Kaskus

News

plonardAvatar border
TS
plonard
Khalid ibn Al-Walid, the Sword of God
Semua yang saya tulis pada posting #1 sampai posting #10 adalah terjemahan bebas dari artikel Khalid ibn Al-Walid di en.wikipedia.org Oktober 2012. Saya tambahkan juga sedikit daftar istilah untuk membantu Agan-agan yang belum terlalu memahami istilah militer dan geografis di zaman bersangkutan hidup. Jika ada ketikan saya dengan format "[angka]", kode ini adalah nomor footnote atau catatan kaki. Contoh: [1] dan [25].
Semoga bermanfaat.

Khalid ibn Al-Walid


Indeks
Posting #1 sampai Posting #10 akan berisi garis besar kehidupan Khalid. Berikut ini adalah indeks yang bisa langsung diklik untuk memudahkan Agan-agan mengakses posting-posting tentang kehidupan Khalid yang lebih detail.

Posting #32 Pertempuran Walaja tahun 633 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #45 Pengepungan Damaskus tahun 635 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #69 Pertempuran Yarmuk tahun 636 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #95 Ucapan-ucapan tentang Khalid ibn Al-Walid
Posting #97 Bibliografi Buku The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleedkarya A.I. Akram
Posting #97 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 1: Sang Anak Lelaki
Posting #100 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 2: Agama Baru (Bagian I)
Posting #103 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 2: Agama Baru (Bagian II)
Posting #105 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian I)
Posting #107 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian II)
Posting #109 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian III)
Posting #120 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian IV)
Posting #123 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian V)
Posting #146 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VI)
Posting #147 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VII)
Posting #161 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian I)
Posting #162 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian II)
Posting #165 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian III)
Posting #174 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian IV)
Posting #175 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 5: Masuk Islamnya Khalid
Posting #187 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 6: Mu’tah dan Pedang Allah
Posting #191 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian I)
Posting #193 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian II)
Posting #194 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian I)
Posting #195 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian II)
Posting #198 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 9: Pengepungan Tha'if
Posting #201 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 10: Petualangan di Dawmatul Jandal
Posting #204 Bagian II: Perang Riddah - Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian I)
Posting #208 Bagian II: Perang Riddah - Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian II)
Posting #213 Bagian II: Perang Riddah - Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian I)
Posting #214 Bagian II: Perang Riddah - Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian II)
Posting #215 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian I)
Posting #218 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian II)
Posting #220 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian III)
Posting #222 Bagian II: Perang Riddah - Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian I)
Posting #224 Bagian II: Perang Riddah - Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian II)
Posting #226 Bagian II: Perang Riddah - Bab 15: Akhir Hayat Malik bin Nuwayrah
Posting #229 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian I)
Posting #235 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian II)
Posting #239 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian III)
Posting #242 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian IV)
Posting Nomor Depan > Bagian II: Perang Riddah - Bab 17: Tumbangnya Gerakan Murtad (Bagian I)


Daftar Istilah Penting

Al-Hirah
Kerajaan yang berlokasi di Iraq Modern (Mesopotamia), negara vasal Imperium Persia-Sassanid, dengan mayoritas warga adalah orang Arab dari suku Bani Lakhm.

Arabia
Wilayah yang terbentang dari Syam dan Mesopotamia sampai Jazirah Arab, dihuni oleh mayoritas orang Arab serta minoritas orang Israel, Eropa (Romawi), Persia, dan Ethiopia.

Bizantin
Imperium superpowerlanjutan dari Romawi, sering juga dikenal sebagai Imperium Romawi Timur. Bizantin beribukota di Konstantinopel (Istanbul Modern) dan menjadi satu-satunya penerus Romawi sejak dihancurkannya Imperium Romawi Barat (beribukota di Roma) pada Abad ke-4. Warga negaranya menganggap mereka adalah warga Romawi dan warga negara lain di masa itu pun memanggil mereka sebagai orang-orang Romawi. Di masa Khalid, wilayah kekuasaan mereka membentang dari daerah Balkan di Eropa, sebagian Libya dan Mesir di Eropa, serta Jazirah Turki, Armenia, dan Levant (Syam) di Asia.

