- Beranda
- Stories from the Heart
Until The Day
...
TS
yohanaekky
Until The Day

********************************
Penantian:
(kb) Suatu kegiatan yang tidak enak untuk dilakukan menurut pengakuan setiap orang, tetapi mau tidak mau semua orang pernah melakukannya, paling tidak satu kali dalam hidupnya.
~UTD~
Terbuang. Tertolak. Menjalani kehidupan yang keras di jalanan sendirian dan kelaparan. Itulah Aporriftikhe. Dia ingin memiliki setidaknya satu orang yang mempedulikannya dan juga sebuah rumah. Namun fitnah yang telah ia terima membuat tak seorang pun mau mendekatinya. Harapannya sudah putus sehingga ia berhenti menanti. Tak seorang pun yang kunjung datang setidaknya untuk memberinya sepeser uang atau secuil roti atau sebuah kandang untuk melindunginya dari terik matahari atau hujan deras.
Hingga pada suatu hari ia terpaksa harus melakukan perbuatan tercela karena perutnya yang lapar. Namun tindakannya itu justru hampir membawanya kepada maut, jika tidak ada sebuah tangan terulur padanya dan menyelamatkan dirinya.
Tangan itu, tangan yang mengubah hidupnya. Tangan itu, tangan yang membuatnya kembali menanti dan gemar menanti. Karena tangan itu adalah harapan baginya.
© 2015. All Rights Reserved.
Written by Yohana Ekky.
INDEX:
01 IDENTITY
02 THE STRETCHED HAND
03 HOME
04 REJECTED TO ACCEPTED
05 IT'S CALLED LIFE! (PART 1)
06 IT'S CALLED LIFE! (PART 2)
07 HEART MENDING (PART 1) - a || b
08 THE ENEMY'S ATTACK - a || b
09 TAKING HER BACK
10 HE TOLD ME THE TRUTH
11 THE UNWANTED PRINCESS (PART 1) - a || b
12 THE UNWANTED PRINCESS (PART 2) -a || b
13 WILL THERE BE PEACE?
14 THERE HAS TO BE PEACE
15 THE VISION
16 DEFENSE AND WAR STRATEGY NEW!!!
Diubah oleh yohanaekky 29-06-2016 19:11
anasabila memberi reputasi
1
6.6K
96
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
yohanaekky
#86
14 There Has To Be Peace
"Apa maksud Raja?" Entah mengapa perkataan itu keluar dari mulutku. Akhir-akhir ini aku seolah mulai berkata-kata di luar kendaliku. Lain kali aku harus lebih menjaga diri.
Sorot mata tajam Raja mengarah pada suatu titik di luar jendela ruang makan. "Yang selama ini berhasil melindungi kerajaan Ouranos bukanlah para penjaga istana di luar sana." Raja kemudian menoleh pada masing-masing kami yang ada di meja makan. "Ya, memang mereka menjaga. Tentu. Tapi bukan itu kekuatan terbesar perlindungan kerajaan ini."
"Lalu?" Kali ini secara sadar aku bertanya.
"Kesatuan." Raja menjawab. "Kesatuan setiap anggota kerajaan. Katastrepsei akan dengan mudah mencium kemarahan, pertengkaran dan kebencian. Pada saat itulah ia mendapatkan kesempatan untuk menyerang di titik lemah kita."
Kulihat Chara menunduk, sementara Prodoti memalingkan wajah ke suatu arah tak menentu. Keduanya tidak mengeluarkan sepatah katapun. Aku yakin ucapan Raja telah membuat mereka memutuskan sesuatu di dalam hati mereka.
Sementara itu, aku menjadi lebih mengenal kerajaan Ouranos melalui peristiwa ini. Tinggal disini memang nyaman, tetapi banyak tugas dan tanggung jawab yang tidak boleh dilalaikan, bahkan hal sekecil kebencian di dalam hati. Itu sebabnya, aku memutuskan untuk melupakan apa yang Prodoti telah lakukan padaku semalam. Lagipula, aku masih tidak ingin untuk berharap muka dengan Katastrepsei kembali.
