- Beranda
- Stories from the Heart
( TAMAT ) AKU, KAMU, DAN LEMON : BUKU HARIAN AIRIN
...
TS
beavermoon
( TAMAT ) AKU, KAMU, DAN LEMON : BUKU HARIAN AIRIN
Selamat datang di BeaverMoon Land
Sudah lama tak berjumpa dengan halaman ini dan biasanya cuma liat info-info HT doang.
Dan pada akhirnya ane kembali dengan membawa kisah yang ngga terlalu bagus

Spoiler for Tanya Jawab:
Q : Bang bakalan panen kentang lagi ngga?"
A : Kayaknya ngga, soalnya thread ini cuma 15 episode pendek
Q : Kok cuma 15 Bang?
A : Ya emang segitu adanya dan ngga ada yang ditambah-tambahin
Q : Update tiap hari kan?"
A : Sayangnya ngga tiap hari. Berhubung cuma 15 episode dan ane lagi lumayan sibuk jadi updatenya seminggu sekali (biasanya weekend)
Q : Ini cerita tentang apa Bang?
A : Ini adalah prekuel dari AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Bang, prekuel apa sih?
A : Ini cerita sebelum adanya AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Jadi saya harus baca AKU, KAMU, DAN LEMON dulu dong bang?
A : Sebaiknya seperti itu, tapi kalo mau ini duluan juga nggapapa
Q : Bang, Nanda apa kabar?
A : -_- pertanyaan yang pasti ane jarang jawab
A : Kayaknya ngga, soalnya thread ini cuma 15 episode pendek
Q : Kok cuma 15 Bang?
A : Ya emang segitu adanya dan ngga ada yang ditambah-tambahin
Q : Update tiap hari kan?"
A : Sayangnya ngga tiap hari. Berhubung cuma 15 episode dan ane lagi lumayan sibuk jadi updatenya seminggu sekali (biasanya weekend)

Q : Ini cerita tentang apa Bang?
A : Ini adalah prekuel dari AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Bang, prekuel apa sih?
A : Ini cerita sebelum adanya AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Jadi saya harus baca AKU, KAMU, DAN LEMON dulu dong bang?
A : Sebaiknya seperti itu, tapi kalo mau ini duluan juga nggapapa
Q : Bang, Nanda apa kabar?
A : -_- pertanyaan yang pasti ane jarang jawab
Jadi buat agan dan aganwati sekalian yang mau mengikuti thread ini seharusnya baca AKU, KAMU, DAN LEMONterlebih dahulu. Cuma kalo mau baca ini dulu ya nggapapa ngga ada larangannya

Selamat membaca

Spoiler for INDEX:
Episode 1
Episode 2
Episode 3
Episode 4
Episode 5
Episode 6
Episode 7a
Episode 7b
Episode 8a
Episode 8b
Episode 9a
Episode 9b
Episode 10
Episode 11a
Episode 11b
Episode 12
Episode 13a
Episode 13b
Episode 14a
Episode 14b
Episode 15
Episode 15 + 1 (Finale)
Bad News Lemon
Behind The Story (part 1)
Behind The Story (part 2)
Behind The Story (part 3 / finale)
Pemberitahuan
Episode 2
Episode 3
Episode 4
Episode 5
Episode 6
Episode 7a
Episode 7b
Episode 8a
Episode 8b
Episode 9a
Episode 9b
Episode 10
Episode 11a
Episode 11b
Episode 12
Episode 13a
Episode 13b
Episode 14a
Episode 14b
Episode 15
Episode 15 + 1 (Finale)
Bad News Lemon
Behind The Story (part 1)
Behind The Story (part 2)
Behind The Story (part 3 / finale)
Pemberitahuan
Diubah oleh beavermoon 28-01-2020 19:37
i4munited dan 13 lainnya memberi reputasi
14
77.8K
Kutip
417
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#72
Spoiler for Episode 5:
Spoiler for Flashback:
Aku sedang berada di lapangan basket karena hari ini kelasku sedang mengadakan pelajaran olahraga. Kami sudah mulai berbaris dan melakukan pemanasan yang diinstruksikan oleh guru olahraga kami dan kebetulan Aku dan juga Widya mendapatkan barisan yang paling belakang. Kami sudah selesai dengan pemanasan kami, kemudian kami melakukan jogging sebanyak lima putaran mengikuti guru olahraga kami.
