- Beranda
- Stories from the Heart
Berondongku sayang, i love you, muach
...
TS
citanisa
Berondongku sayang, i love you, muach
Malam..
Kali ini Cita datang dengan cerita fiksi kisah cinta antara Cita dengan Rei. Maaf ya kalau berantakan dan ada failnya, Cita nubi nih, mohon bimbingannya hihihi.
Cita memutuskan tidak akan ada adegan BB+ karena Cita menghargai Rei
Mentari pagi sudah bersinar menyinari kamarku melalui jendela yang sengaja aku buka tirainya. Alarm menunjukkan pukul 5.30 pagi. Dengan langkah gontai aku pergi menuju kamar mandi dan mandi. Cukup 5 menit saja aku mandi membersihkan diri dari iler dan bau badan, hihihihi. Kembali ke kamar dan bersegara berdandan, ku kenakan dress baloon pinkku, lalu blazer hitam kesayanganku, celana jeans hitam dan tentu saja dalaman-dalaman lainnya yang gak perlu aku tulis
"Ibuuuuu, sarapan apa?" tanyaku pada ibu yang sedang menonton berita di depan tv
"Beli aja sana, beli bubur gudeg di Mbah Pur" ibuku memberikan selembar uang Rp 10.000
"Yahhh, giliranku beli bubur nih" batinku sebal
Jadi biasanya siapa yang sudah mandi maka dia yang membeli sarapan, biasanya sih bergantian antara aku dan adik laki-lakiku. Ibuku jarang sekali memasak. Beliau sangay sibuk dengan pekerjaannya, maklum beliau single mom. Yup aku sudah tidak punya ayah, ayahku pergi entah kemana.
Aku keluar rumah dan menuju rumah Mbah Pur, yang hanya berjarak 10 meter saja dari rumahku. Mbah Pur sangat ramah, dan beliau sangat mengutamakan antrian anak sekolah. Yah meski aku sudah lulus SMA tapi Mbah Pur tau kalau aku masih sekolah (kuliah) jadi ya gak ada yang bisa nyalip aku kalau mengantri. Hihihihi.
Begitu sampai halaman depan rumahnya, ku lihat Mbah Pur sedang melayani 1 pembeli saja dan sudah selesai. Lekas-lekas ku hampiri Mbah Pur.
"Mbah nyuwun bubur gudeg, tigo, pedes nggih" sembari ku keluarkan uang Rp 10.000 dari kantung blazerku.
Oh iya artinya "Mbah minta bubur gudeg, tiga, pedes ya"
Mbah Pur pun segera menyidukkan centong untuk mengambil bubur, gudeg, setengah telur uang sudah diiris dan tak ketinggalan krecek pedesnya. Manteb tho
Sepulangku dari Mbah Pur nampak mulai banyak orang berdatangan hendak membeli sarapan juga. Untung aja aku berangkatnya mruput.
Sampai rumah segera ku berikan bubur gudeg pada ibu dan adikku Zoi. Kami sarapan bertiga, setelah itu aku dan Zoi segera berpamitan pada ibu.
Zoi adikku sekolah di SMP Gajah sementara aku berkuliah di Universitas Merah. Karena letak sekolah Zoi dan kampusku lumayan dekat, maka aku harus mengantar jemput dia. Ya jadi kakak yang cantik sekaligus baik buat adik laki-lakinya.
Zoi adikku saat ini duduk di kelas 2, adikku anak yang pintar sebenarnya tapi dia malas belajar. Meski begitu nilainya selalu bagus, heran deh. Sementara aku ya nilai-nilai mata kuliahku standar aja, tapi cukup baik dan gak ada yang mengulang. Saat ini aku semester 4 di jurusan Psikologi.
Tak sampai 10 menit kami sudah tiba di depan pintu gerbang sekolah Zoi. Zoi turun dari motor matic kesayanganku dan berucap
"Nanti gak usah jemput, aku nanti nebeng Herlan sekalian ngerjain tugas"
"Halah, bilang aja mau ke gamenet" selorohku
"Ya itu juga tapi kan beneran ngerjain tugas, bikin mading nih nanti"
"Oke deh, nanti aku bisa nonton deh. Hahahaha" balasku dengan gembira
"Dah kak, aku duluan ya" Zio pamit dan langsung memasuki halaman sekolahnya.
