- Beranda
- Stories from the Heart
( TAMAT ) AKU, KAMU, DAN LEMON : BUKU HARIAN AIRIN
...
TS
beavermoon
( TAMAT ) AKU, KAMU, DAN LEMON : BUKU HARIAN AIRIN
Selamat datang di BeaverMoon Land
Sudah lama tak berjumpa dengan halaman ini dan biasanya cuma liat info-info HT doang.
Dan pada akhirnya ane kembali dengan membawa kisah yang ngga terlalu bagus

Spoiler for Tanya Jawab:
Q : Bang bakalan panen kentang lagi ngga?"
A : Kayaknya ngga, soalnya thread ini cuma 15 episode pendek
Q : Kok cuma 15 Bang?
A : Ya emang segitu adanya dan ngga ada yang ditambah-tambahin
Q : Update tiap hari kan?"
A : Sayangnya ngga tiap hari. Berhubung cuma 15 episode dan ane lagi lumayan sibuk jadi updatenya seminggu sekali (biasanya weekend)
Q : Ini cerita tentang apa Bang?
A : Ini adalah prekuel dari AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Bang, prekuel apa sih?
A : Ini cerita sebelum adanya AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Jadi saya harus baca AKU, KAMU, DAN LEMON dulu dong bang?
A : Sebaiknya seperti itu, tapi kalo mau ini duluan juga nggapapa
Q : Bang, Nanda apa kabar?
A : -_- pertanyaan yang pasti ane jarang jawab
A : Kayaknya ngga, soalnya thread ini cuma 15 episode pendek
Q : Kok cuma 15 Bang?
A : Ya emang segitu adanya dan ngga ada yang ditambah-tambahin
Q : Update tiap hari kan?"
A : Sayangnya ngga tiap hari. Berhubung cuma 15 episode dan ane lagi lumayan sibuk jadi updatenya seminggu sekali (biasanya weekend)

Q : Ini cerita tentang apa Bang?
A : Ini adalah prekuel dari AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Bang, prekuel apa sih?
A : Ini cerita sebelum adanya AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Jadi saya harus baca AKU, KAMU, DAN LEMON dulu dong bang?
A : Sebaiknya seperti itu, tapi kalo mau ini duluan juga nggapapa
Q : Bang, Nanda apa kabar?
A : -_- pertanyaan yang pasti ane jarang jawab
Jadi buat agan dan aganwati sekalian yang mau mengikuti thread ini seharusnya baca AKU, KAMU, DAN LEMONterlebih dahulu. Cuma kalo mau baca ini dulu ya nggapapa ngga ada larangannya

Selamat membaca

Spoiler for INDEX:
Episode 1
Episode 2
Episode 3
Episode 4
Episode 5
Episode 6
Episode 7a
Episode 7b
Episode 8a
Episode 8b
Episode 9a
Episode 9b
Episode 10
Episode 11a
Episode 11b
Episode 12
Episode 13a
Episode 13b
Episode 14a
Episode 14b
Episode 15
Episode 15 + 1 (Finale)
Bad News Lemon
Behind The Story (part 1)
Behind The Story (part 2)
Behind The Story (part 3 / finale)
Pemberitahuan
Episode 2
Episode 3
Episode 4
Episode 5
Episode 6
Episode 7a
Episode 7b
Episode 8a
Episode 8b
Episode 9a
Episode 9b
Episode 10
Episode 11a
Episode 11b
Episode 12
Episode 13a
Episode 13b
Episode 14a
Episode 14b
Episode 15
Episode 15 + 1 (Finale)
Bad News Lemon
Behind The Story (part 1)
Behind The Story (part 2)
Behind The Story (part 3 / finale)
Pemberitahuan
Diubah oleh beavermoon 28-01-2020 19:37
i4munited dan 13 lainnya memberi reputasi
14
77.7K
Kutip
417
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#99
lagi-lagi ngga muat dalam satu kali post, jadi dipisah lagi ._.
btw updatenya lewat HP soalnya di laptop captchanya ngga muncul-muncul, jadi maaf kalo editannya kurang ._.
btw updatenya lewat HP soalnya di laptop captchanya ngga muncul-muncul, jadi maaf kalo editannya kurang ._.
Spoiler for Episode 8a:
Tidak ada yang tau apa yang akan kita hadapi pada hari ini, mungkin kita bisa mendapatkan apa yang dulu selalu kita inginkan dan bisa saja kita mendapatkan apa yang membuat raga kita menjadi kuat, atau bisa juga kita tidak mendapatkan apa-apa.
