- Beranda
- Stories from the Heart
KISAH NYATA SEWAKTU DI GUNUNG MARAPI SUMBAR
...
TS
agungrasix
KISAH NYATA SEWAKTU DI GUNUNG MARAPI SUMBAR

Spoiler for :
Bagi para pecinta film horror, rasanya film ini adalah salah satu film yang sangat menegangkan. Secara film ini kan diangkat dari recorder kamera yang ditemukan warga Yogyakarta pasca meletusnya Gunung Merapi, Yogyakarta 2010 silam. Jadi dipertengahan sampai akhir film tersebut, backgroundnya berada di Gunung Merapi. Diceritakan bahwa mereka (Poppy, Migi dll) tersesat di Gunung Merapi bahkan sudah berada di alam ghaib.
Spoiler for :
Bukti dari warga sanahttps://www.kaskus.co.id/show_post/5...7868d22b8b4567
Spoiler for :
Nah, disini ane akan menceritakan pengalaman ane pada tahun 2013 yang berlatarbelakang gunung juga. Tapi beda gunung kok gan. Tepatnya di Gunung Marapi, Padang, Sumbar. Cerita yang ane tulis adalah ASLI pengalaman ane pribadi tanpa adanya tambahan cerita seditpun. Terlepas dari hoax atau fiksi, itu terserah sama agan-agan sendiri. Karena ane sendiri pun kalo kembali mengingat kejadian tersebut, kayak gak real & gak nyangka gitu gan. Mungkin nanti agan-agan beranggapan bahwa cerita ane ini lebay atau apalah. Tapi nanti ane akan menjelaskan alasan kenapa ane beserta teman-teman ane bisa mengalami kejadian tersebut di akhir cerita.
Spoiler for FAQ for My Real Story:
Q: Ini kpn kejadian nya gan?
A: Juni 2013
Q: Cerita asli gan?
A: Awalnya cuma pengalaman pribadi sih tp akhirnya ane tuang kedalam bentuk cerita
Q: Misal ada yg komen yg pernah naik ke gunung Marapi jg tp gak ada kejadian kyk agan gini gmn? Beda cerita dong. Kesannya ini cerita fiksi?
A: Ya berarti intinya dia gak dapat pengalaman berharga yg kyk gini. Mau nyoba? SILAHKAN
Abis itu bikin trit kyk gini juga 
Q: Wah agan nantangin ya?
A: Ane gak nantangin. Mksd ane disini pengalaman tiap org kan pasti beda2 dan beruntungnya ane pernah ngerasain pengalaman kyk gitu. Ya kalo cerita ane ini terkesan fiksi, silahkan coba sendiri aja gan. Biar tau sendiri gmn nantinya hehe
Q: No pict = Hoax
A: Dalam perjalanan hujan, gelap, licin, lapar, haus, capek, emosi, takut, kedinginan & pasrah masih sempat foto?
Q: Katanya dicerita ini agan dan teman2nya sering foto2?
A: Iya ada pas di taman Edelweis. Di akhir cerita ane upload
Q: Kapok gak gan? Trauma?
A: Kapok sih gak. Trauma? SANGAT. Uji nyali coy
Q: Kok Updatenya lama?
A: Ane bkn pengangguran (NO SARA) yg gak ada kegiatan. Ane skrg udah jd mahasiswa gan jd harap dimaklumin dgn kegiatan ane skrg
A: Juni 2013
Q: Cerita asli gan?
A: Awalnya cuma pengalaman pribadi sih tp akhirnya ane tuang kedalam bentuk cerita
Q: Misal ada yg komen yg pernah naik ke gunung Marapi jg tp gak ada kejadian kyk agan gini gmn? Beda cerita dong. Kesannya ini cerita fiksi?
A: Ya berarti intinya dia gak dapat pengalaman berharga yg kyk gini. Mau nyoba? SILAHKAN
Abis itu bikin trit kyk gini juga 
Q: Wah agan nantangin ya?
A: Ane gak nantangin. Mksd ane disini pengalaman tiap org kan pasti beda2 dan beruntungnya ane pernah ngerasain pengalaman kyk gitu. Ya kalo cerita ane ini terkesan fiksi, silahkan coba sendiri aja gan. Biar tau sendiri gmn nantinya hehe
Q: No pict = Hoax
A: Dalam perjalanan hujan, gelap, licin, lapar, haus, capek, emosi, takut, kedinginan & pasrah masih sempat foto?
Q: Katanya dicerita ini agan dan teman2nya sering foto2?
A: Iya ada pas di taman Edelweis. Di akhir cerita ane upload

Q: Kapok gak gan? Trauma?
A: Kapok sih gak. Trauma? SANGAT. Uji nyali coy

Q: Kok Updatenya lama?
A: Ane bkn pengangguran (NO SARA) yg gak ada kegiatan. Ane skrg udah jd mahasiswa gan jd harap dimaklumin dgn kegiatan ane skrg

Spoiler for ATTENTION:
Mengingat hal ini adalah cerita asli dan menyangkut image, ane selaku TS akan merahasiakan asal sekolah ane namun tdk dgn asal kota ane.
Spoiler for NB:
Mohon dimaafkan apabila cerita yg ane buat ini terkesan panjang, membosankan, ribet atau yg lainnya. Hal ini ane lakukakan karena memang begitu adanya. Kl ada cerita yg ane lewatin, malah gak nyambung nantinya.
Kl dlm penggunaan bahasa yg agak "aneh" maklumin aja ya gan, soalnya ane gak pandai jadi pujangga yg pandai merangkai kata
Kl dlm penggunaan bahasa yg agak "aneh" maklumin aja ya gan, soalnya ane gak pandai jadi pujangga yg pandai merangkai kata
Spoiler for Intro :
Anggota PA & Keterangan Pribadi
Agung : Biasa saja
Arif : Biasa saja
Adrian : Biasa saja
Nopan : Keras kepala, leader
Andri : Biasa saja
Agam : Asli orang Padang, daerah Simabur dan kebetulan kami tinggal di tempat neneknya, memiliki "bodyguard" yg berupa Singa.
John : Selaku ketua PA & orang Padang juga
Aby : Biasa saja
Rio : Biasa saja
Billy : Biasa saja (pengalaman pertama mendaki)
Dwiki : Biasa saja
Imam : Sering ngomong kotor
Septian : Suka foto2
Galih : Orang jawa yg mempunyai "Bodyguard" dari neneknya yg berupa Macan
Jalil : Biasa saja
Ardian : Biasa saja
Pemandu & Keterangan Pribadi
Angga : Kakak sepupunya Agam & Egois
Can : SUPER SAKTI, Penjaga Desa Simabur dan LABIL. Kadang baik kadang nggak. Kadang marah kadang ngelucu
Temannya Can (ane lupa namanya, sebut saja TA : Teman Angga) : Banyakan diam sih dia.
