“Teeet, teet, teet” Bel istirahat jam kedua
“Kemana?”
“Belakang, ikut?”
“Engga ah, badan lagi males gerak banget”
“Rik, belakang?”
“Engga, ada urusan di ruang musik”
“Okay”
“Johnny aja tuh”
Mata ini pun mulai mencari di kelas yang istimewa. Tampak bidadari sedang duduk di tempannya dengan anggun. Dengan percaya diri aku pun masuk ke kelasnya dan langsung menyeret Johnny yang sedang menyandarkan kepalanya di meja untuk ikut dengan ku.
“Reseh ah, lagi enak-enak tidur juga!”
“Tidur di belakang lebih adem, banyak angin”
“Alibi ah, eh tapi kok tumbenan berani masuk kelas? Biasanya ngetime di depan?”
“Kalau cuma ngetime engga bakal ditanggepin”
Sedang enak-enaknya berjalan dan menghirup udara yang sejuk, tiba-tiba ada pasang mata yang melihat ku dengan tajam seolah seperti kerasukan jin atau iblis. Mengerti dengan tatapan itu Johnny pun mengerti kode isyarat untuk menjauh sebentar.
“Sinih” Teriaknya sambil menggenggam erat tangan ku
“Sakit Rys”
“Lebih sakit aku tau! Malu banget tadi Dan!!!” Kesalnya sambil mencubit ku
“Ampun, ampun, kan tadi pagi yang mulai duluan siapa?” Tanyaku
“Tapi engga gitu juga, mana langsung di depannya lagi, kamu tuh!!! Pokoknya aku marah sama kamu!!! Titik”
“Emang bener kamu itu sakit, mau marah aja diomongin dulu” Ejek ku sambil tertawa
“Aku serius Dan!!!”
“Ampun Rys, sakit ah ini, merah semua kan?” Kesal ku
“Hih!!!” Kesalnya
“Gabung sama Johnny mau?” Ajak ku
“Oh jadi itu yang nama Johnny”
“Gimana? Mau?”
“Kapan-kapan aja, aku masih kesel sama kamu”
“Kenapa Dan? Berisik banget tadi?”
“Itu, temen kelas mu John, marahan bilang-bilang”
Kejadian lucu ini membuatku dengan Johnny terpingkal oleh kelakuannya. Baru kali ini ada orang yang kalau marah, bilang terang-terangan kepada orang yang membuatnya marah. Tapi senang membuatnya seperti itu, paling tidak ia sesekali menatapnya secara langsung di depannya dengan kedua matanya sendiri.