- Beranda
- Buat Latihan Posting
Warung Kopi BLP Raya ! - Part 1
...
TS
pfapb
Warung Kopi BLP Raya ! - Part 1
Welcome To
Warung Kopi BLP Raya!
Warung Kopi BLP Raya!
Quote:
Disini tempat buat kongkow dan buat chit-chat antar kaskuser 
Perlu diperhatikan,disini dilarang post yang mengandung sara dan jangan debat disini!

Perlu diperhatikan,disini dilarang post yang mengandung sara dan jangan debat disini!

- PERATURAN UMUM :
1. No SARA
2. No Personal Insult
3. No Nude Picture
4. Menggunakan bahasa yang baik saat berbincang dengan member lain.
5. PRIME ONLY![Clone hanya boleh post disini tiap hari minggu,dan ID clone juga harus terdaftar di warkop ini.]
6. Jika Melanggar Peraturan No.5 = Delete Post
SANKSI :
1. Pelanggaran Pertama Kali : Teguran & Delete Post
2. Pelanggaran Kedua Kali : Banned
3. SARA , PERSONAL INSULT : BANNED (TANPA TOLERANSI)
4. TIDAK DIPERKENANKAN UNTUK JUALAN , PROMOSI BLOG , PROMOSI WEB : Hapus Post (TANPA TOLERANSI)
Quote:
Aturan main
1. Wajib ngejunk
2. Tidak melakukan Insult terhadap kaskuser lainnya
3. Wajib Rate 5 Thread ini.
4. Jika ada masalah pribadi dengan kaskuser disini,silahkan selesaikan via PM dgn ybs
5. Upload foto DP = BANNED
6. Upload foto nude = Delete post (Tergantung pertimbangan dari TS
)
7. Biasakan Single Quote! Multi quote digunakan hanya untuk kepepet
1. Wajib ngejunk
2. Tidak melakukan Insult terhadap kaskuser lainnya
3. Wajib Rate 5 Thread ini.
4. Jika ada masalah pribadi dengan kaskuser disini,silahkan selesaikan via PM dgn ybs

5. Upload foto DP = BANNED
6. Upload foto nude = Delete post (Tergantung pertimbangan dari TS
)7. Biasakan Single Quote! Multi quote digunakan hanya untuk kepepet

Siapa pun yang melanggar aturan,akan terkena banned 3 Hari atau Permanent 

Quote:
Buat yang mau gabung disini Wajib Isini Biodata dibawah ini
1. ID Prime :
2. ID Clone :
3. Nama Asli :
4. Nama panggilan :
5. Umur :
6. Jenis Kelamin :
7. Twitter/Line/Instagram (optional) :

1. ID Prime :
2. ID Clone :
3. Nama Asli :
4. Nama panggilan :
5. Umur :
6. Jenis Kelamin :
7. Twitter/Line/Instagram (optional) :

Semoga betah nongkrong terus dimari 
#SalamBLP

#SalamBLP

Diubah oleh pfapb 22-05-2016 15:20
0
290.4K
Kutip
10K
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Buat Latihan Posting
35.7KThread•1.9KAnggota
Tampilkan semua post
ndemun75
#7322
JUWANDANA
part 6:
bersambung...
part 6:
Quote:
Di pedukuhan gringsing.
Pedukuhan gringsing terletak di pinggir pantai utara, rumah-rumah penduduk berjejer disepanjang pantai, ada juga beberapa yang letaknya sedikit menjorok ke hutan dibawah bukit.
Para penduduknya sebagian besar bermata pencaharian sebagai nelayan, sudah beberapa hari pedukuhan itu begitu ramai oleh adanya sebuah kegiatan luar biasa, pembangunan pelabuhan yang bertujuan untuk menambah kekuatan armada laut kerajaan.
Ada banyak kuli bangunan yang lalu-lalang mengerjakan pembuatan pelabuhan, kuli-kuli itu sebagian dari pedukuhan gringsing, sebagian lagi dari pedukuhan yang lain. Begitu juga dengan ahli ukiran, para pengukir ini ditugaskan untuk mengukir beberapa bagian kapal agar terlihat lebih bagus.