Agung : Biasa saja
Arif : Biasa saja
Adrian : Biasa saja
Nopan : Keras kepala, leader
Andri : Biasa saja
Agam : Asli orang Padang, daerah Simabur dan kebetulan kami tinggal di tempat neneknya, memiliki "bodyguard" yg berupa Singa.
John : Selaku ketua PA & orang Padang juga
Aby : Biasa saja
Rio : Biasa saja
Billy : Biasa saja (pengalaman pertama mendaki)
Dwiki : Biasa saja
Imam : Sering ngomong kotor
Septian : Suka foto2
Galih : Orang jawa yg mempunyai "Bodyguard" dari neneknya yg berupa Macan
Jalil : Biasa saja
Ardian : Biasa saja
Pemandu & Keterangan Pribadi
Angga : Kakak sepupunya Agam & Egois
Can : SUPER SAKTI, Penjaga Desa Simabur dan LABIL. Kadang baik kadang nggak. Kadang marah kadang ngelucu
Temannya Can (ane lupa namanya, sebut saja TA : Teman Angga) : Banyakan diam sih dia.
Spoiler for PLANNING AWAL:
Cerita ini berawal dari saya yang lagi duduk di kelas 2 SMA di Kota Bengkulu. Dsna saya mengikuti eskul a.k.a ekstrakulikuler Pecinta Alam (PA). Menjelang libur semester panjang, saya beserta teman-teman dari PA akan pergi mendaki ke Gunung Marapi, Padang, Sumbar. Tujuan mendaki ini adalah salah satu kegiatan rutin dari eskul PA. Dd semua anggota PA waktu itu (sekitar 30an orang), akhirnya trdpt 16 orang yang siap dan bersedia pergi mendaki trmsk saya salah satunya. Dari 15 orang itu yakni Arif , Nopan, Ardian, Adrian, Andri, Agam, Billy, Septian, John, Galih, Jalil, Dwiki, Rio, Imam & Aby. Disini JO adalah selaku Ketua PA kami.
Sblm hari H, John menyiapkan bbro surat izin untuk ke 16 orang ini. Tujuan dd surat izin tsb adlh utj memberitahu para orangtua agar mengizinkan anak-anaknya (16 orang) untuk mengikuti serangkaian kegiatan mendaki ini. Untuk saya pribadi, ketika surat izin mendaki tersebut sampai ditangan kedua orang tua saya, saya langsung menyakinkan kedua orang tua saya apa & kapan kegiatan tersebut dilaksanakan. Alhamdulillah, surat izin saya itu di acc/disetujui oleh kedua orang tua saya dan tentunya saya juga mendapat amanah agar tetap menjaga tutur kata, tindakan dll nya pas di gunung nanti. Dalam rincian rencana kegiatan itu, kami memilih waktu 10 hari terhitung dr awal pergi (dari Bengkulu), di Gunung serta sekaligus liburan di kota Padang nantinya sebelum balik lagi ke Bengkulu.
Sblm hari H, John menyiapkan bbro surat izin untuk ke 16 orang ini. Tujuan dd surat izin tsb adlh utj memberitahu para orangtua agar mengizinkan anak-anaknya (16 orang) untuk mengikuti serangkaian kegiatan mendaki ini. Untuk saya pribadi, ketika surat izin mendaki tersebut sampai ditangan kedua orang tua saya, saya langsung menyakinkan kedua orang tua saya apa & kapan kegiatan tersebut dilaksanakan. Alhamdulillah, surat izin saya itu di acc/disetujui oleh kedua orang tua saya dan tentunya saya juga mendapat amanah agar tetap menjaga tutur kata, tindakan dll nya pas di gunung nanti. Dalam rincian rencana kegiatan itu, kami memilih waktu 10 hari terhitung dr awal pergi (dari Bengkulu), di Gunung serta sekaligus liburan di kota Padang nantinya sebelum balik lagi ke Bengkulu.
Spoiler for HARI KE 1 & KE 2 - SAMPAI DI PADANG:
Km memulai perjalanan dari Bengkulu pada pukul 12 siang dengan menggunakan bis kota. Dalam perjalanan ke Padang, kami asik bermain gitar & menyanyi. Bis ini serasa milik kami gan hehe secara kami ber 16 lsg memesan tiket secara bersamaan. Tmpt duduknya pun juga berurutan.
Pukul 5 pagi kami tiba di Padang. Namun utk ke lokasi penginapan, kami mesti melanjutkan perjalanan sekitar 30 menit. Ohiya, jadi slm di Padang kami nginap di rumahnya nenek teman kami Agam. Kebetulan sih Agam ini orang Padang gan. Sesampainya di tmpt penginapan, kami disambut oleh neneknya di Agam. Nenek ini kemudian kami panggil dengan nama Makwo. Makwo ini orangnya super duper baik banget gan. Pas kami sampai saja, km langsung disuguhi makanan dan minuman ala ditempat pesta-pesta pernikahan gitu. Disana juga ada keluarga-keluarga Agam yang menemani kami sarapan. Rumah Makwo ini lumayan besar gan. Apalagi Makwo ini cuma tinggal sendirian. Kegiatan sehari-hari Makwo ini adalah dari pagi sampai sore, beliau jaga warung di pasar. Kebetulan tempat tinggal kami ini berdekatan dengan pasar. Disini kami full istirahat serta berbaur dengan warga-warga sekitar.
Planning mendaki gunung Marapi itu ada di hari ke 3 dari rundown kegiatan kami. Sebelumnya, kami meminta bantuan kepada AM agar mencari seseorang yang paham dengan gunung Marapi ini dengan tujuan menjadi pemandu kami nantinya. Akhirnya setelah tidak beberapa lama, Agam ngabarin kekita bahwa ada salah satu dari keluarganya yang bersedia menemani ke gunung.
Pukul 5 pagi kami tiba di Padang. Namun utk ke lokasi penginapan, kami mesti melanjutkan perjalanan sekitar 30 menit. Ohiya, jadi slm di Padang kami nginap di rumahnya nenek teman kami Agam. Kebetulan sih Agam ini orang Padang gan. Sesampainya di tmpt penginapan, kami disambut oleh neneknya di Agam. Nenek ini kemudian kami panggil dengan nama Makwo. Makwo ini orangnya super duper baik banget gan. Pas kami sampai saja, km langsung disuguhi makanan dan minuman ala ditempat pesta-pesta pernikahan gitu. Disana juga ada keluarga-keluarga Agam yang menemani kami sarapan. Rumah Makwo ini lumayan besar gan. Apalagi Makwo ini cuma tinggal sendirian. Kegiatan sehari-hari Makwo ini adalah dari pagi sampai sore, beliau jaga warung di pasar. Kebetulan tempat tinggal kami ini berdekatan dengan pasar. Disini kami full istirahat serta berbaur dengan warga-warga sekitar.
