- Beranda
- Stories from the Heart
( TAMAT ) AKU, KAMU, DAN LEMON : BUKU HARIAN AIRIN
...
TS
beavermoon
( TAMAT ) AKU, KAMU, DAN LEMON : BUKU HARIAN AIRIN
Selamat datang di BeaverMoon Land
Sudah lama tak berjumpa dengan halaman ini dan biasanya cuma liat info-info HT doang.
Dan pada akhirnya ane kembali dengan membawa kisah yang ngga terlalu bagus

Spoiler for Tanya Jawab:
Q : Bang bakalan panen kentang lagi ngga?"
A : Kayaknya ngga, soalnya thread ini cuma 15 episode pendek
Q : Kok cuma 15 Bang?
A : Ya emang segitu adanya dan ngga ada yang ditambah-tambahin
Q : Update tiap hari kan?"
A : Sayangnya ngga tiap hari. Berhubung cuma 15 episode dan ane lagi lumayan sibuk jadi updatenya seminggu sekali (biasanya weekend)
Q : Ini cerita tentang apa Bang?
A : Ini adalah prekuel dari AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Bang, prekuel apa sih?
A : Ini cerita sebelum adanya AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Jadi saya harus baca AKU, KAMU, DAN LEMON dulu dong bang?
A : Sebaiknya seperti itu, tapi kalo mau ini duluan juga nggapapa
Q : Bang, Nanda apa kabar?
A : -_- pertanyaan yang pasti ane jarang jawab
A : Kayaknya ngga, soalnya thread ini cuma 15 episode pendek
Q : Kok cuma 15 Bang?
A : Ya emang segitu adanya dan ngga ada yang ditambah-tambahin
Q : Update tiap hari kan?"
A : Sayangnya ngga tiap hari. Berhubung cuma 15 episode dan ane lagi lumayan sibuk jadi updatenya seminggu sekali (biasanya weekend)

Q : Ini cerita tentang apa Bang?
A : Ini adalah prekuel dari AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Bang, prekuel apa sih?
A : Ini cerita sebelum adanya AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Jadi saya harus baca AKU, KAMU, DAN LEMON dulu dong bang?
A : Sebaiknya seperti itu, tapi kalo mau ini duluan juga nggapapa
Q : Bang, Nanda apa kabar?
A : -_- pertanyaan yang pasti ane jarang jawab
Jadi buat agan dan aganwati sekalian yang mau mengikuti thread ini seharusnya baca AKU, KAMU, DAN LEMONterlebih dahulu. Cuma kalo mau baca ini dulu ya nggapapa ngga ada larangannya

Selamat membaca

Spoiler for INDEX:
Episode 1
Episode 2
Episode 3
Episode 4
Episode 5
Episode 6
Episode 7a
Episode 7b
Episode 8a
Episode 8b
Episode 9a
Episode 9b
Episode 10
Episode 11a
Episode 11b
Episode 12
Episode 13a
Episode 13b
Episode 14a
Episode 14b
Episode 15
Episode 15 + 1 (Finale)
Bad News Lemon
Behind The Story (part 1)
Behind The Story (part 2)
Behind The Story (part 3 / finale)
Pemberitahuan
Episode 2
Episode 3
Episode 4
Episode 5
Episode 6
Episode 7a
Episode 7b
Episode 8a
Episode 8b
Episode 9a
Episode 9b
Episode 10
Episode 11a
Episode 11b
Episode 12
Episode 13a
Episode 13b
Episode 14a
Episode 14b
Episode 15
Episode 15 + 1 (Finale)
Bad News Lemon
Behind The Story (part 1)
Behind The Story (part 2)
Behind The Story (part 3 / finale)
Pemberitahuan
Diubah oleh beavermoon 28-01-2020 19:37
i4munited dan 13 lainnya memberi reputasi
14
77.6K
Kutip
417
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#94
Ini lanjutan episode 7 nya 

Spoiler for Episode 7b:
“Yah mati lampu...” Kata Nanda
“Lampunya mah ngga masalah, listirknya yang padam ini Nda.” Kataku mencoba menerawang
Aku bangun dari dudukku di atas kasur dan membuka pintu balkon, dan sepertinya perumahanku sedang terkena pemadaman bergilir pada malam ini.
“Ini sih pemadaman bergilir...” Kataku
“Kok ngga ada pemberitahuannya Bang kayak biasa?” Tanya Nanda
“Ngga tau deh, bentar Abang nyari lilin di bawah.” Kataku
Aku berjalan menuju dapur dimana lilin biasa disimpan dan bodohnya aku tidak membawa alat penerangan untuk mencari lilin tersebut. Aku mulai meraba-raba dinding hingga aku berhasil tiba di dapur. Sebuah keranjang dengan beberapa benda yang ada di dalamnya termasuk lilin menjadi objek yang sedang aku cari, cukup kesulitan untuk mencari benda itu dalam keadaan gelap hingga akhirnya aku berhasil mendapatkannya. Kunyalakan beberapa lilin untuk menjadi penerang sementara, satu kuletakkan di ruang tamu dan satu lagi aku bawa menuju kamarku.