Aku bangun pagi ini, jam dinding kamarku sudah menunjukkan pukul enam pagi. Nanda masih tertidur di atas kasurku dan aku merasakan sebuah alur nafas yang ringan berada di sampingku, dan itu adalah Widya yang juga masih tertidur dengan pulasnya. Kupandangi wajahnya dan nampak sebuah wujud dari kedamaian dan sebuah pesona yang luar biasa bahkan ketika ia masih memejamkan matanya. Aku tersenyum melihatnya kali ini dan kemudian kuseka rambut yang menghalangi mata kirinya, kucium keningnya dengan pelan agar tidak membangunkannya.
Sisa lilin masih ada di meja yang telah memberikan cahayanya semalam hingga ia kalah oleh terpaan angin malam yang cukup kencang. Kuambil lilin itu untuk kubawa ke bawah dan mengambil lilin yang sudah hampir habis di bawah. Kubuka pintu lemari yang ada di dapur untuk mengambil sebuah toples kaca berisikan bubuk kopi yang sudah digiling, kutuang beberapa sendok ke dalam cangkir ditambah dengan air yang cukup panas. Aromanya pagi ini menambah semangat untuk memulai hari yang baru.
Kubawa secangkir kopi yang ada di tanganku menuju teras depan, sebatang rokok sudah menyala di bibirku dan aku mencoba untuk menikmati pagi ini dengan cara yang biasa Ayah lakukan. Dan memang benar cara ini cukup membuatku memanjakan ragaku yang selalu kupacu dalam segala hal. Kudengar suara motor dari kejauhan yang datang menuju tempatku berada, kubuka pintu gerbang rumahku dan benar saja Reza sudah giatnya datang ke rumahku pagi ini entah membawa kabar apa.
Ia memarkirkan motornya di samping mobil Widya dan dengan biasa ia selalu tersenyum setelah mengetahui bahwa Widya sudah ada sebelum dirinya datang, dan sudah pasti dia akan berkata seperti biasanya.
“Kayaknya emang kali ini beneran udah ada yang gantiin gue nih...” Katanya
“Bukan dia yang gantiin, tapi lu kemana aja kemaren-kemaren? Giliran udah urusan cewe aja ngilang lu.” Kataku menjabat tangannya
“Yah bukan gitu juga, kan gue udah mulai kerja di tempatnya Milka. Dan sekarang tiap hari hampir bisa gue ngeliat dia mulu.” Jawab Reza
“Hampir tiap hari ke sana? Gila kali badannya kuat banget minum alkohol mulu.” Tanyaku heran
“Gue juga ngga ngerti Bram, emang dia kuat sih kalo soal gituan.” Kata Reza
Kemudian aku kembali duduk di teras bersama dengan Reza, ia melihat cangkir berisi kopi yang masih mengeluarkan asapnya dan ia mencoba untuk menghirupnya.
“Emang bener-bener deh kopi pagi itu bikin bergairah, tapi ini pahit ya?” Tanyanya
“Iya lah, bikin aja di belakang masih ada air panasnya.” Kataku
Dia masuk ke dalam rumahku untuk membuat secangkir kopi yang lebih “normal” dari buatanku. Tidak butuh lama untuk membuatnya kembali dengan membawa secangkir kopi dan ia menaruhnya di samping cangkirku. Ia memandangi kedua cangkir ini dengan seksama dan berulang-ulang hingga menarik perhatianku.
“Kenapa diliatin mulu?” Tanyaku heran
“Dari luar keliatan sama ya, coba kalo udah diminum pasti kontras banget semuanya.” Katanya
Dengan cepat aku melihat ke arah Reza dan rasanya aku seperti mendapatkan sebuah pencerahan di pagi hari lewat dua cangkir kopi. Dan memang benar saja, dua cangkir kopi ini terlihat sama persis karena menggunakan cangkir keramik yang sama putihnya. Isinya pun sama yaitu kopi hitam yang ada di dapur, namun ternyata dua benda ini memiliki rasa yang berbeda. Punyaku memiliki rasa yang benar-benar pahit apalagi jika orang awam yang meminumnya, sedangkan punya Reza memiliki rasa manis yang disamarkan oleh pahitnya kopi hitam ini.
“Weh lu ngapain liat gue kayak gitu?” Tanya Reza
“Nggapapa, berasa disamber petir pagi ini.” Sanggahku
“Mendung juga ngga mana ada petir?” Tanyanya dengan pandangan malas
“Lupain aja, lu gimana sama Milka?” Tanyaku mengganti topik pembicaraan
“Kayaknya udah dapet lampu ijo nih gue, makin ke sini makin deket aja. Kalo dia lagi ngga ke tempat gue ya kita chattingan bahkan sampe telponan.” Jelas Reza
“Akhirnya ya setelah sekian lama sahabat gue yang satu ini bakalan ninggalin gelar abadi jomblonya.” Kataku
Ia memandangiku dengan malas lagi. Pagi ini kami saling bertukar cerita setelah kita sudah tidak bertemu beberapa hari, hingga tak terasa cangkir kopi milik kami berdua sudah sama-sama habis menyisakan ampas di dasar cangkir. Pintu rumahku ditarik dari dalam dan keluarlah Widya yang baru saja bangun dari tidurnya. Aku memandanginya dengan penuh perhatian dan kemudian kami berdua saling tersenyum.
