- Beranda
- Stories from the Heart
( TAMAT ) AKU, KAMU, DAN LEMON : BUKU HARIAN AIRIN
...
TS
beavermoon
( TAMAT ) AKU, KAMU, DAN LEMON : BUKU HARIAN AIRIN
Selamat datang di BeaverMoon Land
Sudah lama tak berjumpa dengan halaman ini dan biasanya cuma liat info-info HT doang.
Dan pada akhirnya ane kembali dengan membawa kisah yang ngga terlalu bagus

Spoiler for Tanya Jawab:
Q : Bang bakalan panen kentang lagi ngga?"
A : Kayaknya ngga, soalnya thread ini cuma 15 episode pendek
Q : Kok cuma 15 Bang?
A : Ya emang segitu adanya dan ngga ada yang ditambah-tambahin
Q : Update tiap hari kan?"
A : Sayangnya ngga tiap hari. Berhubung cuma 15 episode dan ane lagi lumayan sibuk jadi updatenya seminggu sekali (biasanya weekend)
Q : Ini cerita tentang apa Bang?
A : Ini adalah prekuel dari AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Bang, prekuel apa sih?
A : Ini cerita sebelum adanya AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Jadi saya harus baca AKU, KAMU, DAN LEMON dulu dong bang?
A : Sebaiknya seperti itu, tapi kalo mau ini duluan juga nggapapa
Q : Bang, Nanda apa kabar?
A : -_- pertanyaan yang pasti ane jarang jawab
A : Kayaknya ngga, soalnya thread ini cuma 15 episode pendek
Q : Kok cuma 15 Bang?
A : Ya emang segitu adanya dan ngga ada yang ditambah-tambahin
Q : Update tiap hari kan?"
A : Sayangnya ngga tiap hari. Berhubung cuma 15 episode dan ane lagi lumayan sibuk jadi updatenya seminggu sekali (biasanya weekend)

Q : Ini cerita tentang apa Bang?
A : Ini adalah prekuel dari AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Bang, prekuel apa sih?
A : Ini cerita sebelum adanya AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Jadi saya harus baca AKU, KAMU, DAN LEMON dulu dong bang?
A : Sebaiknya seperti itu, tapi kalo mau ini duluan juga nggapapa
Q : Bang, Nanda apa kabar?
A : -_- pertanyaan yang pasti ane jarang jawab
Jadi buat agan dan aganwati sekalian yang mau mengikuti thread ini seharusnya baca AKU, KAMU, DAN LEMONterlebih dahulu. Cuma kalo mau baca ini dulu ya nggapapa ngga ada larangannya

Selamat membaca

Spoiler for INDEX:
Episode 1
Episode 2
Episode 3
Episode 4
Episode 5
Episode 6
Episode 7a
Episode 7b
Episode 8a
Episode 8b
Episode 9a
Episode 9b
Episode 10
Episode 11a
Episode 11b
Episode 12
Episode 13a
Episode 13b
Episode 14a
Episode 14b
Episode 15
Episode 15 + 1 (Finale)
Bad News Lemon
Behind The Story (part 1)
Behind The Story (part 2)
Behind The Story (part 3 / finale)
Pemberitahuan
Episode 2
Episode 3
Episode 4
Episode 5
Episode 6
Episode 7a
Episode 7b
Episode 8a
Episode 8b
Episode 9a
Episode 9b
Episode 10
Episode 11a
Episode 11b
Episode 12
Episode 13a
Episode 13b
Episode 14a
Episode 14b
Episode 15
Episode 15 + 1 (Finale)
Bad News Lemon
Behind The Story (part 1)
Behind The Story (part 2)
Behind The Story (part 3 / finale)
Pemberitahuan
Diubah oleh beavermoon 28-01-2020 19:37
i4munited dan 13 lainnya memberi reputasi
14
77.6K
Kutip
417
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#93
Berhubung ngga muat jadi dipisah ya episode 7 nya 

Spoiler for Episode 7a:
Hari terus berganti, dan waktu tidak pernah sekalipun berjalan mundur. Apa yang sudah kita lewati menjadi sebuah pembelajaran dan apa yang sudah kita miliki menjadi sebuah tanggung jawab. Masa lalu yang kembali memang lah sebuah misteri, namun terkadang misteri itu dapat menjadi suatu kenangan yang lebih indah dari masa lalu misteri tersebut. Dan ini semua tergantung pada sebuah keputusan, bagaimana kita memilih untuk menjalani misteri tersebut. Dan pada akhirnya kita akan menemukan sebuah jawaban atas apa yang telah kita pilih, entah baik ataupun buruk.