Awalnya kami masih sempat berbincang-bincang selama listrik padam, hingga akhirnya Nanda tertidur di atas kasur entah bagaimana caranya. Tersisa aku dan juga Widya yang sama-sama duduk di lantai beralaskan karpet Doraemon, bersandar pada dinding yang mengarah ke tempat Nanda tidur. Angin dari luar menggoyangkan nyala api hingga hampir meredup beberapa kali.
“Kalo kayak gini aku jadi inget pas SMA sama kamu...” Kata Widya
“Yang mana?” Tanyaku tanpa melihat ke arahnya
“Kita kelas dua, Jogja, dan lampu senter...” Katanya memandang ke arahku
Aku memandang wajahnya dan kami saling tersenyum satu sama lain di dalam kesunyian malam ini, nyala api dari lilin masih senang untuk bergoyang-goyang karena terpaan angin.
Api lilin masih menyala hingga saat ini, listrik masih terus padam entah sampai kapan. Aku dan Widya masih duduk di lantai ini memandangi Nanda yang sudah semakin lelap dalam tidurnya, sandaran kepalanya di pundakku masih terasa sama seperti waktu itu.
“Ini ya yang waktu itu kejedot?” Tanyaku sambil mengusap pelipis kirinya
“Ternyata kamu masih inget juga...” Jawabnya
Sedari tadi kami sudah seperti ini, rasa nyaman yang kembali hadir semakin menguatkanku atas kepercayaan yang aku miliki hingga saat ini. Ia bangun dan duduk tegap di hadapanku seperti saat itu dan kemudian entah kenapa kami saling tersenyum satu sama lain.
Wajah kami kembali mendekat, sempat tertahan beberapa saat hingga akhirnya lilin itu padam karena hembusan angin yang lebih kuat. Malam ini diakhiri dengan sebuah kenyamanan yang semakin menguatkan, dan aku kembali percaya bahwa senja akan semakin indah setelah mendung menemaninya. Dan aku percaya, hingga saat ini aku masih mencintainya.
“Lampunya mah ngga masalah, listirknya yang padam ini Nda.” Kataku mencoba menerawang
Aku bangun dari dudukku di atas kasur dan membuka pintu balkon, dan sepertinya perumahanku sedang terkena pemadaman bergilir pada malam ini.
“Ini sih pemadaman bergilir...” Kataku
“Kok ngga ada pemberitahuannya Bang kayak biasa?” Tanya Nanda
“Ngga tau deh, bentar Abang nyari lilin di bawah.” Kataku
Aku berjalan menuju dapur dimana lilin biasa disimpan dan bodohnya aku tidak membawa alat penerangan untuk mencari lilin tersebut. Aku mulai meraba-raba dinding hingga aku berhasil tiba di dapur. Sebuah keranjang dengan beberapa benda yang ada di dalamnya termasuk lilin menjadi objek yang sedang aku cari, cukup kesulitan untuk mencari benda itu dalam keadaan gelap hingga akhirnya aku berhasil mendapatkannya. Kunyalakan beberapa lilin untuk menjadi penerang sementara, satu kuletakkan di ruang tamu dan satu lagi aku bawa menuju kamarku.
Awalnya kami masih sempat berbincang-bincang selama listrik padam, hingga akhirnya Nanda tertidur di atas kasur entah bagaimana caranya. Tersisa aku dan juga Widya yang sama-sama duduk di lantai beralaskan karpet Doraemon, bersandar pada dinding yang mengarah ke tempat Nanda tidur. Angin dari luar menggoyangkan nyala api hingga hampir meredup beberapa kali.
“Kalo kayak gini aku jadi inget pas SMA sama kamu...” Kata Widya
“Yang mana?” Tanyaku tanpa melihat ke arahnya
“Kita kelas dua, Jogja, dan lampu senter...” Katanya memandang ke arahku
Aku memandang wajahnya dan kami saling tersenyum satu sama lain di dalam kesunyian malam ini, nyala api dari lilin masih senang untuk bergoyang-goyang karena terpaan angin.
Spoiler for Flashback:
Aku, Widya dan juga teman-teman seangkatan kami sedang melaksanakan studi tour ke Jogjakarta. Pagi buta ini kami sudah berada di dalam bus dan segera berangkat, kami sedang melakukan persiapan akhir sebelum berangkat agar tidak ada yang tertinggal. Setelah melakukan absen dan pengecekan barang dan juga kendaraan akhirnya kami berangkat dari sekolah. Aku dan Widya kembali duduk bersama di bangku berkapasitas dua, bukan kami yang memilih tapi teman-teman kami yang menentukan dimana aku dan Widya harus selalu bersama.
