- Beranda
- Stories from the Heart
( TAMAT ) AKU, KAMU, DAN LEMON : BUKU HARIAN AIRIN
...
TS
beavermoon
( TAMAT ) AKU, KAMU, DAN LEMON : BUKU HARIAN AIRIN
Selamat datang di BeaverMoon Land
Sudah lama tak berjumpa dengan halaman ini dan biasanya cuma liat info-info HT doang.
Dan pada akhirnya ane kembali dengan membawa kisah yang ngga terlalu bagus

Spoiler for Tanya Jawab:
Q : Bang bakalan panen kentang lagi ngga?"
A : Kayaknya ngga, soalnya thread ini cuma 15 episode pendek
Q : Kok cuma 15 Bang?
A : Ya emang segitu adanya dan ngga ada yang ditambah-tambahin
Q : Update tiap hari kan?"
A : Sayangnya ngga tiap hari. Berhubung cuma 15 episode dan ane lagi lumayan sibuk jadi updatenya seminggu sekali (biasanya weekend)
Q : Ini cerita tentang apa Bang?
A : Ini adalah prekuel dari AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Bang, prekuel apa sih?
A : Ini cerita sebelum adanya AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Jadi saya harus baca AKU, KAMU, DAN LEMON dulu dong bang?
A : Sebaiknya seperti itu, tapi kalo mau ini duluan juga nggapapa
Q : Bang, Nanda apa kabar?
A : -_- pertanyaan yang pasti ane jarang jawab
A : Kayaknya ngga, soalnya thread ini cuma 15 episode pendek
Q : Kok cuma 15 Bang?
A : Ya emang segitu adanya dan ngga ada yang ditambah-tambahin
Q : Update tiap hari kan?"
A : Sayangnya ngga tiap hari. Berhubung cuma 15 episode dan ane lagi lumayan sibuk jadi updatenya seminggu sekali (biasanya weekend)

Q : Ini cerita tentang apa Bang?
A : Ini adalah prekuel dari AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Bang, prekuel apa sih?
A : Ini cerita sebelum adanya AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Jadi saya harus baca AKU, KAMU, DAN LEMON dulu dong bang?
A : Sebaiknya seperti itu, tapi kalo mau ini duluan juga nggapapa
Q : Bang, Nanda apa kabar?
A : -_- pertanyaan yang pasti ane jarang jawab
Jadi buat agan dan aganwati sekalian yang mau mengikuti thread ini seharusnya baca AKU, KAMU, DAN LEMONterlebih dahulu. Cuma kalo mau baca ini dulu ya nggapapa ngga ada larangannya

Selamat membaca

Spoiler for INDEX:
Episode 1
Episode 2
Episode 3
Episode 4
Episode 5
Episode 6
Episode 7a
Episode 7b
Episode 8a
Episode 8b
Episode 9a
Episode 9b
Episode 10
Episode 11a
Episode 11b
Episode 12
Episode 13a
Episode 13b
Episode 14a
Episode 14b
Episode 15
Episode 15 + 1 (Finale)
Bad News Lemon
Behind The Story (part 1)
Behind The Story (part 2)
Behind The Story (part 3 / finale)
Pemberitahuan
Episode 2
Episode 3
Episode 4
Episode 5
Episode 6
Episode 7a
Episode 7b
Episode 8a
Episode 8b
Episode 9a
Episode 9b
Episode 10
Episode 11a
Episode 11b
Episode 12
Episode 13a
Episode 13b
Episode 14a
Episode 14b
Episode 15
Episode 15 + 1 (Finale)
Bad News Lemon
Behind The Story (part 1)
Behind The Story (part 2)
Behind The Story (part 3 / finale)
Pemberitahuan
Diubah oleh beavermoon 28-01-2020 19:37
i4munited dan 13 lainnya memberi reputasi
14
77.9K
Kutip
417
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#81
Spoiler for Episode 6:
Bukan sebuah kebetulan jika Widya benar-benar kembali, dan bukan sebuah kesalahan juga jika ia ingin mengulang kembali semua yang dulu pernah kami lakukan bersama-sama. Tiga tahun memanglah bukan waktu yang sebentar untuk mengenalnya, tiga tahun memanglah bukan waktu yang sebentar untuk meyakinkan diriku sendiri, dan tiga tahun memanglah bukan waktu yang sebentar untuk mengungkapkan semuanya. Waktu tidak pernah berhenti bahkan berjalan mundur, ia terus melangkah maju dengan pasti tanpa adanya sebuah keraguan. Hanya terkadang kita dihadapkan kembali oleh masalah yang sebelumnya sudah pernah kita lewati, dan itu menjadi acuan apakah kita dapat melewatinya lagi di masa sekarang.
Aku menjalani hidupku seperti biasa, disibukkan dengan tugas kuliah dan harus selalu menemui revisi demi revisi agar tugas yang telah kubuat dapat sesempurna mungkin. Dan hari ini aku mendapatkan revisiku yang ketiga kalinya. Awal yang berat memang, namun aku mencoba untuk tidak menyerah dengan keadaan.