Pagi itu, banyak sekali penduduk setempat yang dengan sukarela menyuguhkan makanan untuk para prajurit yang sedang berjaga di sekitar pelabuhan, ada yang menyajikan buah-buahan, nasi dan lauknya, bahkan ada seorang yang sengaja menyembelih sapinya untuk dimasak. Penduduk pedukuhan gringsing adalah penduduk yang ramah, mereka sangat senang dengan kedatangan para prajurit dan juga beberapa pejabat istana, salah satunya adalah patih kebo mbranang atau yang biasa di panggil mahapatih kebo mbranang. Ia datang ke pedukuhan gringsing dengan beberapa senopati.
Sebagai wakil raja, ia ditugaskan langsung untuk mengawasi pembuatan pelabuhan besar untuk keperluan militer kerajaan. Kebo mbranang menjadi pusat perhatian para warga, banyak warga yang ingin melihat langsung seorang patih yang terkenal. Patih besar di kerajaan juwandana yang begitu berwibawa, selama ini warga pedukuhan gringsing hanya sebatas mendengar namanya saja, karna jauhnya tempat tinggal mereka dengan istana.
Beberapa orang prajurit terlihat mengobrol dengan warga pedukuhan, mahapatih kebo mbranang juga terkadang memperlihatkan senyumnya kepada para warga. Walaupun berwajah sangar, ia juga bisa tersenyum kepada warga yang terkadang menyapanya.
Kebo mbranang diikuti senopati gumbaran berjalan mendekati air laut, ia memperhatikan pembuatan kapal perang yang sedang diukir dibagian depannya, kapal itu ujung depannya dibentuk kepala naga yang memakai mahkota, hanya orang-orang yang punya keahlian mengukir yang tinggi yang bisa membuat karya yang sangat bagus itu.
Sambil memandangi pembuatan kapal, kebo mbranang mengajak senopatinya bicara.
"Pelabuhan ini akan menjadi pelabuhan paling besar dan menjadi pusat kekuatan laut kita", sambil bicara, kebo mbranang tetap memperhatikan pembuatan kapal.
"Benar sekali mahapatih, ini juga akan memberi rasa aman kepada para nelayan yang sedang melaut di sekitar perairan utara, para perompak itu tidak akan berani mengganggu nelayan lagi", senopati gumbaran menyempatkan mengangguk tanda hormat.
"Kerajaan keling yang merasa paling hebat itu tidak akan bisa menganggap remeh kita, kita juga bisa menggempur kerajaan keling dari laut dengan kekuatan armada ini, juwandana harus menjadi raksasa di lautan", kata kebo mbranang.
Kebo mbranang mempunyai dendam kesumat terhadap kerajaan keling, kejadian beberapa taun lalu yang merenggut banyak nyawa di juwandana termasuk ayah dari jayasegara juga menjadi korban. Kala itu, tepat di siang hari, pasukan kerajaan keling menyerang juwandana. Sebenarnya, para prajurit dari juwandana sudah mencegat mereka lebih dulu, walaupun begitu prajurit dari keling tetap bisa merangsek hingga masuk ke kotaraja.
Semua daerah yang dilewati pasukan keling rusak parah, rumah-rumah penduduk dibakar, penjarahan dan pembunuhan sadis dilakukan. Banyak juga para wanita yang kehilangan kehormatannya karena dirudapaksa. Tapi juwandana akhirnya mampu memukul mundur pasukan dari keling berkat bantuan dari beberapa kerajaan dibawah kekuasaannya. Walaupun pernah kalah perang, kerajaan keling mampu bangkit kembali dengan cepat dipimpin oleh seorang raja muda bernama adhirata yang menggantikan ayahnya, prabu sridrawardana yang sudah mangkat.
Dari kejauhan, nampak seseorang yang berpakaian lusuh, compang-camping, dan berwajah kusam layaknya pengemis berjalan ke arah kebo mbranang, setelah berada didepannya, orang itu kemudian memberikan sembah hormat.
"Saya menghadap mahapatih, ada berita mahapenting", orang itu berdiri di samping kebo mbranang.
"Mahapenting katamu? kita bicarakan di dalam rumah saja", kebo mbranang mengajak senopati gumbaran dan pengemis itu untuk masuk ke dalam rumah yang berukuran kecil, rumah itu dindingnya terbuat dari anyaman bambu dan dibuat sederhana saja, karena fungsinya hanya untuk sementara, kalau pembuatan pelabuhan selesai rumah kecil itu akan dibongkar. Setelah masuk kedalam rumah, mereka bertiga duduk berhadapan.
