“Sebenarnya tujuan mu itu apa Rys? Kamu emang tulus mau membantu supaya Neiza dekat dengan ku, atau memang untuk kepentinggan mu untuk menjauhkan mereka, agar kamu bisa mendekatinya?” Ucap ku sambil menatap langit
Ia pun masih saja diam seribu bahasa tanpa sepatah katapun. Lantas aku pun beranjak dari taman dan meninggalkannya duduk disana sendiri.
“Oh aku lupa, terima kasih ya Rys”
Jam di tangan kanan menunjukan pukul 5.00, dengan buru-buru aku pun menuju stasiun kereta untuk sekedar menemani Bibi. Karena biasanya Paman yang selalu menemaninya kecuali ketika ia dapat shift 2. Sekitar setengah jam aku berjalan dari taman kota menuju stasiun dan harus menunggu keretanya sekitar 20 menit. Terlihat dari kejauhan wanita yang merawatku bertahun-tahun keluar dari peron, dan aku langsung menghampirinya.
“Bi?”
“Kenapa disini?” Tanyanya
“Jemput lah, sinih belanjaannya” Pinta ku
“Naik apa kesininya? Kok masih pakai seragam sekolah?”
“Jalan Bi, iya tadi ada urusan sebentar di sekolah”
“Oh ya sudah, kita naik becak saja”
Aku pun memanggil becak untuk segera menghampiri kami disini.
“Besok-besok pakai motor saja ya? Besok Bibi urus pengantarnya jadi kamu tinggal foto saja”
“Iya Bi” Jawab ku dengan senang
Di perjalanan aku teringat kembali dengan wanita yang menghampiri ku siang tadi. Ingin ku bertanya pada Bibi namun lebih baiknya aku cari tahu sendiri kebenaranya.
“Terima kasih, Pak” Ucap Bibi sambil menyerahkan uang
“Iya bu, sama-sama”
“Masak apa kita Bi?”
“Bibi cuma belanja sarden sayang, mau?”
“Boleh”
Makan malam kali hanya tinggal berdua saja, aku dan Bibi. Memang agak terasa sepi tapi mau bagaimana lagi? Disela-sela makan aku pun mulai bertanya tentang berkas-berkas ku dari kartu keluarga atau pun akta kelahiran. Apakah benar wanita yang mengaku sebagai ibu ku tadi siang itu benar? Bibi pun menunjukan bahwa berkas ku ada pada lemari di ruang keluarga laci terbawah.
“Kalau boleh tahu buat apa berkas-berkasnya sayang? Tanya Bibi
“Oh, tadi di suruh wali kelas Bi, buat data ijazah atau apa gitu” Jawab ku dengan spontan