LAHIR: KESSLEIN UTARA, TAHUN 5616
WAFAT: TAHUN 5677
LEGIUN PEMBURU NAGA
DIVISI PASUKAN PENGINTAI
...
Tanganku sedikit lemas membaca tulisan ini. Entah apa yang harus kukatakan, semua ini terkesan sangat membingungkan. Nama Bolmur tertera dengan sangat jelas di guci abu ini, "Tidak mungkin Bolmur mati." pikirku.
"Tiga hari yang lalu, pada hari dimana kami menemukanmu di tepi sungai, pasukan pengintai juga menemukan tubuh Bolmur di bukit Nabia."
"Bolmur ditemukan dalam kondisi meninggal." kata-kata Faradir itu membuatku semakin lunglai, tak kuat memegang guci itu dan sesegera mungkin aku letakkan kembali sebelum terjatuh.
"Tapi, Earl... dia bilang.."
"Earl, dia orang yang baik.. dia hanya tak ingin kau mengetahuinya saat itu." jawab Faradir.
"Kenapa kalian menutupi hal ini?"
"Tenanglah nak, Bolmur mendapat upacara kematian yang layak. Seluruh anggota pasukan pengintai mengiringi upacara kematiannya. Kami hanya tidak ingin hal ini diketahui oleh orang-orang di seluruh Tanah Kesslein." ujar Faradir mencoba menjelaskannya padaku.
"Untuk apa??" tanyaku merasa masih belum puas dengan jawaban dari si pria tua Faradir.
"Divisi pasukan pengintai saat itu mengetahui pergerakan naga dalam jumlah besar dari utara mendekat kearah desa-desa. Naku Raghar tak ingin ada kekacauan besar jika berita itu menyebar. Saat itu kami hanya diperintahkan untuk mempersiapkan pasukan. Legiun pemburu naga divisi lain mencoba memburu naga-naga itu namun nahas tidak ada yang selamat."
"Bolmur saat itu baru saja selesai mengemban tugas dari Naku Raghar, aku mengirimkan sebuah pesan lewat burung Haukkin. Aku memerintahkannya untuk memperingatkan desa di utara agar waspada dengan sekumpulan naga yang mulai bergerak ke arah desa. Malam harinya dia mengirimkan sebuah pesan.
Aku sudah memperingatkan warga desa suku Lukaru, mereka akan mengungsi besok. Dan satu lagi, aku ingin kau menjaga anak yang aku bawa nanti, dia adalah seorang anak dari suku Lukaru. Begitulah kata-kata nya di pesan itu."
"Tunggu, kau bilang mengungsi?"
"Oh, warga desamu? Ya, mereka mengungsi ke wilayah timur Kesslein. Ohoho.. kau pasti mengkhawatirkan mereka ya?"
"Be-benarkah?? kuharap kau tidak berbohong padaku kali ini."
"Tidak, tidak, aku harus bergegas pulang ke desaku."
"Ayolah, Naku Raghar telah memberikan koin ini pada kita. Ini benar-benar mukjizat kan!?"
"Masa bodoh dengan koin itu, aku sudah menuruti apa yang kau katakan Earl, aku sudah menemui Naku Raghar." kami berdebat sepanjang jalan setelah menemui Naku Raghar.
"Terima kasih Earl, tapi saat ini aku harus ke desa. Aku ingin memastikan keselamatan keluargaku."
"Hey, hey... Sastra, dengarkan aku dulu," Earl berbicara seraya tangannya menarik pundakku. "Lihat ini." sambil menunjukan koin yang diberikan oleh Naku Raghar.
"Ini adalah tanda bahwa kita terpilih untuk masuk ke salah satu divisi elit pasukan pemburu naga, divisi yang banyak orang inginkan, kita mendapatkannya dengan mudah."
"Dengar, aku tidak tahu kenapa Naku Raghar memberikan koin ini secara cuma-cuma setelah mendengar cerita tentang manusia berkulit naga yang menyerangmu. Tapi ini kesempatan untukmu dan diriku untuk masuk ke satuan elit. Setelah itu kita bisa leluasa pergi ke daerah berbahaya manapun termasuk desamu." Earl mencoba meyakinkanku untuk lebih bersabar.
