Sebelum memulai nulis cerita di bagian 6, ane mau minta maaf kepada beberapa agan-agan yang ngikutin cerita ane ini karena ada jeda yang lumayan lama antara bagian 5 dan bagian 6. Lewat ini juga ane pastikan bahwa cerita What's Left in Kudus ini tetap akan ane ceritain SAMPAI SELESAI seperti janji ane di awal. So, here the story goes...
Quote:
Aneh dan engga seharusnya. Ya, itulah yang ane rasakan. Kenapa juga ane harus terjebak dalam memori dengan seseorang yang ane enggak kenal, enggak tahu namanya, dan enggak pernah barang sepatah katapun berkomunikasi dengan dia. Bahkan hanya dua hari...dua hari di sebuah kota nun jauh di sana, kita berdua pernah berada di satu ruang dan satu waktu yang sama. Dan itupun, terlalu jauh jarak yang membatas di antara kita.
Lalu sebuah pertanyaan klise muncul; apakah ini cinta? Ane pastiin, BUKAN. Ini bukan cinta. Ini lebih ke perasaan bertanya-tanya yang besar, yang dasarnya adalah sesuatu yang sepele. Mungkin agan-agan bertanya; kenapa sih pake peduli segala? Toh ane juga engga kenal dan dia juga ga kenal ane? Lebay! Alay! Ga penting!
Ya, ane juga merasa sama seperti itu. Engga penting banget sih perkara ini. Kenapa juga ane harus pusing-pusing mikirin seseorang yang engga penting sama sekali? Tapi ane engga pernah tahu jawabannya. Dan yang ada, pertanyaan-pertanyaan tentang dia malah terus menyiksa ane. Membuat ane makin termotivasi buat nyari jawabannya, setelah setengah tahun ane pergi meninggalkan kota itu.
Apa yang tertinggal di Kudus...apa yang tertinggal di sana, yang membuat ane harus terjebak dalam bayang-bayang wajahnya...matanya...dan kesendiriannya.
...siapa kamu?...siapa namamu?...
Quote:
Beberapa saat sebelum Timi ngirimin foto-foto magang kita di Kudus (yang udah ane ceritain di bagian 5), atau tepatnya dua bulan setelah ane pergi dari Kudus, ane jadian sama seorang cewek. Bukan temen satu kampus, tapi kita udah deket sejak sebelum masa magang dimulai. Hanya perkara tembak-menembak harus ane tunda, seenggaknya sampai masa magang ane selesai.
Dan terjadilah, ane nembak doi dua bulan setelah masa magang usai, dan syukur diterima dengan sukses. Namanya Ana. Cewenya baik banget gan, dan yang terpenting dia bisa menerima ane apa adanya. Baik dan buruknya.
Hubungan kita lalu berjalan seperti wajarnya. Baik-baik aja, yaaa kaya orang yang baru aja jadian gitu deh gan. Pengennya sering-sering ketemu. Tapi dia kuliahnya beda kota sama ane. Jadi walau hubungan kita masih gres kinyis-kinyis, kita terpaksa harus pinter-pinter ngatur waktu buat ngatasin jarak.
Dan ketika Timi ngirim seberkas foto ke ane, dimana Gadis Penyendiri itu ada di dalamnya, jujur ane sempet khawatir. Ane takut apa yang ane rasakan bakal ngeganggu hubungan ane sama Ana. Padahal waktu itu, rasa penasaran ane makin tumbuh dan makin menggila dari hari ke hari.
Pacar ane engga tahu sama sekali soal Gadis Penyendiri itu, dan ane pun juga engga berani ngapa-ngapain...padahal dalam hati, ada banyak hal yang ada di dalam kepala ane dan ingin ane lakukan. Tapi semuanya hanya bisa ane bayangin doang.
Satu-satunya hal yang bisa ane perbuat hanyalah mandangin foto-fotonya (catatan: sosok si Gadis Penyendiri itu bahkan cuma nongol kecil di antara kerumunan anak-anak lain, dan jumlah foto yang ada dianya cuman 6 buah doang). Ane cuman bisa ngeliatin dia lewat foto-foto...ngeliatin sosoknya, mencoba memahami di kedalaman matanya yang redup itu...dan sesekali ane berbisik di dalam hati...
