- Beranda
- Stories from the Heart
Cerita Seram Selama Mengabdi di Desa Terpencil
...
TS
suwandilam
Cerita Seram Selama Mengabdi di Desa Terpencil
INDEX
PART 1 - Perkenalan - Langsung ada di postingan ini
PART 2 - Keberangkatan
PART 3 - Tiba di Desa
PART 4 - Malam Pertama
PART 5 - Ibu Tua
PART 6 - Informasi Mengejutkan
PART 7 - Suara
PART 8 - Terkuncikah ?
PART 9 - Rumah Terang
PART 10 - Gadis Cantik Yang Kesepian
PART 11 - Tangisan
PART 12 - Pernyataan Kades
PART 13 - Terjebak
PART 14 - Pengungkapan
PART 15 - Silahturahmi Pertama
PART 16 - Tamu
PART 17 - Jalan Malam
PART 18 - Berteduh Lagi
PART 19 - Balik !!!
PART 20 - Maksud Terselubung
PART 21 - Perdebatan
PART 22 - Halusinasi ?
PART 23 - Halusinasi 2
PART 24 - Tangis dan Tawa
PART 25 - Pengejaran Amelia
PART 26 - Ngecek Lagi ?
PART 27 - Gak Hoki
PART 28 - Siapa Itu Ya ?
PART 29 - Hari Yang Tenang
PART 30 - Kebelet !
PART 31 - Bertemu Lagi !
PART 32 - Tertabrak !
PART 33 - Terror
PART 34 - Kejutan !!!
PART 35 - Terror 2
PART 36 - Terror 3
PART 37 - Lemari Cermin
PART 38 - Ngecek yuk
PART 39 - Tangisan
PART 40 - Ketukan
PART 41 - Mimpi atau Nyata
PART 42 - Penampakan
PART 43 - Haruskah Melapor ?
PART 44 - Mencari Solusi
PART 45 - Pengungkapan Misteri !
PART 46 - Pengungkapan Misteri 2
PART 47 - Pengungkapan Misteri 3
PART 48 - Pengungkapan Misteri 4
PART 49 - Sebenarnya ini apa ?!
PART 50 - Pengungkapan Lemari Cermin
PART 51 - Nenek oh Nenek
PART 52 - Konflik !
PART 53 - Kejutan
PART 54 - Bolehkah Gue Kabur ?
PART 55 - Hilang !
PART 56 - Duniaku
PART 57 - Gue Dimana?
PART 58 - SURAT
PART 59 - Suara dan Penglihatan ?
PART 60 - Masuk atau Kagak ?!
PART 61 - Aku Hilang !
PART 62 - Kembali
PART 63 - Penjelasan
PART 64 - Siksaan !
PART 65 - Ketenangan
PART 66 - Suara Aneh
PART 67 - Terjebak !
PART 68 - TOLONG GUE !
PART 69 - Kuburan (NEW UPDATE)
Cerita Seram Selama Mengabdi di Desa Terpencil - Part 1
Cerita ini merupakan fiksi, namun isi dari cerita ini sebagian diambil dari serangkaian kisah pengalaman nyata yang dialami oleh penulis dan dicampur dengan cerita fiksi yang tidak benar-benar terjadi. Beberapa kejadian memang benar terjadi dan beberapa kejadian merupakan cerita rekayasa untuk penambahan agar cerita ini menjadi lebih menarik. Semua nama tokoh, nama tempat dan lain-lain telah disamarkan guna menjaga nama baik pemilik aslinya.
Nah mari kita mulai ceritanya.
1 Februari 2015, Yap tepat pada tanggal ini saya mahasiswa jurusan ekonomi yang bernama Dony mendapatkan tawaran menarik dari kampus saya. Saya berasal dari Jakarta, kuliah di salah satu universitas swasta ternama di Jakarta dan sekarang tengah memasuki semester delapan. Menjelang memasuki semester 8 yang ku anggap bakal menjadi semester terakhir untuk perkuliahanku, Aku memiliki banyak waktu luang karena aku hanya tinggal menyelesaikan KKN dan menyusun skripsi (Itupun uda hampir kelar karena data2 skripsinya uda ada dan tinggal dimanipulasi, namun repotnya ya itu nanti minta persetujuan dosen dan revisi2 yang menjengkelkan pastinya dan bisa menghabiskan waktu cukup lama).
Sebelum tanggal 1 Feb, keseharianku cukup membosankan karena terlalu banyak waktu luang, mau memikirkan tentang KKN, tetapi aku masih galau mau KKN di mana, belum ada lokasi KKN yang asik menurutku sampai saat ini. Kebanyakan waktu luangku kuhabiskan untuk berkelana di kampus mencari info2 sputar KKN, hingga suatu waktu aku pergi ke ruangan dosen, bercerita2 dengan dosen dan terakhir sebelum pulang, aku membaca papan informasi yang ada di ruangan dosen, seketika mataku tertuju pada papan informasi yang terdapat selembaran brosur. Brosur tsb bertuliskan :
“Dicari 10 Mahasiswa/I yang berminat untuk ikut serta dalam kegiatan pembangunan desa terpencil selama 3 bulan, dana semua ditanggung oleh kampus. Diperuntukkan bagi mahasiswa/I yang berada di semester 7 ke atas.