“Bram, kayaknya guru olahraga kita mantan binaragawan deh...” Katanya
“Binaragawan? Tau dari mana lu?” Tanyaku
“Lo liat aja badannya benjol semua.” Kata Widya lagi
“Bener juga sih kata lu, mungkin udah tobat dia jadi binaragawan makanya ngajar anak sekolahan sekarang.” Kataku
Dan akhirnya kami selesai dengan jogging kami, berikutnya kami mendapatkan materi tentang lompat jauh. Kami melihat gerakan guru olahraga kami dengan teliti agar mendarat dengan aman dan sempurna, lalu kami mulai mencoba satu per satu dan aku dapat melakukannya dengan hampir sempurna.
Jam pelajaran sudah mau habis, kami mendapatkan waktu bebas. Aku dan Widya memilih untuk ke kantin membeli segelas minuman.
“Makasih ya Bram...” Katanya
Aku hanya tersenyum menjawabnya dan kemudian aku mulai sibuk dengan hpku, sedangkan Widya masih memandangi lapangan.
“Bram...” Panggilnya
“Apa?” Tanyaku tanpa melihat ke arahnya
“Lo lagi suka sama cewe ya?” Tanyanya
“Cewe yang mana?” Tanyaku lagi
“Yang mana? Emang ada yang mana aja Bram kok banyak banget.” Tanyanya heran
“Bukan gitu, maksudnya tuh gue lagi ngga suka sama siapa-siapa.” Jelasku
“Lo ngga mau nanya gue lagi suka sama siapa gitu?” Tanyanya lagi
Aku memandangnya dengan malas dan dengan terpaksa aku menanyakan apa yang ingin dia dengar.
“Yaudah emang lu lagi suka sama siapa?” Tanyaku dengan muka malas
“Sama lo Bram...”
“Bram, kayaknya guru olahraga kita mantan binaragawan deh...” Katanya
“Binaragawan? Tau dari mana lu?” Tanyaku
“Lo liat aja badannya benjol semua.” Kata Widya lagi
“Bener juga sih kata lu, mungkin udah tobat dia jadi binaragawan makanya ngajar anak sekolahan sekarang.” Kataku
Dan akhirnya kami selesai dengan jogging kami, berikutnya kami mendapatkan materi tentang lompat jauh. Kami melihat gerakan guru olahraga kami dengan teliti agar mendarat dengan aman dan sempurna, lalu kami mulai mencoba satu per satu dan aku dapat melakukannya dengan hampir sempurna.
Jam pelajaran sudah mau habis, kami mendapatkan waktu bebas. Aku dan Widya memilih untuk ke kantin membeli segelas minuman.
“Makasih ya Bram...” Katanya
Aku hanya tersenyum menjawabnya dan kemudian aku mulai sibuk dengan hpku, sedangkan Widya masih memandangi lapangan.
“Bram...” Panggilnya
“Apa?” Tanyaku tanpa melihat ke arahnya
“Lo lagi suka sama cewe ya?” Tanyanya
“Cewe yang mana?” Tanyaku lagi
“Yang mana? Emang ada yang mana aja Bram kok banyak banget.” Tanyanya heran
“Bukan gitu, maksudnya tuh gue lagi ngga suka sama siapa-siapa.” Jelasku
“Lo ngga mau nanya gue lagi suka sama siapa gitu?” Tanyanya lagi
Aku memandangnya dengan malas dan dengan terpaksa aku menanyakan apa yang ingin dia dengar.