Perlahan meyakinkanku sepanjang perdebatan yang cukup melelahkan itu, Earl tak pernah berhenti berbicara sama sekali. Cukup lama kami saling berdebat satu sama lain, namun pada akhirnya akupun setuju tentang semua rencananya.
Siang itu kami berjalan menyusuri pinggiran ibukota yang dihiasi oleh rumah-rumah lusuh seakan ingin menunjukan bahwa tempat ini adalah daerah pinggir ibukota. Cukup lama kami menapaki jalan yang tebuat dari batu-batu pualam yang tersusun dengan rapi, hingga pada akhirnya kami menjejakan kaki didepan sebuah bangunan besar yang tampak kosong tak berpenghuni.
"Ini tempatnya," Earl menunjuk kearah gerbang bangunan tersebut yang tampak sedikit terbuka."Earl, kau yakin? Tempat ini sepertinya sudah lama tidak dihuni, lihatlah... tanaman rambat itu hampir menutupi seluruh atapnya." ujarku kepada Earl. "Sudah biarkan saja, sebelah sini..", Earl mengajakku menuju kearah timur bangunan itu. Tampak dia telah paham betul dengan seluk beluk tempat ini. Kami masuk kedalam dan menyusuri koridor demi koridor yang seluruh jendelanya seperti ditutup rapat-rapat. "Tempat ini gelap sekali, aneh..." Pikirku.
Samar-samar terdengar langkah kaki memecah keheningan didalam tempat itu. "Earl, kau membawa anak itu?" sesosok bayangan pria tiba-tiba muncul dan berbicara dari sudut koridor. "Kau kenal dia?" tanyaku pada Earl yang hanya memandangi sosok pria yang kemudian terlihat berjalan sedikit membungkuk. Sinar-sinar dari celah atap sedikit demi sedikit menyingkap rambut putih dan wajahnya yang terlihat tak muda lagi. "Earl..." aku memanggilnya lagi karena tidak menjawab pertanyaanku.
"Kau Sastra ya...?" Tanya si pria tua.
Enggan aku menjawab pertanyaan si pria tua karena tak mengerti bagaimana dia bisa mengetahui namaku.
"Tenanglah nak, kau tak perlu takut dengan pria tua sepertiku... Ohohoho.. Uhukk..Uhuuk.." dengan sedikit terbatuk-batuk pria tua itu berbicara sambil berjalan perlahan mendekati kami.
"Kenalkan, saya Faradir, komandan divisi pasukan pengintai. Dan Earl ini, dia adalah salah satu anggota divisi ini. Ohoho.." sang pria tua menepuk-nepuk bahu Earl disertai dengan tertawa kecil. Sementara Earl sibuk terlihat mencari sesuatu di sakunya.
"Ini.... komandan, Sastra juga diberikan koin ini oleh Naku Raghar." Earl memberikan koin itu kepada Faradir sang pria tua yang ternyata adalah komandan divisi pasukan pengintai.
"Tunggu.. tunggu.. aku tak mengerti" aku mencoba menyela percakapan yang semakin lama semakin membuatku bingung.
"Earl, aku ingat kau dari divisi peralatan dan teknis kan? Kau yang mengatakan itu."
"Dan siapa kakek tua ini? dia terlihat sangat akrab denganmu? dan dia adalah komandan divisi pengintai. Aku tidak mengerti..."
"Earl, coba jelaskan." aku mencoba mencari tahu apa yang terjadi.
"Baiklah kawan, tenanglah.." jawab Earl. Dia terlihat merobek lambang divisi di lengan kanannya.
"Kau lihat? Komandan Faradir tidak salah. Aku adalah anggota legiun pemburu naga divisi pasukan pengintai." Ujar Earl dengan menunjukan sebuah logo mata dengan pedang dibalik lambang yang telah ia robek.
"Selama ini kau berbohong? Lalu bagaimana dengan koin itu? Naku Raghar memberimu koin itu." tanyaku.
"Ohohoho, Naku Raghar sudah tahu itu." Faradir, sang pria tua itu menyela percakapan kami berdua.
