Kaskus

Entertainment

alientripodAvatar border
TS
alientripod
SISIPAN BANYAK KEBOHONGAN DALAM rudapaksaAN MEI 98
SISIPAN BANYAK KEBOHONGAN DALAM PERKOSAAN MEI 98


WARNING


THREAD INI TIDAK BERMAKSUD MENYANGKAL ADA NYA rudapaksaAN MEI 98.....rudapaksaAN ITU ADA TETAPI ADA USAHA PENGGELEMBUNGAN KASUS DENGAN CERITA-CERITA DAN USAHA PALSU DARI BALIK LAYAR....SEBELUM KOMENT...BACA DULU SAMPE HABIS JANGAN SETENGAH2 YANG MENYEBAB KAN ANDA AKAN GAGAL PAHAM

MAU SUMBER LAIN?NEH GAN emoticon-Cool




Assalamu'alaikum wr wb,

Isu pemerkosaan massal atas perempuan Cina dalam Kerusuhan Mei 1998 senantiasa dihembus-hembuskan. Tidak lebih dari berita bohong.

Hasil penyidikan FBI akhirnya membongkar kebohongan itu. "Jika sebuah kebohongan terus-menerus diceritakan hingga terdengar luas di masyarakat, maka lama-kelamaan masyarakat akan meyakini kebohongan itu sebagai sebuah kebenaran." kata Menteri Propaganda Nazi Jerman, Dr Josef Goebels, enam dasawarsa yang lalu.

Meski sudah kuno, namun prinsip propaganda yang diterapkan Nazi untuk melibas bangsa Yahudi di Eropa menjelang Perang Dunia II itu masih terus dipakai dan dilestarikan hingga kini.

Strategi propaganda ala Goebels ini pun tetap laris di Indonesia dan masih cukup efektif sebagai alat pemukul lawan politik dan ide yang berseberangan. Tengoklah
berbagai propaganda hitam yang dikembangkan dengan cara itu. Misalnya, pembangunan opini bahwa Islam sudah tidak cocok untuk zaman modern ini, pembentukan opini bahwa
poligami identik dengan kekerasan, pengelabuan bahwa pluralisme adalah kebaikan yang harus diterima dan sebagainya.

Tapi, propaganda kebohongan paling dahsyat di Republik ini adalah isu tentang pemerkosaan massal atas para perempuan etnis Cina pada saat kerusuhan Mei 1998.Dengan sistematis mereka meniupkan isu tentang isu rudapaksaan itu, dengan berbagai cerita di berbagai media, dengan berbagai cara dan sarana, baik di dalam dan luar negeri. Padahal, dengan jelas isu itu sebenarnya dipakai untuk mendeskreditkan Islam dan simbol-simbol Islam.

Kisah Vivian dan Foto-Foto rudapaksaan


Internet menjadi sarana paling hebat untuk menyebarluaskan kisah rudapaksaan massal itu. Yang paling kontroversial adalah kisah yang konon dialami oleh seorang gadis
keturunan Cina bernama 'Vivian Kisah itu muncul kira-kira pada pertengahan Juni 1998
. Konon Vivian tinggal bersama orang tuanya di lantai 7 sebuah apartemen di kawasan Kapuk, Jakarta Utara ketika diserbu orang-orang tak dikenal saat kerusuhan Mei. Mereka lalu merudapaksa Vivian, saudara, tante dan tetangga-tetangganya


Kisah Vivian sangat deskriptif, detail dan menyentuh, sehingga mampu membangkitkan emosi. Majalah Jakarta-Jakarta sempat mengutip cerita rudapaksaan yang sangat vulgar itu mentah-mentah dalam sebuah edisinya. Dalam cerita itu, dengan sangat kurang ajar, ia menceritakan bahwa orang-orang yang bertampang seram itu merudapaksa mereka
dengan berteriak "Allahu Akbar" sebelum melakukan perbuatan itu
. Caci maki pun berhamburan kepada ummat Islam dan para Ulama.

Hampir bersamaan dengan munculnya kisah Vivian, muncul pula foto-foto yang konon berisi gambar para korban kerusuhan Mei di jaringan internet. Beberapa website memuat foto-foto yang luar biasa sadis dan mencekam. Siapapun pasti tersulut
amarahnya bila melihat foto-foto yang disebut-sebut sebagai foto kerusuhan Mei 1998 dan korban-korban rudapaksaan massal itu.

Pemajangan foto-foto di media internet itu telah mengundang emosi luar biasa bagi etnis Cina di seluruh dunia. Mereka menganggap kerusuhan Mei 1998 adalah sebuah operasi yang sengaja ditujukan untuk mengenyahkan orang Cina, dan menyetarakan kasus rudapaksaan massal atas perempuan-perempuan itu dengan kasuk The Rape of Nanking,
saat pendudukan Jepang ke Cina tahun 1937.


