- Beranda
- Sejarah & Xenology
Khalid ibn Al-Walid, the Sword of God
...
TS
plonard
Khalid ibn Al-Walid, the Sword of God
Semua yang saya tulis pada posting #1 sampai posting #10 adalah terjemahan bebas dari artikel Khalid ibn Al-Walid di en.wikipedia.org Oktober 2012. Saya tambahkan juga sedikit daftar istilah untuk membantu Agan-agan yang belum terlalu memahami istilah militer dan geografis di zaman bersangkutan hidup. Jika ada ketikan saya dengan format "[angka]", kode ini adalah nomor footnote atau catatan kaki. Contoh: [1] dan [25].
Semoga bermanfaat.
Khalid ibn Al-Walid
Indeks
Posting #1 sampai Posting #10 akan berisi garis besar kehidupan Khalid. Berikut ini adalah indeks yang bisa langsung diklik untuk memudahkan Agan-agan mengakses posting-posting tentang kehidupan Khalid yang lebih detail.
Posting #32 Pertempuran Walaja tahun 633 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #45 Pengepungan Damaskus tahun 635 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #69 Pertempuran Yarmuk tahun 636 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #95 Ucapan-ucapan tentang Khalid ibn Al-Walid
Posting #97 Bibliografi Buku The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleedkarya A.I. Akram
Posting #97 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 1: Sang Anak Lelaki
Posting #100 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 2: Agama Baru (Bagian I)
Posting #103 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 2: Agama Baru (Bagian II)
Posting #105 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian I)
Posting #107 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian II)
Posting #109 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian III)
Posting #120 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian IV)
Posting #123 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian V)
Posting #146 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VI)
Posting #147 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VII)
Posting #161 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian I)
Posting #162 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian II)
Posting #165 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian III)
Posting #174 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian IV)
Posting #175 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 5: Masuk Islamnya Khalid
Posting #187 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 6: Mu’tah dan Pedang Allah
Posting #191 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian I)
Posting #193 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian II)
Posting #194 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian I)
Posting #195 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian II)
Posting #198 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 9: Pengepungan Tha'if
Posting #201 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 10: Petualangan di Dawmatul Jandal
Posting #204 Bagian II: Perang Riddah - Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian I)
Posting #208 Bagian II: Perang Riddah - Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian II)
Posting #213 Bagian II: Perang Riddah - Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian I)
Posting #214 Bagian II: Perang Riddah - Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian II)
Posting #215 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian I)
Posting #218 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian II)
Posting #220 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian III)
Posting #222 Bagian II: Perang Riddah - Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian I)
Posting #224 Bagian II: Perang Riddah - Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian II)
Posting #226 Bagian II: Perang Riddah - Bab 15: Akhir Hayat Malik bin Nuwayrah
Posting #229 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian I)
Posting #235 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian II)
Posting #239 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian III)
Posting #242 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian IV)
Posting Nomor Depan > Bagian II: Perang Riddah - Bab 17: Tumbangnya Gerakan Murtad (Bagian I)
Daftar Istilah Penting
Al-Hirah
Arabia
Bizantin
Double Envelopment
Garda Gerak Cepat (Mobile Guard)
Garnisun
Ghassan
Imperium
Kavaleri
Kekhalifahan
Khalifah
Levant
Mesopotamia
Negara Vasal
Persia-Sassanid
Romawi
Syam
Garis Besar Biografi
Khālid ibn al-Walīd (Bahasa Arab: خالد بن الوليد; 592–642) juga dikenal sebagai Sayfullāh Al-Maslūl(Pedang Allah yang Terhunus), adalah seorang sahabat Muhammad, Nabi Islam. Ia terkenal karena kecakapan dan taktik militernya, menjadi komandan pasukan Madinah di bawah kepemimpinan Muhammad dan pasukan-pasukan penerusnya, Kekhalifahan Ar-Rasyidun; Abu Bakr dan Umar ibn Khattab.[1] Di bawah kepemimpinan militernya, Arab bersatu di bawah sebuah entitas politik untuk pertama kali dalam sejarah, Kekhalifahan. Ia memenangkan lebih dari seratus pertempuran, melawan pasukan-pasukan Imperium (Kekaisaran) Romawi-Bizantin, Imperium (Kekisraan) Persia-Sassanid, dan sekutu-sekutu mereka, ditambah lagi beberapa suku Arab lainnya. Prestasi strategisnya antara lain penaklukan Arab, Mesopotamia milik Persia, dan Syam milik Romawi, dalam beberapa tahun sejak 632 sampai 636. Ia juga dikenang karena kemenangan pentingnya di Yamamah, Ullays, dan Firaz, serta kesuksesan taktisnya di Walaja dan Yarmuk.[2]
Khalid ibn Al-Walid (Khalid anak Al-Walid, secara harfiah berarti Khalid anak Si yang Baru Lahir) berasal dari Suku Quraysh dari Makkah, dari sebuah klan yang pada awalnya menentang Muhammad. Ia memainkan peran vital dalam kemenangan Makkah saat Pertempuran Uhud. Ia masuk Islam dan bergabung dengan Muhammad setelah Perjanjian Hudaybiyyah, serta berpartisipasi dalam sejumlah ekspedisi militer dengannya, seperti Pertempuran Mu’tah. Setelah wafatnya Muhammad, ia memainkan peran kunci dalam komando Pasukan Madinah pimpinan Abu Bakr pada Perang Ridda, menaklukkan Arab tengah dan menundukkan suku-suku Arab. Ia merebut Kerajaan Al-Hirah yang merupakan negara vasal Persia-Sassanid, dan mengalahkan pasukan-pasukan Persia-Sassanid selama proses penaklukan Iraq (Mesopotamia). Ia lalu ditransfer ke front pertempuran di barat untuk merebut Syam milik Romawi dan Kerajaan Ghassan, negara vasal Romawi. Meskipun Umar kemudian melepas jabatan Khalid dari komando tertinggi, ia tetaplah pimpinan sebenarnya dari kesatuan tempur melawan Bizantin selama fase-fase awal Perang Bizantin-Arab.[1] Di bawah komandonya, Damaskus direbut tahun 634 dan kemenangan kunci Arab atas Bizantin diraih dalam Pertempuran Yarmuk (636),[1] yang membuka jalan dalam proses penaklukan Syam (Levant). Tahun 638, pada puncak karirnya, ia diberhentikan dari ketentaraan.
