- Beranda
- Stories from the Heart
Cerita Seram Selama Mengabdi di Desa Terpencil
...
TS
suwandilam
Cerita Seram Selama Mengabdi di Desa Terpencil
INDEX
PART 1 - Perkenalan - Langsung ada di postingan ini
PART 2 - Keberangkatan
PART 3 - Tiba di Desa
PART 4 - Malam Pertama
PART 5 - Ibu Tua
PART 6 - Informasi Mengejutkan
PART 7 - Suara
PART 8 - Terkuncikah ?
PART 9 - Rumah Terang
PART 10 - Gadis Cantik Yang Kesepian
PART 11 - Tangisan
PART 12 - Pernyataan Kades
PART 13 - Terjebak
PART 14 - Pengungkapan
PART 15 - Silahturahmi Pertama
PART 16 - Tamu
PART 17 - Jalan Malam
PART 18 - Berteduh Lagi
PART 19 - Balik !!!
PART 20 - Maksud Terselubung
PART 21 - Perdebatan
PART 22 - Halusinasi ?
PART 23 - Halusinasi 2
PART 24 - Tangis dan Tawa
PART 25 - Pengejaran Amelia
PART 26 - Ngecek Lagi ?
PART 27 - Gak Hoki
PART 28 - Siapa Itu Ya ?
PART 29 - Hari Yang Tenang
PART 30 - Kebelet !
PART 31 - Bertemu Lagi !
PART 32 - Tertabrak !
PART 33 - Terror
PART 34 - Kejutan !!!
PART 35 - Terror 2
PART 36 - Terror 3
PART 37 - Lemari Cermin
PART 38 - Ngecek yuk
PART 39 - Tangisan
PART 40 - Ketukan
PART 41 - Mimpi atau Nyata
PART 42 - Penampakan
PART 43 - Haruskah Melapor ?
PART 44 - Mencari Solusi
PART 45 - Pengungkapan Misteri !
PART 46 - Pengungkapan Misteri 2
PART 47 - Pengungkapan Misteri 3
PART 48 - Pengungkapan Misteri 4
PART 49 - Sebenarnya ini apa ?!
PART 50 - Pengungkapan Lemari Cermin
PART 51 - Nenek oh Nenek
PART 52 - Konflik !
PART 53 - Kejutan
PART 54 - Bolehkah Gue Kabur ?
PART 55 - Hilang !
PART 56 - Duniaku
PART 57 - Gue Dimana?
PART 58 - SURAT
PART 59 - Suara dan Penglihatan ?
PART 60 - Masuk atau Kagak ?!
PART 61 - Aku Hilang !
PART 62 - Kembali
PART 63 - Penjelasan
PART 64 - Siksaan !
PART 65 - Ketenangan
PART 66 - Suara Aneh
PART 67 - Terjebak !
PART 68 - TOLONG GUE !
PART 69 - Kuburan (NEW UPDATE)
Cerita Seram Selama Mengabdi di Desa Terpencil - Part 1
Cerita ini merupakan fiksi, namun isi dari cerita ini sebagian diambil dari serangkaian kisah pengalaman nyata yang dialami oleh penulis dan dicampur dengan cerita fiksi yang tidak benar-benar terjadi. Beberapa kejadian memang benar terjadi dan beberapa kejadian merupakan cerita rekayasa untuk penambahan agar cerita ini menjadi lebih menarik. Semua nama tokoh, nama tempat dan lain-lain telah disamarkan guna menjaga nama baik pemilik aslinya.
Nah mari kita mulai ceritanya.
1 Februari 2015, Yap tepat pada tanggal ini saya mahasiswa jurusan ekonomi yang bernama Dony mendapatkan tawaran menarik dari kampus saya. Saya berasal dari Jakarta, kuliah di salah satu universitas swasta ternama di Jakarta dan sekarang tengah memasuki semester delapan. Menjelang memasuki semester 8 yang ku anggap bakal menjadi semester terakhir untuk perkuliahanku, Aku memiliki banyak waktu luang karena aku hanya tinggal menyelesaikan KKN dan menyusun skripsi (Itupun uda hampir kelar karena data2 skripsinya uda ada dan tinggal dimanipulasi, namun repotnya ya itu nanti minta persetujuan dosen dan revisi2 yang menjengkelkan pastinya dan bisa menghabiskan waktu cukup lama).