Planning mendaki gunung Marapi itu ada di hari ke 3 dari rundown kegiatan kami. Sebelumnya, kami meminta bantuan kepada AM agar mencari seseorang yang paham dengan gunung Marapi ini dengan tujuan menjadi pemandu kami nantinya. Akhirnya setelah tidak beberapa lama, Agam ngabarin kekita bahwa ada salah satu dari keluarganya yang bersedia menemani ke gunung.
Spoiler for HARI KE 3 - KEGALAUAN SEBELUM PERGI:
Tanggal 26 Juni 2013 adalah hari dimana kami akan memulai pendakian. Semua persiapan sudah siap. Dari keperluan individu dan kelompok. Jadi dari 16 orang ini, kami membuat kelompok menjadi 4 kelompok dimana tiap kelompok berisikan 4 orang. Tujuannya sendiri adalah agar memudahkan dalam mengatur dan mengkoordinir teman-teman sewaktu di gunung nanti.
Pukul 11.00 siang kami sudah siap berangkat ke tkp. Sialnya orang yg akan menjadi pemandu kami ini ngabarin kalau dianya tidak bisa datang untuk menemani kami pergi mendaki. Lah, kan padahal sebelumnya kami sudah bilang bahwa kami butuh seseorang yang sudah paham dengan Gunung Marapi ini. Kebetulan pada waktu itu cuaca pun seakan turut tidak mendukung kami untuk pergi mendaki. Hujan lebat ditambah dengan suhu di kaki gunung ini membuat kami buntu akal. Ditambah dengan tidak adanya pemandu, beberapa dari kami memutuskan untuk mencancel pendakian. Tapi mau tidak mau, rundown kegiatan kami sudah terlanjur dibuat. Kalau nantinya pendakian ini ditunda, takutnya malah kedampak ke kegiatan hari-hari berikutnya dari rundown kami.
Pukul 13.00 hujan pun masih setia menemani kegalauan kami. Beberapa dari kami bahkan tetap ngotot untuk melanjuti pendakian walaupun tanpa seorang pemandu dan hujan yang lebat sekalipun. Setelah terjadi perdebatan yg alot sesama anggota pendakian, akhirnya kami memutuskan untuk mencancel pendakian. Dengan catatan, kami tetap mencari seseorang yang mampu menemani kami mendaki nantinya melalui Agam yang notaben punya keluarga asli di daerah sana.
Pukul 15.00 hujan pun masih meliputi kegalauan kami. Tapi sepertinya Tuhan punya rencana lain. Ada salah satu keluarga sih Agam yg lainnya bersedia menemani kami. Rencana untuk mencancel pendakian pun batal. Ya, kami tetap melanjutkan pendakian sesuai dengan jadwal yang sudah kami tetapkan. Si pemandu kami ini adalah kakak sepupunya Agam sendiri. Namanya Angga. Si Angga ternyata tidak datang sendiri melainkan bersama 2 orang temannya yg bernama Can dan satunya lagi saya lupa namanya tapi disini saya sebut saja dengan TA (Teman Angga). Akhirnya kami berdiskusi dulu dengan Angga dan teman-temannya. Intinya sih Angga ini mau menemani kami mendaki tapi dengan catatan mereka meminta untuk mendapatkan "service" dari kami. Mereka meminta uang belanja, tenda, makanan & minuman serta rokok. Parah gak tuh? Secara kan sih Angga itu adalah kakak sepupunya sih Agam itu sendiri. Mungkin untuk masalah makan, minum dan rokok kami bisa memaklumin. Lah, tp kalau tenda sama uang belanja, jujur saja kami sangat keberatan. Secara kalau dari masalah tenda, kan kami udah pas untuk per kelompok. Kalau mereka bertiga (Angga dan teman-temannya) meminta tenda, otomatis kami ber 16 orang mesti membagi 3 tenda per orang. Akhirnya mau tidak mau kami setuju untuk masalah tenda dan yang lainnya.
Pukul 16.30 hujan masih tidak kunjung berhenti. Tapi kemudian si pemandu kami Angga bilang kepada John & Agam agar diminta dibelikan kemenyan dan sejenisnya. Saya lupa detailnya bagaimana secara waktu itu saya lagi berada di kamar bersama teman-teman yang lain dan kebetulan si Angga itu cuma bilang sama John & Agam saja. Setelah permintaan Angga terpenuhi, mereka bertiga lalu pergi ntah kemana. Seperti kebetulan atau bagaimana, hujan pun berhenti! Otomatis kan kami pun senang karena cuaca sangat mendukung untuk tetap melanjutkan perjalanan pendakian.
Pukul 11.00 siang kami sudah siap berangkat ke tkp. Sialnya orang yg akan menjadi pemandu kami ini ngabarin kalau dianya tidak bisa datang untuk menemani kami pergi mendaki. Lah, kan padahal sebelumnya kami sudah bilang bahwa kami butuh seseorang yang sudah paham dengan Gunung Marapi ini. Kebetulan pada waktu itu cuaca pun seakan turut tidak mendukung kami untuk pergi mendaki. Hujan lebat ditambah dengan suhu di kaki gunung ini membuat kami buntu akal. Ditambah dengan tidak adanya pemandu, beberapa dari kami memutuskan untuk mencancel pendakian. Tapi mau tidak mau, rundown kegiatan kami sudah terlanjur dibuat. Kalau nantinya pendakian ini ditunda, takutnya malah kedampak ke kegiatan hari-hari berikutnya dari rundown kami.
Pukul 13.00 hujan pun masih setia menemani kegalauan kami. Beberapa dari kami bahkan tetap ngotot untuk melanjuti pendakian walaupun tanpa seorang pemandu dan hujan yang lebat sekalipun. Setelah terjadi perdebatan yg alot sesama anggota pendakian, akhirnya kami memutuskan untuk mencancel pendakian. Dengan catatan, kami tetap mencari seseorang yang mampu menemani kami mendaki nantinya melalui Agam yang notaben punya keluarga asli di daerah sana.
Pukul 15.00 hujan pun masih meliputi kegalauan kami. Tapi sepertinya Tuhan punya rencana lain. Ada salah satu keluarga sih Agam yg lainnya bersedia menemani kami. Rencana untuk mencancel pendakian pun batal. Ya, kami tetap melanjutkan pendakian sesuai dengan jadwal yang sudah kami tetapkan. Si pemandu kami ini adalah kakak sepupunya Agam sendiri. Namanya Angga. Si Angga ternyata tidak datang sendiri melainkan bersama 2 orang temannya yg bernama Can dan satunya lagi saya lupa namanya tapi disini saya sebut saja dengan TA (Teman Angga). Akhirnya kami berdiskusi dulu dengan Angga dan teman-temannya. Intinya sih Angga ini mau menemani kami mendaki tapi dengan catatan mereka meminta untuk mendapatkan "service" dari kami. Mereka meminta uang belanja, tenda, makanan & minuman serta rokok. Parah gak tuh? Secara kan sih Angga itu adalah kakak sepupunya sih Agam itu sendiri. Mungkin untuk masalah makan, minum dan rokok kami bisa memaklumin. Lah, tp kalau tenda sama uang belanja, jujur saja kami sangat keberatan. Secara kalau dari masalah tenda, kan kami udah pas untuk per kelompok. Kalau mereka bertiga (Angga dan teman-temannya) meminta tenda, otomatis kami ber 16 orang mesti membagi 3 tenda per orang. Akhirnya mau tidak mau kami setuju untuk masalah tenda dan yang lainnya.