Sepeninggal Raja, Ratu mengambil alih kepemimpinan kerajaan. Hari itu, Sotiras pun tidak sibuk untuk mengajariku berperang, tetapi lebih kepada urusan kenegaraan.
Terbiasa pergi ke bukit untuk belajar berperang membuatku merasa cukup suntuk berada di istana tanpa melakukan sesuatu yang cukup berarti. Itu sebabnya aku berkeliling di taman untuk menikmati udara segar lalu berhenti di taman belakang dan membaringkan tubuh di rumput.
"Hei."
Sebuah bayangan menutupi wajahku saat aku masih memandang indahnya langit yang biru. "Prodoti?" Aku pun segera bangun. Berawas-awas jika ia hendak melancarkan 'serangan' mendadak.
"Apakah berbaring seperti tadi enak?" Prodoti tidak menunggu jawabanku tetapi langsung saja berbaring di sebelahku.
Aku mengamati tingkahnya dengan beribu tanda tanya di atas kepalaku.
"Hmmm, kau memang pintar mencari tempat untuk menikmati alam dalam kesendirian ya?" Kembali Prodoti berbicara.
Aku masih bertanya-tanya apa sebenarnya yang ia mau denganku. Apa juga yang ia hendak lakukan sekarang.
"Kau mau duduk seperti itu dan mengamatiku terus?" Prodoti berpaling padaku dengan tawa kecil.
Mungkin telingaku salah mendengar. Dia tertawa, dan tawanya bukanlah tawa licik seperti peri jahat di dongeng-dongeng yang sering kudengar semasa kecilku.
Tanpa memikirkannya lebih jauh, aku turut berbaring seperti posisiku yang sebelumnya.
"Apakah kau menyukai Sotiras?"
"APA?"
Pertanyaannya yang tak terduga dan mendadak itu membuatku benar-benar terkejut. Bukan karena isi pertanyaan itu, tetapi karena pertanyaan itu keluar dari mulutnya.
"Tidak." Aku menjawab. "Mengapa kau menanyakan hal itu?"
Tanpa sedikitpun menoleh padaku, Prodoti menjawab dengan santai, "Karena aku menyukainya."
"Oh,"
"Tidak. Tidak. Aku mencintainya."
Apa yang harus kukatakan untuk menanggapi ucapan Prodoti sekarang?
Keheningan pun tercipta di antara kami untuk beberapa waktu lamanya.
"Aku tidak ingin menyakiti siapapun." Prodoti berkata lebih lanjut. "Ancamanku itu bukan sesuatu yang berarti. Maaf atas sikapku yang kekanak-kanakan itu."
Berapa lipatan di dahiku yang saat ini tercipta aku tidak tahu. Aku jadi merasa tidak yakin bahwa yang sedang berbaring di sebelahku ini adalah Prodoti. Ucapannya dan nada suaranya sama sekali berbeda dengan yang pertama kali kutemui.
"Mengenai Chara, saat itu aku begitu egois sehingga melimpahkan kesalahan itu padanya. Aku tidak memikirkan perasaannya dan akibat yang mungkin ia dapatkan."
Tanpa menyela, aku diam untuk mendengarkannya.
"Ucapan Raja telah membuatku tersadar bahwa kebencian itu tidak ada gunanya. Aku perlu segera berbaikan dengan Chara. Namun aku masih ragu dan tidak tahu bagaimana caranya. Sementara itu, antara aku dan kau, selagi hubungan kita tidak begitu buruk, aku ingin kita berteman saja. Bagaimana menurutmu? Apakah kau setuju?"
Mendengar ucapannya yang panjang lebar itu, aku merasa yakin bahwa ia tulus. Aku rasa berteman dengan Prodoti bukanlah ide yang buruk. Ini bisa jadi langkah yang sangat baik untuk mencegah perlindungan kerajaan terbuka.
