- Beranda
- Stories from the Heart
DRACOMILLIR | manusia bukanlah penguasa dari tanah yang mereka injak
...
TS
fightforjustice
DRACOMILLIR | manusia bukanlah penguasa dari tanah yang mereka injak

Quote:
Hai agan yg ganteng & aganwati yang kece2 semuanyee, ane disini hanya semata-mata berniat berbagi sebuah fantasi yang ada di kepala ane. Jadi, Cerita di threat ini sudah barang tentu 100000% fiksi.

pengen baca Fiksi Fantasy buatan lokal?

Semoga threat ini menjawab kehausan agan

Komentar, Kritik dan Saran sangat berarti
Happy reading~!
Note: Update tiap chapter seminggu sekali.
INDEX:
Quote:
CHAPTER 0 PROLOG
CHAPTER 1 Matahari Terbit di Lukaru
CHAPTER 2 Legiun Pemburu Naga
CHAPTER 3 Janji & Harapan
CHAPTER 4 Bukit Nabia
CHAPTER 5 Manusia yang Mengerikan
CHAPTER 6 Sebuah Ingatan
CHAPTER 7 Sejarah yang Tertulis
CHAPTER 8 Cahaya di Lorong Gelap
CHAPTER 9 Pergerakan Besar
CHAPTER 10 Arghaleim Dalam Kabut Hitam
CHAPTER 11 Kaum Har
CHAPTER 12 Sang Bencana
CHAPTER 13 Perpecahan
CHAPTER 14 Yenya dan Adaril
-bersambung-
Spoiler for PROLOG:
Quote:
Semburan itu menciptakan sebuah kobaran api besar yang menyala membumbung tinggi memecah langit. Pohon-pohon tinggi disekitar kami satu per satu tumbang terhempas oleh amukan seekor naga yang sangat besar. Beberapa tubuh manusia yang hangus terbakar tergeletak di tanah terguyur oleh hujan abu yang diiringi dengan percikan api dari pohon-pohon yang perlahan habis terbakar.
Dorlan sang pemimpin kelompok kami, memimpin seluruh pasukan yang tersisa termasuk diriku untuk maju mendekat kearah naga itu. "Tembak..!" Dorlan menginstruksikan kami untuk menembakan harpoon (tombak panjang yang ditembakkan dengan senapan) disertai rantai pengikat kearah naga yang semakin mengamuk itu. Ibukota menugaskan kelompok kami untuk memburu seekor naga raksasa yang telah menghancurkan banyak desa di wilayah utara. Tak kusangka kami bisa menemukannya secepat ini.
Saat itu merupakan malam yang panjang bagi para pemburu naga. Kami berhasil membunuh naga itu setelah setengah mati berusaha memburunya, tetapi kami harus membayar mahal dengan kehilangan hampir setengah dari anggota kelompok. Malam hari setelah perburuan itu, kami beristirahat dengan membuat perkemahan di lereng gunung Aldeir setelah sebelumnya mengubur mayat-mayat anggota kelompok kami yang tewas.
Aku berbaring di samping perapian, dan melihat kearah langit sambil menikmati embus angin malam yang tersisa sebelum fajar muncul. Saat itu, aku teringat beberapa waktu lalu sebelum aku menjadi seorang pemburu naga. Dan alasan mengapa aku berada di tempat ini.
Dorlan sang pemimpin kelompok kami, memimpin seluruh pasukan yang tersisa termasuk diriku untuk maju mendekat kearah naga itu. "Tembak..!" Dorlan menginstruksikan kami untuk menembakan harpoon (tombak panjang yang ditembakkan dengan senapan) disertai rantai pengikat kearah naga yang semakin mengamuk itu. Ibukota menugaskan kelompok kami untuk memburu seekor naga raksasa yang telah menghancurkan banyak desa di wilayah utara. Tak kusangka kami bisa menemukannya secepat ini.