Hari-hari sudah aku lewati tidak seperti biasanya, lagi-lagi ini soal masa lalu yang kembali datang. Bahasan tentang Widya tidak akan pernah aku ganti dengan yang lain karena menurutku ini adalah sebuah momen bersejarah, dimana sebuah masa lalu yang tidak terlalu baik kembali untuk memperbaiki semuanya.
Di dalam mobil ini aku sedang mengarah pulang menuju rumah, kelas sudah selesai ditambah dengan kabar bahwa Widya sudah ada di rumah setelah menjemput Nanda di sekolah. Sampai saat ini terkadang aku masih merasa tidak percaya dengan semuanya, kadang aku berfikir bahwa aku masih tertidur dan ini semua hanyalah ilusi alam mimpi belaka. Namun aku tidak bisa lari dari kenyataan ini, dan ini semua sedang berlangsung di kehidupanku.
Senja semakin memantapkan raganya untuk tampil, ia tidak pernah ragu akan penampilannya. Meski terkadang mendung selalu menemaninya, itu tidak menutupi keindahan lembayung senja yang muncul di kemudian. Cerahnya sore ini membuatku semakin percaya bahwa perjalanan yang aku tempuh tidak seberapa, ini hanya sebagian kecil dari apa yang telah Tuhan berikan untukku. Sebuah pemberian yang sudah pasti ada maksud dan tujuannya, dan aku yang menerima pemberian ini harus menjalaninya entah setelah itu aku akan terjatuh bahkan harus mati.
Radio yang sedari tadi memutarkan lagu tentang cinta sejenak terhenti, siaran ini sedang mempersembahkan pesan-pesan kepada orang-orang yang meminta untuk diputarkan lagu kesukaan mereka.
“Baiklah kali ini kita ada pesan dari Widyanti Pratiwi...”
Pedal rem spontan kuinjak cukup dalam hingga menghentikan mobil tuaku secara mendadak dan membuat pengendara yang ada di belakangku protes. Aku jalankan kembali mobil ini secara perlahan dan mengambil jalur lambat.
“Salam-salamnya buat semua rekan-rekannya, terus buat Nanda yang lagi sama dia main PS katanya, dan spesial buat lelaki yang sudah membuatnya mengerti apa arti dari mencintai dan dicintai. Waw, ini kayaknya dalem banget ya. Ada lagi nih, katanya semoga lelaki itu bisa tau kenapa beberapa tahun yang lalu ia harus pergi begitu aja. Astaga kisah cinta kalian romantis sadis gitu deh. Dan dia request lagunya Sir Elton John dengan judul Tiny Dancer, oke akan kita puterin. Jadi stay tune...”
Lantunan nada demi nada sudah terdengar dan aku sudah sangat hafal dengan lirik lagu ini, kukeraskan sedikit volumenya dan aku mulai menyalakan sebatang rokok yang kuambil dari dalam saku kemeja yang kupakai. Asapnya terbuang dengan cepat oleh angin melewati kaca jendela mobilku.
“Hold me closer tiny dancer, count the headlight on the highway...” Kataku seorang diri
Setelah menembus kemacetan yang hampir sempurna akhirnya aku bisa tiba di rumahku. Setelah selesai berurusan dengan parkir mobil kemudian aku masuk ke dalam rumah dan langsung naik ke atas menuju kamarku, dimana Nanda dan Widya berada. Derung mesin sudah terdengar karena pintu tidak ditutup dengan rapat, itu membuktikan bahwa mereka masih bermain dengan game console milikku. Aku masuk ke dalam kamar dan sepertinya mereka tidak perduli dengan keberadaanku di sini, mereka sudah fokus dengan sirkuit yang harus mereka lewati.