Aku menoleh pada Prodoti yang sudah lebih dulu menoleh padaku. Kuberikan sebuah senyuman padanya disertai sebuah anggukan ringan.
"Ah! Terima kasih, Apo!" Ia memelukku sementara kami masih dalam posisi berbaring.
"Uh, Prodoti, lepaskan. Rasanya gerah," ucapku karena lengan dan separuh tubuhnya menindihku.
Prodoti melepaskan pelukannya dan tertawa.
"Jika saja Raja memberi peringatan itu kemarin, kita tentu telah berteman sehingga kau tak perlu melempar batu dengan pesan misterius ke dalam kamarku di pagi-pagi buta." Aku menyindirnya mengingat kejadian naas itu.
Prodoti beranjak dari posisi berbaringnya. "APA???"
Melihat reaksinya seperti itu aku pun turut terbangun dan menghadap padanya. "Mengapa kau terkejut seperti itu?" Aku tertawa kecil. "Tenang saja. Aku tidak akan melaporkanmu pada Raja atau Ratu atau bahkan Sotiras."
Prodoti menggeleng. "Bukan. Bukan itu maksudku."
Aku mengernyit. "Lalu?"
"Aku tidak pernah melemparkan apapun ke kamarmu. Sedikit niat pun tidak pernah singgah di pikiranku." Prodoti mengungkapkan. "Itu jelas bukan aku."
"Yakin?"
"TENTU SAJA!"
"Hei, hei, hei. Tidak perlu berteriak seperti itu. Jarak kita begitu dekat sehingga aku masih jelas mendengarmu, bahkan bisikanmu." Aku mendesis kesal. Suaranya membuat telingaku agak berdengung.
Prodoti menyeringai tak berdosa. "Maaf."
"Kalau bukan kau, artinya ada bahaya. Aku harus melaporkannya pada Ratu."
Prodoti menyetujuinya.
Aku dan dia pun segera bangkit dari tempat kami lalu bergegas bersama-sama menuju ke dalam istana dengan kamarku sebagai tujuan awal.
Batu dan gulungan kertas itu kusimpan di dalam lemari. Aku mengambilnya dan menunjukkannya sejenak pada Prodoti yang langsung tampak tidak menyukai baik batu maupun pesan itu. Tanpa berlama-lama, kami pun bergegas menuju ke ruangan Ratu.
Di luar sebuah ruangan, kuketuk pintu besar nan megah itu yang menandakan bahwa ruangan ini milik Raja dan Ratu. Suara Ratu terdengar, memintaku untuk langsung saja masuk. Aku mengajak Prodoti untuk mengikutiku.
Perlahan kubuka pintu dan Prodoti menjadi yang terakhir menutup pintu. Ratu yang sedang mengobrol dengan Sotiras menghentikan apapun yang tadi sedang mereka percakapkan saat melihatku datang dengan Prodoti, terutama Sotiras.
Dari tatapan matanya, Sotiras tampak curiga akan apa yang sedang terjadi. Namun sebelum ia sempat untuk mengatakan apapun, aku angkat bicara.
"Maaf jika kedatanganku mengganggu obrolan Ratu dan Pangeran Sotiras."
Ratu mengangguk. "Tidak masalah, Apo. Lagipula kami sudah selesai dengan urusan kerajaan." Ia menjelaskan. "Lalu apa yang membawamu, dan juga, uh, Prodoti, datang kemari?"
Kuulurkan telapak tanganku dengan batu dan gulungan kertas itu di atasnya.
"Apa itu?" tanya Ratu.
Sotiras mengambilnya dari tanganku dan membacakan isi pesan itu untuk Ratu yang membuatnya terkejut.
"Aku takut jika itu berbahaya. Jadi kuputuskan untuk menunjukkannya pada Ratu."
"Dimana kau menemukannya?" tanya Sotiras.
"Di kamarku."
"Apa? Di kamarmu?" Sotiras melotot karena begitu terkejutnya. Ia lalu memandang Ratu dan seolah bercakap-cakap satu sama lain melalui tatapan mata mereka.