“Mending gue naik ke atas deh bangunin Nanda buat sarapan.” Kata Reza bangun dari duduknya
Mata kami berdua mengikuti kemana Reza melangkah, kemudian ia duduk di pangkuanku dan mengalungkan tangannya di leherku. Kuseka rambutnya yang masih saja menutupi sebagian wajahnya, ia mengeluarkan sebuah kunciran dari saku celananya dan mengikat rambutnya dengan rapih. Lagi-lagi kami saling tersenyum satu sama lain entah kenapa.
Mungkin saja filosofi kopi yang diberikan oleh Reza tadi ada benarnya juga. Dua cangkir itu diibaratkan sebagai dua orang yang sama dalam kurun waktu yang berbeda. Pada masa lalu orang itu memiliki rasa yang pahit untuk kehidupanku dan kemudian ia pergi begitu saja tanpa adanya kata berpisah. Dan satu lagi adalah pada saat ini, aku berfikir mungkin saja orang yang dulu memiliki rasa “pahit” itu kembali datang dengan rasa yang sudah berbeda dan bisa dikatakan lebih baikd dari yang dulu.
“Kamu bengongin apa?” Tanyanya sambil menyentuh keningku dengan jari telunjuknya
“Abis dapet pencerahan dari Reza, sampe aku ngga percaya aja aku bisa dapetin itu dari dia.” Kataku
Ia tersenyum lagi kepadaku dan senyuman itu masih mendapatkan predikat sebagai senyuman yang mematikan. Tidak butuh senjata tajam, senjata api, atau senjata organik untuk membunuh musuh seperti diriku. Tunjukan saja sesuatu yang dapat meluluhkan hatiku seperti halnya sebuah senyuman. Kill me with kindness...
“Liat sendiri kan, Bang Eja udah ngga pernah dianggep sama Abang kamu Nda, soalnya dia udah menemukan cinta lamanya kembali.” Kata Reza dari belakang pintu
“Bener juga ya Bang Eja, kayaknya kita bakalan dicuekin abis-abisan nih.” Kata Nanda juga
“Kayaknya mereka udah ngga butuh aku lagi buat bayarin sarapan mereka deh Wid, kita pergi berdua aja yuk.” Kataku
“Yah bercandanya jelek sih lu, kita kan bercanda doang.” Kata Reza
Aku dan Widya tertawa mendengar itu. Semua yang ada di rumah sudah bangun dan ini waktunya untuk mencari sarapan pagi seperti biasa. Aku dan Widya kembali naik ke atas kamar untuk bersiap-siap sedangkan Reza sedang memanaskan mobil milik Widya. Setelah semuanya siap akhirnya kami berangkat mencari-cari tempat untuk sarapan.
Aku bangun pagi ini, jam dinding kamarku sudah menunjukkan pukul enam pagi. Nanda masih tertidur di atas kasurku dan aku merasakan sebuah alur nafas yang ringan berada di sampingku, dan itu adalah Widya yang juga masih tertidur dengan pulasnya. Kupandangi wajahnya dan nampak sebuah wujud dari kedamaian dan sebuah pesona yang luar biasa bahkan ketika ia masih memejamkan matanya. Aku tersenyum melihatnya kali ini dan kemudian kuseka rambut yang menghalangi mata kirinya, kucium keningnya dengan pelan agar tidak membangunkannya.
Sisa lilin masih ada di meja yang telah memberikan cahayanya semalam hingga ia kalah oleh terpaan angin malam yang cukup kencang. Kuambil lilin itu untuk kubawa ke bawah dan mengambil lilin yang sudah hampir habis di bawah. Kubuka pintu lemari yang ada di dapur untuk mengambil sebuah toples kaca berisikan bubuk kopi yang sudah digiling, kutuang beberapa sendok ke dalam cangkir ditambah dengan air yang cukup panas. Aromanya pagi ini menambah semangat untuk memulai hari yang baru.
Kubawa secangkir kopi yang ada di tanganku menuju teras depan, sebatang rokok sudah menyala di bibirku dan aku mencoba untuk menikmati pagi ini dengan cara yang biasa Ayah lakukan. Dan memang benar cara ini cukup membuatku memanjakan ragaku yang selalu kupacu dalam segala hal. Kudengar suara motor dari kejauhan yang datang menuju tempatku berada, kubuka pintu gerbang rumahku dan benar saja Reza sudah giatnya datang ke rumahku pagi ini entah membawa kabar apa.
Ia memarkirkan motornya di samping mobil Widya dan dengan biasa ia selalu tersenyum setelah mengetahui bahwa Widya sudah ada sebelum dirinya datang, dan sudah pasti dia akan berkata seperti biasanya.