Segera ku pacu motor matic warna pink kesayanganku menuju arah Timur, ke arah kampus Merah.

Kali ini Cita datang dengan cerita fiksi kisah cinta antara Cita dengan Rei. Maaf ya kalau berantakan dan ada failnya, Cita nubi nih, mohon bimbingannya hihihi.
Cita memutuskan tidak akan ada adegan BB+ karena Cita menghargai Rei

Berondongku sayang, i love you, muach
Mentari pagi sudah bersinar menyinari kamarku melalui jendela yang sengaja aku buka tirainya. Alarm menunjukkan pukul 5.30 pagi. Dengan langkah gontai aku pergi menuju kamar mandi dan mandi. Cukup 5 menit saja aku mandi membersihkan diri dari iler dan bau badan, hihihihi. Kembali ke kamar dan bersegara berdandan, ku kenakan dress baloon pinkku, lalu blazer hitam kesayanganku, celana jeans hitam dan tentu saja dalaman-dalaman lainnya yang gak perlu aku tulis

"Ibuuuuu, sarapan apa?" tanyaku pada ibu yang sedang menonton berita di depan tv
"Beli aja sana, beli bubur gudeg di Mbah Pur" ibuku memberikan selembar uang Rp 10.000
"Yahhh, giliranku beli bubur nih" batinku sebal
Jadi biasanya siapa yang sudah mandi maka dia yang membeli sarapan, biasanya sih bergantian antara aku dan adik laki-lakiku. Ibuku jarang sekali memasak. Beliau sangay sibuk dengan pekerjaannya, maklum beliau single mom. Yup aku sudah tidak punya ayah, ayahku pergi entah kemana.
Aku keluar rumah dan menuju rumah Mbah Pur, yang hanya berjarak 10 meter saja dari rumahku. Mbah Pur sangat ramah, dan beliau sangat mengutamakan antrian anak sekolah. Yah meski aku sudah lulus SMA tapi Mbah Pur tau kalau aku masih sekolah (kuliah) jadi ya gak ada yang bisa nyalip aku kalau mengantri. Hihihihi.
Begitu sampai halaman depan rumahnya, ku lihat Mbah Pur sedang melayani 1 pembeli saja dan sudah selesai. Lekas-lekas ku hampiri Mbah Pur.
"Mbah nyuwun bubur gudeg, tigo, pedes nggih" sembari ku keluarkan uang Rp 10.000 dari kantung blazerku.
Oh iya artinya "Mbah minta bubur gudeg, tiga, pedes ya"
Mbah Pur pun segera menyidukkan centong untuk mengambil bubur, gudeg, setengah telur uang sudah diiris dan tak ketinggalan krecek pedesnya. Manteb tho

Sepulangku dari Mbah Pur nampak mulai banyak orang berdatangan hendak membeli sarapan juga. Untung aja aku berangkatnya mruput.
Sampai rumah segera ku berikan bubur gudeg pada ibu dan adikku Zoi. Kami sarapan bertiga, setelah itu aku dan Zoi segera berpamitan pada ibu.
Zoi adikku sekolah di SMP Gajah sementara aku berkuliah di Universitas Merah. Karena letak sekolah Zoi dan kampusku lumayan dekat, maka aku harus mengantar jemput dia. Ya jadi kakak yang cantik sekaligus baik buat adik laki-lakinya.
Zoi adikku saat ini duduk di kelas 2, adikku anak yang pintar sebenarnya tapi dia malas belajar. Meski begitu nilainya selalu bagus, heran deh. Sementara aku ya nilai-nilai mata kuliahku standar aja, tapi cukup baik dan gak ada yang mengulang. Saat ini aku semester 4 di jurusan Psikologi.
Tak sampai 10 menit kami sudah tiba di depan pintu gerbang sekolah Zoi. Zoi turun dari motor matic kesayanganku dan berucap
"Nanti gak usah jemput, aku nanti nebeng Herlan sekalian ngerjain tugas"
"Halah, bilang aja mau ke gamenet" selorohku
"Ya itu juga tapi kan beneran ngerjain tugas, bikin mading nih nanti"
"Oke deh, nanti aku bisa nonton deh. Hahahaha" balasku dengan gembira
"Dah kak, aku duluan ya" Zio pamit dan langsung memasuki halaman sekolahnya.