“Yaudah emang lu lagi suka sama siapa?” Tanyaku dengan muka malas
“Sama lo Bram...”
Aku terbangun pagi ini, dan aku tersadar bahwa semalam aku tidur di sofa kamarku. Aku lihat di atas kasur masih terbaring Widya dan juga Nanda dengan nyenyaknya. Aku bangun dari tidurku dan membuka pintu balkon, udara sejuk langsung masuk begitu saja. Aku turun ke bawah untuk membuat secangkir kopi dan beberapa lembar roti tawar. Kembali lagi ke kamar, aku langsung menuju balkon dengan buku misterius yang sudah ada di genggamanku saat ini.
Spoiler for Buku Harian:
Pagi ini aku sedang duduk di kelas dengan buku novel yang sudah aku pegang dan sudah kubaca sejak aku datang ke sekolah pada hari ini. Satu per satu teman kelasku akhirnya berdatangan hingga akhirnya tersisa Herman yang belum datang. Mita yang sudah datang menghampiriku dan duduk di bangku yang biasa ditempati oleh Herman.
“Si Herman kemana Rin? Kok jam segini belom dateng juga?” Tanya Mita penasaran
“Gue juga kurang tau Mit, kalo hari ini dia telat berarti jadi hari pertamanya dia dateng telat ke sekolah.” Kataku
Mita hanya menganggukan kepalanya. Tidak lama setelah itu bel sekolah pun berbunyi dan Mita duduk di sampingku selama Herman belum datang ke sekolah.
Kejadian ini membuatku tidak terlalu fokus pada pelajaran karena aku hanya dapat memandangi pintu kelasku menunggu Herman datang, namun tidak terasa pelajaran pertama sudah selesai dan Herman belum datang juga. Aku merasakan cukup gelisah entah kenapa.
Jam pelajaran kedua pun sudah dimulai dan lagi-lagi aku tidak dapat fokus pada pelajaran ini karena pandanganku masih terpaku pada pintu kelas yang biasa Herman lewati setiap sekolah.
“Udah Rin mending lu tanya aja lewat sms si Herman...” Suruh Mita
Dengan cepat aku membuka hpku dan mengirimkan pesan kepadanya. Lima menit berlalu, sepuluh menit sudah berlalu, hingga tak terasa jam pelajaran kedua pun sudah usai dan aku masih belum mendapatkan kabar dari Herman. Jam istirahat pun berlangsung, aku duduk di bangku taman sekolah melihat ke arah gerbang sekolah dan hingga saat ini aku tidak dapat menemukan Herman di sana atau dimanapun.
“Belom ada kabar dari Herman?” Tanya Mita
Aku hanya dapat menggelengkan kepala, karena memang hingga saat ini Herman belum membalas pesan dariku. Mita menyuruhku untuk tenang karena mungkin saja Herman memiliki keperluan dengan keluarganya hingga dia tidak bisa datang ke sekolah hari ini.
Jam demi jam sudah aku lewati hingga tak terasa bel pulang sekolah sudah berbunyi. Aku berjalan menuju gerbang depan sekolah bersama dengan Mita. Kami sudah masuk ke dalam mobil milik Mita dan aku diantarkan ke rumah kali ini. Selama di perjalanan aku merasa tidak nyaman karena tidak melihat Herman hari ini di sekolah.
“Gue ngga ngebayangin kalo lo beneran jadian sama Herman.” Kata Mita
“Maksudnya gimana Mit? Gue ngga ngerti.” Tanyaku bingung
”Lo bayangin nih ya, lo sama Herman yang belom jadian aja sehari ngga ngeliat dia udah kayak kehilangan apa tau yang berharga. Bayangin kalo lo udah beneran jadian sama Herman, mungkin lo udah jadi orang gila kali ya.” Jelas Mita
“Gue sendiri ngga tau Mit kenapa gue begini, perasaan gue ngga enak.” Kataku
“Apa mau ke rumahnya aja dulu?” Tanya Mita
Aku hanya menggelengkan kepalaku karena aku tidak tau apa yang harus aku lakukan saat ini. Tidak terasa akhirnya kami sudah tiba di rumahku. Aku berpamitan dengan Mita dan mengucapkan terima kasih karena telah mengantarkanku hingga rumah.
