Setelah terbangun dan sadar, perasaan menjadi lega karena kejadian barusan hanya sekedar mimpi. Lagi-lagi aku hanya seseorang yang belum siap menerima kenyataan jika akhirnya berujung pahit. Namun disisi lain aku juga ingin ia tahu bahwa ada seorang lelaki yang selalu memperhatikannya dengan cara yang tak biasa. Bergulat dengan akal sehat serta perasaan yang membuatku menjadi tak menentu.
“Bi, Paman, berangkat dulu”
“Dan!” Bibi menatap ku
“Nih” Sambil memakai kacamata ku
“Hati-hati di jalan, yang semangat belajarnya” Ucap Paman
“Okay kapten” jawab ku beranjak pergi dan melepas kacamata
Sekolah sebenernya tempat yang menyenangkan, dimana kita bisa bercanda tawa dengan teman disisi lain sekolah juga membuat kebanyakan murid terlena akan asmara yang disuguhkannya. Salah satunya dia, karena dia adalah satu dari sekian alasan mengapa sekolah itu menyenangkan. Tanpanya mungkin sekolah bagiku hanya sekedar tempat yang membosankan.
“Bisuuuu”
“…” Aku menoleh, ya ampun kenapa mesti dia? Gerutuku dalam hati
“Sombongnya” Sambil menyenggol lengan ku
“Apaan?”
“Jam istirahat, tempat biasa” Ia mengedipkan matanya lalu pergi
Melihat ulahnya membuatku menggeleng-gelengkan kepala. Emang siapa dia semena-mena mengajakku seenaknya seperti itu? Teman juga bukan. Memasuki pintu gerbang pandanganku tak teralihkan yang menjadi penyebab momentum pertemuan lutut kaki dengan pot milik sekolah.
“Makannya itu kacamata di pakai Dan” Ejek Johnny yang berada di belakang ku
“John, bantuin kek, malah ketawa” Kesal ku
“Habisnya pagi-pagi gini, udah ngelawak aja, untung engga pecah ini pot”
“Apes-apes” Gerutuku
“Duluan ya? Mau titip salam?” Ejeknya dengan tertawa
“Engga”
“Kenapa? Muka kusut begitu? Sapa Fian ketika aku sampai di kelas
“Ciuman sama pot depan gerbang”
“Hahaha, ada ada aja ini anak”
Sepanjang pelajaran, dari jam pertama sampai jam istirahat, rasanya penjelasan dari guru hanya masuk sebentar dari telinga kanan lalu keluar lewat telinga kiri. Akhirnya tiba juga suaranya yang ditunggu-tunggu, sebuah suaranya yang membebaskan sejenak semua siswa dari rutinitas yang membosakan.
“Belakang Fi?” Ajak ku
“Sorry nih, tadi udah janjian sama Tari” Tolaknya, dan aku pun keluar ke kelas sebelah untuk mengajak Erik serta Johnny agar idiot itu tak mengangguku.