- Beranda
- Stories from the Heart
Kisah Tak Sempurna
...
TS
aldiansyahdzs
Kisah Tak Sempurna
Quote:

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarrakatuh.
Selamat pagi warga Kaskus di Seluruh Muka Bumi.
Terimakasih kepada Agan / Aganwati yang sudah mampir di Thread ini. Terimakasih pula untuk sesepuh dan moderator SFTH. Thread ini adalah thread pertama kali saya main kaskus . Saya berharap Thread pertama kali saya di Kaskus bisa membuat Agan / Aganwati terhibur dengan coretan sederhana saya ini.
Thread ini bercerita tentang kisah putih abu - abu seorang laki laki yang saya beri nama Erlangga. Dari pada penasaran, lebih baik langsung baca aja gan! Selamat galau eh selamat membacaaa.
NB; Kritik dan Saran sangat saya butuhkan agar saya dapat menulis lebih baik lagi.
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Keep in touch with me.
twitter: aldiansyahdzs
instagram : aldisabihat
twitter: aldiansyahdzs
instagram : aldisabihat
Diubah oleh aldiansyahdzs 17-06-2019 18:30
JabLai cOY dan 31 lainnya memberi reputasi
32
132.3K
879
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
aldiansyahdzs
#589
Awal yang Sebenarnya – Part 3
Jauh dari mata, namun sejatinya saat dahi bertemu dengan sajadah aku selalu mendoakan yang terbaik untuk Dean. Hanya doa yang mampu aku beri saat ini untuknya agar ia tetap terjaga meski jauh dari pandanganku.
Hampir setiap malam kami saling bertemu via telpon ataupun video call, tergantung sinyal saja. Beginilah menjalani kehidupan Long Distance Relationship sinyal sangat berperan penting untuk mempertemukan dua hati yang saling merindu.
Dean menceritakan tentang kehidupan barunya. Ia yang sangat pintar menawar saat di Bandung kini merasa kesulitan saat harus membeli satu barang, setiap pagi atau sore di hari minggu ia membiasakan diri untuk bersepeda karena ia malas untuk lari, ia menjadikan saudaranya sebagai guru les privat bahasa Jawa kadang saat kami asyik bertelpon ia selalu berusaha mengucapkan sepatah kata bahasa Jawa.
Sedangkan aku lebih sering menjadi pendengar apa yang ia ceritakan. Berusaha mengimbangi apa yang sedang dibicarakan agar sebuah pembicaraan tidak cepat berakhir. Aku cenderung mendengar dari pada berbicara.
“Jadi kamu gimana, udah dateng ke kampus?” Tanyanya. “Belum nanti aja santei.” Jawabku sekenanya. “Coba deh main ke kampus kamu jangan so acuh gitulah itu rumah kamu selanjutnya setelah rumah.” Cerocosnya.
Hampir ribuan mahasiswa baru memadati ruang aula. Kebanyakan mereka saling mengakrabkan diri dengan teman barunya. Ada yang menanyakan dari mana asal daerahnya, dari mana sekolahnya, apakah fresh graduate, dan aku sendiri hanya sibuk dengan smartphone milikku.
Sudah berjam – jam aku mengantri menunggu penyerahan berkas. Jika disebut jenuh iya aku jenuh namun ya inilah perjuangan seorang mahasiswa baru harus rela mengantri demi berjuang untuk mengejar sarjana.
“Mas itu formnya jatuh.” Perempuan berambut sebahu memberikan form miliku. “Ohiya makasih.” Ujarku. “Mas tau tempat kost yang deket dari sini.” Tanyanya, aku bisa menebak perempuan dipinggirku ini pendatang dari luar kota. “Keluar dari gerbang kampus ada gang kebanyakan disana ada kost putri.” Jawabku.
Aku kembali sibuk dengan smartphoneku. Aku sibuk melihat beberapa review laptop karena rasanya aku butuh laptop baru untuk kuliah. Tentunya aku akan membeli laptop baru dengan uangku sendiri hasil menabung dari kelas 1 sampai kelas 3 SMK.
“Bu ini berkas milik saya. “ Ujarku menyerahkan map yang berisi persyaratan yang harus dipenuhi. “Ok a siap. Semangat kuliahnya ya A. Beasiswanya pergunakan dengan baik.” Ujarnya menyerahkan selembar kertas yang berisi jadwal kegiatan mahasiswa baru. “Kalo ada waktu luang, Aa bisa main ke fakultas Aa. Gajauh kok dari sini. Anggap saja kampus ini rumah.” Ujarnya, ku balas dengan anggukan.