“Kayaknya emang kali ini beneran udah ada yang gantiin gue nih...” Katanya
“Bukan dia yang gantiin, tapi lu kemana aja kemaren-kemaren? Giliran udah urusan cewe aja ngilang lu.” Kataku menjabat tangannya
“Yah bukan gitu juga, kan gue udah mulai kerja di tempatnya Milka. Dan sekarang tiap hari hampir bisa gue ngeliat dia mulu.” Jawab Reza
“Hampir tiap hari ke sana? Gila kali badannya kuat banget minum alkohol mulu.” Tanyaku heran
“Gue juga ngga ngerti Bram, emang dia kuat sih kalo soal gituan.” Kata Reza
Kemudian aku kembali duduk di teras bersama dengan Reza, ia melihat cangkir berisi kopi yang masih mengeluarkan asapnya dan ia mencoba untuk menghirupnya.
“Emang bener-bener deh kopi pagi itu bikin bergairah, tapi ini pahit ya?” Tanyanya
“Iya lah, bikin aja di belakang masih ada air panasnya.” Kataku
Dia masuk ke dalam rumahku untuk membuat secangkir kopi yang lebih “normal” dari buatanku. Tidak butuh lama untuk membuatnya kembali dengan membawa secangkir kopi dan ia menaruhnya di samping cangkirku. Ia memandangi kedua cangkir ini dengan seksama dan berulang-ulang hingga menarik perhatianku.
“Kenapa diliatin mulu?” Tanyaku heran
“Dari luar keliatan sama ya, coba kalo udah diminum pasti kontras banget semuanya.” Katanya
Dengan cepat aku melihat ke arah Reza dan rasanya aku seperti mendapatkan sebuah pencerahan di pagi hari lewat dua cangkir kopi. Dan memang benar saja, dua cangkir kopi ini terlihat sama persis karena menggunakan cangkir keramik yang sama putihnya. Isinya pun sama yaitu kopi hitam yang ada di dapur, namun ternyata dua benda ini memiliki rasa yang berbeda. Punyaku memiliki rasa yang benar-benar pahit apalagi jika orang awam yang meminumnya, sedangkan punya Reza memiliki rasa manis yang disamarkan oleh pahitnya kopi hitam ini.
“Weh lu ngapain liat gue kayak gitu?” Tanya Reza
“Nggapapa, berasa disamber petir pagi ini.” Sanggahku
“Mendung juga ngga mana ada petir?” Tanyanya dengan pandangan malas
“Lupain aja, lu gimana sama Milka?” Tanyaku mengganti topik pembicaraan
“Kayaknya udah dapet lampu ijo nih gue, makin ke sini makin deket aja. Kalo dia lagi ngga ke tempat gue ya kita chattingan bahkan sampe telponan.” Jelas Reza
“Akhirnya ya setelah sekian lama sahabat gue yang satu ini bakalan ninggalin gelar abadi jomblonya.” Kataku
Ia memandangiku dengan malas lagi. Pagi ini kami saling bertukar cerita setelah kita sudah tidak bertemu beberapa hari, hingga tak terasa cangkir kopi milik kami berdua sudah sama-sama habis menyisakan ampas di dasar cangkir. Pintu rumahku ditarik dari dalam dan keluarlah Widya yang baru saja bangun dari tidurnya. Aku memandanginya dengan penuh perhatian dan kemudian kami berdua saling tersenyum.
“Mending gue naik ke atas deh bangunin Nanda buat sarapan.” Kata Reza bangun dari duduknya
Mata kami berdua mengikuti kemana Reza melangkah, kemudian ia duduk di pangkuanku dan mengalungkan tangannya di leherku. Kuseka rambutnya yang masih saja menutupi sebagian wajahnya, ia mengeluarkan sebuah kunciran dari saku celananya dan mengikat rambutnya dengan rapih. Lagi-lagi kami saling tersenyum satu sama lain entah kenapa.
Mungkin saja filosofi kopi yang diberikan oleh Reza tadi ada benarnya juga. Dua cangkir itu diibaratkan sebagai dua orang yang sama dalam kurun waktu yang berbeda. Pada masa lalu orang itu memiliki rasa yang pahit untuk kehidupanku dan kemudian ia pergi begitu saja tanpa adanya kata berpisah. Dan satu lagi adalah pada saat ini, aku berfikir mungkin saja orang yang dulu memiliki rasa “pahit” itu kembali datang dengan rasa yang sudah berbeda dan bisa dikatakan lebih baikd dari yang dulu.
“Kamu bengongin apa?” Tanyanya sambil menyentuh keningku dengan jari telunjuknya
“Abis dapet pencerahan dari Reza, sampe aku ngga percaya aja aku bisa dapetin itu dari dia.” Kataku
Ia tersenyum lagi kepadaku dan senyuman itu masih mendapatkan predikat sebagai senyuman yang mematikan. Tidak butuh senjata tajam, senjata api, atau senjata organik untuk membunuh musuh seperti diriku. Tunjukan saja sesuatu yang dapat meluluhkan hatiku seperti halnya sebuah senyuman. Kill me with kindness...