(bersambung)...
Semoga bermanfaat.
Khalid ibn Al-Walid
Indeks
Posting #1 sampai Posting #10 akan berisi garis besar kehidupan Khalid. Berikut ini adalah indeks yang bisa langsung diklik untuk memudahkan Agan-agan mengakses posting-posting tentang kehidupan Khalid yang lebih detail.
Posting #32 Pertempuran Walaja tahun 633 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #45 Pengepungan Damaskus tahun 635 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #69 Pertempuran Yarmuk tahun 636 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #95 Ucapan-ucapan tentang Khalid ibn Al-Walid
Posting #97 Bibliografi Buku The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleedkarya A.I. Akram
Posting #97 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 1: Sang Anak Lelaki
Posting #100 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 2: Agama Baru (Bagian I)
Posting #103 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 2: Agama Baru (Bagian II)
Posting #105 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian I)
Posting #107 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian II)
Posting #109 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian III)
Posting #120 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian IV)
Posting #123 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian V)
Posting #146 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VI)
Posting #147 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VII)
Posting #161 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian I)
Posting #162 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian II)
Posting #165 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian III)
Posting #174 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian IV)
Posting #175 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 5: Masuk Islamnya Khalid
Posting #187 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 6: Mu’tah dan Pedang Allah
Posting #191 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian I)
Posting #193 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian II)
Posting #194 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian I)
Posting #195 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian II)
Posting #198 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 9: Pengepungan Tha'if
Posting #201 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 10: Petualangan di Dawmatul Jandal
Posting #204 Bagian II: Perang Riddah - Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian I)
Posting #208 Bagian II: Perang Riddah - Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian II)
Posting #213 Bagian II: Perang Riddah - Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian I)
Posting #214 Bagian II: Perang Riddah - Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian II)
Posting #215 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian I)
Posting #218 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian II)
Posting #220 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian III)
Posting #222 Bagian II: Perang Riddah - Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian I)
Posting #224 Bagian II: Perang Riddah - Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian II)
Posting #226 Bagian II: Perang Riddah - Bab 15: Akhir Hayat Malik bin Nuwayrah
Posting #229 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian I)
Posting #235 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian II)
Posting #239 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian III)
Posting #242 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian IV)
Posting Nomor Depan > Bagian II: Perang Riddah - Bab 17: Tumbangnya Gerakan Murtad (Bagian I)
Daftar Istilah Penting
Al-Hirah
Kerajaan yang berlokasi di Iraq Modern (Mesopotamia), negara vasal Imperium Persia-Sassanid, dengan mayoritas warga adalah orang Arab dari suku Bani Lakhm.
Arabia
Wilayah yang terbentang dari Syam dan Mesopotamia sampai Jazirah Arab, dihuni oleh mayoritas orang Arab serta minoritas orang Israel, Eropa (Romawi), Persia, dan Ethiopia.
Bizantin
Imperium superpowerlanjutan dari Romawi, sering juga dikenal sebagai Imperium Romawi Timur. Bizantin beribukota di Konstantinopel (Istanbul Modern) dan menjadi satu-satunya penerus Romawi sejak dihancurkannya Imperium Romawi Barat (beribukota di Roma) pada Abad ke-4. Warga negaranya menganggap mereka adalah warga Romawi dan warga negara lain di masa itu pun memanggil mereka sebagai orang-orang Romawi. Di masa Khalid, wilayah kekuasaan mereka membentang dari daerah Balkan di Eropa, sebagian Libya dan Mesir di Eropa, serta Jazirah Turki, Armenia, dan Levant (Syam) di Asia.
Double Envelopment
Sebuah manuver lapangan dalam pertempuran di mana sebuah pasukan berupaya untuk melingkupi musuh sehingga dapat menyerangnya dari segala arah. Biasanya, pertempuran akan dimulai dalam garis pembeda yang jelas antara dua pasukan yang bertempur. Dengan memanfaatkan kondisi maupun penggunaan taktik tertentu, pasukan musuh dapat diserang dari samping dan belakang. Contoh penggunaan taktik ini ada pada Pertempuran Cannae dan Pertempuran Walaja.
Garda Gerak Cepat (Mobile Guard)
Kavaleri ringan pasukan Muslim awal, dibangun oleh Khalid ibn Al-Walid dengan tujuan menjadi penyeimbang kelemahan infantri Muslim yang berbaju baja ringan. Gerakannya cepat, menerapkan taktik hit and run, efektif melawan kavaleri berat, dan sering menjadi garda depan pendahulu pasukan utama. Khalid dipecat saat menjabat sebagai komandan garda khusus ini. Penggantinya adalah Dhirar ibn Azwar.
Garnisun
Pasukan yang berkedudukan atau memiliki tempat pertahanan yang tetap, misalnya dalam benteng atau sebuah kota.
Ghassan
Kerajaan yang berlokasi di Syam Selatan, negara vasal Imperium Bizantin. Mayoritas warga negaranya adalah orang Arab beragama Kristen dari suku Bani Ghassan.
Imperium
Sebuah negara yang terdiri atas sekelompok bangsa, memiliki sebuah wilayah geografi yang luas, dipimpin oleh seorang kaisar atau sekelompok elit.
Kavaleri
Secara harfiah berarti pasukan berkuda, namun dalam prakteknya di masa kuno, unta dan gajah juga digunakan. Dalam peperangan modern, pasukan berkendara lapis baja maupun bukan juga termasuk dalam kavaleri. Di masa Khalid, kavaleri Bizantin dan Persia merupakan kavaleri berat, memakai baju besi tebal (termasuk kudanya) dan menutupi hampir seluruh tubuh. Kavaleri Muslim awal merupakan kavaleri ringan, berbaju baja dan bersenjata ringan.
Kekhalifahan
Sebuah sistem pemerintahan berbasis Islam yang menunjukkan kesatuan politik ummat Islam. Sistem ini dapat berupa sistem musyawarah perwakilan ataupun monarki konstitusional, dengan konstitusinya berupa Syariah. Karena dalam kekhalifahan ada kesatuan ummat, kekhalifahan selalu melingkupi banyak bangsa sehingga bisa dikategorikan sebagai bentuk Imperium.