Aku memilih untuk duduk diantara banyaknya pohon. Dari sejak dulu memang aku suka berteduh diatas pohon – pohon besar. Rasanya terasa tenang bila ada sedang berada dibawah pohon.
“Mas yang tadi di aula kan?” Suara medok jawanya terdengar sangat kental. “Iya mbak.” Ujarku. “Shefiana dari Sastra Indonesia.” Ujarnya menjulurkan tangan. “Erlangga, Fikom.” Balasku menjabat tangannya. “Aku baru banget ke sini. Jujur aku buta kota Bandung. Kalo ngga liat maps udah kayaknya aku nyasar.” Ia merapihkan rambutnya yang tertiup oleh angin. “Sulit manggil nama aku panggil Ana aja ya.” Ujarnya, aku mengalisis orang ini entah ramah atau so sksd tapi ya sudahlah itu urusan dia sendiri. “By the way, kenapa ngambil jurusan Sastra Indonesia? Suka sama novel atau bikin ceritakah?” Tanyaku. “Yap that’s right.” Jawabnya. “Er aku butuh penujuk atau yang tau daerah Bandung, ini bukan modus loh ya aku minta id line kamu.” Pintanya. “Panggil Angga aja gausah er ya.” Ujarku lalu mengetikan id line milikku.
Seharian Dean rewel, ia tak biasanya seperti ini. Sebisa mungkin saat tadi aku sedang daftar ulang aku berusaha mengabari tapi entah kenapa aku merasa ia rewel hari ini. Aku merasa jengkel tapi disisi lain aku merasa iba juga dengan Dean.
“Kamu ga biasa rewel kayak sekarang.” Ujarku. “Ah anehlah.” Balasnya dengan kesal. “Ya kamu kenapa?” Tanyaku. “Gapapa.” Nah jawaban seperti ini yang membuat rumus matematika, fisika, kimia atau apapun tidak bisa menyederhanakan kata gapapa.
Saat seharian lelah mengantri aku seharusnya bisa mengistirahatkan tubuh dan fikiran. Namun sampai pukul 11 malam aku masih harus menengangkan Dean. Tak masalah jika aku kurang tidur, prioritas utamaku tentu Dean. Dean berangsur bisa ku tangani. Ku dengar ia sudah beberapa kali menguap. Kantuk sudah menghinggapinya. “Aku tidur yaa. Nite.” Lalu tak lama sambungan Bandung – Jogjakarta terputus.
Setelah Dean tertidur, aku yang tadi sudah ingin tertidur kini untuk memejamkan matapun sulit. Padahal aku bukan laki – laki yang suka campuran kaffein. Bagiku itu tidak sehatku.
Jauh dari mata, namun sejatinya saat dahi bertemu dengan sajadah aku selalu mendoakan yang terbaik untuk Dean. Hanya doa yang mampu aku beri saat ini untuknya agar ia tetap terjaga meski jauh dari pandanganku.
Hampir setiap malam kami saling bertemu via telpon ataupun video call, tergantung sinyal saja. Beginilah menjalani kehidupan Long Distance Relationship sinyal sangat berperan penting untuk mempertemukan dua hati yang saling merindu.
Dean menceritakan tentang kehidupan barunya. Ia yang sangat pintar menawar saat di Bandung kini merasa kesulitan saat harus membeli satu barang, setiap pagi atau sore di hari minggu ia membiasakan diri untuk bersepeda karena ia malas untuk lari, ia menjadikan saudaranya sebagai guru les privat bahasa Jawa kadang saat kami asyik bertelpon ia selalu berusaha mengucapkan sepatah kata bahasa Jawa.
Sedangkan aku lebih sering menjadi pendengar apa yang ia ceritakan. Berusaha mengimbangi apa yang sedang dibicarakan agar sebuah pembicaraan tidak cepat berakhir. Aku cenderung mendengar dari pada berbicara.
“Jadi kamu gimana, udah dateng ke kampus?” Tanyanya. “Belum nanti aja santei.” Jawabku sekenanya. “Coba deh main ke kampus kamu jangan so acuh gitulah itu rumah kamu selanjutnya setelah rumah.” Cerocosnya.