"Kabar apa?", tanya kebo mbranang tegas.
Mendapat pertanyaan yang diarahkan kepadanya, pengemis itu merapatkan telapak tangannya persyarat memberikan sembah hormat, "Begini mahapatih, kerajaan keling ternyata juga memperkuat armada lautnya, kapal-kapal itu dibuat ditempat yang disembunyikan, tapi saya mengetahuinya, mereka membuat kapal yang sangat banyak. Pasukan yang ada di lautan juga ditambah, selain itu mereka juga banyak sekali merekrut prajurit baru, raja adhirata semakin menancapkan pengaruhnya di kerajaan-kerajaan disekitar keling, yang tidak mau bergabung maka akan dihancurkan. Kerajaan-kerajaan itu banyak yang memilih bergabung daripada menghadapi besarnya kekuatan keling. Sehingga, jumlah pasukan pun terus bertambah, akhir-akhir ini pun mereka juga sering melakukan latihan gelar perang. Raja adhirata ingin menguasai juwandana sekaligus membalas dendam kekalahan perang beberapa tahun yang lalu, jumlah pasukan keling mungkin saat ini sudah melebihi pasukan juwandana mahapatih, juwandana dalam ancaman, mereka bisa saja menggilas kita kapanpun tanpa sisa. Untuk sementara hanya itu yang bisa saya laporkan mahapatih, prajurit telik sandi yang lain masih tetap dalam posisi masing-masing, kabar selanjutnya akan segera menyusul mahapatih", pemakai baju lusuh itu menjelaskan tanpa cela. Senopati gumbaran yang berada di dekatnya ikut menyimak dengan seksama.
Patih kebo mbranang mencerna betul omongan orang yang ada didekatnya itu, ia pun mengelus-elus dagunya. Ada perasaan cemas & khawatir sekaligus gemas di dadanya. Khawatir karena ada musuh besar didepan mata yang siap menebar kematian kepada semua penduduk juwandana, gemas karena ia sebenarnya bernafsu sekali ingin membalas perbuatan kerajaan keling beberapa tahun lalu.
"Apa mereka akan menyerang dalam waktu dekat?", tanya kebo mbranang.
Pengemis itu memberikan hormatnya lagi ke kebo mbranang sebelum menjawab, "Saya rasa tidak, mereka masih ingin menghimpun kekuatan dan mematangkan kesiapan para prajurit mereka sembari menunggu waktu yang tepat untuk menyerang".
Kebo mbranang termangu, ia memikirkan bagaimana caranya mengatasi besarnya pasukan keling sekaligus menaklukkannya, ia tak ingin kejadian beberapa tahun lalu terulang kembali, kebo mbranang ingin membunuh semua pembesar kerajaan keling.
"Menghadaplah ke gusti prabu, ceritakan semuanya, ceritakan juga bahwa aku ingin menambah jumlah pasukan, secepatnya aku akan menyusul dan membicarakan masalah penting ini bersama beliau dan para petinggi istana, jangan lupa kasih tau para prajurit untuk mengumumkan pada para penduduk untuk selalu waspada dan membuat tempat persembunyian", kebo mbranang memerintah orang yang berpakaian lusuh itu.
"Baik mahapatih, saya akan segera ke istana"
"Ya", jawab kebo mbranang singkat.
Pengemis itupun segera menuju pintu rumah meninggalkan kebo mbranang dan senopati gumbaran, ia berjalan sambil sesekali menyapa para prajurit. Orang itu bukanlah pengemis yang sebenarnya, ia adalah seorang prajurit telik sandi (mata-mata) yang menyamar menjadi pengemis. Juwandana memang menyebar prajurit semacam itu di keling untuk mengetahui keadaan yang terjadi disana, mereka menyamar untuk menyembunyikan jati dirinya. Ada yang menyamar menjadi pengemis, pedagang makanan, petani dan pande besi, bahkan ada yang menyamar menjadi orang gila.