Kriteria : Memiliki jiwa pemberani, bisa hidup mandiri, menyukai kehidupan alam desa dan ingin pengalaman seru.
Hadiah : Bagi anda yang belum menyelesaikan KKN, maka KKN dianggap selesai sehubungan dengan kegiatan ini dan mendapatkan nilai A
Bagi anda yang sedang menyelesaikan skripsi, maka nilai Skripsi anda akan langsung mendapatkan nilai A.
Silahkan isi formulir yang dapat diambil di bagian kemahasiswaan, serahkan formulir tersebut ke rektorat paling lambat tanggal 30 Januari 2015. Bagi mahasiswa/I yang kami anggap cocok untuk ikut serta dalam kegiatan pembangunan desa ini, akan kami informasikan pada tanggal 1 Februari 2015.
Mahasiwa/I akan kami pilih dari berbagai jurusan agar dapat saling melengkapi dan membuat serangkaian program untuk pembangunan desa tersebut.
Untuk informasi lebih lanjut bisa langsung datang ke rektorat.”
Wahhhh !!! Setelah membaca brosur ini, akupun kaget dan cukup tertarik untuk mengikuti kegiatan ini. Langsung kutanyakan ke bagian kemahasiswaan di fakultasku tentang formulir ini dan apakah masih ada kuota kosong untuk kegiatan pembangunan desa ini atau tidak.
Saya : “Pak ! Itu brosur di papan informasi masih berlaku kan Pak? Kira2 masih ada slot kosong utk saya ikut serta gak ?”
Dosen Kemahasiswaan : “Oh brosur itu, setahu saya itu masih terbuka untuk semua mahasiswa di universitas ini. Penutupannya kan di akhir bulan Januari ini. Kenapa? Kamu minat utk ikut ?”
Saya : “Oh jelas minat lah Pak ! KKN dan Skripsi langsung kelar dan nilainya A loh !”
Dosen : “Hehehe iya nak, Bapak juga kaget baca brosur ini, kok bisa ya rektorat langsung izinkan KKN dan Skripsi langsung dapat nilai A.”
Saya : “Loh, memangnya kenapa Pak ? Tahun2 sebelumnya belum pernah ada informasi seperti ini?”
Dosen : “Belum pernah nak. Ini informasi terbaru dan perdana yang pernah Bapak dapatkan. Belum pernah ada kegiatan seperti ini selama bapak mengajar di sini. Ya uda kamu coba apply aja deh, siapa tau kamu bisa terpilih kan, itu untuk 10 orang kapasitasnya loh, coba aja kamu ajak temanmu biar gak bosan. Siapa tau bisa masuk kalian kan, tapi nanti kepastian siapa yang berhak ikut itu jg ditentuin dari rektorat dan kemungkinan kamu dan temanmu tidak bisa lolos barengan, tapi dicoba saja, paling enggak nanti kamu bakal dapat banyak teman baru loh. Nih formulirnya.”
Saya : “Makasih pak, paling enggak saya lolos dari KKN dan Skripsi yang menyusahkan ini Pak. Hehehehe.” (Ketawa cengengesan)
Setelah mendapatkan formulir dari dosen kemahasiswaan fakultasku, Aku langsung bikin group chat via BBM untuk beberapa teman2ku yang berjumlah 4 org termasuk aku yang tentunya masih belum KKN dan Skripsi.
Saya : “Woi, Bro ! Baca nech, Kalian ndak perlu KKN dan bikin skripsi oeeee ! Ikut program ini, seru cui ngabdi di desa, hidup di alam bebas, KKN dan skripsi lgsg kelar. Dana semua ditanggung kampus ! Ikut yok, untuk semua fakultas loh!”
Rudy : “Wew serius tuh? Keknya seru juga loh ! Lu ada formulirnya?”
Victor : “Wakakaka, klo KKN dan skripsi lgsg A , gue masuk cui. Kapan kasi gue form nya ?”
Benny : “Gue ikut apply deh klo kalian semua apply ! Ya moga” aja kepilih semua kita berempat!”
Saya : “Okay, form nya kalian jemput aja ama gua di kampus ya!”
Setelah menghubungi semua teman2 gua, gua pun atur waktu ketemu mreka dan ngasihin formulir untuk mereka isi.
Tepat pada tanggal 1 Februari 2015 pagi hari, HP kami masing2 pun berdering.
Saya : “Woiii brooo ! Gue dapat sms dari rektorat nech ! Gw kepilih untuk ikut loh ! Wakakka, kalian cam mana? Lolos ?”
Rudy : “Gue kagak lolos brooooo… Suram !!!”
Victor : “Lu gak lolos Rud ? Gue lolos nech wkawkakwa, mantap Don ! Bareng2 nikmatin alam desa kita, skalian cuci mata liat cewek2 desa wakwkawka ! Benny gimana?”
