Kaskus

Story

27serafinaAvatar border
TS
27serafina
i hate this love song
Boleh dibilang ini adalah tempat aku menceritakan sebuah kisah di masa lalu yang rasanya kaya sebatang coklat. Manis pahit namun cepat meleleh saat digenggam sehingga harus segera dihabiskan.

Kisah yang berawal dari patah hati, saat aku benar benar membenci lagu cinta karena dikhianati.

Bukan, ini bukan tentang si pengkhianat itu. Ini tentang sosok yang membangunkanku dari keterpurukan. Seperti coklat, ia yang dibutuhkan saat depresi. Manis, meskipun agak pahit, namun harus segera dihabiskan jika tidak ingin meleleh di tangan.

Spoiler for Index:


Spoiler for Jadwal Update:


Spoiler for I Hate This Love Song:

Diubah oleh 27serafina 11-09-2023 21:53
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
5.6K
31
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.7KAnggota
Tampilkan semua post
27serafinaAvatar border
TS
27serafina
#7
Chapter 4
Pieces of Me - Ashlee Simpson

Awal tahun 2009.
Ingin melupakan seseorang? Belajarlah mencintai orang lain. Dan Lucky benar-benar membuat aku lupa rasa sakit yang ada. Bukan karena luka itu sembuh, tapi aku hanya lupa untuk merasakan.

Yang aku ingat hanyalah senyumnya, cara bicaranya dan yang pasti tatapannya. Tatapan seorang yang ingin berusaha mengenal orang yang ada di hadapannya. Tatapan yang seolah membaca setiap gerak geriknya. " Ooooohhh.. It seems like I can finally rest my head on something real, I love the way that feels. Oooohhh it's as if you know me better than I ever knew myself. I love how you can tell all the pieces.. Pieces... Pieces of me"

"Lo tuh cewek pertama gue, Sen" dia bilang suatu malam ditelpon. "Aneh ya, baru kenal langsung jadian."

"Boong banget! Terus kenapa kalo baru kenal? Gak boleh?"

"Beneran! Abis lo pasang status kaya gitu di sosmed, kaya nantangin. Frontal banget!"

Seandainya itu bukan obrolan di telpon, pasti Lucky bisa lihat pipiku yang memerah seperti kepiting rebus. Aku percaya, sangat percaya kalau aku memang pacar pertamanya. Seorang cewek itu bisa melebihi intel dalam mencari info tentang seseorang. Dan tidak sulit memang mencari info tentang Lucky, karena dia ternyata tetangga dari teman SMPku.

"Nggak apa frontal, dulu juga waktu lomba lo frontal, ngintip-ngintip ke ruangan waktu gue naik podium," godaku.

"Shhhhh****t!!! Lo liat itu?! Anjir malu banget gue!!!"

"Keliatan banget kali lo interest ama gue. Hahahaa"

"Ehh.. Tapi sumpah, gue sempet cemburu banget ama Rakka," akunya jujur.

"Rakka mah cuma laki-laki penghibur,Luck. Tenang aja."

Percakapan ditelpon setiap malam sangat tidak terasa. Kami terus-terusan ngobrol menceritakan tentang satu sama lain sampai kami masing-masing terlelap tidur. Kami bisa tahan mengobrol sampai jam 2 malam. Aku sampai berpikir, jika memang dia jadi suamiku aku tidak akan pernah bosan mendengar ceritanya setiap malam dan dia juga pendengar yang baik.

Dia bilang dia ingin tahu sekecil-kecilnya detail tentangku. Aku ceritakan semua, keseharianku, keluargaku, masa kecilku, dan yang pasti lukaku dari Arsya. Lucky bukan rebound seperti yang teman-temanku kira, karena aku begitu cepat jadian dengan dia, ditambah lagi dia lebih muda dariku. Lucky benar-benar penyembuhku.

"Sarah siapa, Luck?" tanyaku suatu hari setelah melihat nama tersebut di sosmed nya.

"Temen sekelas gue, sahabat gue. Tenang aja, dia udah punya cowok," jawabnya santai.

Oh, pantes akrab, pikirku dalam hati. Bukannya apa, tapi dari percakapan mereka di sosmed seolah Sarah sengaja menunjukan dia kurang setuju dengan Lucky yang memilihku jadi pacarnya. Kurang lebih dia berkata, hati-hati jadian dengan yang lebih tua, biasanya cuma berakhir menyakiti.

Jujur, aku merasa marah. Seolah-olah dia berkata aku tante-tante gatal yang hanya mempermainkan Lucky. Namun aku pendam amarahku.

"Maaf ya, mungkin kata-katanya kurang pantas ya? Gue juga gak tau kenapa dia ngomong kaya gitu," Lucky berkata seakan tau apa yang ada di pikiranku.

"Slow aja, Luck. Dia kan sahabat lo, wajar kalo dia khawatir tentang lo," jawabku berusaha menenangkan dia. "Secara gue lebih tua dari lo, belom kenal banget tapi kita udah jadian. Malah gue jadi termotivasi untuk ngebuktiin kalau firasat dia tentang gue gak bener. Tapi kesannya kaya gue tante-tante hiks hiks"

Yap! Aku berjanji pada diriku sendiri, aku tak ingin melukainya. Aku akan berusaha jadi pacar pertama dan terbaik buat Lucky.

Dia tertawa mendengar kata-kataku. "Tante-tante? Parah! Lo cuma lebih tua dari gue setahun 7 bulan Sen, masa tante tante? Gak usah diambil hati ya."

"By the way, lo punya facebook?" tanyanya.

"Facebook? Apaan tuh?"

"Ya sama kaya friendster."

"Ah males ah, nambah-nambah akun lagi, nanti ribet ngurusnya. Kenapa?

"Nggak kenapa-kenapa.. Nanya aja," jawabnya santai. "Oh iya, sabtu depan di sekolah gue ada pensi, lo bisa dateng?"

"Haduuuuhh.. Sabtu depan gak bisa, sekolah gue juga ada acara seminar gitu di hotel. Gue jadi panitianya. Maaf ya."

"Oh ya?" ada sedikit nada kecewa dari suaranya. "Selesai jam berapa?"

"Mungkin malam, jam 7. Gue sama temen se geng gue jadi panitia."

"Kalau gitu, gue pulang pensi ketemuan di hotel itu ya?"

"Eh, serius?"

"Iya. Paling pensi beres sebelum maghrib. Gue juga sekalian pengen kenal sama temen satu geng lo."

"Boleh.."

Langsung saja, aku menghubungi 3 sahabatku untuk menceritakan rencana Lucky. Mereka pun tidak sabar ingin bertemu Lucky, cowok yang bisa membuat aku melupakan Arsya, yang selama ini membuat mereka sedih melihatku yang terpuruk.

Diubah oleh 27serafina 03-05-2016 00:32
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.