Mungkin ketika kita menolak ajakan seorang wanita disitu ada rasa kecewa yang tersirat. Entah dari gestur tubuh, nada bicara, pasti ada perubahan emosional pada saat itu. Begitulah mungkin yang ia rasakan. Sepulang sekolah aku pun dengan Fian menuju ke alamat yang tertera dalam kartu nama itu. Terik mentari tak menghalangi niat ku untuk membuktikan siapa dia sebenarnya. Butuh waktu sekitar 1 jam dengan kendaraan umum untuk menuju alamat tersebut. Sebuah rumah rumah yang cukup megah, bisa dibilang kawasan orang berada.
“Permisi” Teriak ku sambil menggedor pintu rumah
“Dan, bener ini rumahnya?” Tanya Fian
“Iya berisik ah, nih” Sambil menyerahkan uang
“Buat apa nih?”
“Ke toko depan, buat beli jus atau nongkrong deket sini”
“Giliran udah nyampe malah diusir, kalau udah selesai langsung ke depan yah?” Sambil menunjuk ke sebrang jalan
“Iya”
“Kleeeek” Suara pintu terbuka
“Cari siapa ya?”
“Ibu Diananya ada dek?”
“Sebentar ya?”
“Iya”
“Mama, mama, ada tamu” Terdengar dari dalam gadis kecil itu berteriak
“Dan? Sinih masuk”
Melihat interior rumah yang cukup membuar aku terkagum. Serba putih seperti istana. Tak lama pun ia datang dengan membawa sebuah jajanan kaleng dan segelas syrup.
“Susah kesininya?” Tanyanya
“Cukup mudah, dan kedatangan saya kesini juga ada maksud tertentu” Jawab ku yang langsung to the point
“Iya saya tahu”
“Sebenarnya anda ini siapa?”
Kami pun berbicara panjang lebar tentang seluruh kejadian hingga aku bersama Bibi. Tak terasapun waktu juga sudah semakin sore dan sudah semestinya aku pergi dari tempat itu, namun ada yang menahan agar aku tak beranjak dari sofa. Mungkin karena ia adalah Ibu kandung ku.
“Saya pamit dulu Bu”
“Dan, kamu bisa kapan saja kesini, kalau ada apa-apa bilang saja”
“Iya Mah”
Lalu ia pun memeluk ku ketika aku memanggilnya dengan sebutan itu. Sepulang dari rumah itu aku pun bergegas pulang karena Bibi telah menunggu di stasiun dan Fian kembali ke rumahnya.