Benny : “Gue gak lolos cukkk~ Kok bisa yeee… Padahal pengen banget gue nikmatin alam desa, intinya sih sebenarnya kkn dan skripsi kelar wakwakka.”
Saya : “Sabar yee yang gak lolos wkwkwk, kalian ambil masa langkau aja, barangkali tahun depan ada lagi kegiatan beginian hehehe.”
Rudy : “Taikk lu… Ya uda info2 n cerita2 ye pengalaman xan disana gimana !”
Victor : “Pasti bro ! Eh Don, nanti siang kita ke rektorat bareng deh ya !”
Saya : “Sip bro !”
Siang harinya sehabis makan siang, gue dan Victor langsung menuju ke rektorat dengan mengendarai motor kami masing2. Selama perjalanan kami saling bercerita.
Saya : “Eh bro, bosan gak ya nanti selama di desa, 3 bulan loh. Entah ada pulang or enggak ?”
Victor : “Ya kagak tau, enak sih hidup mandiri dan bebas, tapi klo 3 bulan ndak pulang ya bosan jg, kecuali di desa itu adem dan bnyk hiburan, tapi gue rasa mana bakal byk hiburan, tv, game, inet pasti ga ada or klo pun ada pasti jelek sekali.”
Saya : “Iya juga sich, tapi biarlah, lumayan kan KKN dan Skripsi bisa kelar dalam 3 bulan bersamaan. Bersabar2 aja dah, tujuan kita kan itu. Hehehe”
Victor : “Yoi Bro. Kira-kira 8 peserta lagi cowo apa cewe ya, klo cowo semua bosan juga nech. Btw entah ada yang tipe gue or gak ya, pengennya sih klo ada yg cewe yg tipe gue, bisa pdkt-an sekalian hahaha.”
Saya : “Hehehe.. Lu mah mata keranjang wakwkawka.”
Ehem, sampai lupa ngasih tau ke para pembaca, Gue dan Victor punya kriteria tipe cewe kami masing-masing. Ya moga-moga aja ada yg sesuai tipe, jadi bisa aktivitas bareng sambilan PDKT. hehehe
Polling
0 suara
Bagusnya Cerita ini memiliki Alur Panjang atau pendek ? Bagaimana isi ceritanya?
Diubah oleh suwandilam 18-09-2019 21:40
symoel08 dan 17 lainnya memberi reputasi
12
1.7M
3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
suwandilam
#3
Cerita Seram Selama Mengabdi di Desa Terpencil – Part 2
Tanggal 8 Februari 2015 pun tiba. Setelah 1 minggu persiapan berlalu, kami semua akhirnya berkumpul di bandara terkemuka di Jakarta pada pagi hari sekitar pukul 7. Kami bersepuluh bertemu di tempat yg telah dijanjikan bersama.
Victor : “Nah… Sepertinya kita semua sudah lengkap bersepuluh kan ?”
Laras : “Sudah kok. Keberangkatan kita pukul 8 nanti kan sesuai di tiket yang diberikan oleh kampus ?”
Aldi : “Ho oh.. 1 jam lagi.. Sekarang gini deh, kita bahas2 dulu yuk tentang perjalanan kita nih?”
Amelia : “Okay.”
Gue : “Loh itu cewe berempat lainnya kok ga ikut nimbrung ?” (Sambil lirik ke para cewe lain)
Kelihatannya Nadya si cewe berambut lurus sebahu dan Monica cewe blaster indo jepang yang putih dan cantik serta lumayan sexy sedang sibuk bermain HP, sedangkan Angela dan Feby sibuk mencari jajanan ringan di stand makanan yg ada di bandara.
Danu : “Ya uda biarin aja mreka, nah gini, kita kan berangkat jam 8, kemungkinan akan tiba di bandara Riau sekitaran pukul 10, perjalanan dari JKT ke RIAU lebih kurang 2 jam. Nantinya kita akan langsung dijemput oleh travel yang disediakan kampus dan butuh perjalanan 10 jam utk sampai ke lokasi.”
Laras : “Eh… itu artinya kita tiba di lokasi sekitaran jam 10 malam, ngitung-ngitung kita kan pasti break makan dan istirahat? Gak salah tuh !”
Amelia : “Iya juga ya. Uda malam banget tuh, mau nyari siapa kita di sana ? Astaga !”
Gue : (Sambil natap ke Victor) “Oi cuii, kalo nyampe nya jam 10 malam, di desa terpencil yang kita gak tau apa2, bagusnya gimana tuh ?”
Victor : (natap balik dengan tatapan kebingungan) “Entahlah bro. Jalanin aja. Gue jg masih bingung, nanti kita Tanya sama supir travel yg nganterin kita aja deh.”
Di sela-sela kami berdiskusi, tiba-tiba Angela dan Feby datang menghampiri kami membawa kan minuman kaleng.
Angela : (Ngasihin minuman ke Victor) “Ko, ini minuman kaleng, masih sejam lagi nanti kehausan.”
Victor : (Sedikit kaget dan natap ke Angela) “Eh iya iya, makasih loh Angela.”