“Liat sendiri kan, Bang Eja udah ngga pernah dianggep sama Abang kamu Nda, soalnya dia udah menemukan cinta lamanya kembali.” Kata Reza dari belakang pintu
“Bener juga ya Bang Eja, kayaknya kita bakalan dicuekin abis-abisan nih.” Kata Nanda juga
“Kayaknya mereka udah ngga butuh aku lagi buat bayarin sarapan mereka deh Wid, kita pergi berdua aja yuk.” Kataku
“Yah bercandanya jelek sih lu, kita kan bercanda doang.” Kata Reza
Aku dan Widya tertawa mendengar itu. Semua yang ada di rumah sudah bangun dan ini waktunya untuk mencari sarapan pagi seperti biasa. Aku dan Widya kembali naik ke atas kamar untuk bersiap-siap sedangkan Reza sedang memanaskan mobil milik Widya. Setelah semuanya siap akhirnya kami berangkat mencari-cari tempat untuk sarapan.
Spoiler for Buku Harian:
Aku bangun lebih siang dari biasanya karena ini adalah hari libur. Kubuka selimut yang sudah dari semalam menutupi badanku ini, kubuka kaca jendela agar udara pagi ini dapat masuk ke dalam kamarku. Melihat matahari yang sudah muncul lebih dulu daripada aku, kemudian aku tersenyum meningat apa yang terjadi semalam ketika Herman kembali datang untuk menemuiku setelah ia menghilang dengan cepat. Kubuka hpku dan aku melihat ada sebuah pesan masuk dari Herman dan aku cukup senang membaca isi pesan tersebut. Aku memilih untuk tidak membalasnya, aku masuk ke kamar mandi dan setelah itu aku turun ke bawah dan menemukan Papa dan juga Mama yang sudah seru menonton acara di tv.
“Hai cantik udah bangun, itu sarapannya di meja ya.” Kata Mama
Aku menuju meja makan dan sudah menemukan roti panggang berisi selai kacang, kubawa roti itu sambil menonton tv.
“Semalam ada yang dateng ya?” Tanya Papa kepadaku
“Ada si Herman dateng ke sini semalem.” Jawabku
Papa dan Mama saling beradu pandang lagi dan sepertinya mereka benar-benar kebingungan dengan apa yang terjadi antara aku dan Herman.
“Papa makin ngga ngerti soal kamu sama Herman. Kemaren sore kamu bilang lagi males kalo berurusan sama Herman, tapi semalem dia ke sini buat nemuin kamu.” Kata Papa
“Mungkin masalahnya udah selesai Pa.” Mama yang menjawab
Aku hanya tersenyum untuk menanggapinya. Setelah dua buah roti ini habis aku kembali naik ke atas menuju kamar karena ada beberapa tugas yang harus aku selesaikan sebelum besok sekolah. Tidak terasa hari sudah menjadi siang, Papa dan Mama masuk ke dalam kamarku dan menemukan ku sedang sibuk dengan beberapa LKS dan juga kertas fotokopian yang cukup banyak.
“Rin, Papa sama Mama mau jenguk Om dulu ya. Kamu jangan kemana-mana.” Kata Papa
“Iya Pa, lagian ini juga masih banyak tugasnya.” Kataku menyalami mereka berdua
“Yang rajin ya, besok berangkat sama Mang Harya tadi udah Mama bilangin.” Kata Mama
Aku mengangguk dengan mantap. Mereka pergi keluar kota untuk melihat keadaan adik dari Papa yang sedang dirawat di rumah sakit. Aku kembali berkutat dengan soal-soal yang cukup sulit hingga membuat kepalaku sedikit pusing. Aku memutuskan untuk beristirahat sejenak dan turun ke bawah. Kubuka laci yang ada di dapur dan menemukan mi instant di sana. Satu porsi lengkap dengan telur dan juga sedikit tambahan nasi rasanya cukup untuk menambah tenagaku mengerjakan tugas-tugas yang masih belum selesai juga.
Selesai dengan urusan makan aku akan segera naik lagi menuju kamarku, namun aku mendengar ada suara mobil yang masuk ke dalam halaman rumah. Kubuka pintu rumahku dan aku melihat Mobil Mita yang ada di sana.
“Gimana PRnya Rin?” Tanyanya kepadaku
“Masih banyak yang belom, yaudah masuk aja dulu.” Kataku
Ia masuk ke dalam rumahku dan kuajak menuju kamarku. Ia membuka tas miliknya dan mengeluarkan sebuah plastik berisi beberapa cemilan dan minuman kalengan yang ia sempat beli di perjalanan menuju rumahku. Kami berdua sudah fokus terhadap kerjaan kami hingga tak terasa sorepun datang dengan cepatnya. Aku dan Mita sedang berbincang di kamar setelah menyelesaikan semua tugas yang akan dikumpulkan.