Segera ku pacu motor matic warna pink kesayanganku menuju arah Timur, ke arah kampus Merah.
Terimakasih banyak buat para pembaca setia sampai bisa masuk TT 3x

Diubah oleh citanisa 13-03-2017 20:54
someshitness dan 5 lainnya memberi reputasi
6
184.3K
964
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
citanisa
#388
Part20: Harapan
"Sayang siniiii" Haera memanggil seseorang dari kejauhan dan nampak sesosok pria berbadan cukup atletis menghampiri Haera dengan mesranya. Ku tafsir usianya sekitar 24 tahun.
"Kenalin mbak, ini Rico calon suamiku"
Rico mengulurkan tangannya dan aku pun berjabat tangan dengan calon suami Haera. Kepalaku penuh dengan tanda tanya.
"Cita"
"Rico"
"Mbak Cita bingung ya? Pasti mikir harusnya Rei yang ada di sini" tebak Haera
Haera menggandengku dan mengajakku duduk di kursi panjang yang terdapat di sebrang kasir sementara Rico memilih pergi keluar menuju taman. Haera pun mulai membuka pembicaraan.
"Mbak aku dulu emang sayang sama Rei tapi aku tau cintanya bukan buat aku, dari kecil dia emang gak pernah suka aku dan aku semakin yakin karena waktu aku datang ke kostnya dia memilih pergi keluar. Sebenarnya dari dulu dia seperti itu mbak sikapnya ke aku, cuek."
"Kalian bukan putus karena aku kan?" selidikku
"Enggak mbak, waktu itu sebenarnya aku mau minta putus dari dia, aku dah gak tahan sama sikapnya. Maaf ya mbak waktu itu aku buat mbak kecewa berat sama Rei" ucap Haera sendu
"Gak apa, semuanya juga udah berlalu" balasku optimis sembari tersenyum kecil
"Ada rahasia di kamar Rei yang mbak Cita harus tau. Tapi aku gak mau kasih tau, mbak harus lihat sendiri. Dan kenapa selama ini Rei gak ngehubungin mbak, dia belum lama ini kehilangan ibunya. Waktu dia pulang ke Semarang itu mbak, ibunya udah gak sadar. Rei sampai jatuh sakit waktu itu, pokoknya situasi di rumah Semarang waktu itu bikin kita semua sibuk dan panik"
Sejenak aku merasa seperti terhempas ke masa lalu, di mana saat itu aku selalu merutuki Rei yang cuek padaku, aku menyesal sekali. Harusnya aku datang menemui, menanyakan kabar dan menyelesaikan semuanya.
"Dah dulu ya mbak, aku mau balik ke Semarang. Bulan depan aku nikah datang lho ya, nanti aku titipin undangannya ke Rei" Haera menjabat hangat tanganku dan berlari kecil keluar resto menuju taman menghampiri Rico.
Haera gadis manis itu sungguh baik sekali, dia memberikanku secercah harapan bagaikan malaikat penolong.
Aku bergegas kembali ke gazebo di mana keluargaku makan. Zio bertanya "Cuci tangan di Antartika atau Mount Everest kak, lama amat"
"Hmmm gak tau tadi kakak mampir mana ya" jawabku seadanya
Sepuluh menit kemudian kami memutuskan untuk pulang. Ayah menyetir mobil miliknya sendiri yang belum lama ia beli, sebuah mobil keluarga berwarna silver.
Sesampainya di depan rumah, Rere turun dan berterimakasih pada ibu serta ayah karena diperbolehkan ikut acara keluarga hari ini.
"Sekali lagi aku ucapin selamat ya Cit, nanti aku rajin konseling deh ama kamu tertang bisnis laundry"
"Kalau kamu yang konsul, 1 jamnya 10 juta, hehehehe, makasih ya udah ikut dari pagi"
Kami berpelukkan erat sama seperti waktu kami sekolah TK, kami berpelukkan erat karena takut di suntik imunisasi.
Rere masuk ke dalam rumah, begitula pula aku, yang segera bergegas menuju kamar dan mengorek isi tasku. Ku tumpahkan semua isi tasku di atas kasur mencari handphoneku di antara bedak, notes, headset, dompet dan tisu. Aku bergegas mengaktifkan paket data. Ku cari kontak Rei di WA dan bergegas mengiriminya chat
"Rei, apa kabar?"