“Nyampenya kapan ya Bram?” Tanya Widya kepadaku
“Astaga ini juga baru seratus meter jalan udah nanya kapan sampe.” Jawabku dengan pandangan malas
Dia tersenyum menanggapiku. Awal perjalanan kami semua sibuk dengan urusan kami masing-masing dan mungkin itu yang membuat keadaan bus cukup sepi dan membuat Widya merasa bosan selama di perjalanan. Aku memutuskan untuk mengeluarkan hpku dan memasang headset untuk mendengarkan lagu, ku berikan bagian sebelah kiri kepada Widya dan ia memasang di telinganya. Entah kenapa kabel headset yang kumiliki terasa pendek hingga membuatku harus duduk lebih dekat dengan Widya. Rasa canggung cukup terasa karena aku masih menyimpan rasa yang sama kepadanya seperti saat aku pertama mengenalnya. Hingga saat ini aku masih belum bisa mengutarakan apa yang aku rasa kepadanya.
Tak terasa Widya sudah bersandar di pundakku, alunan musik dari hpku masih melantun dengan indah karena aku sedang memutar lagu classic rock tahun 90an.
“Lagunya enak juga Bram...” Katanya tanpa melihat ke arahku
“Lagu jaman dulu mah enak semua.” Jawabku
Selama di perjalanan aku dan Widya tidak pernah sedikit pun untuk merubah posisi kami hingga kami tidak sadar bahwa sudah banyak pasang mata yang melihat ke arah kami hingga guru-guru kami pun tau.
Beberapa jam sudah kami lalui dan tak terasa matahari sudah berada tepat di atas kami. Bus yang kami naiki memasuki kawasan sebuah restoran di daerah Tasikmalaya, kami mendapatkan makan siang di sini karena bisa sambil memandangi hamparan sawah yang terbilang jarang kami lihat. Aku dan Widya turun dari bus untuk mengambil makanan yang disediakan secara prasmanan, beberapa menu terlihat biasa saja hingga aku menemukan sebuah menu yang menggugah selera makanku.
“Kamu suka banget sama ikan ya Bram?” Tanya Widya
“Apalagi ikan tuna balado kayak gini...” Kataku
Beberapa potong ikan sudah masuk ke dalam piringku dan kemudian kami mencari tempat duduk untuk makan dan terpilihlah sebuah pendopo dari bambu yang menghadap langsung ke area persawahan. Sambil menghabiskan makanan yang sudah kami ambil, memandangi hamparan sawah yang hijau membuatku merasa ingin berlama-lama ditempat seperti ini.
“Bagus banget ya Bram sawahnya, rasanya pengen lama-lama di sini.” Kata Widya
“Soalnya kita jarang nemuin ginian di sekolah, adanya rumput yang disiramin Mang Asep.” Kataku
Widya tertawa mendengar apa yang barusan aku katakan, hingga tak terasa makanan yang kuambil sudah habis tak bersisa. Selesai dengan acara makan siang kami melanjutan perjalanan kami yang terbilang masih cukup jauh. Widya sudah duduk di kursinya yang dekat dengan jendela sedangkan aku duduk di dekat akses jalan. Perubahan suasana terjadi di dalam bus yang kami naiki, seorang temanku memainkan gitarnya dan kemudian dalam satu bus kami bernyanyi bersama-sama dengan meriahnya. Lagu demi lagu sudah dinyanyikan hingga sang gitaris kehabisan bahan lagu untuk dinyanyikan. Aku mengusulkan untuk memutar film lewat dvd player yang ada di dalam bus dan terpilihlah sebuah film untuk kami tonton bersama-sama. Tawa demi tawa terus berdatangan karena film ini, hingga aku cukup kelelahan karena tertawa.
Siang sudah berganti menjadi sore yang juga sudah berganti menjadi malam, bus kembali memasuki sebuah restoran yang cukup besar hingga dapat menampung beberapa bus. Makan malam kali ini biasa saja menurutku karena menu yang disediakan tidak terlalu menggugah selera makanku seperti tadi siang dan kedua kami harus duduk di meja makan yang notabene aku tidak terlalu biasa untuk makan di meja makan. Tembang lagu daerah sudah terdengar dengan merdunya, dan aku sudah menyelesaikan makan malamku.
Jujur saja perjalanan ini cukup melelahkan, badanku pegal-pegal setelah menyelesaikan makan malam. Dengan cepat Widya memijat pundakku yang membuatku sedikit terkejut
“Pegel kan? Sini biar aku pijitin...” Katanya
Badanku terasa lebih baik setelah Widya memijit dengan santai, lagi-lagi kami harus naik ke dalam bus untuk tiba di Jogjakarta. Keadaan bus lebih sunyi dari tadi pagi saat kami baru berangkat, lampu senja dari dalam bus sudah menyala yang membuat kami semua merasa ingin segera tidur. Widya sudah tertidur bersandar pada kursi sedangkan aku masih terjaga sambil memainkan game yang ada di hpku. Jalan yang kami lewati semakin berliku-liku, hingga suatu saat kepala Widya terbentur ke kaca jendela dan aku yang melihat persis kejadian itu hanya bisa menahan tawa.