Double Envelopment
Sebuah manuver lapangan dalam pertempuran di mana sebuah pasukan berupaya untuk melingkupi musuh sehingga dapat menyerangnya dari segala arah. Biasanya, pertempuran akan dimulai dalam garis pembeda yang jelas antara dua pasukan yang bertempur. Dengan memanfaatkan kondisi maupun penggunaan taktik tertentu, pasukan musuh dapat diserang dari samping dan belakang. Contoh penggunaan taktik ini ada pada Pertempuran Cannae dan Pertempuran Walaja.

Garda Gerak Cepat (Mobile Guard)
Kavaleri ringan pasukan Muslim awal, dibangun oleh Khalid ibn Al-Walid dengan tujuan menjadi penyeimbang kelemahan infantri Muslim yang berbaju baja ringan. Gerakannya cepat, menerapkan taktik hit and run, efektif melawan kavaleri berat, dan sering menjadi garda depan pendahulu pasukan utama. Khalid dipecat saat menjabat sebagai komandan garda khusus ini. Penggantinya adalah Dhirar ibn Azwar.

Garnisun
Pasukan yang berkedudukan atau memiliki tempat pertahanan yang tetap, misalnya dalam benteng atau sebuah kota.

Ghassan
Kerajaan yang berlokasi di Syam Selatan, negara vasal Imperium Bizantin. Mayoritas warga negaranya adalah orang Arab beragama Kristen dari suku Bani Ghassan.

Imperium
Sebuah negara yang terdiri atas sekelompok bangsa, memiliki sebuah wilayah geografi yang luas, dipimpin oleh seorang kaisar atau sekelompok elit.

Kavaleri
Secara harfiah berarti pasukan berkuda, namun dalam prakteknya di masa kuno, unta dan gajah juga digunakan. Dalam peperangan modern, pasukan berkendara lapis baja maupun bukan juga termasuk dalam kavaleri. Di masa Khalid, kavaleri Bizantin dan Persia merupakan kavaleri berat, memakai baju besi tebal (termasuk kudanya) dan menutupi hampir seluruh tubuh. Kavaleri Muslim awal merupakan kavaleri ringan, berbaju baja dan bersenjata ringan.

Kekhalifahan
Sebuah sistem pemerintahan berbasis Islam yang menunjukkan kesatuan politik ummat Islam. Sistem ini dapat berupa sistem musyawarah perwakilan ataupun monarki konstitusional, dengan konstitusinya berupa Syariah. Karena dalam kekhalifahan ada kesatuan ummat, kekhalifahan selalu melingkupi banyak bangsa sehingga bisa dikategorikan sebagai bentuk Imperium.

Khalifah
Kepala negara dan pemerintahan sistem negara kekhalifahan, dapat dipilih oleh khalifah sebelumnya, ditunjuk oleh komite terpilih, dipilih langsung oleh rakyat, atau diturunkan pada keluarga khalifah sebelumnya.

Levant
Disebut juga Syam, daerah yang meliputi pantai timur Laut Mediterania, antara Anatolia (Jazirah Turki Modern) dan Mesir. Daerah ini meliputi wilayah-wilayah negara modern: Suriah, Lebanon, Yordania, Palestina (Otoritas maupun yang dijajah oleh Israel), Siprus, Provinsi Hatay (Turki Tenggara) dan sebagian wilayah Iraq-Jazirah Sinai.

Mesopotamia
Daerah yang meliputi daerah aliran Sungai Tigris dan Eufrat, yaitu wilayah-wilayah modern: Iraq, sedikit daerah timur laut Suriah, sebagian Turki Tenggara, dan sebagian kecil barat daya Iran.

Negara Vasal
Negara yang tunduk kepada entitas politik lain yang lebih besar dan biasanya lebih kuat, tetapi diberi otoritas untuk mengurus negaranya sendiri.

Persia-Sassanid
Imperium superpowerdi Asia Barat pada Abad ke-4 sampai Abad ke-7, juga disebut oleh warga negaranya sendiri sebagai Ērānshahr atau Ērān, berdiri tahun 224 dan diruntuhkan oleh Kekhalifahan Islam pada tahun 651. Saat Khalid hidup, imperium ini menguasai wilayah modern Iran, sebagian Asia Tengah dan barat laut India, serta sebagian pantai timur dan selatan Jazirah Arab.