Sementara itu, aku berpandangan dengan Prodoti karena tidak tahu apa yang mereka sedang obrolkan. Kami pun hanya berkomunikasi melalui alis dan bahu kami yang bergerak naik bersamaan.
"Penjaga," Ratu memanggil salah seorang dari dua penjaga yang berdiri di ruangan Ratu. Ketika ia datang mendekat, Ratu memerintahkan, "Perketat penjagaan di seluruh sudut kerajaan. Jangan satupun terlewat."
"Baik, Ratu." Penjaga itu pun segera meninggalkan ruangan.
Kurasa keadaan begitu genting hingga penjagaan harus diperketat sampai seperti itu. Buku kudukku rasanya berdiri sekarang karena merasa ngeri membayangkan apa yang mungkin terjadi di waktu yang akan datang.
"Apo, kau harus ikut aku segera." Sotiras menggandeng tanganku hendak menarikku pergi tapi aku menahannya karena melihat Prodoti.
"Lalu Prodoti?" tanyaku.
"Dia akan aman disini bersamaku. Kau yang tidak aman." Ratu angkat bicara.
Tak ada komentar yang perlu aku utarakan. Aku hanya mengikuti kemana Sotiras membawaku pergi.
Langkah Sotiras begitu cepat sehingga aku harus menyamakan irama langkah kakinya. Sempat aku satu kali perlu menahannya karena sedikit tersandung.
Setidaknya lima menit kami berjalan dari ruangan Ratu ke suatu tempat di dalam Kerajaan yang aku tidak pernah ketahui. Kami melewati banyak belokan sehingga aku tidak yakin aku dapat kembali jika dilepas sendirian.
"Dimana ini?" tanyaku ketika kami akhirnya berhenti di sebuah ruangan tanpa ventilasi yang dindingnya murni terbuat dari batu.
"Sebuah tempat dimana kau harus berganti baju."
"APA? MENGAPA BEGITU?"
Sotiras membuka sebuah peti dan mengambil sesuatu dari dalamnya. Ia meletakkan sebuah kantong putih ke atas meja. Dari dalamnya ia mengeluarkan sebuah gaun sederhana berwarna putih bersih dengan sebuah jubah merah yang tebal.
"Kau harus disembunyikan. Aku akan membuatmu tidak terlihat." Sotiras menyerahkan setelan itu padaku. "Ganti pakaianmu segera."
"Tidak." Aku menggeleng.
"Mengapa tidak?" Sotiras menggeram.
Aku ganti menggeram. "Karena kau masih disini," ucapku. "Aku perlu privasi."
Sotiras memutar kedua bola matanya. Ia keluar dari ruangan itu dan menutup pintu di belakangnya lalu aku menguncinya.
Kuletakkan jubah dan gaun itu sementara aku mulai melepaskan gaun yang sedang kupakai itu. Namun sesuatu melewati kakiku sehingga aku "AH!"
"Apo! Kau baik-baik saja?" Sotiras menggedor pintu.
Kulihat seekor tikus berlalu pergi. Itu dia makhluk yang melewati kakiku tadi.
"Ya! Jangan masuk! Aku belum selesai!" Aku terbawa situasi hingga berteriak membalas ucapan Sotiras yang juga terdengar begitu keras, padahal tanpa berteriak aku yakin kami masih dapat saling mendengar karena ruangan itu cukup sempit.
Selesai mengganti baju, aku membuka kunci pintu dan membiarkan Sotiras masuk kembali.
"Apakah sekarang aku tidak terlihat olehmu?" Aku melambaikan tanganku di depannya lalu mencubit lengannya.
"Aw! Apa yang kau lakukan?" Sotiras memelototiku.
"Kau masih dapat melihatku?" tanyaku tidak paham. "Kau bilang aku akan tidak terlihat."
"Oleh Katastrepsei dan kawanannya. Bukan olehmu maupun anggota kerajaan."
Bibirku membentuk huruf 'o' tanpa suara keluar sambil mengangguk-angguk. "Lalu apa sekarang?"