Khalifah
Kepala negara dan pemerintahan sistem negara kekhalifahan, dapat dipilih oleh khalifah sebelumnya, ditunjuk oleh komite terpilih, dipilih langsung oleh rakyat, atau diturunkan pada keluarga khalifah sebelumnya.
Levant
Disebut juga Syam, daerah yang meliputi pantai timur Laut Mediterania, antara Anatolia (Jazirah Turki Modern) dan Mesir. Daerah ini meliputi wilayah-wilayah negara modern: Suriah, Lebanon, Yordania, Palestina (Otoritas maupun yang dijajah oleh Israel), Siprus, Provinsi Hatay (Turki Tenggara) dan sebagian wilayah Iraq-Jazirah Sinai.
Mesopotamia
Daerah yang meliputi daerah aliran Sungai Tigris dan Eufrat, yaitu wilayah-wilayah modern: Iraq, sedikit daerah timur laut Suriah, sebagian Turki Tenggara, dan sebagian kecil barat daya Iran.
Negara Vasal
Negara yang tunduk kepada entitas politik lain yang lebih besar dan biasanya lebih kuat, tetapi diberi otoritas untuk mengurus negaranya sendiri.
Persia-Sassanid
Imperium superpowerdi Asia Barat pada Abad ke-4 sampai Abad ke-7, juga disebut oleh warga negaranya sendiri sebagai Ērānshahr atau Ērān, berdiri tahun 224 dan diruntuhkan oleh Kekhalifahan Islam pada tahun 651. Saat Khalid hidup, imperium ini menguasai wilayah modern Iran, sebagian Asia Tengah dan barat laut India, serta sebagian pantai timur dan selatan Jazirah Arab.
Romawi
Lihat Bizantin.
Syam
Lihat Levant.
Garis Besar Biografi
Khālid ibn al-Walīd (Bahasa Arab: خالد بن الوليد; 592–642) juga dikenal sebagai Sayfullāh Al-Maslūl(Pedang Allah yang Terhunus), adalah seorang sahabat Muhammad, Nabi Islam. Ia terkenal karena kecakapan dan taktik militernya, menjadi komandan pasukan Madinah di bawah kepemimpinan Muhammad dan pasukan-pasukan penerusnya, Kekhalifahan Ar-Rasyidun; Abu Bakr dan Umar ibn Khattab.[1] Di bawah kepemimpinan militernya, Arab bersatu di bawah sebuah entitas politik untuk pertama kali dalam sejarah, Kekhalifahan. Ia memenangkan lebih dari seratus pertempuran, melawan pasukan-pasukan Imperium (Kekaisaran) Romawi-Bizantin, Imperium (Kekisraan) Persia-Sassanid, dan sekutu-sekutu mereka, ditambah lagi beberapa suku Arab lainnya. Prestasi strategisnya antara lain penaklukan Arab, Mesopotamia milik Persia, dan Syam milik Romawi, dalam beberapa tahun sejak 632 sampai 636. Ia juga dikenang karena kemenangan pentingnya di Yamamah, Ullays, dan Firaz, serta kesuksesan taktisnya di Walaja dan Yarmuk.[2]
Khalid ibn Al-Walid (Khalid anak Al-Walid, secara harfiah berarti Khalid anak Si yang Baru Lahir) berasal dari Suku Quraysh dari Makkah, dari sebuah klan yang pada awalnya menentang Muhammad. Ia memainkan peran vital dalam kemenangan Makkah saat Pertempuran Uhud. Ia masuk Islam dan bergabung dengan Muhammad setelah Perjanjian Hudaybiyyah, serta berpartisipasi dalam sejumlah ekspedisi militer dengannya, seperti Pertempuran Mu’tah. Setelah wafatnya Muhammad, ia memainkan peran kunci dalam komando Pasukan Madinah pimpinan Abu Bakr pada Perang Ridda, menaklukkan Arab tengah dan menundukkan suku-suku Arab. Ia merebut Kerajaan Al-Hirah yang merupakan negara vasal Persia-Sassanid, dan mengalahkan pasukan-pasukan Persia-Sassanid selama proses penaklukan Iraq (Mesopotamia). Ia lalu ditransfer ke front pertempuran di barat untuk merebut Syam milik Romawi dan Kerajaan Ghassan, negara vasal Romawi. Meskipun Umar kemudian melepas jabatan Khalid dari komando tertinggi, ia tetaplah pimpinan sebenarnya dari kesatuan tempur melawan Bizantin selama fase-fase awal Perang Bizantin-Arab.[1] Di bawah komandonya, Damaskus direbut tahun 634 dan kemenangan kunci Arab atas Bizantin diraih dalam Pertempuran Yarmuk (636),[1] yang membuka jalan dalam proses penaklukan Syam (Levant). Tahun 638, pada puncak karirnya, ia diberhentikan dari ketentaraan.
(bersambung)...
Diubah oleh plonard 16-08-2016 13:52
0
76.6K
287
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Sejarah & Xenology
6.6KThread•11.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
plonard
#167
Terjemahan dari bahasa asli, Bahasa Inggris. Ebook dapat diakses di:
The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleed
Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian III)
(Halaman 7)
Nabi memutuskan untuk menggunakan diplomasi untuk mencapai hasil yang tidak mungkin diperoleh dengan kekuatan senjata. Ia mulai melakukan negosiasi rahasia dengan 'Uyaynah, komandan Pasukan Ghathfan. ('Uyaynah adalah seorang yang berani dan berkepribadian sederhana. Ia adalah laki-laki “bermata satu” yang mempunyai otot yang “lebih” dibanding otaknya, ia akan mendapatkan julukan “Si Bodoh yang Menurut” dari nabi [1]). Tujuan dari negosiasi ini adalah menciptakan perpecahan antara dua kekuatan besar sekutu, yaitu Ghathfan dan Quraysy. Caranya adalah membuat Ghathfan mundur dari pengepungan. Jika hal ini berhasil, suku-suku kecil lainnya juga akan menarik diri dari pengepungan; jika pun tidak, hilangnya 2.000 Pasukan Ghathfan akan mengurangi kekuatan Sekutu ke angka yang masih mungkin untuk diatasi. Aksi militer akan dapat diambil untuk mengusir Sekutu dari Madinah.