“Orang kesakitan malah diketawain, jahat banget ih!” Protesnya
“Ya abis gimana itu lucu banget Wid, aku lagi nengok eh kamu kejedot.” Kataku masih menahan tawa
“Sakit tau Bram...” Katanya
“Mana yang sakit? Sini aku liat.” Kataku
Aku melihat kepalanya yang tadi terbentur dan memang cukup merah. Aku mencoba untuk mengusap-usap bagian kiri pelipisnya hingga aku tidak sadar bahwa ia sudah bersandar di dadaku. Kuhentikan usapan tersebut karena kali ini aku benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa. Jantungku seperti piston mobil yang dipacu dengan kecepatan tinggi, rasa deg-degan ini sudah tidak bisa terelakan lagi dan aku rasa jika Widya belum tertidur lagi ia bisa merasakannya. Aku mencoba untuk menahan posisiku agar ia tidak terbangun lagi.
“Deg-degan ya Bram?” Tanyanya
Aku tambah terkejut mengetahui bahwa ia masih terjaga setelah insiden benturan itu dan ini menambah detak jantungku semakin menjadi-jadi. Ia mengalungkan tangannya ke perutku, entah apa yang saat ini aku rasakan hingga aku bisa bersandar dengan santai. Dengan spontan aku mencoba untuk mengelus rambutnya dan aku rasa ini adalah sebuah tindakan yang di luar sadar, tak terasa akhirnya aku ikut tertidur.
Guncangan dari bus dapat membangunkanku dan kulihat Widya masih bersandar di dadaku. Dan karena guncangan itu pula aku tidak bisa kembali dalam tidurku. Kuambil hp dari saku celanaku dan melihat jam yang sudah menunjukan pukul dua belas tepat, dan aku berfikir sebentar lagi akan tiba di penginapan. Satu jam setelah aku terbangun akhirnya bus kami masuk ke dalam sebuah wisma yang cukup besar pertanda bahwa kami sudah tiba di Jogjakarta. Bus sudah parkir dengan sempurna, kemudian aku mencoba untuk membangunkan Widya yang masih tertidur.
“Kita udah sampe Bram?” Tanyanya dengan suara pelan
“Udah, kita turun sekarang ambil tas di bagasi.” Kataku
Widya bangun dengan malasnya dan kemudian kami turun dari bus untuk mengambil tas kami yang ada di dalam bagasi bus. Setelah distribusi tas selesai aku berjalan menuju wisma tersebut.
“Bram, sini dulu tungguin.” Kata Widya dari belakang
“Nunggu apa lagi? Ayo masuk ke dalem istirahat.” Kataku menghampirinya
“Bawain tas aku, masih lemes ini.” Pintanya
Dengan berat hati aku membawakan tasnya yang terbilang lebih besar dari tas yang aku bawa. Entah apa yang ia bawa hingga tasnya pun sebesar ini.
“Bram...” Panggilnya lagi
“Apalagi Wid?” Tanyaku
“Gendong...” Pintanya manja
Tuhan memberikan cobaan tidak melebihi kemampuan umat-Nya dan aku percaya akan hal itu. Satu tas miliku di tangan kanan, satu tas milik Widya di tangan kiri, dan satu beban yang menempel pada punggungku yaitu Widya. Seakan-akan aku sedang melakukan latihan militer dengan bawaan cukup besar agar staminaku dapat terpacu. Dan tentu saja kami menjadi pusat perhatian orang-orang yang melihat kami, mereka seperti melihat petani menunggangi kerbau yang membawa padi-padi yang habis dipanen. Guru olahraga kami yang terbilang menakutkan menghampiri kami dengan herannya.
“Kamu udah kayak latihan militer gini Bram, udah bawa barang banyak terus ditemplokin pula.” Katanya
“Saya sebagai siswa juga merangkap sebagai kuli panggul di pasar induk kok Pak.” Jawabku
“Kalian jangan macem-macem ya, awas aja nanti di bangku kalian saya hitung bukan dua tapi tiga.” Kata Guru itu dengan tegas
“Astaga si Bapak, pacaran juga ngga. Lagian masih SMA Pak, belom cocok.” Kataku
“Tau nih Bapak, aku kan lemes tadi gara-gara tidur.” Jawab Widya juga
Setelah mendapatkan interogasi singkat dari Guru Olahraga kami, akhirnya aku dan Widya menuju kamarnya untuk mengantarkannya. Sekali lagi aku percaya bahwa Tuhan memberikan cobaan tidak melebihi kemampuan umat-Nya, aku harus menaiki anak tangga untuk sampai di kamar dengan keadaan masih membawa dua tas dan juga Widya. Tiba di depan kamar Widya yang ternyata bersebelahan dengan kamarku, kutaruh tas milik Widya dan Widya turun dari punggungku. Ajeng yang melihat kami hanya dapat menggelengkan kepalanya.