Danu : (Sambil godain Victor dengan berbisik) “Broo.. Cantik juga nih Angela, Putih bersih, lumayan tinggi, sexy juga, baik lagi. Matanya bulat gede manis banget loh senyumannya. Hehehe
Victor : (Sambil mendorong si Danu) “Ssttt.. Jangan keras-keras… Malu gue tau !”
Feby : (Nyodorin minuman ke kami-kami lainnya) “Ini buat yang lainnya.”
Semua : “Oh thanks ya.”
Akhirnya jam pun menunjukkan pukul 8. Pengumuman dari bandara agar para penumpang segera memasuki pesawat karena pesawat sebentar lagi akan berangkat. Sesampai di dalam pesawat, kami melihat barisan tempat duduk adalah berjumlah 3 kursi untuk setiap deretnya yang artinya harus ada salah satu dari kami yg duduk terpisah. Karena yang cewe jumlahnya 6 orang, tentunya kursinya sudah pas untuk 3 – 3. Sementara karena kami cowo jumlahnya ber-4, artinya harus ada 1 orang yang duduk terpisah sendiri. Kami pun memutuskan untuk melakukan pengundian cabut kertas, 1 kertas diberikan warna merah dan 3 kertas warna putih, bagi yang mendapatkan warna merah, berarti dia harus duduk terpisah.
Danu : “Sene sene seneee… kumpul dulu, nih kita ngundi aja biar adil, pastinya yang duduk sendiri bakal bosan wakakak.”
Gue : “Oh gue jagonya cabut undian nech. Ga mgkn sial !”
Victor : “Hahahaha. Elo mah biasanya sering sial klo nyabut gini Don!”
Aldi : “Yuk..”
Sesaat setelah nyabut ~
Victor : “Gue putih cui.. Wakakkaa, gw mah emang selalu hoki klo undian gini.”
Gue : “ANJIR !!!” GUE KOK DAPAT MERAH !”
Victor : “Wkakakakak, Nasib loe lah tu!”
Akhirnya tempat duduk telah diputuskan, gue terpaksa duduk dibarisan depan sendiri, di belakang gue ada Victor, Danu dan Aldi, di belakang mereka ada Laras, Nadya dan Amelia, di belakang mereka lagi ada Angela, Monica dan Feby.
Setelah 2 jam penuh kebosanan di dalam pesawat, akhirnya kami tiba di bandara Riau yang mungkin sangat baru bagi kami. Kami semua belum pernah pergi ke Riau, sesampai di bandara kami segera muter-muter untuk nyari supir travel yang telah disediakan oleh pihak kampus. Sambilan kami menelepon, kami pun mencari kesana-sini agar lebih menghemat waktu. Tidak lama kemudian, kami bertemu dengan supir travel yang disediakan oleh kampus. Ternyata supirnya adalah seorang bapak-bapak yang kira-kira usianya sudah mendekati 40an ke atas dan bergolongan darah Jawa yang dapat kami ketahui dari gaya bicaranya yang lembut dan sopan.
Kami pun mengikuti Bapak tersebut ke mobilnya dan setelah ketemu mobilnya.
Victor : (Lihat ke mobil dan bisik ke gw) “Tuh lihat mobilnya, tipe agak panjang, dan sepertinya posisi duduknya di depan hanya bisa 2 orang buat supir dan 1 orang kita, terus belakangnya bakal 3-3-3. Wakakka artinya 1 orang dari kita yg cowo harus jadi tumbal duduk depan lagi selama 10 jam wakwakwka.”
Gue : “Hahahaha… Diem lu… Ga usah liat2 ke gw napa.. Ga bakal sial lagi gw klo soal ngundi-ngundi”
Danu : “Hehehe.. Yuk kita undi lagi seperti tadi !”
Pengundian pun berlangsung kembali ~
Aldi : “Gue putih lagi nih, artinya duduk bareng-bareng biar ga bosan hehe!”
Gue : “Ahhh BIADAB !!! KOK GUE MERAH LAGI !”
Danu dan Victor : (Ngakak terbahak-bahak) “Wkakakakaka SURAM KALI KAU BRO~! WKAKAKA”
Para cewe yang melihat Danu dan Victor tertawa begitu keras sampai kebingungan dan salah satu dari mereka pun menghampiri ~
Amelia : (Sambil ngampirin ke gw yang tampangnya lagi menyedihkan) “Kalian ngapain sih? Kok ketawa-ketawa lepas gitu?” (Sambil senyum-senyum)
Gue : (Garuk-garuk kepala) “Eh gapapa gapapa. Hehehe”
Victor : (Bisikin ke Amelia) “Diaa suram muluh klo ambil undian hahahaha”
Gue : (Narik si Victor) “Oiii dieemmm lu berisik…”
Setelah selesai menentukan pilihan, akhirnya Gue mesti duduk di depan bersama si Bapak supir, di belakang gua ada Laras, Nadya dan Amelia dan di belakangnya lagi ada Angela, Monica dan Feby dan yang paling belakang barulah diisi oleh Danu, Aldi dan Victor. Ahh asal gue liat ke belakang, mereka pasti cengengesan dan ngeledekin gua.. Mereka asik ngobrol-ngobrol, sementara gue ngantuk duduk di depan sendiri. Mau ngobrol ke belakang, isinya cewe yang bisa dibilang masih gue masih canggung.