“Lu masih mau revisi lagi Bram? Ngga mau nekat ngumpulin aja?” Tanya Bima teman sekelasku
“Ya mau gimana lagi Bim, kerjain aja dulu selagi masih ada waktunya.” Kataku
“Revisi dua kali aja udah gerah gue Bram, mending langsung ngumpulin aja minggu depan.” Kata Romi teman kelasku juga
“Jangan gitu lah kalian, udah tau salah masih juga mau dikumpulin.” Kata Zahra
Itu yang menjadi perdebatan kami menjelang siang ini. Kunyalakan sebatang rokok berbaur dengan Bima dan Romi yang sudah mulai terlebih dahulu. Aku kembali melihatnya, sesosok wanita yang beberapa minggu lalu membuatku cukup kagum dengannya. Ia sedang bersama dengan teman-temannya berjalan melewati gedung jurusanku entah mau kemana, Bima yang sudah menyadari akan hal itu dengan spontan menghampiriku.
“Cantik-cantik ya anak sastra...” Katanya
“Udah tradisi kayaknya Bim kalo anak sastra mah.” Kataku
“Jadi lu naksir yang mana? Yang baju pink ketat atau yang pake dress putih?” Tanyanya
“Apa deh, kenal juga ngga main naksir-naksir aja. Lu kira gue Romi.” Jawabku
“Kalo si Romi mah ngga jauh-jauh dari tet* kan otaknya, makanya dari dulu gambarnya selalu yang bulet-bulet gitu kan ada ujungnya.” Jelas Bima
Aku tertawa mendengar perkataan Bima. Namun tidak aku pungkiri bahwa wanita yang aku kagumi itu memang terlihat cantik mengenakan dress putih berlapis cardigan berwarna coklat. Tapi aku rasa aku belum siap untuk memulai sebuah hubungan lagi, ditambah dengan kedatangan Widya kembali.
Setelah selesai dengan perbincangan kami setelah revisi akhirnya kami memutuskan untuk pulang karena sudah tidak ada kelas lagi pada hari ini. Aku berjalan menuju parkiran dan masuk ke dalam mobil tuaku. Aku telusuri jalanan demi jalanan untuk menuju rumahku namun aku malah parkir di tempat langgananku sejak SMA. Aku masuk ke dalam dan keadaan masih cukup sepi karena keadaan sangat ramai hanya jika malam hari. Aku langsung duduk di meja yang menghadap ke barista tanpa berkata apapun, Barista tersebut sudah mengetahui apa saja yang akan ku pesan kecuali ada tambahan lainnya.
“Ini kopinya Bram, kopi hitam Toraja dengan gula seujung sendok aja.” Katanya
“Makasih ya Mas Adi.” Kataku
“Tumben banget siang-siang udah ke sini? Biasanya kan kalo ngga sore ya malem.” Tanyanya
“Abis kuliah tadinya mau langsung balik, ngga tau deh kenapa gue bisa ke sini.” Jawabku
“Lagi ada masalah lu? Apa gimana?” Tanyanya semakin penasaran
“Bukan masalah gede sih. Lu inget cewe yang dulu sering sama gue ngga ke sini pas SMA?” Tanyaku kepadanya
“Bentar... Widya ya?” Tebaknya
Aku mengangguk dan kemudian meminum kopi ini secara perlahan. Ia mulai menyalakan sebatang rokok dan duduk di hadapanku.
“Ada masalah apaan sama dia? Gue udah lama ngga liat dia.” Tanyanya
“Dulu kan gue sering sama dia ke sini, pas lulus SMA dia pergi entah kemana ngga ada kabar. Belom lama dia balik lagi ke sini dan itu bikin gue kaget aja.” Jelasku
“Mungkin ada sesuatu yang belom terselesaikan sama lu makanya dia balik lagi.” Kata Barista tersebut
“Tapi ini udah cukup lama banget Mas, rasanya agak aneh aja kalo harus dibahas lagi.” Kataku
“Harus ada kata terlambat buat nyelesaiin suatu masalah? Menurut gue sih ngga, setidaknya orang itu udah berniat baik mau nyelesaiin masa lalunya.” Jelasnya lagi
Aku mengangguk dan kemudian kami menghembuskan asap putih secara bersamaan. Aku berpikir kembali dan itu tidak terlalu menjadi sebuah masalah, jika ia benar-benar ingin menyelesaikan masalah pada waktu itu aku bisa menerimanya. Namun jujur, rasanya ada beban yang sangat menyiksa ketika ia kembali.
Beberapa jam kulalui dengan berbincang bersama Barista kafe ini dan akhirnya aku memutuskan untuk pulang setelah secangkir kopi hitam ini sudah habis tersisa ampasnya saja. Aku masuk ke dalam mobil dan meneruskan perjalanku yang hanya beberapa puluh meter lagi hingga sampai ke rumah. Setibanya di rumah aku menemukan mobil Reza yang sudah terparkir di halaman, begitu juga aku melihatnya sedang berbincang dengan Nanda di pinggiran kolam berenang.