Satu menit tidak ada balasan, empat menit kemudian baru dia read chatku dan nampak notif sedang mengetik
"Baik mbak, selamat ya udah lulus, beneran cumlaude ya?"
"Iya, eh tau dari mana?"
"Dari angin yang berhembus
"
"Gomballll"
"Mbak, bisa ke sini besok?"
"Kangen ya?"
"Itu karpet hello kittynya menuh-menuhin kamarku"
"Anak ini masih aja nyebelin, aarghhhh" batinku sembari menggigit bantalku yang tak salah apa-apa
"Iya besok aku free, besok aku ambil tu karpet, dah ya mau istirahat dulu" balasku dan begitu terkirim langsung aku matikan data selulerku.
Sementara di sebuah kamar kost.
"Masih aja kaya dulu, kamu gak berubah mbak" dia tersenyum menatap balasan chat WA
Tiba saat jam makan malam, ayah mengetuk pintu dan memanggilku
"Citaaa makan malam dulu"
"Iya ayah"
Aku membuka pintu kamar dan bergegas duduk di kursi, Zio dan Ibu sudah duduk duluan. Ayah memulai percakapan
"Malam ini Ayah mau kasih tau kalian, kalau besok ayah harus pulang ke Malang seperti biasa."
Aku dan Zio sudah sangat mengerti akan kondisi ayah saat ini, beliau sudah menikah sejak lama dan memiliki putri semata wayang di kota apel itu. Sejak kedatangannya ke rumah ini, minimal 2 bulan sekali ayah datang menemui kami anak-anaknya, dan saat itu tiba biasanya Ibu akan memilih menginap di rumah tante Vera sahabat ibu yang masih satu komplek dan kebetulan tinggal seorang diri. Ayah dan ibu sangat concern mengenai perkembangan kami dan kami sangat sayang pada mereka, mungkin mereka bukan pasangan suami istri yang baik, tapi aku berani jamin mereka adalah orang tua yang baik, dan aku bangga pada mereka.
Malam ini kami makan malam dengan nasi goreng buatan ibu. Menu sederhana ini menjadi sangat enak ketika di santap bersama keluarga. Zio menceritakkan pada ayah ibu perihal rencana SMAnya, dia ingin masuk ke SMA Langit, SMA yang sama seperti Rei dulu.
Ibu bertanya padaku "Apa rencanamu selanjutnya? Mau kerja atau bagaimana?"
"Hmm bu kalau aku lanjut S2 boleh?" tanyaku takut-takut
Ibu menoleh ke arah ayah, dan kembali menatapku
"Boleh sayang, lanjutkan, kejar mimpimu"
"Horeee, terus nanti uang jajan dinaikkin ya, limit kartu credit juga ya" rajukku
"Lhoh kok malah nglunjak" canda ibu
"Bercandaaaaa"
Semuanya tertawa malam itu, menghabiskan malam dengan sepiring nasi goreng dan segelas teh hangat.
----
Pagi-pagi sekali ayah berpamitan pada kami, membawa 1 koper dan memasukkannya ke dalam mobilnya. Aku dan Zio bersaliman dengannya, sementara ibu hanya melambaikan tangannya menjelang keberangkatan ayah, seraya berpesan agar berhati-hati di jalan.
Kami bertiga kembali masuk ke dalam rumah, hari ini hari sabtu dan masih dalam masa liburan sekolah. Zio kembali masuk ke kamarnya mungkin dia mau main PS, sementara ibu berencana akan pergi berkunjung ke rumah temannya siang ini.
Aku menuju kamar dan menemukan handphoneku di meja berbunyi notif WA.
"Mbak kalau ke sini bawakan aku makanan donk, tanggal tua nih hehe" aku tertawa membaca pesan WA dari Rei.
Aku bergegas mandi dan berdandan semanis mungkin hari ini dengan kaos putih, celana jeans navy serta ku gunakan cardigan rajut berwarna soft pink. Ku gerai saja rambut panjangku cukup menggunakan bando berwarna shocking pink yang kontras dengan warna rambut hitamku. Aku tak lupa berpamitan pada ibu, dan kemudian berlari ke garasi mengenakan flast shoes putih serta mengeluarkan motor maticku. Ku panaskan motorku dan setelah aku kira cukup panas, aku segera melajukannya ke arah rumah Mbah Pur.