Kutaruh tas di samping kasur kemudian aku berlalu menuju balkon kamar sambil membawa gitar tua milikku yang hampir berdebu. Sebentar lagi senja akan tenggelam dan mungkin aku masih sempat untuk bernyanyi beberapa lagu. Dan aku memutuskan untuk tidak menyanyikan apa pun, aku hanya terdiam dengan gitar yang sudah siap untuk aku mainkan. Kembali kepada senja, ia semakin meredup dan akan segera menghilang dari pandangku saat ini. Sangat disayangan kenapa keindahan dari senja hanya berlangsung sesaat dan akan berganti menjadi gelapnya malam. Tidak seburuk itu, terkadang gelapnya malam mampu menimbulkan cahaya-cahaya yang indah oleh bintang-bintang yang bersinar. Ironisnya keindahan dari bintang-bintang itu hanyalah semu, apa yang kita lihat hanyalah bintang-bintang yang sebenarnya sudah bersinar berjuta-juta tahun yang lalu. Tapi apa yang kita pikirkan tetap saja pancaran bintang itu terlihat indah hingga dapat membentuk gugusnya. Seperti halnya sebuah kenangan, hal itu dapat menjadi indah ketika kita sudah tidak mendapatkannya lagi. Apa persamaan dari kenangan, senja dan juga cahaya bintang? Mereka akan kembali lagi tanpa perlu kita minta.
Malam sudah datang, bersama dengan sinar rembulan dan juga bintang-bintangnya. Aku memutuskan untuk masuk ke dalam kamar untuk melihat Nanda dan juga Widya, mereka masih saja bermain dengan serunya. Aku masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, selesai dari hal tersebut aku mengajak Nanda beserta Widya untuk pergi makan malam.
“Kita mau makan di mana Bram?” Tanya Widya
“Makan lele mau ngga Ka Wid? Ada di depan sekolah aku itu enak banget.” Tanya Nanda
“Boleh juga, yaudah kita ke sana aja.” Kata Widya
Kemudian kami bertiga segera menuju warung pecel yang ada di depan sekolah Nanda. Widya memintaku untuk mengendarai mobilnya, dengan cepat Nanda langsung duduk di belakang yang membuat kami sedikit terkejut.
“Kamu ngapain masuk mobil udah kayak lagi dikejar rentenir gitu?” Tanyaku heran
“Biar Abang sama Ka Wid mesra-mesraan di depan.” Godanya
Pandangan malasku sudah tidak terhitung untuk melihanya dan Widya hanya menggelengkan kepalanya untuk menjawab apa yang barusan Nanda katakan. Hanya butuh sekitar lima belas menit untuk tiba di tempat makan tersebut dan seperti biasa kami selalu memilih tempat di sudut tenda yang dekat dengan pohon besar.
“Wih Mas Bram, apa kabar?” Tanya penjual pecel yang sudah akrab dengan keluargaku
“Baik kok Mang Ali, tiga ya kayak biasa aja.” Kataku
“Itu siapa Mas yang sama Nanda? Mamang baru liat.” Tanyanya
“Temen lama, sekalian aja dibawa ke sini biar makin laku lelenya.” Kataku
Mang Ali segera mempersiapkan pesananku dan kemudian aku menyusul ke tempat Nanda dan juga Widya duduk. Tidak banyak yang kami perbincangkan karena pesanan kami dengan cepat sudah siap dihidangkan. Satu jam berada di warung tenda ini kemudian kami memutuskan untuk pulang menuju rumah.
“Ka Wid, abis ini kita lanjutin yang tadi ya.” Kata Nanda dari kursi belakang
“Oh iya masih ada empat sirkuit lagi ya, oke deh kita lanjutin.” Kata Widya
Aku yang mendengar itu hanya bisa pasrah. Dan benar saja setibanya di rumah mereka dengan cepat melakukan apa yang tadi sempat tertunda karena makan malam. Dari belakang mereka aku hanya bisa menggelengkan kepala. Karena tidak memiliki kesibukan akhirnya aku memilih untuk membaca buku harian usang itu lagi. Aku kembali membaca tulisan yang ada di bawah judul buku ini, dan kemudian aku melanjutkan bacaan ini lagi.