"Aku sudah tidak sabar ingin menghujamkan pedang ke dada raja dan semua penguasa di keling, berani sekali mereka datang kesini lagi, keling harus musnah dari jagad ini", kebo mbranang berkata dalam hati, rasa gemas dan gusar sangat melekat padanya saat ini. Kebo mbranang ingin sekali membalaskan dendamnya, tapi sebenarnya ia juga mencemaskan nasib para warga saat perang terjadi nanti.
"Senopati, suruh para prajurit untuk mengumpulkan para penduduk, aku akan memberi tau kepada penduduk tentang kabar dari telik sandi itu, kita belum tau kapan mereka akan menyerang, aku tidak ingin kejadian yang dulu terulang kembali", kebo mbranang memberi perintah kepada senopati gumbaran. Dengan cepat, senopati gumbaran menyuruh para prajurit untuk mengumpulkan warga. Warga pun jadi merasa penasaran, untuk apa mereka dikumpulkan.
"Ada apa ya, kenapa kita disuruh berkumpul?", kata salah satu warga.
"Aku tidak tau, mungkin ada pembagian makanan", sahut yang disampingnya.
"Halaaahh...kamu ini yang dipirkan setiap hari cuma makan saja, lihat ini perutmu, besar seperti gentong", orang itu berbicara sambil mengelus perut besar tetangganya itu sembari tertawa.
"Hus-hus, jangan dipegang begitu...geli rasanya, kau kira aku ini hamil begitu", lelaki bertubuh gemuk itu menyingkirkan tangan orang yang memegang perutnya. Orang-orang yang disekitarnya tertawa melihat tingkah lelaki gemuk itu.
Seluruh warga pedukuhan gringsing berkumpul, para nelayan yang sedang mencari ikan yang tidak jauh dari pantai disuruh menepi dulu, saat semuanya sudah berkumpul mereka pun menunggu apa yang akan disampaikan oleh prajurit dan patih juwandana.
Di depan para prajurit, kebo mbranang berdiri tegak menghadap ke sekumpulan warga gringsing. Pandangannya menelusuri wajah-wajah penduduk yang menunggu omongannya, ia tampak menghela nafas.
"Para ki sanak semuanya, sebelumnya maaf kalau sudah mengganggu pekerjaan ki sanak. Saya akan memberikan pengumuman penting", kebo mbranang berbicara lantang, semua warga pun memperhatikan dengan serius.
"Saat ini, kerajaan keling sedang mempersiapkan diri. Mereka mempunyai rencana untuk kembali menyerang juwandana, kita belum tahu kapan mereka akan menyerang. Saya hanya ingin semuanya waspada kalau sewaktu-waktu serangan itu datang, mulai saat ini buatlah tempat persembunyian yang aman, simpan bahan makanan di tempat yang aman karena saat perang berlangsung nanti, penjarahan sangat mungkin terjadi. Bagi yang ingin menenyumbangkan tenaganya dan berjuang untuk juwandana, silahkan langsung ke istana yang nantinya akan diberikan latihan keprajuritan", pengumuman yang diberikan kebo mbranang sangat jelas.
Penduduk pedukuhan gringsing pun menjadi was-was dan khawatir. Mereka takut serangan kerajaan keling itu akan sampai di pedukuhannya, waktu keling menyerang juwandana beberapa tahun lalu, pedukuhan gringsing lolos dari amukan pasukan musuh.
"Maaf tuan mahapatih, apa serangan kerajaan keling itu akan sampai disini?", seseorang yang bernama suranggi bertanya.
"Bisa dipastikan musuh akan sampai disini, pasukan mereka sungguh besar ki sanak, mereka pasti akan menyebar sejauh mungkin", kebo mbranang menjawab pertanyaan yang diajukan oleh suranggi.
Kebo mbranang sebenarnya sedikit tidak tega mengumumkan kabar ini, ia membayangkan kemungkinan terburuk yang terjadi pada warga pedukuhan pinggir pantai itu. Tapi apa boleh buat, kalau tidak diberi tau korban perang jumlahnya pasti banyak.
Tapi, siapa sangka, kabar perang itu justru dimanfaatkan oleh beberapa orang pemuda untuk maju menjadi prajurit, orang tua manapun pasti bangga kalau anaknya bisa menjadi prajurit sekalipun akan gugur di medan laga.
Tiba-tiba seorang pemuda mengacungkan tangannya sembari berbicara, "mahapatih, saya ingin menjadi prajurit, saya siap melindungi juwandana dengan taruhan nyawa".