"Mbah nasi gudeg 1 ya" pintaku pada mbah Pur sembari memarkirkan motor di halamannya yang luas.
*index sorean ya muach
"Kenalin mbak, ini Rico calon suamiku"
Rico mengulurkan tangannya dan aku pun berjabat tangan dengan calon suami Haera. Kepalaku penuh dengan tanda tanya.
"Cita"
"Rico"
"Mbak Cita bingung ya? Pasti mikir harusnya Rei yang ada di sini" tebak Haera
Haera menggandengku dan mengajakku duduk di kursi panjang yang terdapat di sebrang kasir sementara Rico memilih pergi keluar menuju taman. Haera pun mulai membuka pembicaraan.
"Mbak aku dulu emang sayang sama Rei tapi aku tau cintanya bukan buat aku, dari kecil dia emang gak pernah suka aku dan aku semakin yakin karena waktu aku datang ke kostnya dia memilih pergi keluar. Sebenarnya dari dulu dia seperti itu mbak sikapnya ke aku, cuek."
"Kalian bukan putus karena aku kan?" selidikku
"Enggak mbak, waktu itu sebenarnya aku mau minta putus dari dia, aku dah gak tahan sama sikapnya. Maaf ya mbak waktu itu aku buat mbak kecewa berat sama Rei" ucap Haera sendu
"Gak apa, semuanya juga udah berlalu" balasku optimis sembari tersenyum kecil
"Ada rahasia di kamar Rei yang mbak Cita harus tau. Tapi aku gak mau kasih tau, mbak harus lihat sendiri. Dan kenapa selama ini Rei gak ngehubungin mbak, dia belum lama ini kehilangan ibunya. Waktu dia pulang ke Semarang itu mbak, ibunya udah gak sadar. Rei sampai jatuh sakit waktu itu, pokoknya situasi di rumah Semarang waktu itu bikin kita semua sibuk dan panik"
Sejenak aku merasa seperti terhempas ke masa lalu, di mana saat itu aku selalu merutuki Rei yang cuek padaku, aku menyesal sekali. Harusnya aku datang menemui, menanyakan kabar dan menyelesaikan semuanya.
"Dah dulu ya mbak, aku mau balik ke Semarang. Bulan depan aku nikah datang lho ya, nanti aku titipin undangannya ke Rei" Haera menjabat hangat tanganku dan berlari kecil keluar resto menuju taman menghampiri Rico.
Haera gadis manis itu sungguh baik sekali, dia memberikanku secercah harapan bagaikan malaikat penolong.
Aku bergegas kembali ke gazebo di mana keluargaku makan. Zio bertanya "Cuci tangan di Antartika atau Mount Everest kak, lama amat"
"Hmmm gak tau tadi kakak mampir mana ya" jawabku seadanya
Sepuluh menit kemudian kami memutuskan untuk pulang. Ayah menyetir mobil miliknya sendiri yang belum lama ia beli, sebuah mobil keluarga berwarna silver.
Sesampainya di depan rumah, Rere turun dan berterimakasih pada ibu serta ayah karena diperbolehkan ikut acara keluarga hari ini.
"Sekali lagi aku ucapin selamat ya Cit, nanti aku rajin konseling deh ama kamu tertang bisnis laundry"
"Kalau kamu yang konsul, 1 jamnya 10 juta, hehehehe, makasih ya udah ikut dari pagi"
Kami berpelukkan erat sama seperti waktu kami sekolah TK, kami berpelukkan erat karena takut di suntik imunisasi.
Rere masuk ke dalam rumah, begitula pula aku, yang segera bergegas menuju kamar dan mengorek isi tasku. Ku tumpahkan semua isi tasku di atas kasur mencari handphoneku di antara bedak, notes, headset, dompet dan tisu. Aku bergegas mengaktifkan paket data. Ku cari kontak Rei di WA dan bergegas mengiriminya chat
"Rei, apa kabar?"
Satu menit tidak ada balasan, empat menit kemudian baru dia read chatku dan nampak notif sedang mengetik
"Baik mbak, selamat ya udah lulus, beneran cumlaude ya?"
"Iya, eh tau dari mana?"