Kami start jalan dari mobil sekitaran pukul 11 siang, selama diperjalanan ya gue kebanyakan ngelihat pemandangan di jalan dan sekali-kali ngobrol ama cewe-cewe di belakang gue. Sementara temen gue yg cowo lainnya sibuk main game or entah bahas apalah yang keliatannya seru, tapi gue ga bisa nyambung.
Ga lama kemudian, jam pun menunjukkan pukul 6 sore. Artinya kami sudah 7 jam di perjalanan dan sekarang kami sedang break karena pak supirnya ingin istirahat dan sholat sebentar sambilan cari makan malam. Kami pun berhenti di masjid yang berukuran sedang dan kelihatannya jumlah pemukiman penduduk di sini sudah mulai jarang, tidak sepadat seperti sebelumnya.
Kami pun memutuskan untuk cuci muka dan makan di salah satu warung makan yang berada di pinggiran jalan. Warung ini kelihatan lumayan, tempatnya yang luas dan bangunannya yang terbuat dari kayu-kayu menambah nuansa kehidupan dengan alam bebas sesuai kesenangan hatiku, namun sayangnya yang membuat kami gelisah yaitu ga ada seorangpun yang makan di tempat ini, hanya kami
bersepuluh termasuk si pak Supir. Tapi biarlah, makan beginian toh ga bikin mati kok ~ hehehe
Danu : (Mendekati si pak supir) “Oh ia Pak, kami mau nanya nih Pak, ini kan sudah pukul 6 sore, berarti klo kita jalan terus masih sekitaran 3 sampai 4 jam lagi kan? Entar nyampai di desanya uda mau tengah malam. Apa masih ada orang di desa tuh?”
Pak Supir : (Sedikit terdiam) “Emm sepertinya ga ada orang lagi dik. Kita nginep di sini dulu ampe tengah malam, ampe warung ini mau tutup, terus nanti kita baru berangkat pelan2 biar kita nyampainya subuh.”
Gue, Victor dan Aldi sedikit kaget mendengar perkataan si pak Supir.
Pak Supir : “Oh iya, nanti pas subuh berangkat, saya juga tidak bisa bawa cepat, soalnya jalan menuju ke desa kalian ini termasuk jalan yang sangat jarang dilewati orang, bisa dibilang jalannya agak susah, sepi dan gelap.”
Gue : “Sepi dan gelap, Pak ?!”
Pak Supir : “Iya dik. Namanya juga desa terpencil. Memang sangat jarang dilalui orang-orang. Masyarakatnya juga saya dengar sangat primitif, kurang begitu terbuka dengan lingkungan luar. Terus sepanjang perjalanan nanti juga kebanyakan hutan-hutan dan semak-semak. Sangat minim jumlah pemukiman warga. Jadinya jalannya agak gelap.”
Gue : (Sambil nelan ludah, glekk dan bisik ke Victor) “Ini benar-benar suram neh.”
Victor : (Balas bisik ke gue) “Yoo mau gimana lagi. Suram sih suram, tapi seru keknya kan, kayak di game-game, hidup di village gitu, indah ~ wakakka” (Sambil nenangin diri)
Pak Supir : “Oh iya, kalian tolong kasi tau ke yang cewe-cewe ya, tapi ga usah jelasin terlalu panjang lebar, bilang aja kita istirahat dulu dan berangkatnya pas tengah malam biar nyampainya subuh. Okay ?”
Kami semua : “Ehhhmm.. Baik pak.”
Setelah makan malam selesai, kami berempat pun langsung memberitahu para cewe tentang informasi yang disampaikan oleh pak Supir. Si Victor langsung mendekati Amelia, si gadis cantik berkulit putih dengan rambut hitam lurus yang lumayan panjang. Sementara gue menghampiri Monica, cewe blasteran yang putih dan cantik dengan rambut lurus panjang yang berwarna kecoklatan dan Angela, si cewe putih cantik berambut hitam lurus panjang dengan poni Dora.
Kalau Danu dan Aldi sudah pasti langsung menghampiri Laras, Nadya dan Feby.
Sebelumnya kami berempat para cowo sih sudah jelasin hal ini, sambilan ngabdi di desa, sambilan PDKT. Jadi kami kasih ruang gerak buat masing-masing kami melakukan pengenalan diri lebih dalam.. Hehehe, bisa di bilang sambil nyelam minum air deh ~ KKN KELAR, SKRIPSI KELAR, GEBETAN DAPET ~ Moga-Moga Sichhh ~
Tak lama setelah kami menginfokan hal ini kepada para cewe, tampaknya mereka menjadi sedikit cemas dan terdiam. Ya wajar saja, mereka pasti berpikiran yang macam-macam seperti kami. Para cowo aja cemas apalagi para cewe, mengingat jalanan yang gelap, suasana yang sepi dan pemukiman penduduk yang begitu jarang. Jalan yang agak susah dilalui, kiri kanan lebih banyak hutan dan semak-semak. Wah bisa dibayangkan bagaikan di negeri antah berantah ini ~
Jam pun menunjukkan pukul 12 malam, warung makan akan segera tutup, kami pun membangunkan beberapa orang dari kami yang sudah tertidur pulas karena kecapekan di mobil, tampaknya si Pak Supir juga baru saja bangun dan ia pergi cuci muka untuk siap-siap berangkat lagi.