Upaya Menelisik Fakta

Para wartawan yang kredibel mengakui bahwa pada saat peristiwa Mei 1998, peristiwa rudapaksaan memang terjadi. Seorang wartawan FORUM mendapat pengakuan dari seorang
anggota Satgas PDI Perjuangan bernama M, bahwa dia dan teman-temannyalah yang menyerbu dan membakar pertokoan di Pasar Minggu. Ia juga mengaku melecehkan perempuan, bahkan beberapa kawannya merudapaksa mereka. Tapi menurut dia,
korban tidak hanya dari kalangan Cina. "Siapa aja, ada Amoy, ada Melayu, ada Arab,"
kata anggota Satgas PDIP itu.


Para wartawan pun terus mencoba mengejar dan mewawancarai korban dengan semua petunjuk tentang para korban, tapi hasilnya nihil. Konon semua sudah pergi ke luar negeri dan tidak terlacak lagi. Hanya anak ekonom Christianto Wibisono yang terkonfirmasi sebagai korban rudapaksaan Mei 1998. Majalah Tempo, dalam edisi pertama setelah terbit lagi juga tak mampu menemukan korban, apalagi sampai berjumlah ratusan.

Beberapa wartawan yang melacak lokasi yang di duga menjadi tempat tinggal Vivian dan keluarganya, juga tak menemukan apa-apa. Warga di sekitar apartemen menjawab tidak ada dan tidak pernah terdengar adanya Amoy yang dirudapaksa saat kerusuhan Mei 1998.
Seorang anak nelayan yang pada dua hari jahanam itu menjarah apartemen tempat Vivian tinggal mengaku, jangankan merudapaksa, ketemu penghuni juga tidak. Sebab, mereka sudah kabur ke luar negeri.

Soal jumlah korban rudapaksaan pun menjadi ajang perdebatan seru. Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Kasus Kerusuhan Mei 1998 pecah gara-gara bab yang membahas hal ini. Sebagian anggota ingin memasukkan semua laporan tentang adanya rudapaksaan, sementara yang lain meminta semua di klarifikasi dulu. "Terkesan ada yang ingin memanfaatkan isu ini untuk kepentingan tertentu." kata anggota TGPF Roosita Noer.

Tengoklah data yang mereka kumpulkan. Dari 187 nama menurut daftar yang dibawa anggota TGPF Saparinah Sadli dan 168 dalam daftar Pastor Jesuit Sandyawan Sumardi, ternyata hanya 4 orang yang berhasil diklarifikasi, yang lain baru qaala wa qiila, alias kata orang. Sementara, 2 (dua) orang korban yang di datangkan anggota TGPF Nursyahbani Katjasungkana ternyata orang gila beneran yang di duga sudah lama. Lucunya, ketika data ini diminta, Ketua TGPF Marzuki Darusman tidak mau membagi data itu kepada anggota yang lain.


Dari sisi ilmu statistik, data soal rudapaksaan massal pun aneh. Misalnya laporan tentang adanya rudapaksaan jauh lebih besar dari pada laporan tentang pelecehan seksual, di raba-raba dan sebagainya. Padahal, seharusnya menurut statistik, berdasarkan kurva sebaran, pola acak akan selalu membentuk kurva seimbang. Jumlah laporan orang yang diraba-raba saja seharusnya lebih banyak dari pada yang dilaporkan mengalami pelecehan, apalagi yang sampai dirudapaksa, dengan tingkatan paling berat.

Kebenaran kisah Vivian sempat juga dipertanyakan kalangan keturunan Cina sendiri. Mungkinkah si terrudapaksa, dalam waktu singkat menceritakan hal ini, sehingga cerita ini muncul di internet pada 13 Juni 1998--- dan bisa mengendalikan emosi, sehingga bisa menuliskan kisah kesadisan yang dialaminya secara detail? Bukankah hal ini
bertentangan dengan anggapan bahwa etnis Tionghoa teramat sangat tertutup dalam hal rudapaksaan?

Setelah menerima banyak pertanyaan soal orisinilitas cerita Vivian, pengelola situs Web World Huaren Federation (WHF), Dean Tse, dalam pesannya tanggal 18 Agustus 1998,
minta agar pengirim cerita bisa memberi keterangan lebih lanjut. Namun hingga kini, permintaan Dean Tse belum ada jawaban. Dean Tse pun tidak bisa melacak alamat si pengirim cerita tersebut di jaringan internet.

Belakangan Soekarno Chenata, pengelola situs Web Indo Chaos, juga mengakui foto-foto yang bergentayangan di situsnya, sama sekali tidak otentik. Kepada detik.com, Soekarno mengaku pernah menerima foto sadis yang sempat di pajang di Indo Chaos. Namun ia segera mencabut foto itu dari situsnya karena ternyata foto itu adalah hasil montase dan diambil dari situs porno yang memang brutal.