Pukul 16.30 hujan masih tidak kunjung berhenti. Tapi kemudian si pemandu kami Angga bilang kepada John & Agam agar diminta dibelikan kemenyan dan sejenisnya. Saya lupa detailnya bagaimana secara waktu itu saya lagi berada di kamar bersama teman-teman yang lain dan kebetulan si Angga itu cuma bilang sama John & Agam saja. Setelah permintaan Angga terpenuhi, mereka bertiga lalu pergi ntah kemana. Seperti kebetulan atau bagaimana, hujan pun berhenti! Otomatis kan kami pun senang karena cuaca sangat mendukung untuk tetap melanjutkan perjalanan pendakian.
Spoiler for MASIH DI HARI KE 3 - MASALAH DI POS GUNUNG MARAPI:
Pukul 16.30 kami melakukan perjalanan ke pos Gunung Marapi. Butuh waktu kurang lebih 1 jam perjalanan dari rumah Makwo ke Pos tersebut. Dalam perjalanan yang menggunakan 2 angkot, khususnya angkot yang saya naikin, si Angga dan berdua temannya itu tampak santai dan mau berbaur dengan kami.
Ohiya yg mesti agan-agan sekalian ketahui, bahwa si Angga dan kedua temannya ini emang gak bawa apa-apa. MEREKA CUMA BERMODALKAN TAS PINGGANG, PARANG SAMA SENTER!!! Sepatu yang digunakan sama Can saja sepatu merek Kappa warna hitam.
Jam 18.00 kami daftar di pos Gunung Marapi. Setelah bayar registrasi serta tinggalin nomer hp, kamipun ditanya oleh penjaga pos mau berapa lama kami nanti di Gunung Marapi. Ada 1 pertanyaan terakhir yang bikin kaget penjaga pos ini. Kira-kira percakapan antara penjaga pos (PP) dan Can gini (dalam bahasa padang tapi ini saya artikan ke dalam bahasa Indonesia)
PP : Nanti kalau kalian sudah selesai kegiatan di atas, turunnya mesti lewat jalur ini lagi ya bang.
Can : Gausa, kita lewat Simabur saja!
(NB: tempat Simabur yg dibilang oleh Can itu adalah nama desa tempat kami tinggal dirumah Makwo. Sedangkan kami pergi mendaki saja lewat pos Gunung Marapi dan butuh waktu 1 jam perjalanan kesana. Saya lupa dimana & apa nama pos Gunung Marapi tersebut)
PP : Wah, gak bisa bang. Pergi lewat pos sini pulangnya harus lewat sini lagi.
Can : Ah lama itu. Langsung ke Simabur saja!
PP : Gak bisa gitu bang. Ini udah peraturan dari sananya. Kalo abg tetap maksa utk pulang lewat Simabur, kami selaku penjaga pos bakal lepas tangan dan semua akibatnya kami gak bakal tanggung jawab!
Can : Iya, santai saja.
Ohiya yg mesti agan-agan sekalian ketahui, bahwa si Angga dan kedua temannya ini emang gak bawa apa-apa. MEREKA CUMA BERMODALKAN TAS PINGGANG, PARANG SAMA SENTER!!! Sepatu yang digunakan sama Can saja sepatu merek Kappa warna hitam.
Jam 18.00 kami daftar di pos Gunung Marapi. Setelah bayar registrasi serta tinggalin nomer hp, kamipun ditanya oleh penjaga pos mau berapa lama kami nanti di Gunung Marapi. Ada 1 pertanyaan terakhir yang bikin kaget penjaga pos ini. Kira-kira percakapan antara penjaga pos (PP) dan Can gini (dalam bahasa padang tapi ini saya artikan ke dalam bahasa Indonesia)
PP : Nanti kalau kalian sudah selesai kegiatan di atas, turunnya mesti lewat jalur ini lagi ya bang.
Can : Gausa, kita lewat Simabur saja!
(NB: tempat Simabur yg dibilang oleh Can itu adalah nama desa tempat kami tinggal dirumah Makwo. Sedangkan kami pergi mendaki saja lewat pos Gunung Marapi dan butuh waktu 1 jam perjalanan kesana. Saya lupa dimana & apa nama pos Gunung Marapi tersebut)
PP : Wah, gak bisa bang. Pergi lewat pos sini pulangnya harus lewat sini lagi.
Can : Ah lama itu. Langsung ke Simabur saja!
PP : Gak bisa gitu bang. Ini udah peraturan dari sananya. Kalo abg tetap maksa utk pulang lewat Simabur, kami selaku penjaga pos bakal lepas tangan dan semua akibatnya kami gak bakal tanggung jawab!
Can : Iya, santai saja.
Spoiler for MASIH DI HARI KE 3 - PENDAKIAN DI MULAI:
Sore menjelang maghrib, kamipun akhirnya memulai pendakian. Melewati jalur perkebunan masyarakat sekitar, ditambah cuaca yg dingin sehabis seharian diguyur hujan membuat beberapa kabut tipis yg setia menemani perjalanan kami. Melihat hasil perkebunan masyarakat disana, timbul keinginan untuk mengambil beberapa sayuran yg ada. Cuma karena memang kita nya tau diri, ya akhirnya gak jd deh ambil tuh sayuran.
Tiba-tiba Can masuk ke perkebunan. Tanpa basa-basi dia pun langsung memetik beberapa sayuran seperti Daun bawang, Cabai dll. Melihat Can, kami pun juga mau memetik beberapa sayuran tapi ntah kenapa kami malah diusir dan disuruh melanjutkan perjalanan. Namun tampaknya Can telat ngomong, si Imam malah udah berhasil memetik beberapa Cabai. Yg untungnya si Can gak tau.
Melewati jembatan yg cuma terbuat dari batang pohon, membuat adrenalin kami tertantang. Ditambah gerimis pun kembali datang menemani kami dalam perjalanan. Adzan maghrib pun berkumandang. Untunglah, tak jauh dr jembatan batang pohon td ada 1 pondok kecil. Akhirnya kami istirahat sejenak disana sambil mengatur kembali barang-barang bawaan kami. Karena ukuran pondok yg kecil, ada beberapa dari kami yg duduk diluar pondok namun tetap berteduh dibawah pohon besar.