Wahhhh… Langit yang masih begitu gelap, suasana yang begitu sunyi senyap, sekeliling yang dapat kulihat hanyalah hutan dengan pohon yang menjulang cukup tinggi, sebagian lagi tampak tebing-tebing dan udara tengah malam yang begitu dingin membuat bulu kudukku merinding ~
Pemukiman warga yang nyaris tidak terlihat dari sini, hanya warung makan di pinggiran jalan ini saja yang bercahaya. Baiklah, pak Supir pun sudah siap cuci muka dan masuk ke dalam mobil, perjalanan menuju desa terpencil pun akan dilanjutkan lagi ~
Tanggal 8 Februari 2015 pun tiba. Setelah 1 minggu persiapan berlalu, kami semua akhirnya berkumpul di bandara terkemuka di Jakarta pada pagi hari sekitar pukul 7. Kami bersepuluh bertemu di tempat yg telah dijanjikan bersama.
Victor : “Nah… Sepertinya kita semua sudah lengkap bersepuluh kan ?”
Laras : “Sudah kok. Keberangkatan kita pukul 8 nanti kan sesuai di tiket yang diberikan oleh kampus ?”
Aldi : “Ho oh.. 1 jam lagi.. Sekarang gini deh, kita bahas2 dulu yuk tentang perjalanan kita nih?”
Amelia : “Okay.”
Gue : “Loh itu cewe berempat lainnya kok ga ikut nimbrung ?” (Sambil lirik ke para cewe lain)
Kelihatannya Nadya si cewe berambut lurus sebahu dan Monica cewe blaster indo jepang yang putih dan cantik serta lumayan sexy sedang sibuk bermain HP, sedangkan Angela dan Feby sibuk mencari jajanan ringan di stand makanan yg ada di bandara.
Danu : “Ya uda biarin aja mreka, nah gini, kita kan berangkat jam 8, kemungkinan akan tiba di bandara Riau sekitaran pukul 10, perjalanan dari JKT ke RIAU lebih kurang 2 jam. Nantinya kita akan langsung dijemput oleh travel yang disediakan kampus dan butuh perjalanan 10 jam utk sampai ke lokasi.”
Laras : “Eh… itu artinya kita tiba di lokasi sekitaran jam 10 malam, ngitung-ngitung kita kan pasti break makan dan istirahat? Gak salah tuh !”
Amelia : “Iya juga ya. Uda malam banget tuh, mau nyari siapa kita di sana ? Astaga !”
Gue : (Sambil natap ke Victor) “Oi cuii, kalo nyampe nya jam 10 malam, di desa terpencil yang kita gak tau apa2, bagusnya gimana tuh ?”
Victor : (natap balik dengan tatapan kebingungan) “Entahlah bro. Jalanin aja. Gue jg masih bingung, nanti kita Tanya sama supir travel yg nganterin kita aja deh.”
Di sela-sela kami berdiskusi, tiba-tiba Angela dan Feby datang menghampiri kami membawa kan minuman kaleng.
Angela : (Ngasihin minuman ke Victor) “Ko, ini minuman kaleng, masih sejam lagi nanti kehausan.”
Victor : (Sedikit kaget dan natap ke Angela) “Eh iya iya, makasih loh Angela.”
Danu : (Sambil godain Victor dengan berbisik) “Broo.. Cantik juga nih Angela, Putih bersih, lumayan tinggi, sexy juga, baik lagi. Matanya bulat gede manis banget loh senyumannya. Hehehe
Victor : (Sambil mendorong si Danu) “Ssttt.. Jangan keras-keras… Malu gue tau !”
Feby : (Nyodorin minuman ke kami-kami lainnya) “Ini buat yang lainnya.”
Semua : “Oh thanks ya.”
Akhirnya jam pun menunjukkan pukul 8. Pengumuman dari bandara agar para penumpang segera memasuki pesawat karena pesawat sebentar lagi akan berangkat. Sesampai di dalam pesawat, kami melihat barisan tempat duduk adalah berjumlah 3 kursi untuk setiap deretnya yang artinya harus ada salah satu dari kami yg duduk terpisah. Karena yang cewe jumlahnya 6 orang, tentunya kursinya sudah pas untuk 3 – 3. Sementara karena kami cowo jumlahnya ber-4, artinya harus ada 1 orang yang duduk terpisah sendiri. Kami pun memutuskan untuk melakukan pengundian cabut kertas, 1 kertas diberikan warna merah dan 3 kertas warna putih, bagi yang mendapatkan warna merah, berarti dia harus duduk terpisah.