Sebelum tanggal 1 Feb, keseharianku cukup membosankan karena terlalu banyak waktu luang, mau memikirkan tentang KKN, tetapi aku masih galau mau KKN di mana, belum ada lokasi KKN yang asik menurutku sampai saat ini. Kebanyakan waktu luangku kuhabiskan untuk berkelana di kampus mencari info2 sputar KKN, hingga suatu waktu aku pergi ke ruangan dosen, bercerita2 dengan dosen dan terakhir sebelum pulang, aku membaca papan informasi yang ada di ruangan dosen, seketika mataku tertuju pada papan informasi yang terdapat selembaran brosur. Brosur tsb bertuliskan :
“Dicari 10 Mahasiswa/I yang berminat untuk ikut serta dalam kegiatan pembangunan desa terpencil selama 3 bulan, dana semua ditanggung oleh kampus. Diperuntukkan bagi mahasiswa/I yang berada di semester 7 ke atas.
Kriteria : Memiliki jiwa pemberani, bisa hidup mandiri, menyukai kehidupan alam desa dan ingin pengalaman seru.
Hadiah : Bagi anda yang belum menyelesaikan KKN, maka KKN dianggap selesai sehubungan dengan kegiatan ini dan mendapatkan nilai A
Bagi anda yang sedang menyelesaikan skripsi, maka nilai Skripsi anda akan langsung mendapatkan nilai A.
Silahkan isi formulir yang dapat diambil di bagian kemahasiswaan, serahkan formulir tersebut ke rektorat paling lambat tanggal 30 Januari 2015. Bagi mahasiswa/I yang kami anggap cocok untuk ikut serta dalam kegiatan pembangunan desa ini, akan kami informasikan pada tanggal 1 Februari 2015.
Mahasiwa/I akan kami pilih dari berbagai jurusan agar dapat saling melengkapi dan membuat serangkaian program untuk pembangunan desa tersebut.
Untuk informasi lebih lanjut bisa langsung datang ke rektorat.”
Wahhhh !!! Setelah membaca brosur ini, akupun kaget dan cukup tertarik untuk mengikuti kegiatan ini. Langsung kutanyakan ke bagian kemahasiswaan di fakultasku tentang formulir ini dan apakah masih ada kuota kosong untuk kegiatan pembangunan desa ini atau tidak.
Saya : “Pak ! Itu brosur di papan informasi masih berlaku kan Pak? Kira2 masih ada slot kosong utk saya ikut serta gak ?”
Dosen Kemahasiswaan : “Oh brosur itu, setahu saya itu masih terbuka untuk semua mahasiswa di universitas ini. Penutupannya kan di akhir bulan Januari ini. Kenapa? Kamu minat utk ikut ?”
Saya : “Oh jelas minat lah Pak ! KKN dan Skripsi langsung kelar dan nilainya A loh !”
Dosen : “Hehehe iya nak, Bapak juga kaget baca brosur ini, kok bisa ya rektorat langsung izinkan KKN dan Skripsi langsung dapat nilai A.”
Saya : “Loh, memangnya kenapa Pak ? Tahun2 sebelumnya belum pernah ada informasi seperti ini?”
Dosen : “Belum pernah nak. Ini informasi terbaru dan perdana yang pernah Bapak dapatkan. Belum pernah ada kegiatan seperti ini selama bapak mengajar di sini. Ya uda kamu coba apply aja deh, siapa tau kamu bisa terpilih kan, itu untuk 10 orang kapasitasnya loh, coba aja kamu ajak temanmu biar gak bosan. Siapa tau bisa masuk kalian kan, tapi nanti kepastian siapa yang berhak ikut itu jg ditentuin dari rektorat dan kemungkinan kamu dan temanmu tidak bisa lolos barengan, tapi dicoba saja, paling enggak nanti kamu bakal dapat banyak teman baru loh. Nih formulirnya.”