“Lo tau ngga sih Mit semalem Herman ke rumah gue...” Kataku
Sepertinya perkataanku barusan membuatnya cukup terkejut sampai-sampai ia tersedak saat sedang minum.
“Herman ke sini semalem? Sama Inggar?” Tanyanya dengan penasaran
“Ngga sama Inggar, dia sendirian.” Jawabku dengan santai
“Sumpah gue makin ngga ngerti sama dia, kenapa dia bisa tiba-tiba dateng ke rumah lo? Dan lo lagi, kenapa kayaknya lo terbiasa dengan kebiasaan Herman yang suka dateng-pergi sesuka dia?” Tanya Mita lagi
“Dia cerita kemana dia sama Inggar waktu sore itu, dan ternyata Inggar itu masih sempet ngeliat kita. Kalo soal itu gue juga ngga tau Mit.” Jawabku lagi
“Gue bener-bener ngga bisa ngebayangin kalo seadainya suatu saat lo sama Herman itu beneran jadian, bakalan ancur sekolahan kayaknya.” Kata Mita
Aku tertawa mendengar apa yang Mita katakan, cerita-cerita yang kami lontarkan secara bergantian dapat membunuh waktu dengan cepat hingga tidak terasa hari sudah menjadi gelap. Aku sedang mengantarkan Mita untuk turun ke bawah karena ia akan pulang dan supirnya sudah menunggu di depan.
“Orang tua lo pada kemana Rin?” Tanya Mita
“Jengukin Om gue, lagi dirawat di rumah sakit.” Kataku
“Yaudah gue balik dulu ya, besok jangan lupa masuk.” Katanya sambil masuk ke dalam mobilnya
Aku mengangguk menjawabnya, kemudian mobilnya pergi meninggalkan rumahku. Setelah aku menutup gerbang, aku memilih untuk duduk di ayunan yang ada di halama rumah. Kupandangi langit malam ini yang bertahtakan bintang yang sangat terang.
“Padahal cahayanya semu, tapi dari sini masih terlihat indah.” Kataku seorang diri
Cahaya bintang yang nampak pada malam hari adalah cahaya yang bersinar berjuta-juta tahun yang lalu, namun kita yang melihatnya pada malam hari akan tetap mengatakan bahwa bintang-bintang itu indah. Keindahan yang semu...
Aku mendengar pintu gerbangku terbuka, aku tidak perduli siapa yang akan datang karena aku masih menikmati keindahan yang semu ini.
“Airin...”
“Kamu...”
Ia duduk di sampingku dan rasa tidak percaya ini masih menghantuiku. Inggar datang ke rumahku malam ini seorang diri dan aku lihat mobilnya terparkir di pinggir jalan, mungkin ia bersama supirnya malam ini.
“Aku mau nanya sama kamu boleh Rin?” Tanya Inggar
“Boleh aja kok, emang mau nanya apa Nggar?” Tanyaku
“Kamu suka ya sama Herman?” Tanyanya padaku
Aku cukup terkejut dengan pertanyaan yang dilemparkan oleh Inggar.
“Emang kenapa Nggar? Aku boleh tau dulu ngga?” Tanyaku mencoba mencari tau
“Aku suka sama Herman...” Jawabnya singkat
Jika mungkin diibaratkan, bayangkan saja sebuah selang yang sedang mengalirkan air. Kemudian lipat selang tersebut maka air yang keluar akan terhambat. Itu lah gambaran bagaimana rasanya jantungku setelah mendengar apa yang Inggar barusan katakan. Ia jujur begitu saja kepadaku.
“Aku takut kalo kamu emang beneran suka sama Herman dan aku cuma jadi penghalang kalian berdua aja.” Jelasnya
“Aku ngga pernah suka sama Herman...” Jawabku pelan
Inggar menatapku dengan cepat seakan-akan apa yang dia dengar hanyalah bualan semata. Aku tersenyum melihat ke arahnya untuk membuatnya semakin percaya atas apa yang aku ucapkan tadi.
“Aku sama Heman itu cuma temen biasa kok Nggar, jadi kalo kamu emang suka sama dia berarti kamu harus usaha buat dapetin dia.” Kataku
“Makasih ya Rin, aku kira malam ini bakalan aku buat kacau.” Katanya
“Semangat buat deketin Herman ya, jangan mudah nyerah sama sikapnya yang cepet berubah.” Kataku
Ia tersenyum kepadaku dan kemudian ia memelukku. Setelah itu ia pergi meninggalkanku untuk pulang ke rumahnya. Aku masih duduk di ayunan ini sendiri, kurasakan gerimis mulai turun pada malam ini padahal tidak ada tanda-tanda akan turun hujan dengan langit bertahtakan banyak bintang di sana. Gerimis sudah berubah menjadi cukup deras dan aku masih saja duduk di ayunan ini.