“Santai aja lah Rin kayak sama siapa aja. Nanti gue coba cari tau soal Herman juga deh.” Katanya
“Makasih ya Mit, lo emang sahabat gue.” Kataku
Kemudian Mita bergegas untuk pulang dan aku masuk ke dalam rumah dengan keadaan tidak bergairah sama sekali. Dan jelas saja, tingkah lakuku yang sangat berbeda hari ini menjadi objek aneh bagi Papa dan juga Mama.
“Kamu kenapa? Kok kayak ngga ada nyawanya gitu?” Tanya Mama
“Nggapapa Ma...” Jawabku singkat
“Kamu diapain sama si Herman?” Tanya Papa
“Ngga diapa-apain Pa, orang dia aja ngga masuk hari ini.” Jelasku
Kemudian aku meninggalkan mereka masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamar. Tanpa mengganti pakaian ataupun mandi aku langsung merebahkan badanku di atas kasur dengan hp yang ada di tangan kananku, dan aku masih belum mendapatkan kabar dari Herman. Aku berinisiatif untuk menghubunginya sore ini dan hasilnya sama saja, tidak ada jawaban sama sekali.
Entah kenapa aku merasa sangat gelisah ketika aku tidak melihat Herman hari ini, padahal kami hanya teman tidak lebih. Terlihat berlebihan namun memang ini benar adanya, aku gelisah ketika tidak bertemu Herman di tempat yang seharusnya aku melihatnya bahkan dapat berbincang dan bercanda bersama.
------------------------
Aku sedang bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah pagi ini bersama dengan Papa, dan kami sedang melaksanakan sarapan pagi seperti biasa di meja makan. Papa dan juga Mama sangat heran melihat diriku yang tidak ada semangat sama sekali untuk berangkat ke sekolah.
“Kamu kenapa? Dari kemaren abis pulang sekolah sampe sekarang kok masih gini-gini aja?” Tanya Mama keheranan
“Nggapapa kok Ma...” Jawabku singkat lagi
“Kamu mau ngga sekolah dulu? Abisan kamu ngga ada semangatnya gini.” Kata Papa
Aku hanya dapat menggelengkan kepalaku, dan akhirnya sarapanku selesai dan sebentar lagi aku akan berangkat ke sekolah diantar oleh Papa. Kubuka pintu utama rumahku untuk memakai sepatu dan aku mendapatkan kejutan yang luar biasa.
“Udah siap? Aku anterin.” Kata Herman dengan senyumannya
“Kamu kok...” Kata-kataku terhenti begitu saja
“Buruan, nanti siangan dikit malah kena macet.” Katanya lagi
Tanpa disadari aku dapat tersenyum pagi ini karena aku dapat melihat Herman lagi setelah kemarin ia menghilang entah kemana. Kemudian Papa dan juga Mama keluar dari dalam rumah.
“Om, Tante, saya boleh anter Airin ke sekolah?” Tanya Herman
Papa dan juga Mama melihat ke arahku secara bersamaan dan melihat aku dapat tersenyum kembali setelah kemarin aku murung seperti kehilangan separuh nyawa, dan akhirnya Papa dan Mama mengizinkan aku untuk diantar oleh Herman. Dengan cepat aku memakai sepatuku dan mengenakan helm yang diberikan oleh Herman, setelah berpamitan akhirnya kami berangkat ke sekolah.
Selama di perjalanan aku masih tidak percaya bahwa Herman ada di depanku saat ini setelah kemarin ia menghilang entah kemana tanpa adanya kabar.