Brruuukkkk!!!.. bunyi ranting pohon yg jatuh. Seperti kebetulan atau gmn, ranting pohon yg jatuh tersebut mengenai kepala Imam. Kamipun cuma ketawa melihat kejadian tersebut. Tapi Can langsung keluar dari pondok dan bertanya kemana ranting pohon itu tadi jatuhnya.
Setelah diambil kembali ranting pohon td, si Can pun langsung membakar ranting itu. Kami pun hanya diam dan saling tanya satu sama lain. Tidak ada satupun dari kami yg berani nanya untuk apa ranting yg dibakar itu. Tanpa komando, si Can mengambil botol air minum yg ada di sisi tas salah satu dari kami yg masih berada di dalam pondok. Dibukanya botol minuman itu dan langsung dicelupkannya ranting pohon yg dibakar td. Dipanggilnya imam td dan disuruh minum air bekas ranting pohon yg dibakar itu.
"Mangkanya kalo saya ngomong jangan diambil sayuran tadi ya jangan diambil! Masih aja kamu ambil rupanya!" Bentak Can ke Imam sambil nyodorin botol minuman bekas ranting pohon yg dibakar.
(Kok Can tau kalo imam ngambil sayuran itu. Padahal logikanya, pas waktu Can lg ngambil sayuran itu, posisi Imam jauh diatas dari posisi Can. Dan si Can pun ngambil sayurannya bukan di pinggiran kebun melainkan langsung masuk ke tengah kebun dan sedangkan si Imam cuma iseng2 ngambil sambil tetap jalan)
Imam pun heran gitu. Secara beberapa dari kami saja bahkan gatau kalo imam ternyata juga ngambil sayuran itu.
Lanjut perjalanan, malam sudah nunjukkin pukul 21 malam. Target kami jam 24-01 malam kami sudah berada di cadas. Posisi kami jalan itu seperti dibagi 3 kelompok. Si Angga berada paling depan sambil nunjukkin jalan. Di tengah dipandu sama TA (temannya angga) dan yg paling belakang dipandu sama Can. Kebetulan waktu itu yg berada dibelakang Angga adalah Agam. Ane sendiri berada ditengah waktu itu. Dan yg berada di depan Can adalah Jon. Selama perjalanan Can sibuk memutar lagu Minang dari hp nya membuat suasana menjadi sedikit santai walaupun malam hari dan gerimis yg masih setia menemani kami. Selama perjalanan, si Can sibuk bercerita panjang lebar ke John. Ntah cerita apa soalnya mereka ngomong pake bahasa Padang.
Tiba-tiba Can berlari kencang kearah paling depan tempatnya Angga. Kami pun kaget bukan kepalang. Kami tanya sama John ada apa. Tapi John nya sendiri aja kaget kenapa pas lagi asik2 bercerita tiba2 tuh orang langsung berlari ke depan. Sambil berbisik ketelinga angga, (ntah ngomong apa) si Angga pun akhirnya pindah posisi ke paling belakang. Jadi sekarang Can yg memimpin perjalanan.
Sambil melanjuti perjalanan, Can banyak ngobrol ke Agam. Lagi2 mereka ngomong pake bahasa Padang yg membuat kami gak ngerti mereka lagi ngomong apa. Sambil sesekali si Agam dan si Can nunjuk kearah salah satu pohon besar (?). Dan yg bikin kami kaget adalah si Agam tiba2 nunjuk ke arah Galih. Galih pun heran.
Galih : "knp Gam?" tanya Galih
Agam : "gpp gal, Bang Can td nanya" balas Agam
Galih : "aman kan haha?" Sindir galih
Agam : "insya Allah, Gal haha" balas Agam
Tiba ditempat lapang, kami akhirnya beristirahat sebentar. Ternyata selama perjalanan tadi, Galih beberapa kali melihat "sesuatu" di atas pohon2. Emang terlihat pucat dimuka Galih, tapi si Can ngomong "ah itu kamu salah lihat kok" sambil tertawa sinis.
Pukul 24 malam, kami kembali melanjutkan perjalanan. Kini posisi barisan pun berubah semenjak istirahat tadi. Sekarang Can dan berdua temannya berada paling depan. Kami tiba di dekat tebing tinggi.
"boy, nanti kita harus kumpul disana ya!" Ucap Can sambil nunjukin pake lampu senter
Tiba-tiba Can dan berdua temannya lari meninggalkan kami!! Heran sekaligus kaget kami dibuatnya. MAKSUDNYA APA PAKE NINGGALIN KAMI?
Mau ikut lari mengejar Can sebenarnya kami bisa. Tapi gak mungkin kami lakukan mengingat beberapa fisik teman kami yg sudah kecapekan. Kalo dipaksa, kami takutnya malah bisa kesesat! Kini tinggal kami ber 16 tanpa pemandu. Kebetulan waktu itu yg berada paling depan adalah Nopan dan tepat dibelakangnya adalah ane.
Sampai akhirnya kami di jalan buntu!! Didepan kami adalah tebing tinggi! Ntah kemana arah jalan untuk menyusul Can dan teman2nya. Tiba-tiba, si Can berteriak dari atas sambil ngomong pake bahasa Padang
"Hoy Pa*tek, capek saketek!" (Hoy Pa*tek, cepatan dikit) teriak Can
"Lewat mana bang? Tungguin la" balas Nopan
*sunyi tanpa ada balasan lagi dari Can*
"Ah A*jing ngapain pake ninggal2in. Ku tusuk juga pake pisau ini nanti" caci ane. (Ane bawa pisau lipat kecil yg ane jadiin kalung. Dan sebenarnya dari awal pendakian ane gak pernah keluarin soalnya ni pisau berada di balik kaos dan dibalik jaket)
"Lewat sini" tiba2 suara Can muncul dari atas sana sambil nunjukin jalan pake arah lampu senter.
Pukul 01 malam lewat kami tiba di tempat camp. Setelah membuat tenda, masak, minum dan sebagainya akhirnya kami tertidur di cuaca yg sangat dingin. Ditambah hujan yg lumayan lebat membuat kami saling peluk 1 sama yg lain.
Tiba-tiba Can masuk ke perkebunan. Tanpa basa-basi dia pun langsung memetik beberapa sayuran seperti Daun bawang, Cabai dll. Melihat Can, kami pun juga mau memetik beberapa sayuran tapi ntah kenapa kami malah diusir dan disuruh melanjutkan perjalanan. Namun tampaknya Can telat ngomong, si Imam malah udah berhasil memetik beberapa Cabai. Yg untungnya si Can gak tau.