“Terima kasih Tuhan, engkau telah menyamarkan air mataku dengan hujan-Mu ini...” Kataku
Air mata ini memang sudah tertahan sejak pertanyaan itu terlontar dan akhirnya aku bisa mengeluarkannya dengan lega. Air mata ini terus mengalir tanpa henti, dan mungkin saja ini adalah jawaban dari semua kebingungan yang telah aku terima. Pada akhirnya aku mengetahui bagaimana rasanya untuk mengikhlaskan apa yang selalu kita inginkan. Diakhiri dengan hujan, malam ini terasa semakin semu.
Pesan Masuk
09:18 AM
Herman
Mata ini memang tidak mampu lagi untuk melihat
Namun hati ini masih dapat merasakan kehangatan cinta
“Hai cantik udah bangun, itu sarapannya di meja ya.” Kata Mama
Aku menuju meja makan dan sudah menemukan roti panggang berisi selai kacang, kubawa roti itu sambil menonton tv.
“Semalam ada yang dateng ya?” Tanya Papa kepadaku
“Ada si Herman dateng ke sini semalem.” Jawabku
Papa dan Mama saling beradu pandang lagi dan sepertinya mereka benar-benar kebingungan dengan apa yang terjadi antara aku dan Herman.
“Papa makin ngga ngerti soal kamu sama Herman. Kemaren sore kamu bilang lagi males kalo berurusan sama Herman, tapi semalem dia ke sini buat nemuin kamu.” Kata Papa
“Mungkin masalahnya udah selesai Pa.” Mama yang menjawab
Aku hanya tersenyum untuk menanggapinya. Setelah dua buah roti ini habis aku kembali naik ke atas menuju kamar karena ada beberapa tugas yang harus aku selesaikan sebelum besok sekolah. Tidak terasa hari sudah menjadi siang, Papa dan Mama masuk ke dalam kamarku dan menemukan ku sedang sibuk dengan beberapa LKS dan juga kertas fotokopian yang cukup banyak.
“Rin, Papa sama Mama mau jenguk Om dulu ya. Kamu jangan kemana-mana.” Kata Papa
“Iya Pa, lagian ini juga masih banyak tugasnya.” Kataku menyalami mereka berdua
“Yang rajin ya, besok berangkat sama Mang Harya tadi udah Mama bilangin.” Kata Mama
Aku mengangguk dengan mantap. Mereka pergi keluar kota untuk melihat keadaan adik dari Papa yang sedang dirawat di rumah sakit. Aku kembali berkutat dengan soal-soal yang cukup sulit hingga membuat kepalaku sedikit pusing. Aku memutuskan untuk beristirahat sejenak dan turun ke bawah. Kubuka laci yang ada di dapur dan menemukan mi instant di sana. Satu porsi lengkap dengan telur dan juga sedikit tambahan nasi rasanya cukup untuk menambah tenagaku mengerjakan tugas-tugas yang masih belum selesai juga.
Selesai dengan urusan makan aku akan segera naik lagi menuju kamarku, namun aku mendengar ada suara mobil yang masuk ke dalam halaman rumah. Kubuka pintu rumahku dan aku melihat Mobil Mita yang ada di sana.
“Gimana PRnya Rin?” Tanyanya kepadaku
“Masih banyak yang belom, yaudah masuk aja dulu.” Kataku
Ia masuk ke dalam rumahku dan kuajak menuju kamarku. Ia membuka tas miliknya dan mengeluarkan sebuah plastik berisi beberapa cemilan dan minuman kalengan yang ia sempat beli di perjalanan menuju rumahku. Kami berdua sudah fokus terhadap kerjaan kami hingga tak terasa sorepun datang dengan cepatnya. Aku dan Mita sedang berbincang di kamar setelah menyelesaikan semua tugas yang akan dikumpulkan.
“Lo tau ngga sih Mit semalem Herman ke rumah gue...” Kataku
Sepertinya perkataanku barusan membuatnya cukup terkejut sampai-sampai ia tersedak saat sedang minum.
“Herman ke sini semalem? Sama Inggar?” Tanyanya dengan penasaran
“Ngga sama Inggar, dia sendirian.” Jawabku dengan santai
“Sumpah gue makin ngga ngerti sama dia, kenapa dia bisa tiba-tiba dateng ke rumah lo? Dan lo lagi, kenapa kayaknya lo terbiasa dengan kebiasaan Herman yang suka dateng-pergi sesuka dia?” Tanya Mita lagi
“Dia cerita kemana dia sama Inggar waktu sore itu, dan ternyata Inggar itu masih sempet ngeliat kita. Kalo soal itu gue juga ngga tau Mit.” Jawabku lagi
“Gue bener-bener ngga bisa ngebayangin kalo seadainya suatu saat lo sama Herman itu beneran jadian, bakalan ancur sekolahan kayaknya.” Kata Mita
Aku tertawa mendengar apa yang Mita katakan, cerita-cerita yang kami lontarkan secara bergantian dapat membunuh waktu dengan cepat hingga tidak terasa hari sudah menjadi gelap. Aku sedang mengantarkan Mita untuk turun ke bawah karena ia akan pulang dan supirnya sudah menunggu di depan.