“Man... Lo kemaren kemana?” Tanyaku dengan gugup
“Kangen ya Rin?” Tanyanya dan aku dapat melihat senyumannya dari kaca spion motornya
Aku tidak menjawab pertanyaan dari Herman, aku hanya dapat menganggukan kepalaku secara pelan entah ia tau atau tidak.
“Si Herman kemana Rin? Kok jam segini belom dateng juga?” Tanya Mita penasaran
“Gue juga kurang tau Mit, kalo hari ini dia telat berarti jadi hari pertamanya dia dateng telat ke sekolah.” Kataku
Mita hanya menganggukan kepalanya. Tidak lama setelah itu bel sekolah pun berbunyi dan Mita duduk di sampingku selama Herman belum datang ke sekolah.
Kejadian ini membuatku tidak terlalu fokus pada pelajaran karena aku hanya dapat memandangi pintu kelasku menunggu Herman datang, namun tidak terasa pelajaran pertama sudah selesai dan Herman belum datang juga. Aku merasakan cukup gelisah entah kenapa.
Jam pelajaran kedua pun sudah dimulai dan lagi-lagi aku tidak dapat fokus pada pelajaran ini karena pandanganku masih terpaku pada pintu kelas yang biasa Herman lewati setiap sekolah.
“Udah Rin mending lu tanya aja lewat sms si Herman...” Suruh Mita
Dengan cepat aku membuka hpku dan mengirimkan pesan kepadanya. Lima menit berlalu, sepuluh menit sudah berlalu, hingga tak terasa jam pelajaran kedua pun sudah usai dan aku masih belum mendapatkan kabar dari Herman. Jam istirahat pun berlangsung, aku duduk di bangku taman sekolah melihat ke arah gerbang sekolah dan hingga saat ini aku tidak dapat menemukan Herman di sana atau dimanapun.
“Belom ada kabar dari Herman?” Tanya Mita
Aku hanya dapat menggelengkan kepala, karena memang hingga saat ini Herman belum membalas pesan dariku. Mita menyuruhku untuk tenang karena mungkin saja Herman memiliki keperluan dengan keluarganya hingga dia tidak bisa datang ke sekolah hari ini.
Jam demi jam sudah aku lewati hingga tak terasa bel pulang sekolah sudah berbunyi. Aku berjalan menuju gerbang depan sekolah bersama dengan Mita. Kami sudah masuk ke dalam mobil milik Mita dan aku diantarkan ke rumah kali ini. Selama di perjalanan aku merasa tidak nyaman karena tidak melihat Herman hari ini di sekolah.
“Gue ngga ngebayangin kalo lo beneran jadian sama Herman.” Kata Mita
“Maksudnya gimana Mit? Gue ngga ngerti.” Tanyaku bingung
”Lo bayangin nih ya, lo sama Herman yang belom jadian aja sehari ngga ngeliat dia udah kayak kehilangan apa tau yang berharga. Bayangin kalo lo udah beneran jadian sama Herman, mungkin lo udah jadi orang gila kali ya.” Jelas Mita
“Gue sendiri ngga tau Mit kenapa gue begini, perasaan gue ngga enak.” Kataku
“Apa mau ke rumahnya aja dulu?” Tanya Mita
Aku hanya menggelengkan kepalaku karena aku tidak tau apa yang harus aku lakukan saat ini. Tidak terasa akhirnya kami sudah tiba di rumahku. Aku berpamitan dengan Mita dan mengucapkan terima kasih karena telah mengantarkanku hingga rumah.
“Santai aja lah Rin kayak sama siapa aja. Nanti gue coba cari tau soal Herman juga deh.” Katanya
“Makasih ya Mit, lo emang sahabat gue.” Kataku
Kemudian Mita bergegas untuk pulang dan aku masuk ke dalam rumah dengan keadaan tidak bergairah sama sekali. Dan jelas saja, tingkah lakuku yang sangat berbeda hari ini menjadi objek aneh bagi Papa dan juga Mama.