Saya : “Makasih pak, paling enggak saya lolos dari KKN dan Skripsi yang menyusahkan ini Pak. Hehehehe.” (Ketawa cengengesan)
Setelah mendapatkan formulir dari dosen kemahasiswaan fakultasku, Aku langsung bikin group chat via BBM untuk beberapa teman2ku yang berjumlah 4 org termasuk aku yang tentunya masih belum KKN dan Skripsi.
Saya : “Woi, Bro ! Baca nech, Kalian ndak perlu KKN dan bikin skripsi oeeee ! Ikut program ini, seru cui ngabdi di desa, hidup di alam bebas, KKN dan skripsi lgsg kelar. Dana semua ditanggung kampus ! Ikut yok, untuk semua fakultas loh!”
Rudy : “Wew serius tuh? Keknya seru juga loh ! Lu ada formulirnya?”
Victor : “Wakakaka, klo KKN dan skripsi lgsg A , gue masuk cui. Kapan kasi gue form nya ?”
Benny : “Gue ikut apply deh klo kalian semua apply ! Ya moga” aja kepilih semua kita berempat!”
Saya : “Okay, form nya kalian jemput aja ama gua di kampus ya!”
Setelah menghubungi semua teman2 gua, gua pun atur waktu ketemu mreka dan ngasihin formulir untuk mereka isi.
Tepat pada tanggal 1 Februari 2015 pagi hari, HP kami masing2 pun berdering.
Saya : “Woiii brooo ! Gue dapat sms dari rektorat nech ! Gw kepilih untuk ikut loh ! Wakakka, kalian cam mana? Lolos ?”
Rudy : “Gue kagak lolos brooooo… Suram !!!”
Victor : “Lu gak lolos Rud ? Gue lolos nech wkawkakwa, mantap Don ! Bareng2 nikmatin alam desa kita, skalian cuci mata liat cewek2 desa wakwkawka ! Benny gimana?”
Benny : “Gue gak lolos cukkk~ Kok bisa yeee… Padahal pengen banget gue nikmatin alam desa, intinya sih sebenarnya kkn dan skripsi kelar wakwakka.”
Saya : “Sabar yee yang gak lolos wkwkwk, kalian ambil masa langkau aja, barangkali tahun depan ada lagi kegiatan beginian hehehe.”
Rudy : “Taikk lu… Ya uda info2 n cerita2 ye pengalaman xan disana gimana !”
Victor : “Pasti bro ! Eh Don, nanti siang kita ke rektorat bareng deh ya !”
Saya : “Sip bro !”
Siang harinya sehabis makan siang, gue dan Victor langsung menuju ke rektorat dengan mengendarai motor kami masing2. Selama perjalanan kami saling bercerita.
Saya : “Eh bro, bosan gak ya nanti selama di desa, 3 bulan loh. Entah ada pulang or enggak ?”
Victor : “Ya kagak tau, enak sih hidup mandiri dan bebas, tapi klo 3 bulan ndak pulang ya bosan jg, kecuali di desa itu adem dan bnyk hiburan, tapi gue rasa mana bakal byk hiburan, tv, game, inet pasti ga ada or klo pun ada pasti jelek sekali.”
Saya : “Iya juga sich, tapi biarlah, lumayan kan KKN dan Skripsi bisa kelar dalam 3 bulan bersamaan. Bersabar2 aja dah, tujuan kita kan itu. Hehehe”
Victor : “Yoi Bro. Kira-kira 8 peserta lagi cowo apa cewe ya, klo cowo semua bosan juga nech. Btw entah ada yang tipe gue or gak ya, pengennya sih klo ada yg cewe yg tipe gue, bisa pdkt-an sekalian hahaha.”
Saya : “Hehehe.. Lu mah mata keranjang wakwkawka.”
Ehem, sampai lupa ngasih tau ke para pembaca, Gue dan Victor punya kriteria tipe cewe kami masing-masing. Ya moga-moga aja ada yg sesuai tipe, jadi bisa aktivitas bareng sambilan PDKT. hehehe
Polling
0 suara
Bagusnya Cerita ini memiliki Alur Panjang atau pendek ? Bagaimana isi ceritanya?