“Kalian belom pacaran aja udah romantis, gimana udah pacaran ya...”Kata Ajeng
“Ngomong apa sih bukannya tidur.” Kataku
“Makasih ya Bram.” Kata Widya kemudian tersenyum
Aku hanya tersenyum membalasnya dan kemudian aku masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Sayang seribu sayang, aku tidak bisa tertidur setelah berbaring di atas kasur ini. Sudah beberapa posisi kucoba namun hasilnya sama saja, aku masih belum bisa tertidur. Aku bangun dari kasur dan membuka tas milikku untuk mengeluarkan benda yang sangat asing.
Aku keluar menuju balkon, kemudian kubuka bungkusan rokok ini dan mengambil sebatang dari dalam. Kucoba untuk menyalakannya dan ternyata berhasil, hisapan demi hisapan sudah kulakukan hingga kepalaku terasa sedikit pusing. Aku cukup di kejutkan dengan kedatangan Widya dari kamar sebelah dan ia sedang melihatku dengan rokok yang menyala di tangan.
“Sejak kapan kamu ngerokok Bram?” Tanyanya
“Baru ini pertama kali...” Kataku kemudian mematikan rokok tersebut
“Wajar aja sih kalo kamu ngerokok, namanya juga cowok. Tapi jangan yang lebih dari rokok, awas kamu.” Katanya
“Iya ngga bakalan yang lebih dari rokok, ini juga gara-gara ngeliat Ayah di rumah.” Jawabku
Kami berdua berdiri menghadap ke jalanan yang sudah sepi.
“Kamu ngga tidur lagi? Tadi di bus tidur mulu.” Tanyaku
“Gara-gara itu mungkin aku jadi ngga bisa tidur lagi.” Jawabnya
Listrik tiba-tiba saja padam dan membuat seisi wisma menjadi gelap gulita, dan aku tersadar bahwa Widya sedang memelukku karena kaget. Ia melepaskan pelukannya dan aku segera masuk ke dalam kamar untuk mengeluarkan senter yang aku bawa dari rumah. Kunyalakan senter itu sebagai pengganti penerangan yang padam. Dan pada akhirnya aku dan Widya duduk di balkon dan ia kembali bersandar pada pundakku. Sejak awal keberangkatan ke Jogjakarta memang aku sudah punya niatan untuk mengutarakan isi hatiku padanya, dan mungkin inilah saatnya.
“Wid...” Panggilku
“Kenapa Bram?” Tanyanya
Aku terdiam secara tiba-tiba, sulit rasanya untuk jujur kepadanya atas perasaanku.
“Wid...” Aku memanggilnya lagi
“Iya Bram, kenapa?” Tanyanya lagi
“Mungkin sekarang saatnya aku bisa bilang sama kamu. Sebenernya udah dari dulu aku ngerasa kayak gini, cuma aku butuh waktu juga buat ngeyakinin hati aku. Dan aku udah yakin sama semuanya, aku mau bilang kalo aku suka sama kamu.” Kataku
Ia bangun dari sandarannya di pundakku dan melihatku secara tajam.
“Awalnya aku pikir ini bakalan lancar, tapi aku takut kalo pertemanan kita malah jadi ngga beres setelah aku ngungkapin ini. Dan aku udah milih buat ngungkapin ini semua. Cuma aku mohon, kalo emang kita ngga bisa jadi pacar kita masih temenan kayak biasa. Ngga ada rasa canggung antara kita berdua.” Kataku
“Kamu mau tau jawaban aku?” Tanyanya kepadaku
“Jangan dijawab! Aku ngga mau kalo kita berubah satu sama lain. Kita kayak begini aja.” Jawabku
Ia tersenyum kepadaku dan menyentuh dadaku dengan jari telunjuknya.
“Jawabannya ada di sini.” Katanya
Aku tersenyum memandangnya. Kemudian wajah kami saling mendekat satu sama lain hingga hanya tersisa beberapa senti saja, ia berbicara tanpa suara yang aku tidak tau itu apa. Kemudian bibir kami saling bersentuhan cukup lama. Tanpa jawaban yang pasti adalah akhir dari sebuah kejujuran malam ini, dan mungkin ini adalah yang terbaik untukku dan juga untuk Widya.
“Nyampenya kapan ya Bram?” Tanya Widya kepadaku
“Astaga ini juga baru seratus meter jalan udah nanya kapan sampe.” Jawabku dengan pandangan malas
Dia tersenyum menanggapiku. Awal perjalanan kami semua sibuk dengan urusan kami masing-masing dan mungkin itu yang membuat keadaan bus cukup sepi dan membuat Widya merasa bosan selama di perjalanan. Aku memutuskan untuk mengeluarkan hpku dan memasang headset untuk mendengarkan lagu, ku berikan bagian sebelah kiri kepada Widya dan ia memasang di telinganya. Entah kenapa kabel headset yang kumiliki terasa pendek hingga membuatku harus duduk lebih dekat dengan Widya. Rasa canggung cukup terasa karena aku masih menyimpan rasa yang sama kepadanya seperti saat aku pertama mengenalnya. Hingga saat ini aku masih belum bisa mengutarakan apa yang aku rasa kepadanya.