Romawi
Lihat Bizantin.

Syam
Lihat Levant.


Garis Besar Biografi

Khālid ibn al-Walīd (Bahasa Arab: خالد بن الوليد‎; 592–642) juga dikenal sebagai Sayfullāh Al-Maslūl(Pedang Allah yang Terhunus), adalah seorang sahabat Muhammad, Nabi Islam. Ia terkenal karena kecakapan dan taktik militernya, menjadi komandan pasukan Madinah di bawah kepemimpinan Muhammad dan pasukan-pasukan penerusnya, Kekhalifahan Ar-Rasyidun; Abu Bakr dan Umar ibn Khattab.[1] Di bawah kepemimpinan militernya, Arab bersatu di bawah sebuah entitas politik untuk pertama kali dalam sejarah, Kekhalifahan. Ia memenangkan lebih dari seratus pertempuran, melawan pasukan-pasukan Imperium (Kekaisaran) Romawi-Bizantin, Imperium (Kekisraan) Persia-Sassanid, dan sekutu-sekutu mereka, ditambah lagi beberapa suku Arab lainnya. Prestasi strategisnya antara lain penaklukan Arab, Mesopotamia milik Persia, dan Syam milik Romawi, dalam beberapa tahun sejak 632 sampai 636. Ia juga dikenang karena kemenangan pentingnya di Yamamah, Ullays, dan Firaz, serta kesuksesan taktisnya di Walaja dan Yarmuk.[2]

Khalid ibn Al-Walid (Khalid anak Al-Walid, secara harfiah berarti Khalid anak Si yang Baru Lahir) berasal dari Suku Quraysh dari Makkah, dari sebuah klan yang pada awalnya menentang Muhammad. Ia memainkan peran vital dalam kemenangan Makkah saat Pertempuran Uhud. Ia masuk Islam dan bergabung dengan Muhammad setelah Perjanjian Hudaybiyyah, serta berpartisipasi dalam sejumlah ekspedisi militer dengannya, seperti Pertempuran Mu’tah. Setelah wafatnya Muhammad, ia memainkan peran kunci dalam komando Pasukan Madinah pimpinan Abu Bakr pada Perang Ridda, menaklukkan Arab tengah dan menundukkan suku-suku Arab. Ia merebut Kerajaan Al-Hirah yang merupakan negara vasal Persia-Sassanid, dan mengalahkan pasukan-pasukan Persia-Sassanid selama proses penaklukan Iraq (Mesopotamia). Ia lalu ditransfer ke front pertempuran di barat untuk merebut Syam milik Romawi dan Kerajaan Ghassan, negara vasal Romawi. Meskipun Umar kemudian melepas jabatan Khalid dari komando tertinggi, ia tetaplah pimpinan sebenarnya dari kesatuan tempur melawan Bizantin selama fase-fase awal Perang Bizantin-Arab.[1] Di bawah komandonya, Damaskus direbut tahun 634 dan kemenangan kunci Arab atas Bizantin diraih dalam Pertempuran Yarmuk (636),[1] yang membuka jalan dalam proses penaklukan Syam (Levant). Tahun 638, pada puncak karirnya, ia diberhentikan dari ketentaraan.



(bersambung)...
Diubah oleh plonard 16-08-2016 13:52
0
76.5K
287
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Sejarah & Xenology
Sejarah & Xenology
KASKUS Official
6.5KThread11.6KAnggota
Tampilkan semua post
plonardAvatar border
TS
plonard
#176
Terjemahan dari bahasa asli, Bahasa Inggris. Ebook dapat diakses di:
The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleed



Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian IV)
(Halaman 10)

Kegalauan di wajah Si Raksasa berubah menjadi kemarahan. Akhirnya ia bisa dijatuhkan oleh seorang anak muda berukuran setengah kali tubuhnya! Tetapi meskipun ia jatuh, ia belum kalah. Ia masih bisa menang, membalikkan keadaan seperti semula sebagai seorang jagoan di Arab. Ia akan membanting anak muda lawannya itu ke udara seperti sehelai daun ditiup angin.