“Kamu kenapa? Kok kayak ngga ada nyawanya gitu?” Tanya Mama
“Nggapapa Ma...” Jawabku singkat
“Kamu diapain sama si Herman?” Tanya Papa
“Ngga diapa-apain Pa, orang dia aja ngga masuk hari ini.” Jelasku
Kemudian aku meninggalkan mereka masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamar. Tanpa mengganti pakaian ataupun mandi aku langsung merebahkan badanku di atas kasur dengan hp yang ada di tangan kananku, dan aku masih belum mendapatkan kabar dari Herman. Aku berinisiatif untuk menghubunginya sore ini dan hasilnya sama saja, tidak ada jawaban sama sekali.
Entah kenapa aku merasa sangat gelisah ketika aku tidak melihat Herman hari ini, padahal kami hanya teman tidak lebih. Terlihat berlebihan namun memang ini benar adanya, aku gelisah ketika tidak bertemu Herman di tempat yang seharusnya aku melihatnya bahkan dapat berbincang dan bercanda bersama.
------------------------
Aku sedang bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah pagi ini bersama dengan Papa, dan kami sedang melaksanakan sarapan pagi seperti biasa di meja makan. Papa dan juga Mama sangat heran melihat diriku yang tidak ada semangat sama sekali untuk berangkat ke sekolah.
“Kamu kenapa? Dari kemaren abis pulang sekolah sampe sekarang kok masih gini-gini aja?” Tanya Mama keheranan
“Nggapapa kok Ma...” Jawabku singkat lagi
“Kamu mau ngga sekolah dulu? Abisan kamu ngga ada semangatnya gini.” Kata Papa
Aku hanya dapat menggelengkan kepalaku, dan akhirnya sarapanku selesai dan sebentar lagi aku akan berangkat ke sekolah diantar oleh Papa. Kubuka pintu utama rumahku untuk memakai sepatu dan aku mendapatkan kejutan yang luar biasa.
“Udah siap? Aku anterin.” Kata Herman dengan senyumannya
“Kamu kok...” Kata-kataku terhenti begitu saja
“Buruan, nanti siangan dikit malah kena macet.” Katanya lagi
Tanpa disadari aku dapat tersenyum pagi ini karena aku dapat melihat Herman lagi setelah kemarin ia menghilang entah kemana. Kemudian Papa dan juga Mama keluar dari dalam rumah.
“Om, Tante, saya boleh anter Airin ke sekolah?” Tanya Herman
Papa dan juga Mama melihat ke arahku secara bersamaan dan melihat aku dapat tersenyum kembali setelah kemarin aku murung seperti kehilangan separuh nyawa, dan akhirnya Papa dan Mama mengizinkan aku untuk diantar oleh Herman. Dengan cepat aku memakai sepatuku dan mengenakan helm yang diberikan oleh Herman, setelah berpamitan akhirnya kami berangkat ke sekolah.
Selama di perjalanan aku masih tidak percaya bahwa Herman ada di depanku saat ini setelah kemarin ia menghilang entah kemana tanpa adanya kabar.
“Man... Lo kemaren kemana?” Tanyaku dengan gugup
“Kangen ya Rin?” Tanyanya dan aku dapat melihat senyumannya dari kaca spion motornya
Aku tidak menjawab pertanyaan dari Herman, aku hanya dapat menganggukan kepalaku secara pelan entah ia tau atau tidak.
