Sudah 3 hari semenjak Paman meninggalkan aku dan Bibi, selama 3 hari pula sekolah ku tinggalkan. Sejak itu Bibi juga menunjukan sikap yang sedikit berbeda dari pada biasanya. Terkadang ia juga hanya termenung di ruang keluarga.
“Dan?”
“Iya Bi?”
“Tidur, sudah malam, besok kan sudah berangkat sekolah”
Tanpa membantahnya aku langsung menuju kamar untuk pura-pura tidur, setiba di kamar mata sulit terpejam. Karena hati belum bisa merelakannya, melihat harmonika pemberiannya malah membuat ku semakin teringat olehnya. Setelah beberapa jam entah kenapa Bibi dengan tiba-tiba masuk ke kamar ku yang tak terkunci dan terkejut ternyata aku belum terlelap.
“Bi?”
“Kenapa belum tidur?” Tanyanya
“Belum bisa Bi”
“Bibi boleh duduk sini?” Ia pun duduk di sebelah sambil memeluk ku
Kami berdua hanya duduk terdiam tak berucap sepatahpun hingga aku telelap dipangkuannya. Masih terdengar dengan sayup-sayup ia mengucap sesuatu sebelum meninggalkan kamar ku.
“Yang ikhlas ya nak, sekarang Bibi hanya punya kamu”
Pagi itu terasa sepi, tak ada lagi yang membangunkan ku di pagi buta, tak ada lagi ia yang selalu memanjakan ku dengan kasih sayang.
“Bi, berangkat”
“Dan?”
“Iya, ini mau di pakai Bi”
“Hati-hati” Beriringan dengan sebuah kecupan di pipi
Sekolah tampak begitu asing, banyak yang penasaran apa yang menyebabkan ku menghilang selama 3 hari, karena Bibi tak sempat membuatkan surat izin pada waktu itu.
“Kemana aja?” Tanya Fian
“Engga kemana-kemana FI, kenapa?”
“Masih tanya kenapa? 3 hari engga ada kabar? Kemana aja sih?”
“Disini aja kok”
“Cerita kalau punya masalah jangan dipendam sendiri, inget kita itu teman, jangan pernah sungkan Dan”
“Paman Fi, Paman meninggal kemarin”
“Hah? Yang sabar ya Dan, kok engga ngabarin sih? Ada telepon rumah juga?”
“Engga kepikiran Fi”
“Iya Dan, ngerti kok, oh iya, ada yang nyariin tuh di belakang” Katanya