Diubah oleh suwandilam 18-09-2019 21:40
symoel08 dan 17 lainnya memberi reputasi
12
1.7M
3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
suwandilam
#38
Cerita Seram Selama Mengabdi di Desa Terpencil – Part 7
Makan malam di hari kedua pun sudah berlalu, kelompok piket Danu mulai membersihkan rumah sebelum kami memulai diskusi kami.
Amelia : “Teman-teman, seperti yang kita dengarkan dari Pak Kades, sebaiknya pukul 9 malam saat mati lampu, kita semua jangan ada yang keluar dari rumah ya. Terus baru boleh keluar rumah pukul 5 subuh.”
Feby : (Bertanya karena tadi berada di dapur bareng Istri Pak Kades) “Kenapa Mel? Sebabnya? Kalo misalnya kebelet ke toilet belakang gimana?
Amelia : “Pokoknya jangan keluar deh, sebabnya juga ga tau. Pak Kades gak ceritain tadi. Ya kalo pengen ke toilet belakang, sebaiknya minta ditemenin dan agak cepat, klo bisa ya ditahan sampai besok pagi aja.”
Mendengar informasi yang disampaikan Amelia, beberapa cewe yang tadi kurang mendengarkan perkataan Pak Kades menjadi sedikit cemas terutama Angela dan Nadya.
Danu : (Agak penasaran) “Gua agak penasaran ama omongan pak Kades tadi, Emangnya bakal kenapa yak lo kita keluar ? Gue pengen coba cari tau ah.”
Gue : “Eh ga usah Dan, ga ada gunanya.”
Danu : (Sambil geleng-geleng) “Tenang Don, gapapa. Nanti kita coba cari tau yuk Vic? Aldi ikut?”
Victor : (Pasang tampang cool) “Gue sih oke aja. Mau cari tau oke, asal jangan terlalu macam-macam aja.”
Aldi : (Ngangguk-ngangguk) “Ya bebas.”
Di sela-sela kami berdiskusi, gue melihat ke arah Nadya, dia sepertinya sedang menghubungi orangtuanya melalui telepon, namun sepertinya percakapan dia dengan orang tuanya sedikit terputus-putus karena dia harus mengulangi beberapa perkataannya dan sering berulang kali mengucapkan “apa? Apa?”. Ya sinyal memang jelek di desa kami ini, jaringan inet hanya edge, kadang Cuma bisa utk emergency call only malahan, bbm , WA, FB smua susah jalan. Suram sih, mau hubungin orang di luar desa ini aja susah banget deh. Benar-benar serasa di pulau terpencil ~
Tak lama kemudian, jam pun menunjukkan pukul 9 malam. Mati lampu pun terjadi lagi. Tiba-tiba gue mendengar suara “Halooo… Halooo…. Halooo….” Yang berulang kali terucap.
Gue : (Agak cemas) “Eh Vic, siapa tu yang lagi Haloo… Halooo ? Lu dengar gak?”
Victor : “Iye denger gue, hidupin lampu HP lu lah ! Gelap nech.”
Gue pun nyalain lampu dari HP gw, terus gue liat ke teman-teman gue, Laras Nadya dan Angela seperti sudah duduk saling berdekatan, terus Amelia dan Monica malah uda duduk di samping gue ama Victor, Danu langsung nyamperin ke arah Feby dan Nadya, sementara Aldy duduk sendiri di pojok ruang tamu sambil baring-baring.
Danu : “Don, yang halo halo barusan si Nadya tuh, dia kan tadi lagi telponan, terus terputus pas mati lampu!”
Nadya : (Ngangguk-ngangguk) “Iye Don, Sinyal tiba-tiba putus dan jadi SOS, bukan edge loh, mau lakukan panggilan apapun ga bisa.”
Gue : “Emangnya emergency call juga ga bisa?”
Nadya : “Ga bisa Don.”
Mendengar perkataan Nadya, gue dan Victor pun bergegas melihat ke HP kami dan ternyata bener. Sinyal kami jadi SOS semua saat mati lampu, emergency call pun benar-benar tak bisa.
Gue : “Dan, coba lu cek HP lu deh liat sinyalnya gimana. Oia Mon, coba cek juga HP mu. Ada sinyal gak?”