Sotiras menggandengku kembali lalu bersama meninggalkan ruangan itu.
Ia betul-betul membuatku heran karena sedikit sekali jawaban yang ia berikan, dan sebagai penggantinya ia langsung saja beraksi. Mungkin aku harus terbiasa dengan hal ini.
Kami sampai di ruang pertemuan dimana hampir seluruh anggota kerajaan telah berkumpul. Aku dan Sotiras berdiri di samping Ratu, di depan orang banyak.
Ketika kulihat para anggota kerajaan itu, kudapati ekspresi terkejut atau khawatir ketika mereka menatapku. Aku tidak tahu alasannya sampai Ratu memberikan sebuah penjelasan.
"Putri Apo adalah incaran utama dari Katastrepsei. Saat ini ia memakai jubah perlindungan untuk menyembunyikannya dari Katastrepsei. Setiap kita harus bekerja sama untuk memperketat penjagaan agar Katastrepsei tidak sanggup menembus pertahanan kerajaan. Terlebih dari semuanya itu, mari menjaga kesatuan di antara kita. Jangan lengah."
~ UTD ~
Finally ada waktu sama semangat untuk nulis ini cerita. Hope you still can follow and enjoy the story. ♡♡
Sorot mata tajam Raja mengarah pada suatu titik di luar jendela ruang makan. "Yang selama ini berhasil melindungi kerajaan Ouranos bukanlah para penjaga istana di luar sana." Raja kemudian menoleh pada masing-masing kami yang ada di meja makan. "Ya, memang mereka menjaga. Tentu. Tapi bukan itu kekuatan terbesar perlindungan kerajaan ini."
"Lalu?" Kali ini secara sadar aku bertanya.
"Kesatuan." Raja menjawab. "Kesatuan setiap anggota kerajaan. Katastrepsei akan dengan mudah mencium kemarahan, pertengkaran dan kebencian. Pada saat itulah ia mendapatkan kesempatan untuk menyerang di titik lemah kita."
Kulihat Chara menunduk, sementara Prodoti memalingkan wajah ke suatu arah tak menentu. Keduanya tidak mengeluarkan sepatah katapun. Aku yakin ucapan Raja telah membuat mereka memutuskan sesuatu di dalam hati mereka.
Sementara itu, aku menjadi lebih mengenal kerajaan Ouranos melalui peristiwa ini. Tinggal disini memang nyaman, tetapi banyak tugas dan tanggung jawab yang tidak boleh dilalaikan, bahkan hal sekecil kebencian di dalam hati. Itu sebabnya, aku memutuskan untuk melupakan apa yang Prodoti telah lakukan padaku semalam. Lagipula, aku masih tidak ingin untuk berharap muka dengan Katastrepsei kembali.
Sepeninggal Raja, Ratu mengambil alih kepemimpinan kerajaan. Hari itu, Sotiras pun tidak sibuk untuk mengajariku berperang, tetapi lebih kepada urusan kenegaraan.
Terbiasa pergi ke bukit untuk belajar berperang membuatku merasa cukup suntuk berada di istana tanpa melakukan sesuatu yang cukup berarti. Itu sebabnya aku berkeliling di taman untuk menikmati udara segar lalu berhenti di taman belakang dan membaringkan tubuh di rumput.
"Hei."
Sebuah bayangan menutupi wajahku saat aku masih memandang indahnya langit yang biru. "Prodoti?" Aku pun segera bangun. Berawas-awas jika ia hendak melancarkan 'serangan' mendadak.
"Apakah berbaring seperti tadi enak?" Prodoti tidak menunggu jawabanku tetapi langsung saja berbaring di sebelahku.
Aku mengamati tingkahnya dengan beribu tanda tanya di atas kepalaku.
"Hmmm, kau memang pintar mencari tempat untuk menikmati alam dalam kesendirian ya?" Kembali Prodoti berbicara.