***
Hampir ribuan mahasiswa baru memadati ruang aula. Kebanyakan mereka saling mengakrabkan diri dengan teman barunya. Ada yang menanyakan dari mana asal daerahnya, dari mana sekolahnya, apakah fresh graduate, dan aku sendiri hanya sibuk dengan smartphone milikku.
Sudah berjam – jam aku mengantri menunggu penyerahan berkas. Jika disebut jenuh iya aku jenuh namun ya inilah perjuangan seorang mahasiswa baru harus rela mengantri demi berjuang untuk mengejar sarjana.
“Mas itu formnya jatuh.” Perempuan berambut sebahu memberikan form miliku. “Ohiya makasih.” Ujarku. “Mas tau tempat kost yang deket dari sini.” Tanyanya, aku bisa menebak perempuan dipinggirku ini pendatang dari luar kota. “Keluar dari gerbang kampus ada gang kebanyakan disana ada kost putri.” Jawabku.
Aku kembali sibuk dengan smartphoneku. Aku sibuk melihat beberapa review laptop karena rasanya aku butuh laptop baru untuk kuliah. Tentunya aku akan membeli laptop baru dengan uangku sendiri hasil menabung dari kelas 1 sampai kelas 3 SMK.
“Bu ini berkas milik saya. “ Ujarku menyerahkan map yang berisi persyaratan yang harus dipenuhi. “Ok a siap. Semangat kuliahnya ya A. Beasiswanya pergunakan dengan baik.” Ujarnya menyerahkan selembar kertas yang berisi jadwal kegiatan mahasiswa baru. “Kalo ada waktu luang, Aa bisa main ke fakultas Aa. Gajauh kok dari sini. Anggap saja kampus ini rumah.” Ujarnya, ku balas dengan anggukan.
Aku memilih untuk duduk diantara banyaknya pohon. Dari sejak dulu memang aku suka berteduh diatas pohon – pohon besar. Rasanya terasa tenang bila ada sedang berada dibawah pohon.
“Mas yang tadi di aula kan?” Suara medok jawanya terdengar sangat kental. “Iya mbak.” Ujarku. “Shefiana dari Sastra Indonesia.” Ujarnya menjulurkan tangan. “Erlangga, Fikom.” Balasku menjabat tangannya. “Aku baru banget ke sini. Jujur aku buta kota Bandung. Kalo ngga liat maps udah kayaknya aku nyasar.” Ia merapihkan rambutnya yang tertiup oleh angin. “Sulit manggil nama aku panggil Ana aja ya.” Ujarnya, aku mengalisis orang ini entah ramah atau so sksd tapi ya sudahlah itu urusan dia sendiri. “By the way, kenapa ngambil jurusan Sastra Indonesia? Suka sama novel atau bikin ceritakah?” Tanyaku. “Yap that’s right.” Jawabnya. “Er aku butuh penujuk atau yang tau daerah Bandung, ini bukan modus loh ya aku minta id line kamu.” Pintanya. “Panggil Angga aja gausah er ya.” Ujarku lalu mengetikan id line milikku.
***
Seharian Dean rewel, ia tak biasanya seperti ini. Sebisa mungkin saat tadi aku sedang daftar ulang aku berusaha mengabari tapi entah kenapa aku merasa ia rewel hari ini. Aku merasa jengkel tapi disisi lain aku merasa iba juga dengan Dean.
“Kamu ga biasa rewel kayak sekarang.” Ujarku. “Ah anehlah.” Balasnya dengan kesal. “Ya kamu kenapa?” Tanyaku. “Gapapa.” Nah jawaban seperti ini yang membuat rumus matematika, fisika, kimia atau apapun tidak bisa menyederhanakan kata gapapa.
Saat seharian lelah mengantri aku seharusnya bisa mengistirahatkan tubuh dan fikiran. Namun sampai pukul 11 malam aku masih harus menengangkan Dean. Tak masalah jika aku kurang tidur, prioritas utamaku tentu Dean. Dean berangsur bisa ku tangani. Ku dengar ia sudah beberapa kali menguap. Kantuk sudah menghinggapinya. “Aku tidur yaa. Nite.” Lalu tak lama sambungan Bandung – Jogjakarta terputus.
Setelah Dean tertidur, aku yang tadi sudah ingin tertidur kini untuk memejamkan matapun sulit. Padahal aku bukan laki – laki yang suka campuran kaffein. Bagiku itu tidak sehatku.
Diubah oleh aldiansyahdzs 23-05-2016 08:34
junti27 dan 3 lainnya memberi reputasi
4