“Jika Ghathfan keluar dari persekutuan dan pulang ke perkampungan mereka, mereka akan diberikan sepertiga dari hasil panen kurma Madinah.” Pernyataan ini adalah tawaran yang diberikan oleh Nabi. Tawaran ini diterima oleh 'Uyaynah yang saat itu sudah kehilangan harapan untuk meraih kemenangan secara militer. Kesepakatan dicapai, tetapi sebelum ditandatangani dan disegel (yang tanpanya tidak akan menjadi perjanjian mengikat), nabi memutuskan untuk menyampaikan hal ini kepada sejumlah pimpinan Muslim. Mereka protes, “Kurma!? Kaum kafir itu tidak akan menerima apapun dari kita selain pedang!”[2] Penolakan ini ternyata disuarakan oleh hampir semua pimpinan dengan sangat tegas, sampai-sampai nabi menerima protes ini dan negosiasi dibatalkan.
Kelompok Beriman yang bersikeras ini tidak dapat memahami seriusnya situasi militer yang sedang dihadapi saat itu atau intrik-intrik diplomasi yang diperlukan. Nabi paham bahwa satu-satunya solusi untuk masalah ini adalah manuver diplomatik, maka ia mulai mencari celah lainnya. Tidak lama kemudian, celah itu tampak. Di antara Pasukan Ghathfan, ada seorang laki-laki bernama Nu’aym bin Mas’ud. Ia secara diam-diam adalah seorang Muslim dan merupakan salah seorang yang berpengaruh di sukunya serta terkenal juga di tiga kekuatan utama Sekutu, yaitu Quraysy, Ghathfan, dan Yahudi Bani Quraydzah. Ia juga adalah seorang yang cerdas.
Nu’aym meninggalkan kemah Ghathfan pada suatu malam dan menyusup ke Madinah. Ia langsung mengunjungi nabi, menjelaskan situasi dirinya, dan menyatakan kesiapannya untuk melakukan apapun bagi Pasukan Muslim. “Kirim saya kemana pun Engkau mau,” kata Nu’aym [3]. Ini adalah kesempatan yang telah didoakan oleh nabi. Dalam sebuah rapat militer, nabi menjelaskan semuanya dan meletakkan kerangka-kerangka aksi yang harus Nu’aym lakukan.
Di malam itu juga, Nu’aym menyusup masuk ke perkampungan Bani Quraydzah dan mengunjungi Ka’ab. Ia merincikan situasi bahaya yang sedang mengancam Yahudi, “Situasi kalian tidak sama dengan Quraysy dan Ghathfan. Kalian punya keluarga dan rumah di sini, sementara rumah dan keluarga mereka berada di tempat yang jauh dari Madinah. Mereka tidak memiliki hal besar yang dipertaruhkan dalam pertempuran ini. Jika mereka gagal mengalahkan Muhammad, mereka akan pulang ke kampung mereka dan meninggalkan kalian dalam kemarahan Pasukan Muslim. Kaliah jangan melakukan apapun sebelum mereka memberikan keluarga dekat mereka sebagai tawanan kalian. Dengan begitu, kalian punya jaminan untuk percaya dengan mereka.”
Nu’aym kemudian mengunjungi kemah Quraysy dan berbicara dengan Abu Sufyan yang sangat ia kenal. Abu Sufyan juga sangat menaruh respek pada Nu’aym. Nu’aym berkata, “Kalian telah membuat perjanjian dengan kelompok yang licik dan tidak bisa diandalkan. Aku baru saja mendengar kabar dari temanku di Madinah bahwa Bani Quraydzah sudah bertaubat dan memperbarui kembali perjanjian mereka dengan Muhammad. Untuk membuktikan kesetiaan mereka pada Muhammad, mereka akan meminta kalian untuk menyerahkan seorang tawanan dari keluarga dekat kalian, yang nantinya akan mereka serahkan kepada Muhammad yang akan membunuhnya. Yahudi-Yahudi itu akan secara terbuka menjadi sekutu Muhammad dan melakukan serangan serentak melawan kita. Dalam situasi apapun, jangan kalian berikan tawanan pada Yahudi!”
Nu’aym kemudian kembali ke kemah Ghathfan dan memberikan informasi yang sama. Di saat Nu’aym selesai, benih-benih keraguan dan perpecahan tertanam kuat dalam sanubari Sekutu.
Ketidakpastian mulai menutupi pikiran Abu Sufyan yang pada awalnya menerima begitu saja persekutuan dengan para Yahudi. Ia memutuskan untuk mempercepat pertempuran dan memberikan ujian kepercayaan kepada Yahudi. Pada malam hari Jumat, 14 Maret, setelah kunjungan Nu’aym, Abu Sufyan mengirim seorang utusan yang dipimpin oleh Ikrimah menuju perkampungan Bani Quraydzah. Ikrimah menjelaskan kepada Yahudi Bani Quraydzah, “Situasi semakin mencekam. Kita tidak bisa membiarkannya lebih lama lagi. Kita akan serang mereka besok. Kalian telah berjanji dengan kami untuk melawan Muhammad. Kalian harus bergabung dalam serangan serentak besok dari kampung kalian.”
Catatan Kaki Halaman 7
[1] Ibnu Qutaybah: hlm. 303.
[2] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 233.
[3] Ibid: Vol. 2, hlm. 229.
__________________________________________________________________________
(Halaman 8)
Pimpinan Yahudi yang menerima mereka bergumam dan berdiskusi antara mereka sendiri, kemudian mereka mengeluarkan pernyataan mereka, “Posisi kami lebih sulit dibandingkan kalian. Jika kalian gagal, kalian akan meninggalkan kami, dan kami sendiri yang akan menghadapi kemurkaan Muhammad. Untuk memastikan bahwa hal ini tidak terjadi, kalian harus memberikan tawanan dari keluarga terbaik kalian yang akan tinggal bersama kami sampai pertempuran mencapai hasil yang memuaskan. Bagaimana pun juga, besok adalah hari Sabtu dan Yahudi dilarang untuk bertempur di hari Sabbath. Mereka yang melanggar hari Sabbath akan dijadikan babi dan kera oleh Allah.” Ikrimah pulang dengan tangan hampa. Abu Sufyan memutuskan untuk melakukan sekali percobaan lagi untuk membujuk Yahudi bergabung dalam pertempuran besok. Ia mengirim seorang delegasi lagi kepada Ka’ab, tetapi pendirian dua pihak tetap sama:
Quraysy: Tidak ada tawanan; serangan serentak besok!
