“Dari mana saja? Kok masih pakai seragam?” Tanyanya
“Habis main sama Fian Bi, tadi hampir lupa jemput soalnya ke asikan”
“Bibi juga bisa pulang sendiri sayang, engga usah dijemput segala”
“Kalau engga dijemput Paman pasti khawatir BI” Jawab ku
Spontan Bibi pun langsung memeluk ku, mungkin ia sedang rindu dengan Paman di sana. Esoknya sepulang sekolah seorang gadis tengil sudah berada di depan pintu untuk menagih janji ku padanya. Di tempat biasa kami pun duduk dan mulai membicarakan hal-hal yang waktu itu tak sempat terucap.
“Dan?”
“Ya?”
“Es teh?”
“Boleh Rys”
“Nih” Tak lama iya memberikan ku segelas es the yang dibelinya
“Makasih, terus?” Tanya ku
“Maksudnya?”
“Ya kan kamu ngajak aku kesini kan mau ngomongin sesuatu, engga mungkin cuma ngajakin duduk sambil minum es” Jelasku
“Hehe, hmm, kamu marah ya soal kemaren?”
“Emang wajah ku ini keliatan lagi marah?” Sambil menunjuk muka sendiri
“Hehehe” Ia hanya tertawa
“Udah cerita aja didengerin kok”
“Dimulai dari mana ya Dan?”
“Bisa dari awal mulai suka, atau bisa langsung to the point pas cemburu” Ejek ku sambil tertawa
“Hmmm”
“Gitu aja dimasukin hati”
“Sensitif kalau masalah hati Dan”
“Terus kenapa engga dijelasin?”
“Aku kan cewek! Masa iya bilang duluan?”
“Katanya cinta kok gengsi? Makan tuh cinta”
“Ahh curhat sama kamu bikin emosi doang”
“Ya kamunya terlalu berbelit-belit sih, coba liat Neiza, dia aja langsung ke kelas, ngajak ngobrol, bukannya ngasih surat di laci pas jam pulang sekolah” Jelas ku
“Emang kamu engga?” Sahutnya dengan lirikan tajam
“Ini lagi bahas masalahnya siapa ya?”
“Kamu tuh nyebelin, nasihatin orang dengan cara yang simpel, padahal kamu sendiri engga bisa ngelakuinnya” Jawabnya
“Bukannya aku engga bisa, tapi emang aku lagi engga tertarik” Suasana pun mulai memanas
“Terus apa yang buat kamu engga tertarik?”
“Banyak, kita bentar lagi mau ujian kan? Mana sempet mikirin gituan”
“Klise Dan, bilang aja kamu takut ditolak mentah-mentah, ya kan?”
“Sembarangan kalau ngomong, kalau aku usaha juga bisa kok, pendekatan itu gampang”
“Okay, kita liat aja, siapa duluan yang berhasil, aku atau kamu? Berani?” Dengan enteng pun aku menerima tantangannya