Hari-hari sudah aku lewati tidak seperti biasanya, lagi-lagi ini soal masa lalu yang kembali datang. Bahasan tentang Widya tidak akan pernah aku ganti dengan yang lain karena menurutku ini adalah sebuah momen bersejarah, dimana sebuah masa lalu yang tidak terlalu baik kembali untuk memperbaiki semuanya.
Di dalam mobil ini aku sedang mengarah pulang menuju rumah, kelas sudah selesai ditambah dengan kabar bahwa Widya sudah ada di rumah setelah menjemput Nanda di sekolah. Sampai saat ini terkadang aku masih merasa tidak percaya dengan semuanya, kadang aku berfikir bahwa aku masih tertidur dan ini semua hanyalah ilusi alam mimpi belaka. Namun aku tidak bisa lari dari kenyataan ini, dan ini semua sedang berlangsung di kehidupanku.
Senja semakin memantapkan raganya untuk tampil, ia tidak pernah ragu akan penampilannya. Meski terkadang mendung selalu menemaninya, itu tidak menutupi keindahan lembayung senja yang muncul di kemudian. Cerahnya sore ini membuatku semakin percaya bahwa perjalanan yang aku tempuh tidak seberapa, ini hanya sebagian kecil dari apa yang telah Tuhan berikan untukku. Sebuah pemberian yang sudah pasti ada maksud dan tujuannya, dan aku yang menerima pemberian ini harus menjalaninya entah setelah itu aku akan terjatuh bahkan harus mati.
Radio yang sedari tadi memutarkan lagu tentang cinta sejenak terhenti, siaran ini sedang mempersembahkan pesan-pesan kepada orang-orang yang meminta untuk diputarkan lagu kesukaan mereka.
“Baiklah kali ini kita ada pesan dari Widyanti Pratiwi...”
Pedal rem spontan kuinjak cukup dalam hingga menghentikan mobil tuaku secara mendadak dan membuat pengendara yang ada di belakangku protes. Aku jalankan kembali mobil ini secara perlahan dan mengambil jalur lambat.
“Salam-salamnya buat semua rekan-rekannya, terus buat Nanda yang lagi sama dia main PS katanya, dan spesial buat lelaki yang sudah membuatnya mengerti apa arti dari mencintai dan dicintai. Waw, ini kayaknya dalem banget ya. Ada lagi nih, katanya semoga lelaki itu bisa tau kenapa beberapa tahun yang lalu ia harus pergi begitu aja. Astaga kisah cinta kalian romantis sadis gitu deh. Dan dia request lagunya Sir Elton John dengan judul Tiny Dancer, oke akan kita puterin. Jadi stay tune...”
Lantunan nada demi nada sudah terdengar dan aku sudah sangat hafal dengan lirik lagu ini, kukeraskan sedikit volumenya dan aku mulai menyalakan sebatang rokok yang kuambil dari dalam saku kemeja yang kupakai. Asapnya terbuang dengan cepat oleh angin melewati kaca jendela mobilku.
“Hold me closer tiny dancer, count the headlight on the highway...” Kataku seorang diri
Setelah menembus kemacetan yang hampir sempurna akhirnya aku bisa tiba di rumahku. Setelah selesai berurusan dengan parkir mobil kemudian aku masuk ke dalam rumah dan langsung naik ke atas menuju kamarku, dimana Nanda dan Widya berada. Derung mesin sudah terdengar karena pintu tidak ditutup dengan rapat, itu membuktikan bahwa mereka masih bermain dengan game console milikku. Aku masuk ke dalam kamar dan sepertinya mereka tidak perduli dengan keberadaanku di sini, mereka sudah fokus dengan sirkuit yang harus mereka lewati.