Terbongkar Habis

Upaya pembuktian telah dilakukan, namun upaya pengaburan dan disinformasi terus dilakukan. Misalnya, ketika fakta bahwa Vivian tidak pernah ada, para agitator itu berdalih, Vivian adalah nama dan alamat yang dipakai dan hanyalah nama samaran. Ketika para wartawan tidak menemukan korban, mereka berkilah soal keselamatan korban. Hingga akhirnya kebohongan itu terbongkar, justru dari AMERIKA SERIKAT,
tempat di mana para pembohong itu mengobral cerita untuk menyudutkan kaum Muslimin di Indonesia.


Semula, pemerintah Amerika Serikat dengan mudah memberikan suaka kepada imigran asal Indonesia yang mengaku dianiaya dan dirudung kekerasan seksual di negerinya dengan alasan etnik dan agama. Tapi gara-gara kesamaan pola cerita, kedekatan waktu pengajuan, kesamaan alamat dan asal pengaju, dan kesamaan kantor pengajuan, mereka mulai curiga.

Setelah menyelidiki selama dua tahun, pada Senin, 22 November 2004 satuan tugas rahasia pemerintah Amerika Serikat menggelar operasi bersandi Operation Jakarta.
Operasi penangkapan 26 anggota sindikat pemalsu dokumen suaka ini dilakukan serentak di lebih dari 10 negara bagian di Amerika Serikat. "Pemimpin sindikat ini adalah Hans Guow, WNI yang dikabulkan permohonan suakanya pada 1999," kata Jaksa Penuntut Wilayah Virginia, Paul J McNulty yang menangani kasus ini.

Para tersangka dikenai tuduhan sama, yakni memalsukan dokumen suaka serta berkonspirasi dalam pemalsuan berbagai dokumen. Awalnya mereka hanya membantu menyediakan dokumen asli tapi palsu. Tapi setelah berhasil mengibuli pihak berwenang dengan memalsukan izin kerja dan nomor jaminan sosial, mereka mulai menyiapkan aplikasi suaka palsu.

Mereka juga menyiapkan skenario pengakuan bo'ong-bo'ongan seperti dirudapaksa atau dianiaya dalam kerusuhan Mei 1998. "Cerita tentang penyiksaan itu sangat seragam karena para pelamar menghafalkan kata demi kata secara persis seperti yang diajarkan," kata Jaksa McNulty. Mereka pun mengajari kliennya untuk menangis dan memohon dengan emosional untuk mengundang simpati petugas.

Lucunya, mereka menceritakan kisah yang sama. Cerita dirudapaksa supir taksi misalnya meluncur dari mulut 14 perempuan yang mengajukan permohonan suaka sejak 31 Oktober
2000 hingga 6 Januari 2002. "Mereka mengaku dirudapaksa karena keturunan Cina," kata Dean McDonald, agen spesial dari Biro Imigrasi dan Bea Cukai Kepabeanan Departemen

Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat di negara bagian Virginia.

Belakangan, Voice of Amerika juga membuat liputan investigatif tentang isu rudapaksaan massal itu. Mereka keluar masuk berbagai lokasi yang dicurigai sebagai TKP rudapaksaan massal, dan mencoba mewawancarai berbagai pihak. Tapi hasilnya nihil. rudapaksaan memang ada, tapi dengan mengikuti petuah Goebels, fakta telah didramatisasi sedemikian rupa dan dimanipulasi dengan dahsyat.

Wa lahu khairul maakireenn.. .....

Oleh:
Abu Zahra[/size][/B]



UNTUK PARA IDEOT YANG MEMPERMASALAH KAN SUMBER BLOGSPOT DAN FPI


Para ideot berkomentar bahwa sumber Blogspot dan FPI tidak dapat di percaya.....komentar seperti itu adalah PEMBUSUKAN SECARA CEPAT DAN MUDAH di banding membantah argument yang di kemukakan.beberapa komentar ideot:

Quote:


Seharus nya anda bisa menyangkal dari sisi mana abal-abal nya.....jangan hanya menuduh.....hanya menuduh saja tampa membantah bukti dari lawan sama saja ASMA(ASAL MANGAP)....TAKTIK INI SERING DI PAKAI PARA IDEOT PENGHUNI DC DAN BP....salah satu senjata curang dalam berdebat cukup membusuk kan argument lawan dengan kata2 sumber nya dari blogspot,wordpress,FPI dll

Quote:


Contoh komentar bodoh yang bukan menyangkal bukti dari lawan cukup menuduh Ts sok tahu,mengarang bebas dan ISIS emoticon-Najis (S)



Quote:


Memang kenapa dari blogspot mas?banyak juga artikel ke kristenan dan hujatan pada islam juga memakai blogspot.....pendeta teguh hindarto juga pake blogspot....apa ente gak percaya atau percaya?kalo sumber nya dari VOAislam dot com apa ente percaya?jangan tolol jadi orang....contoh wordpress...uma membayar 18 dollar setahun anda sudah mendapat domain com...misal nya dari ideot.worpress.com menjadi ideot.com

kalo udah ganti gitu apa anda jadi percaya? emoticon-doctor

Itu beberapa cara ideot dan orang curang membusuk kan bukti2 dari lawan nya emoticon-Angkat Beer

SAKSI YANG TIDAK MELIHAT rudapaksaAN MASSAL


Quote:


Quote:


SAKSI YANG MELIHAT rudapaksaAN


Quote:


Benar atau tidak nya cerita ente cuma Tuhan yang tahu.....sebab jika kita tampung semua cerita maka akan di susupi juga cerita2 PALSU seperti cerita vivian di atas.

Quote:


justru cerita ente terkesan hoax gan....mana ada orang yang udah rudapaksa 3 cewek sekaligus mau cerita ke orang yang orang itu ente emoticon-Big Grin dia pasti was2 akan kejahatan nya..sebab ia telah melakuakn kejahatan berat

Atau bisa jadi benar kita gak tahu gan..nama nya juga cerita kabar burung...mungkin teman ente udah percaya ente hingga berani buka2 an gitu

dan dari mana temen ente tahu tu cewek perawan?

kalo ente nanyak sapa yang bener jawab ane kita gak tahu mana yg bener....ada bukti cerita2 rudapaksaan di karang dramatis seperti trit ane di atas..





KOMENTAR KALO CEWEK YANG DI rudapaksa MALU MELAPOR


Quote:


Gagal paham dengan pemerkosa kucing di pararel kan dengan cewek yang di rudapaksa emoticon-Big Grin

Saya kasih contoh cerita vivian ya gan....dia bilang ada yang di rudapaksa pemerkosa nya bilang Allahuakbar

Tapi siapa vivian ini gak ada yang tahu....menghilang begitu saja....maka cerita nya tak dapat di klarifikasi kebenaran nya....maka cerita rudapaksaan itu cuma cerita2 mengambang tampa bukti....malah banyak bukti ada upaya sestematis pembohongan seakan perkoasaan itu massak dan sadis dengan mencomot poto2 porno yang sadis...dan pengakuan palsu yang sama seragam tentang wanita yg di rudapaksa supir taksi

baca lagi gan trit saya di atas.

YANG TIDAK GAGAL PAHAM PADA THREAD ANEYANG TAHU TUJUAN THREAD ANE


LANJUT DI SINI GAN
Diubah oleh alientripod 19-05-2016 10:28
qavirAvatar border
qavir memberi reputasi
-1
53.9K
297
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
The Lounge
KASKUS Official
1.3MThread105.3KAnggota
Tampilkan semua post
sitch_07Avatar border
sitch_07
#212
Quote:


Kalo gua sih lebih percaya bukti yg dijabarkan di buku ini.
Cara ngeceknya gampang kok, cek aja arsip berita kompas yg dijabarin. Kalo bener ada arsip beritanya, ya berarti bukan hoax.

rudapaksaan Massal di Kerusuhan Mei 1998 Itu Memang Ada (Tinjauan Buku)

Judul Buku: Tragedi Mei 1998 dan Lahirnya Komnas Perempuan

Oleh Dewi Anggraeni

Penerbit Buku Kompas

Tebal: xxxiv + 214 halaman


Tragedi Mei 1998 masih menyimpan sejumlah misteri maha besar sampai sekarang. Tragedi ini adalah salah satu tragedi paling kelam dalam sejarah Indonesia setelah merdeka. Padahal sebagian besar para pelaku dan saksi-saksi sejarahnya masih hidup sampai dengan hari ini. Jadi, bagaimana pun, sampai kini, kegagalan membuka misteri tersebut tak lepas dari tidak adanya rasa tanggung jawab dan tidak adanya keberanian para pelaku dan saksi-saksi sejarahnya mengungkapkannya, dan pemerintah yang paling berwenang dan mempunyai kekuatan untuk membukanya, tetapi itu tak dilakukannya.


Sejak awal runtuhnya rezim Orde Baru Presiden Soeharto (21 Mei 1998), yang diganti dengan wakilnya, B.J. Habibie sampai dengan pemerintah yang sekarang, belum ada tanda-tanda keseriusan untuk mengungkapkan misteri tersebut.

Salah satu misteri yang paling menarik perhatian baik secara nasional, maupun internasional adalah kasus rudapaksaan yang terutama sekali menimpa perempuan-perempuan etnis Tionghoa di Jakarta, antara tanggal 13 – 15 Mei 1998, dan sesudahnya.