Melewati jembatan yg cuma terbuat dari batang pohon, membuat adrenalin kami tertantang. Ditambah gerimis pun kembali datang menemani kami dalam perjalanan. Adzan maghrib pun berkumandang. Untunglah, tak jauh dr jembatan batang pohon td ada 1 pondok kecil. Akhirnya kami istirahat sejenak disana sambil mengatur kembali barang-barang bawaan kami. Karena ukuran pondok yg kecil, ada beberapa dari kami yg duduk diluar pondok namun tetap berteduh dibawah pohon besar.
Brruuukkkk!!!.. bunyi ranting pohon yg jatuh. Seperti kebetulan atau gmn, ranting pohon yg jatuh tersebut mengenai kepala Imam. Kamipun cuma ketawa melihat kejadian tersebut. Tapi Can langsung keluar dari pondok dan bertanya kemana ranting pohon itu tadi jatuhnya.
Setelah diambil kembali ranting pohon td, si Can pun langsung membakar ranting itu. Kami pun hanya diam dan saling tanya satu sama lain. Tidak ada satupun dari kami yg berani nanya untuk apa ranting yg dibakar itu. Tanpa komando, si Can mengambil botol air minum yg ada di sisi tas salah satu dari kami yg masih berada di dalam pondok. Dibukanya botol minuman itu dan langsung dicelupkannya ranting pohon yg dibakar td. Dipanggilnya imam td dan disuruh minum air bekas ranting pohon yg dibakar itu.
"Mangkanya kalo saya ngomong jangan diambil sayuran tadi ya jangan diambil! Masih aja kamu ambil rupanya!" Bentak Can ke Imam sambil nyodorin botol minuman bekas ranting pohon yg dibakar.
(Kok Can tau kalo imam ngambil sayuran itu. Padahal logikanya, pas waktu Can lg ngambil sayuran itu, posisi Imam jauh diatas dari posisi Can. Dan si Can pun ngambil sayurannya bukan di pinggiran kebun melainkan langsung masuk ke tengah kebun dan sedangkan si Imam cuma iseng2 ngambil sambil tetap jalan)
Imam pun heran gitu. Secara beberapa dari kami saja bahkan gatau kalo imam ternyata juga ngambil sayuran itu.
Lanjut perjalanan, malam sudah nunjukkin pukul 21 malam. Target kami jam 24-01 malam kami sudah berada di cadas. Posisi kami jalan itu seperti dibagi 3 kelompok. Si Angga berada paling depan sambil nunjukkin jalan. Di tengah dipandu sama TA (temannya angga) dan yg paling belakang dipandu sama Can. Kebetulan waktu itu yg berada dibelakang Angga adalah Agam. Ane sendiri berada ditengah waktu itu. Dan yg berada di depan Can adalah Jon. Selama perjalanan Can sibuk memutar lagu Minang dari hp nya membuat suasana menjadi sedikit santai walaupun malam hari dan gerimis yg masih setia menemani kami. Selama perjalanan, si Can sibuk bercerita panjang lebar ke John. Ntah cerita apa soalnya mereka ngomong pake bahasa Padang.
Tiba-tiba Can berlari kencang kearah paling depan tempatnya Angga. Kami pun kaget bukan kepalang. Kami tanya sama John ada apa. Tapi John nya sendiri aja kaget kenapa pas lagi asik2 bercerita tiba2 tuh orang langsung berlari ke depan. Sambil berbisik ketelinga angga, (ntah ngomong apa) si Angga pun akhirnya pindah posisi ke paling belakang. Jadi sekarang Can yg memimpin perjalanan.
Sambil melanjuti perjalanan, Can banyak ngobrol ke Agam. Lagi2 mereka ngomong pake bahasa Padang yg membuat kami gak ngerti mereka lagi ngomong apa. Sambil sesekali si Agam dan si Can nunjuk kearah salah satu pohon besar (?). Dan yg bikin kami kaget adalah si Agam tiba2 nunjuk ke arah Galih. Galih pun heran.
Galih : "knp Gam?" tanya Galih
Agam : "gpp gal, Bang Can td nanya" balas Agam
Galih : "aman kan haha?" Sindir galih
Agam : "insya Allah, Gal haha" balas Agam
Tiba ditempat lapang, kami akhirnya beristirahat sebentar. Ternyata selama perjalanan tadi, Galih beberapa kali melihat "sesuatu" di atas pohon2. Emang terlihat pucat dimuka Galih, tapi si Can ngomong "ah itu kamu salah lihat kok" sambil tertawa sinis.
Pukul 24 malam, kami kembali melanjutkan perjalanan. Kini posisi barisan pun berubah semenjak istirahat tadi. Sekarang Can dan berdua temannya berada paling depan. Kami tiba di dekat tebing tinggi.
"boy, nanti kita harus kumpul disana ya!" Ucap Can sambil nunjukin pake lampu senter
Tiba-tiba Can dan berdua temannya lari meninggalkan kami!! Heran sekaligus kaget kami dibuatnya. MAKSUDNYA APA PAKE NINGGALIN KAMI?
Mau ikut lari mengejar Can sebenarnya kami bisa. Tapi gak mungkin kami lakukan mengingat beberapa fisik teman kami yg sudah kecapekan. Kalo dipaksa, kami takutnya malah bisa kesesat! Kini tinggal kami ber 16 tanpa pemandu. Kebetulan waktu itu yg berada paling depan adalah Nopan dan tepat dibelakangnya adalah ane.
Sampai akhirnya kami di jalan buntu!! Didepan kami adalah tebing tinggi! Ntah kemana arah jalan untuk menyusul Can dan teman2nya. Tiba-tiba, si Can berteriak dari atas sambil ngomong pake bahasa Padang
"Hoy Pa*tek, capek saketek!" (Hoy Pa*tek, cepatan dikit) teriak Can
"Lewat mana bang? Tungguin la" balas Nopan
*sunyi tanpa ada balasan lagi dari Can*
"Ah A*jing ngapain pake ninggal2in. Ku tusuk juga pake pisau ini nanti" caci ane. (Ane bawa pisau lipat kecil yg ane jadiin kalung. Dan sebenarnya dari awal pendakian ane gak pernah keluarin soalnya ni pisau berada di balik kaos dan dibalik jaket)
"Lewat sini" tiba2 suara Can muncul dari atas sana sambil nunjukin jalan pake arah lampu senter.
Pukul 01 malam lewat kami tiba di tempat camp. Setelah membuat tenda, masak, minum dan sebagainya akhirnya kami tertidur di cuaca yg sangat dingin. Ditambah hujan yg lumayan lebat membuat kami saling peluk 1 sama yg lain.
Spoiler for NEW UPDATE HARI KE 4:
• KABUT DI PUNCAK
• TAMAN EDELWEIS
• MUSIBAH GALIH
• HUTAN TERLARANG part 1
• HUTAN TERLARANG part 2
• HUTAN TERLARANG part 3
• HUTAN TERLARANG part 4
•HUTAN TERLARANG final part (FINALLY HOME)
•TERNYATA...