Monica : “Iya ga ada Ko, SOS juga nih”
Danu : (Dengan penuh semangat) “Wooohhooo… SOS juga gue ! Ini benar-benar seperti petualangan di pulau terpencil dunia fantasi !”
Gue : “Ah bukan waktunya bercanda Dan, Tu artinya klo ada apa-apa kita ga bisa ngehubungin orang luar!” (Gue jadi kepikiran lagi deh soal ucapan pak Supir klo ga ada yang selamat, mgkn benar juga sih, sinyal aja ga ada pas mati lampu. Kalo terjadi apa-apa saat ini, gimana bisa hubungin orang luar minta bantuan. Keluar rumah aja dilarang ama pak Kades!)
Victor : (Bisikin ke gue) “Uda tenang aja lah Don, Lu kan jadi bisa makin deket ama Monica. Hehehe.” (Sambil bikin gue semangat)
Gue : “Ah lu mah malah mikir beginian!”
Victor : “Tuh lu ga liat mreka duduknya uda deket kita?” (Sambil nunjuk-nunjuk ke arah Monica yang duduk deket gue)
Gue : “Eh iya juga ya hehehe.” (Gue jadi sedikit tenang mendengar celoteh si Victor)
Victor : “Ya uda, nanti kita cek dan pastiin yuk klo ga ada masalah apa-apa dengan keluar malam? Gimana? Lu mau jadi pahlawan kan dan keliatan pemberani gak?”
Gue : (Agak bingung) “Emm gimana ya.. Ya uda serah lu deh. Ajak Danu n Aldi coba.”
Gue dan Victor pun membahas keinginan kami untuk mengecek keluar rumah pas malam hari nanti, rencananya sih bakal menjelang jam 12 malam. Mendengar keinginan kami, Danu langsung setuju, ya gak heran sih, Danu ini memang suka hal beginian, smentara Aldi juga oke meskipun kelihatannya dia Cuma ngikut keinginan kami aja. Para cewe beberapa sudah masuk ke kamar seperti Nadya dan Laras. Sementara yang lainnya masih di ruang tamu bercerita-cerita.
Danu : “Oi cewe, kalian ada yang mau ikut kami liat-liat keluar ntar tengah malem gak?”
Feby : “Ah enggak mau ah… Mati lampu gini aja uda ga tenang, apalagi liat keluar. Males banget.”
Monica : “Gak deh… Mending tidur.”
Danu : “Ahhh payah lah ! Mana asyik gtu hehehe.” (Sambil cemeeh)
Amelia : “Ya uda Dan, lu cek aja, nanti kabarin kami hasilnya. Emangnya lu mau ngecek sendiri?”
Danu : “Oh enggak donk. Bareng Dony, Victor dan Aldi lah.”
Amelia dan Monica yang mendengar ucapan Danu sedikit terkejut. Mereka berdua lgsg melihat ke arah gue dan Victor, memasang tatapan sinis seolah-olah memberi kode utk tidak ikut melakukan hal macam-macam. Dalam hati gue senang sih, ada yang perhatian ke gue hahhaa, Tapi gara-gara otak gue uda dicuci oleh Victor buat jadi pahlawan pemberani, akhirnya gue tetep memutuskan utk ikut keluar ngecek.
Tak lama kemudian, jam sudah mulai menunjukkan pukul 11 malam, kami pun sudah mulai bersiap-siap mau duduk-duduk di luar rumah untuk membuktikan perkataan Pak Kades tadi siang. Gue dan Victor rencana mau ke kamar mandi dulu yang letaknya ada di belakang dapur. Saat kami akan membuka pintu menuju ruang dapur, tiba-tiba terdengar suara.
PRANKKkkkkkk………!!!!
Tangan Victor yang baru saja memegang gagang pintu ke ruang dapur langsung terdiam….
Victor : (Agak pelan dan gemetar) “Suu…suu… suaaraaa apa itu Don? Lu denger?”
Gue : “I…iyeee Vic… Kayak suara benda jatuh.”
Victor : “Astagaaa… baru saja punya niat mau jadi pahlawan, sudah dikejutkan dengan suara begini”
Gue : “Aa.. Aa.. Apa ini suara pertanda agar kita gak macam-macam ???”