Saat itu merupakan malam yang panjang bagi para pemburu naga. Kami berhasil membunuh naga itu setelah setengah mati berusaha memburunya, tetapi kami harus membayar mahal dengan kehilangan hampir setengah dari anggota kelompok. Malam hari setelah perburuan itu, kami beristirahat dengan membuat perkemahan di lereng gunung Aldeir setelah sebelumnya mengubur mayat-mayat anggota kelompok kami yang tewas.
Aku berbaring di samping perapian, dan melihat kearah langit sambil menikmati embus angin malam yang tersisa sebelum fajar muncul. Saat itu, aku teringat beberapa waktu lalu sebelum aku menjadi seorang pemburu naga. Dan alasan mengapa aku berada di tempat ini.
Diubah oleh fightforjustice 10-06-2016 06:48
anasabila memberi reputasi
1
10.2K
Kutip
86
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
fightforjustice
#1
Chapter 2... selamat membaca gan.. 
CHAPTER 2: LEGIUN PEMBURU NAGA
Teriakan itu memecahkan kerumunan warga desa. Sontak warga desa menghampiri pemuda itu. Dari kejauhan terlihat seorang pria tua berbadan kekar dengan baju lusuh ditutupi jubah bulu tebal berwarna cokelat berjalan menuju desa. Ia terlihat membawa sebuah gerobak yang berisi kepala seekor naga.
Semakin dia mendekat aku semakin mengingatnya. Dan aku rasa benar adanya, orang itu tak lain lagi adalah Bolmur. Orang dari suku Lukaru yang sangat dibanggakan karena pencapaiannya sebagai anggota legiun pemburu naga yang luar biasa.
Aku sangat mengenalnya karena aku memang sangat dekat dengan Bolmur. aku belajar menggunakan Navak dengan Bolmur, dia mengajariku cara bertahan hidup jika bertemu dengan naga-naga armae yang buas seperti Micmic dan Duraka. akupun berlari karena tak sabar menemuinya.
"Bolmur!... Bolmur!" Aku berteriak sekencangnya sambil berlari menghampirinya.
Bolmur melihatku, dia tersenyum lebar dan menanyakan kabarku. Tentu saja aku menjawabnya dengan jawaban baik, padahal aku selalu merasakan kebosanan dalam lingkungan desa yang tidak terlalu ramai ini.
"Sastra.. aku bawakan ini untukmu." Dia menunjuk potongan kepala naga yang dia bawa di gerobak kayunya.
Lalu aku baru ingat bahwa Bolmur pernah berjanji akan membawa hasil buruan nya kepadaku. Itu sudah lama sekali. Bolmur sudah lebih dari 2 tahun meninggalkan desa ini demi mengemban tugas sebagai anggota legiun pemburu Naga. Dia bekerja sebagai anggota legiun bersama suku Darka yang berpusat di ibukota tanah Kesslein. Tak lama setelah berbincang-bincang denganku, Bolmur sedikit tergesa-gesa pergi menemui kakek tetua suku.
"Ah sekarang, lebih baik aku kembali mengendap-endap untuk pergi sebelum terlihat ibuku." Aku pergi kembali ke arah padang rumput favoritku.
"Sastra.. hei!" Vineli lagi-lagi memanggilku, sebelum aku sadar ia sudah ada dibelakangku.
"Ada apa lagi Vin?" Sahutku
"Apa kau tidak bilang ke Bolmur?" Tanya Vineli
"Maksudmu?" Tanyaku kembali
"Bukankah seminggu kemarin umurmu genap 15 tahun?"
Aku terdiam, dan ya aku mengerti itu.. 15 tahun, yang mana berarti aku harus meninggalkan desa untuk menjadi anggota legiun pemburu naga. Sebetulnya aku ingat, Tapi aku belum ingin bilang untuk ikut dengan Bolmur. Walaupun desa yang tenang ini sangat membosankan bagiku, tapi aku belum punya banyak keberanian untuk melangkah keluar, terlebih lagi untuk ke tempat dimana para pria melawan naga untuk hidup mereka.
Malam hari di desa yang tenang...