Pada masa-masa itu sampai dengan beberapa tahun kemudian memang beredar luas di masyarakat bahwa di tengah-tengah terjadinya kerusuhan Mei 1998 itu telah terjadi juga rudapaksaan massal (gang rape) terhadap banyak sekali perempuan-perempuan etnis Tionghoa. Tetapi, informasi itu lebih banyak beredar dalam bentuk gosip. Gosip itu diperparah dengan beredarnya hoax berupa foto-foto yang katanya berasal dari rudapaksaan etnis Tionghoa, yang kemudian bisa dibuktikan palsu. Ini membuat kepercayaan terhadap Tim relawan semakin menipis.


Tidak adanya korban rudapaksaan yang tampil di depan umum membuat publik kemudian meragukan kebenaran informasi tersebut. Pemerintah yang saat itu tidak terlalu serius menangani kasus itu diuntungkan dengan kondisi demikian.

Padahal sebenarnya saat itu juga, sejumlah tokoh masyarakat, pekerja kemanusiaan, dan pembela hak asasi manusia (HAM), yang terdiri dari berbagai etnis, agama, dan profesi itu, tergugah untuk bersatu bahu-membahu melakukan investigasi terhadap kebenaran kasus rudapaksaan itu. Hasilnya, sungguh mengejutkan bahwa memang benar telah terjadi banyak kasus rudapaksaan yang menimpa perempuan-perempuan Tionghoa itu. Para relawan itu kemudian secara diam-diam melakukan pendekatan-pendekatan kemanusiaan terhadap para korban yang sebagian besar berada dalam keadaan sangat memprihatinkan baik dari aspek psikologis, maupun fisik. Mereka sangat tertutup, dan sangat ketakutan setiap kali melihat orang yang tidak dikenalnya, terutama laki-laki dalam jumlah banyak.



Tim Relawan tentang Kemanusiaan beberapa kali meminta bertemu dengan Menteri Pertahanan dan Keamanan / Panglima ABRI pada saat itu, Jenderal Wiranto, Menteri Peranan Wanita, dan Menteri Dalam Negeri, tetapi tidak mendapat respon sebagaimana mestinya. Akhirnya, para relawan itu memutuskan untuk meminta bertemu langsung dengan Presiden B.J. Habibie untuk melaporkan temuan mereka. Setelah beberapa kali berusaha, akhirnya Presiden Habibie bersedia bertemua dengan mereka.


Pada 15 Juli 1998 berlangsunglah pertemuan itu di Bina Graha. Pada saat itu, yang hadir semua perempuan. Mereka menyampaikan laporannya, dan menuntut pemerintah meminta maaf, dan mengutuk kasus rudapaksaan terhadap perempuan itu. Habibie yang semula juga ragu dengankebenaran informasi tentang pemerkosaan itu, menjadi percaya setelah membaca laporan tim relawan yang disertai dengan sejumlah foto.



Reaksi Habibie saat itu, wajahnya yang tadinya penuh keraguan menjadi berubah. Tiba-tiba dia berkata kepada para relawan itu, “Saya ingat sekarang. Seorang keponakan saya, seorang dokter, pernah menceritakan hal serupa.Saya percaya anda sekalian. Keponakan saya tidak akan berbohong kepada saya,” lalu katanya, dia atas nama pemerintah bersedia membuat pernyataan maaf dan mengutuk peristiwa rudapaksaan itu. Pernyataan itu dibaca Presiden Habibie pada hari itu juga di dalam suatu konferensi pers yang khusus diadakan untuk itu.




Dari pertemuan dengan Habibie itu juga dihasilkan janji Habibie untuk mendirikan badan independen, yang nantinya dinamakan Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), dan dibentuknya Tim Gabungan Pencari Fakta atas Kerusuhan Mei 1998. Namun, sampai sekarang belum ada proses hukum lebih lanjut untuk meminta pertanggungjawaban para pelaku dan otaknya,


Demikianlah yang ditulis di dalam buku yang berjudul Tragedi 1998 dan Lahirnya Komnas Perempuan (Penerbit Buku Kompas,2014), oleh Dewi Angraeni, seorang penulis aktif yang tinggal di Melbourne, Australia, yang juga adalah kontributor Majalah Tempo. Dewi menulis buku ini berdaraskan dokumen-dokumen Tragedi Mei 1998 dan wawancara dengan para relawan yang terlibat langsung dalam investigasi dan penanganan korban-korban pemerkosaan Mei 1998 itu.


Buku itu diawali dengan kisah pertemuan dengan Presiden Habibie itu dengan penyampaian laporan hasil investigasi Tim Relawan untuk Kemanusiaan mengenai fakta terjadinya pemerkosaan massal terhadap perempuan etnis Tionghoa itu. Kemudian, “flash-back” di bab-bab berikutnya mengenai bagaimana sampai Tim Relawan untuk Kemanusiaan itu terbentuk sebagai respon atas jatuhnya korban jiwa dan korban pemerkosaan pada waktu itu.


