Di perjalanan rasanya dag dig dug, campur aduk entah senang maupun sedih. Sampai di depan pintu tangan ku pun perlahan mengetuknya. Lalu keluarlah wanita paruh baya itu yang mengaku Ibu kandung ku. Dengan senyum ramah ia pun menyuruh ku masuk. Layaknya seorang tamu aku hanya terdiam kaku di dalamnya. Dari kejuahan aroma makanan mulai tercium oleh hidung ku, dan membuat perutku tak bisa menolaknya. Rasanya seperti dejavu, seperti makan masakan dari Bibi.
“Enak Dan?” Tanyanya
“Iya enak sekali” Jawab ku
Hubungan darah pun berbicara pada saat itu. Tak butuh waktu lama untuk mengakrabkan ku dengannya. Detik demi detik yang kami lewati pun tak terasa sudah menunjukan waktu untuk pulang, namun rasanya aku ingin lebih lama berada di sini. Melihatnya memainkan piano membuat ku terpesona kenapa bakat itu tak diturunkan kepada ku.
“Sinih” Ajaknya
“Duduk di sana?” Tanya ku
“Belajar piano sama Ibu”
Tersihir oleh ucapannya aku tak bisa menolaknya sama sekali. Beginikah kasih sayang Ibu? Yang sangat terasa saat mengajari ku berbagai macam tone dari do rendah sampai do tinggi.
“Duarrr” Suara pintu terbanting
“Cukup Diana!!! Ini mungkin kehidupan mu yang kaya, berantakan, dan tak beraturan tapi bukan hidupnya”
Aku terkejut setengah mati melihat Bibi berada disini dan berteriak seperti itu pada Ibuku.
“Dan kamu, sekarang pulang!!! Sudah jam berapa sekarang?” Teriaknya sambil menunjuk ku
“…” Aku hanya diam
“Ayo pulang, Bibi bilang pulang!!!” Teriakannya
Aku hanya menatap Ibu dan menggeleng-gelengkan kepala ku pada Bibi.
“Cukup Mbak, sekarang kamu yang keluar dari rumah ku!!”
Jantungku berdebar sangat kencang sampai nafas ku terengah-engah. Ibu yang mengusir Bibi keluar rumah, lalu kembali dengan langsung memeluk ku. Aku benar-benar tak tahu apa yang harus ku lakukan pada saat itu.