Tak terasa Widya sudah bersandar di pundakku, alunan musik dari hpku masih melantun dengan indah karena aku sedang memutar lagu classic rock tahun 90an.
“Lagunya enak juga Bram...” Katanya tanpa melihat ke arahku
“Lagu jaman dulu mah enak semua.” Jawabku
Selama di perjalanan aku dan Widya tidak pernah sedikit pun untuk merubah posisi kami hingga kami tidak sadar bahwa sudah banyak pasang mata yang melihat ke arah kami hingga guru-guru kami pun tau.
Beberapa jam sudah kami lalui dan tak terasa matahari sudah berada tepat di atas kami. Bus yang kami naiki memasuki kawasan sebuah restoran di daerah Tasikmalaya, kami mendapatkan makan siang di sini karena bisa sambil memandangi hamparan sawah yang terbilang jarang kami lihat. Aku dan Widya turun dari bus untuk mengambil makanan yang disediakan secara prasmanan, beberapa menu terlihat biasa saja hingga aku menemukan sebuah menu yang menggugah selera makanku.
“Kamu suka banget sama ikan ya Bram?” Tanya Widya
“Apalagi ikan tuna balado kayak gini...” Kataku
Beberapa potong ikan sudah masuk ke dalam piringku dan kemudian kami mencari tempat duduk untuk makan dan terpilihlah sebuah pendopo dari bambu yang menghadap langsung ke area persawahan. Sambil menghabiskan makanan yang sudah kami ambil, memandangi hamparan sawah yang hijau membuatku merasa ingin berlama-lama ditempat seperti ini.
“Bagus banget ya Bram sawahnya, rasanya pengen lama-lama di sini.” Kata Widya
“Soalnya kita jarang nemuin ginian di sekolah, adanya rumput yang disiramin Mang Asep.” Kataku
Widya tertawa mendengar apa yang barusan aku katakan, hingga tak terasa makanan yang kuambil sudah habis tak bersisa. Selesai dengan acara makan siang kami melanjutan perjalanan kami yang terbilang masih cukup jauh. Widya sudah duduk di kursinya yang dekat dengan jendela sedangkan aku duduk di dekat akses jalan. Perubahan suasana terjadi di dalam bus yang kami naiki, seorang temanku memainkan gitarnya dan kemudian dalam satu bus kami bernyanyi bersama-sama dengan meriahnya. Lagu demi lagu sudah dinyanyikan hingga sang gitaris kehabisan bahan lagu untuk dinyanyikan. Aku mengusulkan untuk memutar film lewat dvd player yang ada di dalam bus dan terpilihlah sebuah film untuk kami tonton bersama-sama. Tawa demi tawa terus berdatangan karena film ini, hingga aku cukup kelelahan karena tertawa.
Siang sudah berganti menjadi sore yang juga sudah berganti menjadi malam, bus kembali memasuki sebuah restoran yang cukup besar hingga dapat menampung beberapa bus. Makan malam kali ini biasa saja menurutku karena menu yang disediakan tidak terlalu menggugah selera makanku seperti tadi siang dan kedua kami harus duduk di meja makan yang notabene aku tidak terlalu biasa untuk makan di meja makan. Tembang lagu daerah sudah terdengar dengan merdunya, dan aku sudah menyelesaikan makan malamku.
Jujur saja perjalanan ini cukup melelahkan, badanku pegal-pegal setelah menyelesaikan makan malam. Dengan cepat Widya memijat pundakku yang membuatku sedikit terkejut
“Pegel kan? Sini biar aku pijitin...” Katanya
Badanku terasa lebih baik setelah Widya memijit dengan santai, lagi-lagi kami harus naik ke dalam bus untuk tiba di Jogjakarta. Keadaan bus lebih sunyi dari tadi pagi saat kami baru berangkat, lampu senja dari dalam bus sudah menyala yang membuat kami semua merasa ingin segera tidur. Widya sudah tertidur bersandar pada kursi sedangkan aku masih terjaga sambil memainkan game yang ada di hpku. Jalan yang kami lewati semakin berliku-liku, hingga suatu saat kepala Widya terbentur ke kaca jendela dan aku yang melihat persis kejadian itu hanya bisa menahan tawa.
“Orang kesakitan malah diketawain, jahat banget ih!” Protesnya
“Ya abis gimana itu lucu banget Wid, aku lagi nengok eh kamu kejedot.” Kataku masih menahan tawa
“Sakit tau Bram...” Katanya
“Mana yang sakit? Sini aku liat.” Kataku
Aku melihat kepalanya yang tadi terbentur dan memang cukup merah. Aku mencoba untuk mengusap-usap bagian kiri pelipisnya hingga aku tidak sadar bahwa ia sudah bersandar di dadaku. Kuhentikan usapan tersebut karena kali ini aku benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa. Jantungku seperti piston mobil yang dipacu dengan kecepatan tinggi, rasa deg-degan ini sudah tidak bisa terelakan lagi dan aku rasa jika Widya belum tertidur lagi ia bisa merasakannya. Aku mencoba untuk menahan posisiku agar ia tidak terbangun lagi.