"Apa maksudmu?"
"Biar aku yang menjelaskannya, pertama-tama serahkan koin itu nak." Faradir menunjuk koin yang aku bawa. Aku menyerahkan koin itu kepadanya. Dia menggenggam koin itu dengan erat, cukup lama pria tua itu menggengamnya sambil memandangku tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Divisi ini adalah pasukan pengintai. Dan Naku Raghar adalah komandan tertinggi divisi ini. Dia memimpin divisi ini langsung tanpa diketahui oleh divisi lainnya." tiba-tiba pria tua itu berbicara.
"Kami adalah mata dan pedang sang pemimpin negara ini.. kami adalah pemburu naga yang menjalankan perintah langsung sang pemimpin." ia menunjukan koin bergambar tombak yang diberikan oleh Naku Raghar.
"Tombak guntur adalah simbol perintah. Ini adalah tanda bahwa kau saat ini akan menjalankan sebuah perintah langsung dan bertugas sebagai pasukan pengintai."
"Apa? bagaimana mungkin? bahkan saat ini aku belum terdaftar sebagai pasukan legiun pemburu naga." jawabku.
"Dengan menerima koin ini, kau sudah resmi menjadi pasukan legiun pemburu naga nak. Nah sekarang dengan izinku kau masuk kedalam divisi pasukan pengintai, Ohohoho."
"Tapi kenapa Naku Raghar memberikan koin itu padaku?"
"Bolmur... Naku Raghar telah memerintahkan Bolmur untuk menjemputmu."
"Kau kenal dia?"
"Ohohoho, tentu saja... kami cukup akrab." jawab si pria tua dengan santai.
"Bagaimana bisa?"
"Bolmur adalah anggota divisi pasukan pengintai." Earl menimpali pertanyaan yang sebenarnya kutujukan kepada si pria tua.
"Apa?" jawabku yang tidak begitu saja mempercayai ucapan Earl.
"Ohohoho, nak... kau pasti heran, ikutlah denganku." ujar Faradir sang pria tua. Dia berjalan kearah ujung koridor dimana terlihat cahaya terang kekuningan. Instingku kemudian mengajaku untuk mengikuti si pria tua. Kakiku melangkah melewati koridor gelap yang perlahan kemudian mulai tersinari oleh cahaya kuning sinar lilin dari ruangan tepat di sudut koridor.
"Masuklah nak." terdengar suara Faradir dari dalam ruangan yang terang itu.
Aku memasuki ruangan itu, sementara Earl hanya berdiri diluar ruangan. Kami tak saling berbicara sejak itu. Faradir terlihat berdiri di sebuah altar yang besar. Dia memutar tuas yang berada di meja altar itu. "GRRUUK.. GRUUK.." Setelah Faradir memutar tuasnya, dinding-dinding ruangan kemudian bergeser, memutar dan memunculkan sebuah lorong dengan tangga yang tampaknya menuju ke lantai bawah.
Dia mengambil sebuah lilin yang terletak di meja altar dan berjalan menuju lorong itu. Aku mengikuti langkahnya perlahan menyusuri satu demi satu anak tangga yang membawaku semakin ke bawah. "Aroma lembab sangat terasa didalam sini. sepertinya tempat ini sudah lama sekali?" tanyaku. "Tempat ini memang jarang dikunjungi, dan memang sudah aja sejak kota ini dibangun." jawab Faradir sambil terus menyusuri satu per satu anak tangga.
"Hei, kakek tua... kau tadi bilang Naku Raghar yang memerintahkan Bolmur untuk menjemputku. Aku tidak mengerti... "
"Baiklah, akan kujelaskan padamu..." jawab Faradir.
"Saat itu dimana kami mengetahui bahwa naga-naga itu mulai masuk mendekat ke wilayah manusia. Kami divisi pasukan pengintai mendapat tugas dari Naku Raghar untuk pergi menuju ke seluruh wilayah di Tanah Kesslein. Kami harus menjemput seluruh laki-laki dari suku pemburu naga yang telah cukup umur untuk dibawa ke ibukota dan dilatih sebagai pemburu naga. Kami menyebar dalam kelompok besar, kecil maupun perseorangan. Saat itu Bolmur mengajukan diri kepada Naku Raghar untuk membawa seorang anak dari Lukaru yang ternyata adalah dirimu."