“Tumben lu sore-sore udah muncul di Bumi?” Tanyaku menjabat tangannya
“Planet Namek sepi Bram, Goku lagi naik Awan Kinton makanya ngga ada temen di sana.” Jawabnya
Nanda tertawa mendengar penjelasan Reza yang sudah pasti mengada-ada. Aku ikut duduk di pinggiran kolam bersama dengan mereka, sore ini cukup cerah dan angin berhembus menyejukkan.
“Gue kayaknya mau ngelamar kerja di tempatnya si Milka deh...” Kata Reza
“Milka? Siapa lagi tuh?” Tanyaku
“Si cewe itu namanya Milka, emang gue belom pernah cerita? Perasaan udah deh.” Jawab Reza
“Oh gitu, terus kapan lu mau ke sana lagi?” Tanyaku
“Besok malem sih, gue udah ngirim CV gitu lewat Milkanya.” Jelasnya
Aku mengangguk pelan, kakiku mulai bermain dengan air kolam yang cukup dingin di sore ini. Kejadian yang menghebohkan pun terjadi, tiba-tiba saja Reza loncat menuju kolam berenang yang membuat airnya naik hingga membasahi seluruh badanku. Karena aku tidak terima dengan cepat aku ikut meloncat ke dalam kolam diikuti oleh Nanda juga, dan akhirnya kami menghabiskan sore ini dengan bermain air di kolam berenang ini.
Malam menjelang, suasana hening sangat terasa di balkon ini. Jauh berbeda dengan keadaan kamarku yang sudah bergemuruh suara mesin dan juga knalpot MotoGp yang dimainkan oleh Nanda dan juga Reza. Secangkir kopi, sebungkus rokok dan buku misterius ini sudah menjadi teman pada malam ini.
“Bram, ada yang manggil ya di luar?” Tanya Reza yang membuyarkan fokusku pada buku ini
Aku lihat memang ada seseorang yang berdiri di luar pagar, dan kemudian aku turun untuk melihat siapa yang datang pada malam ini. Ada seorang lelaki membawa sebuah rangkaian bunga yang tidak terlalu besar tapi berhasil membuatku cukup terkejut.
“Dengan Mas Bramantyo?” Tanya lelaki itu
“Iya itu saya, ada apa ya Pak?” Tanyaku balik pada lelaki itu
“Ada kiriman bunga buat Mas Bramantyo.” Katanya sambil menyerahkan rangkaian bunga tersebut kepadaku
“Dari siapa ya Pak? Kayaknya saya ngga mesen bunga ginian.” Tanyaku semakin heran
“Kata pengirimnya nanti baca saja surat yang ada di dalamnya Mas.” Kata lelaki itu
Kemudian lelaki itu meninggalkan rumahku, aku masuk ke dalam rumah dengan sejuta tanya atas rangkaian bunga ini. Beberapa bunga mawar merah dan juga mawar putih disusun dengan rapih dan membuat pola yang cukup indah. Dan tentu saja apa yang aku bawa menjadi bahan penglihatan oleh Nanda dan juga Reza.
“Wih ada apaan tuh?” Tanya Reza keheranan
“Cie kan Abang sekarang udah dapet bunga-bunga gitu dari penggemarnya.” Kata Nanda
Aku mengambil surat yang ada di antara bunga-bunga itu. Sebuah surat dengan kertas berwarna pink yang sangat mencolok dipandang oleh mata. Kubuka surat itu dan kubaca dalam hati, jujur saja aku cukup bingung dengan isi surat tersebut hingga aku baca berulang kali. Dan pada akhirnya aku seperti mendapatkan petunjuk dari surat tersebut. Aku ambil hp yang ada di meja dan mencoba untuk menghubungi seseorang.
“Halo...” Jawabnya
“Tiny Dancer?” Tanyaku
“Kamu masih inget ternyata.” Jawabnya
Aku menutup panggilan tersebut dan kutaruh hpku di atas meja. Kubuka kembali surat itu dan kembali kubaca isi surat itu untuk yang kesekian kalinya. Senyumku mungkin akan terlihat aneh bagi Reza dan juga Nanda karena mereka tidak tau apa arti dari surat ini yang sebenarnya.
“Pretty eye, pirate smile. I’ll marry a music man...”
-Tiny Dancer-
Aku menjalani hidupku seperti biasa, disibukkan dengan tugas kuliah dan harus selalu menemui revisi demi revisi agar tugas yang telah kubuat dapat sesempurna mungkin. Dan hari ini aku mendapatkan revisiku yang ketiga kalinya. Awal yang berat memang, namun aku mencoba untuk tidak menyerah dengan keadaan.