Mendengar omongan macam itu, kebo mbranang memperlihatkan senyumnya, ia senang ternyata ada penduduk yang ingin mempertahankan keutuhan kerajaan juwandana, orang-orang yang punya semangat macam inilah yang dibutuhkan di keprajuritan, di medan perangpun orang macam itu bisa membahayakan musuh.
"Saya juga ingin jadi prajurit tuan mahapatih", seorang yang lain ikut mengacungkan tangan.
"Saya juga bersedia menjadi benteng hidup juwandana", yang seorang lagi juga mengacungkan tangan.
Lama kelamaan banyak orang yang mengacungkan tangannya dan berbicara bersedia menjadi prajurit kerajaan juwandana.
Kebo mbranang melihat wajah-wajah penuh semangat juang disebagian penduduk pedukuhan gringsing.
"Baiklah, semua yang bersedia menjadi prajurit diharap datang di istana. Atau begini saja, yang mau jadi prajurit berangkat ke istana bersamaku, kita akan ke kotaraja secepatnya", kebo mbranang berbicara sambil mengedarkan pandangannya.
"Baik mahapatih", jawab mereka serempak.
Di tengah-tengah perkumpulan itu, ada seseorang yang sebenarnya ada di pihak keling ikut bergabung di gerombolan warga gringsing, ia mencermati betul apa yang direncanakan oleh kebo mbranang.
"Dasar mahapatih bodoh, lihat saja nanti, akan aku bedah dadamu dan kumakan jantungmu, juwandana akan musnah dari jagad ini", orang itupun berkata dalam hati sambil tersenyum sinis.
Pedukuhan gringsing terletak di pinggir pantai utara, rumah-rumah penduduk berjejer disepanjang pantai, ada juga beberapa yang letaknya sedikit menjorok ke hutan dibawah bukit.
Para penduduknya sebagian besar bermata pencaharian sebagai nelayan, sudah beberapa hari pedukuhan itu begitu ramai oleh adanya sebuah kegiatan luar biasa, pembangunan pelabuhan yang bertujuan untuk menambah kekuatan armada laut kerajaan.
Ada banyak kuli bangunan yang lalu-lalang mengerjakan pembuatan pelabuhan, kuli-kuli itu sebagian dari pedukuhan gringsing, sebagian lagi dari pedukuhan yang lain. Begitu juga dengan ahli ukiran, para pengukir ini ditugaskan untuk mengukir beberapa bagian kapal agar terlihat lebih bagus.
Pagi itu, banyak sekali penduduk setempat yang dengan sukarela menyuguhkan makanan untuk para prajurit yang sedang berjaga di sekitar pelabuhan, ada yang menyajikan buah-buahan, nasi dan lauknya, bahkan ada seorang yang sengaja menyembelih sapinya untuk dimasak. Penduduk pedukuhan gringsing adalah penduduk yang ramah, mereka sangat senang dengan kedatangan para prajurit dan juga beberapa pejabat istana, salah satunya adalah patih kebo mbranang atau yang biasa di panggil mahapatih kebo mbranang. Ia datang ke pedukuhan gringsing dengan beberapa senopati.
Sebagai wakil raja, ia ditugaskan langsung untuk mengawasi pembuatan pelabuhan besar untuk keperluan militer kerajaan. Kebo mbranang menjadi pusat perhatian para warga, banyak warga yang ingin melihat langsung seorang patih yang terkenal. Patih besar di kerajaan juwandana yang begitu berwibawa, selama ini warga pedukuhan gringsing hanya sebatas mendengar namanya saja, karna jauhnya tempat tinggal mereka dengan istana.
Beberapa orang prajurit terlihat mengobrol dengan warga pedukuhan, mahapatih kebo mbranang juga terkadang memperlihatkan senyumnya kepada para warga. Walaupun berwajah sangar, ia juga bisa tersenyum kepada warga yang terkadang menyapanya.
Kebo mbranang diikuti senopati gumbaran berjalan mendekati air laut, ia memperhatikan pembuatan kapal perang yang sedang diukir dibagian depannya, kapal itu ujung depannya dibentuk kepala naga yang memakai mahkota, hanya orang-orang yang punya keahlian mengukir yang tinggi yang bisa membuat karya yang sangat bagus itu.