Aku sangat lelah mendengar omelan Ibu karena aku sama sekali tidak membantu saat pesta dan upacara adat tadi. "Sampai kapan aku harus menderita dengan acara acara itu.. " Maksudku, aku benar benar tidak tertarik dengan festival dan upacara adat yang membosankan itu. Ayolah, aku masih berjiwa muda dan aku masih terlalu muda untuk hal-hal upacara adat maupun perayaan yang dilakukan para orang dewasa semacam itu.
Lama sekali Ibu memarahiku hingga tak terasa waktu sudah larut malam. Pagi bertemu malam, haripun akhirnya harus berganti. Tapi, aku tak begitu saja meng-iyakannya. Aku tak segera tidur malam itu walaupun badanku tak beranjak dari kasur. Kunikmati bunyi-bunyi malam, suara angin berdesir dan rumput yang bergesek serta suara serangga malam yang tiada hentinya bersahutan. Baru saja aku mulai menikmatinya, Ibuku masuk kedalam kamarku.
"Ya ampun.. kamu ini, Ibu kira sudah tidur dari tadi" Kata ibuku keheranan.
"Ah bu, aku belum mengantuk" sahutku.
"Dasar.... Itu, ada Bolmur dan Tetua desa ingin berbicara padamu.."
Ibu berbicara lirih padaku, matanya menatapku dengan tatapan serius. Perlahan ia meninggalkan kamarku tanpa menutup pintu. Terdengar sayup-sayup Ibu berbiacara dengan tetua desa di luar. Aku terperanjak dari tempat tidurku, dan langsung melihat kearah ruangan depan.
"Ibu..? apakah mungkin?" Aku sedikit khawatir tentang umurku yang telah 15 tahun ini.
"Entahlah, lebih baik segera temui mereka.."
Ibuku menepuk pundaku seakan menyuruhku agar segera menemui mereka. Akupun segera bergegas. Bolmur pun memberikan sebuah gulungan kertas kepadaku. Tetua desa tersenyum kepadaku. Dan benar saja, itu adalah perintah dan sekaligus tugasku sebagai laki-laki dari suku Lukaru untuk bergabung dengan legiun dan menjadi seorang pemburu naga. Tradisi yang sudah lama ada, dimana suku Lukaru yang damai ini juga dikenal sebagai suku pemburu naga dari utara.
Next update Post#7 gans..

Spoiler for CHAPTER 2:
CHAPTER 2: LEGIUN PEMBURU NAGA
Quote:
Teriakan itu memecahkan kerumunan warga desa. Sontak warga desa menghampiri pemuda itu. Dari kejauhan terlihat seorang pria tua berbadan kekar dengan baju lusuh ditutupi jubah bulu tebal berwarna cokelat berjalan menuju desa. Ia terlihat membawa sebuah gerobak yang berisi kepala seekor naga.
Semakin dia mendekat aku semakin mengingatnya. Dan aku rasa benar adanya, orang itu tak lain lagi adalah Bolmur. Orang dari suku Lukaru yang sangat dibanggakan karena pencapaiannya sebagai anggota legiun pemburu naga yang luar biasa.
Aku sangat mengenalnya karena aku memang sangat dekat dengan Bolmur. aku belajar menggunakan Navak dengan Bolmur, dia mengajariku cara bertahan hidup jika bertemu dengan naga-naga armae yang buas seperti Micmic dan Duraka. akupun berlari karena tak sabar menemuinya.
"Bolmur!... Bolmur!" Aku berteriak sekencangnya sambil berlari menghampirinya.
Bolmur melihatku, dia tersenyum lebar dan menanyakan kabarku. Tentu saja aku menjawabnya dengan jawaban baik, padahal aku selalu merasakan kebosanan dalam lingkungan desa yang tidak terlalu ramai ini.
"Sastra.. aku bawakan ini untukmu." Dia menunjuk potongan kepala naga yang dia bawa di gerobak kayunya.