Buku Tragedi Mei 1998 dan Lahirnya Komnas Perempuan ini mengisahkan beratnya perjuangan para relawan tersebut, keprihatinannya terhadap reaksi masyarakat pada umumnya, dan lebih-lebih kepada pemerintah yang bersikap apatis terhadap kasus yang merendahkan martabat perempuan pada umumnya itu. Meskipun juga berhasil mendapat perhatian dari Presiden B.J. Habibie, yang secara langsung menyatakan permintaan maaf dan kutukan pemerintah atas kejadian tersebut.


Misalnya, di halaman 59-60, ditulis mengenai kesaksian Guru Besar Ilmu Psikologi Universitas Indonesia ketika itu, Prof. Dr. Saparinah Sadli, yang Ketua Tim Relawan, kemudian juga diangkat sebagai Ketua Komnas Perempuan yang pertama (22 Juli 1998), yang saat itu sedang berupaya bertemu dengan Wiranto, secara tak sengaja perhatiannya tertarik pada tayangan televisi yang sedang menyiarkan pernyataan Wiranto, menjawab pertanyaan wartawan. Wiranto menjawab, anak buahnya sudah mendatangi semua rumah sakit di Jakarta dan kota-kota lainnya di Indonesia, bahkan juga di Singapura, untuk bertemu dengan korban-korban rudapaksaan yang laporannya mereka terima, namun mereka selalu mendapat jawaban, tidak ada korban rudapaksaan. Jadi, menurut Wiranto, itu semua hanya dugaan semata. Tidak ada bukti. Tidak ada korban. Tidak ada saksi.


Bukan main marahnya Saparinah, karena dia baru saja datang dari kawasan Pluit menjumpai beberapa korban.Dia langsung menghubungi beberapa rekan relawannya, memutuskan untuk bertemu langsung dengan Presiden Habibie. Kemudian terjadilah pertemuan 15 Juli 1998 yang disebutkan di atas.


Diungkapkan pula di dalam buku ini, betapa sulitnya mereka meyakinkan publik, terutama pemerintah yang sangat kaku dalam menyikapi upaya pengungkapan kasus pemerkosaan itu. Bahkan seorang tokoh pembela HAM internasional seperti Sidney Jones pun dikatakan sempat meragukan kebenaran adanya pemerkosaan-pemerkosaan terhadap etnis Tionghoa itu. Semua orang, termasuk Jones minta bukti berupa harus bisa melihat dan mendengar sendiri kesaksian-kesaksian para korban. Padahal para korban itu kondisi jiwa dan fisiknya rata-rata sangat, sangat memprihatinkan. Ada yang sampai dibuang keluarganya sendiri dengan alasan pembawa aib, ada yang gila, dan ada yang bunuh diri. Mereka sangat takut bila melihat orang yang tidak dikenalnya, terutama sekali laki-laki. Tim relawan sendiri memerlukan pendekatan yang ekstra hati-hati dan sabar sebelum bisa meyakinkan para korban bahwa tim relawan itu orang-orang yang bermaksud baik, sangat sungguh-sungguh mau menolong mereka.


rudapaksaan massal itu kebanyakan terjadi rumah korban, dan tidak sedikit juga yang terjadi di tempat umum (di jalanan). Pelaku setelah dirudapaksa, juga dirusak fisiknya, termasuk dimutilasi. Ada yang, misalnya dengan, maaf, dipotong kedua putingnya.


Pada buku itu juga dimuat arsip berita di koran Suara Pembaruan (26/06/1998), mengenai saksi mata seorang wartawan Media Indonesia, bernama Selamet Saragih. Dia mengaku mengalami trauma yang dalam setelah melihat sendiri dengan mata kepalanya, di kawasan Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat, dua orang perempuan Tionghoa berusia sekitar 25 tahun, yang diseret keluar dari mobil sedan Honda mereka oleh sejumlah laki-laki, yang langsung menelanjangi mereka, melecehkan etnis mereka, kemudian diseret beramai-ramai ke arah Jembatan Grogol.


Korban-korban rudapaksaan yang berhasil didekati para relawan itu menyatakan mereka diancam para pelaku pemerkosaan itu, kalau sampai berani muka mulut, mereka, atau anggota keluarga mereka yang lain akan dirudapaksa lagi dengan cara yang serupa atau yang lebih kejam lagi.


Oleh karena itu bagi tim relawan sangat tak masuk akal kalau orang-orang itu meminta bertemu dan mendengar kesaksian para korban, sebelum mereka percaya adanya kasus pemerkosaan massal (di Jakarta) itu.



Sri Palupi, koordinator investigasi dan pendataan Tim Relawan untuk Kemanusiaan, berkata, “Bayangkan seandainya ibu kamu, kakak kamu, adik kamu, anak kamu adalah seorang korban rudapaksaan, apakah kamu mau mereka muncul ke publik? Kredibilitas? Kredibilitas yang kami pentingkan bukan kredibilitas kalian, tapi kredibilitas para korban. Kepercayaan korban kepada kami.”