Makan malam di hari kedua pun sudah berlalu, kelompok piket Danu mulai membersihkan rumah sebelum kami memulai diskusi kami.
Amelia : “Teman-teman, seperti yang kita dengarkan dari Pak Kades, sebaiknya pukul 9 malam saat mati lampu, kita semua jangan ada yang keluar dari rumah ya. Terus baru boleh keluar rumah pukul 5 subuh.”
Feby : (Bertanya karena tadi berada di dapur bareng Istri Pak Kades) “Kenapa Mel? Sebabnya? Kalo misalnya kebelet ke toilet belakang gimana?
Amelia : “Pokoknya jangan keluar deh, sebabnya juga ga tau. Pak Kades gak ceritain tadi. Ya kalo pengen ke toilet belakang, sebaiknya minta ditemenin dan agak cepat, klo bisa ya ditahan sampai besok pagi aja.”
Mendengar informasi yang disampaikan Amelia, beberapa cewe yang tadi kurang mendengarkan perkataan Pak Kades menjadi sedikit cemas terutama Angela dan Nadya.
Danu : (Agak penasaran) “Gua agak penasaran ama omongan pak Kades tadi, Emangnya bakal kenapa yak lo kita keluar ? Gue pengen coba cari tau ah.”
Gue : “Eh ga usah Dan, ga ada gunanya.”
Danu : (Sambil geleng-geleng) “Tenang Don, gapapa. Nanti kita coba cari tau yuk Vic? Aldi ikut?”
Victor : (Pasang tampang cool) “Gue sih oke aja. Mau cari tau oke, asal jangan terlalu macam-macam aja.”
Aldi : (Ngangguk-ngangguk) “Ya bebas.”
Di sela-sela kami berdiskusi, gue melihat ke arah Nadya, dia sepertinya sedang menghubungi orangtuanya melalui telepon, namun sepertinya percakapan dia dengan orang tuanya sedikit terputus-putus karena dia harus mengulangi beberapa perkataannya dan sering berulang kali mengucapkan “apa? Apa?”. Ya sinyal memang jelek di desa kami ini, jaringan inet hanya edge, kadang Cuma bisa utk emergency call only malahan, bbm , WA, FB smua susah jalan. Suram sih, mau hubungin orang di luar desa ini aja susah banget deh. Benar-benar serasa di pulau terpencil ~
Tak lama kemudian, jam pun menunjukkan pukul 9 malam. Mati lampu pun terjadi lagi. Tiba-tiba gue mendengar suara “Halooo… Halooo…. Halooo….” Yang berulang kali terucap.
Gue : (Agak cemas) “Eh Vic, siapa tu yang lagi Haloo… Halooo ? Lu dengar gak?”
Victor : “Iye denger gue, hidupin lampu HP lu lah ! Gelap nech.”
Gue pun nyalain lampu dari HP gw, terus gue liat ke teman-teman gue, Laras Nadya dan Angela seperti sudah duduk saling berdekatan, terus Amelia dan Monica malah uda duduk di samping gue ama Victor, Danu langsung nyamperin ke arah Feby dan Nadya, sementara Aldy duduk sendiri di pojok ruang tamu sambil baring-baring.
Danu : “Don, yang halo halo barusan si Nadya tuh, dia kan tadi lagi telponan, terus terputus pas mati lampu!”
Nadya : (Ngangguk-ngangguk) “Iye Don, Sinyal tiba-tiba putus dan jadi SOS, bukan edge loh, mau lakukan panggilan apapun ga bisa.”
Gue : “Emangnya emergency call juga ga bisa?”
Nadya : “Ga bisa Don.”
Mendengar perkataan Nadya, gue dan Victor pun bergegas melihat ke HP kami dan ternyata bener. Sinyal kami jadi SOS semua saat mati lampu, emergency call pun benar-benar tak bisa.
Gue : “Dan, coba lu cek HP lu deh liat sinyalnya gimana. Oia Mon, coba cek juga HP mu. Ada sinyal gak?”
Monica : “Iya ga ada Ko, SOS juga nih”
Danu : (Dengan penuh semangat) “Wooohhooo… SOS juga gue ! Ini benar-benar seperti petualangan di pulau terpencil dunia fantasi !”