Lalu aku baru ingat bahwa Bolmur pernah berjanji akan membawa hasil buruan nya kepadaku. Itu sudah lama sekali. Bolmur sudah lebih dari 2 tahun meninggalkan desa ini demi mengemban tugas sebagai anggota legiun pemburu Naga. Dia bekerja sebagai anggota legiun bersama suku Darka yang berpusat di ibukota tanah Kesslein. Tak lama setelah berbincang-bincang denganku, Bolmur sedikit tergesa-gesa pergi menemui kakek tetua suku.
"Ah sekarang, lebih baik aku kembali mengendap-endap untuk pergi sebelum terlihat ibuku." Aku pergi kembali ke arah padang rumput favoritku.
"Sastra.. hei!" Vineli lagi-lagi memanggilku, sebelum aku sadar ia sudah ada dibelakangku.
"Ada apa lagi Vin?" Sahutku
"Apa kau tidak bilang ke Bolmur?" Tanya Vineli
"Maksudmu?" Tanyaku kembali
"Bukankah seminggu kemarin umurmu genap 15 tahun?"
Aku terdiam, dan ya aku mengerti itu.. 15 tahun, yang mana berarti aku harus meninggalkan desa untuk menjadi anggota legiun pemburu naga. Sebetulnya aku ingat, Tapi aku belum ingin bilang untuk ikut dengan Bolmur. Walaupun desa yang tenang ini sangat membosankan bagiku, tapi aku belum punya banyak keberanian untuk melangkah keluar, terlebih lagi untuk ke tempat dimana para pria melawan naga untuk hidup mereka.
Malam hari di desa yang tenang...
Aku sangat lelah mendengar omelan Ibu karena aku sama sekali tidak membantu saat pesta dan upacara adat tadi. "Sampai kapan aku harus menderita dengan acara acara itu.. " Maksudku, aku benar benar tidak tertarik dengan festival dan upacara adat yang membosankan itu. Ayolah, aku masih berjiwa muda dan aku masih terlalu muda untuk hal-hal upacara adat maupun perayaan yang dilakukan para orang dewasa semacam itu.
Lama sekali Ibu memarahiku hingga tak terasa waktu sudah larut malam. Pagi bertemu malam, haripun akhirnya harus berganti. Tapi, aku tak begitu saja meng-iyakannya. Aku tak segera tidur malam itu walaupun badanku tak beranjak dari kasur. Kunikmati bunyi-bunyi malam, suara angin berdesir dan rumput yang bergesek serta suara serangga malam yang tiada hentinya bersahutan. Baru saja aku mulai menikmatinya, Ibuku masuk kedalam kamarku.
"Ya ampun.. kamu ini, Ibu kira sudah tidur dari tadi" Kata ibuku keheranan.
"Ah bu, aku belum mengantuk" sahutku.
"Dasar.... Itu, ada Bolmur dan Tetua desa ingin berbicara padamu.."
Ibu berbicara lirih padaku, matanya menatapku dengan tatapan serius. Perlahan ia meninggalkan kamarku tanpa menutup pintu. Terdengar sayup-sayup Ibu berbiacara dengan tetua desa di luar. Aku terperanjak dari tempat tidurku, dan langsung melihat kearah ruangan depan.
"Ibu..? apakah mungkin?" Aku sedikit khawatir tentang umurku yang telah 15 tahun ini.
"Entahlah, lebih baik segera temui mereka.."
Ibuku menepuk pundaku seakan menyuruhku agar segera menemui mereka. Akupun segera bergegas. Bolmur pun memberikan sebuah gulungan kertas kepadaku. Tetua desa tersenyum kepadaku. Dan benar saja, itu adalah perintah dan sekaligus tugasku sebagai laki-laki dari suku Lukaru untuk bergabung dengan legiun dan menjadi seorang pemburu naga. Tradisi yang sudah lama ada, dimana suku Lukaru yang damai ini juga dikenal sebagai suku pemburu naga dari utara.
Next update Post#7 gans..
Diubah oleh fightforjustice 10-06-2016 15:35
0
Kutip
Balas