“Orang tua lo pada kemana Rin?” Tanya Mita
“Jengukin Om gue, lagi dirawat di rumah sakit.” Kataku
“Yaudah gue balik dulu ya, besok jangan lupa masuk.” Katanya sambil masuk ke dalam mobilnya
Aku mengangguk menjawabnya, kemudian mobilnya pergi meninggalkan rumahku. Setelah aku menutup gerbang, aku memilih untuk duduk di ayunan yang ada di halama rumah. Kupandangi langit malam ini yang bertahtakan bintang yang sangat terang.
“Padahal cahayanya semu, tapi dari sini masih terlihat indah.” Kataku seorang diri
Cahaya bintang yang nampak pada malam hari adalah cahaya yang bersinar berjuta-juta tahun yang lalu, namun kita yang melihatnya pada malam hari akan tetap mengatakan bahwa bintang-bintang itu indah. Keindahan yang semu...
Aku mendengar pintu gerbangku terbuka, aku tidak perduli siapa yang akan datang karena aku masih menikmati keindahan yang semu ini.
“Airin...”
“Kamu...”
Ia duduk di sampingku dan rasa tidak percaya ini masih menghantuiku. Inggar datang ke rumahku malam ini seorang diri dan aku lihat mobilnya terparkir di pinggir jalan, mungkin ia bersama supirnya malam ini.
“Aku mau nanya sama kamu boleh Rin?” Tanya Inggar
“Boleh aja kok, emang mau nanya apa Nggar?” Tanyaku
“Kamu suka ya sama Herman?” Tanyanya padaku
Aku cukup terkejut dengan pertanyaan yang dilemparkan oleh Inggar.
“Emang kenapa Nggar? Aku boleh tau dulu ngga?” Tanyaku mencoba mencari tau
“Aku suka sama Herman...” Jawabnya singkat
Jika mungkin diibaratkan, bayangkan saja sebuah selang yang sedang mengalirkan air. Kemudian lipat selang tersebut maka air yang keluar akan terhambat. Itu lah gambaran bagaimana rasanya jantungku setelah mendengar apa yang Inggar barusan katakan. Ia jujur begitu saja kepadaku.
“Aku takut kalo kamu emang beneran suka sama Herman dan aku cuma jadi penghalang kalian berdua aja.” Jelasnya
“Aku ngga pernah suka sama Herman...” Jawabku pelan
Inggar menatapku dengan cepat seakan-akan apa yang dia dengar hanyalah bualan semata. Aku tersenyum melihat ke arahnya untuk membuatnya semakin percaya atas apa yang aku ucapkan tadi.
“Aku sama Heman itu cuma temen biasa kok Nggar, jadi kalo kamu emang suka sama dia berarti kamu harus usaha buat dapetin dia.” Kataku
“Makasih ya Rin, aku kira malam ini bakalan aku buat kacau.” Katanya
“Semangat buat deketin Herman ya, jangan mudah nyerah sama sikapnya yang cepet berubah.” Kataku
Ia tersenyum kepadaku dan kemudian ia memelukku. Setelah itu ia pergi meninggalkanku untuk pulang ke rumahnya. Aku masih duduk di ayunan ini sendiri, kurasakan gerimis mulai turun pada malam ini padahal tidak ada tanda-tanda akan turun hujan dengan langit bertahtakan banyak bintang di sana. Gerimis sudah berubah menjadi cukup deras dan aku masih saja duduk di ayunan ini.
“Terima kasih Tuhan, engkau telah menyamarkan air mataku dengan hujan-Mu ini...” Kataku
Air mata ini memang sudah tertahan sejak pertanyaan itu terlontar dan akhirnya aku bisa mengeluarkannya dengan lega. Air mata ini terus mengalir tanpa henti, dan mungkin saja ini adalah jawaban dari semua kebingungan yang telah aku terima. Pada akhirnya aku mengetahui bagaimana rasanya untuk mengikhlaskan apa yang selalu kita inginkan. Diakhiri dengan hujan, malam ini terasa semakin semu.
Pesan Masuk
09:18 AM
Herman
Mata ini memang tidak mampu lagi untuk melihat
Namun hati ini masih dapat merasakan kehangatan cinta
khuman dan Herisyahrian memberi reputasi
2
Kutip
Balas