Tim relawan tak mau kepercayaan yang begitu sulit didapat dari para korban, dikhianati mereka dengan menampilkan para korban itu ke hadapan publik, atau mempertemukan mereka dengan orang lain. Terhadap korban rudapaksaan biasa saja hal itu sangat sulit dilakukan, apalagi terhadap korban rudapaksaan dalam kasus kerusuhan Mei 1998 itu. Semua korban bukan hanya dirudapaksa saja, secara bergilir, tetapi juga direndahkan etnisnya, dan disiksa secara fisik. Tidak sedikit yang dilakukan di hadapan keluarganya. Bahkan ada orangtua korban yang tak tahan lantas menyuruh anaknya bunuh diri sebelum pergi meninggalkannya begitu saja!.


Belakangan Sidney Jones meminta maaf atas ketidakpercayaannya kepada Tim Relawan setelah terjadinya kasus pembunuhan yang dilakukan secara sadis terhadap Ita Martadinata. Ita Mardinata adalah seorang siswi SMA dari etnis Tionghoa, yang saat itu baru berusia 18 tahun. Dia adalah salah satu korban yang perlahan-lahan bersama keluarganya mulai berhasil merajut kembali kehidupannya. Ibunya bahkan bergabung dengan Tim Relawan. Ita sudah menyatakan kesediaannya untuk memberi kesaksian di hadapan beberapa kelompok internasional pembela hak asasi manusia di Amerika Serikat, siap beranbgkat bersama rombongan ke sana dipimpin Karlina Supeli. Tetapi, sebelum berangkat dia dibunuh secara keji di rumahnya, pada Jumat, 9 Oktober 1998.



Sri Palupi menganalisis bahwa sejak krisis moneter pada 1997, sudah ada gejala-gejala akan timbulnya kerusuhan Mei 1998 itu, dengan memanfaatkan sentimen anti-Tionghoa yang sebelumnya sudah dibentuk oleh beberapa pejabat/aparat pada berbagai kesempatan. Mereka, termasuk para jenderal yang tidak ada hubungannya dengan urusan ekonomi, berbicara dalam ranah publik seolah-olah mereka memahami betul masalah ekonomi. Dalam berbagai pernyataannya, mereka mengatakan bahwa krisis ekonomi melanda Indonesia karena orang Tionghoa melarikan uang rakyat ke luar negeri, sengaja menimbun sembako sehingga rakyat sengsara dan kelapran, orang Tionghoa-lah penyebab terjadinya krisis ini, dan sebagainya.


Analisis Sri Palupi ini sejalan dengan hasil investigasi dari TGPF yang dilaporkan di dalam buku Kerusuhan Mei 1998, Fakta, Data & Analisa (edisi revisi, 2007). Di dalam buku itu antara lain TGPF menemukan indikasi kuat kerusuhan Mei 1998 tidak lepas dari pengkondisian situasi, antara lain mengkristalkan sentimen anti-Tionghoa (anti-Cina) di kalangan masyarakat luas. TGPF bahkan menyebutkan pengkondisian tersebut sudah mulai dibentuk sejak 1995, dengan timbulnya berbagai kerusuhan anti-Cina yang marak, antara lain di Situbundo, Tasikmalaya, Rengasdengklok, dan Ujung Pandang.


Hasil investigasi TGPF menyebutkan khusus di Jakarta, korban tewas karena terperangkap dalam kebakaran berjumlah 1.190 orang, 27 tewas karena senjata tajam.benda lain, 91 luka-luka. Sedangkan Polda Metro Jaya menyebut angka 451 tewas, luka-luka tidak tercatat. Kodam Jaya menyebut angka 463 tewas, 69 luka-luka.


TGPF menyebutkan dalam laporannya bahwa kekerasan seksual/rudapaksaan benar telah terjadi. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang diketuai oleh Professsor Dr. Mahar Marjono melakukan verifikasi data dengan menggunakan prosedur yang dinamakan Protokol Jakarta yang bersumber pada Protokol Minnesota, dan mengakui kasus itu ada.


Tim Relawan untuk Kemanusiaan juga menemukan fakta bahwa kerusuhan Mei memang sengaja dikobarkan, terbukti dengan tak hadirnya aparat di dalam setiap peristiwa. Atau kalau aparat ada, mereka hanya diam saja. Para provokar, pimpinan, dan sejumlah pelaku kerusuhan mempunyai ciri-ciri yang sama di setiap kerusuhan di seluruh wilayah