“Lu masih mau revisi lagi Bram? Ngga mau nekat ngumpulin aja?” Tanya Bima teman sekelasku
“Ya mau gimana lagi Bim, kerjain aja dulu selagi masih ada waktunya.” Kataku
“Revisi dua kali aja udah gerah gue Bram, mending langsung ngumpulin aja minggu depan.” Kata Romi teman kelasku juga
“Jangan gitu lah kalian, udah tau salah masih juga mau dikumpulin.” Kata Zahra
Itu yang menjadi perdebatan kami menjelang siang ini. Kunyalakan sebatang rokok berbaur dengan Bima dan Romi yang sudah mulai terlebih dahulu. Aku kembali melihatnya, sesosok wanita yang beberapa minggu lalu membuatku cukup kagum dengannya. Ia sedang bersama dengan teman-temannya berjalan melewati gedung jurusanku entah mau kemana, Bima yang sudah menyadari akan hal itu dengan spontan menghampiriku.
“Cantik-cantik ya anak sastra...” Katanya
“Udah tradisi kayaknya Bim kalo anak sastra mah.” Kataku
“Jadi lu naksir yang mana? Yang baju pink ketat atau yang pake dress putih?” Tanyanya
“Apa deh, kenal juga ngga main naksir-naksir aja. Lu kira gue Romi.” Jawabku
“Kalo si Romi mah ngga jauh-jauh dari tet* kan otaknya, makanya dari dulu gambarnya selalu yang bulet-bulet gitu kan ada ujungnya.” Jelas Bima
Aku tertawa mendengar perkataan Bima. Namun tidak aku pungkiri bahwa wanita yang aku kagumi itu memang terlihat cantik mengenakan dress putih berlapis cardigan berwarna coklat. Tapi aku rasa aku belum siap untuk memulai sebuah hubungan lagi, ditambah dengan kedatangan Widya kembali.
Setelah selesai dengan perbincangan kami setelah revisi akhirnya kami memutuskan untuk pulang karena sudah tidak ada kelas lagi pada hari ini. Aku berjalan menuju parkiran dan masuk ke dalam mobil tuaku. Aku telusuri jalanan demi jalanan untuk menuju rumahku namun aku malah parkir di tempat langgananku sejak SMA. Aku masuk ke dalam dan keadaan masih cukup sepi karena keadaan sangat ramai hanya jika malam hari. Aku langsung duduk di meja yang menghadap ke barista tanpa berkata apapun, Barista tersebut sudah mengetahui apa saja yang akan ku pesan kecuali ada tambahan lainnya.
“Ini kopinya Bram, kopi hitam Toraja dengan gula seujung sendok aja.” Katanya
“Makasih ya Mas Adi.” Kataku
“Tumben banget siang-siang udah ke sini? Biasanya kan kalo ngga sore ya malem.” Tanyanya
“Abis kuliah tadinya mau langsung balik, ngga tau deh kenapa gue bisa ke sini.” Jawabku
“Lagi ada masalah lu? Apa gimana?” Tanyanya semakin penasaran
“Bukan masalah gede sih. Lu inget cewe yang dulu sering sama gue ngga ke sini pas SMA?” Tanyaku kepadanya
“Bentar... Widya ya?” Tebaknya
Aku mengangguk dan kemudian meminum kopi ini secara perlahan. Ia mulai menyalakan sebatang rokok dan duduk di hadapanku.
“Ada masalah apaan sama dia? Gue udah lama ngga liat dia.” Tanyanya
“Dulu kan gue sering sama dia ke sini, pas lulus SMA dia pergi entah kemana ngga ada kabar. Belom lama dia balik lagi ke sini dan itu bikin gue kaget aja.” Jelasku
“Mungkin ada sesuatu yang belom terselesaikan sama lu makanya dia balik lagi.” Kata Barista tersebut
“Tapi ini udah cukup lama banget Mas, rasanya agak aneh aja kalo harus dibahas lagi.” Kataku
“Harus ada kata terlambat buat nyelesaiin suatu masalah? Menurut gue sih ngga, setidaknya orang itu udah berniat baik mau nyelesaiin masa lalunya.” Jelasnya lagi
Aku mengangguk dan kemudian kami menghembuskan asap putih secara bersamaan. Aku berpikir kembali dan itu tidak terlalu menjadi sebuah masalah, jika ia benar-benar ingin menyelesaikan masalah pada waktu itu aku bisa menerimanya. Namun jujur, rasanya ada beban yang sangat menyiksa ketika ia kembali.
Beberapa jam kulalui dengan berbincang bersama Barista kafe ini dan akhirnya aku memutuskan untuk pulang setelah secangkir kopi hitam ini sudah habis tersisa ampasnya saja. Aku masuk ke dalam mobil dan meneruskan perjalanku yang hanya beberapa puluh meter lagi hingga sampai ke rumah. Setibanya di rumah aku menemukan mobil Reza yang sudah terparkir di halaman, begitu juga aku melihatnya sedang berbincang dengan Nanda di pinggiran kolam berenang.
“Tumben lu sore-sore udah muncul di Bumi?” Tanyaku menjabat tangannya
“Planet Namek sepi Bram, Goku lagi naik Awan Kinton makanya ngga ada temen di sana.” Jawabnya
Nanda tertawa mendengar penjelasan Reza yang sudah pasti mengada-ada. Aku ikut duduk di pinggiran kolam bersama dengan mereka, sore ini cukup cerah dan angin berhembus menyejukkan.