Kutaruh tas di samping kasur kemudian aku berlalu menuju balkon kamar sambil membawa gitar tua milikku yang hampir berdebu. Sebentar lagi senja akan tenggelam dan mungkin aku masih sempat untuk bernyanyi beberapa lagu. Dan aku memutuskan untuk tidak menyanyikan apa pun, aku hanya terdiam dengan gitar yang sudah siap untuk aku mainkan. Kembali kepada senja, ia semakin meredup dan akan segera menghilang dari pandangku saat ini. Sangat disayangan kenapa keindahan dari senja hanya berlangsung sesaat dan akan berganti menjadi gelapnya malam. Tidak seburuk itu, terkadang gelapnya malam mampu menimbulkan cahaya-cahaya yang indah oleh bintang-bintang yang bersinar. Ironisnya keindahan dari bintang-bintang itu hanyalah semu, apa yang kita lihat hanyalah bintang-bintang yang sebenarnya sudah bersinar berjuta-juta tahun yang lalu. Tapi apa yang kita pikirkan tetap saja pancaran bintang itu terlihat indah hingga dapat membentuk gugusnya. Seperti halnya sebuah kenangan, hal itu dapat menjadi indah ketika kita sudah tidak mendapatkannya lagi. Apa persamaan dari kenangan, senja dan juga cahaya bintang? Mereka akan kembali lagi tanpa perlu kita minta.
Malam sudah datang, bersama dengan sinar rembulan dan juga bintang-bintangnya. Aku memutuskan untuk masuk ke dalam kamar untuk melihat Nanda dan juga Widya, mereka masih saja bermain dengan serunya. Aku masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, selesai dari hal tersebut aku mengajak Nanda beserta Widya untuk pergi makan malam.
“Kita mau makan di mana Bram?” Tanya Widya
“Makan lele mau ngga Ka Wid? Ada di depan sekolah aku itu enak banget.” Tanya Nanda
“Boleh juga, yaudah kita ke sana aja.” Kata Widya
Kemudian kami bertiga segera menuju warung pecel yang ada di depan sekolah Nanda. Widya memintaku untuk mengendarai mobilnya, dengan cepat Nanda langsung duduk di belakang yang membuat kami sedikit terkejut.
“Kamu ngapain masuk mobil udah kayak lagi dikejar rentenir gitu?” Tanyaku heran
“Biar Abang sama Ka Wid mesra-mesraan di depan.” Godanya
Pandangan malasku sudah tidak terhitung untuk melihanya dan Widya hanya menggelengkan kepalanya untuk menjawab apa yang barusan Nanda katakan. Hanya butuh sekitar lima belas menit untuk tiba di tempat makan tersebut dan seperti biasa kami selalu memilih tempat di sudut tenda yang dekat dengan pohon besar.
“Wih Mas Bram, apa kabar?” Tanya penjual pecel yang sudah akrab dengan keluargaku
“Baik kok Mang Ali, tiga ya kayak biasa aja.” Kataku
“Itu siapa Mas yang sama Nanda? Mamang baru liat.” Tanyanya
“Temen lama, sekalian aja dibawa ke sini biar makin laku lelenya.” Kataku
Mang Ali segera mempersiapkan pesananku dan kemudian aku menyusul ke tempat Nanda dan juga Widya duduk. Tidak banyak yang kami perbincangkan karena pesanan kami dengan cepat sudah siap dihidangkan. Satu jam berada di warung tenda ini kemudian kami memutuskan untuk pulang menuju rumah.
“Ka Wid, abis ini kita lanjutin yang tadi ya.” Kata Nanda dari kursi belakang
“Oh iya masih ada empat sirkuit lagi ya, oke deh kita lanjutin.” Kata Widya
Aku yang mendengar itu hanya bisa pasrah. Dan benar saja setibanya di rumah mereka dengan cepat melakukan apa yang tadi sempat tertunda karena makan malam. Dari belakang mereka aku hanya bisa menggelengkan kepala. Karena tidak memiliki kesibukan akhirnya aku memilih untuk membaca buku harian usang itu lagi. Aku kembali membaca tulisan yang ada di bawah judul buku ini, dan kemudian aku melanjutkan bacaan ini lagi.