LISTEN, I WILL FIND YOUR NAME SOMEDAY
.
Quote:
"Gila! Ga penting banget sumpah!"Itulah reaksi Timi ketika ane cerita untuk pertama kalinya soal si Gadis Penyendiri itu.
Ya, Timi. Kalau agan masih inget, Timi ini adalah temen magang ane selama di Kudus dan orang yang paling bertanggung jawab ngebuat memori ane balik lagi sama si Gadis Penyendiri itu dengan ngirim foto-foto magang kita. Jadi karena itu, ane milih curhat ke dia..selain dia orangnya emang baik dan pengertian.
Sebenernya ane dan Timi (dan Risma juga) udah nyaris engga pernah ketemu. Kelas kita di kampus udah abis juga, dan Timi sendiri lebih sibuk sama bisnis online dia, skripsi dan beberapa kuliah praktik yang harus dikelarin. Jadilah kita cuman curhat via chat di Facebook kala itu. Maklum gan jaman segitu ane masih katrok belom punya Bl*ckB*rry.
Ane curhat banyak hal sama dia. Mulai dari reaksi dia yang nganggep apa yang ane rasain ini engga penting, sampai dia coba buat ngertiin ane.
"Itu namanya obsesi, bro. Kau terobsesi sama tuh cewek. Tapi gini ya...orang yang terobsesi tuh biasanya didasari oleh suatu hal. Dasar kau apa buat terobsesi sama dia? Apa karena dia mirip Ayu Ratna? Atau karena apa? Waduh, lama-lama aku pikir kau ini sakit jiwa, bro!"
Dasar...alasan...kalau karena dia mirip Ayu Ratna itu jelas enggak. Itu konyol. Ane engga tahu alasannya, ane cuma ngerasa keinginan yang kuat buat tahu siapa dia, sedang apa dia hari ini, gimana kehidupannya....dan alasan kenapa dia begitu sepi. Kenapa dia cenderung memisahkan diri. Mungkin pertanyaan-pertanyaan itulah yang bikin ane (seperti kata Timi) menjadi terobsesi.
"Seenggaknya aku harus tahu nama dia, Tim." Ucap ane kala itu. Dan ane tahu Timi pasti geleng-geleng kepala setengah mati sama ane waktu itu.
"Oke, anggap aja aku setuju sama pikiran aneh kau itu. Tapi ini udah nyaris setahun, kau mau nyari dengan cara apa? Mau mulai dari mana? Sebenernya kau bisa mulai dari ngehubungin orang-orang perusahaan yang terlibat dalam acara yang kemarin itu buat minta database peserta yang dari SMA. Tapi itu enggak mungkin, kan?" Ya, Timi bener...itu engga mungkin. Mengingat ane belom ngumpulin laporan magang ane ke perusahaan (perusahaan ane juga minta laporan magan yang ane buat gan) bahkan setelah nyaris setahun seusai masa magang. Bandel ya ane gan...
Ane terdiam buat beberapa saat buat mikir. Tapi sebelum ane ngomong, Timi kembali nyamber ane dengan pertanyaan lain. "Trus Ana. Apa dia tahu soal ini?"
"Enggak."
"Trus?"
"Aku bakal bilang ke dia cepat atau lambat, Tim."
"Gila! Gilaaaaa!!"
Ane tahu ini semua udah terlalu jauh. Tapi ane harus ambil keputusan, daripada terus dihantui rasa penasaran yang sama sekali engga nyaman yang menggelayut di hati dan memori ane. "Aku musti nyari jawabannya. Udah berbulan-bulan rasanya engga nyaman dihantui cewek itu terus. Kau engga ngerasain sih..."
Dan itulah keputusan ane. "Aku bakal nyari dia, Tim. Aku bakal nyari apa yang tertinggal di Kudus."