Danu : “Sene sene seneee… kumpul dulu, nih kita ngundi aja biar adil, pastinya yang duduk sendiri bakal bosan wakakak.”
Gue : “Oh gue jagonya cabut undian nech. Ga mgkn sial !”
Victor : “Hahahaha. Elo mah biasanya sering sial klo nyabut gini Don!”
Aldi : “Yuk..”
Sesaat setelah nyabut ~
Victor : “Gue putih cui.. Wakakkaa, gw mah emang selalu hoki klo undian gini.”
Gue : “ANJIR !!!” GUE KOK DAPAT MERAH !”
Victor : “Wkakakakak, Nasib loe lah tu!”
Akhirnya tempat duduk telah diputuskan, gue terpaksa duduk dibarisan depan sendiri, di belakang gue ada Victor, Danu dan Aldi, di belakang mereka ada Laras, Nadya dan Amelia, di belakang mereka lagi ada Angela, Monica dan Feby.
Setelah 2 jam penuh kebosanan di dalam pesawat, akhirnya kami tiba di bandara Riau yang mungkin sangat baru bagi kami. Kami semua belum pernah pergi ke Riau, sesampai di bandara kami segera muter-muter untuk nyari supir travel yang telah disediakan oleh pihak kampus. Sambilan kami menelepon, kami pun mencari kesana-sini agar lebih menghemat waktu. Tidak lama kemudian, kami bertemu dengan supir travel yang disediakan oleh kampus. Ternyata supirnya adalah seorang bapak-bapak yang kira-kira usianya sudah mendekati 40an ke atas dan bergolongan darah Jawa yang dapat kami ketahui dari gaya bicaranya yang lembut dan sopan.
Kami pun mengikuti Bapak tersebut ke mobilnya dan setelah ketemu mobilnya.
Victor : (Lihat ke mobil dan bisik ke gw) “Tuh lihat mobilnya, tipe agak panjang, dan sepertinya posisi duduknya di depan hanya bisa 2 orang buat supir dan 1 orang kita, terus belakangnya bakal 3-3-3. Wakakka artinya 1 orang dari kita yg cowo harus jadi tumbal duduk depan lagi selama 10 jam wakwakwka.”
Gue : “Hahahaha… Diem lu… Ga usah liat2 ke gw napa.. Ga bakal sial lagi gw klo soal ngundi-ngundi”
Danu : “Hehehe.. Yuk kita undi lagi seperti tadi !”
Pengundian pun berlangsung kembali ~
Aldi : “Gue putih lagi nih, artinya duduk bareng-bareng biar ga bosan hehe!”
Gue : “Ahhh BIADAB !!! KOK GUE MERAH LAGI !”
Danu dan Victor : (Ngakak terbahak-bahak) “Wkakakakaka SURAM KALI KAU BRO~! WKAKAKA”
Para cewe yang melihat Danu dan Victor tertawa begitu keras sampai kebingungan dan salah satu dari mereka pun menghampiri ~
Amelia : (Sambil ngampirin ke gw yang tampangnya lagi menyedihkan) “Kalian ngapain sih? Kok ketawa-ketawa lepas gitu?” (Sambil senyum-senyum)
Gue : (Garuk-garuk kepala) “Eh gapapa gapapa. Hehehe”
Victor : (Bisikin ke Amelia) “Diaa suram muluh klo ambil undian hahahaha”
Gue : (Narik si Victor) “Oiii dieemmm lu berisik…”
Setelah selesai menentukan pilihan, akhirnya Gue mesti duduk di depan bersama si Bapak supir, di belakang gua ada Laras, Nadya dan Amelia dan di belakangnya lagi ada Angela, Monica dan Feby dan yang paling belakang barulah diisi oleh Danu, Aldi dan Victor. Ahh asal gue liat ke belakang, mereka pasti cengengesan dan ngeledekin gua.. Mereka asik ngobrol-ngobrol, sementara gue ngantuk duduk di depan sendiri. Mau ngobrol ke belakang, isinya cewe yang bisa dibilang masih gue masih canggung.
Kami start jalan dari mobil sekitaran pukul 11 siang, selama diperjalanan ya gue kebanyakan ngelihat pemandangan di jalan dan sekali-kali ngobrol ama cewe-cewe di belakang gue. Sementara temen gue yg cowo lainnya sibuk main game or entah bahas apalah yang keliatannya seru, tapi gue ga bisa nyambung.
Ga lama kemudian, jam pun menunjukkan pukul 6 sore. Artinya kami sudah 7 jam di perjalanan dan sekarang kami sedang break karena pak supirnya ingin istirahat dan sholat sebentar sambilan cari makan malam. Kami pun berhenti di masjid yang berukuran sedang dan kelihatannya jumlah pemukiman penduduk di sini sudah mulai jarang, tidak sepadat seperti sebelumnya.