Spoiler for Buku Harian:
“Apa kita susulin aja mereka mau kemana?” Tanya Mita
“Ngga deh Mit, mending biarin aja.” Kataku
“Loh kok biarin aja? Lo mau mereka berdua makin deket?” Tanya Mita lagi
“Gue sama Inggar ngga ada bedanya, kita cuma sama-sama temennya Herman. Lo sadar akan hal itu kan Mit?” Jawabku
Mita menghela nafasnya dan kemudian ia menggandeng tanganku untuk membawaku menuju mobilnya. Kami masuk ke dalam mobil dan lagi-lagi aku menumpang pada Mita. Selama di perjalanan pulang kami mencoba untuk tidak membahas hal itu lagi dan mencoba untuk mencari topik pembicaraan lain yang hasilnya cukup baik untuk melupakan Herman sesaat. Setibanya di rumah aku sengaja untuk duduk bersama dengan Papa dan juga Mama di teras depan.
“Gimana sekolahnya?” Tanya Mama
“Ngga gimana-gimana Ma, kayak biasa aja.” Jawabku
“Ah masa sih biasa-biasa aja, tadi pagi kan dijemput sama lelaki pujaan.” Goda Papa
“Udah ah Pa jangan bahas dia dulu, aku lagi males aja.” Kataku
Papa dan Mama saling pandang dan membuat mereka semakin penasaran dengan apa yang terjadi antara aku dan juga Herman.
“Kalian berdua kenapa? Berantem di sekolah?” Tanya Papa
“Ngga kok Pa, ngga ada apa-apaan. Kan tadi aku udah bilang.” Jawabku
“Papa masih bingung deh, sebenernya kalian itu gimana sih? Udah jadian apa belom?” Tanya Papa makin penasaran
“Ya ampun Papa, dari dulu kan udah aku bilang aku sama Herman ngga ada hubungan yang lebih dari temen.” Jawabku lagi
“Anak muda jaman sekarang ya Ma, ngga ada hubungan apa-apa tapi kerjaannya murung terus. Beda banget sama jamannya Papa sama Mama sekolah dulu.” Kata Papa
“Emang jaman Papa sama Mama dulu gimana?” Tanyaku menjadi penasaran
“Jaman Papa dulu nih kalo kita suka sama orang pasti kita bakalan semangat buat ngejar orang itu, padahal kita ngga tau yang deketin dia itu siapa aja. Contoh aja Mama kamu ini, dulu banyak yang ngejar dari mulai anak pejabat sampe model-model preman kayak Papa gini. Dan hasilnya kamu liat, seorang Preman kayak Papa bisa dapetin hati Putri Cantik pada jamannya dulu.” Jelas Papa
“Berarti Mama udah ngga cantik lagi Pa sekarang?” Tanya Mama
“Bukan ngga cantik lagi, kadarnya aja yang menurun. Kalo dulu cantiknya seratus persen sekarang sisa enam puluh persen aja.” Jawab Papa
Aku tertawa mendengar apa yang Papa katakan dan Mama mencubit-cubit Papa secara pelan. Sebuah hiburan yang aku dapatkan hanya beberapa menit dari Papa dan Mama, dan aku juga mendapatkan sebuah pembelajaran dari mereka juga. Siapapun kamu, jika kamu sudah mencintai seseorang maka berusahalah untuk mendapatkannya siapapun sainganmu nanti. Dan aku sudah memutuskan untuk mencoba mendekati Herman meski sainganku adalah seorang Inggar yang lebih dariku.
Malam sudah menjelang, kami sudah menyelesaikan makan malam kami dan aku memutuskan untuk naik ke kamar sedangkan Papa dan Mama seperti biasa menonton berita di tv. Aku mengeluarkan hpku dari dalam tas dan mencoba untuk mengirim pesan kepada Herman. Aku sudah memantapkan hatiku bahwa apa pun yang terjadi aku tidak akan menyerah begitu saja.
Sudah lewat dari setengah jam dan aku belum mendapatkan pesan balasan dari Herman, entah kenapa aku berfikir bahwa ia masih bersama dengan Inggar. Aku mencoba untuk menghapus prasangka buruk itu dengan membuka catatan tugas dari sekolah.