"Bolmur dan Naku Raghar dulu adalah teman dekat, mereka adalah teman semasa kecil. Itulah kenapa Naku Raghar memberikan koin itu padamu. Dia melihat potensi dalam dirimu nak, Ohohoho." ujar Faradir mencoba untuk meredam seluruh pertanyaan yang muncul di benakku.
Cukup lama kami berjalan, hingga pada akhirnya kami berada di sebuah ruangan kecil yang tampak seluruhnya terbuat dari batu. "Kemarilah, kutunjukan sesuatu..." ucapan Faradir mengundang rasa penasaranku. Faradir menuju ke sebuah meja batu dimana terdapat tiga buah guci abu jenazah tertata rapi diatasnya. "Sastra, lihatlah.." dia memberikan sebuah guci abu kepadaku. Terlihat dengan jelas sebuah tulisan terukir di guci yang terbuat dari perak itu.
....
BERISTIRAHAT DENGAN TENANG
EIGHURI BOLMUR
LAHIR: KESSLEIN UTARA, TAHUN 5616
WAFAT: TAHUN 5677
LEGIUN PEMBURU NAGA
DIVISI PASUKAN PENGINTAI
...
Tanganku sedikit lemas membaca tulisan ini. Entah apa yang harus kukatakan, semua ini terkesan sangat membingungkan. Nama Bolmur tertera dengan sangat jelas di guci abu ini, "Tidak mungkin Bolmur mati." pikirku.
"Tiga hari yang lalu, pada hari dimana kami menemukanmu di tepi sungai, pasukan pengintai juga menemukan tubuh Bolmur di bukit Nabia."
"Bolmur ditemukan dalam kondisi meninggal." kata-kata Faradir itu membuatku semakin lunglai, tak kuat memegang guci itu dan sesegera mungkin aku letakkan kembali sebelum terjatuh.
"Tapi, Earl... dia bilang.."
"Earl, dia orang yang baik.. dia hanya tak ingin kau mengetahuinya saat itu." jawab Faradir.
"Kenapa kalian menutupi hal ini?"
"Tenanglah nak, Bolmur mendapat upacara kematian yang layak. Seluruh anggota pasukan pengintai mengiringi upacara kematiannya. Kami hanya tidak ingin hal ini diketahui oleh orang-orang di seluruh Tanah Kesslein." ujar Faradir mencoba menjelaskannya padaku.
"Untuk apa??" tanyaku merasa masih belum puas dengan jawaban dari si pria tua Faradir.
"Divisi pasukan pengintai saat itu mengetahui pergerakan naga dalam jumlah besar dari utara mendekat kearah desa-desa. Naku Raghar tak ingin ada kekacauan besar jika berita itu menyebar. Saat itu kami hanya diperintahkan untuk mempersiapkan pasukan. Legiun pemburu naga divisi lain mencoba memburu naga-naga itu namun nahas tidak ada yang selamat."
"Bolmur saat itu baru saja selesai mengemban tugas dari Naku Raghar, aku mengirimkan sebuah pesan lewat burung Haukkin. Aku memerintahkannya untuk memperingatkan desa di utara agar waspada dengan sekumpulan naga yang mulai bergerak ke arah desa. Malam harinya dia mengirimkan sebuah pesan.
Aku sudah memperingatkan warga desa suku Lukaru, mereka akan mengungsi besok. Dan satu lagi, aku ingin kau menjaga anak yang aku bawa nanti, dia adalah seorang anak dari suku Lukaru. Begitulah kata-kata nya di pesan itu."
"Tunggu, kau bilang mengungsi?"
"Oh, warga desamu? Ya, mereka mengungsi ke wilayah timur Kesslein. Ohoho.. kau pasti mengkhawatirkan mereka ya?"
"Be-benarkah?? kuharap kau tidak berbohong padaku kali ini."
Diubah oleh fightforjustice 10-06-2016 15:42
0
Kutip
Balas