“Gue kayaknya mau ngelamar kerja di tempatnya si Milka deh...” Kata Reza
“Milka? Siapa lagi tuh?” Tanyaku
“Si cewe itu namanya Milka, emang gue belom pernah cerita? Perasaan udah deh.” Jawab Reza
“Oh gitu, terus kapan lu mau ke sana lagi?” Tanyaku
“Besok malem sih, gue udah ngirim CV gitu lewat Milkanya.” Jelasnya
Aku mengangguk pelan, kakiku mulai bermain dengan air kolam yang cukup dingin di sore ini. Kejadian yang menghebohkan pun terjadi, tiba-tiba saja Reza loncat menuju kolam berenang yang membuat airnya naik hingga membasahi seluruh badanku. Karena aku tidak terima dengan cepat aku ikut meloncat ke dalam kolam diikuti oleh Nanda juga, dan akhirnya kami menghabiskan sore ini dengan bermain air di kolam berenang ini.
Malam menjelang, suasana hening sangat terasa di balkon ini. Jauh berbeda dengan keadaan kamarku yang sudah bergemuruh suara mesin dan juga knalpot MotoGp yang dimainkan oleh Nanda dan juga Reza. Secangkir kopi, sebungkus rokok dan buku misterius ini sudah menjadi teman pada malam ini.
Spoiler for Buku Harian:
Kami sudah tiba di sekolah pagi ini dan keadaan sudah mulai ramai, selama di perjalanan aku merasa cukup senang karena Herman muncul dengan tiba-tiba setelah kemarin ia benar-benar menghilang entah kemana. Kami menjadi sorotan utama ketika melewati lapangan sekolah, apalagi diantara siswi-siswi yang sudah berkumpul di kantin. Mata mereka sangat tajam memandang kami, namun aku mencoba untuk tidak mempermasalahkan hal itu.
Setibanya di kelas kami langsung duduk bersampingan, aku sudah mulai membaca novel ini lagi sedangkan Herman mengeluarkan MP3 playernya dan dipasangkan sebelah di telingaku. Lagu sudah dimulai dan Herman tiba-tiba kembali bersandar di pundakku seperti beberapa hari yang lalu. Mita yang baru datang sangat terkejut dengan apa yang telah ia lihat di kelas, dengan cepat ia menghampiri kami sambil duduk di atas meja.
“Lo berdua udah jadian?” Tanyanya spontan
“Mana jadian, gue aja baru masuk hari ini.” Jawab Herman
Mita melihatku dan aku hanya dapat menggelengkan kepala untuk menjawabnya. Mita menghembuskan nafasnya secara pelan dan kemudian meninggalkan kami yang ada di meja depan. Aku kembali membaca novel itu hingga tidak terasa bel masuk sudah berbunyi. Tidak banyak yang kami perbincangkan selama pelajaran berlangsung karena materi yang cukup sulit membuat kami harus benar-benar konsentrasi pada pelajaran ini.
Bel istirahat sudah berbunyi dan tiba-tiba saja Herman pergi meninggalkan kelas yang membuatku cukup bingung, Mita yang sepertinya juga melihat hal itu langsung menghampiriku dan duduk di sampingku.
“Dia kemana? Cepet banget perginya.” Tanya Mita
“Gue ngga tau Mit...” Jawabku singkat
Tidak lama kemudian ia kembali dengan membawa nampan berisi tiga piring batagor dan juga tiga botol minuman dingin. Tentu saja ini membuatku dan juga Mita keheranan dengan tingkah lakunya.
“Ini buat kalian, selamat makan.” Katanya
“Kamu kenapa Man kok tumben banget?” Tanyaku heran
“Gue kira lo kebelet boker makanya tadi ngilang cepet banget.” Kata Mita
“Anggep aja ini sebagai pengganti setelah kemaren gue ngilang.” Jawab Herman
Aku dan Mita saling pandang satu sama lain, dan kemudian kami mulai memakan batagor yang sudah Herman sediakan.
“Emang lo kemaren kemana Man sampe ngga ada kabar gitu?” Tanya Mita
“Ada urusan keluarga kemaren, terus gue keabisan pulsa makanya ngga sempet bales sms.” Jelasnya
Aku dan Mita hanya mengangguk pelan dan akhirnya kecemasanku sudah terjawab setelah mendengar penjelasan dari Herman. Selesai makan seperti biasa Herman langsung menuju lapangan basket sedangkan aku dan Mita duduk di bangku taman seperti biasa.
“Lo ngerasa aneh ngga sih Rin sama Herman?” Tanya Mita
“Sedikit aneh sih, emang kenapa Mit?” Tanyaku balik kepada Mita
“Sedikit darimana, ini mah udah aneh banget. Masa iya ngga ada apa-apaan dia langsung nraktir kita gitu aja.” Jawab Mita
“Iya juga sih, cuma gue ngga tau dia kenapa.” Kataku
“Otaknya rada gesrek kayaknya gara-gara kemaren ngga masuk.” Kata Mita
Memang cukup aneh ketika Herman memperlakukan kami seperti itu, namun aku sendiri beranggapan bahwa itu masih terlihat wajar saja. Setelah beberapa menit kami di luar akhirnya bel masuk kembali berbunyi. Lagi-lagi tidak banyak yang kami perbincangkan selama jam pelajaran berlangsung hingga akhirnya bel pulang pun berbunyi.