Yahudi: Tidak ada pertempuran di hari Sabbath; apapun kondisinya, kirim tawanan dulu!
Maka tiga kelompok ini (Quraysy, Ghathfan, dan Bani Quraydzah-pent) berkata, “Nu’aym benar. Ia sungguh bijaksana dengan sarannya kepada kita!” [1] Nu’aym melakukan tugasnya dengan baik. Bani Quraydzah melepaskan diri dari persekutuan.
Keesokan paginya, Sabtu, 15 Maret, Khalid dan Ikrimah, yang sudah bosan dengan menunggu dan tidak ada harapan akan aksi konkret dari Sekutu, memutuskan untuk mengambil inisiatif. Mereka begerak dengan kavalerinya di daerah barat Zubab. Di sana, parit tidak selebar bagian lainnya, kuda bisa melompatinya atau orang-orang bisa turun dan lebih cepat menyeberang. Lokasi ini tepat berada di depan kemah Pasukan Muslim di kaki Bukit Sil’a.
Kelompok Ikrimah yang pertama maju dan sekelompok kecil dari mereka melompati parit. Ada tujuh orang di antara mereka, termasuk Ikrimah dan seorang laki-laki besar dengan kuda besarnya di depan. Mereka mulai menyurvei Pasukan Muslim yang terkejut dengan kemunculan tiba-tiba Pasukan Quraysy. Panggung sekarang telah siap untuk salah satu duel termasyhur dalam sejarah. Karena duel ini sangat spesial dan tidak seperti duel biasanya, duel ini akan dideskripsikan dengan detail.
Lelaki besar itu sangat tinggi dan bertubuh kekar, sangat terlihat bedanya jika berdiri dengan rekannya yang lain. Sambil duduk di atas kudanya, ia tampak begitu berbeda. Besar, kuat, dan tanpa rasa takut, ia memiliki wajah yang garang – sebuah aspek yang menambah percaya diri rekannya, tetapi memberikan rasa takut bagi musuhnya.
Ia bernama ‘Amr bin Abdu Wud. (Kita akan menyebutnya sebagai Si Raksasa!) Sambil duduk di atas kudanya, ‘Amr menatap tajam ke barisan Pasukan Muslim.
Tiba-tiba, Si Raksasa mengangkat kepalanya dan berteriak, “Aku ‘Amr bin Abdu Wud. Aku pendekar terkuat di Arab. Aku tidak terkalahkan. Aku…. Aku….” Ia menilai dirinya sangat hebat. “Adakah di antara kalian yang berani berhadapan denganku dalam duel?”
Tantangan ini tidak dijawab oleh Pasukan Muslim. Mereka melihat satu sama lain. Mereka melihat kepada Nabi yang mulia. Tetapi tidak ada seorang pun yang maju karena Si Raksasa terkenal akan kekuatan dan keterampilan bertarungnya, dan meskipun pernah terluka beberapa kali, ia tidak pernah kalah dalam duel, tidak pernah mengampuni musuhnya. Tersiar kabar bahwa ia setara dengan 500 prajurit berkuda; ia bisa mengangkat kuda dan membantingnya; ia bisa mengangkat anak sapi dengan tangan kirinya dan menggunakannya sebagai perisai dalam bertarung; ia bisa… dan lain-lain. Kabar berlebihan ini tidak ada habisnya. Imajinasi orang Arab saat itu menciptakan legenda bahwa dirinya tidak terkalahkan.
Pasukan Muslim tetap diam dan Si Raksasa tertawa mengejek, yang kemudian diikuti oleh rekan-rekan Quraysy lainnya yang ikut dalam operasi itu.
Catatan Kaki Halaman 8
[1] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 230-231; Ibnu Sa’d: hlm. 574.
__________________________________________________________________________
(Halaman 9)
“Jadi, tidak ada seorang lelaki pun di antara kalian yang berani? Mana Islam kalian? Mana Nabi kalian?” Mendengar ejekan yang menghina ini, ‘Ali maju, mendekati Sang Nabi Suci dan meminta izin untuk menghadapi serta membungkam mulut penantang Quraysy ini. Nabi menjawab, “Duduklah. Dia itu ‘Amr!” ‘Ali kembali ke posisinya.
Tertawaan keras, ejekan, dan tantangan terus disuarakan oleh Quraysy. ‘Ali maju lagi mendekati nabi, tetapi nabi belum mengizinkan. Tantangan ‘Amr semakin keras dan semakin menusuk, “Mana Firdaus kalian? Yang kalian bilang siapapun yang mati dalam pertempuran akan memasukinya? Tidak bisakah kalian mengirim seseorang untuk bertarung denganku?”
Untuk ketiga kalinya, ‘Ali meminta izin pada nabi. Nabi melihat mata ‘Ali yang membara dan tidak bisa ditahan lagi. Nabi melihat pada ‘Ali dengan rasa sayang karena ‘Ali lebih dekat padanya dibanding orang lain. Nabi membuka sorbannya dan melilitkannya ke kepala ‘Ali. Ia lepas pedangnya dan ia ikatkan di pinggang ‘Ali. Nabi berdo’a, “Ya Rabbi! Tolonglah ia!”[1]
Pedang yang nabi berikan pada ‘Ali adalah bekas milik seorang kafir yang bernama Munabbah bin Hajjaj. Ia terbunuh dalam Pertempuran Badr dan pedangnya menjadi bagian dari harta rampasan perang. Nabi mengambil pedang itu sebagai bagiannya. Sekarang di tangan ‘Ali, pedang ini akan menjadi pedang paling terkenal dalam Islam, membunuh begitu banyak musuh dalam duel dibanding pedang lainnya dalam sejarah. Pedang tersebut bernama Dzulfiqar.
‘Ali dengan sigap mengajak sekelompok kecil Pasukan Muslim dan maju menghadapi kelompok Quraysy. Mereka berhenti agak sedikit jauh dari kelompok Si Raksasa dan ‘Ali maju sendirian sampai berada di jarak duel dengan si penantang. Si Raksasa sudah kenal baik dengan ‘Ali. Ia adalah teman Abu Thalib, ayah ‘Ali. Ia tersenyum pada ‘Ali seperti halnya seorang ayah tersenyum dengan anaknya.