Wajah Si Raksasa membiru, pembuluh darahnya menyembul di leher dan otot bisepnya. Lengannya gemetaran menahan cekikan Ali, tetapi ia tidak bisa bergerak sedikitpun. Otot ‘Ali ternyata mempunyai kekuatan yang juga lebih dari rata-rata.

“Ketahuilah, wahai ‘Amr,” kata ‘Ali dengan pelan, “Kemenangan dan kekalahan bergantung pada kehendak Allah. Terimalah Islam! Dengan demikian, bukan hanya aku akan membiarkanmu hidup, Engkau juga akan memperoleh berkah dari Allah dalam hidup ini maupun setelah mati.” ‘Ali mengeluarkan belati tajamnya dari pinggang dan meletakkannya di dekat tenggorokan ‘Amr.

Namun gengsi Si Raksasa terlalu besar. Akankah ia, sang jagoan terhebat di Arab, hidup dalam baying-bayang kekalahan memalukan? Mampukah ia menahan perkataan orang bahwa ia masih hidup karena menyerah dalam duel? Tidak! Ia, ‘Amr bin Abdu Wud, hidup dalam pertarungan. Ia memilih mati dalam pertarungan. Hidup yang diisi dengan pertarungan harus diakhiri dalam pertarungan. Ia kumpulkan dahak dan ludahnya, lalu ia semburkan ke wajah ‘Ali!

Ia tahu apa yang akan terjadi. Ia tahu bahwa lengan kanan ‘Ali akan melayang ke udara dan menusukkan belati ke tenggorokannya. ‘Amr adalah seorang pemberani dan bisa menerima kematiannya tanpa memejamkan mata. Ia kencangkan punggungnya dan ia angkat dagunya, membuka jalan bagi ‘Ali untuk menusuk tenggorokannya. Setidaknya, ia tahu apa yang akan terjadi!

Namun apa yang terjadi kemudian semakin menambah kegalauannya. ‘Ali Bangkit secara perlahan dari dada ‘Amr, mengusap wajahnya, dan menjauh beberapa langkah, memandang lawannya dengan tenang. “Ketahuilah ‘Amr, aku hanya membunuh di jalan Allah, dan bukan karena keinginan pribadi. Karena engkau telah meludahi wajahku, mungkin aku akan membunuhmu karena dendam pribadi. Jadi, aku ampuni engkau. Bangkitlah dan pulanglah ke rekan-rekanmu!”

Raksasa bangkit, tetapi tidak diragukan lagi jika ia pulang, ia akan dicap sebagai pecundang. Ia hanya ingin hidup sebagai seorang pemenang atau tidak hidup sama sekali. Dengan maksud mencoba kesempatan terakhirnya untuk menang, ia angkat pedangnya dan mengejar ‘Ali. Mungkin ia bisa memukul ‘Ali saat ia lengah.

‘Ali masih punya cukup waktu untuk mengangkat pedang dan perisainya serta bersiap menghadapi serangan ‘Amr. Sabetan ‘Amr sangat kuat dan brutal sampai-sampai perisai ‘Ali pecah. Tetapi akibatnya, kekuatan sabetan itu berkurang dan hanya mengakibatkan luka ringan di kening ‘Ali. Lukanya tidak membuat ‘Ali khawatir. SebelumRaksasa bisa mengangkat pedangnya lagi, Dzulfiqar bersinar di bawah cahaya matahari dan memotong tenggorokan Raksasa. Darahnya memuncrat seperti air mancur.

Untuk sesaat, Raksasa berdiri diam. Kemudian tubuhnya mulai berayun seperti orang mabuk dan jatuh dengan wajah mencium tanah, tidak bergerak lagi.

Bumi tidak bergetar meskipun tubuhnya besar. Bumi terlalu besar, tetapi Bukit Sil’a berguncang dengan teriakan Allahu Akbar dari 2.000 Pasukan Muslim. Teriakan kemenangan ini menggema di lembah-lembah bukit sampai akhirnya hilang di gurun.