Aku masih bertanya-tanya apa sebenarnya yang ia mau denganku. Apa juga yang ia hendak lakukan sekarang.
"Kau mau duduk seperti itu dan mengamatiku terus?" Prodoti berpaling padaku dengan tawa kecil.
Mungkin telingaku salah mendengar. Dia tertawa, dan tawanya bukanlah tawa licik seperti peri jahat di dongeng-dongeng yang sering kudengar semasa kecilku.
Tanpa memikirkannya lebih jauh, aku turut berbaring seperti posisiku yang sebelumnya.
"Apakah kau menyukai Sotiras?"
"APA?"
Pertanyaannya yang tak terduga dan mendadak itu membuatku benar-benar terkejut. Bukan karena isi pertanyaan itu, tetapi karena pertanyaan itu keluar dari mulutnya.
"Tidak." Aku menjawab. "Mengapa kau menanyakan hal itu?"
Tanpa sedikitpun menoleh padaku, Prodoti menjawab dengan santai, "Karena aku menyukainya."
"Oh,"
"Tidak. Tidak. Aku mencintainya."
Apa yang harus kukatakan untuk menanggapi ucapan Prodoti sekarang?
Keheningan pun tercipta di antara kami untuk beberapa waktu lamanya.
"Aku tidak ingin menyakiti siapapun." Prodoti berkata lebih lanjut. "Ancamanku itu bukan sesuatu yang berarti. Maaf atas sikapku yang kekanak-kanakan itu."
Berapa lipatan di dahiku yang saat ini tercipta aku tidak tahu. Aku jadi merasa tidak yakin bahwa yang sedang berbaring di sebelahku ini adalah Prodoti. Ucapannya dan nada suaranya sama sekali berbeda dengan yang pertama kali kutemui.
"Mengenai Chara, saat itu aku begitu egois sehingga melimpahkan kesalahan itu padanya. Aku tidak memikirkan perasaannya dan akibat yang mungkin ia dapatkan."
Tanpa menyela, aku diam untuk mendengarkannya.
"Ucapan Raja telah membuatku tersadar bahwa kebencian itu tidak ada gunanya. Aku perlu segera berbaikan dengan Chara. Namun aku masih ragu dan tidak tahu bagaimana caranya. Sementara itu, antara aku dan kau, selagi hubungan kita tidak begitu buruk, aku ingin kita berteman saja. Bagaimana menurutmu? Apakah kau setuju?"
Mendengar ucapannya yang panjang lebar itu, aku merasa yakin bahwa ia tulus. Aku rasa berteman dengan Prodoti bukanlah ide yang buruk. Ini bisa jadi langkah yang sangat baik untuk mencegah perlindungan kerajaan terbuka.
Aku menoleh pada Prodoti yang sudah lebih dulu menoleh padaku. Kuberikan sebuah senyuman padanya disertai sebuah anggukan ringan.
"Ah! Terima kasih, Apo!" Ia memelukku sementara kami masih dalam posisi berbaring.
"Uh, Prodoti, lepaskan. Rasanya gerah," ucapku karena lengan dan separuh tubuhnya menindihku.
Prodoti melepaskan pelukannya dan tertawa.
"Jika saja Raja memberi peringatan itu kemarin, kita tentu telah berteman sehingga kau tak perlu melempar batu dengan pesan misterius ke dalam kamarku di pagi-pagi buta." Aku menyindirnya mengingat kejadian naas itu.
Prodoti beranjak dari posisi berbaringnya. "APA???"
Melihat reaksinya seperti itu aku pun turut terbangun dan menghadap padanya. "Mengapa kau terkejut seperti itu?" Aku tertawa kecil. "Tenang saja. Aku tidak akan melaporkanmu pada Raja atau Ratu atau bahkan Sotiras."
Prodoti menggeleng. "Bukan. Bukan itu maksudku."
Aku mengernyit. "Lalu?"
"Aku tidak pernah melemparkan apapun ke kamarmu. Sedikit niat pun tidak pernah singgah di pikiranku." Prodoti mengungkapkan. "Itu jelas bukan aku."