“Wahai ‘Amr!” sapa ‘Ali. “Aku dengar, jika seseorang dari Quraysy menawarkan dua hal kepadamu, engkau selalu menerima salah satu darinya.”
“Benar,” jawab ‘Amr.
‘Ali melanjutkan, “Kalau begitu, aku menawarkan dua hal kepadamu. Tawaran pertama: terimalah Allah, Rasul-Nya, dan Islam.”
“Aku tidak membutuhkan ketiganya,” jawab ‘Amr lagi.
“Kalau begitu, turunlah dari kudamu dan bertarunglah denganku,” lanjut ‘Ali.
“Mengapa, wahai anak saudaraku? Aku tidak ingin membunuhmu.”
‘Ali menjawab, “Tetapi aku sangat berkeinginan untuk membunuhmu!” [2]
Wajah Si Raksasa memerah karena amarah. Sambil berteriak marah, ia meloncat turun dari kudanya dengan kegesitan yang mengejutkan jika dibandingkan dengan ukuran tubuh besarnya. Ia kekang kudanya, menghunus pedangnya, dan mengejar ‘Ali. Pertarungan dimulai.
‘Amr menyabetkan pedangnya ke arah ‘Ali berkali-kali, tetapi ‘Ali tidak terluka. Berkali-kali ‘Ali mengelak atau menangkis dengan pedang dan perisainya. Akhirnya, Si Raksasa bergerak mundur, tersengal-sengal dan tercengang. Dia tidak habis pikir bagaimana hal ini bisa terjadi. Belum pernah sebelum itu ada orang yang bertahan melawannya selama itu. Dan sekarang, ‘Ali melihat musuhnya seakan-akan ia sedang bermain-main!
Kejadian berikutnya berlangsung sangat cepat sehingga tidak seorang pun yang bisa mengikuti, baik dari pihak Muslim maupun Quraysy, bahkan Si Raksasa sendiri. ‘Ali meletakkan pedang dan perisainya; ia meloncat dengan sangat cepat dan kedua tangannya mencengkeram leher Si Raksasa; dengan tendangan gulat, ia menjatuhkan Si Raksasa. Si Raksasa pun jatuh terbaring di atas punggungnya dan Ali duduk di atas dadanya. Kedua pasukan menarik napas dan bergumam, kemudian menahan napas mereka.
Catatan Kaki Halaman 9
[1] Ibnu Sa’ad: hlm. 572.
[1] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 225.
The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleed
Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian III)
(Halaman 7)
Nabi memutuskan untuk menggunakan diplomasi untuk mencapai hasil yang tidak mungkin diperoleh dengan kekuatan senjata. Ia mulai melakukan negosiasi rahasia dengan 'Uyaynah, komandan Pasukan Ghathfan. ('Uyaynah adalah seorang yang berani dan berkepribadian sederhana. Ia adalah laki-laki “bermata satu” yang mempunyai otot yang “lebih” dibanding otaknya, ia akan mendapatkan julukan “Si Bodoh yang Menurut” dari nabi [1]). Tujuan dari negosiasi ini adalah menciptakan perpecahan antara dua kekuatan besar sekutu, yaitu Ghathfan dan Quraysy. Caranya adalah membuat Ghathfan mundur dari pengepungan. Jika hal ini berhasil, suku-suku kecil lainnya juga akan menarik diri dari pengepungan; jika pun tidak, hilangnya 2.000 Pasukan Ghathfan akan mengurangi kekuatan Sekutu ke angka yang masih mungkin untuk diatasi. Aksi militer akan dapat diambil untuk mengusir Sekutu dari Madinah.
“Jika Ghathfan keluar dari persekutuan dan pulang ke perkampungan mereka, mereka akan diberikan sepertiga dari hasil panen kurma Madinah.” Pernyataan ini adalah tawaran yang diberikan oleh Nabi. Tawaran ini diterima oleh 'Uyaynah yang saat itu sudah kehilangan harapan untuk meraih kemenangan secara militer. Kesepakatan dicapai, tetapi sebelum ditandatangani dan disegel (yang tanpanya tidak akan menjadi perjanjian mengikat), nabi memutuskan untuk menyampaikan hal ini kepada sejumlah pimpinan Muslim. Mereka protes, “Kurma!? Kaum kafir itu tidak akan menerima apapun dari kita selain pedang!”[2] Penolakan ini ternyata disuarakan oleh hampir semua pimpinan dengan sangat tegas, sampai-sampai nabi menerima protes ini dan negosiasi dibatalkan.
Kelompok Beriman yang bersikeras ini tidak dapat memahami seriusnya situasi militer yang sedang dihadapi saat itu atau intrik-intrik diplomasi yang diperlukan. Nabi paham bahwa satu-satunya solusi untuk masalah ini adalah manuver diplomatik, maka ia mulai mencari celah lainnya. Tidak lama kemudian, celah itu tampak. Di antara Pasukan Ghathfan, ada seorang laki-laki bernama Nu’aym bin Mas’ud. Ia secara diam-diam adalah seorang Muslim dan merupakan salah seorang yang berpengaruh di sukunya serta terkenal juga di tiga kekuatan utama Sekutu, yaitu Quraysy, Ghathfan, dan Yahudi Bani Quraydzah. Ia juga adalah seorang yang cerdas.
Nu’aym meninggalkan kemah Ghathfan pada suatu malam dan menyusup ke Madinah. Ia langsung mengunjungi nabi, menjelaskan situasi dirinya, dan menyatakan kesiapannya untuk melakukan apapun bagi Pasukan Muslim. “Kirim saya kemana pun Engkau mau,” kata Nu’aym [3]. Ini adalah kesempatan yang telah didoakan oleh nabi. Dalam sebuah rapat militer, nabi menjelaskan semuanya dan meletakkan kerangka-kerangka aksi yang harus Nu’aym lakukan.