Herman kembali keluar dari kelas dengan cepatnya yang membuat aku dan juga Mita kembali keheranan dengan tingkah lakunya. Kami memutuskan untuk keluar kelas untuk mencari Herman.
“Bakalan ngasih kejutan apalagi tuh orang...” Kata Mita
Kami mencari-cari Herman hingga akhirnya kami menemukannya di kantin sedang berbincang dengan Inggar dan nampaknya mereka sedang bersiap-siap untuk pergi ke sebuah tempat yang aku tidak tahu itu dimana. Mereka berjalan berdua menuju parkiran dan meninggalkan sekolah dengan cepat. Aku dan juga Mita hanya dapat melihatnya dan kami sama-sama terdiam.
Setibanya di kelas kami langsung duduk bersampingan, aku sudah mulai membaca novel ini lagi sedangkan Herman mengeluarkan MP3 playernya dan dipasangkan sebelah di telingaku. Lagu sudah dimulai dan Herman tiba-tiba kembali bersandar di pundakku seperti beberapa hari yang lalu. Mita yang baru datang sangat terkejut dengan apa yang telah ia lihat di kelas, dengan cepat ia menghampiri kami sambil duduk di atas meja.
“Lo berdua udah jadian?” Tanyanya spontan
“Mana jadian, gue aja baru masuk hari ini.” Jawab Herman
Mita melihatku dan aku hanya dapat menggelengkan kepala untuk menjawabnya. Mita menghembuskan nafasnya secara pelan dan kemudian meninggalkan kami yang ada di meja depan. Aku kembali membaca novel itu hingga tidak terasa bel masuk sudah berbunyi. Tidak banyak yang kami perbincangkan selama pelajaran berlangsung karena materi yang cukup sulit membuat kami harus benar-benar konsentrasi pada pelajaran ini.
Bel istirahat sudah berbunyi dan tiba-tiba saja Herman pergi meninggalkan kelas yang membuatku cukup bingung, Mita yang sepertinya juga melihat hal itu langsung menghampiriku dan duduk di sampingku.
“Dia kemana? Cepet banget perginya.” Tanya Mita
“Gue ngga tau Mit...” Jawabku singkat
Tidak lama kemudian ia kembali dengan membawa nampan berisi tiga piring batagor dan juga tiga botol minuman dingin. Tentu saja ini membuatku dan juga Mita keheranan dengan tingkah lakunya.
“Ini buat kalian, selamat makan.” Katanya
“Kamu kenapa Man kok tumben banget?” Tanyaku heran
“Gue kira lo kebelet boker makanya tadi ngilang cepet banget.” Kata Mita
“Anggep aja ini sebagai pengganti setelah kemaren gue ngilang.” Jawab Herman
Aku dan Mita saling pandang satu sama lain, dan kemudian kami mulai memakan batagor yang sudah Herman sediakan.
“Emang lo kemaren kemana Man sampe ngga ada kabar gitu?” Tanya Mita
“Ada urusan keluarga kemaren, terus gue keabisan pulsa makanya ngga sempet bales sms.” Jelasnya
Aku dan Mita hanya mengangguk pelan dan akhirnya kecemasanku sudah terjawab setelah mendengar penjelasan dari Herman. Selesai makan seperti biasa Herman langsung menuju lapangan basket sedangkan aku dan Mita duduk di bangku taman seperti biasa.
“Lo ngerasa aneh ngga sih Rin sama Herman?” Tanya Mita
“Sedikit aneh sih, emang kenapa Mit?” Tanyaku balik kepada Mita
“Sedikit darimana, ini mah udah aneh banget. Masa iya ngga ada apa-apaan dia langsung nraktir kita gitu aja.” Jawab Mita
“Iya juga sih, cuma gue ngga tau dia kenapa.” Kataku
“Otaknya rada gesrek kayaknya gara-gara kemaren ngga masuk.” Kata Mita
Memang cukup aneh ketika Herman memperlakukan kami seperti itu, namun aku sendiri beranggapan bahwa itu masih terlihat wajar saja. Setelah beberapa menit kami di luar akhirnya bel masuk kembali berbunyi. Lagi-lagi tidak banyak yang kami perbincangkan selama jam pelajaran berlangsung hingga akhirnya bel pulang pun berbunyi.
Herman kembali keluar dari kelas dengan cepatnya yang membuat aku dan juga Mita kembali keheranan dengan tingkah lakunya. Kami memutuskan untuk keluar kelas untuk mencari Herman.