Sambil memandangi pembuatan kapal, kebo mbranang mengajak senopatinya bicara.
"Pelabuhan ini akan menjadi pelabuhan paling besar dan menjadi pusat kekuatan laut kita", sambil bicara, kebo mbranang tetap memperhatikan pembuatan kapal.
"Benar sekali mahapatih, ini juga akan memberi rasa aman kepada para nelayan yang sedang melaut di sekitar perairan utara, para perompak itu tidak akan berani mengganggu nelayan lagi", senopati gumbaran menyempatkan mengangguk tanda hormat.
"Kerajaan keling yang merasa paling hebat itu tidak akan bisa menganggap remeh kita, kita juga bisa menggempur kerajaan keling dari laut dengan kekuatan armada ini, juwandana harus menjadi raksasa di lautan", kata kebo mbranang.
Kebo mbranang mempunyai dendam kesumat terhadap kerajaan keling, kejadian beberapa taun lalu yang merenggut banyak nyawa di juwandana termasuk ayah dari jayasegara juga menjadi korban. Kala itu, tepat di siang hari, pasukan kerajaan keling menyerang juwandana. Sebenarnya, para prajurit dari juwandana sudah mencegat mereka lebih dulu, walaupun begitu prajurit dari keling tetap bisa merangsek hingga masuk ke kotaraja.
Semua daerah yang dilewati pasukan keling rusak parah, rumah-rumah penduduk dibakar, penjarahan dan pembunuhan sadis dilakukan. Banyak juga para wanita yang kehilangan kehormatannya karena dirudapaksa. Tapi juwandana akhirnya mampu memukul mundur pasukan dari keling berkat bantuan dari beberapa kerajaan dibawah kekuasaannya. Walaupun pernah kalah perang, kerajaan keling mampu bangkit kembali dengan cepat dipimpin oleh seorang raja muda bernama adhirata yang menggantikan ayahnya, prabu sridrawardana yang sudah mangkat.
Dari kejauhan, nampak seseorang yang berpakaian lusuh, compang-camping, dan berwajah kusam layaknya pengemis berjalan ke arah kebo mbranang, setelah berada didepannya, orang itu kemudian memberikan sembah hormat.
"Saya menghadap mahapatih, ada berita mahapenting", orang itu berdiri di samping kebo mbranang.
"Mahapenting katamu? kita bicarakan di dalam rumah saja", kebo mbranang mengajak senopati gumbaran dan pengemis itu untuk masuk ke dalam rumah yang berukuran kecil, rumah itu dindingnya terbuat dari anyaman bambu dan dibuat sederhana saja, karena fungsinya hanya untuk sementara, kalau pembuatan pelabuhan selesai rumah kecil itu akan dibongkar. Setelah masuk kedalam rumah, mereka bertiga duduk berhadapan.
"Kabar apa?", tanya kebo mbranang tegas.
Mendapat pertanyaan yang diarahkan kepadanya, pengemis itu merapatkan telapak tangannya persyarat memberikan sembah hormat, "Begini mahapatih, kerajaan keling ternyata juga memperkuat armada lautnya, kapal-kapal itu dibuat ditempat yang disembunyikan, tapi saya mengetahuinya, mereka membuat kapal yang sangat banyak. Pasukan yang ada di lautan juga ditambah, selain itu mereka juga banyak sekali merekrut prajurit baru, raja adhirata semakin menancapkan pengaruhnya di kerajaan-kerajaan disekitar keling, yang tidak mau bergabung maka akan dihancurkan. Kerajaan-kerajaan itu banyak yang memilih bergabung daripada menghadapi besarnya kekuatan keling. Sehingga, jumlah pasukan pun terus bertambah, akhir-akhir ini pun mereka juga sering melakukan latihan gelar perang. Raja adhirata ingin menguasai juwandana sekaligus membalas dendam kekalahan perang beberapa tahun yang lalu, jumlah pasukan keling mungkin saat ini sudah melebihi pasukan juwandana mahapatih, juwandana dalam ancaman, mereka bisa saja menggilas kita kapanpun tanpa sisa. Untuk sementara hanya itu yang bisa saya laporkan mahapatih, prajurit telik sandi yang lain masih tetap dalam posisi masing-masing, kabar selanjutnya akan segera menyusul mahapatih", pemakai baju lusuh itu menjelaskan tanpa cela. Senopati gumbaran yang berada di dekatnya ikut menyimak dengan seksama.