Di malam itu juga, Nu’aym menyusup masuk ke perkampungan Bani Quraydzah dan mengunjungi Ka’ab. Ia merincikan situasi bahaya yang sedang mengancam Yahudi, “Situasi kalian tidak sama dengan Quraysy dan Ghathfan. Kalian punya keluarga dan rumah di sini, sementara rumah dan keluarga mereka berada di tempat yang jauh dari Madinah. Mereka tidak memiliki hal besar yang dipertaruhkan dalam pertempuran ini. Jika mereka gagal mengalahkan Muhammad, mereka akan pulang ke kampung mereka dan meninggalkan kalian dalam kemarahan Pasukan Muslim. Kaliah jangan melakukan apapun sebelum mereka memberikan keluarga dekat mereka sebagai tawanan kalian. Dengan begitu, kalian punya jaminan untuk percaya dengan mereka.”
Nu’aym kemudian mengunjungi kemah Quraysy dan berbicara dengan Abu Sufyan yang sangat ia kenal. Abu Sufyan juga sangat menaruh respek pada Nu’aym. Nu’aym berkata, “Kalian telah membuat perjanjian dengan kelompok yang licik dan tidak bisa diandalkan. Aku baru saja mendengar kabar dari temanku di Madinah bahwa Bani Quraydzah sudah bertaubat dan memperbarui kembali perjanjian mereka dengan Muhammad. Untuk membuktikan kesetiaan mereka pada Muhammad, mereka akan meminta kalian untuk menyerahkan seorang tawanan dari keluarga dekat kalian, yang nantinya akan mereka serahkan kepada Muhammad yang akan membunuhnya. Yahudi-Yahudi itu akan secara terbuka menjadi sekutu Muhammad dan melakukan serangan serentak melawan kita. Dalam situasi apapun, jangan kalian berikan tawanan pada Yahudi!”
Nu’aym kemudian kembali ke kemah Ghathfan dan memberikan informasi yang sama. Di saat Nu’aym selesai, benih-benih keraguan dan perpecahan tertanam kuat dalam sanubari Sekutu.
Ketidakpastian mulai menutupi pikiran Abu Sufyan yang pada awalnya menerima begitu saja persekutuan dengan para Yahudi. Ia memutuskan untuk mempercepat pertempuran dan memberikan ujian kepercayaan kepada Yahudi. Pada malam hari Jumat, 14 Maret, setelah kunjungan Nu’aym, Abu Sufyan mengirim seorang utusan yang dipimpin oleh Ikrimah menuju perkampungan Bani Quraydzah. Ikrimah menjelaskan kepada Yahudi Bani Quraydzah, “Situasi semakin mencekam. Kita tidak bisa membiarkannya lebih lama lagi. Kita akan serang mereka besok. Kalian telah berjanji dengan kami untuk melawan Muhammad. Kalian harus bergabung dalam serangan serentak besok dari kampung kalian.”
Catatan Kaki Halaman 7
[1] Ibnu Qutaybah: hlm. 303.
[2] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 233.
[3] Ibid: Vol. 2, hlm. 229.
__________________________________________________________________________
(Halaman 8)
Pimpinan Yahudi yang menerima mereka bergumam dan berdiskusi antara mereka sendiri, kemudian mereka mengeluarkan pernyataan mereka, “Posisi kami lebih sulit dibandingkan kalian. Jika kalian gagal, kalian akan meninggalkan kami, dan kami sendiri yang akan menghadapi kemurkaan Muhammad. Untuk memastikan bahwa hal ini tidak terjadi, kalian harus memberikan tawanan dari keluarga terbaik kalian yang akan tinggal bersama kami sampai pertempuran mencapai hasil yang memuaskan. Bagaimana pun juga, besok adalah hari Sabtu dan Yahudi dilarang untuk bertempur di hari Sabbath. Mereka yang melanggar hari Sabbath akan dijadikan babi dan kera oleh Allah.” Ikrimah pulang dengan tangan hampa. Abu Sufyan memutuskan untuk melakukan sekali percobaan lagi untuk membujuk Yahudi bergabung dalam pertempuran besok. Ia mengirim seorang delegasi lagi kepada Ka’ab, tetapi pendirian dua pihak tetap sama:
Quraysy: Tidak ada tawanan; serangan serentak besok!
Yahudi: Tidak ada pertempuran di hari Sabbath; apapun kondisinya, kirim tawanan dulu!
Maka tiga kelompok ini (Quraysy, Ghathfan, dan Bani Quraydzah-pent) berkata, “Nu’aym benar. Ia sungguh bijaksana dengan sarannya kepada kita!” [1] Nu’aym melakukan tugasnya dengan baik. Bani Quraydzah melepaskan diri dari persekutuan.
Keesokan paginya, Sabtu, 15 Maret, Khalid dan Ikrimah, yang sudah bosan dengan menunggu dan tidak ada harapan akan aksi konkret dari Sekutu, memutuskan untuk mengambil inisiatif. Mereka begerak dengan kavalerinya di daerah barat Zubab. Di sana, parit tidak selebar bagian lainnya, kuda bisa melompatinya atau orang-orang bisa turun dan lebih cepat menyeberang. Lokasi ini tepat berada di depan kemah Pasukan Muslim di kaki Bukit Sil’a.
Kelompok Ikrimah yang pertama maju dan sekelompok kecil dari mereka melompati parit. Ada tujuh orang di antara mereka, termasuk Ikrimah dan seorang laki-laki besar dengan kuda besarnya di depan. Mereka mulai menyurvei Pasukan Muslim yang terkejut dengan kemunculan tiba-tiba Pasukan Quraysy. Panggung sekarang telah siap untuk salah satu duel termasyhur dalam sejarah. Karena duel ini sangat spesial dan tidak seperti duel biasanya, duel ini akan dideskripsikan dengan detail.
Lelaki besar itu sangat tinggi dan bertubuh kekar, sangat terlihat bedanya jika berdiri dengan rekannya yang lain. Sambil duduk di atas kudanya, ia tampak begitu berbeda. Besar, kuat, dan tanpa rasa takut, ia memiliki wajah yang garang – sebuah aspek yang menambah percaya diri rekannya, tetapi memberikan rasa takut bagi musuhnya.
Ia bernama ‘Amr bin Abdu Wud. (Kita akan menyebutnya sebagai Si Raksasa!) Sambil duduk di atas kudanya, ‘Amr menatap tajam ke barisan Pasukan Muslim.
Tiba-tiba, Si Raksasa mengangkat kepalanya dan berteriak, “Aku ‘Amr bin Abdu Wud. Aku pendekar terkuat di Arab. Aku tidak terkalahkan. Aku…. Aku….” Ia menilai dirinya sangat hebat. “Adakah di antara kalian yang berani berhadapan denganku dalam duel?”