"Dari angin yang berhembus
""Gomballll"
"Mbak, bisa ke sini besok?"
"Kangen ya?"
"Itu karpet hello kittynya menuh-menuhin kamarku"
"Anak ini masih aja nyebelin, aarghhhh" batinku sembari menggigit bantalku yang tak salah apa-apa
"Iya besok aku free, besok aku ambil tu karpet, dah ya mau istirahat dulu" balasku dan begitu terkirim langsung aku matikan data selulerku.
Sementara di sebuah kamar kost.
"Masih aja kaya dulu, kamu gak berubah mbak" dia tersenyum menatap balasan chat WA
Tiba saat jam makan malam, ayah mengetuk pintu dan memanggilku
"Citaaa makan malam dulu"
"Iya ayah"
Aku membuka pintu kamar dan bergegas duduk di kursi, Zio dan Ibu sudah duduk duluan. Ayah memulai percakapan
"Malam ini Ayah mau kasih tau kalian, kalau besok ayah harus pulang ke Malang seperti biasa."
Aku dan Zio sudah sangat mengerti akan kondisi ayah saat ini, beliau sudah menikah sejak lama dan memiliki putri semata wayang di kota apel itu. Sejak kedatangannya ke rumah ini, minimal 2 bulan sekali ayah datang menemui kami anak-anaknya, dan saat itu tiba biasanya Ibu akan memilih menginap di rumah tante Vera sahabat ibu yang masih satu komplek dan kebetulan tinggal seorang diri. Ayah dan ibu sangat concern mengenai perkembangan kami dan kami sangat sayang pada mereka, mungkin mereka bukan pasangan suami istri yang baik, tapi aku berani jamin mereka adalah orang tua yang baik, dan aku bangga pada mereka.
Malam ini kami makan malam dengan nasi goreng buatan ibu. Menu sederhana ini menjadi sangat enak ketika di santap bersama keluarga. Zio menceritakkan pada ayah ibu perihal rencana SMAnya, dia ingin masuk ke SMA Langit, SMA yang sama seperti Rei dulu.
Ibu bertanya padaku "Apa rencanamu selanjutnya? Mau kerja atau bagaimana?"
"Hmm bu kalau aku lanjut S2 boleh?" tanyaku takut-takut
Ibu menoleh ke arah ayah, dan kembali menatapku
"Boleh sayang, lanjutkan, kejar mimpimu"
"Horeee, terus nanti uang jajan dinaikkin ya, limit kartu credit juga ya" rajukku
"Lhoh kok malah nglunjak" canda ibu
"Bercandaaaaa"
Semuanya tertawa malam itu, menghabiskan malam dengan sepiring nasi goreng dan segelas teh hangat.
----
Pagi-pagi sekali ayah berpamitan pada kami, membawa 1 koper dan memasukkannya ke dalam mobilnya. Aku dan Zio bersaliman dengannya, sementara ibu hanya melambaikan tangannya menjelang keberangkatan ayah, seraya berpesan agar berhati-hati di jalan.
Kami bertiga kembali masuk ke dalam rumah, hari ini hari sabtu dan masih dalam masa liburan sekolah. Zio kembali masuk ke kamarnya mungkin dia mau main PS, sementara ibu berencana akan pergi berkunjung ke rumah temannya siang ini.
Aku menuju kamar dan menemukan handphoneku di meja berbunyi notif WA.
"Mbak kalau ke sini bawakan aku makanan donk, tanggal tua nih hehe" aku tertawa membaca pesan WA dari Rei.
Aku bergegas mandi dan berdandan semanis mungkin hari ini dengan kaos putih, celana jeans navy serta ku gunakan cardigan rajut berwarna soft pink. Ku gerai saja rambut panjangku cukup menggunakan bando berwarna shocking pink yang kontras dengan warna rambut hitamku. Aku tak lupa berpamitan pada ibu, dan kemudian berlari ke garasi mengenakan flast shoes putih serta mengeluarkan motor maticku. Ku panaskan motorku dan setelah aku kira cukup panas, aku segera melajukannya ke arah rumah Mbah Pur.
"Mbah nasi gudeg 1 ya" pintaku pada mbah Pur sembari memarkirkan motor di halamannya yang luas.
*index sorean ya muach
Diubah oleh citanisa 23-04-2016 19:25
lumut66 memberi reputasi
2