Buku misterius ini kututup dan kuletakkan di atas meja. Kuhisap kembali rokok yang sudah mendekati ujungnya dan kumatikan di dalam asbak. Aku merasakan kenyamanan di pagi hari ini, entah karena rokok yang sudah kuhisap, entah secangkir kopi yang mampu menyegarkan pagi hari ini, atau karena sebuah pelukan yang aku dapatkan pagi ini. Widya sudah berada di belakangku dari tadi namun ia menyuruhku untuk tetap membaca buku yang misterius ini dan kemudian ia mengalungkan tangannya di leherku, wajahnya dapat aku rasakan persis di sampingku yang ikut membaca buku itu juga.
“Udahan baca bukunya? Aku ganggu ya?” Tanyanya
“Ngga kok emang udah cukup bacanya.” Kataku
Ia mencium pipiku dari belakang dan kemudian ia tersenyum seperti biasanya. Kami memutuskan untuk mencari sarapan di luar. Belum sempat kami masuk ke dalam kamar aku sudah mendengar suara mobil di luar pagar, aku dan juga Widya segera turun untuk membuka gerbang tersebut. Reza dengan sangat kaget melihat aku bersama Widya dari dalam membukakan gerbang.
“Lu nginep sini Wid?” Tanyanya heran
“Iya dia nginep di sini.” Kataku menjawab
“Kayaknya udah ada yang bener-bener gantiin posisi gue nih...” Canda Reza
“Mulai lagi kan, mending mobil lu parkir di luar kita cari sarapan.” Kataku
Setelah bersiap-siap akhirnya kami mencari sarapan di luar bersama-sama, dan kami memutuskan untuk sarapan di sebuah warung tenda yang menjual soto ayam. Nanda dan juga Widya sedang memesankan untuk kami berempat sedangkan aku dan juga Reza sudah duduk di bangku yang disedakan.
“Jadi gimana lu sama dia?” Tanya Reza
“Ngga gimana-gimana. Harusnya gue yang nanya lu sama cewe itu gimana?” Tanyaku balik kepadanya
“Lumayan lah ada perkembangan.” Jawabnya singkat
Dan kemudian kami mulai dengan sarapan kami. Selesai dengan sarapan kami akhirnya kami kembali menuju rumah. Nanda membantu Reza untuk mencuci mobil miliknya sedangkan aku dan Widya hanya dapat melihat mereka dari pinggir kolam ini.
“Mereka lucu ya Bram...” Kata Widya
Aku hanya dapat menganggukkan kepalaku dan tersenyum ke arah mereka, secara reflek aku memegang tangan Widya dan dengan cepat aku langsung melihat ke arahnya. Dia tersenyum seperti biasa.
“Senyum yang mematikan.” Kataku kepadanya
Spoiler for Flashback:
Siang ini aku sedang duduk di bangku kantin setelah menghabiskan sepiring nasi goreng, dan tidak lama datanglah Widya membawakan minuman yang selalu sama untuk kami berdua.
“Makasih Wid...” Kataku sambil membuka tutup botol minuman ini
Ia tersenyum kepadaku dan jujur saja itu membuatku terdiam beberapa saat.
“Lo kenapa Bram?” Tanya Widya
“Senyum yang mematikan...” Jawabku spontan
“Apa?” Tanyanya lagi
“Eh ngga kok nggapapa-nggapapa.” Sanggahku
Dan memang benar, sebuah senyuman dapat menjadi sebuah senjata yang mematikan. Dan setelah aku melihat senyuman itu, aku rasa aku mulai menyukainya.
“Makasih Wid...” Kataku sambil membuka tutup botol minuman ini
Ia tersenyum kepadaku dan jujur saja itu membuatku terdiam beberapa saat.
“Lo kenapa Bram?” Tanya Widya
“Senyum yang mematikan...” Jawabku spontan
“Apa?” Tanyanya lagi
“Eh ngga kok nggapapa-nggapapa.” Sanggahku
Dan memang benar, sebuah senyuman dapat menjadi sebuah senjata yang mematikan. Dan setelah aku melihat senyuman itu, aku rasa aku mulai menyukainya.
Diubah oleh beavermoon 02-05-2016 19:04
khuman dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Kutip
Balas