Patih kebo mbranang mencerna betul omongan orang yang ada didekatnya itu, ia pun mengelus-elus dagunya. Ada perasaan cemas & khawatir sekaligus gemas di dadanya. Khawatir karena ada musuh besar didepan mata yang siap menebar kematian kepada semua penduduk juwandana, gemas karena ia sebenarnya bernafsu sekali ingin membalas perbuatan kerajaan keling beberapa tahun lalu.
"Apa mereka akan menyerang dalam waktu dekat?", tanya kebo mbranang.
Pengemis itu memberikan hormatnya lagi ke kebo mbranang sebelum menjawab, "Saya rasa tidak, mereka masih ingin menghimpun kekuatan dan mematangkan kesiapan para prajurit mereka sembari menunggu waktu yang tepat untuk menyerang".
Kebo mbranang termangu, ia memikirkan bagaimana caranya mengatasi besarnya pasukan keling sekaligus menaklukkannya, ia tak ingin kejadian beberapa tahun lalu terulang kembali, kebo mbranang ingin membunuh semua pembesar kerajaan keling.
"Menghadaplah ke gusti prabu, ceritakan semuanya, ceritakan juga bahwa aku ingin menambah jumlah pasukan, secepatnya aku akan menyusul dan membicarakan masalah penting ini bersama beliau dan para petinggi istana, jangan lupa kasih tau para prajurit untuk mengumumkan pada para penduduk untuk selalu waspada dan membuat tempat persembunyian", kebo mbranang memerintah orang yang berpakaian lusuh itu.
"Baik mahapatih, saya akan segera ke istana"
"Ya", jawab kebo mbranang singkat.
Pengemis itupun segera menuju pintu rumah meninggalkan kebo mbranang dan senopati gumbaran, ia berjalan sambil sesekali menyapa para prajurit. Orang itu bukanlah pengemis yang sebenarnya, ia adalah seorang prajurit telik sandi (mata-mata) yang menyamar menjadi pengemis. Juwandana memang menyebar prajurit semacam itu di keling untuk mengetahui keadaan yang terjadi disana, mereka menyamar untuk menyembunyikan jati dirinya. Ada yang menyamar menjadi pengemis, pedagang makanan, petani dan pande besi, bahkan ada yang menyamar menjadi orang gila.
"Aku sudah tidak sabar ingin menghujamkan pedang ke dada raja dan semua penguasa di keling, berani sekali mereka datang kesini lagi, keling harus musnah dari jagad ini", kebo mbranang berkata dalam hati, rasa gemas dan gusar sangat melekat padanya saat ini. Kebo mbranang ingin sekali membalaskan dendamnya, tapi sebenarnya ia juga mencemaskan nasib para warga saat perang terjadi nanti.
"Senopati, suruh para prajurit untuk mengumpulkan para penduduk, aku akan memberi tau kepada penduduk tentang kabar dari telik sandi itu, kita belum tau kapan mereka akan menyerang, aku tidak ingin kejadian yang dulu terulang kembali", kebo mbranang memberi perintah kepada senopati gumbaran. Dengan cepat, senopati gumbaran menyuruh para prajurit untuk mengumpulkan warga. Warga pun jadi merasa penasaran, untuk apa mereka dikumpulkan.
"Ada apa ya, kenapa kita disuruh berkumpul?", kata salah satu warga.
"Aku tidak tau, mungkin ada pembagian makanan", sahut yang disampingnya.
"Halaaahh...kamu ini yang dipirkan setiap hari cuma makan saja, lihat ini perutmu, besar seperti gentong", orang itu berbicara sambil mengelus perut besar tetangganya itu sembari tertawa.
"Hus-hus, jangan dipegang begitu...geli rasanya, kau kira aku ini hamil begitu", lelaki bertubuh gemuk itu menyingkirkan tangan orang yang memegang perutnya. Orang-orang yang disekitarnya tertawa melihat tingkah lelaki gemuk itu.
Seluruh warga pedukuhan gringsing berkumpul, para nelayan yang sedang mencari ikan yang tidak jauh dari pantai disuruh menepi dulu, saat semuanya sudah berkumpul mereka pun menunggu apa yang akan disampaikan oleh prajurit dan patih juwandana.
