Ini dia yang aku cari, setelah ku teliti ternyata benar, ada nama yang sama pada akta kelahiran ku. Nama yang sama dengan wanita paruh baya itu. Keesokan harinya pun aku berniat untuk menemuinya untuk benar-benar memastikan kebenarannya.
“Ini nih, yang kemaren habis kencan” Celetuk Fian di gebang sekolah
“Berisik deh, siapa juga yang kencan”
“Oh iya, nanti temenin bisa? Habis pulang sekolah”
“Kemana?” Tanyanya
“Nih” Sambil menyerahkan kartu nama
“Lumayan jauh juga, naik apa kita?”
“Angkutan umum aja”
“Bayarin okay?”
“Iya”
Lalu kami berjalan ke kelas. Hari ini pelajaran olah raga, bagi ku ini adalah pelajaran yang paling menyenangkan karena tak harus banyak berpikir / menghitung angka-angka. Ditengah lamunan yang sedang asik-asiknya mendadak ada bola basket terbang ke arah ku
Melihat para gadis-gadis yang bersorak riang yang melihat siswa laki-laki bermain basket dengan kelas lain, mendadak membuat ku mood ku berubah karena terlalu bising. Fian yang melihat ku tak terlalu suka dengan keramaian mengerti isyarat ku jika ingin mencari ku langsung ke belakang saja. Aku suka ketenangan, aku suka sepi, aku suka suara gemuruh hembusan angin. Setibanya di tempat favorit aku dikagetkan dengannya, kenapa ia ada disini? Padahal seharusnya ini masih jam pelajaran. Sempat ingin menyapa tetapi aku memilih untuk diam seperti biasanya karena terasa canggung dengan suasana seperti ini. Dan aku mengeluarkan walkman ku sekedar mendengarkan musik dan mengalihkan perasaan canggung ku terhadapnya. Alunan musik dari iggy pop menjadi teman kesunyian ku.
“Hey” Tanyanya
“Hey???” Sekali lagi sambil menepuk pundak ku
“Ya?” Aku melepas headset ku
“Maaf ya?”
“Buat?”
“Soal kemaren”
“Oh iya tenang aja” Kata ku
“Lagi dengerin apa?” Tanyanya
“Lagi dengerin kamu ngomong”
“Serius juga, nanti ada waktu?”
“Maaf, kalau nanti engga bisa, besok paling, atau lusa, gimana?”