“Jagoan Paman pulangnya sore sekali?”
“Iya, tadi habis keluar sebentar sama teman” Aku melihatnya sedang membaca koran di ruang keluarga
“Ya sudah, Paman mau siap-siap dulu jemput Bibi mu”
“Iya Paman hati-hati ya?”
“Itu Paman sudah siapkan makan siang mu di meja makan, ingat..”
“Jangan lupa mencuci semuanya setelah makan”
Ia selalu tertawa ketika kata-katanya itu dipotong karena nasihatnya selalu terngiang sampe di telinga ku sedari dulu hingga menjadi kebiasaan yang menciptakan kepribadian.
“Dan?” Suara teriakan dari bawah
“Eh, Bibi dan Paman sudah pulang?”
“Kalau belum pulang, pasti engga ada disini sayang”
“Iya juga ya Bi, hari ini masak apa kita?” Tanya ku
“Bagaimana kalau oregano?” Sahut Paman
“Makanan apa itu Paman?”
“Sudah ayo ikut Paman saja” Ajaknya
Selama setengah jam aku menjadi asisten koki, menyiapkan bahan-bahan yang kebanyakan berasal dari paprika, cabai, dan tomat. Warnanya yang merah sangat menggugah selera, ditemani kentang goreng sebagai pemanisnya tampilan presentasinya.
“Ini dia menu makan malam kita” Ucapnya
“Selamat makan” Kataku yang sudah tak sabar memakannya
“Jangan terlalu banyak sayang, itu pedas” Kata Bibi
“Uhuk-uhuk”
Mereka pun tertawa melihat ku tersedak, ternyata oregano itu seperti kari pedasnya juga bukan main, ditambah karena masih hangat membuat tenggorokan serasa dipanggang. Tak henti-hentinya aku meminum air putih karena terlalu pedas masakan dari Paman.
“Haaaaa” Keringat bercucuran dari wajahku
“Jagoan kenapa?” Ejek Paman yang sedang asik memakan oregano
“Sudah nanti malah sakit perut” Saran Bibi
Setelah makan malam Paman pamit untuk bertugas dishift 3 sampai besok pagi, tapi seperti biasanya ia selalu menyempatkan untuk mengecek keadaan kamarku.
“Dan?”
“Iya Paman, masuk aja engga dikunci”
“Ada apa Paman?”
“Tok-tok” Suara sesuatu yang membentur meja belajarku
“Itu apaan Paman?” Membuatku jadi penasaran sehingga aku harus beranjak dari tempat tidur ku