Gue : “Ah bukan waktunya bercanda Dan, Tu artinya klo ada apa-apa kita ga bisa ngehubungin orang luar!” (Gue jadi kepikiran lagi deh soal ucapan pak Supir klo ga ada yang selamat, mgkn benar juga sih, sinyal aja ga ada pas mati lampu. Kalo terjadi apa-apa saat ini, gimana bisa hubungin orang luar minta bantuan. Keluar rumah aja dilarang ama pak Kades!)
Victor : (Bisikin ke gue) “Uda tenang aja lah Don, Lu kan jadi bisa makin deket ama Monica. Hehehe.” (Sambil bikin gue semangat)
Gue : “Ah lu mah malah mikir beginian!”
Victor : “Tuh lu ga liat mreka duduknya uda deket kita?” (Sambil nunjuk-nunjuk ke arah Monica yang duduk deket gue)
Gue : “Eh iya juga ya hehehe.” (Gue jadi sedikit tenang mendengar celoteh si Victor)
Victor : “Ya uda, nanti kita cek dan pastiin yuk klo ga ada masalah apa-apa dengan keluar malam? Gimana? Lu mau jadi pahlawan kan dan keliatan pemberani gak?”
Gue : (Agak bingung) “Emm gimana ya.. Ya uda serah lu deh. Ajak Danu n Aldi coba.”
Gue dan Victor pun membahas keinginan kami untuk mengecek keluar rumah pas malam hari nanti, rencananya sih bakal menjelang jam 12 malam. Mendengar keinginan kami, Danu langsung setuju, ya gak heran sih, Danu ini memang suka hal beginian, smentara Aldi juga oke meskipun kelihatannya dia Cuma ngikut keinginan kami aja. Para cewe beberapa sudah masuk ke kamar seperti Nadya dan Laras. Sementara yang lainnya masih di ruang tamu bercerita-cerita.
Danu : “Oi cewe, kalian ada yang mau ikut kami liat-liat keluar ntar tengah malem gak?”
Feby : “Ah enggak mau ah… Mati lampu gini aja uda ga tenang, apalagi liat keluar. Males banget.”
Monica : “Gak deh… Mending tidur.”
Danu : “Ahhh payah lah ! Mana asyik gtu hehehe.” (Sambil cemeeh)
Amelia : “Ya uda Dan, lu cek aja, nanti kabarin kami hasilnya. Emangnya lu mau ngecek sendiri?”
Danu : “Oh enggak donk. Bareng Dony, Victor dan Aldi lah.”
Amelia dan Monica yang mendengar ucapan Danu sedikit terkejut. Mereka berdua lgsg melihat ke arah gue dan Victor, memasang tatapan sinis seolah-olah memberi kode utk tidak ikut melakukan hal macam-macam. Dalam hati gue senang sih, ada yang perhatian ke gue hahhaa, Tapi gara-gara otak gue uda dicuci oleh Victor buat jadi pahlawan pemberani, akhirnya gue tetep memutuskan utk ikut keluar ngecek.
Tak lama kemudian, jam sudah mulai menunjukkan pukul 11 malam, kami pun sudah mulai bersiap-siap mau duduk-duduk di luar rumah untuk membuktikan perkataan Pak Kades tadi siang. Gue dan Victor rencana mau ke kamar mandi dulu yang letaknya ada di belakang dapur. Saat kami akan membuka pintu menuju ruang dapur, tiba-tiba terdengar suara.
PRANKKkkkkkk………!!!!
Tangan Victor yang baru saja memegang gagang pintu ke ruang dapur langsung terdiam….
Victor : (Agak pelan dan gemetar) “Suu…suu… suaaraaa apa itu Don? Lu denger?”
Gue : “I…iyeee Vic… Kayak suara benda jatuh.”
Victor : “Astagaaa… baru saja punya niat mau jadi pahlawan, sudah dikejutkan dengan suara begini”
Gue : “Aa.. Aa.. Apa ini suara pertanda agar kita gak macam-macam ???”
Diubah oleh suwandilam 05-05-2016 11:31
johny251976 dan 5 lainnya memberi reputasi
6