“Deg-degan ya Bram?” Tanyanya
Aku tambah terkejut mengetahui bahwa ia masih terjaga setelah insiden benturan itu dan ini menambah detak jantungku semakin menjadi-jadi. Ia mengalungkan tangannya ke perutku, entah apa yang saat ini aku rasakan hingga aku bisa bersandar dengan santai. Dengan spontan aku mencoba untuk mengelus rambutnya dan aku rasa ini adalah sebuah tindakan yang di luar sadar, tak terasa akhirnya aku ikut tertidur.
Guncangan dari bus dapat membangunkanku dan kulihat Widya masih bersandar di dadaku. Dan karena guncangan itu pula aku tidak bisa kembali dalam tidurku. Kuambil hp dari saku celanaku dan melihat jam yang sudah menunjukan pukul dua belas tepat, dan aku berfikir sebentar lagi akan tiba di penginapan. Satu jam setelah aku terbangun akhirnya bus kami masuk ke dalam sebuah wisma yang cukup besar pertanda bahwa kami sudah tiba di Jogjakarta. Bus sudah parkir dengan sempurna, kemudian aku mencoba untuk membangunkan Widya yang masih tertidur.
“Kita udah sampe Bram?” Tanyanya dengan suara pelan
“Udah, kita turun sekarang ambil tas di bagasi.” Kataku
Widya bangun dengan malasnya dan kemudian kami turun dari bus untuk mengambil tas kami yang ada di dalam bagasi bus. Setelah distribusi tas selesai aku berjalan menuju wisma tersebut.
“Bram, sini dulu tungguin.” Kata Widya dari belakang
“Nunggu apa lagi? Ayo masuk ke dalem istirahat.” Kataku menghampirinya
“Bawain tas aku, masih lemes ini.” Pintanya
Dengan berat hati aku membawakan tasnya yang terbilang lebih besar dari tas yang aku bawa. Entah apa yang ia bawa hingga tasnya pun sebesar ini.
“Bram...” Panggilnya lagi
“Apalagi Wid?” Tanyaku
“Gendong...” Pintanya manja
Tuhan memberikan cobaan tidak melebihi kemampuan umat-Nya dan aku percaya akan hal itu. Satu tas miliku di tangan kanan, satu tas milik Widya di tangan kiri, dan satu beban yang menempel pada punggungku yaitu Widya. Seakan-akan aku sedang melakukan latihan militer dengan bawaan cukup besar agar staminaku dapat terpacu. Dan tentu saja kami menjadi pusat perhatian orang-orang yang melihat kami, mereka seperti melihat petani menunggangi kerbau yang membawa padi-padi yang habis dipanen. Guru olahraga kami yang terbilang menakutkan menghampiri kami dengan herannya.
“Kamu udah kayak latihan militer gini Bram, udah bawa barang banyak terus ditemplokin pula.” Katanya
“Saya sebagai siswa juga merangkap sebagai kuli panggul di pasar induk kok Pak.” Jawabku
“Kalian jangan macem-macem ya, awas aja nanti di bangku kalian saya hitung bukan dua tapi tiga.” Kata Guru itu dengan tegas
“Astaga si Bapak, pacaran juga ngga. Lagian masih SMA Pak, belom cocok.” Kataku
“Tau nih Bapak, aku kan lemes tadi gara-gara tidur.” Jawab Widya juga
Setelah mendapatkan interogasi singkat dari Guru Olahraga kami, akhirnya aku dan Widya menuju kamarnya untuk mengantarkannya. Sekali lagi aku percaya bahwa Tuhan memberikan cobaan tidak melebihi kemampuan umat-Nya, aku harus menaiki anak tangga untuk sampai di kamar dengan keadaan masih membawa dua tas dan juga Widya. Tiba di depan kamar Widya yang ternyata bersebelahan dengan kamarku, kutaruh tas milik Widya dan Widya turun dari punggungku. Ajeng yang melihat kami hanya dapat menggelengkan kepalanya.
“Kalian belom pacaran aja udah romantis, gimana udah pacaran ya...”Kata Ajeng
“Ngomong apa sih bukannya tidur.” Kataku
“Makasih ya Bram.” Kata Widya kemudian tersenyum
Aku hanya tersenyum membalasnya dan kemudian aku masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Sayang seribu sayang, aku tidak bisa tertidur setelah berbaring di atas kasur ini. Sudah beberapa posisi kucoba namun hasilnya sama saja, aku masih belum bisa tertidur. Aku bangun dari kasur dan membuka tas milikku untuk mengeluarkan benda yang sangat asing.