“Bakalan ngasih kejutan apalagi tuh orang...” Kata Mita
Kami mencari-cari Herman hingga akhirnya kami menemukannya di kantin sedang berbincang dengan Inggar dan nampaknya mereka sedang bersiap-siap untuk pergi ke sebuah tempat yang aku tidak tahu itu dimana. Mereka berjalan berdua menuju parkiran dan meninggalkan sekolah dengan cepat. Aku dan juga Mita hanya dapat melihatnya dan kami sama-sama terdiam.
“Bram, ada yang manggil ya di luar?” Tanya Reza yang membuyarkan fokusku pada buku ini
Aku lihat memang ada seseorang yang berdiri di luar pagar, dan kemudian aku turun untuk melihat siapa yang datang pada malam ini. Ada seorang lelaki membawa sebuah rangkaian bunga yang tidak terlalu besar tapi berhasil membuatku cukup terkejut.
“Dengan Mas Bramantyo?” Tanya lelaki itu
“Iya itu saya, ada apa ya Pak?” Tanyaku balik pada lelaki itu
“Ada kiriman bunga buat Mas Bramantyo.” Katanya sambil menyerahkan rangkaian bunga tersebut kepadaku
“Dari siapa ya Pak? Kayaknya saya ngga mesen bunga ginian.” Tanyaku semakin heran
“Kata pengirimnya nanti baca saja surat yang ada di dalamnya Mas.” Kata lelaki itu
Kemudian lelaki itu meninggalkan rumahku, aku masuk ke dalam rumah dengan sejuta tanya atas rangkaian bunga ini. Beberapa bunga mawar merah dan juga mawar putih disusun dengan rapih dan membuat pola yang cukup indah. Dan tentu saja apa yang aku bawa menjadi bahan penglihatan oleh Nanda dan juga Reza.
“Wih ada apaan tuh?” Tanya Reza keheranan
“Cie kan Abang sekarang udah dapet bunga-bunga gitu dari penggemarnya.” Kata Nanda
Aku mengambil surat yang ada di antara bunga-bunga itu. Sebuah surat dengan kertas berwarna pink yang sangat mencolok dipandang oleh mata. Kubuka surat itu dan kubaca dalam hati, jujur saja aku cukup bingung dengan isi surat tersebut hingga aku baca berulang kali. Dan pada akhirnya aku seperti mendapatkan petunjuk dari surat tersebut. Aku ambil hp yang ada di meja dan mencoba untuk menghubungi seseorang.
“Halo...” Jawabnya
“Tiny Dancer?” Tanyaku
“Kamu masih inget ternyata.” Jawabnya
Spoiler for Flashback:
Aku sedang berada di dalam mobil menuju rumah Widya karena aku sudah ada janji untuk belajar bersama. Hingga akhirnya aku tiba di sebuah rumah yang sangat besar melebihi rumahku. Semuanya berwarna putih dan membuat kesan elegan jika dilihat dari luar. Setelah kuparkirkan mobil tuaku, aku menunggunya di luar sini. Tiba-tiba ada seorang wanita yang keluar dari dalam rumah dan aku baru saja melihat orang itu di rumah baru milik Widya.
“Bram ya?” Tanya wanita itu
“Iya saya Bram...” Jawabku singkat
“Masuk aja ke dalem, Widya udah nungguin di atas.” Kata wanita itu
Aku mengangguk dan kemudian aku memasuki rumah baru ini. Aku cukup kagum dengan interior yang ada di dalam rumahnya karena banyak sekali barang-barang yang terbilang antik dan nilainya tidak terkira jika dihitung. Kunaiki anak tangga ini menuju lantai atas dimana Widya berada. Kumasuki ruangan ini dan aku cukup terkejut karena kamar ini cukup luas, ditambah lagi dengan banyaknya cermin di dinding. Widya sedang berada di pojokan ruangan ini sambil merenggangkan tubuhnya lengkap dengan kostumnya. Aku masuk secara diam-diam agar tidak mengganggu Widya, namun berkat cermin yang sangat banyak di kamar ini akhirnya dia dapat melihatku dengan sangat jelas.
“Hai Bram, udah lama?” Tanyanya
“Ngga kok baru aja sampe, lanjutin aja dulu.” Kataku sambil duduk di sebuah sofa
Widya kembali melanjutkan kegiatannya, mataku tertuju pada sudut lain dari kamar ini. Sebuah piano hitam yang nampak elegan berdiri tegak dengan gagahnya dan tidak butuh waktu lama untuk aku menyambangi piano tersebut. Kubuka penutupnya dan kupandangi seisi piano ini yang masih sangat bagus.
“Kamu suka sama piano itu?” Tanya Widya menghampiriku
“Cukup menarik...” Jawabku singkat
Aku melihat ke arah Widya dan sepertinya ia ingin aku untuk memainkan piano tersebut. Aku sudah duduk di hadapan piano ini, kubuka jam tangan milikku dan kutaruh tidak jauh dari sini. Widya berdiri di sampingku dan sepertinya ia sudah tidak sabar mendengar permainan pianoku kali ini.
[Tiny Dancer – Sir Eltoh John]
Sesekali aku memandanginya yang masih terus melihat caraku bermain dan tak jarang pula kami saling berbalas senyum satu sama lain hingga lagu ini selesai.