Kelompok kecil Muslim yang dipimpin ‘Ali mengejar enam orang Quraysy lainnya. Dalam pertarungan pedang yang berlangsung, seorang Quraysy terbunuh dan seorang Muslim gugur. Beberapa menit kemudian, kelompok Quraysy memutar balik dan dengan terburu-buru kembali menyeberangi parit. Tombak Ikrimah terjatuh saat ia menyeberangi parit. Hassan dengan spontan membacakan sya’ir ejekan. Seorang Quraysy bernama Nawfal bin Abdullah, sepupu Khalid, gagal menyeberang dan terjerembab di parit. Sebelum ia bisa bangun, pasukan Muslim di tepi parit melemparinya dengan batu. Nawfal meraung, “Wahai Arab! Sungguh kematian lebih baik daripada ini!” [1] ‘Ali mengabulkan keinginannya dengan turun ke parit dan memenggal kepalanya.

Catatan Kaki Halaman 10
[1] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 240.


__________________________________________________________________________
(Halaman 11)

Kelompok Muslim kembali ke kemah mereka dan satu kelompok lainnya yang cukup kuat ditempatkan untuk menjaga lokasi tersebut.

Pada siang keesokan hari, Khalid memimpin kavalerinya dengan tujuan yang sama dengan Ikrimah. Ia berusaha menyeberangi parit, tetapi kali itu, ada Pasukan Muslim yang berjaga untuk menghadang mereka. Akibatnya, berlangsunglah adu panahan sengit, masing-masing seorang Muslim dan seorang Quraysy terbunuh, tetapi Khalid gagal untuk menyeberang.

Melihat keberadaan pasukan penjaga terlalu sulit untuk ditembus, Khalid memutuskan menggunakan taktik lain. Ia menarik kavalerinya seolah-olah ia tidak akan menyeberang lagi. Pasukan Muslim termakan pancingan ini. Karena mereka berpikir bahwa Khalid tidak jadi menyeberang, mereka mundur dengan santai, menunggu malam yang mereka kira akan damai dan tenang. Tiba-tiba, kavaleri Khalid memutar balik dan memacu kuda-kuda mereka. Sebelum pasukan penjaga sempat menyusun formasi kembali, sekelompok kecil Quraysy berhasil menyeberang. Pasukan penjaga yang terlambat menyusun formasi masih bisa menahan Khalid dan kavalerinya tidak jauh dari tepi parit (Lihat Peta 3). Khalid mencoba dengan keras untuk menembus, tetapi pertahanan Pasukan Muslim terlalu kuat dan ia gagal. Terjadilah sejumlah pertarungan antara kelompok Quraysy dan Muslim, Khalid berhasil membunuh seorang Muslim. Si Barbar pembunuh Hamzah juga berada di sana dan dengan menggunakan lembing yang sama, ia membunuh seorang Muslim. Tidak lama kemudian, Khalid memerintahkan kelompoknya untuk mundur melihat tidak adanya harapan untuk berhasil. Aksi ini adalah aksi militer terakhir dalam Pertempuran Parit.

Dalam dua hari berikutnya, tidak ada aktivitas selain sejumlah adu panahan sporadis yang tidak memberikan efek bagi masing-masing pihak. Pasukan Muslim sekarang kehabisan makanan, tetapi semangat mereka semakin kuat dan mereka memutuskan untuk bertahan dalam kelaparan daripada harus menyerah pada kelompok kafir. Di kemah Sekutu, kondisi semakin memanas, tetapi semangat semakin turun. Semua sudah tahu bahwa ekspedisi yang mereka kira bisa berakhir dengan kemenangan gemilang, akan berakhir dalam kegagalan. Keluhan dan protes merata di seluruh lapisan pasukan Sekutu dan yang semakin membuat situasi tidak bisa ditoleransi adalah bahwa tidak ada satu pun celah yang bisa mereka tembus.

Kemudian pada Selasa malam, 18 Maret, Madinah diterjang badai. Angin dingin menyapu kemah-kemah Sekutu dan bergemuruh di lembah-lembah bukit. Temperatur turun drastis. Kemah Pasukan Sekutu berada di ruang yang lebih terbuka daripada kemah Pasukan Muslim. Badai menerjang kemah Sekutu, memadamkan api mereka, melempar panci-panci masak, dan menerbangkan kemah. Pasukan Sekutu duduk berlindung dengan selimut-selimut mereka dalam badai, menunggu sampai akhir badai yang tidak kunjung datang.