Aku keluar menuju balkon, kemudian kubuka bungkusan rokok ini dan mengambil sebatang dari dalam. Kucoba untuk menyalakannya dan ternyata berhasil, hisapan demi hisapan sudah kulakukan hingga kepalaku terasa sedikit pusing. Aku cukup di kejutkan dengan kedatangan Widya dari kamar sebelah dan ia sedang melihatku dengan rokok yang menyala di tangan.
“Sejak kapan kamu ngerokok Bram?” Tanyanya
“Baru ini pertama kali...” Kataku kemudian mematikan rokok tersebut
“Wajar aja sih kalo kamu ngerokok, namanya juga cowok. Tapi jangan yang lebih dari rokok, awas kamu.” Katanya
“Iya ngga bakalan yang lebih dari rokok, ini juga gara-gara ngeliat Ayah di rumah.” Jawabku
Kami berdua berdiri menghadap ke jalanan yang sudah sepi.
“Kamu ngga tidur lagi? Tadi di bus tidur mulu.” Tanyaku
“Gara-gara itu mungkin aku jadi ngga bisa tidur lagi.” Jawabnya
Listrik tiba-tiba saja padam dan membuat seisi wisma menjadi gelap gulita, dan aku tersadar bahwa Widya sedang memelukku karena kaget. Ia melepaskan pelukannya dan aku segera masuk ke dalam kamar untuk mengeluarkan senter yang aku bawa dari rumah. Kunyalakan senter itu sebagai pengganti penerangan yang padam. Dan pada akhirnya aku dan Widya duduk di balkon dan ia kembali bersandar pada pundakku. Sejak awal keberangkatan ke Jogjakarta memang aku sudah punya niatan untuk mengutarakan isi hatiku padanya, dan mungkin inilah saatnya.
“Wid...” Panggilku
“Kenapa Bram?” Tanyanya
Aku terdiam secara tiba-tiba, sulit rasanya untuk jujur kepadanya atas perasaanku.
“Wid...” Aku memanggilnya lagi
“Iya Bram, kenapa?” Tanyanya lagi
“Mungkin sekarang saatnya aku bisa bilang sama kamu. Sebenernya udah dari dulu aku ngerasa kayak gini, cuma aku butuh waktu juga buat ngeyakinin hati aku. Dan aku udah yakin sama semuanya, aku mau bilang kalo aku suka sama kamu.” Kataku
Ia bangun dari sandarannya di pundakku dan melihatku secara tajam.
“Awalnya aku pikir ini bakalan lancar, tapi aku takut kalo pertemanan kita malah jadi ngga beres setelah aku ngungkapin ini. Dan aku udah milih buat ngungkapin ini semua. Cuma aku mohon, kalo emang kita ngga bisa jadi pacar kita masih temenan kayak biasa. Ngga ada rasa canggung antara kita berdua.” Kataku
“Kamu mau tau jawaban aku?” Tanyanya kepadaku
“Jangan dijawab! Aku ngga mau kalo kita berubah satu sama lain. Kita kayak begini aja.” Jawabku
Ia tersenyum kepadaku dan menyentuh dadaku dengan jari telunjuknya.
“Jawabannya ada di sini.” Katanya
Aku tersenyum memandangnya. Kemudian wajah kami saling mendekat satu sama lain hingga hanya tersisa beberapa senti saja, ia berbicara tanpa suara yang aku tidak tau itu apa. Kemudian bibir kami saling bersentuhan cukup lama. Tanpa jawaban yang pasti adalah akhir dari sebuah kejujuran malam ini, dan mungkin ini adalah yang terbaik untukku dan juga untuk Widya.
Api lilin masih menyala hingga saat ini, listrik masih terus padam entah sampai kapan. Aku dan Widya masih duduk di lantai ini memandangi Nanda yang sudah semakin lelap dalam tidurnya, sandaran kepalanya di pundakku masih terasa sama seperti waktu itu.
“Ini ya yang waktu itu kejedot?” Tanyaku sambil mengusap pelipis kirinya
“Ternyata kamu masih inget juga...” Jawabnya
Sedari tadi kami sudah seperti ini, rasa nyaman yang kembali hadir semakin menguatkanku atas kepercayaan yang aku miliki hingga saat ini. Ia bangun dan duduk tegap di hadapanku seperti saat itu dan kemudian entah kenapa kami saling tersenyum satu sama lain.
Wajah kami kembali mendekat, sempat tertahan beberapa saat hingga akhirnya lilin itu padam karena hembusan angin yang lebih kuat. Malam ini diakhiri dengan sebuah kenyamanan yang semakin menguatkan, dan aku kembali percaya bahwa senja akan semakin indah setelah mendung menemaninya. Dan aku percaya, hingga saat ini aku masih mencintainya.
Diubah oleh beavermoon 11-05-2016 14:32
khuman dan Herisyahrian memberi reputasi
2
Kutip
Balas