"Yakin?"
"TENTU SAJA!"
"Hei, hei, hei. Tidak perlu berteriak seperti itu. Jarak kita begitu dekat sehingga aku masih jelas mendengarmu, bahkan bisikanmu." Aku mendesis kesal. Suaranya membuat telingaku agak berdengung.
Prodoti menyeringai tak berdosa. "Maaf."
"Kalau bukan kau, artinya ada bahaya. Aku harus melaporkannya pada Ratu."
Prodoti menyetujuinya.
Aku dan dia pun segera bangkit dari tempat kami lalu bergegas bersama-sama menuju ke dalam istana dengan kamarku sebagai tujuan awal.
Batu dan gulungan kertas itu kusimpan di dalam lemari. Aku mengambilnya dan menunjukkannya sejenak pada Prodoti yang langsung tampak tidak menyukai baik batu maupun pesan itu. Tanpa berlama-lama, kami pun bergegas menuju ke ruangan Ratu.
Di luar sebuah ruangan, kuketuk pintu besar nan megah itu yang menandakan bahwa ruangan ini milik Raja dan Ratu. Suara Ratu terdengar, memintaku untuk langsung saja masuk. Aku mengajak Prodoti untuk mengikutiku.
Perlahan kubuka pintu dan Prodoti menjadi yang terakhir menutup pintu. Ratu yang sedang mengobrol dengan Sotiras menghentikan apapun yang tadi sedang mereka percakapkan saat melihatku datang dengan Prodoti, terutama Sotiras.
Dari tatapan matanya, Sotiras tampak curiga akan apa yang sedang terjadi. Namun sebelum ia sempat untuk mengatakan apapun, aku angkat bicara.
"Maaf jika kedatanganku mengganggu obrolan Ratu dan Pangeran Sotiras."
Ratu mengangguk. "Tidak masalah, Apo. Lagipula kami sudah selesai dengan urusan kerajaan." Ia menjelaskan. "Lalu apa yang membawamu, dan juga, uh, Prodoti, datang kemari?"
Kuulurkan telapak tanganku dengan batu dan gulungan kertas itu di atasnya.
"Apa itu?" tanya Ratu.
Sotiras mengambilnya dari tanganku dan membacakan isi pesan itu untuk Ratu yang membuatnya terkejut.
"Aku takut jika itu berbahaya. Jadi kuputuskan untuk menunjukkannya pada Ratu."
"Dimana kau menemukannya?" tanya Sotiras.
"Di kamarku."
"Apa? Di kamarmu?" Sotiras melotot karena begitu terkejutnya. Ia lalu memandang Ratu dan seolah bercakap-cakap satu sama lain melalui tatapan mata mereka.
Sementara itu, aku berpandangan dengan Prodoti karena tidak tahu apa yang mereka sedang obrolkan. Kami pun hanya berkomunikasi melalui alis dan bahu kami yang bergerak naik bersamaan.
"Penjaga," Ratu memanggil salah seorang dari dua penjaga yang berdiri di ruangan Ratu. Ketika ia datang mendekat, Ratu memerintahkan, "Perketat penjagaan di seluruh sudut kerajaan. Jangan satupun terlewat."
"Baik, Ratu." Penjaga itu pun segera meninggalkan ruangan.
Kurasa keadaan begitu genting hingga penjagaan harus diperketat sampai seperti itu. Buku kudukku rasanya berdiri sekarang karena merasa ngeri membayangkan apa yang mungkin terjadi di waktu yang akan datang.
"Apo, kau harus ikut aku segera." Sotiras menggandeng tanganku hendak menarikku pergi tapi aku menahannya karena melihat Prodoti.
"Lalu Prodoti?" tanyaku.
"Dia akan aman disini bersamaku. Kau yang tidak aman." Ratu angkat bicara.
Tak ada komentar yang perlu aku utarakan. Aku hanya mengikuti kemana Sotiras membawaku pergi.