• TAMAN EDELWEIS
• MUSIBAH GALIH
• HUTAN TERLARANG part 1
• HUTAN TERLARANG part 2
• HUTAN TERLARANG part 3
• HUTAN TERLARANG part 4
•HUTAN TERLARANG final part (FINALLY HOME)
•TERNYATA...
Spoiler for OUTRO:
Diubah oleh agungrasix 23-03-2018 08:28
aan1984 dan 3 lainnya memberi reputasi
4
391.7K
Kutip
713
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•3Anggota
Tampilkan semua post
TS
agungrasix
#252
HUTAN TERLARANG part 4
Spoiler for :
Spoiler for kesalahan teknis gan:
maaf gan sudah ane buat menunggu. ada kesalahan teknis dlm hal index. ane salah tulis. maklum gak konsen akibat mikir uts, tugas, proyek usaha kecil2an ane sama cerita ini. ini bukan final part hehe sorry ye gan
"Ke arah mana yo jalan kita?" Tanya ane ke Rio
"Seingatku td mereka lewat sini." Balas Rio
"Yakin yo?" Tanya yg lain
"Insya Allah" Balas Rio pede
Setelah kelompok ane terpisah dengan kelompok yg lain, akhirnya kami melanjutkan perjalanan sendiri. Tanpa sama sekali adanya petunjuk ke arah mana tujuan kami. Perjalanan ini di pimpin Rio di barisan paling depan dan si John yg berada di urutan paling belakang. Sambil sesekali kami mencoba berteriak dengan tujuan suara teriakan kami terdengar oleh kelompok di depan. Hujan masih setia dengan derasnya. Lintah yg telah berhasil menggrogoti kaki, membuat kami sedikit risih.
Setelah sekitar 1 jam berjalan, tibalah kami di hutan bambu. Rio berhenti sejenak. Sambil memperhatikan disekeliling, Rio tampak kebingungan.
"Serius yo lewat sini?" Tanya kami ke Rio
"Ntahlah. Tapi kayaknya gak" Respon Rio
(7)Hutan bambu? tengah malam kehujanan tanpa cahaya yg mewadai, kami berada di hutan bambu!
Akhirnya kami mencoba untuk beristirahat sejenak. Rasa haus sudah jelas kami rasakan. Tanpa pikir panjang kami meminum air dari pakaian kami yg telah basah di guyur oleh hujan sejak seharian. Jemari kami pun tampak sudah berkeriput akibat menahannya suhu dingin ini. Sembari beristirahat, sesekali kami kembali mencoba berteriak arah depan. Sunyi.....tanpa ada suara balasan dari depan.
Tiba2...."woiiiiiii panteekkkkk anjingggg kau" Tiba kami dikagetkan oleh teriakan dari John dari belakang. Lalu John berlari kedepan sambil terjatuh akibat licin nya lumpur yg ia tapaki.
"Knp John!" Tanya kami heran
"Pocong cuk pocong tuh dibelakang!!!" Teriak John sambil sembari meninggalkan kami
Tanpa pikir panjang kami mencoba melihat ke arah yg John sebut. Dan... Benar saja! Langkah seribu akhirnya kami ambil. Lari kedepan. Sesekali kami terjatuh bahkan ada beberapa dari kami yg terguling.
"John tunggu" teriak kami kearah John yg memang sudah mendahului kami tadi
John tetap tidak mendengar teriakan kami.
"Woi John anj*ng tunggu. Nanti malah kepisah" teriak Rio
John akhirnya berhenti. Dan tampak dia terduduk lesuh di tanah berlumpur. Kami mencoba menyusul John. Nafas yg ngos2an membuat kami tambah haus!
Masih di hutan bambu. Keadaan semakin mencekam. Beberapa senter kami sudah redup. Ntah mngkn karna habis batere atau karena tadi sempat terjatuh ke genangan lumpur. Akhirnya penerangan kami tinggal ini saja....
Spoiler for Lampu senter kami:
"Woiiiiiii" tiba2 kami mendengar beberapa teriakan dari depan, ntah dari mana tepatnya asal suara itu berasal.
"Woiiii kalian dimana?" Balas teriakan kami.
Sesaat kemudian suara teriakan itu hilang. Harapan kami kembali sirna. Sempat terpikirkan oleh kami untuk melanjutkan perjalanan ketika matahari sudah mucul. Tapi setelah berdiskusi kami akhirnya tetap melanjutkan perjalanan saat itu juga.
Baru juga jalan sekitar 10 menit, Aby yg berada di paling belakang berlari ke arah depan. "Woi jgn duhului kami bi!" Teriak kami ke arah Aby.
Tiba2 saja kami semua mendengar suara seperti auman.
Hewan buas? Fak!
Ane lsg keluarin pisau di balik jaket ane. Sekedar utk jaga2 saja. Sambil beberapa dr kami saling mengawasi di daerah sekitar kami. Tiba2 dari arah kanan kami, dibalik pohon2 bambu, kami melihat seperti kain putih terbang ke arah belakang kami. Kami saling pandang. Lariiiiiiii...
Kali ini kami lari tanpa tujuan. Kebetulan waktu itu tracknya datar sehingga membuat kami agak leluasa berlari. Jalan yg berbentuk setapak ini adalah rute kami berlari. Ane waktu itu yg cuma pake sandal sedikit kewalahan ketika berlari. Alhasil akhirnya ane lepasin tu sendal. Masa bodoh dgn duri, lumpur, lintah atau ranting bambu. Yg penting lari saja.
Kemudian kami kembali mendengar teriakan dari depan. Ya kali ini suara nya sangat dekat. Sambil lari2 kecil kami membalas teriakan mereka (kelompok di depan)
"Woiiii kalian dimana?" Teriak kami
"Gak tau. Kayaknya kita berdekatan" jawab mereka di dpn
"Arahkan senter kalian ke atas biar kami bisa lihat" teriak kami yg kali ini sudah mencoba utk berhenti berlari
Seketika ada beberapa cahaya lampu senter ke arah atas. Jauh! Jauh dari perkiraan. Ya mereka jelas agak jauh dari arah kami. Mereka di bawah sana dan malah ke arah sisi kanan kami. Kali ini kami telah melewati hutan bambu.
"Tunggu kami. Kami ketempat kalian" teriak kami
"Oke" balas mereka. Lalu hening.
Kami mengikuti arah cahaya senter dan sumber suara dr teriakan mereka. Setelah melewati beberapa pohon rindang, akhirnya kami sedikit lega karna kami sudah bisa melihat lampu2 penduduk dibawah sana. Ya kyknya masih jauh. Tp masa bodoh yg penting kami sudah bisa melihat tanda2 penduduk dibawah sana. Kebahagiaan kami semakin menjadi setelah kami mendengar suara berisik. Kali ini suara nya tidak membuat kami takut. Suara yg kami tunggu2 dr awal sblm masuk hutan terlarang. Suara yg membuat kami tambah bersemangat.