Kami pun memutuskan untuk cuci muka dan makan di salah satu warung makan yang berada di pinggiran jalan. Warung ini kelihatan lumayan, tempatnya yang luas dan bangunannya yang terbuat dari kayu-kayu menambah nuansa kehidupan dengan alam bebas sesuai kesenangan hatiku, namun sayangnya yang membuat kami gelisah yaitu ga ada seorangpun yang makan di tempat ini, hanya kami
bersepuluh termasuk si pak Supir. Tapi biarlah, makan beginian toh ga bikin mati kok ~ hehehe
Danu : (Mendekati si pak supir) “Oh ia Pak, kami mau nanya nih Pak, ini kan sudah pukul 6 sore, berarti klo kita jalan terus masih sekitaran 3 sampai 4 jam lagi kan? Entar nyampai di desanya uda mau tengah malam. Apa masih ada orang di desa tuh?”
Pak Supir : (Sedikit terdiam) “Emm sepertinya ga ada orang lagi dik. Kita nginep di sini dulu ampe tengah malam, ampe warung ini mau tutup, terus nanti kita baru berangkat pelan2 biar kita nyampainya subuh.”
Gue, Victor dan Aldi sedikit kaget mendengar perkataan si pak Supir.
Pak Supir : “Oh iya, nanti pas subuh berangkat, saya juga tidak bisa bawa cepat, soalnya jalan menuju ke desa kalian ini termasuk jalan yang sangat jarang dilewati orang, bisa dibilang jalannya agak susah, sepi dan gelap.”
Gue : “Sepi dan gelap, Pak ?!”
Pak Supir : “Iya dik. Namanya juga desa terpencil. Memang sangat jarang dilalui orang-orang. Masyarakatnya juga saya dengar sangat primitif, kurang begitu terbuka dengan lingkungan luar. Terus sepanjang perjalanan nanti juga kebanyakan hutan-hutan dan semak-semak. Sangat minim jumlah pemukiman warga. Jadinya jalannya agak gelap.”
Gue : (Sambil nelan ludah, glekk dan bisik ke Victor) “Ini benar-benar suram neh.”
Victor : (Balas bisik ke gue) “Yoo mau gimana lagi. Suram sih suram, tapi seru keknya kan, kayak di game-game, hidup di village gitu, indah ~ wakakka” (Sambil nenangin diri)
Pak Supir : “Oh iya, kalian tolong kasi tau ke yang cewe-cewe ya, tapi ga usah jelasin terlalu panjang lebar, bilang aja kita istirahat dulu dan berangkatnya pas tengah malam biar nyampainya subuh. Okay ?”
Kami semua : “Ehhhmm.. Baik pak.”
Setelah makan malam selesai, kami berempat pun langsung memberitahu para cewe tentang informasi yang disampaikan oleh pak Supir. Si Victor langsung mendekati Amelia, si gadis cantik berkulit putih dengan rambut hitam lurus yang lumayan panjang. Sementara gue menghampiri Monica, cewe blasteran yang putih dan cantik dengan rambut lurus panjang yang berwarna kecoklatan dan Angela, si cewe putih cantik berambut hitam lurus panjang dengan poni Dora.
Kalau Danu dan Aldi sudah pasti langsung menghampiri Laras, Nadya dan Feby.
Sebelumnya kami berempat para cowo sih sudah jelasin hal ini, sambilan ngabdi di desa, sambilan PDKT. Jadi kami kasih ruang gerak buat masing-masing kami melakukan pengenalan diri lebih dalam.. Hehehe, bisa di bilang sambil nyelam minum air deh ~ KKN KELAR, SKRIPSI KELAR, GEBETAN DAPET ~ Moga-Moga Sichhh ~
Tak lama setelah kami menginfokan hal ini kepada para cewe, tampaknya mereka menjadi sedikit cemas dan terdiam. Ya wajar saja, mereka pasti berpikiran yang macam-macam seperti kami. Para cowo aja cemas apalagi para cewe, mengingat jalanan yang gelap, suasana yang sepi dan pemukiman penduduk yang begitu jarang. Jalan yang agak susah dilalui, kiri kanan lebih banyak hutan dan semak-semak. Wah bisa dibayangkan bagaikan di negeri antah berantah ini ~
Jam pun menunjukkan pukul 12 malam, warung makan akan segera tutup, kami pun membangunkan beberapa orang dari kami yang sudah tertidur pulas karena kecapekan di mobil, tampaknya si Pak Supir juga baru saja bangun dan ia pergi cuci muka untuk siap-siap berangkat lagi.
Wahhhh… Langit yang masih begitu gelap, suasana yang begitu sunyi senyap, sekeliling yang dapat kulihat hanyalah hutan dengan pohon yang menjulang cukup tinggi, sebagian lagi tampak tebing-tebing dan udara tengah malam yang begitu dingin membuat bulu kudukku merinding ~
Pemukiman warga yang nyaris tidak terlihat dari sini, hanya warung makan di pinggiran jalan ini saja yang bercahaya. Baiklah, pak Supir pun sudah siap cuci muka dan masuk ke dalam mobil, perjalanan menuju desa terpencil pun akan dilanjutkan lagi ~
Diubah oleh suwandilam 10-07-2019 12:43
rotten7070 dan 5 lainnya memberi reputasi
4