Satu tugas sudah selesai dan aku mendengar ada suara dari bawah. Aku keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah untuk melihat-lihat. Papa dan Mama sudah berada di dalam kamar karena aku tidak menemukan mereka di ruang tv. Aku berjalan menuju pintu dan membuka kuncinya.
“Herman...” Kataku cukup terkejut
Ia tersenyum kepadaku kemudian ia memberikan plastik berisi roti bakar isi selai kacang yang membuatku semakin bingung. Aku mengajaknya untuk duduk di teras setelah kubuatkan minuman untuknya. Kami sudah duduk dan aku masih saja memandanginya dengan rasa yang tidak percaya. Bagaimana mungkin ia yang tadi pagi sangat perhatian kepadaku dan menghilang begitu saja ketika pulang sekolah, hingga saat ini ia kembali muncul entah darimana.
“Kenapa ngeliatin aku gitu banget Rin?” Tanyanya heran
Aku hanya menggelengkan kepala karena aku belum bisa berkata apa-apa saat ini.
“Tadi aku pergi sama Inggar...” Katanya
Aku kembali terkejut atas apa yang ia katakan, bagaimana bisa ia menceritakan hal itu kepadaku seakan-akan ia tau apa yang sedang aku pikirkan sejak pulang sekolah tadi.
“Bentar deh Man, kok kamu tiba-tiba cerita kayak gitu?” Tanyaku memotong ceritanya
“Tadi Inggar sempet ngeliat kamu sama Mita pas pulang sekolah, terus di jalan dia cerita ke aku. Kata dia nanti aku harus nyeritain ke kamu tadi kita dari mana terus ngapain aja.” Jelas Herman
Kejutan demi kejutan datang pada malam ini, aku tidak menyangka bahwa Inggar sempat melihat aku dan juga Mita yang sedang mencari Herman. Semua yang terjadi hari ini membuatku semakin kebingungan.
“Aku lanjutin ya ceritanya. Jadi tadi itu aku sama Inggar pergi ke...”
“Ngga deh Mit, mending biarin aja.” Kataku
“Loh kok biarin aja? Lo mau mereka berdua makin deket?” Tanya Mita lagi
“Gue sama Inggar ngga ada bedanya, kita cuma sama-sama temennya Herman. Lo sadar akan hal itu kan Mit?” Jawabku
Mita menghela nafasnya dan kemudian ia menggandeng tanganku untuk membawaku menuju mobilnya. Kami masuk ke dalam mobil dan lagi-lagi aku menumpang pada Mita. Selama di perjalanan pulang kami mencoba untuk tidak membahas hal itu lagi dan mencoba untuk mencari topik pembicaraan lain yang hasilnya cukup baik untuk melupakan Herman sesaat. Setibanya di rumah aku sengaja untuk duduk bersama dengan Papa dan juga Mama di teras depan.
“Gimana sekolahnya?” Tanya Mama
“Ngga gimana-gimana Ma, kayak biasa aja.” Jawabku
“Ah masa sih biasa-biasa aja, tadi pagi kan dijemput sama lelaki pujaan.” Goda Papa
“Udah ah Pa jangan bahas dia dulu, aku lagi males aja.” Kataku
Papa dan Mama saling pandang dan membuat mereka semakin penasaran dengan apa yang terjadi antara aku dan juga Herman.