Tantangan ini tidak dijawab oleh Pasukan Muslim. Mereka melihat satu sama lain. Mereka melihat kepada Nabi yang mulia. Tetapi tidak ada seorang pun yang maju karena Si Raksasa terkenal akan kekuatan dan keterampilan bertarungnya, dan meskipun pernah terluka beberapa kali, ia tidak pernah kalah dalam duel, tidak pernah mengampuni musuhnya. Tersiar kabar bahwa ia setara dengan 500 prajurit berkuda; ia bisa mengangkat kuda dan membantingnya; ia bisa mengangkat anak sapi dengan tangan kirinya dan menggunakannya sebagai perisai dalam bertarung; ia bisa… dan lain-lain. Kabar berlebihan ini tidak ada habisnya. Imajinasi orang Arab saat itu menciptakan legenda bahwa dirinya tidak terkalahkan.
Pasukan Muslim tetap diam dan Si Raksasa tertawa mengejek, yang kemudian diikuti oleh rekan-rekan Quraysy lainnya yang ikut dalam operasi itu.
Catatan Kaki Halaman 8
[1] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 230-231; Ibnu Sa’d: hlm. 574.
__________________________________________________________________________
(Halaman 9)
“Jadi, tidak ada seorang lelaki pun di antara kalian yang berani? Mana Islam kalian? Mana Nabi kalian?” Mendengar ejekan yang menghina ini, ‘Ali maju, mendekati Sang Nabi Suci dan meminta izin untuk menghadapi serta membungkam mulut penantang Quraysy ini. Nabi menjawab, “Duduklah. Dia itu ‘Amr!” ‘Ali kembali ke posisinya.
Tertawaan keras, ejekan, dan tantangan terus disuarakan oleh Quraysy. ‘Ali maju lagi mendekati nabi, tetapi nabi belum mengizinkan. Tantangan ‘Amr semakin keras dan semakin menusuk, “Mana Firdaus kalian? Yang kalian bilang siapapun yang mati dalam pertempuran akan memasukinya? Tidak bisakah kalian mengirim seseorang untuk bertarung denganku?”
Untuk ketiga kalinya, ‘Ali meminta izin pada nabi. Nabi melihat mata ‘Ali yang membara dan tidak bisa ditahan lagi. Nabi melihat pada ‘Ali dengan rasa sayang karena ‘Ali lebih dekat padanya dibanding orang lain. Nabi membuka sorbannya dan melilitkannya ke kepala ‘Ali. Ia lepas pedangnya dan ia ikatkan di pinggang ‘Ali. Nabi berdo’a, “Ya Rabbi! Tolonglah ia!”[1]
Pedang yang nabi berikan pada ‘Ali adalah bekas milik seorang kafir yang bernama Munabbah bin Hajjaj. Ia terbunuh dalam Pertempuran Badr dan pedangnya menjadi bagian dari harta rampasan perang. Nabi mengambil pedang itu sebagai bagiannya. Sekarang di tangan ‘Ali, pedang ini akan menjadi pedang paling terkenal dalam Islam, membunuh begitu banyak musuh dalam duel dibanding pedang lainnya dalam sejarah. Pedang tersebut bernama Dzulfiqar.
‘Ali dengan sigap mengajak sekelompok kecil Pasukan Muslim dan maju menghadapi kelompok Quraysy. Mereka berhenti agak sedikit jauh dari kelompok Si Raksasa dan ‘Ali maju sendirian sampai berada di jarak duel dengan si penantang. Si Raksasa sudah kenal baik dengan ‘Ali. Ia adalah teman Abu Thalib, ayah ‘Ali. Ia tersenyum pada ‘Ali seperti halnya seorang ayah tersenyum dengan anaknya.
“Wahai ‘Amr!” sapa ‘Ali. “Aku dengar, jika seseorang dari Quraysy menawarkan dua hal kepadamu, engkau selalu menerima salah satu darinya.”
“Benar,” jawab ‘Amr.
‘Ali melanjutkan, “Kalau begitu, aku menawarkan dua hal kepadamu. Tawaran pertama: terimalah Allah, Rasul-Nya, dan Islam.”
“Aku tidak membutuhkan ketiganya,” jawab ‘Amr lagi.
“Kalau begitu, turunlah dari kudamu dan bertarunglah denganku,” lanjut ‘Ali.
“Mengapa, wahai anak saudaraku? Aku tidak ingin membunuhmu.”
‘Ali menjawab, “Tetapi aku sangat berkeinginan untuk membunuhmu!” [2]
Wajah Si Raksasa memerah karena amarah. Sambil berteriak marah, ia meloncat turun dari kudanya dengan kegesitan yang mengejutkan jika dibandingkan dengan ukuran tubuh besarnya. Ia kekang kudanya, menghunus pedangnya, dan mengejar ‘Ali. Pertarungan dimulai.
‘Amr menyabetkan pedangnya ke arah ‘Ali berkali-kali, tetapi ‘Ali tidak terluka. Berkali-kali ‘Ali mengelak atau menangkis dengan pedang dan perisainya. Akhirnya, Si Raksasa bergerak mundur, tersengal-sengal dan tercengang. Dia tidak habis pikir bagaimana hal ini bisa terjadi. Belum pernah sebelum itu ada orang yang bertahan melawannya selama itu. Dan sekarang, ‘Ali melihat musuhnya seakan-akan ia sedang bermain-main!
Kejadian berikutnya berlangsung sangat cepat sehingga tidak seorang pun yang bisa mengikuti, baik dari pihak Muslim maupun Quraysy, bahkan Si Raksasa sendiri. ‘Ali meletakkan pedang dan perisainya; ia meloncat dengan sangat cepat dan kedua tangannya mencengkeram leher Si Raksasa; dengan tendangan gulat, ia menjatuhkan Si Raksasa. Si Raksasa pun jatuh terbaring di atas punggungnya dan Ali duduk di atas dadanya. Kedua pasukan menarik napas dan bergumam, kemudian menahan napas mereka.
Catatan Kaki Halaman 9
[1] Ibnu Sa’ad: hlm. 572.
[1] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 225.
Diubah oleh plonard 25-06-2016 09:48
0