“Itu lagu buat kamu...” Kataku menatapnya dengan penuh makna
“Manis...” Katanya singkat
Aku bangun dari dudukku dan sekarang aku sudah berdiri tepat di hadapannya. Aku mengeluarkan sesuatu dari saku celanaku, kuraih tangan Widya dan kupasangkan gelang ini kepadanya.
“Bukan benda mahal sih Wid, cuma kayaknya cocok buat kamu. Sebuah gelang yang aku ngga sengaja liat waktu nemenin Nanda belanja dan pasnya lagi gelang ini ada gantungan seorang penari kecil.” Jelasku kepadanya
Ia mengangkat tangannya dan melihat ke arah gantungan kecil itu secara seksama dan kemudian ia tersenyum kepadaku. Aku mengambil handuk yang Widya tinggal di atas piano dan kuseka sisa-sisa keringat yang ada di wajahnya
“Jadi saat ini kamu bakalan punya nama baru buat aku?” Tanyanya
“Seperti judul lagu yang tadi aku mainin, Tiny Dancer...” Kataku
Kami berdua tersenyum hingga akhirnya Widya memelukku terlebih dahulu barulah aku ikut memeluknya.
“Bram ya?” Tanya wanita itu
“Iya saya Bram...” Jawabku singkat
“Masuk aja ke dalem, Widya udah nungguin di atas.” Kata wanita itu
Aku mengangguk dan kemudian aku memasuki rumah baru ini. Aku cukup kagum dengan interior yang ada di dalam rumahnya karena banyak sekali barang-barang yang terbilang antik dan nilainya tidak terkira jika dihitung. Kunaiki anak tangga ini menuju lantai atas dimana Widya berada. Kumasuki ruangan ini dan aku cukup terkejut karena kamar ini cukup luas, ditambah lagi dengan banyaknya cermin di dinding. Widya sedang berada di pojokan ruangan ini sambil merenggangkan tubuhnya lengkap dengan kostumnya. Aku masuk secara diam-diam agar tidak mengganggu Widya, namun berkat cermin yang sangat banyak di kamar ini akhirnya dia dapat melihatku dengan sangat jelas.
“Hai Bram, udah lama?” Tanyanya
“Ngga kok baru aja sampe, lanjutin aja dulu.” Kataku sambil duduk di sebuah sofa
Widya kembali melanjutkan kegiatannya, mataku tertuju pada sudut lain dari kamar ini. Sebuah piano hitam yang nampak elegan berdiri tegak dengan gagahnya dan tidak butuh waktu lama untuk aku menyambangi piano tersebut. Kubuka penutupnya dan kupandangi seisi piano ini yang masih sangat bagus.
“Kamu suka sama piano itu?” Tanya Widya menghampiriku
“Cukup menarik...” Jawabku singkat
Aku melihat ke arah Widya dan sepertinya ia ingin aku untuk memainkan piano tersebut. Aku sudah duduk di hadapan piano ini, kubuka jam tangan milikku dan kutaruh tidak jauh dari sini. Widya berdiri di sampingku dan sepertinya ia sudah tidak sabar mendengar permainan pianoku kali ini.
[Tiny Dancer – Sir Eltoh John]
Sesekali aku memandanginya yang masih terus melihat caraku bermain dan tak jarang pula kami saling berbalas senyum satu sama lain hingga lagu ini selesai.
“Itu lagu buat kamu...” Kataku menatapnya dengan penuh makna
“Manis...” Katanya singkat
Aku bangun dari dudukku dan sekarang aku sudah berdiri tepat di hadapannya. Aku mengeluarkan sesuatu dari saku celanaku, kuraih tangan Widya dan kupasangkan gelang ini kepadanya.
“Bukan benda mahal sih Wid, cuma kayaknya cocok buat kamu. Sebuah gelang yang aku ngga sengaja liat waktu nemenin Nanda belanja dan pasnya lagi gelang ini ada gantungan seorang penari kecil.” Jelasku kepadanya
Ia mengangkat tangannya dan melihat ke arah gantungan kecil itu secara seksama dan kemudian ia tersenyum kepadaku. Aku mengambil handuk yang Widya tinggal di atas piano dan kuseka sisa-sisa keringat yang ada di wajahnya
“Jadi saat ini kamu bakalan punya nama baru buat aku?” Tanyanya
“Seperti judul lagu yang tadi aku mainin, Tiny Dancer...” Kataku
Kami berdua tersenyum hingga akhirnya Widya memelukku terlebih dahulu barulah aku ikut memeluknya.
Aku menutup panggilan tersebut dan kutaruh hpku di atas meja. Kubuka kembali surat itu dan kembali kubaca isi surat itu untuk yang kesekian kalinya. Senyumku mungkin akan terlihat aneh bagi Reza dan juga Nanda karena mereka tidak tau apa arti dari surat ini yang sebenarnya.
“Pretty eye, pirate smile. I’ll marry a music man...”
-Tiny Dancer-
khuman dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Kutip
Balas