Abu Sufyan tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Ia angkat kakinya dan mengumumkan pada pasukannya, “Tempat ini bukan tempat tinggal yang layak bagi kita. Manusia dan hewan telah menderita sangat parah di tempat terbuka ini. Bani Quraydzah telah berubah menjadi babi dan kera, mereka mengkhianati kita di saat-saat genting. Badai memporak-porandakan kemah kita, memadamkan api kita, merobohkan tenda-tenda kita. Ayo kita pulang ke Makkah. Saksikanlah, aku adalah salah satu yang pulang!" [1]

Setelah menyampaikan perintah terakhirnya, Abu Sufyan menaiki untanya dan pulang ke Makkah bersama pasukannya, melarikan diri dari badai yang kejam itu. Namun badai itu terus mengikuti mereka spanjang malam. Ghathfan dan suku-suku lainnya melihat pergerakan Quraysy. Tanpa ada yang ditunda-tunda lagi, mereka menaiki unta-unta mereka dan berangkat pulang ke kampung-kampung dan padang rumput masing-masing. Di barisan belakang Quraysy, Khalid dan ‘Amr bin Al-‘Ash memimpin kavaleri sebagai pelindung garis belakang, khawatir akan adanya upaya dari Madinah untuk menghambat mereka. Abu Sufyan memimpin pasukannya mundur dengan rasa kecewa yang pahit. Kegagalan membebani hatinya dengan sangat berat.

Keesokan paginya, Pasukan Muslim melihat bahwa Pasukan Sekutu tidak tampak lagi. Mereka pun pulang ke rumah. Pengepungan ini adalah upaya terakhir dari Quraysy untuk melakukan serangan menghancurkan Pasukan Muslim; ke depannya, mereka akan terus mengambil posisi bertahan.

Catatan Kaki Halaman 11
[1] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 232.


__________________________________________________________________________
(Halaman 12)

Pertempuran Parit usai. Masing-masing pihak kehilangan 4 orang dalam pengepungan. Hasil dari pengepungan ini adalah kemenangan Pasukan Muslim karena mereka mencapai tujuan untuk mempertahankan diri dan kota mereka melawan Pasukan Sekutu; sementara Pasukan Sekutu gagal dalam mencapai tujuan mereka untuk menghancurkan Pasukan Muslim. Pada kenyataannya, Pasukan Sekutu sama sekali gagal memberi kerusakan apapun. Pengepungan berlangsung selama 23 hari dan memberikan tekanan yang sangat kuat bagi kedua pihak. Pengepungan ini diakhiri dengan badai, tetapi badai bukanlah sebab utama pengepungan dihentikan. Sebenarnya, operasi ini lebih tepat disebut sebagai sebuah pengepungan daripada sebuah pertempuran karena kedua pasukan tidak secara sepenuhnya melakukan kontak.

Kemenangan ini adalah kemenangan Muslim pertama yang diraih dengan politik dan diplomasi perang. Pengepungan ini menunjukkan perpaduan penggunaan strategi politik dan militer dalam menuju tujuan nasional. Penggunaan kekuatan bersenjata adalah salah satu aspek dalam peperangan yang menggunakan kekerasan dan penghancuran, ketika upaya politik gagal untuk memenuhi tujuan suatu negara. Ketika perang tidak bisa dihindarkan, politik dengan diplomasi sebagai intrumen utamanya akan memberi jalan dalam penggunaan kekuatan senjata. Diplomasi mempersiapkan panggung pertempurannya, melemahkan musuh, dan mengurangi kekuatan musuh sampai akhirnya kekuatan senjata dapat diterjunkan dengan prospek keberhasilan yang maksimal.

Dan inilah yang telah nabi lakukan. Ia menggunakan instrumen diplomasi untuk memecah dan melemahkan kekuatan musuh, tidak hanya dalam jumlah, tetapi juga dalam menurunkan semangat mereka. Kebanyakan Muslim tidak memahami hal ini, tetapi mereka belajar dari pemimpin mereka. Perkataan nabi, “Peperangan adalah tipu daya,” [1] akan terus diingat dan diulang-ulang dalam ekspedisi peperangan Muslim di masa yang akan datang.

Catatan Kaki Halaman 12
[1] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 229; Waqidi: Maghazi, hlm. 295.



--Akhir dari Bab 4--
Diubah oleh plonard 14-06-2016 09:12
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.