Suara air! Sungai! Serasa dekat tapi ntah dimana sumber nya dan ntah butuh brp lama kami mencari nya
Kembali kami memaksa tenaga utk tetap trs berjalan. Semakin lama kami semakin mendengar suara sungai tersebut. Dan kami tetap mengikuti sumber cahaya dr teman kami didepan.
Namun sesaat kemudian sumber cahaya senter dr teman kami didpn hilang! Terserah yg penting kami mesti menemukan sungai dulu pikir kami.
Suara sungai terasa semakin dekat. Kami menambah kecepatan. Kami berlari. Sempat beberapa dr kami yg terpeleset namun lsg bangkit dan berlari lagi. Sudah dekat ya pasti sudah dekat!
Pencarian sumber suara sungai ini dipimpin oleh Rio di barisan paling depan. Ntah dari mana Rio tau jalan menuju sungai itu. Rio seperti sudah tau dan hapal dimana letak sungai tsb. Kami mengikuti Rio dr belakang. Tiba2 John yg berada di belakang Rio menarik baju Rio sehingga membuatnya sedikit terpeleset.
"Woi anjing knp kau ini narik2!" Bentak Rio sambil mendorong badan John
"Tunggu bntr Babi! Coba kau dengar perlahan suara dr depan!" Balas John dgn agak sedikit panik
"Suara sungai itu tu bengak (a.k.a bodoh)" balas Rio kesal
"Bukan itu kutil! Seperti ada suara org2!" Jawab John
Kami mencoba mendengar suara yg John maksud. Benar! Sesakali kami memang mendengar suara org seperti lg ngobrol. Tapi kurang jelas. Ya mngkn karna suara itu kalah dengan suara hujan dan suara sungai itu. Tp benar adanya itu ada suara org.
"Woiiiii" teriak kami dgn harapan suara org di dpn atau kelompok di dpn mendengar dan merespon teriakan kami.
Sunyi. Tidak ada jawaban....
Kami mencoba kembali menelusuri suara sungai tadi. Kali ini kami tampak waspada. Kami berjalan santai. Sesekali kami melihat disekitar kami. Kali ini kami agak berdekatan, saling jaga satu dgn lainnya.
Baaahhhhhhhh......
Sungai di dpan kami. Kami melihat sungai. Kami senang. Segera rombongan di barisan paling belakang berlari ke depan. Tapi tertahan oleh John.
"Knp John?" Tanya Ardian
"Tunggu. Jgn gegabah. Suara org tersebut dmn aslinya?" Jawab John
"Alah paling itu anak2 kelompok di dpn" Balas Aby
Masa bodoh dgn suara itu. Kami segera berlari ke arah sungai itu. Kami membuka botol minuman kosong kami. Lalu kami mengisi botol tsb dgn sungai yg mengalir deras ini. Tp untungnya sungai tersebut kecil dan tidak dalam. Paling sekitar 40cm dalamnya. Kami minum air itu. Terserah mau bersih apa gak. Yg penting rasa dahaga kami hilang. Kami sudah enek kalo harus meminum air dari perasan kaos kami lg. Asin sob!
Hujan sedikit reda. Kami kembali beristirahat di pinggir sungai kecil ini. Kami membuka carrier kami. Mencoba menyalakan rokok. Sshhhhhh enaknya.... lagi dan lagi kesibukan kami terganggu oleh lintah yg telah gendut di kaki kami.
Istirahat kami terusik! Kami lsg berdiri, waspada. Kami mendengar suara langkah kaki dari sebelah kiri. Siapa itu? Kami saling pandang. Kami matikan sumber cahaya lampu senter kami. Gelap. Hanya suara sungai dan langkah kaki dr sebelah kiri yg semakin mendekat!
Galih, Nopan, Billy dan lainnya
Kaget serta senang karna kami bertemu dgn mereka. Lalu kemudian kami saling berkumpul. Tinggal 1 kelompok lg yg blm ketemu. Kami tanya ke mereka apa suara teriakan dr tadi itu suara mereka? Mereka diam. Tidak mendengar sama sekali (?). Lalu kami berpikiran suara teriakan itu mngkn saja berasal dr kelompok 1 lg. Kami melihat jam sudah menunjukan pukul 01.00an dini hari. Badan kami sudah mati rasa akibat dingin nya hujan seharian. Rasa lapar kami tepis. Rasa dahaga juga sudah hilang semenjak kami minum air sungai ini.
"Traaaakkkk" tiba2 suara bunyi ranting keinjak. Suara itu berasal dari sebelah kanan kami. Kami saling pandang. Lagi kami waspada. Kali ini kami hanya jongkok seperti sedang bersembunyi. Suara org2 yg kami dengar sblm sampai di sungai ini, kembali kami dengar. Padahal td pas setelah cukup lama kami istirahat di sungai (sblm ketemu sama Galih dll) kami tidak mendengar suara org2 ini.
"Woiiiiii!" Teriak dr sisi kanan kami
Kami saling pandang. Manusia? Ntalah
"Sebelah sini!" Kami menjawab sambil menyalakan senter dan menyenter ke atas.
Mereka sampai. Kelompoknya Agam dll. Mereka tampak lebih sudah bersemangat duluan. Ternyata mereka sudah lama menemukan sungai ini. Mereka juga sudah cukup lama beristirahat sambil menunggu kami.
"Kenapa teriakan kami tidak kalian jawab lg td?" Tanya Agam ke kelompok ane
"Kami jawab Gam. Kalian tu yg tiba2 gak jawab. Kami sudah pasrah hingga akhirnya kami menemukan sungai kecil ini" Jawab kami
"Lah yg kami dengar malah kalian yg gak jawab. Mangkanya kami sudah lama beristirahat di dekat sungai ini. Sampai akhirnya kami mendengar suara2 obrolan dr kalian ini disini" jawab mereka
Ternyata kami sudah berdekatan pas di sungai. Tapi kenapa kami sama sekali tidak mendengar suara2 org. Knp mesti nunggu hampir 1 jam baru terdengar?
"Yasudalah yg penting kita kembali berkumpul" Suara Nopan membuka lamunan kami
"Gam, Can dan temannya mana?" Anya John ke Agam
"Ntah" jawab Agam datar.
Istirahat cukup. Persediaan air minum cukup. Hujan sudah agak reda. Lampu2 kota penduduk sudah terlihat.
Akhirnya kami melanjutkan perjalanan. Kebetulan ane berada paling dpn memimpin perjalanan.
Diubah oleh agungrasix 28-04-2016 21:13
aan1984 dan piaupiaupiau memberi reputasi
2
Kutip
Balas