“Iya kalau ada apa-apa bilang aja sama kita-kita” Potong Erik
“Iya makasih ya?”
Dengan singkat kami asik bercanda tawa, hingga bel yang harus memberi aba-aba untuk kembali ke kelas masing-masing. Di perjalanan aku dan Fian tertawa mengingat kembali tingkah konyolnya yang barusan terjadi.
“Jadi itu gantinya Neiza?”
“Siapa bilang? Sekali Neiza tetep Neiza”
“Yakin nih?“
“Iya dong”
Baru beberapa langkah menjauh dari kelas Johnny, lalu ada teriakan dari belakang yang membuatku berhenti dan menoleh.
“Eh tunggu! Kamu yang kakinya aku injek di kantin!!” Teriaknya
“Hah? Iya?” Aku berbalik ke arahnya
“Maksud Dana”
“Kenapa Neiz?”
“Cie” Bisikan kecil dari Fian
“Kamu kelas C kan?”
“Iya kenapa ya?”
“Nanti tolong bilangin ketua kelas sama wakilnya kalau ada rapat OSIS buat perpisahan”
“Oh, okay Neiz”
“iya sama-sama Dan”
“Gokil nih, pake injek-injekan kaki di kantin segala, haha”
“Brisik ah, itu sakit Fi, untuk jari kaki engga patah”
“Patah juga engga papa, yang penting kan udah kenalan sama Neiza”
“Ahh bawel, balik yuk?”
Dalam hati kenapa dulu engga pernah ikutan organisasi kayak OSIS ya? Padahal kalau dulu ikut mungkin aku bisa lebih dekat dengannya sedari dulu. Sekarang hampir mau lulus aja baru bisa sapa-sapaan.
“Udah engga usah nyesel”
“Sial tahu aja”
“Tahu lah, kayak baru temenan kemaren aja?”
“Hahaha”
“Nanti tak bantuin buat surat cinta? Gimana?”
“Boleh juga Fi, kadangan itu otak encer juga mikirnya?”
“Sial”
“Bercanda Fi, terus kapan kita bikin suratnya?”
“Nanti dulu, diksinya harus bener, jangan hiperbola. Sabtu deh, liat bikinan surat cinta ala Aa Fian”
“Gayanya kayak pujangga soak, haha”
“Mau dibikinin engga nih?” Mendadak mukanya menjadi songong
“Sensian banget ah kaya Orys, bercanda juga Fi” Sambil merayunya
“Nah gitu dong, hahaha”