“Kalian berdua kenapa? Berantem di sekolah?” Tanya Papa
“Ngga kok Pa, ngga ada apa-apaan. Kan tadi aku udah bilang.” Jawabku
“Papa masih bingung deh, sebenernya kalian itu gimana sih? Udah jadian apa belom?” Tanya Papa makin penasaran
“Ya ampun Papa, dari dulu kan udah aku bilang aku sama Herman ngga ada hubungan yang lebih dari temen.” Jawabku lagi
“Anak muda jaman sekarang ya Ma, ngga ada hubungan apa-apa tapi kerjaannya murung terus. Beda banget sama jamannya Papa sama Mama sekolah dulu.” Kata Papa
“Emang jaman Papa sama Mama dulu gimana?” Tanyaku menjadi penasaran
“Jaman Papa dulu nih kalo kita suka sama orang pasti kita bakalan semangat buat ngejar orang itu, padahal kita ngga tau yang deketin dia itu siapa aja. Contoh aja Mama kamu ini, dulu banyak yang ngejar dari mulai anak pejabat sampe model-model preman kayak Papa gini. Dan hasilnya kamu liat, seorang Preman kayak Papa bisa dapetin hati Putri Cantik pada jamannya dulu.” Jelas Papa
“Berarti Mama udah ngga cantik lagi Pa sekarang?” Tanya Mama
“Bukan ngga cantik lagi, kadarnya aja yang menurun. Kalo dulu cantiknya seratus persen sekarang sisa enam puluh persen aja.” Jawab Papa
Aku tertawa mendengar apa yang Papa katakan dan Mama mencubit-cubit Papa secara pelan. Sebuah hiburan yang aku dapatkan hanya beberapa menit dari Papa dan Mama, dan aku juga mendapatkan sebuah pembelajaran dari mereka juga. Siapapun kamu, jika kamu sudah mencintai seseorang maka berusahalah untuk mendapatkannya siapapun sainganmu nanti. Dan aku sudah memutuskan untuk mencoba mendekati Herman meski sainganku adalah seorang Inggar yang lebih dariku.
Malam sudah menjelang, kami sudah menyelesaikan makan malam kami dan aku memutuskan untuk naik ke kamar sedangkan Papa dan Mama seperti biasa menonton berita di tv. Aku mengeluarkan hpku dari dalam tas dan mencoba untuk mengirim pesan kepada Herman. Aku sudah memantapkan hatiku bahwa apa pun yang terjadi aku tidak akan menyerah begitu saja.
Sudah lewat dari setengah jam dan aku belum mendapatkan pesan balasan dari Herman, entah kenapa aku berfikir bahwa ia masih bersama dengan Inggar. Aku mencoba untuk menghapus prasangka buruk itu dengan membuka catatan tugas dari sekolah.
Satu tugas sudah selesai dan aku mendengar ada suara dari bawah. Aku keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah untuk melihat-lihat. Papa dan Mama sudah berada di dalam kamar karena aku tidak menemukan mereka di ruang tv. Aku berjalan menuju pintu dan membuka kuncinya.
“Herman...” Kataku cukup terkejut
Ia tersenyum kepadaku kemudian ia memberikan plastik berisi roti bakar isi selai kacang yang membuatku semakin bingung. Aku mengajaknya untuk duduk di teras setelah kubuatkan minuman untuknya. Kami sudah duduk dan aku masih saja memandanginya dengan rasa yang tidak percaya. Bagaimana mungkin ia yang tadi pagi sangat perhatian kepadaku dan menghilang begitu saja ketika pulang sekolah, hingga saat ini ia kembali muncul entah darimana.
“Kenapa ngeliatin aku gitu banget Rin?” Tanyanya heran
Aku hanya menggelengkan kepala karena aku belum bisa berkata apa-apa saat ini.
“Tadi aku pergi sama Inggar...” Katanya
Aku kembali terkejut atas apa yang ia katakan, bagaimana bisa ia menceritakan hal itu kepadaku seakan-akan ia tau apa yang sedang aku pikirkan sejak pulang sekolah tadi.
“Bentar deh Man, kok kamu tiba-tiba cerita kayak gitu?” Tanyaku memotong ceritanya
“Tadi Inggar sempet ngeliat kamu sama Mita pas pulang sekolah, terus di jalan dia cerita ke aku. Kata dia nanti aku harus nyeritain ke kamu tadi kita dari mana terus ngapain aja.” Jelas Herman
Kejutan demi kejutan datang pada malam ini, aku tidak menyangka bahwa Inggar sempat melihat aku dan juga Mita yang sedang mencari Herman. Semua yang terjadi hari ini membuatku semakin kebingungan.
“Aku lanjutin ya ceritanya. Jadi tadi itu aku sama Inggar pergi ke...”
Diubah oleh beavermoon 11-05-2016 14:32
khuman dan Herisyahrian memberi reputasi
2
Kutip
Balas