Langkah Sotiras begitu cepat sehingga aku harus menyamakan irama langkah kakinya. Sempat aku satu kali perlu menahannya karena sedikit tersandung.
Setidaknya lima menit kami berjalan dari ruangan Ratu ke suatu tempat di dalam Kerajaan yang aku tidak pernah ketahui. Kami melewati banyak belokan sehingga aku tidak yakin aku dapat kembali jika dilepas sendirian.
"Dimana ini?" tanyaku ketika kami akhirnya berhenti di sebuah ruangan tanpa ventilasi yang dindingnya murni terbuat dari batu.
"Sebuah tempat dimana kau harus berganti baju."
"APA? MENGAPA BEGITU?"
Sotiras membuka sebuah peti dan mengambil sesuatu dari dalamnya. Ia meletakkan sebuah kantong putih ke atas meja. Dari dalamnya ia mengeluarkan sebuah gaun sederhana berwarna putih bersih dengan sebuah jubah merah yang tebal.
"Kau harus disembunyikan. Aku akan membuatmu tidak terlihat." Sotiras menyerahkan setelan itu padaku. "Ganti pakaianmu segera."
"Tidak." Aku menggeleng.
"Mengapa tidak?" Sotiras menggeram.
Aku ganti menggeram. "Karena kau masih disini," ucapku. "Aku perlu privasi."
Sotiras memutar kedua bola matanya. Ia keluar dari ruangan itu dan menutup pintu di belakangnya lalu aku menguncinya.
Kuletakkan jubah dan gaun itu sementara aku mulai melepaskan gaun yang sedang kupakai itu. Namun sesuatu melewati kakiku sehingga aku "AH!"
"Apo! Kau baik-baik saja?" Sotiras menggedor pintu.
Kulihat seekor tikus berlalu pergi. Itu dia makhluk yang melewati kakiku tadi.
"Ya! Jangan masuk! Aku belum selesai!" Aku terbawa situasi hingga berteriak membalas ucapan Sotiras yang juga terdengar begitu keras, padahal tanpa berteriak aku yakin kami masih dapat saling mendengar karena ruangan itu cukup sempit.
Selesai mengganti baju, aku membuka kunci pintu dan membiarkan Sotiras masuk kembali.
"Apakah sekarang aku tidak terlihat olehmu?" Aku melambaikan tanganku di depannya lalu mencubit lengannya.
"Aw! Apa yang kau lakukan?" Sotiras memelototiku.
"Kau masih dapat melihatku?" tanyaku tidak paham. "Kau bilang aku akan tidak terlihat."
"Oleh Katastrepsei dan kawanannya. Bukan olehmu maupun anggota kerajaan."
Bibirku membentuk huruf 'o' tanpa suara keluar sambil mengangguk-angguk. "Lalu apa sekarang?"
Sotiras menggandengku kembali lalu bersama meninggalkan ruangan itu.
Ia betul-betul membuatku heran karena sedikit sekali jawaban yang ia berikan, dan sebagai penggantinya ia langsung saja beraksi. Mungkin aku harus terbiasa dengan hal ini.
Kami sampai di ruang pertemuan dimana hampir seluruh anggota kerajaan telah berkumpul. Aku dan Sotiras berdiri di samping Ratu, di depan orang banyak.
Ketika kulihat para anggota kerajaan itu, kudapati ekspresi terkejut atau khawatir ketika mereka menatapku. Aku tidak tahu alasannya sampai Ratu memberikan sebuah penjelasan.
"Putri Apo adalah incaran utama dari Katastrepsei. Saat ini ia memakai jubah perlindungan untuk menyembunyikannya dari Katastrepsei. Setiap kita harus bekerja sama untuk memperketat penjagaan agar Katastrepsei tidak sanggup menembus pertahanan kerajaan. Terlebih dari semuanya itu, mari menjaga kesatuan di antara kita. Jangan lengah."
~ UTD ~
Finally ada waktu sama semangat untuk nulis ini cerita. Hope you still can follow and enjoy the story. ♡♡
0