Laporan Tim Relawan menyatakan, “Bagaimana ‘kebetulan’ harus dijelaskan oleh fakta keluasan lingkup kejadian di wilayah seluas Jakarta dan sekitarnya? Bagaimana sang ‘kebetulan’ itu harus dijelaskan oleh kesamaan waktu dari banyak peristiwa perusakan, penjarahan, dan pembakaran di wilayah seluas Jakarta dan sekitarnya? Bagaimana si ‘kebetulan’ itu harus dijelaskan oleh berbagai kesamaan ‘awal peristiwa’ perusakan, penjarahan, dan pembakaran? (misalnya, pengajak dan pemimpin perusakan tidak datang dari daerah warga setempat; modus kedatangan pengajak dan pemimpin perusakan dengan kendaraan; tidak ada peristiwa perusakan yang dimulai oleh warga setempat). Dan bagaimana si ‘kebetulan’ itu harus dijelaskan oleh kesamaan pola janggal berikut: bahw apara pengajak dan pimpinan perusak/pembakaran tidak ikut menjarah. Bahkan dalam banyak kasus, para pengajak dan pemimpin segera meninggalkan massa yang mulai bergerak untuk merusak dan menjarah.”


Sedangkan ciri khas para provokar dan penggerak kerusuhan itu sama di setiap wilayah, yakni:

-Kelompok pemuda yang memakai pakaian pelajar SLTA atau pakaian yang biasa dipakai mahasiswa-jaket dengan warna-warna tertentu.

-Kelompok remaha berpakaian lusuh, berwajah tanpa emosi, dingin, dan sangar,

-Kelompok pemuda berbadan kekar, berambut cepak, bersepatu bot militer,

-Kelompok pemuda yang berbadan kekar, berwajah dingin, sangar, dan bertato.


Pada 13 Juli, Laporan Tim relawan untuk Kemanusiaan, juga juga diterbitkan Komnas Perempuan bersama dengan Laporan TGPF diserahkan kepada Komnas HAM yang saat itu dipimpin oleh Asmara Nababan. Judul laporannya: “Dokumen Awal No. 3 tentang rudapaksaan Massal dalam Rentetan Kerusuhan Puncak Kebiadaban dalam Kehidupan Bangsa.”


Di dalam laporan itu antara disebut dari 13 Mei – 3 Juli 1998 dirincikan mengenai jumlah kasus rudapaksaan itu, secara total korban rudapaksaan dan pelecehan seksual massal yang melapor atau dilaporkan sebanyak 168 korban, 20 di antaranya tewas. Yang masih hidup kebanyakan menderita luka-luka fisik dan trauma psikologis yang dalam.


Penulis buku ini, Dewi Anggraeni, menganalisis etnis Tionghoa dan perempuannya sengaja dijadikan sasaran kerusuhan dan pemerkosaan, karena kelompok ini dianggap paling lemah, paling gampang dijadikan sasaran, karena tidak bisa melawan. Kelompok ini sengaja dijadikan sasaran juga karena memang sebelumnya sudah dikondisikan sebagai obyek untuk memicu suatu kerusuhan.


Dewi juga menulis di bukunya itu, etnis Tionghoa bukan sasaran utama dari kerusuhan Mei, tetapi mereka dimanfaatkan sebagai sasaran antara untuk menimbulkan kerusuhan besar itu. Kerusuhan sengaja diciptakan untuk maksud-maksud dan ambisi politik tertentu dari sutradaranya.


Massa sengaja diprovolkasi untuk melakukan perusakan, penjarahan, dan pembakaran aset-aset Tionghoa yang kemudian menjalar ke properti umum lainnya, sehingga pecahlah kerusuhan besar tersebut. Ini terbukti dari kemudian jatuhnya korban jiwa yang banyak dari etnis pribumi, yang sengaja pula dijadikan tumbal kerusuhan. Ketika mereka terpancing masuk menjarah di dalam gedung-gedung mall, dan pertokoan, pintu ditutup dan digembok dari luar. Kemudian para perusuh sebenarnya membakar gedung itu dari luar, sehingga para penjarah itu terperangkap di dalamnya, dan mati terbakar. Hal ini diduga sengaja dilakukan agar tercipta efek teror dan horor yang paling mengerikan, entah kepada siapa.


Buku ini memberitahu kepada kita bahwa tragedi pemerkosaan terhadap perempuan etnis Tionghoa yang terjadi dalam kerusuhan Mei 1998 dan sesudahnya sungguh terjadi, dan bukan merupakan sesuatu yang begitu saja terjadi, tetapi merupakan bagian dari skenario besar dari terjadinya kerusuhan Mei 1998. Buku ini menggugah kita untuk melawan lupa, dan semoga saja bisa jugamenjadi salah satu pemicu bagi pemerintah yang baru kelak, -- sebab yang sekarng yang sebentar lagi berlalu, tidak bisa diharapkan lagi – untuk mengustnya sampai tuntas. Menyeret mereka semua yang bertanggung jawab ke hadapan meja hijau. Untuk itu diperlukan suatu pengadilan-adhoc untuk mengadili para palaku dan aktor pelanggaran berat HAM.
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.