Di depan para prajurit, kebo mbranang berdiri tegak menghadap ke sekumpulan warga gringsing. Pandangannya menelusuri wajah-wajah penduduk yang menunggu omongannya, ia tampak menghela nafas.
"Para ki sanak semuanya, sebelumnya maaf kalau sudah mengganggu pekerjaan ki sanak. Saya akan memberikan pengumuman penting", kebo mbranang berbicara lantang, semua warga pun memperhatikan dengan serius.
"Saat ini, kerajaan keling sedang mempersiapkan diri. Mereka mempunyai rencana untuk kembali menyerang juwandana, kita belum tahu kapan mereka akan menyerang. Saya hanya ingin semuanya waspada kalau sewaktu-waktu serangan itu datang, mulai saat ini buatlah tempat persembunyian yang aman, simpan bahan makanan di tempat yang aman karena saat perang berlangsung nanti, penjarahan sangat mungkin terjadi. Bagi yang ingin menenyumbangkan tenaganya dan berjuang untuk juwandana, silahkan langsung ke istana yang nantinya akan diberikan latihan keprajuritan", pengumuman yang diberikan kebo mbranang sangat jelas.
Penduduk pedukuhan gringsing pun menjadi was-was dan khawatir. Mereka takut serangan kerajaan keling itu akan sampai di pedukuhannya, waktu keling menyerang juwandana beberapa tahun lalu, pedukuhan gringsing lolos dari amukan pasukan musuh.
"Maaf tuan mahapatih, apa serangan kerajaan keling itu akan sampai disini?", seseorang yang bernama suranggi bertanya.
"Bisa dipastikan musuh akan sampai disini, pasukan mereka sungguh besar ki sanak, mereka pasti akan menyebar sejauh mungkin", kebo mbranang menjawab pertanyaan yang diajukan oleh suranggi.
Kebo mbranang sebenarnya sedikit tidak tega mengumumkan kabar ini, ia membayangkan kemungkinan terburuk yang terjadi pada warga pedukuhan pinggir pantai itu. Tapi apa boleh buat, kalau tidak diberi tau korban perang jumlahnya pasti banyak.
Tapi, siapa sangka, kabar perang itu justru dimanfaatkan oleh beberapa orang pemuda untuk maju menjadi prajurit, orang tua manapun pasti bangga kalau anaknya bisa menjadi prajurit sekalipun akan gugur di medan laga.
Tiba-tiba seorang pemuda mengacungkan tangannya sembari berbicara, "mahapatih, saya ingin menjadi prajurit, saya siap melindungi juwandana dengan taruhan nyawa".
Mendengar omongan macam itu, kebo mbranang memperlihatkan senyumnya, ia senang ternyata ada penduduk yang ingin mempertahankan keutuhan kerajaan juwandana, orang-orang yang punya semangat macam inilah yang dibutuhkan di keprajuritan, di medan perangpun orang macam itu bisa membahayakan musuh.
"Saya juga ingin jadi prajurit tuan mahapatih", seorang yang lain ikut mengacungkan tangan.
"Saya juga bersedia menjadi benteng hidup juwandana", yang seorang lagi juga mengacungkan tangan.
Lama kelamaan banyak orang yang mengacungkan tangannya dan berbicara bersedia menjadi prajurit kerajaan juwandana.
Kebo mbranang melihat wajah-wajah penuh semangat juang disebagian penduduk pedukuhan gringsing.
"Baiklah, semua yang bersedia menjadi prajurit diharap datang di istana. Atau begini saja, yang mau jadi prajurit berangkat ke istana bersamaku, kita akan ke kotaraja secepatnya", kebo mbranang berbicara sambil mengedarkan pandangannya.
"Baik mahapatih", jawab mereka serempak.
Di tengah-tengah perkumpulan itu, ada seseorang yang sebenarnya ada di pihak keling ikut bergabung di gerombolan warga gringsing, ia mencermati betul apa yang direncanakan oleh kebo mbranang.
"Dasar mahapatih bodoh, lihat saja nanti, akan aku bedah dadamu dan kumakan jantungmu, juwandana akan musnah dari jagad ini", orang itupun berkata dalam hati sambil tersenyum sinis.
bersambung...

0
Kutip
Balas